• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 8 KESIMPULAN DAN SARAN

8.2 Implikasi Kebijakan

1. Upaya untuk meningkatkan produktivitas padi, jagung, dan kedelai di daerah yang tingkat efisiensi diatas 80 % (efisien) dapat dilakukan melalui perbaikan teknologi ataupun perbaikan kelembagaan produksi. Pada daerah yang sudah efisien dengan tingkat efisiensi teknis antara 50-80 persen maka tingkat produktivitas harus dipertahankan. Pada daerah ini penggunaan input sudah optimal. 2. Sedangkan di daerah yang inefisien (tingkat efisiensi kurang dari

50%) dapat dilakukan melalui rekayasa sosial ekonomi seperti penyuluhan, dan edukasi perlu diintensifkan di daerah-daerah atau provinsi yang masih banyak ditemukan usahatani tanaman pangan yang belum efisien. Penyuluhan usahatani yang berbasis pada pemanfaatan pengetahuan dan sumberdaya lokal akan secara cepat meningkatkan jumlah RTU yang masuk dalam kategori efisiensi teknis yang tinggi. Pendidikan untuk mengurangi pemanfaatan pestisida dalam membasmi hama penyakit (pengelolaan hama terpadu) perlu semakin diintensifkan sehingga penggunaannya tidak berlebihan. Sehingga RTU tidak menggunakan komposisi input yang berlebihan yang menyebabkan terjadinya inefisiensi. 3. Peran pemerintah untuk meningkatkan produktivitas padi, jagung,

kedelai dapat dilakukan dalam bentuk bantuan pupuk, benih, kemudahan akses RTU terhadap pinjaman modal serta alat dan mesin pertanian (alsintan). Benih unggul yang digunakan RTU sering mensyaratkan penggunaan input lain (terutama pupuk) yang mencukupi. Tanpa pupuk yang cukup, benih unggul tersebut sering tidak muncul keunggulannya. Sehingga, penyaluran (distribusi) benih dan pupuk harus tepat guna dan tepat sasaran.

Bab 8. Kesimpulan dan Saran

4. Akses yang mudah terhadap pinjaman modal akan dapat membantu RTU membeli pupuk sesuai yang dianjurkan agar benih yang ditanamnya mampu menghasilkan panen yang maksimal. Pemberian alsintan seharusnya sesuai dengan kebutuhan RTU. Penyediaan dan akses RTU terhadap air irigasi, benih unggul, pupuk, dan obat-obatan berkontribusi besar dalam peningkatan efisiensi usahatani padi, jagung, dan kedelai.

5. Untuk dapat meningkatkan nilai tambah dan kesempatan kerja di sektor pertanian, maka perlu dibukanya akses terhadap agribisnis. Akses dapat ditingkatkan dengan (a) dari sisi penawaran, meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di sektor tanaman pangan, agar mampu bersaing di pasar tenaga kerja non-pertanian, dan (b) dari sisi permintaan, meningkatkan usaha-usaha off-farm untuk memperbesar kesempatan kerja yang dapat diakses oleh RTU dan keluarganya.

Daftar Pustaka

Daftar Pustaka

Adeleke, H., M. Mattanmi and L.T. Ogunniyi. 2008. Application of

the Nor-malized Profit Function in the Estimation of the

Profit Efficiency Among Smallholder Farmers in Atiba Local

Government of Oyo State. Journal of Economic Theory, 2(3):

71-76.

Afriat, S. N. 1972. Efficiency estimation of production functions.

International Economic Review, Vol. 13 (October) 3: pp.

558-568.

Aigner DJ, Chu SF. 1968. On estimating the industry production

function. American Economic Review,58(4): 826-839.

Ali M, Flinn JC. 1989. Profit efficiency among basmati rice

producers in Pakistan Punjab. American Journal

ofAgricultural Economics 71: 303-310.

Aliudin, Sariyoga, S., & Anggraeni, D. (2011). Efisiensi dan

Pendapatan Usaha Gula Aren Cetak. Jurnal Agro Ekonomi

Vol 29 No 1, 73-85.

Asadullah MN, Rahman S. 2005. Farm productivity and efficiency

in rural Bangladesh: The role of education revisited. CSAE

Working Papers 10.

Daftar Pustaka

Boediono. Ekonomi Mikro. Edisi kedua. BPFE Yogyakarta. Desember

2000.Darmansyah, S. 2003. Dampak Kebijakan Ekonomi

Terhadap Kinerja Ekonomi Tanaman Pangan Indonesia:

Suatu Pendekatan Multi Komoditas. Disertasi Doktor.

Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Battese GE, Coelli TJ ,Colby TC. 1989. Estimation of frontier

production functions and the efficiencies of indian farms

using panel data from ICRISAT’S village level studies.

Journal of Quantitative Economics, 5: 327-348.

Battese, GE and Corra, G.S. 1977. Estimation of A Production Frontier

Model: With Aplication to The Pastoral Zone of Eastern

Australia. Australian Journal of Agricultural Economics, 21.

No. 3 :169-179

Beattie BR, Taylor CR. 1985. The Economics of Production, Wiley, New

York. Dalam : Bessent AM, Bessent EW. 1980. Comparing

the Comparative Efficiency of Schools through Data

Envelopment Analysis. Educational Administration Quarterly,

16, 57-75. Bjurek H. 1996. The Malmquist Total Faktor

Productivity Index. Scandinavian Journal oj Economics, 98:

303-313.

[BBPPSLP] Balai Besar Penelitan dan Pengembangan Sumberdaya

Lahan Pertanian. 2009. Potensi Lahan Terlantar dan Lahan

Dibawah Tegakan Hutan.

[BKP] Badan Ketahanan Pangan. 2010. Keragaan Data Alih Fungsi

Lahan Pertanian Indonesia.

[BPN] Badan Pertanahan Nasional. 2010. Data Luas Lahan Pertanian

Termanfaatkan 2009.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2014. Keragaan Data Jumlah dan

Pertumbuhan Penduduk Indonesia 2009-2013.

BPS. (2011). Statistik Indonesia 2011. Jakarta: BPS.

BPS. (2014). Angka Nasional Hasil Pencacahan Lengkap Sensus

Pertanian 2013 . Jakarta: BPS.

BPS. (2015). POLICY BRIEF PENINGKATAN KINERJA PERTANIAN

INDONESIA MENUJU KEDAULATAN PANGAN. Jakarta:

2015d.

BPS. (2015a). Statistik Indonesia 2015. Jakarta: BPS.

BPS. (2015b). Analisis Rumah Tangga Usaha Tanaman Pangan di

Indonesia. Jakarta: BPS.

BPS Provinsi Jawa Timur. (2015). Analisis Rumah Tangga Usaha

Tanaman Pangan Jawa Timur. Surabaya: BPS Provinsi Jawa

Timur.

Charnes A, Cooper WW, Rhodes E. 1978. Measuring the efficiency

of decision making units. European Journal of Operational

Research, 2: 429-444.

Coelli TJ, Battesse G. 1996. Identification of faktors which influence

the technical efficiency of Indian Farmers. Australian Journal

of Agricultural Economics, 40(2): 19-44.

Daryanto, H.K.S. 2000. Analysis of The Technical Efficiency of Rice

Production in West Java Province, Indonesia; A Stochastic

Frontier Production Function Approach. PhD Thesis.

University of New England. Armidale. Australia.

Daftar Pustaka

Debertin, D.L. 1986. Agricultural Production Economics. MacMillan

Publishing Company, New York.

Dewi, I. G., Suamba, I. K., & Ambarawati, I. G. (2012). Analisis

Efisiensi Usahatani Padi Sawah (Studi Kasus di Subak

Pacung Babakan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung).

E-Journal Agribisnis dan Agrowisata Vol. 1, No. 1, Juli 2012,

1-10.

Dewi Saragih, Herawati Hamim, & Niar Nurmauli. (2013). Pengaruh

Dosis dan Waktu Aplikasi Pupuk Urea dalam Meningkatkan

Pertumbuhan dan Hasil Jagung (Zea mays, L.) Pioneer 27.

Jurnal Agrotek Tropika, Volume 1, No.1, Januari 2013, 50-54.

Doll, J.P, and F. Orazem. 1984. Production Economics ; Theory with

Application, Second Edition. John Willey and Sons. New

York.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2013. Perkembangan

Produktivitas Jagung Tahun 1984-2013.

Farrel MJ. 1957. The measurement of productive efficiency. Journal

of the Royal Statistical Society A 120, part 3:253-281.

Fadwiwati, A. Y., Hartoyo, S., Kuncoro, S. U., & Rusastra, I. W. (2014).

Analsiis Efisiensi Teknis, Efisiensi Alokatif dan Efisiensi

Ekonomi Usahatani Jagung Berdasarkan Varietas di

Provinsi Gorontalo. Jurnal Agro Ekonomi Vol 32 No 1, 1-12.

Forsund FR, Lovell CAK, Schmidt P. 1980. A survey of frontier

production functions and of their relationship to efficiency

measurement. Journal of Econometrics, 13: 5-25.

Greene WH.1993. Maximum likelihood estimation of econometric

frontier functions. Journal of Econometrics, 13: 27-56.

Gujarati, D. 1978. Basic Econometric Fourth Edition. McGraw-Hill

Inc, New York.

Idiong IC. 2007. Estimation of farm level technical efficiency in small

scale swamprice production in cross river state of Nigeria: a

stochastic frontier approach. World Journal of Agricultural

Sciences 3 (5): 653-658.

Intriligator, M. D. 1978. Econometric Model, Techniques, and

Applications. Prentice Hall Inc, New Jersey.

Jondrow J, Lovell CAK, Materov IS, Schmidt P. 1982. On the

estimation of technical inefficiency in the stochastic frontier

production function model. Journal of Econometrics, 19(1):

233-238.

Juanda, B. 2009. Ekonometrika Pemodelan dan Pendugaan. IPB

Press, Bogor.

Kalirajan K, Shand RT. 1989. A generalised measure of technical

efficiency, Applied Economics 21: 25-34.

Kebede TA. 2001. Farm household technical efficiency: a stochastic

frontier analysis a study of rice producers in mardi

whatersherd in the western development region of Nepal.

[Tesis]. Norway: Department of Economics and Social

Sciences, Agricultural University of Norway.

[Kemenhut RI] Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. 2010.

Daerah Aliran Sungai (DAS) Sumber Pengairan Utama

Pertanian.

[Kementan RI] Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2014.

Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Komoditas Padi

1984-2013.

Kementrian Pertanian. (2011). Pedoman Pembinaan Penggunaan

Pestisida. Jakarta.

Daftar Pustaka

Kopp RJ. 1981. The measurement of productive efficiency: a

reconsideration. Quarterly Journal ojEconomics, 96, 477-503.

Koutsoyiannis, A. 1977. Theory of Econometrics: An Introductory

Exposition of Econometric Methods. Second Edition. The

MacMillan Press Ltd, London.

Kusnadi, N., Tinaprilla, N., Susilowati, S. H., & Purwoto, A. (2011).

Analisis efisiensi usahatani padi di beberapa sentra

produksi padi di Indonesia. Jurnal Agro ekonomi Volume

29 No 1, 25-48.

Lau, L.J. and Yotopolus, P.A. 1971. A Test for Relatif Efficiency and

An Application to Indian Agriculture. American Economic

Review. 61; 94-109

Li Y. 2006. Essays on forestry product industry: sawmill productivity

and industrial timberland ownership [Disertasi]. Alabama:

Auburn University.

Lovell CAK. 1993. Production frontier and productive efficiency.

Dalam Fried. H.O. C.A.K Lovell dan S.S. Schmidt (Eds).

Measurement of Productive Efficiency: Techniques and

Application. Oxford University Press, New York, 237-255.

Manik Hermina.Maharani Br. Ginting. Analisis yang Memengaruhi

Expor Biji Kakao Indonesia. (Skripsi). Fakultas Pertanian.

Institut pertanian Bogor. 2006.

Matakena, Simon. (2012). EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR

PRODUKSI GUNA MENINGKATKAN PRODUKSI USAHATANI

KEDELAI DI DISTRIK MAKIMI KABUPATEN NABIRE. Jurnal

Agribisnis Kepulauan, Volume 1. No. 1, Oktober 2012.

Maulana, M. 2004. Peranan Luas Lahan, Intensitas Pertanaman dan

Produkti- vitas sebagai Sumber Pertumbuhan Padi Sawah

di Indonesia 1980-2001. Jurnal Agro Ekonomi 22(1): 74-95

Minardi, S. (2002). Kajian terhadap Pengaturan Pemberian Air dan

Dosis TSP dalam Memengaruhi Keragaman Jagung (Zea

mays, L.) di Tanah Vertisol. Jurnal Sains Tanah. Volume 2, No.1,

Juli 2002.

Muller J. 1974. On sources of measured technical efficiency: the

impact on information. American Journal of Agricultural

Economics, 56(4): pp.730-738.

Myint T, Kyi T. 2005.Analysis of Technical Efficiency of Irrigated Rice

Production Sistem in Myanmar.Makalah. Dalam: Conference

on International Agricultural Research for Development;

Stuttgart-Hohenheim, 11-13 Oktober.

Nanda Mayani & Hapsoh. (2011). Potensi Rhizobium dan Pupuk

Urea untuk Meningkatkan Produksi Kedelai (Glycine max

L.) pada Lahan Bekas Sawah. Jurnal Ilmu Pertanian Kultivar,

Volume 5, No.2, September 2011.

Ogundari K, Amos TT, Ojo SO> 2010. Estimating Confidence

Intervals for Technical Efficiency of Rainted Rice Farming

Sistem in Nigeria.China Agricultural Economics Review. Vol.

2 No. 1.

Okuruwa, A., O. Akindeinde and K.K. Salimonu. 2009. Relatif

Economic Efficiency of Farms in Rice Production: A Profit

Function Approach in North Central Nigeria. Journal

Tropical and Subtropical Agroecosystem, 10 (2009):

279-286.

Daftar Pustaka

Pindyck, R.S., and D.L. Rubinfeld. 1998. Econometric Models and

Economic Forecasts. Fourth Edition. McGraw-Hill Inc, New

York.

Pribadhi Arl Irfan. Faktor-faktor yang Memengaruhi Permintaan

Benih Semangka Impor di PT. Sang Hyang Seri, Jakarta.

(Skripsi). Fakultas Pertanian. Institut pertanian Bogor. 2006.

Purba, H.J. 1999. Keterkaitan Pasar Jagung dan Pasar Ternak Ayam

Ras di Indonesia: Suatu Analisis Simulasi. Tesis Magister

Sains. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor,

Bogor.

Putra Roni Eka. Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pemintaan

Pupuk Urea dan SP-36 Di Indonesia. (Skripsi). Fakultas

Pertanian. Institut pertanian Bogor. 2007.

Putri, E.I., Novindra, dan Nuva. Dampak Kebijakan dan Efektivitas

HPP Gabah/Beras terhadap Kesejahteraan RTU Indonesia.

Jurnal Ekonomi Pembangunan Indonesia/Vol. 13 No. 2.

Rahman S. 202. Profit efficiency among Bangladeshi rice farmers.

The University of Manchester School of Economic Studies

Discussion Paper Series 0230.

Rover. (2009). Pemberian Campuran Pupuk Anorganik dan Pupuk

Organik pada Tanah Ultisol untuk Tanaman Padi Gogo

(Oryza Sativa. L). Pekanbaru: Program Magister Agronomi

Universitas Islam Riau.

Schmidt, P. and C.A.K. Lovell 1976. Estimating Stochastic Production

and Cost Frontiers When Technical and Allocative Ineficiency

Are Correlated. Journal of Econometrics. 13:83-100

Shumway. 1983. Supply, Demand and Technology in Multiproduct

Industry: Texas Field Crops. American Journal of Agricultural

Economics 65,748-60.

Sudirman Umar & Linda Indrayati. (2010). Efisiensi Energi (Tenaga

Kerja) dan Produksi pada Usahatani Padi di L a h a n

Sulfat Masam Potensial. EMBRIYO, Volume 7. No.1, Juni

2010.

Sumaryanto. 2001. Estimasi tingkat efisiensi usahatani padi dengan

fungsi produksi frontir stokastik. Jurnal Agro Ekonomi. Vol

19 No 1, Mei 2001: 65-84.

Sumaryanto, Wahida, & Siregar, M. (2003). DETERMINAN EFISIENSI

TEKNIS USAHATANI PADI DI LAHAN SAWAH IRIGASI.

Swastika, D.K.S. 1996. The Measurement of Total Factor Productivity

Growth Using Production Frontier: A case of Irrigated Rice

Farming in West Java. Jurnal Agro Ekonomi. 15(1):1-19.

Tahir, A. G., Darwanto, D. H., Mulyo, J. H., & Jamhari. (2010).

ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI SISTEM USAHATANI

KEDELAI DI SULAWESI SELATAN. Jurnal Agro Ekonomi,

Volume 28 No.2 Oktober, 133 – 151.

Tian W, Wan GH. 2000. Technical efficiency and its determinants in

China’s grain production. Journal of Productivity Analysis 13:

159-174.

Tinaprilla, Netti. 2012. Efisiensi Usahatani Padi Antar Wilayah Sentra

Produksi di Indonesia: Pendekatan Stochastic Metafrontier

Production Function. Disetasi. Institut Pertanian Bogor

Triyono Ari, Purwanto, Budiyono. Efisiensi PEnggunaan Pupuk-N

untuk Pengurangan Kehilangan Nitrat pada Lahan

Pertanian (2013). Prosiding Semiar Nasional Pengelolaan

Sumber Daya Alam dan Lingkungan 2013.

Daftar Pustaka

Verbeek, M., 2000. A Guide to Modern Econometrics, John Wiley &

Sons. Ltd

Villano R, Fleming P, Fleming E. 2008. Measuring regional

productivity differences in the Australian wool industry:

A Metafrontier Approach. Makalah. Dalam: AARES 52

nd

Annual Conference, Februari

Wahida. 2005. Estimasi Tingkat Efisiensi Tehis Usahatani Padi dan

Palawija di Perairan Sungai Brantas : Aplikasi Pendekatan

Stochastic Production Frontier. Skripsi: Institut Pertanian

Bogor.

Wahyudi, I., & Hatta, M. (2009). Pengaruh Pemberian Pupuk

Kompos dan Urea terhadap Pertumbuhan Bibit Pinang

(Areca catethu L.). J-Floratek 4, 1-17.

Catatan Singkat

Usaha Pertanian

adalah kegiatan yang menghasilkan produk pertanian dengan

tujuan sebagian atau seluruh hasil produksi dijual/ditukar atas risiko

usaha (bukan buruh tani atau pekerja keluarga). Usaha pertanian

meliputi usaha tanaman pangan, hortikultura, perkebunan,

peternakan, perikanan, dan kehutanan, termasuk jasa pertanian.

Khusus tanaman pangan (padi dan palawija) meskipun tidak untuk

dijual (dikonsumsi sendiri) tetap dicakup sebagai usaha.

Rumah Tangga Usaha Pertanian

adalah rumah tangga yang salah satu atau lebih anggota rumah

tangganya mengelola usaha pertanian dengan tujuan sebagian

atau seluruh hasilnya untuk dijual, baik usaha pertanian milik

sendiri, secara bagi hasil, atau milik orang lain dengan menerima

upah, dalam hal ini termasuk jasa pertanian.

RTU Utama

adalah RTU yang mempunyai penghasilan terbesar dari seluruh

RTU yang ada di rumah tangga usaha pertanian. Lahan yang

Dikuasai adalah lahan milik sendiri ditambah lahan yang berasal

dari pihak lain, dikurangi lahan yang berada di pihak lain. Lahan

tersebut dapat berupa lahan sawah dan/atau lahan bukan sawah

(lahan pertanian) dan lahan bukan pertanian.

Catatan Singkat

adalah rumah tangga usaha pertanian yang melakukan satu

atau lebih kegiatan usaha tanaman padi, palawija,hortikultura,

perkebunan, kehutanan, peternakan, budidaya ikan/biota lain di

kolam air tawar/tambak air payau, dan penangkaran satwa liar.

Tanaman padi

terdiri dari padi sawah yang ditanam di sawah dan padi ladang

yang ditanam di ladang. Seiring dengan semakin berkembangnya

teknik budidaya, khususnya perbenihan, kini banyak varietas padi

sawah dengan sifat-sifat unggul, baik jenis hibrida maupun inbrida,

yang dibudidayakan RTU.

Padi hibrida

varietas padi sawah yang merupakan produk persilangan antara

dua tetua padi yang berbeda secara genetik. Apabila tetua-tetua

diseleksi secara tepat, maka hibrida turunannya akan memiliki

vigor dan daya hasil yang lebih tinggi daripada kedua tetua

tersebut.

Padi inbrida

varietas padi sawah selain padi hibrida disebut padi inbrida. Benih

padi yang diproduksi dari budidaya padi hibrida (turunan hibrida)

termasuk padi inbrida.

Jagung

Komposit: varietas jagung selain varietas hibrida disebut jagung

komposit (termasuk varietas lokal).

Jagung Hibrida

varietas jagung yang merupakan keturunan pertama dari

persilangan yang dihasilkan dengan mengatur penyerbukan dan

kombinasinya. Varietas jagung hibrida yang sudah dilepas antara

lain BISI-2, P-21, BISI-16, BISI-816, dan BIMA.

makanan dari Asia Timur seperti kecap, tahu, dan tempe.

Konsep puso

adalah jika hasil panen pada bidang kurang dari 11 persen produksi

normal dan tidak diidentifkasi per petak.

Nilai produksi ikutan

adalah hasil ikutan dari tanaman padi/palawija yang terpilih yang

mempunyai nilai ekonomis. Contoh hasil ikutan seperti jerami dan

daun ubi kayu.

Pupuk

adalah bahan yang diberikan pada tanah, air, atau daun dengan

tujuan untuk memperbaiki pertumbuhan tanaman baik secara

langsung maupun tidak langsung, atau menambah unsur hara.

Pupuk majemuk/campuran

adalah pupuk yang terdiri dari beberapa jenis pupuk tunggal

yang dicampur secara fisik saja. Jenis pupuk yang dicampur dapat

terdiri dari beberapa pupuk sesuai dengan kebutuhan. Contoh

pupuk campuran adalah pupuk yang mengandung perbandingan

8:8:8 yaitu pupuk ZA (20,6%N), Urea (46%N), Es (16%P2O5), KCl

(60%K2O) dengan jumlah 1 ton

Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)

adalah bahan yang digunakan untuk mengatur atau merangsang

pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman.

Pestisida

Catatan Singkat

yang digunakan untuk memberantas atau mencegah hama dan

penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil

pertanian.

Pestisida terdiri dari: akarisida, bakterisida, fungisida, herbisida,

insektisida, nematisida, rodentisida.

Pekerja dibayar

adalah mereka yang bekerja pada suatu kegiatan dengan

mendapat upah/gaji baik berupa uang maupun barang/makanan/

minuman.

Pekerja tidak dibayar

adalah mereka yang bekerja dengan tidak mendapat upah/gaji

baik berupa uang maupun barang

Termasuk pekerja tidak dibayar adalah:

a) RTU yang ikut mengerjakan/terlibat dalam mengelola

kegiatan pertaniannya.

b) Anggota rumah tangga dari orang yang dibantunya,

misalnya isteri dan anak.

c) Bukan sebagai anggota rumah tangga tetapi keluarga

dari orang yang dibantunya, misalnya keponakan, mertua

yang tidak dibayar.

d) Bukan sebagai anggota rumah tangga dan bukan keluarga

orang yang dibantunya, misalnya pembantu RT yang tidak

dibayar.

Hari Orang Kerja (HOK)

dalam Survei Rumah Tangga Usaha Tanaman Padi dan Palawija

tahun 2014, banyaknya pekerja yang digunakan pada setiap jenis

satu HOK bila jumlah jam kerjanya sebanyak 8 jam.

Upah pekerja atau upah buruh/karyawan

adalah semua upah yang seharusnya dibayarkan baik berupa uang

maupun barang/makanan/ minuman untuk pekerja yang dibayar.

Upah berupa barang/makanan/ minuman dinilai berdasarkan

harga pembelian atau harga setempat yang berlaku pada saat

digunakan. Termasuk disini upah/gaji dari anggota rumah tangga

yang bersangkutan bila anggota rumah tangga tersebut dibayar.

Bila rumah tangga tersebut menggunakan pekerja tidak dibayar,

maka upah pekerja tidak dibayar tersebut harus diperkirakan

nilainya sesuai upah pekerja dibayar di daerah tersebut.

Pengeluaran lainnya

terdiri dari pengeluaran sewa lahan, alat/sarana usaha, bunga

kredit/pinjaman untuk usaha, PBB lahan untuk usaha tanaman

padi/palawija (milik sendiri), retribusi dan pungutan/iuran lain,

premi asuransi usaha padi/palawija terpilih, penyusutan barang

modal, pengeluaran untuk BBM, dan lainnya (wadah dan lain-lain).

Sewa alat/sarana usaha

adalah biaya yang dikeluarkan untuk menyewa alat-alat/sarana

usaha mulai dari pengolahan lahan sampai dengan penanaman

dan pengangkutan hasil. Sewa alat misalnya: traktor/hand tracktor,

penyemprot hama, bajak, dan sebagainya.

Sewa lahan

Catatan Singkat

dalam waktu tertentu dari pihak lain, dimana besarnya sewa lahan

Sewa lahan bebas sewa

adalah lahan milik orang/pihak lain yang digunakan tanpa

membayar biaya sewa.

Perkiraan sewa lahan milik sendiri

adalah RTU yang menggarap lahan milik sendiri, maka nilai

sewanya harus diperkirakan.

Sewa alat/sarana usaha

adalah biaya yang dikeluarkan untuk menyewa alat-alat/sarana

usaha mulai dari pengolahan lahan sampai dengan penanaman

dan pengangkutan hasil. Sewa alat misalnya: traktor/hand tracktor,

penyemprot hama, bajak, dan sebagainya.

Alat/sarana usaha bebas sewa

adalah alat/sarana usaha milik orang/pihak lain yang digunakan

tanpa membayar biaya sewa.

Bunga kredit/pinjaman untuk usaha

adalah sejumlah uang yang harus dibayarkan yang biasanya

dihitung berdasarkan persentase tertentu dari uang yang dipinjam

dari pihak lain, baik perorangan maupun badan (bank, koperasi,

dan lainnya).

Produksi dalam kualitas standar

Produksi yang diisikan adalah produksi dalam kualitas standar

sesuai dengan jenis tanaman padi/palawija terpilih dalam kilogram.

Untuk tanaman padi produksi dalam kualitas standar GKP

(GKP=1,1625 x GKG)

Jagung dalam pipilan kering (pipilan kering=0,5673 x ontongan

basah)

Kedelai dalam biji kering (biji kering=0,3690 x polong kering

panen)

Nilai produksi ikutan

adalah hasil ikutan dari tanaman padi/palawija yang terpilih

yang mempunyai nilai ekonomis. Contoh hasil ikutan seperti

jerami dan daun

L

Uraian

Padi Sawah Padi Ladang Nilai (000 Rupiah) % Nilai (000 Rupiah) % (1) (2) (3) (4) (5) Produksi 17 184,96   10 249,77   1. Utama 17 146,63   10 148,25   2. Ikutan 38,33   101,52   Ongkos Produksi 12 677,27 100 7 821,78 100 1. Bibit/Benih 406,97 3,21 282,22 3,61 2. Pupuk 1 318,60 10,4 607,27 7,76 3. Pestisida 233,96 1,85 135,33 1,73

4. Upah Pekerja Dan Jasa Pertanian 6 114,71 48,23 4 877,35 62,36 a). Pengolahan Lahan 1 572,25 12,4 1 433,95 18,33 b). Penanaman dan Penyulaman 1 115,12 8,8 984,48 12,59 c). Pemeliharaan/Penyiangan 802,77 6,33 692,04 8,85 d). Pemupukan 289,98 2,29 176,8 2,26 e). Pengendalian Hama/OPT 294,28 2,32 146,18 1,87 f). Pemanenan, Perontokan, dan Pengangkutan Hasil 2 040,31 16,09 1 443,90 18,46

5. Lahan 3 785,42 29,86 1 387,49 17,74

a). Sewa 745,21 5,88 82,91 1,06

b). Perkiraan Sewa Lahan yang Bebas Sewa 322,95 2,55 264,03 3,38 c). Perkiraan Sewa Lahan Milik Sendiri 2 717,25 21,43 1 040,55 13,3 6. Alat/Sarana Usaha 328,92 2,59 175,3 2,24

a). Sewa 186,46 1,47 43,95 0,56

b). Perkiraan Sewa Alat/Sarana yang Bebas Sewa 25,33 0,2 10,37 0,13 c). Perkiraan Sewa Alat/Sarana Milik Sendiri 117,13 0,92 120,98 1,55 7. Bunga Kredit/Pinjaman Untuk Usaha 43,41 0,34 26,11 0,33 a). Bunga Kredit/Pinjaman Bunga 31 0,24 17,41 0,22 b). Perkiraan Bunga Kredit/Pinjaman Tanpa Bunga 12,41 0,1 8,69 0,11 8. Pajak Tak Langsung (PBB Lahan Untuk Usaha Tani (Milik

Sendiri), dll 77,87 0,61 46,82 0,6

9. Retribusi Dan Pungutan Lain 67,02 0,53 9,16 0,12 10. Premi Asuransi Usaha Padi Terpilih 0,19 - 0,21 11. Penyusutan Barang Modal 66,02 0,52 55,4 0,71 12. Bahan Bakar Minyak (BBM) Khusus untuk Usaha Padi Terpilih 86,48 0,68 70,99 0,91 13. Lainnya (Wadah, dll) 147,71 1,17 148,12 1,89 Sumber: ST2013-SPD, diolah

Lampiran

Lampiran 2. Nilai Produksi dan Biaya Produksi per Musim Tanam Hektar Budidaya Tanaman Padi Sawah Menurut Musim, 2014

Uraian

Musim Hujan Musim Kemarau Nilai

(000 Rupiah) % (000 Rupiah)Nilai % (1) (2) (3) (4) (5) Produksi 17 168,60   17 203,95   1. Utama 17 133,20   17 162,21   2. Ikutan 35,4   41,73   Ongkos Produksi 12 690,88 100 12 661,47 100 1. Bibit/Benih 426,19 3,36 384,67 3,04 2. Pupuk 1 445,01 11,39 1 171,87 9,26 3. Pestisida 234,54 1,85 233,28 1,84

4. Upah Pekerja Dan Jasa Pertanian 6 031,74 47,53 6 211,00 49,05 a). Pengolahan Lahan 1 592,15 12,55 1 549,15 12,24 b). Penanaman dan Penyulaman 1 115,99 8,79 1 114,12 8,8 c). Pemeliharaan/Penyiangan 751,45 5,92 862,35 6,81 d). Pemupukan 288,48 2,27 291,72 2,3 e). Pengendalian Hama/OPT 287,59 2,27 302,05 2,39 f). Pemanenan, Perontokan, dan Pengangkutan Hasil 1 996,10 15,73 2 091,63 16,52

5. Lahan 3 739,86 29,47 3 838,30 30,31

a). Sewa 735,02 5,79 757,04 5,98

b). Perkiraan Sewa Lahan yang Bebas Sewa 322,76 2,54 323,17 2,55 c). Perkiraan Sewa Lahan Milik Sendiri 2 682,07 21,13 2 758,09 21,78 6. Alat/Sarana Usaha 325,3 2,56 333,11 2,63

a). Sewa 182,54 1,44 191,01 1,51

b). Perkiraan Sewa Alat/Sarana yang Bebas Sewa 27,13 0,21 23,23 0,18 c). Perkiraan Sewa Alat/Sarana Milik Sendiri 115,63 0,91 118,87 0,94 7. Bunga Kredit/Pinjaman Untuk Usaha 44,67 0,35 41,95 0,33 a). Bunga Kredit/Pinjaman Bunga 32,08 0,25 29,75 0,23 b). Perkiraan Bunga Kredit/Pinjaman Tanpa Bunga 12,59 0,1 12,2 0,1 8. Pajak Tak Langsung (PBB Lahan Untuk Usaha Tani (Milik

Sendiri), dll 78,99 0,62 76,57 0,6

9. Retribusi Dan Pungutan Lain 63,71 0,5 70,87 0,56 10. Premi Asuransi Usaha Padi Terpilih 0,15 - 0,23 11. Penyusutan Barang Modal 66,9 0,53 64,99 0,51 12. Bahan Bakar Minyak (BBM) Khusus untuk Usaha Padi

Uraian

Musim Hujan Musim Kemarau Nilai (000 Rupiah) % Nilai (000 Rupiah) % (1) (2) (3) (4) (5) Produksi 10 680,13   9 424,96   1. Utama 10 562,07   9 355,14   2. Ikutan 118,06   69,82   Ongkos Produksi 8 070,45 100 7 345,19 100 1. Bibit/Benih 301,27 3,73 245,71 3,35