BAB II. LANDASAN TEORI
B. PENELITIAN TERDAHULU
The Indonesian Institute of Corporate Governance (IICG), 2002,
menemukan bahwa alasan utama perusahaan menerapkan good corporate
commit to user
33 meyakini bahwa implementasi GCG merupakan bentuk lain penegakan etika bisnis dan etika kerja yang sudah lama menjadi komitmen perusahaan, dan implementasi GCG berhubungan dengan peningkatan citra perusahaan. Perusahaan yang mempraktikkan GCG, akan mengalami perbaikan citra dan peningkatan nilai perusahaan.
Sukmawati Sukamulja (2004), penelitian ini bertujuan untuk menilai apakah good corporate governance dapat digunakan untuk menilai kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan dan pertumbuhan jangka panjang yang tercermin pada nilai pasar perusahaan. Berdasarkan teori yang ada, pelaksanaan good corporate governance yang baik, dan sesuai dengan perturan yang berlaku, akan membuat investor memberikan respon yang positif terhadap kinerja perusahaan dan meningkat nilai pasar perusahaan. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data saham perusahaan pada sesi penutupan perdagangan BEJ tanggal 31 Juli 2003 dan sampel pada penelitian ini diambil dari Annual Report tahun buku 2002 perusahaan-perusahaan yang telah listing di BEJ dan data Financial Report Triwulan II tahun buku 2003 dengan jumlah sampel 52 perusahaan. Variabel yang digunakan adalah variabel dependen, variabel independen dan variabel kontrol. Variabel dependen yang digunakan yaitu kinerja, sedangkan variabel independen dalam penelitian ini adalah good corporate governance dan variabel kontrol dalam penelitian ini ada tiga faktor yaitu profitabilitas (ROA), company size book value of total asset, dan usia perusahaan yang diwakili dengan lama perusahaan tersebut telah listing
commit to user
34 pada BEJ, dalam satu tahun. Dari hasil pengolahan data menggunakan persamaan regresi yang digunakan untuk menguji hubungan antara Tobin’s Q dengan CGI, ROA, Total asset, dan lama perusahaan telah listing di BEJ dengan mengambil sampel sebanyak 52 perusahaan yang terdaftar pada BEJ, khususnya di sektor keuangan, belum memberikan hasil yang memuaskan. Dari hasil analisis empirik, pelaksanaan good corporate governance tidak memiliki peranan penting dalam menentukan nilai pasar perusahaan dilihat dari sisi profitabilitas, umur perusahaan dan usuran perusahaan. Secara simultan penelitian ini menunjukkan bahwa variable corporate governance tidak satupun signifikan terhadap ROA dan Tobin’s Q.
Deni Darmawati (2005), penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi keterkaitan corporate governance yang diterapkan dalam suatu perusahaan dengan kinerja perusahaan yang bersangkutan. Data implementasi pada penelitian ini menggunakan corporate governance
hasil survei IICG tahun 2001 dan 2002 yang berupa Corporate
Governance Perception Index (CGPI) yang dilakukan oleh The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) di tahun 2001 dan 2002 dengan jumlah sampel sebanyak 53 perusahaan-tahun (pooled data untuk tahun 2001 dan 2002). Sampel untuk tahun 2001 sebanyak 21 perusahaan dan tahun 2002 sebanyak 32 perusahaan. Variabel dalam penelitian ini adalah variabel dependen dan independen. Variabel dependen yang digunakan yaitu kinerja dan variabel independen hádala corporate governance.
commit to user
35 Dalam penelitian ini juga memasukkan variabel kontrol yang terdiri dari komposisi aktiva, kesempatan tumbuh dan ukuran perusahaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa, corporate governance secara statistik signifikan mempengaruhi return on equity sedangkan tidak ada satupun variable kontrol yang secara statistik signifikan mempengaruhi return on equity. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa corporate governance mempengaruhi kinerja operasi perusahaan. Hasil analisis model regresi
dengan Tobins’Q menunjukkan bahwa baik variabel corporate
governance mempengaruhi kinerja pasar perusahaan secara statistik tidak didukung. Hal ini mungkin dikarenakan respon pasar terhadap implementasi corporate governance tidak bisa secara langsung (imediate) akan tetapi membutuhkan waktu.
McConnell, J. Servaes, H, 1990 menguji pengaruh struktur kepemilikan terhadap kinerja perusahaan dengan proxy return saham selama 1988 – 1992. hasilnya menunjukkan bahwa tingkat kepemilikan insider berhubungan dengan return saham. Juga mendapat bukti bahwa kepemilikan insider berhubungan terbalik dengan return saham dan return saham berhubungan positif dengan kepemilikan institusional, hal ini menunjukkan kepemilikan institusional merupakan monitoring manajemen yang aktif. Hal sama juga ditemukan oleh Hermalin dan Weisbach, 1991; Bohren dan Odegaard, 2003.
Shleifer dan Vishny (1997) menggambarkan corporate governance
commit to user
36 kaitannya dengan pengaruh keputusan investor untuk menginvestasikan dananya ke perusahaan. Himmelberg et al., 2002 menggabungkan teori keagenan dengan insentif diversifikasi risiko insider yaitu masalah keagenan antara insider dan outsider untuk mempertahankan bagian yang lebih besar dalam perusahaan dibandingkan dengan strategi diversifikasi risiko. Mereka menggunakan data perusahaan dari 38 negara. Kepemilikan insider yang lebih tinggi, risiko juga tinggi, akan mengakibatkan kurangnya investasi dan biaya modal lebih tinggi. Hasilnya menunjukkan bahwa premi risiko unsistematis bervariasi antara nol dan enam persen dengan penurunan tingkat perlindungan investor outsider. Kebijakan yang bertujuan untuk memperkuat perlindungan investor dan penegakan hukum akan memperbaiki alokasi asset dan pertumbuhan yang lebih tinggi.
Black dkk. (2003) dan Gillan dkk. (2003) meneliti hubungan antara leverage dengan corporate governance. Hasil penelitian ini menemukan
adanya hubungan negatif antara leverage dan kualitas corporate
governance. Durnev dan Kim (2003) justru berhasil menemukan adanya hubungan positif antara pemilihan perusahaan akan praktik governance dan pengungkapan berhubungan secara positif dengan kebutuhan perusahaan akan pendanaan eksternal. Penelitian Baruci dan Falini (2004) tidak berhasil menemukan adanya hubungan antara leverage dan kualitas corporate governance.
Nur Sayidah (2007) meneliti pengaruh kualitas corporate governance terhadap kinerja perusahaan publik studi kasus pada peringkat
commit to user
37
10 besar CGPI tahun 2003-2005. Pengukuran corporate governance
berdasarkan peringkat 10 besar IICG dan pengukuran kinerja perusahaan dilakukan dengan menggunakan proxy profit margin, ROA, ROE dan ROI. Dari hasil penelitian menyatakan bahwa kualitas governance tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan baik yang diproxy Profit margin, ROA, ROE maupun ROI.
Klapper dan Love, 2004 meneliti hubungan antara hukum dan keuangan yang terkonsentrasi pada investor negara bagian dan difokuskan pada perbedaan sistem hukum di suatu negara dan hukum keluarga. Hasilnya menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan yang baik sangat berkorelasi dengan kinerja operasi dan penilaian pasar. Ketentuan tata kelola perusahaan menjadi lebih penting di negara-negara dengan lingkungan hukum yang lemah dan menyarankan untuk memperbaiki sistem hukum harus menjadi prioritas bagi pembuat kebijakan.