• Tidak ada hasil yang ditemukan

SMK BISNIS DAN MANAJEMEN KOTA SEMARANG

DI KOTA SEMARANG 1. Indikator mengembangkan materi yang di ajarkan:

5. Indikator melaksanakan evaluasi hasil belajar

a. Bagaimana pelaksanaan evaluasi pembelajaran yang dilakukan bapak/ibu?

Lampiran 3

Hasil Wawancara Guru Produktif Pemasaran di SMK Pelita Nusantara 1

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan Ibu Indah Murdjayanti W. S.Pd sebagai salah satu guru produktif pemasaran yang mewakili SMK Pelita Nusantara 1 Semarang, bertujuan untuk mengetahui kondisi kompetensi profesional guru produktif pemasaran di sekolah tersebut. Menurut beliau materi yang diajarkan meyesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang telah dibaut di RPP. Sehingga guru focus pada materi tersebut.

Guru produktif pemasaran menggunakan metode sesuai dengan karakter siswa gar materi yang diasampaikan dapat dipahami. Adapun metode yang dipaka biasanya ceramah, diskusi dan tanya jawab. Melalui cara tersebut diharpkan siswa bisa lebih menyerap materi dengan baik.

Pembelajaran ditunjang dengan menggunakan LCD, adanya laboaraturium pemasaran dan fasilitas lain dapat menunjang proses pembelajaran. Berbagai sumber belajar digunakan untuk memperkaya ilmu, seperti penggunaan buku paket, artikel amupun sumber dari internert yang relevan.

Dalam merencanakan dan mengorganisai pembelajaran, guru berbagi satu sama lain. Guru masih kesulitan jika menyusun secara mandiri program pembelajarannya. Pelaksanaan RPP fleksibel sesuai kondisi siswa. Evaluasi pembelajaran dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa mengenai materi yang diajarkan. Guru melakukan remedial bagi siswa yang belum tuntas dan pengayaan bagi siswa yang telah mencapai bats minimal KKM.

Berdasarkan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa guru produktif pemasaran secara garis besar kompeten dalam menjalankan tugasnya khususnya pada kompetensi profesional guru akan tetapi masih kurang kompeten dalam mengorganisasi program pembelajaran.

Lampiran 4

Hasil Wawancara Guru Produktif Pemasaran di SMK Negeri 2 Semarang

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan bapak Drs. Karyoso sebagai salah satu guru produktif pemasaran yang mewakili SMK Negeri Semarang bertujuan untuk mengetahui kondisi kompetensi profesional guru produktif pemasaran di sekolah tersebut. Menurut beliau dalam mengembangkan materi yang disampaikan kepada siswa guru tidak hanya berfokus pada standar kompetensi yang telah ditetapkan meskipun Smk tersebut telah menggunakan kurikulum 2013.Akan tetapi guru mengembangkan sendiri sesuai tuntutan perkembangan zaman. Hal ini bertujuan agar siswa mempunyai wawasan yang luas dan dapat diterapkan ketika lulus nanti.

Penggunaan metode pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Disamping itu guru juga mempertimbangkan karakteristik siswa sebelum memutuskan untuk ,menggunkan metode pembelajaran yang sesuai. PBL ataupun metode lain yang dapat membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator, sehingga siswa dapat menggali maupun mengkonstruksi pemahamannya sendiri sesuai tujuan pembelajaran.

Pembelajaran yang dilakukan berbasis IT. Biasanya guru memanfaatkan fasilitas dan sarana-prasarana sekolah karena dinilai sudah memadai. Penggunaan LCD mempermudah siswa dalam menyerap materi yang diajarkan. Guru menyusun materi yang diajarkan dalam bentuk modul dengan mengambil materi dari berbagai sumber yang relevan. Seperti buku, artikel maupun dari internet yang disesuaikan dengan materi ajar.

Dalam merencanakan dan melaksanakan program pembelajaran, guru terlihat menguasai dan memahami apa yang seharusnya mereka lakukan. Dengan melihat perhitungan hari efektif guru dapat dengan mudah mengorganisasi program pembelajaran seperti pembuatan RPP hingga evaluasi hasil belajar. Apabila pembelajaran tidak sesuai target maka guru memberikan tugas sebagai

Evaluasi dilakukan tidak hanya setelah pembelajaaran dilakukan namun selama proses pembelajaran berlangsung. Selain itu guru member tugas kepada siswa sebagai bagian portopolio siswa. Siswa kurang aktif berikan pendekatan secara individual dan yang aktif diberi apresiasi melalui pemberian poin keaktifan. Apabila terdapat siswa yang belum tuntas maka siswa tersebut diberikan remedial, biasanya yang dilakukan memberikan soal dengan karakteristik yang sama ataupun diganti dengan tugas sesuai materi yang belum dipahami siswa.

Berdasarkan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa guru produktif pemasaran kompeten dalam menjalankan tugasnya khususnya pada kompetensi profesional guru. Guru telah memahami dan dapat mengembangkan materi dengan baik, menerapkan model pembelajaran yang sesuai, mengunakan alat dan media yang tepat untuk mendukung proses pembelajaran, mampu mengorganisasi pembelajaran dan melaksanakan evaluasi peserta didik.

Lampiaran 5

Hasil Wawancara Guru Produktif Pemasaran di SMK Purnama Semarang

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan Ibu Dra.Sri Umi Saduarti sebagai salah satu guru produktif pemasaran yang mewakili SMK Purnama Semarang, bertujuan untuk mengetahui kondisi kompetensi profesional guru produktif pemasaran di sekolah tersebut. Menurut beliau guru perlu memberikan pendekatan secara pribadi agar siswa mampu memahami materi sesuai dengan SK dan KD.

Metode yang digunakan adalah jigsaw dan metode diskusi kelompok agar anak tetap aktif. Akan tetapi guru masih bingung ketika diminta menyebutkan metode lain karena sering menggunakan metode tersebut. Proses pembelajaran dapat lebih mudah dilakukan melalui bantuan LCD dan laptop dengan didukung berbagai sumber dari buku paket seperti erlangga, yudistira, armeko dan sumber lain yang relevan. Akan tetapi guru belum menyusun modul tersendiri dan belum menggunakan inovasi media ataupun alat dalam pembelajaran.

Program pembelajaran yang ada di silabus digunakan untuk membuat RPP. Akan tetapi pelaksaan RPP yang dibuat belum efektif karena fleksibel menyesuaikan siswa seihngga cendurung maju-mundur dari target yang direncanakan. Sehingga ada materi yang belum disampaikan secara menyeluruh. Evaluasi dilakukan untuk mengukur pemahaman siswa. Siswa yang belum lulus akan di remidi agar bisa mencapai standar KKM yang ditetapka dan diulangi hingga siswa benar-benar menjadi tuntas.

Berdasarkan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa guru produktif pemasaran sudah baik namun masih kurang kompeten dibeberapa indikator kompetensi profesional yang digunakan dalam penelitian ini, seperti menerapkan berbagai metode pembelajaran, mengembangkan media dan mengorganisasi program pembelajaran.

Lampiaran 6

Hasil Wawancara Guru Produktif Pemasaran di SMK Ignatius Semarang

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan Ibu Suparwini, S.E. sebagai salah satu guru produktif pemasaran yang mewakili SMK Purnama Semarang, bertujuan untuk mengetahui kondisi kompetensi profesional guru produktif pemasaran di sekolah tersebut. Menurut beliau mengatur bangku sesuai karakteristik siswa agar lebih mudah menyampaikan materi.

Metode yang diterapkan paling banyak adalah ceramah dan penugasan. Akan tetapi guru masih bingung ketika diminta menyebutkan metode lain yang biasanya digunakan dalam pembelajaran. Fasilitas LCD disekolah tersebut masih bergantian dipakai, akan tetapi guru belum mencari alternatif media lain untuk mendukung pembelajaran. Sumber belajar yang digunakan seperti buku paket dan internet. Guru memperbolehkan siswa menggunakan fasilitas internet di HP mereka untuk mencari materi yang terkait dalam pembelajaaran.

Perencanaan pembelajaran disusun dalam bentuk RPP. Guru bekerjasama dalam menyusun RPP tersebut. Pelaksanaannya sesuai dengan kondisi siswa dan diusahakan sesuai target. Evaluasi dilakukan secara lisanm, tertulis dan juga ada penugasan. Remidi dilakukan kepada siswa yang belum memenui kkm dengan soal yang identik jika belum tuntas maka siswa diberi tugas.

Berdasarkan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa guru produktif pemasaran secara masih perlu meningkatkan kemampuannya agar dapat memenuhi standar kompetensi professional, seperti dalam menerapkan berbagai metode, mengembangkan media dan mengorganisasi program pembelajaran.

Lampiaran 7

Hasil Wawancara Guru Produktif Pemasaran di SMK Swadaya Semarang

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan Ibu Yayuk Samiatun, S.Pd sebagai salah satu guru produktif pemasaran yang mewakili SMK Swadaya Semarang, bertujuan untuk mengetahui kondisi kompetensi profesional guru produktif pemasaran di sekolah tersebut. Menurut beliau penyampaian materi perlu menggunakan metode yang disesuaikan siswa. Guru memberikan pemahaman dan motivasi agar siswa semangat dalam belajar.

Dalam pelaksanaannya guru menggunakan mmetode “studi liner”. Alasan menggunakan metode ini karena dengan ceramah saja tidak cukup. akan tetapi guru tersebut masih bingung ketika diminta menjelaskan mengenai metode tersebut. Dalam pembelajaran guru terkadang menggunakan LCD, namun lebih banyak ceramah. Kurikulum yang dipakai pada SMK ini adalah KTSP. Guru belum mengunakana alternatif lain dalam mengembangkan media dan alat dalam menunjang pembelajaran. Sumber belajar yang dipakai menggunakai modul yang disusun guru dan internet.

Dalam merencanakan pembelajaran guru merujuk pada reverensi yang terdahulu, dengan menggunakan metode yang disesuaikan dengan kondisi kelas. RPP hanya sebagai “teori” saja pelaksanaannya fleksibel. Untuk mengefektifkan program pembeljaran yang dibuat maka guru mengingatkan materi yang belum disampaikan kepada siswa. Evaluasi dilakukan dengan menyimpulkan materi diakhir pembelajaran ddan dengan pemberian tugas kepada siswa.

Berdasarkan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa guru produktif pemasaran secara masih perlu meningkatkan kemampuannya dibeberapa aspek agar dapat memenuhi standar kompetensi profesional, seperti dalam menerapkan berbagai metode, mengembangkan media, mengorganisasi & evaluasi program pembelajaran.

Lampiaran 8

Hasil Wawancara Guru Produktif Pemasaran di SMK Palebon Semarang

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan Bapak Soeroso,S.Pd sebagai salah satu guru produktif pemasaran yang mewakili SMK Swadaya Semarang, bertujuan untuk mengetahui kondisi kompetensi profesional guru produktif pemasaran di sekolah tersebut. Menurut beliau dalam menyampaikan materi harus memperhatikan kondisi siswa dan terintegrasi dengan pelajaran lain. Model pembelajaran menggunakan model pembelajaran interaktif sesuai dengan kurikulum 2013. Metode yang biasanya digunakan yaitu Problem Based Learning. Karena menggunakan metode ini dianggap lebi efektif membuat siswa aktif dalam pembelajaran sehingga guru tinggal mengarahkan saja agar siswa mampu mencapai tujuan pembelajaran.

Guru menggunakan LCD dalam pembelajaran, sarana-prasarana sekolah memadai sehingga selain mendapatkan teori siswa penggunaan laboraturim pemasaran mewadahi siswa dalam melakukan praktek kejuruan. Sumber belajar yang digunakan seperti buku paket, majalah, internet dengan pengembangan yang dilakukan oleh guru agar materi yang disampaikan actual.Dalam merencanakan program pembelajaran guru melakukan rapat kerja dan saling mengisi informasi dalam membuat informasi. Pelaksanaan RPP terkadang tidak sesuai dengan taeget karena memastikan siswa harus dapat memahami materi yang disampaikan. Penugasan materi yang belum tersampaikan merupakan langkah yang diambil untuk mengefektifkan program pembelajaran yang telah dibuat. Evaluasi dilakukan melalui tes dan siswa diberikan motivasi serta remedial agar siswa mampu memenuhi KKM.

Berdasarkan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa guru produktif pemasaran secara garis besar kompeten dalam menjalankan tugasnya khususnya pada kompetensi profesional guru akan tetapi masih perlu meningkatkan kemampuan dalam mengorganisasi program pembelajaran.

Lampiaran 9

Hasil Wawancara Guru Produktif Pemasaran di SMK Muhammadiyah 1

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan Ibu Tika, S.Pd. sebagai salah satu guru produktif pemasaran yang mewakili SMK Muhammadiyah 1 Semarang, bertujuan untuk mengetahui kondisi kompetensi profesional guru produktif pemasaran di sekolah tersebut. Menurut beliau pengelompokan siswa berdasarkan karakteristinya dapat mempermudah guru dalam menyampaikan materi. Siswa yang berbeda karakteristinya diperlakukan berbeda pula. Metode yang dilakukan agar siswa bisa lebih memahami materi adalah dengan tutor sebaya. Dengan metode tersebut diharapkan siswa lebih dapat meemahami materi melalui penyampaian temanya dan tidak canggung untuk bertanya. Proses pembelajaran terkadang menggunakan LCD dan disertai dengan ceramah. Namun guru belum mencoba mengembangkan media pembelajaran lain yang dapat mendukung pembelajaran dikelas. Sumber belajar yang dipakai yaitu buku paket, internet dan modul yang berupa ringkasan pelajaran.

Penyusunan program pembelajaran masih saling berbagi satu sama lain. Hal ini dapat dari guru masih ragu dalam menyebutkan model pembelajaran yang ada dalam RPP. Adapun pelaksanaan RPP yang dibuat menyesuaikan kondisi siswa, bagi guru hal yang paling penting adalah siswa memahami materi yang disampaikan. Pemadatan diluar KBM merupakan upaya yang dilajkukan guru untuk mengefektifkan program pembelajaran yang telah dibuat. Evaluasi dilakukan melalui berbagai ulangan ataupun tes tertulis kepada siswa dan program remedial dilakukan ubagi siswa yang belum dapat mencapai KKM.

Berdasarkan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa guru produktif pemasaran secara masih perlu meningkatkan kemampuannya dibeberapa aspek agar dapat memenuhi standar kompetensi profesional, seperti dalam menerapkan berbagai metode, mengembangkan media, mengorganisasi & evaluasi program pembelajaran.

Lampiaran 10

Hasil Wawancara Guru Produktif Pemasaran di SMK Nusa Bhakti

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan Ibu Surya Mei S, S.E.,S.Pd sebagai salah satu guru produktif pemasaran yang mewakili SMK Nusa Bhakti Semarang, bertujuan untuk mengetahui kondisi kompetensi profesional guru produktif pemasaran di sekolah tersebut. Cara guru agar dapat menyampaikan materi ajar dengan menganti-ganti model pembelajaran dengan mempertimbangkan kondisi siswa. Metode pembelajaran yang biasanya dipakai oleh guru yaitu game, penugasan kelompok selain itu guru menggunakan metode tutor sebaya agar siswa lebih paham memahami materi yang disampaikan. Guru menyebutkan suatu metode dengan per bagian langkah dan belum menyebutkan nama atau jenis metode yang dipakai.

Dalam pembelajaran, guru menggunakan LCD alternatif lain yang digunakan guru dengan menyuruh siswa untuk menulis dipapan tulis, pengembangan media maupun alat dalam kbm dikelas belum dilakukan karena media yang ada dianggap telah memadai. Sumber belajar yang dipakai seperti buku paket erlangga dan yudistira, guru masihgai salah satu menggunakan modul yang berada dipasaran sebagai salah satu sumber belajar.

Perencanaa pembelajaran melalui pembuatan RPP, dalam penyusunannya guru masih saling berbagi satu sama lain. Pelaksanaan RPP menyesuaikan dengan kondisi dalam pembelajaran sehingga terkadang belum tepat dengan perencanaan awal. Guru memberikan tugas terkait materi yang belum tersampaikan. Evaluasi yang dilakukan melalui pre-test dan post-test serta ulangan tertulis lain.

Berdasarkan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa guru produktif pemasaran secara masih perlu meningkatkan kemampuannya dibeberapa aspek seperti dalam menerapkan berbagai metode, mengembangkan media, mengorganisasi & evaluasi program pembelajaran agar menunjang kompetensi profesionalnya.

Lampiran 11

Hasil Wawancara Guru Produktif Pemasaran di SMK YPE Semarang

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan Ibu Surati, S.Pd sebagai salah satu guru produktif pemasaran yang mewakili SMK Swadaya Semarang, bertujuan untuk mengetahui kondisi kompetensi profesional guru produktif pemasaran di sekolah tersebut. Materi yang digunakan masih merujuk dari sumber terdahulu, guru belum mengembangkan sendiri amateri yang hendak diajarkan. Agar lebih paham guru meminta meresume materi stelah siswa membaca buku pelajaran.

Metode diskusi paling sering digunakan guru, dengan memberikan tugas setiap siswa dalam kelompok. Disamping itu guru menggunakan metode ceramah dengan reward dan punishment. Namun guru masih bingung ketika dimeinta menyebutkan metode lain yang biasanya dipakai.

Pembelajaran belum ditunjang dengan LCD, siswa hanya diminta mengamati dari slide yang ditampilkan dilaptop secara langsung. Hal ini tentu saja dianggap tiadak efektif namun guru belum melakukan trobosan melalui media taupun alat dalam pembelajaran tersebut. Sumber belajar yang digunakan adalah buku teks (pegangan) dan LKS. Guru belum menyusun modul sendiri.

Pembuatan RPP saling mengisi satu sama lain, pelaksanaannya fleksibel sesuai kondisi siswa. Cara mengefektifkan program pembelajaran yang telah dibuat dengan menyelesaikan LKS sesuai materi. Evaluasi dilakukan melalui ulangan haraian, UTS dan UAS. Guru mengulas kembali materi yang belum dipahami, remidi ataupun penugasan dilakukan agar siswa bias memenuhi KKM.

Berdasarkan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa guru produktif pemasaran secara masih perlu meningkatkan kemampuannya agar kompetensi professional yang dimiliki semakin baik, seperti dalam menerapkan berbagai metode pembelajaran, mengembangkan media dan mengorganisasi program pembelajaran.

Lampiaran 12

Hasil Wawancara Guru Produktif Pemasaran di SMK Antonius Semarang

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan Ibu Dra. Yustina Indarti sebagai salah satu guru produktif pemasaran yang mewakili SMK Antonius Semarang, bertujuan untuk mengetahui kondisi kompetensi profesional guru produktif pemasaran di sekolah tersebut. Menurut beliau cara menyampaikan materi ajar yang baik kepada siswa melalui metode yang sesuai dengan karakteritik siswa tersebut.

Diskusi dan ceramah bervariasi adalah metode pembelajaran yang sering digunakan. Smk tersebut menggunakan kurikulum KTSP, guru masih bingung ketika diminta menyebutkan metode pembelajaran lain yang digunakan saat mengajar. Saat mengajar guru telah menggunakan LCD maupun laptop, pengembangan media lain belum dilakukan karena sarana-prasarana disekolah memadai. Hendaknya guru dapat mengembangkan media lain sebagai penunjang pembelajaran agar siswa lebih tertarik terkait materi yang disampaikan. Penggunaan HP bagi siswa dikelas diperbolehkan agar siswa bias mencari informasi lewat internet. Sumber belajar lain yang digunakan seperti buku pegangan dan media elektonik contohnya adalah Koran.

Program pembelajaran tertuang pada RPP yang pembuatannya beserta guru lain dalam menghitung hari efektif. Pelaksanaannya tidak selalu sesuai RPP, untuk mengefektifkannya guru memberikan penugasan. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui pre-test dan post-test. Siswa yang belum tuntas maka akan diremidi sampai tuntas.

Berdasarkan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa guru produktif pemasaran secara garis besar kompeten dalam menjalankan tugasnya khususnya pada kompetensi profesional guru akan tetapi masih perlu meningkatkan kemampuan dalam menerapkan metode yang variatif, mengembangkan media dan mengorganisasi program pembelajaran secara mandiri.

Lampiaran 13

Hasil Wawancara Guru Produktif Pemasaran di SMK Cut Nya’ Dien

Semarang

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan Ibu Wiwik Nurfiana, S.Pd. sebagai salah satu guru produktif pemasaran yang mewakili SMK Antonius Semarang, bertujuan untuk mengetahui kondisi kompetensi profesional guru produktif pemasaran di sekolah tersebut. Menurut beliau cara untuk menyampaikan materi kepada siswa dengan memberikan contoh aplikatif. Materi yang diajarkan masih sebatas yang ada pada silabus, guru belum mengembangkan sendiri materi yang diajarkan.

Ibu wiwik memaparkan metode pembelajaran yang digunakan sekedar praktik, membuat kelompok, presentasi hasil diskusi. Siswa dituntut untuk menjelaskan dengan bahasa sendiri. Media yang dipakai dalam pembelajaran yaitu slide power point dan peralatan sesuai kompetensi, media lain yang digunakan seperti kunjungan ke Indomaret. Guru belum menciptakan trobosan media sendiri. Sumber belajar yang dipakai yaitu buku paket, LKS dan BSE.

Perencanaan pembelajaran yang ada pada RPP mempertimbangkan bahan yang bias disearp dan metode yang digunakan. Dalam pelaksanaannya RPP dianggap sebagai prasyarat karena pembelajaran berlangsung sesuai kondisi kelas. Untuk materi yang belum disampaikan tetap dikejar atau dipadatkan. Sehingga materi yang disampaikan belum bisa secara mendetail disampaikan. Evaluasi hasil belajar yang dilakukan seperti pre-test,post-test, ualanagn harian maupun dari penugasan-penugasan. Siswa yang belum lulus diremidi hingga siswa tersebut tuntas.

Berdasarkan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa guru produktif pemasaran secara masih perlu meningkatkan kemampuannya agar dapat memenuhi standar kompetensi professional, seperti dalam menerapkan berbagai metode, mengembangkan media dan mengorganisasi program pembelajaran.

Lampiaran 14

Hasil Wawancara Guru Produktif Pemasaran di SMK Negeri 9 Semarang

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan Ibu Dra. Indah Sulistyawati sebagai salah satu guru produktif pemasaran yang mewakili SMK Negeri 9 Semarang bertujuan untuk mengetahui kondisi kompetensi profesional guru produktif pemasaran di sekolah tersebut. Menurut beliau sebelum menyampaikan materi guru mengenal nama-nama siswa lalu mengelompokkannya dengan mempertimbangkan karakteristik siswa tersebut.

Metode pembelajaran yang dipakai adalah model diskusi berbasis masalah sesuai dengan kurikulum 2013. Sehingga siswa lebih aktif dan percaya diri karena dalam pembelajaran hasil diskusi dikomunikasikan didepan kelas. Dalam kurikulum, 2013 guru bertindak sebagai fasilitator, media maupun sarana-prasarana disekolah mempu menunjang kegiatan pembelajaran. Sumber belajar yang digunakan adalah buku paket, sumber dari internet yang relevan dengan silabus.

Perencanaan program pembelajaran dimulai dari perhitungan hari efektif hingga tertuang dalam prota,promes dan RPP. Dalam penyusunan RPP guru dapat dengan mandiri merencanakan apa yang hendak diajarkan dikelas. Untuk mengefektifkan program pembelajaran bagi siswa yang sedang prakerin maka dilakukan pemadatan ataupun jika tidak selesai maka diberi tugas. Evaluasi yang dilakukan mencakup tiga aspek yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan. Apabila ada siswa yang belum tuntas maka akan diberi remedial, jika belum tuntas juga maka diberi tugas hingga siswa dapat mencapai satandar KKM.

Berdasarkan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa guru produktif pemasaran kompeten dalam menjalankan tugasnya khususnya pada kompetensi profesional guru. Guru telah memahami dan dapat mengembangkan aspek yang dipersyaratkan dalam melaksanakan kompetensi professional.

Lampiaran 15

Hasil Wawancara Guru Produktif Pemasaran di SMK Yayasan Pharmasi

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan bapak Drs. Prayogi, S.E, M.Si sebagai salah satu guru produktif pemasaran yang mewakili SMK Yayasan Pharmasi Semarang bertujuan untuk mengetahui kondisi kompetensi profesional guru produktif pemasaran di sekolah tersebut. Menurut beliau agar siswa dapat memahami materi yang sesuai dengan menggunakan metode pembelajaran yang cocok.

Metode pembelajaran yang sering digunakan adalah ceramah bervariasi. Karena dengan ,metode ini siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran. Guru telah menggunakai LCD untuk mendukung pembelajaran dikelas. Media yang digunakan disamping fasilitas sekolah adalah alat komunikasi yang dimiliki siswa yang dihubungkan dengan guru ketika praktik salah satu standar kompetensi misalnya berhubungan dengan kolega. Jadi guru bias langsung memantau bagaimana cara siswa melakukan komunikasi yang baik. Sumber belajar yang