Karakteristik Petani Tambak Udang
Wilayah Kabupaten Subang secara geografis terletak di bagian utara Propinsi Jawa Barat dengan luas wilayah administratif 205.176,95 hektar atau 6,34 persen dari luas Propinsi Jawa Barat. Adapun batas-batas wilayah dengan Kabupaten/Kota yang berdekatan letaknya secara geografis meliputi: Sebelah Selatan, berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat; sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta dan Karawang; sebelah Utara, berbatasan dengan Laut Jawa; dan sebelah Timur, berbatasan dengan Kabupaten Indramayu dan Sumedang
Berdasarkan topografi, Kabupaten Subang terbagi kedalam tiga zona /klasifikasi daerah yaitu:
a. Daerah Pegunungan; Daerah ini memiliki ketinggian antara 500 - 1500 m dpl dengan luas 41.035,09 hektar atau 20 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Wilayah ini meliputi Kecamatan Sagalaherang, Serangpanjang, Ciater, Jalancagak, Kasomalang, Cisalak dan Kecamatan Tanjungsiang.
b. Daerah Bergelombang/Berbukit; Daerah ini memiliki ketinggian antara 50 - 500 m dpl dengan luas wilayah 71.502,16 hektar atau 34,85 persen dari
seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Wilayahnya meliputi Kecamatan Cijambe, Kecamtan Subang, Cibogo, Dawuan, Kaljati, Cipeundeuy, Sebagian Besar Kecamatan purwadadi dan Cikaum.
c. Daerah Dataran Rendah; Daerah ini memiliki ketinggian antara 0 – 50 m dpl dengan luas 92.639,7 hektar atau 45,15 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Ini adalah wilayah Pantura (Pantai Utara) meliputi Kecamatan Pagaden, Pagaden Barat, Binong, Tambakdahan, Cipunagara, Compreng, Ciasem, Sukasari, Pusakanagara, Pusakajaya, Pamanukan, Legonkulon, Blanakan, Patokbeusi, sebagian kecil Kecamatan Cikaum dan Purwadadi. (Subang dalam angka 2010).
Potensi tambak terbesar di Kabupaten Subang terdapat di Kecamatan Blanakan. Di Kecamatan Blanakan, terdapat 2.527 rumah tangga/perusahaan perikanan dengan produksi 13.610 ton. Luas tambak Kecamatan Blanakan 568,25 Ha dengan status milik sendiri dan 2.849, 68 Ha milik Perhutani. Dalam menjalankan usahanya pembudidaya tambak terbagi dua yaitu usaha perorangan dan usaha kelompok.
Berdasarkan potensi tersebut maka pada Tahun 2012 Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan kegiatan revitalisasi tambak di Kabupaten Subang lebih difokuskan pada komoditas udang tercantum pada Tabel 5.
26
Tabel 5 Kegiatan revitalisasi tambak di Tahun 2012
No Kegiatan Provinsi Kabupaten
1 Rehabilitasi Saluran Tambak Banten, Jawa Barat Serang, Tangerang, Karawang, Subang, Indramayu, Cirebon 2 Penyusunan Detail Engeneering Desain (DED) saluran dan tambak Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulsel dan Lampung 8 Kabupaten 8 Kabupaten 4 Kabupaten 3 Kabupaten 3 Demfarm budidaya
tambak ( Udang dan Bandeng) Banten Jawa Barat Serang, Tangerang Karawang, Subang Indramayu, Cirebon Sumber: KKP 2012
Perkembangan hasil produksi udang di Kabupaten Subang cukup prospektif. Dari luas areal 360 Ha Demfarm tambak udang diproduksi sebanyak 846,760 ton dengan tambahan areal budidaya seluas 50 Ha, sebagaimana dimuat pada Tabel 6.
Tabel 6 Perkembangan produksi Demfarm udang Tahun 2012 No Kabupaten Luas Areal
Demfarm Udang (Ha) Jumlah Produksi (ton) Size (ekor/kg) Harga (Rp. Ribu Tambahan areal budidaya (Ha) 1 Serang 209 107,201 60 – 300 28 – 60 2 Tangerang - - - - 35 3 Karawang 60 57,275 51 – 120 37 – 51 15 4 Subang 360 846,760 39 – 250 50 – 65 50 5 Indramayu 126 378 126 150 6 Cirebon 245 15 50 – 65 40 – 60 Total 1,000 1,404,236 250 Sumber: KKP 2012
Karakteristik petambak udang di Kecamatan Blanakan yang menjadi responden dalam penelitian dilihat dari lima aspek, yaitu: (1) usia, (2) pendidikan, (3) jumlah tanggungan keluarga, (4) Luas Tambak, dan (5) Pengalaman Usaha. 1. Usia
Usia petambak udang di Kecamatan Blanakan Subang bervariasi. Usia termuda adalah umur 23 tahun dan tertua umur 65 tahun. Sebaran usia responden dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Usia responden tambak udang Demfarm Kecamatan Blanakan No Usia (tahun) Jumlah Responden Persentase (%) 1 20-25 2 6,67 2 31-35 2 6,67 3 36-40 7 23,33 4 41-45 7 23,33 5 46-50 6 20,00 6 51-55 2 6,67 7 61-65 4 13,33 Jumlah 30 100,00
Usaha tambak udang banyak diminati oleh kalangan usia 36–45 tahun 23,33 persen, kalangan usia 46–50 tahun sebanyak 20 persen, usia 61–65 tahun 13,33 persen, usia 20–34 tahun masing – masing 6,67 persen. Berdasarkan data tersebut rataan pembudidaya tambak udang di Kecamatan Blanakan Subang banyak diminati oleh usia 36-45 tahun, yaitu usia produktif sehingga memungkinkan usaha tambak dapat berkembang dengan baik.
2. Pendidikan
Berdasarkan Tabel 8, tingkat pendidikan pembudidaya udang di Kecamatan Blanakan Subang menunjukkan sebagian besar berpendidikan SD 56,67 persen, SMA 20,00 persen, pendidikan SMP 16,67 persen dan yang berpendidikan sarjana hanya 6,67 persen. Minimnya pendidikan merupakan indikator lemahnya SDM pembudidaya udang.
Tabel 8 Tingkat pendidikan pembudidaya udang di Kecamatan Blanakan Subang
No Tingkat Pendidikan Jumlah Responden Persentase (%) 1 SD 17 56,66 2 SMP 5 16,67 3 SMA 6 20,00 4 Perguruan Tinggi 2 6,67 Jumlah 30 100,00
3. Jumlah Tanggungan Keluarga
Berdasarkan Tabel 9. Jumlah tanggungan keluarga pembudidaya udang 73,33 persen memiliki tanggungan 3-4 orang. Hal ini menunjukkan beban tanggungan keluarga para pembudidaya cukup banyak, sehingga mereka memaksimalkan mata pencaharian sebagai pembudidaya udang dan 3,33 persen responden memiliki tanggungan lebih dari tujuh orang.
Untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, idealnya jumlah tanggungan cukup dua orang anak sebagaimana program keluarga berencana yang dicanangkan oleh pemerintah.
28
Tabel 9 Jumlah tanggungan keluarga pembudidaya udang No Jumlah Tanggungan (orang) Jumlah Responden Persentase (%) 1 1-2 0 0,00 2 3-4 22 73,33 3 5-6 7 23,33 4 > 7 1 3,33 Jumlah 30 100 4. Luas Tambak
Berdasarkan Tabel 10, luas lahan pembudidaya udang di Kecamatan Blanakan 56,67 persen responden pembudidaya tambak memiliki 1–2 hektar, 26,67 persen responden petambak memiliki 3–5 hektar, 6,67 persen responden petambak memiliki 6–10 hektor dan 10 persen responden petambak memiliki > 10 hektar.
Tabel 10 Luas tambak pembudidaya udang di Kecamatan Blanakan Subang
No Luas Tambak
yang Dimiliki (Ha)
Jumlah Responden Persentase (%) 1 1-2 17 56,67 2 3-5 8 26,67 3 6-10 2 6,67 4 > 10 3 10,00 Jumlah 30 100 5. Pengalaman Usaha
Pengalaman usaha tambak di Kecamatan Blanakan Subang beragam, yaitu 46,67 persen responden telah berpengalaman selama 6–10 tahun, 30,00 persen petambak berpengalaman 3–5 tahun, 16,67 persen petambak berpengalaman 1–2 tahun dan 6,67 persen petambak telah berpengalaman lebih dari 10 tahun.
Tabel 11 Pengalaman usaha petambak di Kecamatan Blanakan Subang No Pengalaman Usaha (tahun) Jumlah Responden Persentase (%) 1 1-2 5 16,67 2 3-5 9 30,00 3 6-10 14 46,67 4 > 10 2 6,67 Jumlah 30 100,00
Potensi Tambak Udang di Kecamatan Blanakan
Seperti kebanyakan daerah penghasil udang lainnya, kepemilikan lahan tambak di Kecamatan Blanakan merupakan milik perorangan dengan skala usaha kecil dan menengah, hal ini menegaskan pendapat Lestariadi (2012) yang menyatakan beberapa karakter tambak udang di Indonesia adalah skala kecil, kepemilikan lokal, modal kecil, teknologi dan produktivitas rendah. Mengacu pada ukuran pengelolaan dan faktor input, tambak udang diklasifikasikan menjadi skala kecil, menengah dan skala besar. (Lestariadi, Thongrak dan Anindita 2012). Usaha tambak udang di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang merupakan aktivitas turun temurun (tradisi) sehingga sebagian besar masyarakat Kecamatan Blanakan berprofesi sebagai petambak udang. Metode budidaya udang ditambak terbagi dalam 3 (tiga) macam yaitu: intensif, semi intensif dan tradisional. Sejak Tahun 2012 Kementerian Kelautan dan Perikanan telah merintis program revitalisasi tambak termasuk di Kecamatan Blanakan merupakan salah satu wilayah yang menjadi program prioritas yang dinamakan produksi tambak udang dengan metode Demfarm. Sasaran dari kegiatan demfarm tersebut adalah kelompok-kelompok petambak yang bertujuan untuk mempermudah dalam penerapan dan alih teknologi sehingga dapat menyebar dengan cepat dikalangan petambak itu sendiri. Teknologi budidaya udang pada kawasan dalam rangka revitaliasasi tambak menerapkan model managemen kluster atau kawasan. Indikator dalam implementasi efektivitas program merliputi: (1) keadaan wilayah
dan perkembangan wilayah; (2) kelompok sasaran; (3) teknis pelaksanaan program;
(4) penggunaan dana program; (5) kesesuaian program dengan kelompok sasaran; dan (6) partisipasi sasaran dalam program (Rahaju T 2007).
1. Implementasi Usaha Tambak Udang di Kecamatan Blanakan
Program Demfarm melibatkan berbagai unsur atau lembaga baik pemerintah maupun swasta. Program Demfarm mengedepankan sistem kemitraan. Sistem kemitraan di Kecamatan Blanakan sudah berjalan dengan baik beberapa lembaga yang terlibat yaitu Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya melalui UPT Karawang melakukan pemantauan terhadap lingkungan tambak termasuk pengendalian hama penyakit, Koperasi Unit Desa Mina Karya Bukti Sejati sebagai pendamping hasil panen, PT.Central Proteinaprima merupakan suplier pakan sekaligus membimbing petambak dalam pemberian pakan sampai dengan masa panen. Peran serta anggota kelompok dalam pelaksanaan program demfarm sangat aktif .
2. Mekanisme Pelaksanaan Demfarm di Kecamatan Blanakan
Sosialisasi dilakukan di Kabupaten Subang setelah itu dilakukan survei langsung ke lokasi Demfarm oleh Tim Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dan pemerintah daerah Kabupaten Subang melalui Dinas Perikanan Kabupaten Subang serta calon mitra memverifikasi lokasi yang harus sesuai dengan petunjuk pelaksanaan yang telah dibuat.
Kegiatan Demfarm merupakan rangkaian proses produksi udang secara terpadu dengan menerapkan teknologi mulsa serta penggunaan kincir air yang melibatkan berbagai unsur seperti pemerintah, swasta, mitra dan perbankan.
30
Selain itu Demfarm dititikberatkan pada sistem kemitraannya sebagaimana terlihat pada Gambar 6.
PEMERINTAH
Rehabilitasi saluran air dan Penyediaan sarana budidaya
Penyediaan Posikandu (peralatan lab, bangunan,
sepeda motor) Penyediaan infrastruktur, Pembangunan pabrik es, cold
storage, pengadaan sarana pemasaran, sarana pengolahan,
sarana SRD Pendampingan teknis oleh UPT
dan Penyuluh Kelautan dan Perikanan MITRA
• Perbaikan pematang dan pendalaman kolam
• Pendampingan teknologi semi intensif dan intensif
• Pemasangan instalasi listrik
• Penyediaan gudang pakan dan bangunan lain
• Penyediaan tempat penanganan pasca panen
• Penyediaan tenaga pemasangan plastik mulsa
• Menjamin pemasaran udang
• Menambah Penebaran benur hingga 100 ekor/m2
• Penyediaan pakan 2 bulan pemeliharaan POKDAKAN Penyediaan lahan Pengelola operasional pemeliharaan udang Menerima bantuan SWASTA PENYEDIA SARANA BUDIDAYA
Penyediaan pakan dan sarana penunjang lainnya
Penyediaan tenaga pendamping(technical
service)
PERBANKAN
Penyediaan layanan kredit program (KUR, KKPE,dsb)
2
Gambar 6. Penerapan model pola kemitraan pada revitalisasi tambak melalui kegiatan demfarm di Kecamatan Blanakan Kabupaten
Subang
Syarat-syarat calon lokasi yang harus dipenuhi sebagai lokasi Demfarm adalah memenuhi kelayakan teknis untuk kegiatan usaha budidaya udang vaname, Pokdakan memiliki status kepemilikan lahan yang jelas, dan diprioritaskan di lokasi yang telah tersedia infrastruktur pendukung seperti akses jalan dan saluran air serta lokas pertambakan yang calon Pokdakan bersedia untuk direhabilitasi dan selanjutnya apabila sudah sesuai lokasi Demfarmdan calon Pokdakan ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya dengan surat keputusan Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Pengelolaan Demfarm dilaksanakan oleh pembudidaya yang tergabung dalam kelompok pembudidaya yang minimal 1 (satu) kelompok berjumlah 10 (sepuluh) orang atau lebih dan harus menerapkan Cara Budi daya Ikan yang Baik (CBIB). Selain itu tujuan kelompok adalah mempermudah dalam menerapkan teknologi dan inovasi selama program Demfarm berlangsung.
Kelompok Pembudidaya Ikan atau Pokdakan sebagai pihak yang mampu menyediakan lahan sebagai percontohan tambak dan lahan tersebut tidak bersengketa. Selain itu Pokdakan menyiapkan pengelola operasional dan mampu memelihara udang hingga panen sekaligus menjadi penerima bantuan berupa sarana dan prasarana yang diberikan oleh pemerintah. Peran sebagai stimulan. Jumlah Pokdakan di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang terdiri dari 3 (tiga) yaitu : Pokdakan Mina Mandiri, Mina Samudra dan Putra Mekar dengan masing-
masing anggota 10 (sepuluh) orang. ketiga Pokdakan ini merupakan sasaran dalam program Demfarm di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang.
Mitra usaha dalam Demfarm Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang terdiri dari Koperasi Unit Desa Mina Karya Bukti Sejati dan PT. Central Proteinaprima. KUD Mina Karya Bukti Sejati berperan sebagai stabilitas atau penjamin pasar dengan harga yang telah ditentukan oleh koperasi, harga yang ditetapkan oleh koperasi tidak dipengaruhi oleh kondisi pasar luar, artinya harga yang dikeluarkan bersifat tetap tidak atas dan tidak pula dibawah pasaran. Ketetapan harga ini mengikat bagi para anggota koperasi termasuk kelompok program Demfarm sehingga tidak dapat menjual pada pembeli lain. Peran lain dari KUD Mina Karya Bukti Sejati fasilitator investor, artinya kopersai sebagai jembatan antara investor dengan anggota koperasi yang ingin memanfaatkan dana investor untuk kegiatan tambak udangnya.
PT. Central Proteinaprima adalah perusahaan pakan udang yang berperan memfasilitasi layanan teknis dan cara pemberian pakan udang yang baik dan tepat. Pokdakan yang membeli pakan di PT. Central Proteinaprima akan didampingi oleh teknisi pakan hingga udang tersebut siap panen. Kerjasama yang saling menguntungkan yaitu Pokdakan mendapatkan pendampingan penggunaan pakan sampai dengan panen sedangkan PT. Central Proteinaprima pakan yang diproduksi dapat dijual dengan baik. Berdasarkan pengamatan terdapat perbedaan produksi antara pakan yang difasilitasi teknisi dengan pakan yang dibeli dari luar PT. Central Proteinaprima.
Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budi Daya Karawang memberikan bantuan teknisi dari sisi teknologi pengendalian hama penyakit dan mutu air. Teknisi ini melakukan pengontrolan penyakit dan kualitas air setiap dua minggu
3. Persiapan Lahan Budi Daya Udang
Proses persiapan lahan/wadah budidaya udang meliputi tahapan berikut :
1)Pematang utama harus kedap/tidak bocor, dengan melakukan pengeringan, pengkedapan dan peninggian pematang utama yang membatasi kawasan/cluster tambak dengan kawasan tambak lain dan ketinggian pematang utama disesuaikan dengan kondisi lahan sekitar sehingga terhindar dari limpasan air pasang atau banjir;
2)Pengedapan dan peninggian pematang antara dengan cara pengeringan, pengkedapan pematang antara petak tambak pembesaran dalam kawasan tambak dan peninggian pematang antara dengan ketinggian mampu menampung air minimal 80 cm;
3)Pemasangan sarana biosekuriti, kegiatan Biosekuriti adalah segala upaya untuk mencegah masuknya penyakit ke dalam individu tambak dan kedalam sistim pemeliharaan tambak (klaster). Upaya ini dilakukan secara vertical dengan hanya menerima benih yang telah diuji bebas virus melalui dua buah laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) salah satunya harus sudah terakreditasi. Secara horizontal biosekuriti dilakukan dengan memberi disinfektan, pemasangan pagar keliling cluster dan bila memungkinkan pagar tambak individu. Sarana pagar Biosekuriti dipasang mengikuti uraian berikut;
32
a) Pemasangan pagar biosekuriti dilakukan pada pematang utama yang mengelilingi kawasan/kluster tambak sehingga dapat mencegah masuknya hama atau hewan lain dari luar wilayah;
b) Sangat dianjurkan agar pagar biosecurity juga dipasang pada individu tambak untuk lebih menjamin pencegahan infeksi horizontal;
c) Pagar biosecurity kasa dalam beberapa kasus dapat mencegah kehilangan udang pada saat banjir; dan
d) Pagar biosekuriti dapat menggunakan kasa nyamuk plastik, waring kasahitam atau bahan lainnya dengan cara pemasangan tegak dan ketinggian minimal 30 cm. Pada bagian bawah kasa ini ditanam ke dalam tanah minimal 10 cm atau ditarik dengan tali nylon yang telah dijelujur pada jaring bagian bawah untuk untuk mencegah masuknya hewan dan krustasea dari bawah jaring.
4) Pengeringan tambak dan aplikasi disinfektan. Pengeringan seluruh petak tambak baik petak tandon/biofilter, petak pembesaran udang dan saluran buang untuk memperbaiki kualitas tanah dasar tambak melalui oksidasi dan mineralisasi. Untuk menyempurnakan dan mempercepat pengeringan dari air di dalam tanah, perlu dibuat parit sementara atau permanen. Pengeringan juga berguna untuk pemberatasan hama, baik ikan liar atau udang liar. Bila masih banyak genangan air yang tertinggal, pembasmian hama di air yang menggenang dengan menggunakan saponin dan chlorine atau bahan lain yang dilakukan;
5) Perbaikan konstruksi tambak, dengan cara: Pengedapan pematang baik petak tandon/biofilter dan petak pembesaran dengan cara penambalan bocoran pada pematang tambak, perbaikan atau pemasangan pintu buang/pipa pembuangan
(outlet) untuk dapat membuang air bagian dasar dan menggali petak
pengatusan/ pengeringan bila dasar saluran pembuangan sama atau lebih tinggi dari dasar tambak; dan
6) Pemasangan plastik mulsa. Tata cara pemasangan plastik mulsa hendaknya memperhatikan hal–hal berikut:
a) Sebelum dipasang plastik dasar tambak harus dikeringkan, pada saat masih basah, dasar tanah diratakan dengan papan yang ditarik melintang dan dikerjakan oleh dua orang. Untuk penyempurnaan, pada saat masih lembab dasar tambak yang tidak rata dipukul dengan balok kayu.
b) Apabila nilai pH tanah dasar tambak kurang dari enam dilakukan pengapuran dengan dosis 1-2 ton per ha sebelum dipasang plastic.
c) Plastik mulsa yang digunakan berdimensi 500 m x 1,25 m setebal 50 mikron, dengan kebutuhan 10-11 roll/ ha .
d) Pemasangan plastik mulsa menggunakan biting (semat) bambu berukuran 50 cm x 1 cm x 0,5 cm. Biting ditekuk jadi tiga bagian, sepanjang 20 cm, 10 cm, 20 cm, lalu ditancapkan dengan jarak antar biting 25 cm. Kebutuhan biting sebanyak ± 50 ribu/ha.
e) Cara pemasangan plastik mulsa dengan menutup seluruh permukaan tanah dasar petak pembesaran udang dapat dilakukan dua cara:
Plastik mulsa memiliki daya tahan dua tahun. Pemasangannya diperlukan untuk melakukan transisi teknologi tradisional dan konvensional dasar tanah menjadi tambak yang hanya memperhatikan air dan terputus dari faktor tanah. Keberhasilan dalam tiga hingga empat siklus diharapkan sudah memperkuat pokdakan serta mitra untuk mengumpulkan modal finansial untuk lebih meningkatkan produksi dan teknologi. Dibeberapa lokasi pokdakan dan mitra menerapkan plastik High-Density Polyethylene (HDPE) 0,5 mm yang lebih tahan lama (>10 tahun).
1) Persiapan Air Tambak Udang
Air yang digunakan untuk tambak udang layak untuk tumbuh hidup dan pertumbuhan udang. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
1) Air pasok terlebih dahulu melalui proses pengendapan dan filterisasi sesuai kondisi sumber air pada kolam/petakan khusus pengendapan;
2) Penggunaan pestisida dan disinfektan untuk pembasmi hama dan penyakit sesuai prosedur;
3) Perawatan saluran dilakukan secara berkala untuk menjamin distribusi air pasok;
4) Pengelolaan kualitas air tambak dilakukan dengan cara penggantian dan sirkulasi air, penambahan probiotik, pengapuran dan pemupukan;
5) Pembuangan limbah tambak ke perairan umum terlebih dahulu harus dikendalikan melalui tendon buang ataupun saluran buang.
2) Penebaran Benur
Sebelum benur ditebar, ketersediaan pakan alami atau probiotik serta jentik nyamuk telah tumbuh di dalam kolom air. Karena tambak ini dilapisi plastik, ketersediaan pakan alami, pakan hidup dan pakan buatan sudah tersedia pada saat benur ditebar. Pilih sisi tambak yang mendapat angin yang cukup (pada sisi sejajar arah angin) lalu tebar pakan di daerah penebaran 10 menit sebelum kantung benur dibuka.
Penebaran benur dilakukan setelah ada penyesuaian kondisi parameter air media pengemasan dan tambak. Pokdakan harus menyampaikan tingkat salinitas di tambaknya pada saat pemesanan benur. Penyesuaian parameter media lainnya secara sederhana dapat dilakukan dengan aklimitasi (adaptasi).
Pada umumnya toleransi perbedaan suhu tidak lebih dari dua derajat dan salinitas berkisar antara tiga part per triliun keatas dan lima ppt ke bawah. Penyesuaian kondisi parameter air media yang dilakukan dengan adaptasi sederhana dapat dilakukan sebagai berikut ;
1) Adaptasi suhu plastik wadah benur direndam selama 15- 30 menit di pagi hari atau disisi yang teduh agar tidak terjadi pemanasan akibat sinar matahari, hingga terjadi penyesuaian suhu antara air di kolam dan di dalam plastik. Plastik dibuka dan dilipat pada bagian ujungnya. Biarkan terbuka dan terapung selama lima menit agar terjadi pertukaran udara dari udara bebas dengan udara dalam air di plastik; dan
2) Adaptasi kadar garam dan pH dilakukan dengan cara memercikkan air tambak ke dalam plastik selama 5- 7 menit hingga benur keluar sendiri ke air tambak. Sisa benur yang tidak keluar sendiri, dapat dimasukkan ke tambak dengan hati-hati/perlahan.
34
3) Pemeliharaan Udang 1) Pengelolaan Mutu Air
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan mutu air:
a. Pengukuran mutu air secara harian dilakukan terhadap parameter suhu antara 28-32, pH antara 7,5-8,5 (dengan kisaran harian 0,2-0,5), oksigen terlarut minimal 3,5 ppm dan kecerahan 30-40 cm;
b. Pengukuran kualitas air secara mingguan untuk parameter alkalinitas, total bahan organik, kelimpahan dan jenis plankton, poshat (ortophospat) dan total bakteri dan total vibrio maksimum 10% dari total bakteri;
c. Aplikasi probiotik dengan dosis sesuai dengan petunjuk pada label tiap 2-7 hari sekali;
d. Untuk mempertahankan kestabilan plankton dilakukan pengamatan warna dan kecerahan air dan aplikasi pupuk nitrogen dengan dosis 2-3 ppm tiap 5- 7 hari sekali;
e. Untuk meningkatkan Akalinitas air tambak menjadi 100 ppm dilakukan penambahan kapur dolomit (Ca CO3) dengan dosis 3-5 ppm tiap 2-4 hari sekali dengan aplikasi pada malam hari;
f. Pengamatan kondisi lumpur dasar tambak di bagian titik mati arus (biasanya ditengah tambak). Lakukan penyiponan bila sudah terjadi penumpukan lumpur dasar tambak sejak umur pemeliharaan 45 hari, penyiponan berikutnya dilakukan tiap 1-2 minggu;
g. Lakukan pengaturan arah kincir, agar lumpur terkonsentrasi mengendap di satu titik yang mudah dijangkau oleh pensifonan. Aerasi dan aplikasi probiotika yang sebenarnya bertujuan agar tidak sempat terjadi penumpukan limbah dan untuk membuat limbah menjadi bioflock yang dapat dikonsumsi udang;
h. Pada kondisi mendesak untuk meningkatkan kelarutan oksigen pada malam hari dapat dilakukan dengan aplikasi peroksida dengan dosis 1-2 ppm, terutama bila kelarutan oksigen yang tetap rendah walaupun kincir sudah dioperasikan.
2) Pengendalian Kesehatan Udang dan Lingkungan
Pengelolaan kesehatan udang dengan penerapan biosekuriti yaitu dengan pemeriksaan pagar keliling (fencing), memeriksa kehadiran udang/ kepiting/ ikan kecil di dalam media tambak dan memeriksa kepiting di dalam batas pagar. Selalu lakukan sterilisasi air baru pada petak tandon, pembersihan dan sterilisasi peralatan yang akan digunakan, tujuannya adalah untuk meminimalisisir serangan virus. Hasil penelitian yang dilakukan Taukhid dan Nuraini mengungkapkan virus yang banyak ditemui pada budi daya udang Vaname diantaranya: Taura
Syndrome Virus (TSV), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV), White Spot
Syndrome Virus (WSSV), Infectious Hypodermal and Hematopoietic Necrosis
Virus (IHHNV). Saat ini terdapat empat virus penyakit signifikan telah dilaporkan
pada budidaya udang Pacific White di Indonesia: TSV, IMNV, white spot syndrome virus (WSSV), and infectious hypodermal and hematopoietic necrosis
virus (IHHNV). Penelitian ini meneliti data epidemiologi terhadap kejadian,
diagnosa penyakit dan langkah-langkah pengendalian IMN dalam budidaya udang
Memaksimalkan produk udang yang aman pangan (food safety), bermutu dan menguntungkan dengan tidak menggunakan pestisida dan bahan kimia berbahaya lainnya yang dilarang. Air buangan tambak hendaknya dibuang pada saluran pembuangan atau disterilisasi pada tendon khusus sebelum dibuang ke perairan umum, hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit pada kolam-kolam tambak yang lain.
3) Pengelolaan Pakan Udang
Penggunaan probiotik dan bahan pakan dimaksudkan untuk menjamin hasil panen udang mempunyai mutu yang baik, penggunaan obat dan pakan tidk dianjurkan secara berlebihan oleh karenanya perlu memperhatikan langkah- langkah berikut: