Independensi fungsional disebut juga functional independence, karena dalam independensi ini lembaga pengawas bebas menentukan cara dan pelaksanaan dari instrumen kebijakan yang ditetapkannya yang dianggap penting untuk mencapai tujuannya. Kemandirian fungsi dianggap dibatasi apabila dalam tindakan yang diambil oleh lembaga pengawas didahului dengan adanya otorisasi dari Pemerintah atau apabila eksekutif pemerintahan mempengaruhi keputusan yang diambil oleh lembaga pengawas (M. Dawam Rahardjo, 2000: 73).
Disebutkan pada Penjelasan Umum bahwa OJK dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya berlandaskan asas-asas yaitu asas independensi, asas kepastian hukum, asas kepentingan umum, asas keterbukaan, asas profesionalitas, asas integritas dan asas akuntabilitas. Asas independensi, yakni independen dalam pengambilan keputusan, dan pelaksanaan fungsi, tugas, wewenang OJK, dengan tetap sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk dapat melaksanakan tugas dan wewenangnya OJK diharapkan dapat bebas menentukan cara dan pelaksanaan dari instrumen kebijakan yang ditetapkannya yang dianggap penting untuk mencapai tujuannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 8 UU OJK menetapkan bahwa untuk melaksanakan tugas pengaturan OJK mempunyai wewenang: a. menetapkan peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini; b. menetapkan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan; c. menetapkan peraturan dan keputusan OJK; d. menetapkan peraturan mengenai pengawasan di sektor jasa keuangan; e. menetapkan kebijakan mengenai pelaksanaan tugas OJK; f. menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan
commit to user
perintah tertulis terhadap Lembaga Jasa Keuangan dan pihak tertentu;
g. menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan pengelola statuter pada Lembaga Jasa Keuangan; h. menetapkan struktur organisasi dan infrastruktur, serta mengelola, memelihara, dan menatausahakan kekayaan dan kewajiban; dan i. menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di sektor jasa keuangan.
Pasal 9 UU OJK menetapkan bahwa untuk melaksanakan tugas pengawasan OJK mempunyai wewenang: a. menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan; b.
mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang dilaksanakan oleh Kepala Eksekutif; c. melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan Konsumen, dan tindakan lain terhadap Lembaga Jasa Keuangan, pelaku, dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan; d. memberikan perintah tertulis kepada Lembaga Jasa Keuangan dan/atau pihak tertentu; e. melakukan penunjukan pengelola statuter; f. menetapkan penggunaan pengelola statuter; g. menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundangundangan di sektor jasa keuangan; dan h. memberikan dan/atau mencabut: 1. izin usaha; 2. izin orang perseorangan; 3. efektifnya pernyataan pendaftaran; 4. surat tanda terdaftar; 5. persetujuan melakukan kegiatan usaha; 6. pengesahan; 7. persetujuan atau penetapan pembubaran; dan 8. penetapan lain, sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundangundangan di sektor jasa keuangan.
Kedua pasal tersebut menunjukkan bahwa OJK bebas menentukan cara dan pelaksanaan dari instrumen kebijakan yang ditetapkannya yang dianggap penting untuk mencapai tujuannya. Di bidang perbankan, OJK akan bekerjasama dan selalu membantu BI dalam rangka pelaksanaan tugasnya di bidang moneter dan sistem
commit to user
pembayaran. Dalam rangka pelaksanaan kerjasama tersebut, perlu ada koordinasi tugas dan wewenang yang tepat antara BI dan OJK, guna menjamin kepastian hukum bagi sektor jasa keuangan khususnya bank dalam rangka menghindari duplikasi kegiatan pengaturan dan pengawasan di bidang perbankan dengan kegiatan pengaturan dan pengawasan di bidang moneter dan sistem pembayaran.
Prinsip kehati-hatian merupakan hal yang pokok dalam memelihara stabilitas dan kesehatan perbankan. Sebagai upaya menjaga prinsip kehati-hatian tersebut, OJK senantiasa harus memperhatikan implikasi pelaksanaan wewenangnya di bidang perbankan terhadap kegiatan moneter dan sistem pembayaran. Oleh karena itu konsultasi yang bersifat aktif dan formal antara OJK dan BI sangat diperlukan (Afika Yumya Syahmi, 2008: 36). Untuk itu OJK dan BI wajib saling memberikan informasi dalam rangka membantu kelancaran pelaksanaan tugas dan wewenang masing-masing.
Informasi yang disediakan OJK kepada BI adalah informasi perbankan sejalan dengan tugas dan wewenang OJK di bidang perbankan. Informasi yang disediakan BI kepada OJK adalah informasi kegiatan moneter dan sistem pembayaran. Pertukaran informasi ini senantiasa dilakukan dengan cepat dan tepat sehingga dapat berhasil guna bagi kedua institusi tersebut dalam rangka pelaksanaan tugas dan wewenang masing-masing.
Kerjasama antara OJK dengan BI diatur dalam Pasal 39, 40, 41 ayat (2) dan 43 yang termasuk dalam BAB X Bagian Kesatu tentang Koordinasi dan Kerjasama. Walaupun sudah diatur dalam UU OJK mengenai kerjasama antara BI dengan OJK tetapi harus disinkronisasikan dengan antara UU OJK dengan UU BI, dan khususnya yang berkaitan dengan pengaturan dan pengawasan perbankan yaitu Pasal 11 ayat (4), 24-35 UU BI, Pasal 29-37B UU Perbankan dan Pasal 21 UU LPS. Jika Pasal 8, 9 dihubungkan dengan Pasal 41 UU OJK yang menetapkan bahwa (1) OJK
commit to user
menginformasikan kepada LPS mengenai bank bermasalah yang sedang dalam upaya penyehatan oleh OJK sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. (2) Dalam hal OJK mengindikasikan bank tertentu mengalami kesulitan likuiditas dan/atau kondisi kesehatan semakin memburuk, OJK segera menginformasikan ke BI untuk melakukan langkah-langkah sesuai dengan kewenangan Bank Indonesia, maka menurut UU OJK berkaitan dengan pengawasan di bidang perbankan, kewenangan pemeriksaan perbankan berada di BI (Pasal 40 ayat (2) UU OJK) demikian pula jika terjadi bank tertentu mengalami kesulitan likuiditas dan/atau kondisi kesehatan semakin memburuk, OJK segera menginformasikan ke BI untuk melakukan langkah-langkah sesuai dengan kewenangan BI yang artinya kewenangan pengawasan perbankan secara makro (macroprudentiial) berada di BI (Pasal 41 ayat (2) UU OJK). Di sini Bank Indonesia mempunyai kewenangan sebagai Lender of The Last Resort (Pasal 11 UU BI).
Kemudian selain membutuhkan kerjasama dengan BI, dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya OJK juga bekerjasama dengan LPS untuk mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang masing-masing serta untuk mendukung stabilitas sistem keuangan di bidang perbankan. Dalam UU OJK, OJK menginformasikan kepada LPS mengenai bank bermasalah yang sedang dalam upaya penyehatan oleh OJK sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan (Pasal 41 ayat (1) UU OJK). Kemudian LPS dapat melakukan pemeriksaan terhadap bank yang terkait dengan fungsi, tugas dan wewenangnya, serta berkoordinasi terlebih dahulu dengan OJK.
Menurut Pasal 21 UU LPS menyebutkan bahwa Komite Koordinasi/
Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan yang beranggotkana Menteri Keuangan, LPP/OJK, BI dan LPS mempunyai kewenangan untuk membuat kebijakan dan penanganan suatu bank gagal yang berdampak sistemik.
commit to user
Dalam pengaturan pada Pasal 11 ayat (4) UU BI yang menyebutkan bahwa bank yang mengalami kesulitan keuangan yang berdampak sistemik dan berpotensi mengakibatkan krisis yang membahayakan sistem keuangan, BI dapat memberikan fasilitas pembiayaan darurat yang pendanaannya menjadi beban Pemerintah.
Dengan demikian tugas pengaturan dan pengawasan perbankan ada pembagian kewenangan antara Bank Indonesia, OJK, dan LPS. Tugas pengaturan dan pengawasan perbankan ada pada OJK, namun ada beberapa pengaturan yang harus dikoordinasi antara OJK dan BI (Pasal 39 UU OJK). Pemberian dan pencabutan izin usaha perbankan oleh OJK (Pasal 9 UU OJK). Pemeriksaan dan pengawasan perbankan secara makro oleh BI, hal ini berkaitan dengan tugasnya menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter dan fungsinya sebagai Lender of the last resort.
Jika mengacu pada Pasal 29 ayat (1) UU Perbankan, ada dua hal prinsip terkait dengan pengawasan kegiatan perbankan yang dilakukan oleh BI sebelum OJK dibentuk, yaitu adanya upaya pembinaan serta pengawasan. Dalam penjelasan Pasal 29 ayat (1) UU Perbankan diketahui bahwa yang dimaksud dengan pembinaan adalah upaya-upaya yang dilakukan dengan cara menetapkan peraturan yang menyangkut aspek kelembagaan, kepemilikan, pengurusan, kegiatan usaha, pelaporan serta aspek lain yang berhubungan dengan kegiatan operasional bank. Sedangkan yang dimaksud dengan pengawasan yaitu meliputi pengawasan tidak langsung yang terutama dalam bentuk pengawasan dini melalui penelitian, analisis dan evaluasi laporan bank. Adapun tujuan pengawasan dini merupakan penerapan early warning system (deteksi dini) untuk mengetahui tingkat kesulitan bank secara lebih awal (Zulkarnain Sitompul, 2005:24).
Kemudian pengawasan langsung dalam bentuk pemeriksaan yang disusul dengan tindakan-tindakan perbaikan.
commit to user
Adanya fungsi pembinaan dan pengawasan bidang perbankan merupakan kesatuan yang saling terkait dan tersinergi. Pembinaan menitikberatkan pada regulasi, sedangkan fungsi pengawasan menitikberatkan pada “supervision” atau “penyeliaan”. Dengan begitu luasnya wewenang dan tanggung jawabnya, maka seharusnya sebagai lembaga pengawas perbankan dapat bertindak preventif maupun represif, demi terciptanya sistem pembinaan dan pengawasan yang prima. Tetapi mengingat adanya pemisahan fungsi pengawasan perbankan dengan fungsi pengaturan/ pembinaan perbankan maka OJK sebagai lembaga yang berfungsi mengawasi perbankan memerlukan kerjasama dengan BI sebagai lembaga yang memegang fungsi pengaturan di bidang perbankan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan fungsi OJK sebagai otoritas perbankan belum dapat dilakukan sendiri tanpa kerjasama dengan berbagai lembaga yaitu BI sebagai Bank Sentral dan juga LPS. Dan juga OJK termasuk salah satu anggota dalam Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan yang mana forum ini dibentuk guna menjaga stabilitas sistem keuangan. Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan ini diatur dalam Pasal 44-46 UU OJK.
Adapun anggota dari Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan adalah Menteri Keuangan selaku anggota merangkap koordinator, Gubernur Bank Indonesia selaku anggota, Ketua Dewan Komisioner OJK selaku anggota, dan Ketua Dewan Komisioner LPS selaku anggota.
Apabila ditinjau dari aspek independensi fungsional pada diri Bank Indonesia, dapat dilihat dalam Pasal 10 UU BI yang menyebutkan bahwa dalam rangka menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, Bank Indonesia berwenang:
a. Menetapkan sasaran-sasaran moneter dengan memperhatikan sasaran laju inflasi;
commit to user
b. Melakukan pengendalian moneter dengan cara-cara yang termasuk tetap tidak terbatas pada:
1. Operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing;
2. Penetapan tingkat diskonto;
3. Penetapan cadangan wajib minimum; dan 4. Pengaturan kredit atau pembiayaan.
Jika melihat ketentuan Pasal 10 UU BI menunjukkan adanya instrument/ fungsional independence, karena BI selaku bank sentral bebas menentukan cara dan pelaksanaan instrumen kebijakan moneter yang ditetapkannya yang dianggap penting untuk mencapai tujuannya, namun jika melihat Pasal 11 ayat (4) UU BI yang menyebutkan bahwa bank yang mengalami kesulitan keuangan yang berdampak sistemik dan berpotensi mengakibatkan krisis yang membahayakan sistem keuangan, BI dapat memberikan fasilitas pembiayaan darurat yang pendanaannya menjadi beban Pemerintah, dikaitkan dengan UU Perbankan dan UU LPS, dimana dalam Pasal 21 UU LPS menyebutkan bahwa Komite Koordinasi yang beranggotakan Menteri Keuangan, LPP, BI dan LPS mempunyai kewenangan untuk membuat kebijakan dan penanganan suatu bank gagal yang berdampak sistemik antara lain dapat melakukan bail-out terhadap bank gagal. Seperti kasus pada Bank Century, yang merupakan bank gagal berdampak sistemik. Pemberian dana bailout kepada Bank Century diketahui karena adanya perubahan pada Peraturan Bank Indonesia terkait dengan persyaratan permohonan pengajuan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP). Perubahan Peraturan Bank Indonesia dimulai dengan perubahan pada Peraturan Bank Indonesia Nomor:
8/1/PBI/2006 menjadi dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor:
10/26/PBI/2008 tanggal 30 Oktober 2008 yang mana dalam perubahan ini ditentukan syarat untuk dapat mengajukan permohonan FPJP yaitu bank yang wajib memiliki rasio kewajiban penyediaan modal
commit to user
minimum (capital adequacy ratio) paling kurang 8 (delapan) persen.
Tetapi kemudian setelah 14 (empat belas) Peraturan Bank Indonesia
kembali dirubah dengan Peraturan Bank
Indonesia Nomor: 10/30/PBI/2008 tanggal 14 Nopember 2008.
Dengan perubahan ini maka posisi Bank Century yang sedang mengalami kesulitan keuangan memenuhi syarat untuk mendapatkan fasilitas darurat (Maqdir Ismail,
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4b1df5420076d, diakses pada tanggal 26 Februari 2013 pada pukul 20.00 WIB).Padahal menurut Helmut Schlesinger salah satu ciri dari bank sentral adalah tidak ada kewajiban untuk melakukan bailout. Pemberian dana bailout sebagai tindak lanjut dari keputusan Komite Stabilitas Sektor Keuangan dengan melibatkan unsur pemerintah yaitu Menteri Keuangan yang sewaktu itu dijabat oleh Sri Mulyani.