BAB III METODOLOGI PENELITIAN
4.3. Deskripsi Hasil Penelitian
4.3.4. Program-program CSR PT Saka Energi
PT. Saka Energi tidak hanya sekedar memikirkan keuntungan semata, melainkan juga mengutamakan visi dari perusahaan. Bahwa perusahaan berkeinginan dan berkomitmen untuk dapat memberikan manfaat positif bagi masyarakat disekitar wlayah operasi. Seperti yang diketahui, Saka merupakan perusahaan yang bergerak di industri hulu migas. Sehingga, dalam beroperasi di Wilayah Kerja (baik itu onshore, offshore, shoreline) Saka turut memperhatikan wilayah-wilayah yang terdampak akan kegiatan perusahaan.
Seperti yang diungkapkan oleh Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Kita merintis suatu program yang namanya program pengadaan air bersih. Kenapa air bersih kita jalankan? Satu, dimana-mana diseluruh Indonesia secara khusus pulau Jawa, bahwa pesisir itu rata-rata airnya air asin, payau, tidak layak konsumsi, tidak sehat.
Melihat kesitu, kita merintis suatu program air bersih. Tahun 2015 atau 2014-an kalau tidak salah. Kita pertama kali merintis pengadaan air bersih.”
Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menyoal tentang keberadaan desa pesisir di seluruh Indonesia yang jumlahnya mencapai 12.827 desa. Dari jumlah tersebut, desa yang sudah mendapatkan akses air bersih untuk kebutuhan sanitasi baru mencapai 66,54 persen.
Sementara, sisanya hingga saat ini masih belum memiliki akses air bersih.
Untuk memenuhi kebutuha air minum, dia menyebut, desa-desa di pesisir mengambil air dari beragam sumber, diantaranya: air kemasan (1.106 desa), air tadah hujan (1.002 desa), mata air (2.761 desa), sumur (4.703), sungai/kolam (374 desa), dan PAM (1.330) (sumber:
http://lipi.co.id/lipimedia/Indonesia-Negeri-Tropis-Tapi-Krisis-Air-Bersih-di-Kawasan-Pesisir-Terjadi/20218 Diakses pada 18 Juli 2019).
Melihat permasalahan minimnya sumber air bersih yang terjadi di Indonesia khususnya masyarakat pesisir, dalam hal ini, peneliti melihat PT.
Saka Energi telah sesuai membuat program CSR pengadaan air bersih dan sanitasi. Apalagi, kebutuhan air bersih adalah hak dasar warga Negara seperti yang tertuang dalam pasal 27 ayat 2 UUD 1945 “Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Lebih lanjut Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT
Saka Energi mengatakan, tujuan dibuatnya program pengadaan air bersih yakni:
“Secara ekonomi, dulu ketika tidak ada air bersih, mereka membelanjakan uang itu dalam satu minggu sampai ratusan ribu untuk air bersih. Dengan adanya saluran air bersih, mereka hanya tidak sampai seperempatnya satu minggu itu. Karena, biaya pengadaan air bersih itu lebih murah dibanding dengan membeli air bersih. Kedua, dengan kita membentuk lembaga pengelolaan air bersih, si lembaga ini dia berjalan sendiri (mandiri). Dia punya income (penghasilan). Malah, salah satu desa yang kita buatkan program air bersihnya, mereka berencana untuk membuat air kemasan. Jadinya kesehatan, lingkungan, berimbas ke ekonomi.”
Dari riset yang dilakukan badan pangan dunia PBB (FAO) pada 2012, Arman menyebutkan, diperkirakan kebutuhan tiap orang terhadap air bersih mencapai rerata 2 hingga 4 liter per hari. Namun di sisi lain, untuk memproduksi makanan 1 orang per hari membutuhkan air sebanyak 2.000-5.000 liter (https://www.mongabay.co.id/2017/03/24/warga-pesisir-masih-kesulitan-akses-air-bersih-kenapa-masih-terjadi/ Diakses pada 18 Juli 2019).
Berdasarkan data dan keterangan tersebut, benar adanya jika melalui program pengadaan air bersih dan sanitasi, bisa mengurangi pengeluaran masyarakat. Sehingga biaya yang sebelumnya digunakan untuk membeli keperluan air bersih, bisa dipakai untuk keperluan lain.
Dalam pelaksanaan program pengadaan air bersih, kegiatan yang dilakukan tim CSR Saka yakni dimulai dari pencarian sumber air
bersihnya. Seperti yang dijelaskan oleh Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Dari sumber air bersihnya, pengeborannya, sampai membuat salurannya distribusi ke rumah-rumah. Di suatu desa namanya Banyuurip. Tahun itu Alhamdulillah tersambung sekitar seratus sekian sambungan rumah (tahun 2013-2014an), dan Alhamdulillah berjalan sampai dengan sekarang dan bahkan mereka sudah mandiri. Jadi pengadaan air bersihnya jalan, pada saat mereka berjalan itu mereka kelola sendiri. Pada lembaga-lembaganya kita tingkatkan kapasitas manusianya untuk mengelola air bersih dan distribusinya ke rumah-rumah.”
Dengan menjalankan tanggungjawab sosial, perusahaan diharapkan tidak hanya mengejar laba jangka pendek, tetapi juga ikut berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan (terutama lingkungan sekitar) dalam jangka panjang (Mardikanto, 2014: 134). Dalam hal ini, PT. Saka Energi selain melaksanakan program penyediaan air bersih dan sanitasi, perusahaan juga turut memperhatikan keadaan masyarakat kedepannya. Dilihat dari perusahaan yang membentuk lembaga independen dalam pengelolaan air bersih. Sehingga program tersebut sudah bisa berjalan efektif.
Dari keterangan informan tersebut menunjukkan bahwa Program Pengadaan air bersih ini merupakan tanggung jawab sosial Saka yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Hal ini sejalan dengan konsep 3P menurut John Elkington yaitu profit, people, dan planet.
2) Program Ekowisata Mangrove
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor hulu migas, Saka meyakini bahwa kegiatan operasinya berdampak bagi lingkungan disekitar Wilayah Kerja. Untuk itu Saka turut memusatkan perhatiannya pada pelestarian lingkungan. Seperti halnya program pengadaan air bersih, program ekowisata mangrove juga merupakan program unggulan dari Saka Energi. Sebagaimana dijelaskan Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Setidaknya ada dua program unggulan yang saya lihat. Satu, program pengadaan air bersih tadi, mereka sudah mandiri. Yang keduanya, program ekowisata mangrove. Jadi, air bersih dan ekowisata mangrove ini cenderung sangat-sangat seksi, sehingga menjadi unggulan. Bahkan ada salah satu desa juga yang ingin meniru hal yang sama untuk program ekowisata mangrove.”
Tidak dapat dipungkiri bahwa proses pembangunan senantiasa bertumpu pada pengelolaan dan pengolahan sumber-sumber daya (resource). Sebagaimana diketahui, sumber daya yang menjadi aset pembangunan memiliki karakter yang tidak sama. Sebab dalam kenyataannya terdapat sumber daya yang bisa diperbarui (renewable) dan yang tidak bisa diperbarui (unrenewable) (Ardianto dan Machfudz, 2011:
64).
Dalam hal ini, menurut peneliti PT. Saka Energi sebagai industri yang mengelola sumber daya yang tidak dapat diperbarui, tidak
menempatkan nafsu keserakahannya untuk mengeruk keuntungan.
Melainkan perusahaan turut memperhatikan kondisi di lingkungan sekitar Wilayah Operasi melalui program ekowisata mangrove.
Berdasarkan penjelasan Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi, berikut ini kegiatan yang dilakukan dalam program ekowisata mangrove:
“Ekowisata mangrove ini sama tahapannya. Mulai dari pembibitan, penanaman bibit segala macam, sampai sekarang kita budidaya untuk ekowisata mangrove.”
Dari perkataan tersebut, dapat dikatakan bahwa kegiatan ekowisata mangrove PT. Saka Energi telah berjalan lama. Karena dilihat dari kegiatan awal yang dimulai dari pembibitan mangrove, hingga kini sudah digunakan sebagai ekowisata. Lebih lanjut, berikut perkataan Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
Untuk ekowisata mangrove ini yang sudah stabil (mandiri) itu ada dua desa, Desa Pangkahwetan dan Banyuurip. Apa buktinya?
Sudah bisa punya penghasilan. Kalau yang saya dengar secara statistik angka-angka mereka sekarang hampir setiap liburan (sabtu minggu) banyak masyarakat yang datang ke lokasi wisata. Jadi ada pemasukan. Ditambah lagi, eksposure dari media, ada media-media yang sudah datang ke ekowisata mangrove.”
Tujuan pemberdayaan masyarakat pada hakikatnya adalah meningkatkan kemampuan, mendorong kemauan dan keberanian, serta memberikan kesempatan bagi upaya-upaya masyarakat (setempat) untuk dengan atau tanpa dukungan pihak luar mengembangkan kemandiriannya
demi terwujudnya perbaikan kesejahteraan (ekonomi, sosial, fisik dan mental) secara berkelanjutan (Untung, 2014: 63-64). Berdasarkan pernyataan diatas, program ekowisata mangrove tidak hanya berhenti pada penanaman bibit mangrove saja. Melainkan, perusahaan juga berperan dalam memberikan pemahaman terkait pengelolaan mangrove sehingga lokasi tersebut kini dijadikan sebagai lokasi wisata.
3) Program Beasiswa dan Bantuan
Selain berkonsentrasi pada bidang lingkungan, PT. Saka Energi juga memiliki program CSR yang bergerak di bidang pendidikan. Salah satunya adalah program beasiswa dan bantuan. Hal ini sejalan dengan perkataan Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Dalam sektor pendidikan, yang dimaksud bantuan adalah program beasiswa. Jadi, beasiswa yang kita berikan adalah berupa bantuan beasiswa supaya masyarakat mempunyai akses pendidikan di dunia migas. Salah satu bentuknya adalah beasiswa untuk anak-anak lulusan SMA terbaik untuk beasiswa di CEPU (Akademi migas). Sekarang Politeknik Energi dan Mineral Akamigas. Yang kita rencanakan untuk tiga tahun adalah, tiap tahun kita menjadikan tiga siswa terbaik dari SMA wilayah operasi. Selama 3 tahun. Jadi total 9 orang.”
The International Commission on Financing Global Education Opportunity (the Education Commission) memperkirakan bahwa mulai tahun 2030, lebih dari separuh anak-anak dari generasi muda di seluruh dunia (atau sekitar 800 juta orang) tidak akan memiliki keterampilan dasar yang diperlukan untuk memasuki angkatan kerja modern (sumber:
https://www.viva.co.id/ Diakses pada 18 Juli 2019). Berdasarkan data perkiraan tersebut, dapat dikatakan bahwa PT. Saka Energi melalui program penyaluran beasiswa bagi murid berprestasi ke PEM Akamigas Cepu: Politeknik Energi dan Mineral Akamigas ini dapat mengurangi angka generasi-generasi muda yang dianggap tidak memiliki keterampilan dasar yang diperlukan untuk memasuki dunia kerja modern.
Lebih lanjut, berikut penjelasan dari Yayan Mulyana selaku SR &
ER Supervisor PT Saka Energi.
“Sebetulnya kita tidak batasi dari sisi masyarakat mampu, tidak mampunya. Tapi lebih ke masyarakat yang memang punya prestasi. Misalkan gini, itu akan jadi penilaian terakhir ketika masyarakat mampu, tidak mampu adalah skornya sama. Misalkan Sembilan dua-duanya, nah nanti yang tidak mampu akan lebih kita utamakan. Tapi itu tidak menjadi syarat utama. Siapa pun yang memiliki prestasi yang bagus, ya kita kasih beasiswanya.”
Dari segi dasar pemberian beasiswa, menurut peneliti, PT. Saka Energi lebih mengutamakan siswa yang berprestasi. Dengan adanya penyaluran dan pemberian beasiswa di bidang pendidikan ini, diharapkan siswa-siswa tersebut nantinya dapat mengembangkan seluruh potensinya dengan baik. Sehingga, melahirkan generasi penerus di bidang migas.
4) Program Rumah Pintar
Program CSR Saka di bidang pendidikan selain bantuan dan beasiswa adalah program Rumah Pintar. Program Rumah Pintar ini
ditujukan kepada anak-anak dibawah Sekolah Dasar. Berikut perkataan dari Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Rumah pintar itu pertama kali digagas. Di Pangkah itu ada anak-anak kecil dari keluarga yang tidak mampu, tapi targetnya lebih kepada anak-anak PAUD, dibawah SD. Jadi mereka tidak punya akses belajar dan segala macam, hingga akhirnya kita bantu untuk membuat suatu rumah singgah, sanggar disebutnya.”
Pentingnya keberadaan PAUD semakin dirasakan bagi bangsa Indonesia, hal ini ditandai dengan makin tumbuhnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan PAUD, sehingga muncul lembaga-lembaga PAUD yang dikelola oleh masyarakat. Pada tahun 2017 tercatat ada 195.742 satuan lembaga PAUD di Indonesia. Dari jumlah tersebut terdapat 3.889 (2 persen) PAUD yang dikelola Pemerintah (Negeri) sedangkan 191.853 (98 persen) PAUD yang dikelola swasta/swadaya masyarakat (sumber: https://pundi.or.id/2019/06/17/pemerataan-akses-dan-kualitas-pendidikan-anak-usia-dini-paud-di-indonesia/ Diakses pada 20 Juli 2019).
Berdasarkan keterangan informan dan data yang didapatkan, maka dapat peneliti simpulkan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini merupakan suatu bentuk upaya dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pembinaan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang menitikberatkan pada pemberian rangsangan ke arah pertumbuhan dan perkembangan anak. Pentingnya pemerataan akses dan kualitas Pendidikan Anak Usia Dini dirasakan oleh PT. Saka Energi. Hal ini
dibuktikan dengan adanya program CSR Rumah Pintar, atau lebih tepatnya rumah singgah yang digunakan untuk anak-anak yang tidak mampu.
Lebih lanjut Yayan Mulyana mengatakan:
“Disitu kita buatkan, pengajarnya dari Karang Taruna, anaknya anak-anak kecil, belajarnya disitu. Itu berjalan berapa tahun ya..
sekarang, ini tahun terakhir kalau ga salah.”
Menurut peneliti, meskipun program Rumah Pintar ditujukan untuk anak-anak usia PAUD, pemilihan tenaga pengajar pun tidak boleh asal dan harus mengedepankan profesionalisme. Dalam hal ini PT. Saka Energi telah memilih tenaga pengajar yang cukup berkompeten dalam membantu proses tumbuh kembang anak.
Alasan program rumah pintar Saka di tahun ini bisa dikatakan sebagai tahun terakhir, diungkapkan oleh Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Jadi setelah sekian tahun itu, kita mengevaluasi, perlu atau tidak perlunya ini dilanjutkan si sanggar belajar ini. Kenapa? Karena, kok ternyata keliatan ketergantungan orangtuanya, bukan anaknya.
Jadi kita sekarang dalam tahap evaluasi apakah akan dilanjut atau ngga, si sanggar belajar.”
Sebagai suatu program, CSR membutuhkan pemantauan dan evaluasi dalam rangka perbaikan di masa depan, dan sekaligus menentukan tingkat capaian kinerja aktivitas sosial yang telah dilakukan.
Evaluasi dan pemantauan juga bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pencapaian tujuan program dan apakah terdapat penyimpangan yang
membutuhkan tindakan koreksi, terutama CSR yang bersifat multi-years (sepanjang tahun) (Ardianto dan Machfudz, 2011: 219).
Dari pernyataan narasumber diatas, peneliti menyatakan bahwa kegiatan CSR tidak hanya dilakukan semata-mata untuk memuaskan semua kebutuhan masyarakat sekitar. Tetapi perusahaan juga mengharapkan adanya kemandirian masyarakat. Melalui evaluasi dan monitoring, perusahaan dapat menilai berhasil atau tidaknya suatu program. Sehingga perusahaan dapat memutuskan, apakah program tersebut akan tetap dijalankan atau tidak.
5) Program Saka Mengajar
Selain program Bantuan beasiswa dan Rumah Pintar, program Saka dalam bidang pendidikan lainnya adalah Saka Mengajar. Tujuan dari program ini adalah untuk membangun hubungan dengan masyarakat dan memberikan pengetahuan tentang minyak dan gas untuk anak-anak dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama di sekitar area operasi. Berikut perkataan dari Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Saka Mengajar itu lebih kepada transfer knowledge atau pembekalan ilmu mengenai industri hulu migas. Targetnya pun lebih kepada anak-anak formal. Jadi lebih bagaimana mereka bisa mengenal atau tahu, energi dicarinya gimana, pemanfaatannya gimana, segala macam, jadi lebih ke situ.”
Program Saka Mengajar ini, membuktikan bahwa PT. Saka Energi turut memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk dapat beradaptasi dan menambah pengetahuannya terhadap energi. Berdasarkan website PT Saka Energi, kegiatan program Saka Mengajar ini termasuk melatih 29 guru dari 28 sekolah, penyediaan bahan mengajar dan alat bantu praktis tentang minyak dan gas (flip chart, alat peraga). Selanjutnya, perbedaan antara program Rumah Pintar dengan Saka Mengajar, disebutkan oleh Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi:
“Kalau sanggar belajar, anak-anak yang dianggap kurang mampu, ditampung di suatu sanggar. Namanya sanggar belajar. Yang ngajar karang taruna. Kalau Saka Mengajar, yang mengajar adalah Saka sendiri.”
Jadi, tak berbeda dengan program Sanggar belajar, dalam program Saka Mengajar pun, PT. Saka Energi memilih tenaga pengajar yang telah memiliki profesionalismenya di bidang energi. Tak lain adalah karyawan dan atau praktisi dari PT. Saka Energi.
6) Kampung Berseri
Program CSR PT. Saka Energi dalam sektor lingkungan lainnya adalah program kampong berseri. Hal yang melatarbelakangi PT. Saka Energi membuat program ini, disampaikan oleh Yayan Mulyana selaku SR
& ER Supervisor PT Saka Energi:
“Program-program yang dijalankan Saka basisnya adalah Need Assessment, dan salah satu lokasi binaan perusahaan berada di daerah Industri, sehingga gangguan pencemaran atau polusi udara
menjadi salah satu issue yang perlu ditangani. Dengan program ini diharapkan, pencemaran udara setidaknya bisa berkurang.”
Eksistensi perusahaan di tengah lingkungan dapat menimbulkan berbagai persoalan lingkungan, seperti: pencemaran, polusi udara, radiasi dan sejenisnya. Pada dasarnya, terdapat tiga kategori dampak negative perusahaan (industri) terhadap lingkungan, yaitu: (a) dampak karena input proses; (b) dampak karena proses produksi; dan (c) dampak karena output proses produksi (Nor Hadi, 2011: 39).
Menurut peneliti, memang sudah seharusnya bagi perusahaan untuk turut berperan dalam menjaga lingkungan di sekitar operasionalnya.
Karena tak bisa dipungkiri bahwa eksistensi perusahaan di tengah-tengah masyarakat, menimbulkan efek negatif yang dapat mengancam keseimbangan ekosistem.
Berikut perkataan Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi terkait awal program ini terbentuk:
“Khusus program Kampung berseri, dimulai sejak tahun 2016, namun demikian Program Kampung Berseri ini merupakan turunan dari sektor program Kesehatan dan Lingkungan yang sudah berjalan sejak beberapa tahun sebelumnya.”
Dari perkataan narasumber tersebut, dapat disimpulkan bahwa PT Saka Energi memang memikirkan kondisi lingkungan di daerah sekitar operasinya. Dilihat dari keberlanjutan program Kampung Berseri ini yang sudah dilakukan selama lebih dari tiga tahun lamanya.
Kegiatan yang dilakukan PT. Saka Energi dalam Program Kampung Berseri ini, dijelaskan oleh Yayan Mulyana selaku SR & ER Supervisor PT Saka Energi.
“Kalau bicara Kampung Berseri, adalah bagian dari program CSR (Govrel & CSR). Yang gagas dari tim saya juga. Itu adalah program recycle. Pengelolaan sampah rumah tangga. Salah satunya penanaman dengan konsep hydrophonik dan lainnya.”
Dari keterangan narasumber diatas, penulis menyimpulkan, tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kualitas lingkungan yang menjadi target operasional melalui peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga serta mewujudkan lingkungan yang asri.
4.4. Pembahasan
4.4.1. Implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Saka Energi Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber, peneliti menginterpretasikan bahwa implementasi CSR yang dilakukan oleh PT.
Saka Energi tidak jauh berbeda dengan implementation framework menurut Paul Hohnen. Namun terdapat beberapa perbedaan yakni, pada tahap planning. Menurut Hohnen, tahap plan secara garis besar terdiri atas kegiatan penilaian CSR dan mengembangkan strategi CSR. Sedangkan PT. Saka Energi lebih mengenal tahap planning dengan istilah kajian dan perencanaan program. Antara tahap kajian dan perencanaan program pun (menurut siklus) terletak pada bagian (kotak) yang terpisah. Pada tahap
kajian, kegiatan yang dilakukan PT. Saka Energi meliputi pengukuran dan pemetaan kebutuhan masyarakat yang menjadi target program (need assessment). Hasil dari need assessment tersebut dipetakan dan disusun sehingga dibuatlah program CSR. Di samping itu, menurut kerangka kerja Hohnen, terdapat tahap checking. Sedangkan PT. Saka Energi mengenalnya dengan istilah monitoring. Meskipun diantara checking dan monitoring sama-sama bertujuan untuk mengukur dan memastikan kinerja. Tahap monitoring yang dilakukan PT. Saka Energi dilaksanakan pada saat program sedang berjalan. PT. Saka Energi pun mengenal Monev system dan need assessment sebagai bahan pertimbangan penting sebelum memulai kegiatan atau program CSR selanjutnya.
PT. Saka Energi selalu melakukan pendekatan awal kepada masyarakat di sekitar wilayah operasi agar terjalin komunikasi dan hubungan yang baik antar kedua belah pihak. Jenis pendekatan yang dilakukan oleh Saka tidaklah sama antara masyarakat di wilayah A dan di wilayah B. Semua itu tergantung dari bagaimana karakter masyarakat di masing-masing daerah. Namun secara umum, pendekatan yang dilakukan Saka adalah dengan memanusiakan atau me-orangkan masyarakat tersebut. Melalui interaksi langsung (tatap muka) dua arah yang dilakukan secara kontinu, sosialisasi, dan interaksi informal lainnya dianggap lebih efektif dibanding yang formal. Ketika hal-hal tersebut telah dijalankan, maka mereka akan merasakan bahwa keberadaannya diakui, sehingga
perusahaan dalam hal ini dianggap sebagai bagian dari mereka (masyarakat tersebut).
Sebelum membuat dan mengimplementasikan suatu program CSR, hal utama yang perlu Saka lakukan adalah dengan melihat rencana apa yang akan dilakukan oleh perusahaan. Dari rencana itu, tim CSR Saka kemudian memetakan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan. Sehubungan dengan Saka merupakan industri yang bergerak di bidang hulu migas, maka kegiatan (rencana) perusahaan pada umumnya adalah aktivitas pengeboran. Di dalam hasil pemetaan yang dilakukan tim CSR Saka, memuat aktivitas-aktivitas apa saja yang sekiranya berdampak ke masyarakat di sekitar wilayah operasi tersebut.
Tim CSR Saka sangat memperhatikan fenomena atau permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat sekitar wilayah operasi.
Dalam hal ini, tim CSR Saka perlu melakukan identifikasi masalah melalui strategi need assessment terlebih dahulu sebelum program kegiatan dibuat. Ketika need assessment dilakukan, tim CSR Saka tidak langsung turun ke lapangan untuk meninjau keadaan di masyarakat. Mereka melibatkan pihak ketiga yang independen dalam mengidentifikasi kebutuhan apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, sehingga kebutuhan tersebut adalah real dan tidak mengada-ada.
Setelah pihak ketiga melaporkan hasil yang didapatkan kepada tim CSR Saka, hal yang dilakukan Saka selanjutnya adalah menyusun hasil
tersebut. Hasil yang dilaporkan berupa kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh masyarakat, dimana, siapa saja targetnya, dan sebagainya. Dari assessment itu, tim CSR Saka akan menyusun program apa yang akan dilakukan.
Langkah selanjutnya, apabila program CSR telah ditentukan, maka tim CSR Saka akan mengimplementasikannya. Dalam menjalankan implementasi program CSR, tim CSR Saka tidak lupa untuk melakukan monitoring.
Kegiatan monitoring yang dilakukan Saka biasanya dilaksanakan sekitar satu bulan sekali, tiga bulan sekali. Monitoring yang dilakukan tim CSR Saka biasanya berupa pengecekan terhadap program yang sedang dijalankan. Apakah program tersebut sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sudah sejauh mana progressnya, dan segala macam. Dari
Kegiatan monitoring yang dilakukan Saka biasanya dilaksanakan sekitar satu bulan sekali, tiga bulan sekali. Monitoring yang dilakukan tim CSR Saka biasanya berupa pengecekan terhadap program yang sedang dijalankan. Apakah program tersebut sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sudah sejauh mana progressnya, dan segala macam. Dari