• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. Berperan serta dalam seminar/lokakarya d

4.8. Implikasi Manajerial

Jabatan Fungsional Pemeriksa BPK disusun sesuai dengan perkembangan profesi dan tuntutan kompetensi Pemeriksa di lingkungan BPK saat ini. Segala kegiatan pembinaan karir pemeriksa diatur dalam jabatan fungsional ini. Salah satunya adalah penyelenggaraan sertifikasi peran. Penyelenggaran sertifikasi peran dalam jabatan fungsional pemeriksa ini menggunakan standar kompetensi, baik standar kompetensi perilaku maupun teknis pemeriksa, sebagai kriteria penilaian. Sistem manajemen

terpadu Sumber Daya Manusia yang tertuang dalam Human Resources

Management Plan BPK (HRM Plan) terdiri atas beberapa subsistem. Salah satunya adalah sub sistem manajemen sumber daya manusia berbasis kompetensi. Sub sistem ini menggunakan kompetensi sebagai prinsip kerja utama karena kompetensi adalah serangkaian kemampuan yang terintegrasi terdiri atas pengetahuan, keterampilan, serta sikap atau perilaku yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan dengan efektif. Model kompetensi atau Standar Kompetensi adalah perangkat utama yang harus dibangun agar sub sistem manajemen sumber daya manusia berbasis kompetensi dapat bekerja dengan optimal.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap auditor BPK, dinyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara usia dengan kompetensi, usia dengan kinerja, pendidikan dengan kompetensi, pendidikan dengan kinerja, lama kerja dengan kompetensi, lama kerja dengan kinerja dan kompetensi dengan kinerja. Hal ini diperkuat dengan nilai signifikan yang dihasilkan dalam masing-masing perhitungan. Hal ini akan menjadi rekomendasi bagi perusahaan dalam mengembangkan kompetensi karyawan untuk meningkatkan kinerja.

Hasil analisis persepsi skor rataan menunjukkan kondisi kompetensi yang baik, yang artinya, auditor BPK telah memenuhi standar kompetensi yang ada di BPK dalam melakukan pemeriksaan. Kompetensi yang baik tersebut dikarenakan dalam menempatkan pegawai dalam posisi auditor, para pegawai harus memiliki pengetahuan khusus dibidang pemeriksaan, jika pegawai tidak memiliki pengetahuan tersebut, mereka tidak akan

ditempatkan dalam posisi tersebut. Kompetensi yang baik tersebut perlu ditingkatkan agar mencapai kondisi yang sangat baik. BPK dapat meningkatkan kompetensi yang dimiliki oleh auditor dengan cara memberikan program pendidikan dan pelatihan bagi auditor yang masih dianggap kurang kompetensinya atau memberikan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan yang berhubungan dengan tugas pemeriksaan dan penilaian kompetensi auditor sebaiknya memasukkan unsur-unsur seperti konsep diri, watak dan motif yang memang cukup sulit dikembangkan, namun dapat melalui peran psikolog dengan tes atau wawancara untuk mengetahui konsep diri, watak dan motif auditor.

Kondisi kinerja yang menyatakan kondisi yang cukup baik, bukan berarti para auditor masih belum baik dalam melaksanakan pemeriksaan, hal tersebut karena faktor dari penilaian itu sendiri yang menilai kinerja di luar dari kegiatan pemeriksaan yang masih belum bisa dilakukan auditor karena keterbatasan waktu yang mereka miliki. Selain itu, sistem penilaian kinerja yang baru untuk auditor juga masih berupa Daftar Usulan Angka Kredit yang belum disosialisasikan sehingga menimbulkan kesulitan untuk para auditor dalam melakukan pengisiannya. Terdapat panduan dalam pengisian angka kredit tersebut, namun para auditor belum mengetahui mengenai teknis pengisian dan penilaiannya. Sebaiknya panduan tersebut dapat dibuat lebih sederhana, perlunya sosialisasi cara pengisian agar auditor mendapatkan panduan yang lebih mudah dipahami dan mereka dapat bertanya secara langsung, atau dengan adanya pelatihan cara pengsian pengajuan angka kredit.

Salah satu hal penting yang perlu dikembangkan lebih lanjut dalam upaya peningkatan kinerja dan akutabilitas sektor publik adalah meningkatkan kemampuan setiap instansi pemerintah dalam melakukan fungsi-fungsi manajemen dalam penyelenggaraan negara dan pembangunan bangsa (Moeheriono, 2007). Penataan sistem dan proses manajemen diperlukan untuk mewujudkan pemerintahan berkinerja tinggi. Kunci kesuksesan dalam hal ini terletak pada manajemen kinerja, yang sejauh ini belum banyak dilakukan dan sudah bertahun-tahun berada pada posisi yang

selalu berfokus pada output oriented, menerapkan manajemen kinerja yang

beorientasi pada outcome oriented sehingga apa yang dihasilkan oleh

mereka melalui proes manajemen benar-benar efisien dan efektif serta ekonomis. BPK tidak hanya mampu menunjukan kinerja saja, tetapi juga mampu menunjukan akuntabilitasnya. Dengan adanya sistem pengukuran kinerja yang baik, diharapkan BPK dapat meningkatkan hasil kerjanya dan meningkatkan nilai-nilai perbaikan pelayanan publik serta dapat memperbaiki akuntabilitas pemerintahan.

Usia, lama kerja dan pendidikan yang memiliki hubungan positif dengan kompetensi dan kinerja, sangat perlu dipertahankan dan dikembangkan. Usia dan lama kerja yang lebih pula, auditor lebih memiliki pengetahuan dan keterampilan dari pengalaman yang sudah mereka dapatkan dalam melakukan pemeriksaan. Untuk itu, sebaiknya BPK mempertahankan pegawai tersebut tetap diposisinya dan mengadakan kegiatan bimbingan bagi pegawai yang masih muda untuk diberikan pengetahuan lebih dari senior. Pendidikan yang semakin tinggi, semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki auditor. Sebaiknya BPK memberikan sarana dan prasarana untuk para auditor agar mereka terus melanjutkan pendidikannya seperti memberikan pelatihan, mengadakan seminar dan juga pendidikan ke jenjang yang selanjutnya untuk mendukung pekerjaan mereka dalam melakukan audit.

74 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Kompetensi yang dimiliki oleh Auditor BPK dikatakan baik. Hal ini berarti dalam menempati posisi sebagai auditor di BPK, diperlukan keterampilan dan keahlian tertentu yang sesuai dengan tugas auditnya, jika terdapat pegawai yang tidak memiliki keahlian dan keterampilan yang sesuai di bidang audit, mereka tidak akan ditempatkan pada posisi tersebut.

2. Kinerja yang dihasilkan oleh auditor BPK cukup baik. Hasil tersebut hanya menyatakan kondisi cukup baik dikarenakan terdapat beberapa kegiatan dalam penilaian kinerja yang jarang atau bahkan tidak pernah dilakukan oleh auditor, karena mereka tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan pekerjaan selain dalam hal audit dan untuk beberapa orang belum memiliki kemampuan yang sesuai dalam melakukan pekerjaan tersebut.

3. Terdapat hubungan yang positif antara usia auditor dengan kompetensi dan usia dengan kinerja. Hal ini karena usia mempengaruhi seseorang dalam berfikir dan mengambil keputusan, semakin bertambah usia seseorang maka akan lebih banyak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang didapatkan berdasarkan pengalamannya. Tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kompetensi dan kinerja auditor. Hal ini dikarenakan, setiap masing- masing individu memiliki kemampuan dan hasil kerja yang beragam bukan berdasarkan jenis kelamin.

4. Terdapat hubungan positif antara lama kerja dengan kompetensi, lama kerja dengan kinerja, pendidikan dengan kompetensi dan pendidikan dengan kinerja. Faktor lama kerja dalam bidang audit mampu mempengaruhi orang dalam mengetahui yang harus mereka lakukan dan mereka akan lebih banyak belajar dari pengalaman kerjanya. Semakin tinggi tingkat pendidikan dari seorang auditor, akan semakin baik kompetensi yang dimiliki dan semakin baik kinerja yang dihasilkan.

  5. Terdapat hubungan positif yang sangat lemah antara kompetensi dengan

kinerja auditor, hal ini bisa terjadi karena kompetensi memiliki unsur-unsur yang mampu untuk meningkatkan kinerja Auditor dalam menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi kewajibannya dalam melakukan pemeriksaan.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diberikan beberapa saran, antara lain:

1. Penilaian kompetensi auditor sebaiknya memasukkan unsur-unsur seperti konsep diri, watak dan motif yang memang cukup sulit dikembangkan, namun dapat menggunakan peran dari psikolog dengan tes atau wawancara untuk mendapatkan penilaian mengenai konsep diri, watak dan motif auditor . 2. Sebagian besar audtor BPK masih belum mengerti mengenai teknis dalam

pengisian formulir angka kredit untuk penilaian kinerja mereka auditor BPK, sebaiknya BPK mengadakan sosialisasi dalam teknis pengisian angka kredit dengan cara memberikan pelatihan atau memberikan konsultasi bagi para auditor dalam melakukan pengisian angka kredit tersebut.

3. Masih terdapat beberapa auditor BPK yang masih memiliki hasil kinerja yang buruk karena kurangnya waktu bagi mereka untuk memperdalam kemampuan dan keahliannya dalam kegiatan penunjang penilaian kinerja. BPK sebaiknya memberikan waktu dan sarana bagi para auditor muda untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka dan mengadakan program bimbingan dari para auditor yang lebih senior kepada juniornya.

4. Pada penelitian selanjutnya, dapat dilakukan dengan mengganti variabel kompetensi atau menambahkan variabel yang mampu mempengaruhi kinerja seperti kompensasi, promosi jabatan atau faktor komunikasi vertikal maupun horizontal. Hasilnya dapat menjadi perbandingan dalam pengujian untuk mengetahui variabel lain selain kompetensi yang berhubungan dengan kinerja.

5. Penelitian ini hanya dilakukan di BPK pusat yaitu di Jakarta. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan lebih luas yaitu sampai ke BPK perwakilan yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.

Dokumen terkait