BAB III METODOLOGI PENELITIAN
4.3. Deskripsi Hasil Penelitian
4.3.3. Implementation Corporate Social Responsibility of
pedoman-pedoman atau langkah-langkah yang harus dijalankan perusahaan. Salah satunya terdapat di dalam buku Paul Hohnen (2007) berjudul Corporate Social Responsibility An Implementation Guide for Business. Kerangka kerja ini dimaksudkan untuk membantu tim pelaksana CSR maupun stakeholders ketika menjalankan prsogram tanggung jawab sosial. Berikut ini adalah implementation framework :
a. Plan (Kajian, Perencanaan Program)
During the planning phase, stakeholders can assist in identifying a firm’s environmental, social and economic impacts, and help develop a firm’s CSR strategy (Hohnen, 2007: 77). A logical first step is to gather and examine relevant information about the firm’s products, services, decision making processes and activities to determine where the firm currently is with respect to CSR activity, and to locate its “pressure points” for CSR action (Hohnen, 2007:
22).
Menurut Hohnen, pada tahap planning, para stakeholder membantu mengidentifikasi dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi perusahaan, dan membantu mengembangkan strategi CSR perusahaan. Langkah pertama ini adalah dengan mengumpulkan dan memeriksa informasi yang relevan tentang produk/jasa, layanan, proses pengambilan keputusan dan kegiatan perusahaan untuk menemukan titik tekanan dalam pelaksanaan CSR.
Tidak jauh berbeda dengan kerangka kerja menurut Hohnen, tahap planning yang dilakukan oleh PT. Saka Energi tidak hanya perencanaan program semata. Tetapi meliputi proses kajian terlebih dahulu. Proses kajian ini berupa riset mengenai need assessment.
Menurut implementation framework Paul Hohnen, penggambaran tugas pada tahap planning adalah melakukan penilaian CSR. Salah satu caranya dengan memahami pengertian dari CSR. Sehubungan dengan hal itu, berikut pentingnya CSR menurut Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Sifatnya CSR itu adalah sebagai mediasi, sebagai tour, sebagai alat. Alat bagaimana kita bisa mempunyai hubungan baik dengan masyarakat, yang akhirnya bisa beroperasi.”
Dari perkataan Yayan Mulyana di atas, PT Saka Energi dalam hal ini menempatkan CSR sebagai suatu alat yang akan menuntun perusahaan dalam operational sustainability. Sedangkan menurut M.
Gunawan Alif sebagai pakar CSR, beliau menjelaskan perbedaan CSR dan Community Development (Comdev).
“Community Development itu, biasanya dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan tambang, perusahaan-perusahaan perkebunan, karena dia langsung bersentuhan dengan masyarakat yang terdampak. Oleh karena itu dia melakukan community development untuk memberikan sejenis licence to operate (beroperasi). Jadi, itu yang membedakan. Meskipun itu masih dianggap sebagai sebagian dari CSR. Tapi kalau CSR sendiri itu jauh lebih luas.”
Dari penjelasan tersebut, dapat dikatakan bahwa antara CSR dan Comdev memiliki perbedaan. CSR sendiri merupakan singkatan dari Corporate Social Responsibility yang diterjemahkan sebagai tanggung jawab sosial perusahaan. Sedangkan Community Development berarti pengembangan masyarakat (komunitas). Meskipun diantara CSR dan Comdev berbeda, tetapi pada akhirnya terdapat irisan yang kuat, yang menghubungkan antara CSR dan Comdev.
Sebelum membuat dan mengimplementasikan suatu program CSR, PT. Saka Energi melihat pada rencana perusahaan. Selanjutnya, perusahaan memetakan segala aktivitas-aktivitas yang memungkinkan berdampak pada masyarakat sekitar. Hal ini ditegaskan oleh Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Tentunya kita melihat dulu rencana perusahaan. Dari situ, kita baru memetakan. Di tahun 2020 misalkan mau ngebor, mau operate atau apa, kita melakukan pemetaan dengan aktivitas apa yang kira-kira berdampak ke masyarakat. Masyarakat mana yang akan terdampak juga. Nah, dari situ kita lakukan need assessment (mengukur, memetakan kebutuhan masyarakat).”
Dari perkataan yang disampaikan narasumber di atas, peneliti menyatakan ketika ingin membuat suatu program, planning merupakan langkah awal terpenting yang harus dipersiapkan sebelum melakukan implementasi. Perencanaan dijadikan sebagai pedoman untuk memberikan arah dan kejelasan tujuan dari suatu program.
Sejalan dengan perkataan Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi, berikut ini hal yang perlu diperhatikan bagi perusahaan dalam melakukan program tanggung jawab sosial menurut M.
Gunawan Alif sebagai pakar CSR.
“CSR itu harus dijalankan secara strategic. Bukan karena ada LSM minta, atau Pemerintah Daerah. Jadi, dia harus direncanakan oleh petugas perencana pelaksanaan CSR di perusahaan secara strategic. Jadi dia harus clear. Apasih tujuan yang harus kita capai.
Jadi harus dimulai dengan sebuah objektif yang jelas. Apa tujuannya.”
Menurut peneliti, pada dasarnya, kegiatan CSR itu meyakini bahwa perusahaan harus fokus dan memiliki kepedulian terhadap tanggung jawabnya pada masyarakat dan lingkungan. Tapi, tentu saja perusahaan tidak mampu memenuhi segala tuntutan kebutuhan yang diinginkan para pemangku kepentingannya. Oleh karenanya, inisiatif dan tindakan CSR perusahaan perlu dirancang secara strategis berdasarkan motivasi dan tujuan yang benar.
Lebih lanjut, M. Gunawan Alif sebagai pakar CSR menjelaskan tahap awal yang harus dilakukan perusahaan sebelum melakukan kegiatan CSR.
“yang pertama itu adalah permasalahan. Pemetan permasalahan.
Jadi membuat social mapping dulu. Apasih permasalahan permasalahannya. Social problem mapping dilakukan perusahaan untuk meletakkan kegiatan yang akan dilakukan, apa yang dicapai.
Based on environmental social mapping. Itu yang harus dilakukan terlebih dahulu. Jadi tidak mengada-ada. Disesuaikan dengan kebutuhan sosial maupun lingkungan di daerah dimana kegiatan CSR akan dilakukan.”
Wibisono, Yusuf menyatakan bahwa perencanaan program menjadi penting karena dapat dijadikan arah untuk melaksanakan (implementasi) pelaksanaan program. Di samping itu, perencanaan juga menentukan strategi yang lebih efektif dapat dilaksanakan (Nor Hadi, 2011: 123).
Dari pernyataan Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi dan M. Gunawan Alif sebagai pakar CSR, dapat dikatakan bahwa tahap planning bukan hanya melakukan perencanaan terkait program yang akan dilasanakan. Tetapi lebih dari itu. Sebagai perusahaan di bidang migas, pertama-tama harus melihat rencana apa yang akan dilakukan perusahaan, melihat dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) untuk mengetahui wilayah mana saja yang terdapak dari aktivitas perusahaan. Selanjutnya mencari tahu kebutuhan-kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh masyarakat sekitar.
Dalam pelaksanaan kegiatan CSR khususnya proses need assessment, diperlukan pihak ketiga independen. Hal itu bertujuan agar kebutuhan yang dibutuhkan benar-benar real. Dibuktikan dengan perkataan dari Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Tapi untuk memetakan kebutuhan tadi, supaya kebutuhan itu sudah riil kebutuhan masyarakat, strategi yang kita pakai adalah need assessment tidak kita lakukan sendiri. Kita melibatkan pihak ketiga yang independen. Lembaga, universitas, LSM. Dengan kita melibatkan pihak ketiga yang independen, harapannya kebutuhan itu adala kebutuhan yang real. Tidak berlebihan, tidak mengada-ada. Kita bekerjasama dengan universitas atau lembaga di lapangan untuk mengukur kebutuhan. Apa sih kebutuhannya, dimana, siapa dan segala macam. Dari situ mereka ngelaporin kita.
Baru kita susun. Setelah disusun, baru kita sosialisasi.”
Di samping perusahaan menyediakan sumberdaya manusia dalam melaksanakan tanggungjawab sosial, perusahaan juga dapat melakukan kolaborasi dengan pihak eksternal dan para pemerhati masalah sosial dan lingkungan, seperti: LSM, pemerintah, institusi pendidikan asosiasi profesi dan sejenisnya. Hal ini penting, karena kolaborasi dengan pihak eksternal yang memiliki dan menguasai data objek sasaran, dapat menumbuhkan kekuatan, emphaty, melengkapi strategi dan kapabilitas yang tidak dimiliki oleh perusahaan (Nor Hadi, 2011: 139).
Sehubungan dengan perkataan key informant diatas, pentingnya need assessment dilakukan oleh pihak ketiga yang independen karena, dalam pelaksanaan kegiatan tanggung jawab sosial, perusahaan (tim
CSR) akan berhadapan dengan masyarakat yang beraneka ragam (heterogen) dalam berperilaku dan cara pandang mengenai tanggung jawab sosial. Sehingga bisa saja memunculkan permasalahan atau persoalan baru. Jadi, apabila perusahaan menggunakan pihak ketiga independen, diharapkan bahwa mereka lebih mengenal bagaimana karakteristik dari masyarakat tersebut. Sehingga hasil yang diperoleh merupakan riil kebutuhan.
Setelah para pihak ketiga telah menemukan hasil kebutuhan masyarakat, mereka melaporkan hasil tersebut kepada tim CSR perusahaan. Selanjutnya tim CSR memetakan hasil need assessment. Hal yang perlu diperhatikan oleh perusahaan adalah biaya operasional.
Berikut penjelasan Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Industri hulu migas punya regulasi sendiri bagaimana CSR diterapkan. Di dalam industri hulu migas itu, perlakuan biayanya adalah mengatur konsep cost recovery. Bahwa semua biaya yang diperlukan, dikeluarkan itu akan menjadi biaya operasi. Kita hanya menyesuaikan kebutuhan di lapangan dengan aktivitas operasi di lapangan. Cost recovery itu adalah biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan operasi. Di dalam operasi itu ada sebagian biaya untuk program. Jadi program-program itu masuk ke biaya operasi. Jadi, tidak ada besaran tertentu.”
Sesuai dengan konstitusi, kegiatan hulu migas merupakan bisnis Negara. Layaknya bisnis pada umumnya, proyek hulu migas juga memerlukan investasi sebagai modal kegiatan eksplorasi dan produksi.
Mengigat kegiatan ini perlu investasi besar dan beresiko tinggi, Negara
kemudian mengundang investor untuk menjadi kontraktor yang bekerja bagi Negara melakukan kegiatan operasi hulu migas (sumber:
http://skkmigas.mic.ads.kompas.com/post/44/5.hal.yang.perlu.diketahui.t entang.cost.recovery.bagian.i Diakses pada 22 Juli 2019).
Berdasarkan perkataan narasumber, dapat dikatakan bahwa, ketika perusahaan hendak melakukan suatu program seperti tanggung jawab sosial, maka mereka sudah memiliki komitmen dengan menggunakan biaya yang berasal dari sebagian keuntungannya. Sehubungan PT. Saka Energi merupakan perusahaan yang bergerak di bidang hulu migas, maka biaya ketika hendak melakukan kegiatan tanggung jawab sosial, PT. Saka Energi akan memasukkan biaya program tersebut ke dalam biaya operasi.
Pedoman dalam pelaksanaannya pun terdapat di dalam dokumen AMDAL.
Mengenai metode yang dilakukan tim CSR dalam menginformasikan strategi kepada stakeholder, berikut perkataan dari Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Melalui sosialisasi dan koordinasi yang intensif.”
Menurut peneliti, dengan sosialisasi dan koordinasi yang intensif, dapat menjadikan pesan yang disampaikan, dalam hal ini adalah strategi program CSR dapat menjadi efektif. Serta terciptanya iklim dan sikap saling responsive-antisipatif di kalangan unit kerja. Lebih lanjut, upaya yang dilakukan PT. Saka Energi ketika melakukan pendekatan dengan
masyarakat terutama untuk sosialisasi, dijelaskan Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi sebagai berikut.
“Kalau itu, tergantung bagaimana karakter masyarakat di masing-masing daerah. Khusus di Gresik atau di Jawa Timur secara umum, mereka akan merasa senang ketika mereka merasa di ‘wongke’.
Salah satu strategi bagaimana mereka di orangkan atau di wongke adalah interaksi yang emang sering bertemu, dialog, sosialisasi segala macam. Dengan sering bertemu, berinteraksi, mereka merasa diakui keberadaan mereka. Nah ketika pelaksanaan itu ada, jadi kita dianggap sebagai bagian dari mereka. Disitu kita sekaligus melakukan sosialisasi. Baik itu sosialisasi mengenai program sendiri, aktivitas operasi.”
Dari pernyataan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa pada komunikasi langsung (tatap muka) antara PT Saka Energi dengan masyarakat sekitar memang lebih efektif karena memungkinkan setiap pembicara dapat menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun nonverbal. Melalui interaksi informal yang intensif dan berkelanjutan, dapat menumbuhkan keakraban antara perusahaan dengan masyarakat tersebut. Sehingga perusahaan yang notabenenya sebagai pihak luar, bisa diterima dengan baik oleh masyarakat.
b. Do (Implementasi)
CSR commitments are policies or instruments a firm develops or signs on to that indicate what the firm intends to do to address its social and environmental impacts (Hohnen, 2007: 42).
Implementation refers to the day-to-day decisions, processes, practices and activities that ensure the firm meets the spirit and letter of its CSR commitments and thereby carries out its CSR strategy. If CSR commitments can be called “talking the talk,” then implementation is “walking the walk.” (Hohnen, 2007: 57).
Tahap ini disebut juga sebagai implementasi kegiatan CSR.
Menurut Hohnen, tahap doing secara garis besar terdiri atas mengembangkan komitmen CSR dan mengimplementasikan komitmen CSR.
Seperti halnya kerangka kerja menurut Hohnen pada tahap do, setelah PT. Saka Energi telah menyusun planning (kajian need assessment dan lainnya), tahap selanjutnya adalah pengimplementasian.
Berikut penjelasan Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi dalam tahap doing.
“Dari assessment segala macam tadi, baru kita susun programnya.
Disini ada dari bentuk programnya, di desa mana, A, B, C segala macam disinilah perencanaan program. Dari situ kita langsung jalankan, kita laksanakan.”
Implementasi tanggungjawab sosial (social responsibility) merupakan tahap aplikasi program social responsibility sebagaimana telah direncanakan sebelumnya. Penerapan tanggungjawab sosial membutuhkan iklim organisasi yang saling percaya dan kondusif, sehingga memunculkan motivasi dan komitmen karyawan pelaksana (Nor Hadi, 2011: 142).
Menurut peneliti, dalam praktek pengimplementasian, tim CSR bukan hanya mematuhi peraturan yang ada. Selain itu, tim CSR juga perlu menjalankan komitmen atau prinsip yang dijadikan sebagai pijakan bagi
tim pelaksana. Misalnya mengacu pada prinsip Triple Bottom Line dari John Elkington.
Lebih lanjut, Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi mengatakan.
“Mungkin lebih kepada visi dari perusahaan. Bahwa perusahaan, Saka dalam hal ini berkeinginan, berkomitmen untuk memberikan manfaat positif bagi masyarakat disekitar wilayah operasi.”
Berdasarkan keterangan informan tersebut, dalam hal ini, PT. Saka Energi menggunakan prinsip sesuai dengan visi perusahaan. Dengan adanya prinsip tersebut, perusahaan harus memperhitungkan dan menjadikannya sebagai pijakan dalam merumuskan orientasi social responsibility agar terjaminnya ketercapaian tujuan tanggung jawab sosial.
c. Check (Monitoring)
CSR is ultimately about improving performance. As such, reporting, verification and assurance are important tools to measure whether change has actually taken place, giving interested parties an opportunity to see how well the firm is meeting its commitments and what affect that is having. Reporting is communicating with stakeholders about a firm’s economic, environmental and social management and performance (Hohnen, 2007: 67).
Tahap checking ini merupakan alat penting untuk mengukur sudah sejauh mana program berjalan. Melihat seberapa baik perusahaan dalam memenuhi komitmennya kepada masyarakat tersebut. Menurut Paul Hohnen dalam implementation framework (2007:19), tahap ini terdiri dari Assure and report on progress (meyakinkan dan melaporkan kemajuan).
Seperti kerangka kerja menurut Hohnen di tahap checking, PT.
Saka Energi pun memiliki tahap serupa yakni monitoring. Kegiatan monitoring PT. Saka Energi dilakukan pada saat pengimplementasian program berjalan. Selagi kegiatan CSR berjalan, di tahap ini pula monitoring diberlakukan.
Ketika melaksanakan program tanggung jawab sosial, tim CSR PT.
Saka Energi tidak mengabaikan kegiatan monitoring. Berikut disampaikan oleh Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Ketika pelaksanaan itu, kita tetap terus lakukan monitoring biasanya sekitar satu bulan sekali, tiga bulan sekali kita melakukan evaluasi.”
Monitoring merupakan pemantauan yang dilakukan secara terus menerus terkait proses pelaksanaan program CSR. Monitoring dilakukan secara berkala selama berlangsungnya suatu kegiatan atau proyek (sumber: http://www.rahmatullah.net/2017/12/monitoring-dan-evaluasi-csr.html?m=1 Diakses pada 22 Juli 2019).
Jadi, pentingnya kegiatan checking/monitoring dalam kegiatan CSR telah disadari PT. Saka Energi. Dalam monitoring, tim CSR dapat melaporkan (report) kemajuan dari aktivitas pelaksanaan kegiatan tanggung jawab sosial.
d. Evaluate and Improve (Evaluasi)
Evaluasi adalah suatu proses identifikasi dalam menilai dan mengukur suatu program kegiatan. Melalui evaluasi, kegiatan dapat diukur
dan diperiksa, apakah mengalami kemajuan atau tidak. Menurut Hohnen, kerangka kerja yang dilakukan setelah checking adalah tahap evaluate and improve. Tahap evaluasi dan improve ini sebagai wujud dasar untuk melakukan perbaikan dan modifikasi.
Seperti halnya kerangka kerja menurut Hohnen, setelah tahap checking (monitoring), PT. Saka Energi juga melakukan tahap evaluasi.
Dalam evaluasi, hasil monitoring menjadi hal yang sangat penting untuk dijadikan pertimbangan selanjutnya. Berikut perkataan Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Sekalian mengecek, apakah program yang kita jalankan itu memang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sejauh mana progressnya, segala macam, disini, di evaluasi. Ketika evaluasi hasilnya positif, bagus, kita lanjutkan. Ketika tidak bagus, kita bikin lagi kajian.”
Sebagai suatu program, social responsibility membutuhkan pemantauan dan evaluasi dalam rangka perbaikan di masa depan, dan sekaligus menentukan tingkat capaian kinerja aktivitas sosial yang telah dilakukan. Evaluasi dan pemantauan juga ditujukan untuk mengetahui sejauhmana pencapaian tujuan program serta apakah terdapat penyimpangan yang membutuhkan tindakan koreksi. Terutama bagi tanggung jawab sosial (social responsibility) yang bersifat multi years (Nor Hadi, 2011: 147).
Menurut peneliti, dalam hal ini PT. Saka Energi melakukan tahapan monitoring dan evaluasi, atau dikenal dengan istilah monev. Monitoring
dan Evaluasi menekankan pada pencapaian hasil sebagai tujuannya, dan upaya melihat dan menilai pencapaian tersebut.
Metode evaluasi PT. Saka Energi dilakukan secara periodik. Hal ini sehubungan dengan perkataan Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Kalau berbicara metode kan itu kita susun ketika kita berbicara rencana program. Misalkan program pengadaan air bersih. Di dalam pengadaan air bersih itu, kita punya target, berapa saluran rumah yang tersambung, sejauh mana efek dari sisi ekonominya, apakah berdampak positif bagi masyarakat atau tidak. Nah itu nanti kita review. Tiap fase, tiap tahunnya punya target. Nah kita evaluasi.
Evaluasinya tidak setiap akhir tahun doang. Tiga bulan sekali, enam bulan sekali, periodiklah.”
Berdasarkan keterangan informan tersebut, proses monitoring dan evaluasi memang sebaiknya dilakukan dengan berkala, sehingga perusahaan bisa mengetahui permasalahan yang muncul dan bisa merancang solusi yang tepat dari permasalahan tersebut. Dalam menilai (mengevaluasi) suatu kegiatan, diperlukan adanya patokan tolak ukur apakah kegiatan tersebut telah mencapai keberhasilan atau tidak. PT Saka Energi dalam mengevaluasi kegiatan CSR, tidak hanya melihat satu sisi.
Berikut yang disampaikan oleh Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Tidak hanya satu sisi. Artinya beberapa komponen kita libatkan, beberapa elemen kita libatkan. Masyarakat adalah hanya salah satu sisi. Kenapa tidak hanya mengukur dari sisi masyarakat?
Masyarakat itu tidak pernah cukup. Selalu kurang. Berapa pun yang kita kasih ngga akan pernah cukup. Jadi kita kolaborasi. Untuk mengevaluasi keberhasilan, kita mengundang lagi pihak ketiga
untuk melakukan evaluasi. Dalam artian, ada pengakuan pemerintah lokal, ada pengakuan dari masyarkat, ada eksposure baik dari media. Itu kita kolaborasikan.”
Preston dan O’Bannon mengemukakan bahwa, salah satu pegukuran CSR dapat dilakukan dengan mengukur setiap elemen individual CSP (Corporate Sustainable Peformance), dan yang lainnya adalah untuk mengukur semua elemen CSP kolektif (Mardikanto, 2014:
187). Jadi, peneliti dapat menyimpulkan bahwa jika dalam penilaiannya, PT. Saka Energi turut menggabungkan sudut pandang pihak-pihak ketiga untuk menghindari dari ketidakseimbangan hasil evaluasi apabila hanya berdasarkan salah satu pihak. Lebih lanjut, keberhasilan dari suatu program CSR tidak bisa diukur secara langsung. Berikut pernyataan dari Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Program CSR ini sifatnya partisipatis dan berkelanjutan, jadi berhasil tidaknya harus ada partisipasi dari masyarakat penerima program. Ukurannya tentu ada, dan hasilnya baru akan nampak setelah program berjalan beberapa tahun.”
Meskipun CSR berkembang dengan beragam cara pandang, Bhattacharya, dkk dan Turker, menemukan bahwa masih terdapat masalah terkait mengukur penerapan CSR, yaitu model pengukurannya masih sedikit, belum komprehensif dari berbagai disiplin ilmu, dan bervariasi (Kriyantono, 2018: 34). Oleh karena itu, menurut peneliti, dalam mengukur suatu program CSR, harus dilakukan secara komprehensif dan
dilakukan secara terus-menerus. Sehingga waktu yang diperlukan untuk mengetahui keberhasilan CSR cukup lama.
M. Gunawan Alif sebagai pakar CSR mengungkapkan, keberhasilan dari suatu program CSR memang harus diukur. Parameter dalam pengukurannya terbagi menjadi kebutuhan tangible dan intangible.
Berikut penjelasan beliau.
“Ukurnya sejauh mana, biasanya yang benar itu sebelum kegiatan itu dimulai, kan tadi ada social mapping, jadi tau tingkat kebutuhannya. Misal air minum, dari 10.000 persyaratan, air minum cuma tersedia 10%. Setelah kegiatan berlangsung, kebutuhan air minum bisa mencapai 80%. Itu ukuran tangible. Tapi kan ada juga tingkat kebahagiaan, jadi lebih dengan survey masyarakatnya dengan program ini seperti apa. Bisa jadi meningkat dari 10% ke 80%. Itu puas. Jadi ada dua hal, yang langsung terukur dan tidak.
Jadi survey kualitatif perlu dilihat, seberapa bahagia mereka.
Diawal, keduanya itu dicek. Dengan demikian, kegiatan CSR itu accountable. Artinya bisa dinilai manfaatnya, bukan di klaim-klaim saja.”
Berdasarkan keterangan informan M. Gunawan Alif sebagai pakar CSR, diketahui bahwa ketika melakukan evaluasi terhadap kegiatan CSR, memang harus ditinjau sejak kegiatan CSR belum dilaksanakan. Dalam arti, pada proses planning, perusahaan sudah melakukan riset akan kebutuhan masyarakat (need assessment). Tahap riset awal inilah, perusahaan sudah mulai menimbang hasil apa yang harus dan akan didapat. Saat program CSR dilaksanakan, tim CSR sudah dapat melakukan evaluasi. Evaluasi di tahap ini disebut checking (monitoring)
kegiatan. Jadi, proses evaluasi tidak hanya dilakukan setelah kegiatan CSR berakhir.
Karena kegiatan CSR berfokus pada sektor kesejahteraan
Karena kegiatan CSR berfokus pada sektor kesejahteraan