Independensi ini berhubungan dengan personalia dari lembaga pengawas, seperti latar belakang pengangkatan dan pemberhentian pimpinan dari lembaga pengawas tersebut, dalam hal personalia
commit to user
lembaga pengawas, pihak eksekutif tidak boleh mempengaruhinya. Di sini, hal yang memperoleh perhatian adalah partisipasi/ peranan pejabat-pejabat Pemerintah (Government Officials) terhadap dewan pengambil kebijakan di lembaga pengawas (M. Dawam Rahardjo, 2000:72).
Mengkaji independensi dari sisi organisatoris pada diri OJK dapat dijelaskan dalam Penjelasan Umum UU OJK bahwa secara kelembagaan, OJK berada di luar Pemerintah, yang dimaknai bahwa OJK tidak menjadi bagian dari kekuasaan Pemerintah. Namun tidak menutup kemungkinan adanya unsur-unsur perwakilan Pemerintah karena pada hakikatnya OJK merupakan otoritas di sektor jasa keuangan yang memiliki relasi dan keterkaitan yang kuat dengan otoritas lain, dalam hal ini otoritas fiskal dan moneter. Oleh karena itu, lembaga ini melibatkan keterwakilan unsur-unsur dari kedua otoritas tersebut secara Ex-officio. Keberadaan Ex-officio ini dimaksudkan dalam rangka koordinasi, kerja sama, dan harmonisasi kebijakan di bidang fiskal, moneter, dan sektor jasa keuangan. Keberadaan Ex-officio juga diperlukan guna memastikan terpeliharanya kepentingan nasional dalam rangka persaingan global dan kesepakatan internasional, kebutuhan koordinasi, dan pertukaran informasi dalam rangka menjaga dan memelihara stabilitas sistem keuangan.
Mengenai adanya Ex-officio dalam struktur kelembagaan OJK dapat dilihat dalam Pasal 10 UU OJK dan Pasal 11 UU OJK:
Pasal 10 UU OJK menyebutkan (1) OJK dipimpin oleh Dewan Komisioner. (2) Dewan Komisioner sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat kolektif dan kolegial. (3) Dewan Komisioner beranggotakan 9 (sembilan) orang anggota yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. (4) Susunan Dewan Komisioner sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terdiri atas: a. seorang Ketua merangkap anggota; b. seorang Wakil Ketua sebagai Ketua Komite Etik merangkap anggota; c. seorang Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap anggota; d. seorang
commit to user
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal merangkap anggota; e.
seorang Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya merangkap anggota; f. seorang Ketua Dewan Audit merangkap anggota; g. seorang anggota yang membidangi edukasi dan perlindungan Konsumen; h. seorang anggota Ex-officio dari BI yang merupakan anggota Dewan Gubernur BI; dan i. seorang anggota Ex-officio dari Kementerian Keuangan yang merupakan pejabat setingkat eselon I Kementerian Keuangan. (5) Anggota Dewan Komisioner sebagaimana dimaksud pada ayat (4) memiliki hak suara yang sama.
Bunyi Pasal 11 UU OJK adalah: (1) Anggota Dewan Komisioner sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4) huruf a sampai dengan huruf g dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat berdasarkan calon anggota yang diusulkan oleh Presiden. (2) Pemilihan dan penentuan calon anggota Dewan Komisioner untuk diusulkan kepada Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Panitia Seleksi yang dibentuk dengan Keputusan Presiden: a. paling singkat 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya masa jabatan anggota Dewan Komisioner;
atau b. paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal kekosongan jabatan atau penetapan pemberhentian anggota Dewan Komisioner karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf d, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, huruf i, dan/atau huruf j. (3) Panitia Seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) beranggotakan 9 (sembilan) orang yang terdiri atas unsur Pemerintah, BI, dan masyarakat. (4) Panitia Seleksi mengumumkan penerimaan calon anggota Dewan Komisioner sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada masyarakat paling lama 5 (lima) hari kerja setelah ditetapkannya Panitia Seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (5) Pendaftaran calon dilakukan dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja secara terus menerus. (6) Panitia Seleksi melakukan seleksi administratif terhadap calon anggota Dewan Komisioner sebagaimana
commit to user
dimaksud pada ayat (5). (7) Panitia Seleksi mengumumkan nama calon yang telah lulus seleksi administratif untuk mendapatkan masukan dari masyarakat paling lama 5 (lima) hari kerja sejak berakhirnya waktu pendaftaran calon sebagaimana dimaksud pada ayat (5). (8) Masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) disampaikan kepada Panitia Seleksi dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja terhitung sejak tanggal diumumkan. (9) Panitia Seleksi melakukan penilaian dan pemilihan serta menyampaikan calon anggota Dewan Komisioner kepada Presiden sebanyak 3 (tiga) orang calon untuk setiap anggota Dewan Komisioner yang dibutuhkan, paling lama 12 (dua belas) hari kerja terhitung sejak berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (8)
Menurut Penulis terjadi ketidak sinkronan dalam permasalahan struktur kelembagaan pada OJK. Jika dilihat dari adanya amanat bahwa OJK merupakan lembaga yang independen sehingga tidak menjadi bagian dari kekuasaan Pemerintah, tetapi Pemerintah menginginkan adanya unsur-unsur perwakilan Pemerintah. Hal ini merupakan pembahasan yang sangat krusial karena mengingat pasal yang menyebutkan adanya Ex-officio ini merupakan salah satu isu yang mengkhawatirkan OJK sebagai lembaga independen sewaktu pembahasan RUU OJK. Adanya Ex-officio yang berasal dari BI dan Kementerian Keuangan merupakan usulan dari masing-masing pihak yaitu Gubernur BI dan Menteri Keuangan yang kemudian dikehendaki oleh DPR.
Dalam pembentukan OJK sebagai lembaga yang independen tidak ada definisi khusus bagaimana independensi yang dimaksud oleh Pemerintah. Definisi independensi dalam arti yang seperti apa juga tidak dimunculkan dalam pengaturan UU OJK. Dalam Pasal 2 UU OJK hanya disebutkan OJK adalah lembaga yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur tangan pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undang-Undang ini. Kemudian dijelaskan pula dalam Penjelasan Umum UU
commit to user
OJK bahwa OJK secara kelembagaan berada di luar pemerintah tetapi hal tersebut tidak menjelaskan secara detail apakah itu yang dimaksud dengan independensi. Penjelasan Umum UU OJK menyebutkan bahwa independensi OJK tercermin dalam kepemimpinan OJK. Secara orang perseorangan, pimpinan OJK memiliki kepastian masa jabatan dan tidak dapat diberhentikan kecuali memenuhi alasan yang secara tegas diatur oleh UU OJK. Di samping itu, untuk mendapatkan pimpinan OJK yang tepat, UU OJK mengatur mekanisme seleksi yang transparan, akuntabel, dan melibatkan partisipasi publik melalui suatu panitia seleksi yang unsur-unsurnya terdiri atas Pemerintah BI, dan masyarakat sektor jasa keuangan.
Untuk terciptanya independensi dibutuhkan kebebasan dari pengaruh/ kontrol dari pemerintah sehingga untuk keseluruhan suatu lembaga tersebut akan berdiri sendiri/otonom. Dengan adanya pejabat Ex-officio dari perwakilan pemerintah yaitu Kementerian Keuangan dikhawatirkan akan terjadi ketergantungan pada otoritas, validitas, dan efisiensi. Jika dilihat dari struktur Dewan Komisioner yang telah terpilih yaitu:
1) Muliaman D. Hadad sebagai ketua, sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur BI;
2) Nurhaida sebagai anggota, sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bapepam-LK;
3) Firdaus Djaelani sebagai anggota, sebelumnya menjabat Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan;
4) Kusumaningtuti Sandriharmy sebagai anggota, sebelumnya menjabat Kepala Kantor BI cabang New York;
5) Ilya Avianti sebagai anggota, sebelumnya menjadi auditor Badan Pemeriksa Keuangan;
6) Nelson Tampubolon sebagai anggota, sebelumnya menjabat Direktur Internasional BI;
commit to user
7) Rahmat Waluyanto sebagai anggota, sebelumnya menjabat Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan;
8) Halim Alamsyah sebagai anggota ex-officio dari BI; dan
9) Anny Ratnawati sebagai anggota ex-officio dari Kementerian Keuangan.
Terbentuknya Dewan Komisioner OJK tersebut berdasarkan pertimbangan dari Presiden kemudian dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui Panitia Seleksi yang dibentuk dengan Keputusan Presiden. Dewan Komisioner OJK ini adalah organ yang akan menggerakkan OJK dalam melaksanakan tugas serta wewenangnya untuk melakukan pengawasan perbankan. Dengan adanya unsur pemerintah yang memang jabatan sebagai Wakil Menteri Keuangan merupakan jabatan politis dan dikhawatirkan akan memihak kepada Pemerintah sehingga menjadi tidak independen dalam fungsinya untuk melaksanakan pengawasan terhadap perbankan. Namun, di samping itu jika dilihat dari pengaturan tentang masa kerja Dewan Komisioner OJK yang diatur dalam Pasal 17 UU OJK menetapkan bahwa Anggota Dewan Komisioner tidak dapat diberhentikan sebelum masa jabatannya berakhir, kecuali apabila memenuhi alasan sebagai berikut:
a. Meninggal dunia;
b. Mengundurkan diri;
c. Masa jabatannya telah berakhir dan tidak dipilih kembali;
d. Berhalangan tetap sehingga tidak dapat melaksanakan tugas atau diperkirakan secara medis tidak dapat melaksanakan tugas lebih dari 6 (enam) bulan berturut-turut;
e. Tidak menjalankan tugasnya sebagai anggota Dewan Komisioner lebih dari 3 (tiga) bulan berturut-turut tanpa alasan yang dipertanggungjawabkan;
f. Tidak lagi menjadi anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia bagi anggota Ex-officio Dewan Komisioner yang berasal dari Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4) huruf h;
commit to user
g. Tidak lagi menjadi pejabat setingkat eselon I pada Kementerian Keuangan bagi anggota Ex-officio Dewan Komisioner yang berasal dari Kementerian Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4) huruf i;
h. Memiliki hubungan keluarga sampai derajat kedua dan/atau semenda dengan anggota Dewan Komisioner lain dan tidak ada satu pun yang mengundurkan diri dari jabatannya;
i. Melanggar kode etik; atau
j. Tidak lagi memenuhi salah satu syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22.
Dengan pengaturan sebagaimana di atas dapat disimpulkan bahwa anggota Dewan Komisioner OJK tidak akan diberhentikan berdasarkan alasan politik. Ketentuan seperti ini akan memberikan keamanan bai Dewan Komisioner dalam mengambil kebijakan yang tidak popular secara politik.
Keberhasilan OJK sebagai suatu lembaga pengawas independen dibutuhkan integritas dan kapasitas dari Dewan Komisioner untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Dengan komposisi Dewan Komisioner yang ditempati oleh mantan pegawai lembaga keuangan tertentu dapat sebagai alasan pula diragukannya independensi OJK.
Karena anggota Dewan Komisioner sebelumnya sudah lama bekerja di satu lembaga keuangan, dan terkadang akan menjadikan mereka menjadi tidak dapat bersikap objektif. Contoh kasus yang berada di Amerika Serikat sebelum terjadinya krisis keuangan global pada tahun 2008, lembaga sejenis OJK yaitu Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) dihuni oleh anggota Dewan Komisioner yang sebelumnya bekerja di Goldman Sach. Kemudian ketika Goldman Sach terpuruk pada saat krisis keuangan terjadi tahun 2008, para anggota yang mendorong pemerintah untuk segera menyuntikkan modal agar Goldman Sach diselamatkan. Diragukannya independensi OJK terkait
commit to user
dengan Sumber Daya Manusia (SDM) juga dikatakan oleh Nindyo Pramono bahwa jika kehadiran OJK diisi oleh SDM dari BI yang dieksodus ke OJK dan Pejabat/ pensiunan BI maka seperti halnya pada Peradilan Pajak yang ada di Indonesia. Peradilan Pajak yang dibentuk untuk mengadili kasus pajak diisi oleh SDM dari Pegawai Pajak dan Mantan Pegawai Pajak dan/atau Konsultan Pajak dengan dalih merekalah yang mempunyai pengalaman dan keahlian dibidang pajak, ternyata juga masih rentan dengan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang sungguh membahayakan kepentingan publik dan keuangan negara (Nindyo Pramono, 2010:7).
Kemudian dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan untuk mencapai tujuan pengawasan perbankan OJK berkoordinasi dan bekerjasama dengan lembaga lain. Di bidang perbankan OJK berkoordinasi dengan BI (Pasal 39, 40, 41 ayat (1) dan 43 UU OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) (Pasal 41 ayat (2), 42 dan 43 UU OJK). Untuk itu perlu disinkronisasikan antara Undang-Undang Otoritas Jasa Keuangan dengan Undang-Undang BI (UU BI), Undang-Undang Perbankan dan Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan (UU LPS) khususnya yang berkaitan dengan tugas pengaturan dan pengawasan perbankan yaitu Pasal 24-35 UU BI, Pasal 29-37B UU Perbankan dan Pasal 21 UU LPS, karena berkaitan dengan tugas pengawasan perbankan khususnya yang berkaitan dengan bank gagal. Pemerintah melalui Menteri Keuangan dalam Komite Koordinasi (Menurut UU OJK istilahnya menjadi Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan) oleh UU LPS diberi kewenangan untuk ikut campur tangan dalam fungsi pengawasan perbankan yang menurut UU BI dan UU Perbankan menjadi otoritas BI dengan alasan memelihara stabilitas sitsem perbankan. Oleh karena itu ketika tugas pengawasan perbankan oleh BI kemudian dilakukan oleh OJK, maka ketika terjadi bank gagal penyelesaiannya jangan sampai terjadi campur tangan pemerintah karena hal tersebut akan menjadikan OJK tidak independen secara kelembagaan dalam tugas pengawasan
commit to user
perbankan (Pasal 41 UU OJK jo. Pasal 37 UU Perbankan jo. Pasal 21 UU LPS)
Apabila dibandingkan dengan Independensi organisatoris pada diri Bank Indonesia dapat dilihat dalam pengaturan Pasal 36, 37 UU BI yang menyebutkan bahwa dalam melaksanakan tugasnya Bank Indonesia dipimpin oleh Dewan Gubernur. Dewan Gubernur terdiri atas seorang Gubernur, seorang Deputi Gubernur Senior, dan sekurang-kurangnya 4 (empat) orang atau sebanyak-banyaknya 7 (tujuh) orang Deputi Gubernur. Dewan Gubernur dipimpin oleh Gubernur dengan Deputi Gubernur sebagai Wakil. Pasal 40 UU BI menyebutkan bahwa untuk dapat diangkat sebagai anggota Dewan Gubernur, calon yang bersangkutan harus memenuhi syarat antara lain:
a. Warga Negara Indonesia;
b. Memiliki akhlak dan moral yang tinggi;
c. Memiliki keahlian dan pengalaman di bidang ekonomi, keuangan, perbankan atau hukum.
Gubernur dan Deputi Gubernur Senior diusulkan dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Deputi Gubernur diusulkan oleh Gubernur dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan Anggota Dewan Gubernur diangkat untuk masa jabatan 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali dalam masa jabatan sebanyak-banyaknya 1 (satu) kali masa jabatannya berakhir. Pasal 45 UU BI menyebutkan bahwa Gubernur, Deputi Gubernur Senior, Deputi Gubernur, dan atau Pejabat Bank Indonesia tidak dapat dihukum karena telah mengambil keputusan atau kebijakan yang sejalan dengan tugas dan wewenangnya dalam undang-undang ini sepanjang dilakukan dengan itikad baik. Pasal 48 UU BI juga menyebutkan bahwa Dewan Gubernur tidak dapat dihentikan dalam masa jabatannya, kecuali karena mengundurkan diri, terbukti melakukan tindak pidana kejahatan, atau berhalangan tetap.
Menurut Penulis dalam hal ini Bank Indonesia masih menunjukkan
commit to user
adanya independensi organisasional menurut hukum (Sulistyandari, 2012: 132).