BAB III METODOLOGI PENELITIAN
4.3. Deskripsi Hasil Penelitian
4.3.2. Landasan Program CSR PT Saka Energi
Dalam konteks global, istilah CSR mulai digunakan tahun 1970-an dan semakin popular setelah kehadiran buku Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Business (1998), karya John Elkington yang mengembangkan tiga komponen penting sustainable development, yakni economic growth, environmental protection, dan social equity, yang digagas dalam Brundtland Report (Mardikanto, 2014: 85). Elkington menjelaskan konsep Triple Bottom Line digunakan sebagai landasan dalam pengaplikasian program CSR pada sebuah perusahaan. Triple Bottom Line lebih dikenal dengan konsep 3P:
a. Profit
Profit adalah unsur pertama dari setiap kegiatan usaha.
Perusahaan tetap harus berorientasi dalam mencari keuntungan ekonomi yang memungkinkan perusahaan untuk terus beroperasi dan berkembang (Edi Suharto, 2009: 103). Hal ini sejalan dengan pernyataan dari Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Keuntungan itu tidak semata-mata diukur dari sisi materi. Bukan itu keuntungannya. Materi itu efek dari kesemua yang saya bilang sebelumnya. Keuntungannya lebih pada keuntungan non materi, hubungan baik, adanya licence to operate dari masyarakat. Jika kita memiliki hubungan baik, jadi kita diperbolehkan untuk beroperasi segala macam, operasi berjalan terus. Jadi, secara materi diujung.
Keuntungannya apa? Yang intangible tadi. Yang tidak terhitung secara materi yaitu, hubungan yang baik, mutual relations.”
Konsep CSR sangat berkaitan erat dengan keberlangsungan atau sustainability perusahaan. Terjadinya keberlangsungan perusahaan apabila perusahaan melakukan tanggung jawabnya tidak hanya terbatas kepada pemegang saham (stakeholder) tetapi perusahaan juga wajib memperhatikan dimensi sosial dan lingkungan yang menjadi tempat operasi perusahaan (Alit dan Dharma, 2013: 142).
Dari pernyataan tersebut dapat dijelaskan bahwa, keuntungan (hasil) yang perusahaan inginkan tidak langsung mengarah pada sisi materi. Meskipun materi itu adalah efek dari kesemuanya. Hal utama yang diinginkan perusahaan adalah keuntungan yang bersifat intangible.
Dalam meraih keuntungan intangible, dalam hal ini adalah keberlanjutan
operasional perusahaan, langkah awal yang perlu dilakukan PT. Saka Energi adalah membangun hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar.
b. People
Disamping perusahaan bertujuan untuk mencari keuntungan (profit), perusahaan harus memperhatikan people. Perusahaan harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan manusia (Edi Suharto, 2009:
103). Begitupun dengan yang dilakukan Saka. Sejalan dengan hal itu, Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi mengatakan:
“Program yang dijalankan oleh perusahaan, dalam hal ini Saka, tidak mengambil alih tanggung jawab pemerintah. Kesejahteraan masyarakat itu adalah kewajiban pemerintah. Karena perusahaan tidak mungkin mensejahterakan semua. Tapi kenyataan di lapangan, tidak semua lapisan masyarakat, tidak semua elemen masyarakat itu tersentuh program pemerintah. Nah, item-item itu tadi, atau masyarakat-masyarakat tertentu yang tidak tersentuh itulah yang kita ambil. Jadi kita tidak tumpah tindih dengan pemerintah.”
Melalui CSR akan tercipta hubungan antara pemerintah dan perusahaan dalam mengatasi berbagai masalah sosial, seperti kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan, minimnya akses kesehatan dan lain sebagainya. Tugas pemerintah untuk menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya menjadi lebih ringan dengan adanya partisipasi pihak swasta (perusahaan) melalui kegiatan CSR (Mardikanto, 2014: 135).
Menurut peneliti, berdasarkan kutipan wawancara diatas, bahwa PT. Saka Energi dalam hal ini turut meringankan tanggung jawab Pemerintah Daerah dalam mensejahterakan masyarakat di sekitar wilayah kerja. Perusahaan memberikan kontribusinya dalam 4 aspek, yakni kesehatan, lingkungan, ekonomi, dan pendidikan. Lebih lanjut, PT. Saka Energi memiliki target yang menjadi sasaran utama ketika program CSR dilaksanakan. Berikut ini penjelasan dari Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor.
“Siapa sih yang kita jalankan? Artinya gini, masyarakat yang memang berpotensi terdampak di wilayah kerja tadi. Contoh, kita kerjanya offshore, shoreline (berbatasan antara darat dan laut).
Yang paling banyak terdampak disitu adalah masyarakat nelayan.
Itulah yang kita paling banyak lakukan program untuk masyarakat nelayan. Tapi, karena disitu tidak hanya nelayan semua, ada masyarakat elemen lain, yang lain tetap ada juga.”
Tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) merupakan salah satu dari beberapa tanggung jawab perusahaan kepada para pemangku kepentingan (stakeholders). Yang dimaksud pemangku kepentingan dalam hal ini adalah orang atau sekelompok orang yang dapat memmpengaruhi atau dapat dipengaruhi oleh berbagai keputusan (Mardikanto, 2014: 130).
Dari pernyataan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa people di dalam konsep 3P mengacu kepada stakeholder. Dalam hal ini, stakeholder yang dimaksudkan adalah masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasi. Di daerah itulah Saka turut melakukan kegiatan CSR yang
berupaya untuk kesejahteraan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, Saka tidak tumpang tindih dengan kewajiban pemerintah itu sendiri. Lebih lanjut, Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi mengatakan bahwa program CSR yang dilakukan Saka memiliki dua sifat. Yakni yang sifatnya dapat dilihat, dan tidak dapat dilihat.
“Untuk itu kan ada dua nih yang kita lakukan, satu, program yang sifatnya branded, kelihatan. Ada satu yang sifatnya skill. Skill itu adalah untuk jangka panjangnya.”
Dari perkataan Yayan Mulyana diatas, diperlihatkan bahwa program CSR berbasis people (kesejahteraan manusia) tidak hanya diberikan dalam bentuk barang ataupun sesuatu yang berbentuk material.
Namun yang lebih efektif adalah program yang lebih mengutamakan pengembangan keterampilan masyarakat.
c. Planet
Planet adalah unsur lain yang perlu diperhatikan perusahaan.
Perusahaan peduli terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan keberagaman hayati. Biasanya program CSR yang berfokus pada planet ini berupa penghijauan lingkungan hidup, penyediaan sarana air bersih, perbaikan permukiman, dan sebagainya (Edi Suharto, 2009: 103). Sebagai perusahaan yang patuh terhadap AMDAL, Saka turut berpartisipasi dalam kepeduliannya di lingkungan hidup. Sebagaimana dikatakan oleh Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Kita mulai dari sektor lingkungan/kesehatan misalnya. Selain program air bersih dan sanitasi, ada juga program yang termasuk dalam sektor lingkungan yaitu penanaman mangrove.”
Menurut peneliti, apabila perusahaan ingin mempertahankan keberadaannya di suatu lingkungan masyarakat, maka harus disertai dengan tanggung jawab lingkungan. Hal ini karena lingkungan sangat berkaitan dengan kehidupan manusia. Hubungan antara lingkungan dengan manusia pun tidak dapat dipisahkan, dan berlaku hukum sebab-akibat.
4.3.3. Implementation Corporate Social Responsibility of Saka Energy