• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Regulasi WTO terhadap Pertanian dan Pasar Tradisional

Dalam dokumen Desa Cosmopolitan Globalisasi dan Masa D (Halaman 80-88)

AKTOR-AKTOR GLOBAL DIBALIK PEMBANGUNAN DESA II.1 Desa Sebagai Penopang Imperium Amerika

II.6 Implikasi Regulasi WTO terhadap Pertanian dan Pasar Tradisional

WTO dibentuk pada tahun 1995 sebagai hasil dari perundingan GATT yang acapkali disebut Putaran Uruguay (Uruguay Round). Negara anggota WTO hingga kini berjumlah 134 negara anggota, dan 33 negara pengamat. Mekanisme pengambilan keputusan di WTO dibuat dengan cara pemungutan suara (voting) atau konsensus yang mana setiap negara memiliki jatah setara satu suara. WTO adalah institusi internasional yang bertugas menjalankan seperangkat aturan pedagangan seperti, antara lain, General Agreement on Tariffs and Trade (GATT =Perjanjian Bea-masuk dan Perdagangan), dan juga General Agreement on Trade in Services (GATS= Perjanjian Perdagangan Jasa).

Banyak pihak optimis mekanisme WTO akan lebih menguntungkan negara berkembang seperti Indonesia tidak seperti IMF yang terkenal dengan prinsipnya

one dollar one vote. Namun realitanya acapkali negara-negara maju Amerika, Jepang, dan Uni Eropa mengeluarkan keputusan kolektif sepihak dalam

pertemuan tertutup, tanpa mengikutsertakan anggota WTO lainnya. Inilah fakta yang menunjukkan adanya wajah ganda dalam WTO. Disatu sisi WTO

mengutamakan proses musyawarah, namun ternyata dibalik musyawarah telah terdapat rezim aturan-aturan yang tidak boleh diganggu gugat. Padahal

kebanyakan aturan WTO banyak ditentang negara berkembang, semisal dalam

Trade Related Intellectual Property Rights atau yang berhubungan dengaan Hak Atas Kekayaan Intelektual (TRIPs). Jika dahulu pengetahuan adalah barang yang sifatnya tidak terbatas, kini melalui Trips maka pengetahuan menjadi barang langka. Atas nama hak asasi manusia (HAM), WTO menjadikan informasi sebagai komoditas yang mahal.126

Selain itu, bagaimana isu Trips (trade in relation in intellectual property right) yang dimanifestasikan dalam konferensi WTO menjadi bukti bagaimana pengetahuan menjadi mahal”. Jika dahulu pengetahuan dan informasi adalah barang yang sifatnya tidak terbatas, kini melalui Trips maka pengetahuan menjadi komoditas sangat langka dan mahal. Dalam diskursus Trips yang sedang booming

dalam WTO, maka setiap transaksi yang berkaitan dengan hak paten, maka harus ada kompensasi yang dibayarkan yang tentu saja akan menguntungkan negara maju yang memiliki teknologi kelas tinggi. Oleh karena itulah setiap negara berkembang cenderung antipati dalam perjanjain Trips karena negara berkembang harus memgeluarkan biaya besar ketika hendak mengakses teknologi dari negara pemilik hak paten.127

Implikasinya langsung ke Desa, dimana Hukum kekayaan intelektual (Trips) memberikan perusahaan multinasional hak eksklusif atas benih, psetisida dan pengairan. Selain itu, Hak Paten sebagaimana yang dianjurkan Trips WTO tentunya berdampak langsung pada kehidupan desa karena dengan demikian pertanian harus disesuaikan dengan standar internasional. Implikasinya maka sekitar 82% dari pasar benih komersial di seluruh dunia yang terdiri dari biji dipatenkan tunduk pada monopoli eksklusif seperti properti intelektual Industri benih yang berhubungan erat dengan pestisida. Perusahaan benih multinasional secara langsung mendominasi sektor pestisida. Bahkan lebih tinggi monopoli industri pestisida karena sepuluh perusahaan terbesar mengontrol sebesar 84

126 Elliot, Philip. (2001). Intellectuals, The ‘Information Society’ and The Disappearance of The Public Sphere dari Media, Culture and Society, Schlesinger, P. dan Sparks, C. (ed.) Academic Press, London, Vol.4, No.3, pp.244-6. 2009.

127 Eckersly, John. R . Environmentalism and Political Theory: Toward an Ecocentric Approach. London: UCL Press, 1992

persen dari pasar pestisida global. Dengan seringnya pengembangan dan pemasaran kedua produk ini dilakukan bersama-sama.

Pintu kedaulatan negara seringkali cukup longgar untuk ditembus MNC. Seringkali merger dan akuisisi perusahaan lokal oleh MNC merupakan taktik untuk mengelabui regulasi domestik dan kedaulatan suatu negara. Semisal, pada tahun 2007, perusahaan benih terbesar di dunia dan perusahaan kimia terbesar, Monsanto dan BASF, melakukan perjanjian kerjasama dalam penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan kinerja dan toleransi terhadap kekeringan jagung, kapas, dan kedelai di Amerika Latin. Dengan demikian, maka Perjanjian TRIPs dalam WTO memberikan hak eksklusif kepada perusahaan multinasional (MNC) untuk menikmati semua manfaat pasar oligopoli tanpa batasan anti- monopoli.

Tabel 2.6. Nilai Penjualan Bibit dan Pupuk ( dalam US$ millions)

No Nama Perusahaan/Negara Nilai Penjualan

1 PotashCorp (Canada) 1,104

2 Yara(Norway) 1,027

3 Mosaic (USA) 944 (Cargill has 55%

stake)

4 Israel Chemicals Ltd. (Israel) 461

5 Agrium (Canada) 441

6 K+S Group (Germany) 303

7 Sociedad Quimica y Minera (Chile) 165

Source: World Social Forum, 2012.

Selain problem hak paten pertanian, WTO juga memainkan isu tentang pemanasan global dalam masalah kehutanan. Didalam perjanjian Clean

ternyata ada yang diuntungkan dan ada pula yang dirugikan. Fakta mencatat, bahwa dalam perjanjian CDM, terdapat klausul-klausul yang mengharuskan negara Annek II untuk membeli teknologi hijau (green technology) dari negara annek I karena teknologi negara berkembang yang diasumsikan tidak ramah lingkungan. Yang menjadi masalah adalah teknologi hijau tersebut membuat negara Annek II mengalami kerugian. Jika memang masalah pemanasan global merupakan tanggung jawab bersama, seharusnya teknologi tersebut dijual ke negara Annek II dengan harga yang tidak memberatkan. Apalagi dalam peraturan WTO berupa standar kesehataan produk yakni Sanitary and Pitosanitary (SPS), maka harga green technology tersebut akan semakin mahal. 128

Tidak cukup berkaitan dengan pertanian dan kehutanan saja. Kini sektor perdagangan pasar tradisional juga harus mendapat dampaknya. Liberalisasi sektor retail yang menuai problem tersebut diyakini merupakan rekomendasi lembaga finansial internasional WTO. Meskipun sesuai aturan WTO mengenai usaha ritel, sebenarnya masih diperbolehkan untuk ditutup dari investasi asing. Namun, Penandatanganan Letter Of Intent (LOI) IMF pada 15 Januari tahun 1998 secara tidak langsung telah menandai era liberalisasi sektor ritel yang memberi keleluasaan masuknya peritel asing kawakan berinvestasi ke Indonesia, terutama untuk segmen hypermarket dan minimarket.

“The Indonesian government in January 15, 1998 signed a letter of intent with the IMF stating that the Indonesian government should revoke the ban on foreign investors to enter the wholesale and retail businesses “.129

Bisnis retail merupakan bidang usaha yang tengah berkembang pesat dan signifikan dalam perekonomian Indonesia. Industri retail jugalah yang diyakini menjadi daya dorong pemulihan pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca krisis finansial tahun 1997 dan 2008. Potensi pasar retail Indonesia tergolong cukup besar karena Industri ritel ternyata memiliki kontribusi terbesar kedua terhadap pembentukan Gross Domestic Product (GDP) setelah industri pengolahan. GDP

128 CDM adalah mekanisme dibawah Kyoto Protocol/UNFCCC dimaksudkan untuk membantu negara maju/industri memenuhi sebagian kewajibannya menurunkan emisidan kontribusi terhadap pencapaian tujuan konvensi perubahan iklim. Lebih lanjut pada

<http://www.theredddesk.org,/id/redd-book /government/australia>, diakses 12 desember 2010.

129 Pembentukan Harga Produk Industri melalui Structure-Conduct Performance Model. diakses pada www.bi.go.id/NR/rdonlyres/66FF46B3.../cdampakliberalisasi pada 20 Januari 2011 pk 22.08.

Indonesia yang banyak ditopang oleh pola konsumsi masyarakatnya jika ditelusuri, ternyata memiliki hubungan erat dengan industri ritel. Di Indonesia, Industri ritel dapat dikategorikan menjadi industri yang merupakan hajat hidup masyarakat banyak karena sekitar sepuluh persen dari total penduduk Indonesia menggantungkan hidupnya dengan berdagang. Selain itu, Industri ritel juga menempatkan diri sebagai industri kedua tertinggi dalam penyerapan tenaga kerja di Indonesia setelah industri pertanian. 130

Potensi Indonesia yang signifikan dalam sektor retail tersebut menarik perhatian para investor luar negeri untuk membuka bisnis retail di Indonesia. Masuknya beberapa retail modern dan peritel asing mengakibatkan kompetisi dalam industri ritel di Indonesia menjadi semakin ketat. Berkembangnya ritel modern tersebut di satu sisi memberi peluang bagi pemasok untuk memasarkan produknya ke dalam jaringan ritel modern. Namun di sisi lain terjadi persaingan yang semakin ketat antar pemasok untuk merebut akses jaringan ritel besar. Kehadiran supermarket asing seperti telah menciptakan jurang tajam dengan ritel modern lokal dan pasar tradisional. Kondisi yang tentunya akan berdampak pada tersisihnya pasar tradisional pedesaan.131

Padahal Indonesia sejak tahun 1969 sudah menutup pintu bagi retail asing guna melindungi retail kecil. Dengan demikian, maka Indonesia sejak tahun 2000 secara resmi mengeluarkan bisnis ritel dari daftar terlarang (negative list)

penanaman modal asing (PMA). Namun pada tahun 2007 Pemerintah Indonesia mengeluarkan Perpres No. 112 Tahun 2007 yang mengatur ritel tradisional dan ritel modern khususnya yang terkait dengan wilayah (zoning). Dalam ketentuan zoning berupaya untukyang membatasi pembangunan pasar modern dan mereduksi dampaknya terhadap pasar tradisional. Dalam ketentuan tersebut dibahas pula mengenai jam buka, perizinan sampai dengan masalah trading term 130 Dengan karakteristik industri ritel yang tidak membutuhkan keahlian khusus serta

pendidikan tinggi untuk menekuninya, maka banyak rakyat Indonesia terutama yang tergolong dalam kategori UKM masuk dalam industri ritel ini. Lebih lanjut pada Tulus, Tambunan, Nirmalawati, Dyah, & Arus Silondae, “Kajian persaingan retail di Indonesia”, diakses dari

http://www.kadin-indonesia.or.id/enm/dokumen/KADIN-98-2832-09052008.pdf pada 20 Januari 2004. Pk 13.56.

131 Siti Astiyah, Akhis R. Hutabarat, Desthy V.B. Sianipar. “Dampak Liberalisasi Perdagangan terhadap Perilaku melalui Structur Conduct Performance Model”. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, edisi Maret 2005.

yang sangat meresahkan pemasok pasar modern. Permasalahan yang terjadi adalah sejauh mana aturan tersebut efektif diterapkan dan berdampak bagi pelaku usaha ritel. Tidak hanya itu, pemerintah mengeluarkan aturan pendukung dalam Perpres 112 tahun 2007 dimana dalam Bab III pasal 8 diatur hubungan antara pemasok dengan toko modern. KPPU melalui positioning paprenya yang berjudul “Rancangan peraturan presiden tentang penataan dan pembinaan usaha pasar modern dan usaha toko modern” menyebutkan perlunya upaya pemerintah untuk melindungi lokasi yang dimiliki retail kecil. 132

Selain WTO dan IMF, dalam perjalannya Bank dunia juga terlibat dalam upaya untuk meningkatkan penetrasi modal asing dalam sektor retail melalui mekanisme hutang development policy loan edisi keempat. SME (small medium enterproses) policy package adalah rekomendasi yang ditawarkan oleh skema pinjaman Bank Dunia development policy loan. Ironinya perintah Bank Dunia tersebut didukung pemerintah setelah dikeluarkanya Inpres No. 61 tahun 2007tentang UKM. Dalam peraturan mengenai UKM diatur mengenai ruang lingkup UKM secara komprehensif sebagaimana yang diatur melalui perpres 112 tahun 2007. Selain itu, Bank Dunia juga menganjurkan pemerintah Indonesia supaya merestrukturisasi daftar negatif investasi (DNI) yang didalamnya salah satunya termasuk industri retail. 133

Dalam upaya pembinaan dan pengembangan usaha kecil, maka telah diberlakukan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang salah satu pasal di dalamnya mengatur kemitraan usaha. Undang-undang tersebut berfungsi sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil. Selanjutnya legalisasi terhadap investor asing oleh Perpres nomor 99 tahun 1998 dan surat keputusan no.29/SK/1998. Peraturan tersebut menggarisbawahi perlu adanya syarat dan lisensi produk yang sama antara retail luar negeri dan domestik. Namun, Undang–Undang sebagaimana yang telah dijelaskan diatas belum sepenuhnya melindungi peritel kecil. Terlebih

132 Tulus, Tambunan, Nirmalawati, Dyah, & Arus Silondae, “Kajian Persaingan Retail di Indonesia” Komisi Pengawas Persaingan Usaha. (2004)., diakses dari

http://www.kemendag.go.id/addon/kajian_balitbang/file/0220080001.pdf, 15 Januari 2013 Pk.23.23.

133 Hadi Syamsul, Kudeta Putih. Pelembagaan Kepentingan Asing dalam Ekonomi Indonesia; Jakarta: AEPI, 2013.

lagi, saat ini hanya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 yang mengatur tentang aturan persaingan usaha. Hingga sekarang, Undang-undang yang secara khusus mengatur bisnis retail secara spesifik belumlah ada. 134

Berdasarkan payung hukum yang berlaku tersebut, Depperindag tidak mempunyai kewenangan membatasi masuknya ritel asing. Tak adanya

kewenangan Depperindag juga dikaitkan dengan Undang Undang No 22 tahun 1999 dan UU No 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara

Pemerintah Pusat dan Daerah Otonomi Derah. Dengan pengertian lain, kewenangan pemberian izin usaha ritel sepenuhnya ada di pemerintah daerah, termasuk dalam pengaturan jarak usaha ritel. Tanpa adanya peraturan yang jelas, maka retail modern secara ekspansif mengembangkan jaringan di ibukota provinsi atau kabupaten. Industri retail modern bermodal besar memiliki kekuatan

dominan dalam menguasai sumber pasokan barang sehingga harga barang dapat dikontrol dan ekpektasi konsumen terhadap ritel modern semakin meningkat.

Terlebih lagi, bahwa peritel MNC diuntungkan dengan tiadanya peraturan tentang pembagian area untuk pembangunan outlet ritel. Sebagai hasilnya, peritel asing yang memiliki struktur modal kuat mampu menancapkan outletnya di tempat-tempat strategis. Padahal seperti kita tahu, strategi dasar dalam industri ritel adalah lokasi. Meskipun dalam aturan Permendag No. 53 Tahun 2008 lebih rinci lagi diatur mengenai masalah zoning serta trading term 135Sekalipun ternyata

masih sering terjadi pelanggaran terhadap ketentuan tersebut. Dalam kondisi seperti inilah, maka pemerintahan daerah memiliki kewenangan yang sangat krusial dalam memberikan izin retail.

Ditengarai oleh semakin maraknya kasus hukum antara peretail besar dan kecil, maka KPPU berencana mengusulkan revisi terhadap UU No 5 Tahun 1999. Revisi atas UU No 5 Tahun 1999 diharapkan dapat memperjelas kewenangan serta kelembagaan KPPU dalam menengahi persoalan pasar tradisional. Selain itu, KPPU berharap revisi undang-undang juga dapat memperjelas sejumlah pasal

134 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 tahun 2007 tentang Penataan dan pembinaan pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern. diakses dari

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4ed4b0334cdb4/, pada 1 Februari 2012. Pk 12.20.

135 Erlinda Muslim1 dan Glory Teresa Febriana. 2007., “Aliran Persaingan Hypermarket dengan Struktur Conduct prformance”. Diakses pada www.depdagri.go.id/produkhukum/1006/6778787 pada 28 januari 2012 pk. 12.45.

dalam UU No 5 Tahun 1999 seperti ketentuan pidana dan tata cara

pelaksanaannya. Seharusnya KPPU diberi kewenangan penyitaan dan upaya paksa dalam penanganan perkara. Hal tersebut karena dalam Undang Undang nomor 5 tahun 1999 masih Banyak kekurangan dan kelemahan sehingga membuat KPU sulit untuk bertindak, terutama mengenai hak sita dan hak paksa. Guna

merealisasikan hal tersebut, KPPU sementara hanya diberikan wewenang untuk menyiapkan naskah akademis dan lainnya terkait revisi Undang Undang No.5 Tahun 1999, namun keputusan tetap ada ditangan legislatif. 136

Kehadiran WTO yang hendak mempersatukan perdagangan dunia adalah hal utopis. Sebagai contoh sederhana, beberapa negara yang tergabung dalam forum ekonomi yang relatif lebih longgar, sebut saja Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) saja kurang berhasil memperjuangkan kepentingan negara- negara berkembang meskipun didirikan lebih dari satu dekade. Maka dari itu, dalam WTO muncul beberapa Grup-Grup semisal G-7, G-77 dan yang terbaru adalah G-20 dimana Indonesia masuk dialamnya. Namun, negara-negara yang tergabung dalam G-20 merupakan kumpulan negara yang terdiri atas kekuatan diplomatik yang tidak seimbang dimana ada AS dan Russia. Di sisi lain,, negara berkembang yang menjadi wakil dalam forum G-20 hanyalah India dan Indonesia saja. Jika dievaluasi secara kritis, sejak tahun 1999 berdiri, G-20 hanya terfokus pada isu-isu makroekonomi.

Besarnya pendanaan yang digelontorkan oleh lembaga Bank dunia serta Bank Pembangunan Asia tersebut merupakan cara untuk investor kelas dunia masuk kedalam desa-desa. Pembangunan mayarakat desa yang menjadi dalih pembangunan dalam setiap proyek tidak didukung dengan produk domestik yang bisa dikonsumsi masyarakat desa. Alhasil, pembangunan infrastruktur seperti jalan, dan jembatan hanya menjadi syarat untuk mempermudah MNC untuk membangun industri di pedesaan, atau untuk sekedar memasok produk agar masuk ke segmen desa. Sedangakan pembangunan infrastruktur sekolah hanya dimaksudkan untuk memperoleh SDM yang cukup handal namun tidak terlampau

136 Komisi Persaingan Usaha. 2004. “Positioning paper Rancangan peraturan presiden tentang penataan dan pembinaan usaha pasar modern dan usaha toko modern”. Diakses dalam

http://www.kppu.go.id/docs/Positioning_Paper/positioning_paper_ritel.pdf, pada 20 januari 2012, pada 4 Juli 2013, Pk. 14.45.

pintar. Kita dapat melihat gejala tersebut dengan tidak adanya pembangunan Universitas/ sekolah tinggi di daerah apalagi di pedesaan. Pembangunan infrastruktur pendidikan desa hanya sebatas sampai SMK.

Wajar Kiranya jika dalam WTO, agenda perekonomian pro desa, seperti pertanian dan pasar tradisional tidak pernah dituntas diajukan oleh negara negara anggotanya. Karena WTO tak lain merupakan bagian dari Bank Dunia dan Bank pembangunan Asia. Tiga serangkai tersebut menjalankan fungsinya masing masing untuk menciptakan askes bagi korporasi untuk masuk kedalam desa. Bank dunia memberikan pinjaman untuk pemberdayaan lingkungan dan corporate social responsibility. Lalu ADB membiayai infrastruktur supaya MNC dapat masuk ke desa. Dan Yang terakhir dan terkrusial adalah WTO yang memberikan rezim aturan liberalisasi perdagangan. Serangkaian fakta tersebut menunjukkan banyak sekali pintu masuk yang halus bagi kekuatan eksternal untuk menguras potensi desa Indonesia.

BAB III

DESA MENJAWAB TANTANGAN GLOBALISASI

Dalam dokumen Desa Cosmopolitan Globalisasi dan Masa D (Halaman 80-88)