6. ANALISIS INDIKATOR PRIORITAS DALAM PEMBANGUNAN
6.2 Metodologi Penelitian
6.4.1 Indikator Penting dalam Pembangunan Infrastruktur
Pendapat masyarakat terhadap pembangunan infrastruktur berkelanjutan dilihat dari 2 tahapan, pertama pilihan masyarakat terhadap indikator yang berpengaruh, dan kedua pilihan masyarakat menurut tingkat kepentingan pada setiap indikator berpengaruh yang sudah dipilih. Hasil survei menunjukkan bahwa 7 indikator yang berpengaruh yang dipilih masyarakat ada yang tidak sama
dengan 7 indikator penting, seperti pada kriteria lingkungan dan kriteria sosial. Sedangkan indikator berpengaruh dan indikator penting yang sama atau ada irisan terdapat pada kriteria ekonomi, teknologi dan tata kelola pemerintahan. Indikator berpengaruh dan tingkat kepentingan untuk ke 5 kriteria pembangunan infrastuktur berkelanjutan dapat dilihat pada Tabel 52.
Tabel 52 Indikator berpengaruh menurut masyarakat dalam pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Kota Bandarlampung
Kriteria & indikator
Faktor Berpengaruh (urutan jumlah) Tingkat Kepentingan (skala kepentingan) Lingkungan 1. Kualitas air
2. Kualitas udara
3. Kawasan permukiman kumuh 4. Perkembangan lahan terbangun 5. Kemacetan lalu lintas 6. Ketersediaan air baku 7. Daya dukung lahan
1. Kemacetan lalu lintas 2. Kualitas air 3. Ketersediaan air baku 4. Kualitas udara
5. Perkembangan lahan terbangun
Sosial 1. Tingkat indeks perkembangan manusia
(IPM)
2. Keamanan dan ketertiban
3. Pengolahan sampah oleh masyarakat 4. Tingkat pengangguran
5. Perkembangan penduduk miskin 6. Perilaku masyarakat terhadap infrastruktur 7. Sistem air limbah oleh masyarakat
1. Tingkat indeks permbangunan manusia/ IPM
2. Keamanan dan ketertiban kota 3. Tingkat pengangguran kota 4. Pengolahan sampah oleh masyarakat 5. Perilaku (budaya) masyarakat
Ekonomi 1. Tingkat Upah Minimum Kota
2. Pertumbuhan ekonomi lokal
3. Pertumbuhan APBD
4. Pendapatan perkapita 5. Tarif pelayanan infrastruktur 6. Pertumbuhan ekonomi (PDRB) 7. Pertumbuhan investasi kota
1. Tingkat Upah Minimum Kota 2. Pertumbuhan ekonomi lokal
3. Pertumbuhan APBD
4. Pertumbuhan ekonomi /PDRB
Teknologi 1. Sistem pengelolaan sampah 2. Sistem pelayanan air bersih
3. Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) 4. Sistem drainase kota
5. Sistem air limbah kota 6. Ketersediaan angkutan umum 7. Ketersediaan fasilitas pejalan kaki
1. Sistem pelayanan air bersih 2. Sistem pengelolaan sampah 3. Sistem drainase kota
4. Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) 5. Ketersediaan sistem air limbah kota 6. Ketersediaan angkutan umum Tata Kelola 1. Penegakan hukum dan sanksi
2. Perencanaan infrastruktur
3. Anggaran pembangunan infrastruktur 4. Kepemimpinan yang visioner 5. Kapasitas sumber daya manusia di
pemerintahan 6. Partisipasi masyarakat 7. Peraturan tentang infrastruktur
1. Kepemimpinan yang visioner 2. Penegakan hukum dan sanksi 3. Perencanaan infrastruktur 4. Anggaran infrastruktur
Jika dikaitkan dengan 24 indikator penting pada tabel di atas, maka pendapat masyarakat tentang kondisi masing-masing indikator sesuai dengan data-data yang diperoleh dari instansi terkait pada Bab IV. Untuk kriteria lingkungan, pendapat masyarakat adalah perkembangan lahan terbangun yang merusak kawasan lindung, terutama gunung, bukit dan lereng yang ada di dalam kota. Kemacetan di dalam kota sudah dirasakan mengganggu, diantaranya menyebabkan pencemaran udara, sehingga kualitas udara kota menjadi menurun. Kualitas air juga dirasakan masyarakat makin buruk, hal ini terutama bagi masyarakat kawasan pesisir, karena adanya intrusi air laut. Untuk ketersediaan air
bersih (PDAM) dirasakan masyarakat kurang, karena ketersediaan air baku juga berkurang. Hal ini didukung data bahwa pelayanan air bersih baru mencapai 30 % tahun 2011. Harapan masyarakat untuk kriteria lingkungan adalah pembenahan peraturan yang berkaitan dengan penggunaan lahan di kawasan lindung, terutama penggunaan gunung, bukit dan lereng. Masyarakat juga berharap pemerintah mengatasi kemacetan kota yang selalu meningkat setiap tahunnya, melalui pengurangan jumlah kendaraan dan penambahan jaringan jalan. Data jaringan jalan 10 tahun terakhir (2001-2011) menunjukkan belum ada pertambahan jaringan jalan di Kota Bandarlampung.
Untuk kriteria sosial, pendapat masyarakat untuk indikator yang terpenting adalah masih rendahnya pelayanan kesehatan dan pendidikan di Kota Bandarlampung. Masyarakat merasa belum mendapat pelayanan maksimal di Rumah Sakit Umum Daerah. Pada tahun 2013 terjadi kasus yang sangat memprihatinkan, bahwa pegawai RSUD Kota Bandarlampung membuang seorang pasien miskin dan akhirnya meninggal. Begitu juga dengan pelayanan pendidikan, masyarakat belum merasa adanya pemerataan dan keadilan memperoleh pendidikan yang layak. Keamanan dan ketertiban Kota Bandarlampung dirasakan masyarakat masih rendah, karena angka kriminalitas masih tinggi. Tingkat pengangguran juga dirasakan masyarakat tinggi, karena banyak sarjana yang masih menganggur. Perilaku masyarakat yang berkaitan dengan penyediaan infrastruktur, dirasakan masyarakat juga indikator yang penting, seperti: partisipasi dalam pengelolaan sampah, penyediaan RTH private, penyediaan bak pengolahan limbah RT (septic tank ) serta penyediaan bidang resapan dan LRB (lobang resapan biopori). Harapan masyarakat adalah adanya peningkatan pelayanan kesehatan dan pendidikan, penyediaan lapangan kerja, peningkatan kemananan dan ketertiban dan pelibatan masyarakat dalam pengolahan sampah.
Untuk kriteria ekonomi, pendapat masyarakat bahwa, perlu perhatian pada ekonomi lokal, khususnya UMKM. Peningkatan PAD dan APBD di pemerintah kota belum berpengaruh langsung pada rakyat. Upah Minimum Kota (UMK) bagi masyarakat belum memenuhi KHL (Kebutuhan Hidup Layak), karena biaya hidup di kota Bandarlampung cukup tinggi. Harapan masyarakat adalah pengembangan ekonomi rakyat skala kecil seperti UMKM dan sektor informal. Penyediaan ruang bagi pedagang kaki lima, sehingga tidak selalu diusir oleh petugas penertiban umum. Masyarakat juga berharap APBD yang pro rakyat. Peningkatan UMK, sehingga dapat memenuhi KHL.
Untuk kriteria teknologi, pendapat masyarakat adalah bahwa hampir semua infrastruktur kota belum memadai. Pelayanan air bersih belum merata, drainase kota belum baik, pengelolaan sampah buruk, IPAL komunal masih sangat terbatas, ketersediaan RTH sangat kurang dan fasilitas pejalan kaki belum memadai. Harapan masyarakat lebih kepada teknologi infrastruktur yang berkelanjutan, seperti: ketersediaan air bersih, ketersediaan ruang terbuka atau taman kota aktif, pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, perbaikan saluran drainase kota, dan pengelolaan limbah kota dan ketersediaan angkutan umum
Untuk kriteria tata kelola pemerintah, pendapat masyarakat adalah pemimpin belum visioner, perencanaan infrastruktur yang tidak terpadu, penegakan hukum tidak tegas dan kurangnya anggaran untuk pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat. Harapan masyarakat adalah perlu pemimpin yang visioner yang mempunyai kebijakan pro rakyat. Pemimpin yang
dapat menegakkan peraturan dan hukum, pemimpin yang mempunyai perencanaan infrastruktur yang jelas serta peningkatan anggaran untuk infrastruktur yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Masyarakat berharap penegakan hukum yang tegas, merata dan betul-betul adil, perencanaan infrastruktur yang terintegrasi (terpadu) untuk berbagai jenis infrastruktur, sehingga tidak terjadi tumpang tindih di lapangan.
6.4.2 Indikator pembangunan infrastruktur berkelanjutan dalam dokumen perencanaan Kota Bandarlampung
Aplikasi kriteria dan indikator infrastruktur berlanjutan dalam dokumen perencanaan Kota Bandarlampung yang cukup lengkap dan terukur ada dalam RPJMD, walaupun belum semua bersifat kuantitatif. Dari 5 kriteria dan 47 indikator, maka jumlah indikator infrastruktur berkelanjutan yang ada dalam dokumen RPJMD Kota Bandarlampung adalah sebesar 28 indikator atau baru sebesar 60 %. Indikator pembangunan infrastruktur berkelanjutan tersebut terdiri dari: kriteria lingkungan 6 indikator (67 %), kriteria sosial yang meliputi 5 indikator (50 %), kriteria ekonomi terdiri dari 5 indikator (56 %), kriteria teknologi 7 indikator (78 %) dan kriteria tata kelola pemerintahan yang meliputi 5 indikator (50 %). Pembahasan untuk setiap kriteria dalam RPJMD dan dikaitkan dengan dokumen rencana lainnya adalah sebagai berikut:
- Kriteria Lingkungan
Indikator untuk kriteria lingkungan yang sudah tercantum dalam indikator kinerja RPJMD kriteria lingkungan 6 indikator yaitu: berkurangnya laju kerusakan gunung dan bukit; tertatanya kawasan kumuh perkotaan; pengendalian laju kawasan terbangun, menurunnya polusi udara (peningkatan kualitas udara); terjaga daerah resapan air dan sumber-sumber air ( ketersediaan sumber air baku), dan berkurang titik kemacetan. Indikator ini menjadi kebijakan pembangunan kota pada lima tahun terakhir dan berperan dalam penentuan status keberlanjutan infrastruktur kota saat ini.
Indikator lingkungan yang belum ada dalam RPJMD ada 3 yaitu: daya dukung lahan, kualitas air dan kualitas tanah. Ketiga indikator ini juga penting dalam kaitannya dengan ketersediaan infrastruktur. Indikator kualitas air dan tanah merupakan indikator pengungkit menurut hasil MDS pada bab terdahulu. Oleh sebab itu dalam kebijakan RPJMD yang akan datang perlu ditambahkan indikator-indikator tersebut, terutama kualitas air dan tanah.
Walaupun dalam indikator kinerja RPJMD belum ada, tetapi dalam perencanaan sektoral dan spatial lainnya indikator ini sudah dikaji, hanya tidak dalam bentuk indikator kinerja. Misalnya:
- Dalam perencanaan yang berkaitan dengan sumber daya air yang meliputi jaringan drainase dan air bersih (Rencana Induk Drainase dan Studi Kelayakan PDAM) sudah mempertimbangkan kriteria lingkungan melalui normalisasi sungai, melakukan penyimpanan air melalui sumur atau bidang resapan seperti: lobang resapan biopori (LRB), penggalakan embung dan konservasi TAHURA untuk pengembangan sumber air baku.
- Dalam Rencana Induk Sanitasi dan Sampah, perencanaan limbah baik limbah cair (air limbah) dan limbah padat atau sampah sudah mempertimbangkan kriteria lingkungan. Hanya saja untuk limbah cair, walaupun sudah mulai merencanakan pembangunan IPAL, tetapi belum ada rencana detail secara teknis pelaksanaannya bagaimana. Perencanaan untuk limbah padat atau sampah sudah lebih detail direncanakan bagaimana pengelolaan dengan 3 R dan berbagai prasarana dan sarana pendukungnya. Pengelolaan limbah ini berkaitan dengan peningkatan kualitas tanah.
- Kriteria Sosial
Indikator untuk kriteria sosial yang sudah terdapat dalam RPJMD meliputi 5 yaitu: meningkatnya angka partisipasi pendidikan dan kesehatan (IPM); berkurang jumlah masyarakat miskin; terjaga stabilitas, kerukunan dan ketertiban masyarakat; pengolahan sampah oleh masyarakat dan meningkatnya angka partisipasi angkatan kerja (tingkat pengangguran). Indikator-indikator ini menjadi kebijakan kota dan berpengaruh pada kondisi keberlanjutan infrastruktur kota saat ini.
Indikator lainnya yang belum terdapat dalam indikator kinerja adalah laju peningkatan jumlah penduduk, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan air limbah, pembuatan sumur resapan dan penyediaan air bersih (sumur bor dan sumur dangkal), dan pelanggaran terhadap infrastruktur (perilaku). Untuk indikator kinerja RPJMD yang akan datang ke 5 indikator ini perlu ditambahkankan. Hasil MDS pada bab terdahulu, beberapa dari indikator tersebut merupakan faktor pengungkit. Laju peningkatan penduduk yang tinggi di Bandarlampung kiranya perlu menjadi perhatian khusus pemerintah kota. Begitu pula peningkatan partisipasi masyarakat dalam penyediaan infrastuktur, seperti: pembuatan sumur resapan, kolam untuk panen air hujan (rain harversting) dan sebagainya. Indikator yang tidak kalah penting adalah perilaku masyarakat, apalagi kondisi sosial budaya masyarakat Kota Bandarlampung yang sangat rentan konflik.
Dalam RTRW, RIS, RPJMD dan RPIJM kriteria sosial yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur sudah dipertimbangkan, baik dalam kebijakan makro maupun kebijakan mikro yaitu dalam indikasi program. Dalam indikator kinerja RPJMD indikator-indikator untuk kriteria sosial sudah ada, walaupun masih umum atau tidak secara khusus untuk setiap jenis infrastruktur. Disamping itu, indikator sosial ini masih belum lengkap, masih fokus pada angka pengembangan manusia, kemiskinan dan ketertiban masyarakat, sedangkan indikator untuk keterlibatan masyarakat dalam pembangunan infrastruktur hanya ada sistem pengelolaan sampah oleh masyarakat. Dalam RTRW ada penetapan keterlibatan masyarakat dalam penyediaan ruang terbuka privat yang diharapkan 10 % dari 30 % yang disyaratkan undang-undang penataan ruang.
- Kriteria Ekonomi
Indikator untuk kriteria ekonomi yang ada dalam RPJMD terdiri dari 5 indikator yaitu: pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan PAD, laju pertumbuhan investasi, pertumbuhan ekonomi lokal (UMKM), dan tingkat UMK sesuai KHL.
Pertumbuhan ekonomi kota dipengaruhi oleh indikator tersebut dan ini juga mempengaruhi kondisi infrastruktur kota.
Indikator untuk kriteria ekonomi yang belum ada dalam RPJMD adalah: pertumbuhan APBD, pendapatan perkapita, tarif pelayanan infrastruktur dan peningkatan harga lahan kota. Indikator-indikator ini sangat berkaitan dengan penyediaan infrastruktur kota, oleh sebab itu dalam RPJMD yang akan datang perlu ditambahkan. Apalagi dari hasil MDS bab terdahulu, pendapatan perkapita merupakan faktor pengungkit. Pemerintah daerah perlu memberi perhatian pada peningkatan APBD untuk infrastruktur, menekan tarif infrastruktur serta menekan laju kenaikan harga lahan kota.
Dalam kebijakan makro RTRW, RIS, RPJMD dan RPIJM kriteria ekonomi yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur sudah dipertimbangkan. Dalam kebijakan mikro yaitu dalam indikasi program kriteria ekonomi berkaitan dengan infrastruktur muncul secara umum, kecuali dalam RPJMD, karena sudah ada indikator kinerja, tetapi tetap bersifat sektoral.
- Kriteria Teknologi
Indikator untu kriteria teknologi dalam RPJMD ada 7 indikator yaitu: meningkatnya jumlah jalan kota dan lingkungan; tertata kawasan bantaran sungai (RTH); berkurangnya sedimentasi sungai dan drainase; meningkat pelayanan air bersih; tersedia instalasi saluran limbah; tersedia fasilitas lalu lintas dan angkutan massal.
Indikator untuk kriteria teknologi yang ada dalam perencanaan sudah cukup lengkap, hanya dalam indikator kinerja RPJMD tidak muncul indikator teknologi untuk fasilitas pejalan kaki dan jalur sepeda. Untuk RPJMD yang akan datang perlu ditambahkan indikator ini agar dapat ditingkatkan status keberlanjutan infrastruktur kota Bandarlampung, karena dari hasil MDS pada bab terdahulu indikator tersebut merupakan indikator pengungkit.
Perencanaan transportasi dalam RTRW, RIS dan RIPJM sudah mempertimbangkan kriteria lingkungan melalui perencanaan jalur sepeda, angkutan umum dan pedestrian. Penggunaan moda angkutan umum, sepeda dan jalan kaki diharapkan dapat mengurangi kemacetan dan polusi dalam kota. Secara rinci adalah sebagai berikut:
- Dalam RTRW, RIS dan RPIJM ada program transportasi yang berkaitan dengan teknologi ramah lingkungan dengan penyediaan jalur sepeda, pembangunan fasilitas pejalan kaki.
- Dalam RTRW, RIS dan RPIJM perbaikan drainase alami dan pemeliharaan saluran drainase buatan agar dapat mengalirkan air dengan cepat atau mengurangi titik genangan.
- Dalam RTRW, RIS dan RPIJM ada rencana pembangunan instalasi air limbah komunal.
- Dalam RTRW , RIS dan RIPJM: ada program penggantian pipa yang lebih baik kualitasnya untuk mengurangi kebocoran air. Peningkatan pelayanan: pengembangan jaringan air minum fokus pada kawasan yg belum terlayani dan penggantian pipa.
- Dalam RTRW, RIS dan RPIJM ada program peningkatan pelayanan (prasarana dan sarana, TPA,TPS). Tetapi sistem pengelolaan sampah di TPS dan TPA belum menggunakan teknologi yang lebih ramah lingkungan.
- Dalam RTRW, RIS dan RPIJM ada program pengembangan RTH fokus pada taman kota, pengadaan lahan utk RTH, pemanfaatan GSS, GSP dan GS Rel, dan GSJ untuk jalur hijau. Belum ada pengembangan ruang terbuka pada atap bangunan, dinding bangunan atau bentuk lainnya.
- Kriteria tata kelola pemerintahan
Indikator untuk kriteria tata kelola pemerintahan yang terdapat dalam RPJMD meliputi 5 indikator yaitu: meningkatnya jumlah Perda yang disyahkan (peraturan), peningkatan kapasitas PNS melalui disiplin dan pendidikan (kapasitas SDM pemerintahan); tersedianya media pengaduan masyarakat (call center) ; tersedia anggaran; tersedia informasi perencanaan dan terlaksana perencanaan sesuai ketentuan (perencanaan).
Beberapa indikator yang belum ada dalam RPJMD adalah indikator yang berperan penting dalam pembangunan infrastruktur kota yaitu: institusi yang mewadahi antar sektor, kepemimpinan yang visioner, penegakan hukum dan kondisi sosial politik kota. Indikator ini perlu dimasukkan ke RPJMD yang akan datang, karena dari hasil MDS pada bab terdahulu, indikator-indikator tersebut adalah indikator pengungkit.
Kriteria tata kelola pemerintahan sudah dipertimbangkan dalam perencanaan infrastruktur yang diamati, terutama yang menyangkut indikator kelembagaan, pembiayaan dan partisipasi masyarakat, secara rinci dalam RTRW, RIS dan RPIJM adalah sebagai berikut:
1. Organisasi yang bertanggung jawab dalam pembangunan masing-masing jenis infrastruktur lebih dari satu lembaga dan penjabaran tugas masing-masing lembaga sudah ada. Hanya saja belum ada mekanisme koordinasi antar lembaga tersebut.
2. Anggaran dalam rencana masih berupa perkiraan ataupun usulan, baik jumlah maupun sumber. Alokasi anggaran ada pada setiap jenis dokumen rencana yang dianalisis, kecuali pada RTRW.
3. Partisipasi masyarakat dalam tahap perencanaan pembangunan infrastruktur masih terbatas pada penyusunan RTRW, yaitu dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Program partisipasi dalam lingkup yang lebih luas yaitu pelaksanaan pembangunan sudah diatur dalam dokumen perencanaan seperti: RTRW dan masterplan RTH, Air Limbah dan Persampahan.
Dalam RPJMD, indikator untuk tata kelola pemerintahan masih fokus pada kinerja pemerintahan yang berkaitan dengan kapasitas sumber daya manusia (khususnya Pegawai Negeri Sipil) dan adminstrasi pemerintahan, belum secara rinci memuat indikator yang berkaitan dengan kepemimpinan, transparansi anggaran dan partisipasi masyarakat.
Hasil analisis diatas menunjukkan bahwa indikator kinerja dalam RPJMD bersifat sektoral, sehingga tidak dapat menggambarkan keterkaitan antar indikator dalam kriteria yang dinilai. Agar keterkaitan antar indikator dapat diaplikasikan
24 indikator penting (masyarakat) 28 Indikator dlm Dokumen Rencana 26 Indikator kunci (stakeholder)
dalam pembangunan infrastruktur, maka perencanaan infrastruktur harus juga memperhatikan perencanaan spatial atau ruang sebagaimana yang tertuang dalam RTRW. Bentuk rencana pembangunan yang memadukan antara rencana sektoral dan rencana spatial ini sudah dimulai oleh Kementerian Pekerjaan umum dengan program Rencana Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM). Jadi RPI2JM adalah suatu bentuk program yang mendukung pembangunan infrastruktur berkelanjutan.
6.4.3 Indikator prioritas dalam pembangunan infrastruktur berkelanjutan Kota Bandarlampung
Rangkaian proses untuk memperoleh indikator prioritas pembangunan infrastruktur berkelanjutan diawali dari 50 indikator hasil tinjauan pustaka, kemudian dibawa ke FGD, sehingga diperoleh 47 indikator. Indikator tersebut digunakan untuk penilaian dari berbagai sumber yang meliputi: stakeholders,
masyarakat dan dokumen perencanaan. Hasil gabungan dari ketiga sumber tersebut diperoleh 27 indikator berpengaruh, selanjutnya indikator gabungan ini dibawa ke FGD pakar, sehingga diperoleh 20 indikator terpilih untuk dianalisis dalam ANP. Hasil analisis dengan ANP diperoleh 8 indikator prioritas, tahapan ini dapat dilihat pada Gambar 24.
Gambar 24 Tahapan analisis indikator prioritas pembangunan infrastruktur berkelanjutan
Indikator paling berpengaruh atau indikator prioritas hasil analisis ANP untuk ke 5 kriteria yang di analisis adalah: pertumbuhan ekonomi lokal, perencanaan infrastruktur, anggaran infrastruktur, ketersediaan sistem air bersih, partisipasi masyarakat, perilaku masyarakat, kualitas udara dan penggunaan lahan
8 3 5 11 FGD 20 indikator terpilih ANP 8 indikator prioritas 27 indikator berpengaruh hasil irisan dari 3 sumber : stakeholder, dokumen rencana dan masyarakat 50 indikator (kajian pustaka) 47 indikator hasil FGD
terbangun. Indikator paling berpengaruh tersebut akan menjadi arahan kebijakan yang diprioritaskan dalam pembangunan infrastruktur berkelanjutan kota di bawah ini.
Pertama: ketersediaan infrastruktur berpengaruh pada pengembangan ekonomi lokal yang merupakan ekonomi penggerak sebagian besar masyarakat kota. Ekonomi lokal kota berkaitan dengan ekonomi mikro dan ekonomi makro. Dalam konteks ekonomi makro dan mikro, ketersediaan jasa pelayanan infrastruktur berpengaruh terhadap biaya produksi (Abdul 2009). Kebutuhan akan infrastruktur kota yang mudah di akses, nyaman dan murah sangatlah berpengaruh dalam pengembangan ekonomi mikro, karena umumnya pelaku ekonomi mikro adalah kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Oleh sebab itu pembangunan infrastuktur kota hendaklah memperhatikan kebutuhan infrastruktur ekonomi mikro seperti: pemberian ruang bagi UMKM atau PKL di pusat-pusat kegiatan kota. Dalam konteks pembangunan infrastruktur berkelanjutan, maka ruang-ruang tersebut perlu dilengkapi dengan berbagai prasarana infrastruktur, mulai dari akses transportasi, ketersediaan air bersih, pengelolaan sampah, bahkan ruang terbuka kota.
Kedua: perencanaan infrastruktur merupakan indikator penting, terutama perencanaan yang terpadu antara pembangunan spasial dan sektoral dengan mempertimbangkan indikator pembangunan berkelanjutan. Keterpaduan antar sektor bidang infrastruktur khususnya dalam ruang lingkup studi ini yaitu antara transportasi, sumber daya air (air bersih, air hujan dan air kotor), sampah dan RTH. Selain itu, keterpaduan dalam pembiyaan juga sangat dibutuhkan agar pembangunan infrastruktur terpadu dapat dilaksanakan. Selama ini perencanaan spasial dan sektoral masing-masing menyusun rencana anggaran biaya sendiri, sedangkan dalam pelaksanaannya Pemerintah Daerah mengacu pada RPJMD. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat saat ini sedang menyiapkan perencanaan program infrastruktur berbasis penataan ruang untuk mendukung pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan secara terpadu melalui Rencana Program dan Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM).
Ketiga: anggaran infrastruktur sangat mempengaruhi ketersediaan infrastruktur berkelanjutan kota, tetapi kenyataannya anggaran yang tersedia masih terbatas, sehingga dapat mengancam kualitas lingkungan kota. Sebagaimana yang dikatakan Bulkin (1997) bahwa arus urbanisasi yang tinggi menyebabkan kebutuhan akan investasi di bidang infrastruktur yang besar, jika kebutuhan infrastruktur tidak terpenuhi maka akan memperparah kerusakan lingkungan. Oleh sebab itu, diperlukan usaha untuk menggali sumber pendanaan lain di luar dana pemerintah, seperti untuk pengolahan sampah dan air limbah. Privatisasi dan partisipasi swasta dalam pembangunan dan penyelenggaraan infrastruktur merupakan salah satu pilihan, namun masih diperdebatkan untuk infrastruktur yang menjadi kewajiban pemerintah, seperti: jalan, air bersih dan angkutan umum (Dikun 2011). Indikator anggaran infrastruktur juga berkaitan dengan efisiensi dan efektifitas anggaran. Oleh sebab itu, dalam keterbatasan anggaran tersebut haruslah diperhatikan sasaran untuk infrastruktur yang pro rakyat, artinya yang penggunaannya menyentuh kebutuhan sebagian besar masyarakat kota.
Keempat: ketersediaan sistem air bersih kota adalah indikator yang sangat penting sebagai ukuran keberlanjutan kota, tetapi kenyataannya tingkat pelayanan
air bersih kota masih sangat rendah dan belum merata. Rendahnya tingkat pelayanan ini berkaitan dengan pengelolaan, efisiensi dan efektifitas pelayanan, dan kemampuan keuangan penyedia air bersih. Pengelolaan meliputi ketersediaan air baku, produksi air bersih dan distribusi air bersih ke pelanggan. Air baku yang tersedia masih sangat kurang dibandingkan dengan kebutuhan, sehingga diperlukan adanya usaha untuk meningkatkan ketersediaan air baku. Peningkatan jumlah air baku dapat dilakukan melalui perbaikan sumber air baku, seperti: pengelolaan kawasan konservasi, menahan air permukaan melalui panen air hujan (rain harvesting) dan sebagainya. Peningkatan efisiensi dan efektivitas pelayanan mealui optimalisasi pelayanan, pengendalian penggunaan air tanah, perbaikan perpipaan yang sudah tua, pemantauan kebocoran air serta meningkatkan lama jam operasinal. Tingkat pelayanan sistem air bersih haruslah merata ke seluruh bagian wilayah kota, tanpa membedakan penduduk kota. Saat ini pelayanan masih terpusat di beberapa bagian wilayah kota, sementara di daerah pinggiran atau kawasan yang sulit memperoleh air warga kota membayar air bersih lebih mahal.
Kelima: partisipasi masyarakat sangat berpengaruh untuk penyediaan