• Tidak ada hasil yang ditemukan

Independensi finansial berhubungan dengan penetapan anggaran lembaga pengawas, dalam hal ini lembaga pengawas memliki kebebasan dan kemandirian dalam pengelolaan serta penggunaan keuntungan yang diperolehnya. Diperlukan adanya kemadirian keuangan pada lembaga pengawas karena bila dalam masalah keuangan terdapat kontrol dari Pemerintah, lembaga pengawas nantinya tidak dapat memainkan peran independensinya secara optimal. Kemandirian ini mengacu pada peranan Pemerintah dan/atau parlemen (DPR) terhadap anggaran lembaga pengawas. Dalam hal ini, apabila terdapat kontrol oleh Pemerintah atas anggaran lembaga pengawas, maka lembaga pengawas tersebut akan rentan terhadap tekanan politik (M. Dawam Rahardjo, 2000:76).

Untuk menjalankan fungsi dan perannya, OJK memerlukan sumber dana yang salah satunya diperuntukkan bagi pembayaran imbalan pengelola dan tenaga kerjanya. Di negara-negara di mana

commit to user

OJK sudah beroperasi, umumnya sumber dana diperoleh dari iuran lembaga-lembaga keuangan di bawah pengawasan OJK, dengan catatan sebatas untuk menutup anggaran yang telah direncanakan oleh OJK dan tanpa keuntungan. Kebutuhan dana akan menjadi lebih besar jika OJK juga menjalankan peran sebagai lender of the last resort terhadap bank-bank (dan mungkin juga lembaga keuangan nonbank) yang mengidap problem likuiditas yang akut sebagaimana sudah dijalankan oleh BI tempo dulu. Melihat kondisi obyektif industri keuangan nasional saat ini, khususnya perbankan nasional yang tengah recover, rasanya tidak mungkin dan tidak tepat untuk membebankan biaya itu kepada mereka.

Sebagai suatu lembaga independen OJK harus memiliki anggaran sendiri yang tidak tunduk pada persetujuan pemerintah, OJK juga memiliki kebebasan dalam pengelolaan dan penggunaan keuntungan yang diperolehnya (Sulistyandari, 2012:189). Mengenai anggaran OJK ditetapkan di dalam Pasal 34-37 UU OJK, yang pada intinya menetapkan bahwa anggaran OJK berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan/atau pungutan dari pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan. Anggaran OJK digunakan untuk membiayai kegiatan operasional, administratif, pengadaan aset serta kegiatan pendukung lainnya. Untuk anggaran dari pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan terlebih dahulu meminta persetujuan DPR.

Disebutkan dalam penjelasan Pasal 34 ayat (2) UU OJK bahwa pembiayaan kegiatan OJK sewajarnya didanai secara mandiri yang pendanaannya bersumber dari pungutan kepada pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan. Penetapan besaran pungutan tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan kemampuan pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan serta kebutuhan pendanaan OJK. Namun, pembiayaan OJK yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tetap diperlukan untuk

commit to user

memenuhi kebutuhan OJK pada saat pungutan dari pihak yang melakukan kegiatan di industri jasa keuangan belum dapat mendanai seluruh kegiatan operasional secara mandiri, antara lain pada masa awal pembentukan OJK.

Dengan adanya pungutan kepada pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan termasuk sektor perbankan maka berpotensi menimbulkan benturan kepentingan. Potensi benturan kepentingan dapat terjadi mengingat OJK sebagai otoritas pengawas kemudian menerima pungutan dari pihak-pihak yang berkedudukan sebagai objek dalam pengawasannya. Ketentuan ini tentunya tidak sesuai dengan semangat kelembagaan OJK sebagai lembaga pengawas independen dan nantinya akan menjadikan OJK tidak kredibel sebagai lembaga pengawas perbankan. Diberitakan dalam Business News bahwa OJK dalam usulannya menyodorkan besaran pungutan 0,03%-0,06% dari aset perusahaan untuk lembaga seperti bank, asuransi, multifinance (pembiayaan), dana pensiun, lembaga pembiayaan ekspor, dan lembaga pembiayaan infrastruktur. Pungutan diterapkan secara bertahap, yakni 50% untuk tahun 2013 yang dimulai terhadap lembaha keuangan dan pasar modal yang selama ini berada di bawah pengawasan Bapepam-LK, untuk tahun 2014 bersamaan dengan masuknya perbankan dalam pengawasan OJK, pungutan diberlakukan sebesar 75%. Lalu pada tahun 2015 OJK mengenakan pungutan secara penuh (100%), sehingga pada saat bersamaan OJK tidak lagi mendapat kucuran dana dari APBN.

Menyoal pungutan yang dilakukan OJK terhadap industri perbankan mendapat protes keras karena mengingat sebelumnya, ketika otoritas perbankan ditangani oleh BI, tidak ada pungutan terhadap industri perbankan. Para bankir, mempertanyakan besaran pungutan OJK yang dinilai terlalu tinggi sehingga berbahaya bagi industri perbankan. Atas usulan pungutan tersebut, Persatuan Perbankan Nasional mengingatkan kepada OJK bahwa pungutan

commit to user

tersebut akan mendorong kenaikan cost of funds perbankan dan akan memberatkan para nasabah. Walaupun belum ditetapkan secara pasti besaran pungutan kepada industri perbankan tetapi besaran pungutan OJK tersebut akan dilakukan berdasarkan aset perusahaan. Hal ini dinilai oleh industri perbankan terlalu memberatkan dan dikhawatirkan mengganggu independensi OJK serta dapat menimbulkan konflik kepentingan ketika bank-bank yang mempunyai aset perusahaan besar dan bersifat sistemik menyetor pungutan dalam jumlah besar kemudian dapat mengintervensi fungsi OJK dalam mengawasi industri perbankan

(http://www.businessnews.co.id/ekonomi-bisnis/menyoal-pungutan-ojk.php, diakses pada tanggal 3 Februari 2013 pukul 14.00 WIB).

Selain permasalahan dalam besaran pungutan yang dilakukan OJK kepada industri perbankan, di dalam UU OJK juga tidak menyebutkan bentuk hukum dari lembaga OJK, sehingga statusnya sebagai subyek hukum menjadi tidak jelas apakah sebagai badan hukum atau perorangan. Hal ini berkaitan dengan kekayaan dan anggaran yang dimilikinya dan digunakan untuk melaksanakan tugas-tugasnya (Sulistyandari, 2012:189).

Mencermati uraian di atas terkait besaran pungutan OJK kepada industri perbankan yang menimbulkan keraguan terhadap independensi OJK dalam melaksanakan tugasnya mengawasi perbankan, berbeda halnya dengan independensi financial pada diri BI.

Dalam hal ini bank sentral memliki kebebasan dan kemandirian dalam pengelolaan serta penggunaan keuntungan yang diperolehnya.

Diperlukan adanya kemadirian keuangan pada BI karena bila dalam masalah keuangan terdapat kontrol dari Pemerintah, BI nantinya tidak dapat memainkan peran independensinya secara optimal. Kemandirian ini mengacu pada peranan Pemerintah dan/atau parlemen (DPR) terhadap anggaran bank sentral. Dalam hal ini, apabila terdapat kontrol oleh Pemerintah atas anggaran bank sentral, maka bank sentral

commit to user

tersebut akan rentan terhadap tekanan politik, khususnya yang berkaitan dengan kebijakan dalam pengawasan perbankan. Umumnya, bank sentral dapat mengamankan aset finansialnya agar independen, antara lain melalui penerbitan bank notes dan open market operations.

Selain itu, cara redistribusi keuntungan juga dapat dilakukan sebagai kriteria untuk menetapkan tingkat independensi bank sentral (M.

Dawam Rahardjo, 2000:76).

Ditinjau dalam Pasal 4 UU BI yang menyebutkan bahwa BI merupakan badan hukum, artinya suatu badan hukum mempunyai kekayaan dan anggaran sendiri. Kemudian Pasal 6 UU BI menyebutkan bahwa Modal Bank Indonesia ditetapkan berjumlah sekurang-kurangnya Rp 2.000.000.000.000,00 (dua triliun rupiah).

Modal tersebut harus ditambah sehingga menjadi paling banyak 10%

dari seluruh kewajiban moneter dengan dana yang berasal dari Cadangan Umum atau dari hasil revaluasi aset. Pasal 60 UU BI menyebutkan bahwa 30 (tiga puluh) hari sebelum dimulai tahun anggaran, Dewan Gubernur menetapkan anggaran tahunan Bank Indonesia yang meliputi anggaran operasional dan anggaran untuk kebijakan moneter, sistem pembayaran, serta pengaturan pengawasan.

Anggaran kegiatan operasional dan evaluasi pelaksanaan anggaran tahun berjalan disampaikan kepada DPR, dalam hal ini alat kelengkapan DPR yang membidanginya untuk mendapatkan persetujuannya. Anggaran untuk kebijakan moneter, sistem pmbayaran, serta pengaturan dan pengawasan perbankan, wajib dilaporkan.

Pasal 60 UU BI merupakan konsekuensi logis dari status BI sebagai badan hukum. Sebagai badan hukum yang mempunyai kekayaan sendiri terlepas dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Berbeda dengan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang ditetapkan dengan undang-undang karena sebagian besar dananya berasal dari rakyat berupa pajak, sedangkan anggaran BI

commit to user

seratus persen berasal dari kegiatan usahanya sebagai bank sentral.

Menurut Penulis atas pengaturan finansial yang ada dalam UU BI telah memperlihatkan independensi BI dalam segi finansial.

Mencermati pembahasan mengenai 4 (empat) aspek independensi yang dapat dilihat pada diri OJK melalui UU OJK dan BI melalui UU BI di atas menjelaskan bahwa memang OJK dibentuk dengan amanat berusaha untuk menguatkan independensi yang diberikan oleh UU OJK, tetapi independensi yang dimiliki OJK tidak lebih dari independensi yang dimiliki oleh BI sebagai bank sentral. Memang untuk saat ini untuk menilai efektivitas dari suatu lembaga dalam melaksanakan fungsinya belum dapat dilakukan dan Penulis hanya melalukan analisis secara prediksi mengingat OJK baru mulai beroperasi secara penuh pada awal tahun 2014 dan pengawasan perbankan untuk saat ini masih dijalankan oleh BI. Tetapi dari analisis perbandingan undang-undang yang telah dilakukan Penulis pada UU OJK dan UU BI terlihat keraguan amanat independensi pada diri OJK.

Sebenarnya pokok permasalahan sampai adanya pengalihan fungsi pengawasan perbankan ini bukan dikarenakan BI yang kurang efektif dalam menjalankan fungsi pengawasan perbankan, tetapi lebih kepada sumber daya manusia (SDM) yang ada di dalam tubuh BI itu sendiri, dan persoalan politik yang melatarbelakanginya. Dari aspek finansial saja UU OJK memberikan pengaturan yang meragukan independensi OJK, dengan adanya ketentuan yang menyatakan bahwa anggaran OJK diambil dari pungutan tiap sektor jasa keuangan, dan juga dengan ketidakjelasan apakah OJK ini merupakan badan hukum atau tidak, karena berpengaruh pada anggaran yang digunakan untuk pelaksanaan fungsinya. Persoalan yang krusial dan selalu menjadi perdebatan selama pembahasan RUU OJK dan sampai UU OJK telah disahkan sekarang adalah persoalan SDM yang ada di OJK. Kunci utama untuk membentuk suatu lembaga yang independen dibutuhkan SDM yang memiliki integritas tinggi, kredibel, dan

commit to user

tegas dalam menjalankan fungsi pengawasan yang mandiri serta independen. Tetapi UU OJK telah mengatur adanya penempatan 2 (dua) orang pejabat ex-officio dari Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.

Padahal dalam Pasal 34 ayat (1) UU BI mengamanatkan agar OJK bersifat independen dalam menjalankan tugas serta berkedudukan di luar pemerintah. Sehingga apa bedanya jika OJK sebagai lembaga bentukan baru berisi orang-orang BI dan Kementerian Keuangan, sama saja dengan istilah gali lubang dan tutup lubang.

2. Kelemahan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa