BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
3.2. Analisis Capaian Kinerja
3.2.2. Indikator Kinerja Peningkatan Jumlah Lembaga
Indikator kinerja peningkatan jumlah lembaga pemasaran petani dalam rangka penyerapan pasar hasil pertanian diukur dari jumlah lembaga pemasaran petani (pasar tani, Sub Terminal Agribisnis (STA), pasar ternak) secara nasional, baik yang pembangunannya dari fasilitas Direktorat Jenderal PPHP maupun yang bukan dari Direktorat Jenderal PPHP. Realisasi peningkatan jumlah lembaga pemasaran petani dalam rangka penyerapan pasar hasil pertanian pada tahun 2012 sebesar 1,40% atau baru mencapai 28% dari target peningkatan 5%. Peningkatan rerata per tahun selama periode 2010-2012 sebesar 2,2% atau mencapai 44% dari target 5%. Rendahnya capaian ini dikarenakan pembangunan pasar ternak baru sangat kecil, karena pasar ternak yang ada sudah relatif memenuhi hanya perlu revitalisasi dalam upaya mengoptimalkan fungsi pasar ternak.
Namun begitu, apabila capaian dilihat dari peningkatan jumlah lembaga pemasaran petani yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal PPHP, maka peningkatan jumlah lembaga pemasaran petani dalam rangka penyerapan pasar hasil pertanian pada tahun 2012 sebesar 8,11% atau mencapai 162% dari target peningkatan 5%. Peningkatan rerata per tahun selama periode 2010-2012 sebesar 15,4% atau mencapai 308% dari target 5%.
Dengan demikian, capaian ini dapat dikatakan berhasil. Secara rinci capaian kinerja ini dapat dilihat pada kedua tabel berikut.
Tabel 26. Peningkatan Jumlah Lembaga Pemasaran Petani Secara Nasional
Jenis Jumlah
2009 2010 2011 2012 Total
Pasar Tani 29 1 7 5 42
STA 85 5 5 4 99
Pasar Ternak 630 7 15 2 654
Jumlah 744 13 27 11 795
Kumulatif 744 757 784 795
% Peningkatan/tahun 1,75 3,57 1,40 2,2
Tabel 27. Peningkatan jumlah lembaga pemasaran petani yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal PPHP
Jenis Jumlah
2009 2010 2011 2012 Total
Pasar Tani 29 1 7 2 39
STA 55 5 5 0 65
Pasar Ternak 73 17 30 16 136
Jumlah 157 23 42 18 240
Kumulatif 157 180 222 240
% Peningkatan/tahun 14,65 23,33 8,11 15,4
Selisih antara jumlah lembaga pemasaran petani yang fasilitasi dari APBN Direktorat Jenderal PPHP dan secara nasional pada kedua tabel di atas, menunjukkan bahwa fasilitasi yang dilakukan Direktorat Jenderal PPHP mampu memberi dampak positif bagi daerah. Dengan melihat manfaat dan keberhasilan yang telah ada, maka daerah secara swadaya membangun dan mengembangkan STA dan pasar tani.
Dalam upaya pengembangan pemasaran domestik yang dilakukan pada tahun 2012 menghasilkan output penting dengan capaian sangat berhasil 2 indikator dan berhasil 2 indikator, secara rinci sebagai berikut :
Tabel 28. Realisasi Kinerja Kegiatan Pengembangan Pemasaran Domestik
No Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian (%)
1. Jumlah kelembagaan pasar domestik (unit pasar)
73 92 126,02
2. Jumlah komoditi dalam pemantauan & stabilisasi harga komoditas pertanian utama (laporan)
17 20 117,6
No Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian (%) 3. Jumlah kerjasama dan jaringan pasar (MoU) 11 17 154.5 4. Jumlah lokasi pelayanan informasi pasar
komoditi pertanian (lokasi)
109 90 82,56
Target optimalisasi sarana dan kelembagaan pasar domestik sebanyak 73 unit pasar terealisasi 92 unit pasar, yaitu 14 STA, 38 pasar tani dan 40 pasar ternak. Namun apabila dilihat dari realisasi penyerapan anggaran maka ada 3 alokasi anggaran untuk tiga unit pasar tidak terealisasi. Ketiga unit yang tidak terealisasi adalah 1) revitalisasi pasar ternak di Kabupaten Sumedang, karena proses lelang penyusunan master plan dan Detail Engineering Design (DED) dari APBD belum selesai (lelang ulang), sehingga waktu tidak mencukupi untuk proses pengadaan pasar ternak; 2) Revitalisasi Pasar Ternak di Kota Batam, karena keterlambatan penyediaan lahan, sehingga waktu tidak mencukupi untuk proses pengadaan; dan 3) Pengembangan STA di Kabupaten Nunukan, karena keterlambatan penyediaan lahan, sehingga waktu tidak mencukupi untuk proses pengadaan.
Kegiatan Pemantauan pasar dan stabilisasi harga ditujukan dalam rangka memberikan perlindungan kepada petani, juga upaya-upaya didalam menstabilkan harga ditingkat produsen terkait dengan ketersediaan dan kebutuhan bahan pangan komoditas pertanian strategis didalam negeri melalui pengendalian impor maupun kegiatan stabilisasi harga komoditas pertanian dengan melibatkan semua pelaku usaha. Pada tahun 2012, telah dilakukan pemantauan & stabilisasi harga komoditas pertanian utama, dengan output kegiatan ini berupa 20 laporan. Pemantauan Pasar dan Stabilisasi Harga, dilaksanakan dengan beberapa kegiatan, yaitu : 1) fasilitasi POKJA Perberasan dengan hasil 3 (tiga) laporan, yang berisi tentang bahan kebijakan sebagai pertimbangan dalam pemberian rekomendasi impor dan ekspor beras jenis tertentu dan permasalahan perberasan nasional secara umum; 2) Fasilitasi Tim Pembina TBS dengan hasil tersusunnya kebijakan di bidang penetapan harga TBS produksi pekebun dan terpantau dan terbinanya pelaksanaan pedoman penetapan harga pembelian TBS produksi pekebun; 3) Evaluasi Kebijakan Stabilisasi Harga Bawang Merah; 4) Stabilisasi Harga Bawang Merah melalui Dana dekonsentrasi di Kabupaten Tegal Jawa Tengah; 5) Stabilisasi Harga Cabe Merah melalui Dana Tugas Pembantuan di Kabupaten Kediri; 6) Kebijakan Stabilisasi Harga Daging Ayam di Kabupaten Ciamis Jawa Barat; 7) Sosialisasi dan penerapan Peraturan Menteri Pertanian No.60 Tahun 2012 yang diberlakukan sejak tanggal 28 September 2012.
Dalam upaya pengembangan kerjasama dan jaringan pasar telah dihasilkan 17 Mutual of Understanding (MoU) dari target 11 MoU. MoU dimaksud secara rinci sebagai berikut :
a. MoU antara PT. Bumi Prima Lestari dengan Poktan Karya Tani (Cabai Merah Segar dan Cabai Kering Bubuk.
b. MoU antara PT. Bumi Prima Lestari dengan Poktan Kawung Hegar (Cabai Merah Segar).
c. MoU antara PT. iPasar Indonesia dengan Koperasi Cagarit (Cabai Kering Bubuk).
d. MoU antara PT. iPasar Indonesia dengan Poktan Silih Riksa IV (Cabai Kering Bubuk).
e. MoU antara PT. iPasar Indonesia dengan Gapoktan Karangsari (Cabai Kering Bubuk).
f. MoU antara PT. Bumi Prima Lestari dengan Poktan Silih Riksa IV (Cabai Merah Segar dan Cabai Kering).
g. MoU antara PT. iPasar Indonesia dengan Poktan Mekar Tani II (Cabai Kering Bubuk).
h. MoU antara Pasar Induk Tanah Tinggi dengan AACI Jatim (Cabai Merah).
i. MoU antara PT. Bumi Prima Lestari dengan AACI Jatim (Cabai Merah).
j. MoU antara PT. Agung Mustika Selaras dengan Asosiasi Petani Manggis Provinsi Sumbar (Manggis).
k. MoU antara PT. Alamanda dengan Gapoktan Pesucen (Manggis).
l. MoU antara PT. Alamanda dengan Gapoktan Krida Mulya (Manggis).
m. MoU antara PT. Alamanda dengan Gapoktan Artamukti (Manggis).
n. MoU antara PT. Agung Mustika Selaras dengan ASPUMA (Manggis).
o. MoU antara PT. Agung Mustika Selaras dengan STA Rancamaya Bogor (Manggis).
p. MoU antara CV. Bimandiri dengan Gapoktan Laksana Barokah (Manggis).
q. MoU antara AIKI dengan AKFI (Manggis).
Pengembangan Pelayanan Informasi Pasar (PIP) bertujuan untuk meningkatkan akses informasi pasar bagi petani dan pelaku usaha agribisnis. Dengan peningkatan akses informasi ini diharapkan dapat meningkatkan posisi tawar petani dan daya sain produk pertaniannya. Pengembangan Pelayanan Informasi Pasar pada tahun 2012 ditargetkan menambah 109 lokasi dari 373 lokasi yang telah ada. Target tersebut terealisasi 90 lokasi, sehingga sampai akhir 2012 telah dikembangkan PIP di 463 lokasi.
3.2.3. Indikator Kinerja Peningkatan Jumlah Usaha Pengolahan dan Pemasaran