Dari wawancara denngan koresponden pakar, pembudi daya tambak udang dan pengamatan langsung di lapangan dapat diidentifikasi faktor-faktor strategik internal dan eksternal.
Faktor Kekuatan .
Faktor kekuatan diperlukan untuk mengetahui aspek-aspek yang memengaruhi budi daya tambak udang di Blanakan, hasil dari observasi dan wawancara dengan petambak dan stakeholder terdapat beberapa factor kekuatan antaralain:
1. Pekerja Berpengalaman
Kehidupan masyarakat di Kecamatan Blanakan mayoritas adalah petambak udang yang telah diwariskan puluhan tahun sehingga keterampilan dalam pertambakan hususnya budidaya udang cukup berpengalaman. Berdasarkan data responden rataan pengalaman petambak di atas 10 tahun. Pekerja yang berpengalaman akan cepat mengadopsi inovasi suatu teknologi bahkan lebih mudah dalam mengatasi permasalahan di lapangan.
2 Benur Berlimpah
Benur mudah didapat, karena masyarakat di Kecamatan Blanakan umumnya melakukan usaha dibidang pengembangan budidaya udang, sehingga kebutuhan benur dapat dikondisikan sesuai dengan kebutuhan. Benur yang melimpah dapat menstabilkan produksi udang, karena pemeliharaan udang rentan terhadap kematian.
3 Kesesuaian Potensi Lahan
Kecamatan Blanakan adalah wilayah pesisir yang mempunyai potensi tambak, sepertiga wilayah Kecamatan Blanakan merupakan areal pertambakan dengan drainase air baik merupakan syarat mutlak dalam pengembangan kawasan tambak udang yang telah dikembangkan sejak puluhan tahun. Selain potensi lahan, Kecamatan Blanakan didukung dengan infrastruktur atau akses jalan produksi yang memadai, sehingga mempercepat proses pemasaran.
4 Pengelolaan Tambak Berkelompok
Dalam program Demfarm para petambak udang melakukan kerjasama satu dengan yang lainnya melalui wadah kelompok yang bertujuan mempermudah dalam hal pengelolaan usaha. Kelompok merupakan wadah yang mampu menyelesaikan setiap persoalan yang timbul, baik teknis maupun non teknis. Kelompok juga mampu mengakses kerjasama dengan institusi maupun lembaga- lembaga lain baik pemerintah maupun swasta, hal senada diutarakan Galappaththi dan Berket belajar dan beradaptasi secara terus menerus, seperti menyesuaikan kalender tanaman dari tahun ke tahun dan mengkombinasi pengetahuan petani/petambak dengan pengetahuan teknis pemerintah, telah menyediakan jalur menuju ekonomi keberlanjutan. (Galappaththi dan Berkes 2014).
5 Mudah Mencari Pembeli
Umumnya komoditas udang merupakan produk ekspor, sehingga permintaan banyak sementara produksi udang di dalam negeri belum mencukupi kebutuhan pasar ekspor, sehingga pangsa pasar relatif stabil. Selain hal tersebut Kecamatan Blanakan merupakan sentra tambak udang sehingga para pembeli mengenal dan terjalinnya ikatan emosional antara petambak dengan para pembeli. Saat ini, hasil produksi udang dijual melalui perorangan maupun lembaga lain seperti Koperasi, bahkan kemitraan terutama dalam program demfarm.
6 Nilai Ekonomis Tinggi
Komoditas udang merupakan salah satu produk unggulan Indonesia. Udang mempunyai pangsa pasar ekspor potensial sehingga permintaan akan udang meningkat. Nilai ekonomis tinggi mampu meningkatkan daya saing produk udang baik dalam maupun luar negeri. Permintaan udang dunia meningkat dan Indonesia menjadi salah satu negara pengekspor udang dengan basis wilayah produsen salah satunya Jawa Barat.
Faktor Kelemahan
Faktor kelemahan dapat dilihat dari kondisi internal dan posisi petambak udang di Blanakan, factor kelemahan penting untuk diketahui sebagai dasar pengambilan kebijakan dan perbaikan program sejenis di masa akan datang. Beberapa fackor kelemahan usaha budi daya tambak di Blanakan antaralain: 1. Siklus produksi
Usaha tambak udang di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang masih tradisional dan belum dikembangkan secara intensif, sehingga siklus produksi menjadi lama yaitu 4 bulan. Namun bila dikembangkan secara intensif dengan mengaplikasikan teknologi-teknologi produksi dapat dipercepat, yaitu tiga bulan, sehingga tingkat pendapatan akan meningkat.
2. Posisi tawar petambak lemah
Posisi tawar dilakukan melalui pendekatan tingkat pendidikan, posisi tawar petambak lemah dikarenakan keterbatasan SDM. Rataan pendidikan para petambak di Kecamatan Blanakan Subang adalah SD. Selain pendidikan faktor usia sangat berpengaruh, usia petambak didominasi oleh kalangan usia 45-60 tahun. Keterbatasan tersebut menjadikan pembudidaya lemah dalam menentukan dan menetapkan keputusan maupun perumusan langkah-langkah strategik dalam
38
pengembangan usaha budidaya tambak secara bersama-sama dengan anggota lain. Sejauh ini kemitraan dan kebersamaan antar petambak belum terjalin, sehingga tekanan dari pihak luar seringkali terjadi.
3. Kekurangan modal untuk pengembangan usaha
Modal sangat diperlukan dalam pengembangan suatu usaha, besar kecilnya modal dipengaruhi oleh besar kecilnya sebuah usaha. Modal merupakan salah satu faktor pendukung dalam pengembangan usaha tambak udang. Berdasarkan hasil data yang diperoleh bahwa untuk mengembangkan usaha tambak udang dengan luasan 1 hektar rataan membutuhkan modal Rp.375.000.000,- (tiga ratus tujuh puluh lima juta rupiah) biaya tersebut dipengaruhi oleh biaya operasional. Rataan petambak adalah tradisional yang memanfaatkan lahan sesuai dengan kemampuan modal yang dimiliki, sehingga yang terjadi pemanfaatan tambak tidak maksimal.
4. Kurangnya sarana dan prasarana
Suatu usaha dapat berjalan dengan baik, apabila didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai. Kondisi di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang bahwa para petambak udang masih banyak mengalami kekurangan sarana dan prasarana. Hal demikian disebabkan faktor biaya (modal) yang besar sehingga sebagian dari petambak udang belum mampu mengoptimalkan sarana dan prasarana secara mandiri.
5. Penjualan dilakukan kepada tengkulak
Keterbatasan SDM petambak udang menyebabkan akses terhadap informasi, terutama pasar rendah, sehingga penjualan dikuasai oleh para tengkulak. Kondisi lainnya juga yang terjadi di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang bahwa antara petambak dan tengkulak terlibat dalam hutang piutang dalam menunjang kegiatan tambak udang sehingga terjadi ikatan hasil panen harus dijual kepada tengkulak tersebut dengan harga lebih rendah bila dibandingkan dengan harga pasar.
6. Sulit mendapatkan bibit bermutu
Dalam mengembangkan budidaya udang, mutu benih menjadi perhatian utama, sebab mutu yang kurang baik akan mengakibatkan produksi yang tidak maksimal, bahkan mengalami kerugian akibatnya terjadinya kematian pada benur udang. Benur yang dihasilkan merupakan benur yang berasal dari induk kurang baik. Penggunaan benur kurang baik menyebabkan biaya produksi menjadi tinggi.
Faktor Peluang
Kabupaten Subang merupakan salah satu daerah penghasil udang tambak di pantura Pulau Jawa yang tersebar di beberapa kecamatan. Berdasarkan potensi yang dimiliki, budi daya tambak udang di daerah tersebut sangat dimungkinkan untuk dikembangkan. Hasil wawancara menyimpulkan beberapa faktor peluang antaralain:
1. Kebijakan pemerintah
Kebijakan pemerintah terbagi dalam kebijakan pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Kebijakan pemerintah pusat telah dirumuskan dalam program Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010–2014 yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 yang menempatkan sektor perikanan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional. Kebijakan pemerintah adalah revitalisasi tambak melalui pengembangan kawasan percontohan tambak (Demfarm). Sedangkan kebijakan pemerintah daerah adalah mendukung tata ruang wilayah dalam pengembangan kawasan percontohan tambak udang.
2. Potensi lahan tambak besar
Kabupaten Subang khususnya Kecamatan Blanakan merupakan sentra wilayah tambak ideal yang telah dikembangkan oleh masyarakat sekitar secara turun temurun. Keberadaan tambak ini juga terlihat dari luas hamparan wilayah tambak yang luas walaupun sebagian tambak mengaanggur. Berdasarkan data Ditjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2012 tercatat luas, areal Demfarm udang adalah 360 hektar, dengan penambahan areal budidaya seluas 50 hektar.
3. Bantuan sarana tambak
Melalui program demfarm dan program lainnya, pemerintah pusat maupun daerah telah banyak memberikan bantuan sarana tambak, baik berupa barang aset maupun barang habis pakai. Bantuan yang diberikan berupa perbaikan infrastruktur, kincir air, pompa bahkan sistem kemitraan telah difasilitasi oeh pemerintah. Melalui bantuan sarana tambak produksi udang dapat ditingkatkan. 4. Tenaga pendamping teknis dan kelembagaan
Tenaga pendamping adalah petugas yang membantu dalam manajerial maupun teknis pengembangan tambak udang. Sedangkan kelembagaan adalah wadah atau sekumpulan para petambak udang yang teroganisir dalam mengembangkan usaha tambak udang. Tenaga pendamping yang ada di Kecamatan Blanakan Subang meliputi tenaga teknis teknologi dari UPT Karawang Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, tenaga teknisi pakan dari PT. Central Proteinaprima. Teknisi tersebut bertugas dalam mengawasi dan membina cara pemberian pakan udang hingga panen. Selain itu di kawasan demfarm telah terbentuk kelompok-kelompok perikanan.
5. Teknologi penggunaan plastik mulsa
Penggunaan teknologi plastik mulsa mampu meningkatkan produksi udang. Dalam program demfarm petambak diharuskan menggunakan plastik mulsa. Manfaat dari penggunaan plastik mulsa mampu menekan hama dan penyakit yang dapat menggangu kelangsungan udang sehingga produksi dapat meningkat.
6. Potensi pasar yang besar
Udang merupakan salah satu dari empat komoditas unggulan yang dikembangkan oleh pemerintah sampai dengan saat ini. Udang merupakan produk ekspor, sehingga potensi pasar tidak hanya dalam negeri maupun luar negeri. Potensi pasar yang besar merupakan peluang bagi para petambak untuk mengembangkan usaha udang dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun luar negeri.
40
Faktor Ancaman
Seperti pada umumnya budi daya tambak udang, usaha ini memiliki resiko ancaman yang tidak kecil. Ancaman dapat datang dari cara budi daya dan juga ancaman yang datang dari luar, berikut faktor ancaman budi daya tambak udang di Kecamatan Blanakan:
1. Cuaca
Kondisi iklim di Kecamatan Blanakan sangat fluktuatif, hal ini berpengaruh pada pada perkembangan usaha udang. Kondisi cuaca yang ekstrim dapat memacu perkembangan bakteri berkembangbiak dan menyebabkan daya imun udang menurun sehingga menyebabkan kematian.
2. Harga tidak stabil
Stabilitas harga dipengaruhi oleh tingkat produksi udang, produksi melimpah, maka harga akan turun demikian dan sebaliknya produksi udang rendah maka harga tinggi. Stabilitas harga juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca, sehingga diperlukan upaya–upaya para petambak terhadap kondisi-kondisi tersebut agar stabilitas harga dapat terjamin.
3. Serangan virus
Gejala serangan virus seringkali terjadi pada tambak di Kecamatan Blanakan Subang. Serangan virus dapat mewabah dengan cepat, sehingga diperlukan penanganan responsif dan perlu dilakukan pencegahan serius, sehingga virus dapat ditanggulangi. Serangan virus pada udang dapat menyebabkan gagal panen.
4. Tengkulak
Keterbatasan para petambak udang di Kecamatan Blanakan Subang membuatnya tergantung kepada para tengkulak, karena disebabkan lemahnya modal yang dimiliki oleh para petambak udang, kelemahan ini dimanfaatkan oleh tengkulak dengan memberikan bantuan pinjaman modal yang berimplikasi pada keterikatan penjualan udang kepada tengkulak.
5. Alih fungsi lahan tambak
Banyaknya tambak ideal akibat dari besarnya biaya operasional yang diperlukan dan risiko usaha yang besar. Kondisi demikian membuat para petambak beralih ke usaha lain yang tidak membutuhkan biaya operasional tinggi, bahkan sebagian tambak telah dirubah sebagai area pemukiman karena menjadi investasi yang sangat menguntungkan sampai dengan saat ini.
6. Impor udang
Kondisi produksi udang di dalam negeri kurang menjamin ketersediaan produk udang di pasar lokal telah menyebabkan masuknya produk udang dari luar negeri dengan harga rendah, bila dibandingkan dengan produksi dalam negeri. Selain itu juga mutu udang impor lebih baik bila dibandingkan dengan udang lokal.
Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE)
Usaha pengembangan udang di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang dipengaruhi oleh faktor strategik internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari kekuatan dan kelemahan usaha tambak udang, sedangkan faktor eksternal terdiri dari peluang dan ancaman usaha tambak udang.
Penghitungan IFE dan EFE pengembangan usaha udang di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang menggunakan pendekatan rating (skor) dan bobot dalam sebuah matriks. Data dan informasi yang digunakan bersumber dari kuesioner yang diajukan kepada responden secara terbatas dengan total responden lima orang.
1) Identifikasi matriks IFE
Faktor strategik internal diuraikan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang dihadapi oleh petambak udang, kemudian diidentifikasi faktor internal paling berpengaruh sebagaimana terlampir dalam Tabel 13. Petambak udang harus melakukan upaya-upaya yang tepat untuk memanfaatkan kekuatan dalam mengatasi kelemahan dalam mengembangkan usaha tambak udang agar berkembang dengan baik. Faktor–faktor kekuatan dan kelemahan pada usaha pengembangan usaha udang Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13 IFE Pengembangan usaha udang Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang
No Faktor Strategik Internal Bobot (a) Rating (b) Bobot x Rating (a x b) Kekuatan
1 Pekerja yang berpengalaman 0,052 3,6 0,188
2 Benur berlimpah 0,082 3,0 0,245
3 Kesesuaian potensi lahan 0,107 3,8 0,407
4 Pengelolaan tambak secara
berkelompok 0,078 3,4 0,264
5 Mudah mencari pembeli 0,099 4,2 0,415
6 Nilai ekonomis tinggi 0,075 4,2 0,314
1,833 Kelemahan
1 Siklus produksi per 4 bulan 0,041 2,8 0,115
2 Posisi tawar petambak lemah 0,087 2,8 0,245
3 Kekurangan modal untuk
pengembangan usaha 0,092 4,0 0,367
4 Kurangnya sarana dan prasarana 0,085 4,0 0,339 5 Penjualan dilakukan kepada
tengkulak 0,075 2,8 0,209 6 Sulit mendapatkan bibit bermutu 0,128 3,2 0,411 Jumlah 1,000 0,148
42
2) Identifikasi matriks EFE
Faktor strategik eksternal diuraikan untuk mengetahui peluang dan ancaman yang dihadapi oleh petambak udang, kemudian diidentifikasi faktor eksternal yang paling berpengaruh sebagaimana dalam Tabel 14. Petambak udang harus melakukan upaya-upaya yang tepat untuk memanfaatkan peluang dalam meminimalisir ancaman pengembangan usaha tambak udang sehingga dapat berkembang dengan baik. Faktor–faktor Peluang dan Ancaman pada usaha pengembangan usaha udang Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14 EFE Pengembangan usaha udang Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang
No Faktor Strategik Eksternal Bobot (a) Rating (b) Bobot x Rating (a x b) Peluang 1 Kebijakan Pemerintah 0,075 4,0 0,299
2 Potensi lahan tambak besar 0,090 3,8 0,343
3 Bantuan sarana tambak 0,075 4,4 0,328
4 Tenaga pendamping teknis dan
kelembagaan 0,087 4,6 0,402
5 Penggunaan teknologi plastik mulsa 0,079 4,0 0,315
6 Potensi pasar besar 0,087 4,6 0,402
Ancaman
1 Cuaca 0,092 3,4 0,311
2 Harga tidak stabil 0,085 3,2 0,270
3 Serangan virus 0,118 3,4 0,402
4 Tengkulak 0,062 3,2 0,198
5 Alih fungsi lahan tambak 0,089 2,8 0,248
6 Impor udang 0,062 3,2 0,198
Jumlah 1,000 0,459
3) Analisis Matriks Internal dan Ekternal (IE)
Penentuan posisi strategi pengembangan usaha udang di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang dalam matrik IE didasarkan pada hasil total nilai matriks IFE yang diberi bobot pada sumbu X dan total nilai matriks EFE pada sumbu Y. Total nilai matriks IFE adalah 0.148 dan nilai matriks EFE adalah 0.459, sebagaimana terlampir pada Gambar 7 berikut ini
Gambar 7 Posisi Strategi Internal dan Eksternal dalam Pengmbangan Usaha Udang Di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang
Strategi yang tepat untuk dikembangkan untuk usaha di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang adalah Strengths-Opportunities (S-O) yaitu memanfaatkan Peluang dengan kekuatan.
4) Formulasi strategi pengembangan usaha tambak udang di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang.
Nurmianto, et al (2004) menyatakan bahwa analisa SWOT adalah identifikasi berbagai actor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan yang didasarkan pada faktor kekuatan (Stenghts), dan peluang
(Opportunities), namun secara bersamaam dapat meminimalkan kelamahan
(Weakness) dan ancaman (Threats). Dengan demikian untuk melakukan
perencanaan pengembangan budi daya tambak udang di kecamatan Blanakan harus menganalisa faktor-faktor strategis seperti sumberdaya dan kemampuan yang dimiliki saat ini dan melakukan pengkajian berdasarkan pengalaman masa lampau.
Berdasarkan indikator faktor strategik internal dan eksternal yang diperoleh, selanjutnya ditetapkan alternatif strategi yang dirumuskan sebagai berikut:
1) Strategi S-O (kombinasi S1–S6 dengan O1–O6)
Strategi ini didapatkan dengan memanfaatkan dan memaksimalkan kekuatan yang dimiliki oleh pembudidaya tambak udang untuk memanfaatkan peluang yang ada. Berdasarkan analisis diperoleh beberapa formulasi berikut: (1) Optimalisasi produksi udang secara berkelanjutan; dan (2) Peningkatan teknologi budidaya udang secara intensif.
Pemanfaatan lahan tambak secara maksimal dengan penarapan teknologi budidaya secara intensif dapat memajukan pertambakan udang di Kecamatan Blanakan Subang.
44
2) Strategi S-T (kombinasi S1–S6 dengan T1-T6)
Strategi ini dilakukan dengan memaksimalkan kekuatan yang dimiliki dalam mengantisipasi ancamatan yang ada. Berdasarkan analisis diperoleh beberapa formulasi strategi berikut: (1) Pengaturan pola produksi; (2) Pengendalian hama penyakit melalui budidaya intensif; dan (3) Penyusunan kerjasama pemasaran
Untuk mengembangkan usaha budidaya udang yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca maka dilakukan pengaturan pola produksi sehingga rantai produksi tidak terputus. Upaya menghadapi ancaman serangan hama penyakit dilakukan pengendalian hama penyakit secara intensif dengan sistem budidaya dengan intensif. Selain itu dilakukan kerjasama pemasaran dengan lembaga lain secara tertulis, sehingga ada keterikatan masing–masing pihak. 3) Strategi W-O (kombinasi W1–W6 dengan O1-O6)
Strategi ini didapatkan dengan usaha meminimalisasi kelemahan yang dimiliki pembudidaya dan memanfaatkan peluang. Berdasarkan hasil analisis diperoleh formulasi strategi berikut: (1) Pengaturan pola produksi udang; (2) Perkuat kelambagaan petambak melalui pendampingan; (3) Akses permodalan melalui lembaga perbankan; dan (4) Memperkuat kelambagaan pasar melalui pemberdayaan kelompok.
Pembudidaya udang di Kecamatan Blanakan Subang dapat memanfaatkan lembaga-lembaga keuangan dalam mengakses permodalan dan memperkuat kelembagaan pembudidaya itu sendiri melalui penguatan kelompok.
4) Strategi W-T (kombinasi W1–W6 dengan T1-T6)
Strategi ini didapatkan dengan meminimalisasi kelemahan dalam mengantisipasi ancaman di Kecamatan Blanakan Subang. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh beberapa formulasi strategi berikut: (1) Fasilitasi permodalan, infrastruktur dan sarpras budidaya; (2) Penerapan CBIB udang secara berkesinambungan; dan (3) Penguatan pola kemitraan dengan lembaga lain.
Alternatif strategi pengembangan budi daya tambak udang di kecamataan Blanakan dapat dilihat pada Gambar 8
46
Gambar 8 Matriks analisis SWOT pengembangan budidaya udang sistem Demfarm, 2015.
Keterangan : - (Oi ; Si) atau (Oi ; Wi) atau (Ti ; Si) atau (Ti ; Wi) menunjukan kombinasi faktor eksternal dengan internal dalam mengehasilkan pilihan strategi
- i = 1,2,...n Faktor Internal Faktor Eksternal KEKUATAN (S) KELEMAHAN (W) S1. S2. S3. S4. S5. S6 Pekerja yang berpengalaman Benur berlimpah Kesesuaian potensi lahan Pengelolaan tambak secara berkelompok Mudah mencari pembeli Nilai ekonomis yang tinggi W1. W2. W3. W4. W5. W6.
Siklus produksi per 4 bulan Posisi tawar petambak lemah Kekurangan modal untuk pengembangan usaha Kurangnya sarana dan prasarana
Penjualan dilakukan kepada tengkulak
Sulit mendapatkan bibit berkualitas O1. O2. O3. O4. O5. O6. PELUANG (O) Kebijakan pemerintah
Potensi lahan tambak yang besar
Bantuan sarana tambak
Tenaga pendamping teknis dan kelembagaan
Penggunaan teknologi plastik mulsa
Potensi pasar yang besar
1. 2. STRATEGI S – O Optimalisasi produksi udang secara berkelanjutan Peningkatan teknologi budi daya udang secara intensif 1. 2. 3. 4. STRATEGI W – O
Pengaturan pola produksi udang
Perkuat kelembagaan petambak melalui pendampingan
Akses permodalan melalui lembaga perbankan
Memperkuat kelembagaan pasar melalui pemberdayaan kelompok T1. T2. T3. T4. T5. T6. ANCAMAN (T) Cuaca
Harga tidak stabil Serangan virus Tengkulak
Alih fungsi lahan tambak Impor udang
1. 2.
3.
STRATEGI S-T
Pengaturan pola produksi Pengendalian hama penyakit melalui budi daya intensif Penyusunan kerjasama pemasaran 1. 2. 3. STRATEGI W – T Fasilitasi permodalan, infrastruktur dan sarpras budi daya
Penerapan CBIB udang secara berkesinambungan Penguatan pola kemitraan dengan lembaga lain
Analytical Hierarchy Process (AHP)
Responden dalam penentuan skala priotas pengembangan produktivitas tambak meliputi unsur pemerintah pusat yang diwakili oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, unsur pemerintah daerah Kabupaten Subang diwakili oleh Dinas Kelautan dan Perikanan, unsur mitra usaha, dan unsur pelaku utama (petambak). Kuesioner dari responden diolah dengan menggunakan Expert Choice 2000.
Pengembangan produktivitas sangat dipengaruhi oleh SDA, infrastruktur sumber daya manusia, teknologi dan permodalan. Pengolahan data menunjukkan bahwa faktor yang terpenting dalam mendukung pengembangan produktivitas tambak di Kecamatan Blanakan adalah teknologi. Sebagaimana tersaji dalam Gambar 9
Gambar 9 Kriteria terpenting dalam pengembangan produktivitas tambak di Kecamatan Blanakan Subang.
Teknologi menjadi peran penting yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan kawasan tambak, dan menjadi prioritas utama (nilai 0,341), terbukti teknologi yang telah diaplikasikan dalam program Demfarm dengan produktivitas rataan 7 ton per ha, dan SDM diurutan kedua (nilai 0,258). Menurut responden SDM merupakan penunjang dalam menjalankan teknologi dalam budidaya tambak udang. Urutan ketiga adalah modal (nilai 0,181). Persepsi ini dibangun bahwa modal dapat dikondisikan apabila teknologi telah dikuasai dengan baik dan SDM mendukung. SDA berada pada urutan keempat (nilai 0,129). SDA dipersepsikan sebagai potensi untuk pengembangan usaha tambak udang di Kecamatan Blanakan Subang. Dan urutan terakhir adalah infrastruktur (nilai 0,091). Infrastruktur merupakan penunjang dalam mengembangkan produksi udang di Kecamatan Blanakan Subang seperti drainase dan jalan produksi yang baik, sehingga mempermudah akses baik pemasaran maupun produksi.
Teknologi dianggap mampu meningkatkan produksi sekaligus memanfaatkan lahan-lahan tambak yang menganggur, melalui penerapan teknologi mulsa mampu meningkatkan produktivitas yang berimplikasi pada pendapatan petambak yang pada akhirnya berfungsinya tambak-tambak menganggur. Penggunaan teknologi yang tepat dan ramah lingkungan menjadikan kawasan tambak tetap eksis.
48
Kriteria–kriteria tersebut di atas tentu dapat terlaksana apabila dilakukan oleh aktor–aktor yang sesuai dengan kompetensinya. Dalam pengembangan produktivitas tambak ada beberapa aktor yang terlibat, yaitu Pokdakan, pemerintah, mitra usaha, perbankan dan koperasi. Penjabaran dari persepsi masing–masing responden terhadap aktor berikut:
1. Sumber daya alam
Pengelolaan atau pengembangan SDA aktor yang paling berperan adalah Pokdakan (skor 0,286), dikarenakan usaha pengembangan tambak udang yang berperan adalah Pokdakan atau petambak. Penanganan tambak yang baik maka kelangsungan SDA terjaga dengan baik, sebab kerusakan SDA seringkali diakibatkan salahnya pengelolaan yang dilakukan oleh pokdakan/petambak. Pada urutan kedua adalah pemerintah (skor 0,248), urutan ke tiga adalah mitra usaha (skor 0,184) dan pada urutan keempat adalah koperasi (skor 0,164) dan terakhir adalah perbankan (skor 0,118). Aktor penting dalam pengembangan SDA dapat dilihat pada Gambar 10
Gambar 10 Aktor terpenting dalam pengembangan SDA di Kecamatan Blanakan Subang.
1) Pokdakan
Aktor Pokdakan apabila pengembangan tambak udang dilakukan dengan memperhatikan SDA, maka strategi alternatif yang diprioritaskan berdasarkan persepsi dari aktor adalah:
a) pengembangan kawasan tambak secara berkesinambungan (skor 0,206); b) fasiltasi akses permodalan melalui pembinaan kelembagaan Pokdakan (skor
0,195);
c) penerapan teknologi melalui CBIB sesuai daya dukung lingkungan (skor 0, 148);
d) pembinaan dan pendampingan yang intensif dan berkelanjutan (skor 0,135); e) pengembangan kawasan perontohan tambak Demfarm (skor 0,106);
f) fasilitasi pola kemitraan dengan swasta, suplier saprodi dan lembaga lain (skor 0, 106);dan
Strategi alternatif dalam pengembangan SDA dengan aktor Pokdakan di Kecamatan Blanakan selanjutnya dapat dilihat pada Gambar 11
Gambar 11 Strategi alternatif dalam pengembangan SDA aktor Pokdakan di Kecamatan Blanakan Subang, 2015.
Pengembangan teknologi ramah lingkungan sangat diperlukan oleh Pokdakan selaku pemanfaat dari SDA, dan pengembangan kawasan tambak yang dikehendaki petambak adalah pengembangan tambak yang memberikan keberlanjutan dalam setiap program.
2) Pemerintah
Aktor pemerintah apabila pengembangan tambak udang dilakukan dengan memperhatikan sumber daya alam maka strategi alternatif yang diprioritaskan