• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indikator Kinerja Peningkatan produk olahan hasil

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Dr. Ir. Haryono, MSc. NIP (Halaman 39-46)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

3.2. Analisis Capaian Kinerja

3.2.1. Indikator Kinerja Peningkatan produk olahan hasil

Pengukuran indikator kinerja peningkatan produk olahan hasil pertanian yang bermutu untuk ekspor dan pasar domestik diukur dengan dua variabel yang mewakili pasar ekspor dan pasar domestik, yaitu persentase volume ekspor produk olahan komoditi ekspor utama dan nilai penjualan makanan dan minuman dari industri makanan dan minuman Indonesia.

Pada tahun 2012 (periode Januari-September) persentase volume ekspor produk olahan untuk komoditi ekspor utama kakao, kepala sawit, kelapa, kopi, karet dan ubi kayu dibanding total volume ekspornya adalah sebesar 42,25%. Bila dibandingkan dengan tahun 2009, 2010 dan 2011 dimana volume ekspor produk olahan tersebut sebesar 36,94%; 36,94% dan 39,13% (atau 38,6% pada periode Januari-September 2012), maka terjadi peningkatan perdagangan produk olahan (kakao, kepala sawit, kelapa, kopi, karet dan ubi kayu) sebesar 5,17% per tahun atau meningkat 9,57% apabila pada tahun 2012 dibandingkan tahun 2011 (sumber data :BPS diolah Direktorat Jenderal PPHP).

Menurut Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) pada Industry Update volume 7, tahun 2012 yang diterbitkan oleh Bank Mandiri, nilai penjualan makanan dan minuman pada tahun 2009 sebesar Rp. 555 Trilyun, 2010 sebesar Rp. 605 Trilyun, 2011 sebesar 650 Trilyun dan 2012 data sementara 682,5 Trilyun. Nilai penjualan makanan dan minuman pada tahun 2012 meningkat sebesar 5% apabila dibandingkan dengan tahun 2011, sedangkan peningkatan per tahun periode 2009-2012 sebesar 7,15%.

Dari kedua variabel dimaksud, maka dapat disimpulkan bahwa realisasi indikator kinerja peningkatan produk olahan hasil pertanian yang bermutu untuk ekspor dan pasar domestik adalah sebesar 7,3% pada tahun 2012 (dibandingkan tahun 2011) atau capaian indikator ini sebesar 145% (sangat berhasil) dari target 5%.

Tabel 23. Realisasi dan Capaian Indikator Kinerja Peningkatan Produk Olahan Hasil Pertanian Yang Bermutu Untuk Ekspor dan Pasar Domestik

No Indikator Kinerja 2009 2010 2011 2012 Peningkatan

Kegiatan utama yang mendukung capaian kinerja ini adalah kegiatan pengembangan pengolahan hasil pertanian dan kegiatan pengembangan mutu dan standardisasi. Dalam rangka peningkatan produk olahan hasil pertanian yang bermutu untuk ekspor dan pasar domestik telah dilakukan berbagai upaya antara lain pengembangan pengolahan melalui konsep kawasan terpadu yang berkelanjutan di sentra-sentra produksi pertanian, peningkatan kemampuan petugas pembina dan pelaku pengolahan hasil pertanian melalui inovasi dan diseminasi teknologi pengolahan, peningkatan efisiensi usaha pengolahan hasil pertanian melalui pengutuhan usaha, optimalisasi dan modernisasi sarana pengolahan, peningkatan kemampuan dan pemberdayaan SDM pengolahan dan penguatan lembaga usaha pengolahan hasil di tingkat petani serta peningkatan pengolahan hasil pertanian yang ramah lingkungan, serta peningkatan pengolahan hasil samping.

Untuk peningkatan mutu produk olahan melalui kegiatan pengembangan mutu dan standardisasi telah dilakukan beberapa upaya, yaitu penyusunan kebijakan mutu dan standardisasi, sosialisasi mutu dan standardisasi, pengembangan Standard Nasional Indonesia (SNI), penerapan dan pengawasan jaminan mutu hasil pertanian, peningkatan kompetensi SDM pengawas mutu dan keamanan pangan, pengembangan jabatan fungsional pengawas mutu hasil pertanian, pengembangan laboratorium dan lembaga sertifikasi, fasilitasi kerjasama, serta harmonisasi standar mutu. Capaian output kedua kegiatan ini adalah sebagai berikut :

Tabel 24. Realisasi Kinerja Kegiatan Pengembangan Pengolahan Hasil Pertanian Tahun 2012

No Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian

(%) 1. Jumlah unit usaha pengolahan hasil

tanaman pangan (kelompok usaha)

169 315 186,4

2. Jumlah unit usaha pengolahan hasil hortikultura (kelompok usaha)

69 119 172

3. Jumlah unit usaha pengolahan hasil perkebunan (kelompok usaha)

111 178 130

4. Jumlah unit usaha pengolahan hasil peternakan (kelompok usaha)

116 194 167,2

Tingginya capaian output pada pengembangan pengolahan hasil tanaman pangan dan hortikultura dikarenakan di beberapa daerah fasilitasi bantuan peralatan UPH yang rencananya untuk satu kabupaten satu kelompok usaha diberikan kepada lebih dari satu pelaku usaha. Namun begitu, sebenarnya ada dua UPH peternakan pada dua kabupaten

yang tidak terealisasi, yaitu 1) pengolahan pakan ternak di Kabupaten Jember disebabkan keterlambatan dalam persetujuan revisi (Nopember 2012, yatu revisi jumlah output dari 2 unit ke 1 unit), sehingga Dinas terkait tidak sanggup melaksanakan; 2) pengembangan agroindustri susu di Kota Bogor karena ketidaksiapan CP/CL. Selanjunya untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan satu unit UPH teh di Kabupaten Majalengka tidak terealisasi disebabkan oleh pelaksanaan lelang terlambat di ULP dan adanya pergantian KPA. Pada pengembangan pengolahan hortikultura, pengembangan agroindustri hortikultura di Kabupaten Deli Serdang tidak terealisasi karena permasalahan di kelembagaan khususnya menyangkut masalah kepengurusan kelompok. Dan pada pengembangan pengolahan tanaman pangan, pengembangan agroindustri tepung berbasis sumber daya lokal ubi jalar di Kabupaten Asmat tidak terealisasi karena kurangnya koordinasi penyusunan RUKK, karena masalah transportasi dan komunikasi, sehingga berdampak pada proses pencairan dan bansos. Selain capaian tersebut Direktorat Jenderal PPHP pada tahun 2012 juga mengalokasikan pengembangan usaha pengolahan dan pemasaran hasil pertanian melalui Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) dengan realisasi 145 LM3.

Realisasi 315 kelompok usaha pengolahan tanaman pangan terdiri atas 271 kelompok usaha penggilingan padi yang tersebar di 117 kabupaten/kota, 3 kelompok usaha pengolahan kacang-kacangan di 3 kabupaten/kota, 29 kelompok usaha pengolahan tepung berbasis sumberdaya lokal di 29 kabupaten/kota, 3 kelompok usaha pengolahan keripik di 3 kabupaten/kota, dan 12 kelompok usaha pengolahan jagung di 5 kabupaten/kota. Realisasi 119 kelompok usaha UPH hortikultura terdiri atas 107 kelompok usaha pengolahan berbasis buah dan sayur yang tersebar di 56 kabupaten/kota, dan 12 kelompok usaha pengolahan berbasis tanaman obat di 7 kabupaten/kota. Realisasi 178 kelompok usaha UPH perkebunan terdiri atas 40 kelompok usaha bokar di 40 kabupaten/kota, 9 kelompok usaha mintak atsiri di 9 kabupaten/kota, 13 kelompok usaha pengolahan mete di 13 kabupaten/kota, 26 kelompok usaha pengolahan kelapa di 26 kabupaten/kota, 10 kelompok usaha gula di 10 kabupaten/kota, 1 kelompok usaha pengolahan gambir di 1 kabupaten/kota, 2 kelompok usaha pengolahan lada di 2 kabupaten/kota, 34 kelompok usaha pengolahan kopi di 34 kabupaten/kota, dan 4 kelompok usaha pengolahan kakao di 43 kabupaten/kota. Realisasi 194 kelompok usaha UPH peternakan terdiri atas 17 kelompok usaha pengolahan susu yang tersebar di 17 kabupaten/kota, 34 kelompok usaha pengolahan daging di14 kabupaten/kota, 48 kelompok usaha pengolahan pakan ternak skala kecil di 40 kabupaten/kota dan 95 kelompok usaha kompos/biogas di 40 kabupaten/kota.

Tabel 25. Realisasi Kinerja Kegiatan Pengembangan Mutu dan Standardisasi

No Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian

(%) 1. Jumlah rancangan SNI produk pertanian

(dokumen)

25 25 100

2. Jumlah unit usaha yang menerapkan sistem jaminan mutu (unit usaha)

200 206 103

3. Jumlah laboratorium pengujian (laboratorium)

10 10 100

4. Jumlah lembaga sertifikasi (unit/lembaga) 35 35 100 5. Jumlah kerjasama standar mutu (kerjasama) 3 3 100 6. Jumlah harmonisasi standar mutu

(harmonisasi)

4 4 100

7. Jumlah lembaga pengujian mutu alat mesin pertanian (unit/lembaga)

3 1 33,3

8. Jumlah pengujian mutu dan (sertifikasi)

alsintan (dokumen)

192 233 121,4

Direktorat Jenderal PPHP pada tahun 2012 telah menghasilkan 25 dokumen Rancangan SNI sektor pertanian, yaitu:

a. RSNI pakan konsentrat itik petelur, b. RSNI pakan ayam buras - Bagian 3: layer, c. RSNI tembakau cerutu besuki - Bagian 1: asalan, d. RSNI tembakau Jatim Novo,

e. RSNI tembakau rajangan - Bagian 1: Maesan, f. RSNI kedelai,

g. RSNI jagung,

h. RSNI sistem pangan organik, i. RSNI embrio ternak,

j. RSNI bibit sapi potong-Bagian 3: Aceh, k. RSNI leather leaf,

l. RSNI raphis excelsa, m. RSNI jamur merang, n. RSNI jahe segar,

o. RSNI bibit babi – bagian 1: Landrace, p. RSNI bibt babi – bagian 2: Yorkshire, q. RSNI bibit babi – bagian 3: Duroc, r. RSNI bibit babi – bagian 4: Hampshire,

s. RSNI jagung - bahan pakan ternak, t. RSNI dedak padi - Bahan pakan ternak, u. RSNI bungkil kedelai - Bahan pakan ternak, v. RSNI bungkil inti sawit - Bahan pakan ternak,

w. RSNI alat mesin persemaian padi sistem kotak (dapok) bagian 1: Kotak persemaian (dapok) - Syarat mutu dan metoda uji,

x. RSNI alat mesin persemaian padi sistem kotak (dapok) bagian 2: Mesin penabur tanah dan benih - Syarat mutu dan metoda uji

y. RSNI mesin perontok multikomodoti (padi, jagung dan kedelai) - Syarat mutu dan metoda uji.

Untuk peningkatan mutu dan keamanan pangan telah difasilitasi poktan/gapoktan/

pelaku usaha penerap jaminan mutu, pada tahun 2012 telah ditargetkan 20 pelaku usaha dengan realisasi unit usaha yang menerapkan sistem jaminan mutu sebanyak 206 pelaku usaha yang terdiri dari 121 pelaku usaha kakao dan 85 pelaku usaha pertanian organik.

Fasilitasi laboratorium pengujian dilaksanakan di 10 laboratorium pengujian, fasilitasi ini antara lain berupa bimbingan teknis validasi metoda laboratorium pengujian lingkup pertanian, bimbingan teknis audit internal, serta fasilitasi alat pengujian. Kesepuluh laboratorium ini adalah:

a. Laboratorium Uji Mutu Pertanian Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah.

b. Laboratorium Uji Mutu Formulasi dan Residu Pestisida UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan.

c. Laboratorium Pestisida UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat.

d. Laboratorium Perlindungan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Ambon.

e. Laboratorium Pestisida Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Bali.

f. Laboratorium Kimia Agro UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat.

g. Laboratorium Kimia Agro UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung.

h. Laboratorium Kimia Agro UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi DI Yogyakarta.

i. Laboratorium Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Provinsi Sumatera Utara.

j. Laboratorium Pestisida UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Utara.

Apresiasi dan fasilitasi lembaga sertifikasi dilaksanakan pada lembaga Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) dan Lembaga Sertifikasi Pangan Organik (LSPO). Pada tahun 2012, telah dilakukan apresiasi dan penyiapan Lembaga Penilai Kesesuaian dan bimbingan teknis pengujian serta audit internal kepada 35 lembaga, yaitu 33 OKKPD dan 2 LSPO. Dari 35 OKKPD sebanyak 16 OKKPD sudah diverifikasi (Provinsi Sumatera Utara, Bangka Beitung, Sumatera Barat, Jambi, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Riau, NTB, Sulawesi Tengah, Banten), 9 OKKPD dalam proses verifikasi (Provinsi DKI Jakarta, Bali, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Bengkulu), 5 OKKPD dalam proses penyempurnaan dokumen sistem jaminan mutu (Provinsi Maluku, Gorontalo, Sulawesi Barat, Papua Barat, Papua), serta 3 OKKPD masih dalam tahap penyusunan dokumen sistem jaminan mutu (Provinsi Aceh, Kepulauan Riau, dan Maluku Utara). Dua LSPO yang difasilitasi adalah PT. Agri Mandiri Lestari dengan status akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) dan LS-Pro Balai Penelitian Tanaman Padi Jawa Barat yang masih dalam proses penyusunan dokumen sistem jaminan mutu.

Target akreditasi lembaga pengujian mutu alat mesin pertanian yang ditargetkan 3 unit/lembaga, pada tahun 2012 hanya tercapai 1 unit/lembaga (33,3%). Pada awalnya ada 3 unit Laboratorium Uji Alsintan yang telah menyiapkan dokumen untuk proses pengajuan akreditasi ke Komite Akreditasi Nasional (KAN). Ketiga laboratorium ini adalah 1) Balai Pengujian Mutu Alsintan (BPMA), 2) Laboratorium Uji Universitas Gajah Mada Yogyakarta, dan 3) laboratorium Uji Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember. Namun anggaran untu pengajuan akreditasi ke KAN mengalami pemotongan dalam rangka penghematan anggaran, sehingga hanya satu yang dapat terakreditasi, yaitu BPMA.

Pada tahun 2012, telah dilaksanakan 3 kerjasama standar mutu, yaitu :

a. Kerjasama dengan Lembaga Pemerintah dan Non Pemerintah baik di dalam negeri dan di luar negeri untuk mendukung pengembangan mutu dan standardisasi bidang pertanian, yaitu Trade Support Programe II (TSP II) yang merupakan lanjutan dari TSP I yang merupakan fasilitasi perdagangan pangan asal Indonesia ke negara ketiga terutama Uni Eropa. Pada tahun 2012 fasilitasi terutama untuk biji pala; dan pengenbangan Indonesia Rapid Alert System on Food and Feed (INRASFF) untuk menindaklanjuti nasalah keamanan pangan segar hasil pertanian yag dinotifikasi oleh negara mitra.

b. Kerjasama pengembangan pangan organik dengan Philipina.

c. Kerjasama standardisasi untuk ASEAN Pesticide Residue Data Generation yang merupakan kegiatan kerjasama ASEAN dengan United State Drug Administration (USDA), dimana salah satu dari 4 Pilot Project Standard Trade Development Fund dilaksanakan di Indonesia, yaitu survey kandungan bahan aktif residu pestisida azoxystrobin pada buah naga.

Harmonisasi standar mutu pada tahun 2012 meliputi 4 forum pembahasan, yaitu 2 forum di tingkat regional ASEAN, satu forum di tingkat Asia serta satu forum di tingkat internasional (forum Codex). Pada forum Codex Direktorat Jenderal PPHP c.q. Direktorat Mutu dan Standardisasi selaku Mirror Committee aktif dalam penyusunan posisi Indonesia untuk sidang-sidang Codex, selain itu Direktorat Jenderal PPHP juga memfasilitasi Kesekretariatan Codex. Harmonisasi standar regional antara ain melalui sidag ke 16 Expert Working Group on Harmonization of Maximum Residue Limits (EWG-MRLs) of Pesticides among ASEAN Countries, Sidang ke 8 Task Force on ASEAN Standards for Horticultural Produce an Othe Food Crops, Global Organic Market Access (GOMA) dan fasilitasi penyiapan data ilmiah residu bahan imia pangan segar.

Jumlah pengujian mutu dan sertifikasi alsintan yang ditargetkan sebanyak 192 terealisasi sebanyak 233. Hal ini dikarenakan banyaknya permintaan dari produsen alsintan untuk sertifikasi produknya .

3.2.2. Indikator Kinerja Peningkatan Jumlah Lembaga Pemasaran Petani Dalam

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Dr. Ir. Haryono, MSc. NIP (Halaman 39-46)