• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Kriteria dan Indikator Pembangunan

6. ANALISIS INDIKATOR PRIORITAS DALAM PEMBANGUNAN

6.2 Metodologi Penelitian

6.3.2 Penerapan Kriteria dan Indikator Pembangunan

6.3.2.1 Penerapan kriteria dan indikator pembangunan infrastruktur

berkelanjutan dalam kebijakan makro

Tinjauan aspek kebijakan makro pada berbagai bentuk rencana pembangunan yang diamati di Kota Bandarlampung menunjukkan bahwa rencana-rencana tersebut sudah mempertimbangkan kriteria pembangunan berkelanjutan (lingkungan, sosial, ekonomi, teknologi dan tata kelola). Hal ini terlihat dari konsepsi visi, misi, kebijakan, strategi dalam rencana jangka panjang (RTRW dan Rencana Sektoral) serta rencana jangka menengah (RPJMD dan RPIJM) Kota Bandarlampung.

Dalam rencana jangka panjang (20 tahun) yaitu RTRW dan Rencana Induk Sektoral (RIS) sudah tercantum kriteria pembangunan berkelanjutan, walaupun pada RIS sifatnya lebih teknis. Dalam tujuan RTRW Kota Bandarlampung tahun 2010-2030 sudah ada konsep pembangunan berkelanjutan mencakup 3 pilar ekonomi, sosial dan lingkungan, walaupun masih secara umum sesuai dengan lingkup kebijakannya. Aspek kebijakan makro hampir tidak ditemui pada rencana sektoral, kecuali pada masterplan air limbah. Rencana Induk Air Limbah dan Sanitasi memuat visi misi dengan konsep berkelanjutan yang bersifat lebih teknis.

Dalam rencana jangka menengah (5 tahun) yaitu RPJMD dan RPIJM, konsep berkelanjutan tercantum pada ke seluruhan misinya yaitu: misi 1: ekonomi; misi 2, 3: sosial; misi 4: tata kelola pemerintahan; misi 5: lingkungan; misi 6: teknologi. RPIJM yang sudah disusun untuk Kota Bandarlampung hanya untuk bidang Cipta Karya, bidang lainnya belum tersedia. Dalam RPIJM Cipta Karya, konsep keberlanjutan lebih detail dimuat khususnya pada Bab III tentang Rencana Induk Sistem infrastruktur. Secara lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran 4.

6.3.2.2Penerapan kriteria dan indikator pembangunan infrastruktur berkelanjutan dalam kebijakan mikro

Kajian kebijakan yang lebih mikro yang dimaksud di sini adalah pada ruang lingkup program dan kegiatanyang ada dalam dokumen perencanaan pembangunan kota. Istilah atau nomenklatur untuk program yang dimaksud berbeda-beda, seperti: indikasi program, program prioritas dan kegiatan, rencana tindak, tetapi ruang lingkup materi program relatif sama untuk setiap jenis rencana pembangunan (RTRW, RIS, RPJMD dan RPIJM).

Dalam RTRW Kota Bandarlampung, rencana pembangunan secara detail ada dalam bentuk indikasi program yang disusun berdasarkan perwujudan struktur ruang dan pola ruang. Perwujudan struktur ruang terdiri dari pusat-pusat kegiatan dan sistem prasarana kota. Dalam rencana struktur ruang, rencana infrastruktur dikelompokkan dalam 2 bagian yaitu: transportasi dan utilitas untuk skala kota. Rencana ini disusun berbasis ruang kota, dimana secara terpadu sudah mempertimbangkan aspek fisik lingkungan, ekonomi dan sosial budaya.

Dalam rencana pola ruang yang terdiri dari kawasan lindung dan budidaya, rencana infrastruktur juga disusun berbasis kawasan, hanya saja belum ada secara detail apa jenis infrastruktur yang akan dikembangkan dan dimana persis lokasinya. Jadi perlu rencana infrastruktur yang ada dalam struktur ruang dan pola ruang ini dipadukan dengan rencana sektoral yang disusun lembaga atau dinas terkait agar dapat berkelanjutan.

Jika menggunakan indikator pembangunan berkelanjutan dalam penelitian ini, maka pembangunan infrastruktur dalam indikasi program RTRW sudah mempertimbangkan 5 kriteria dan 47 indikator pembangunan infrastruktur berkelanjutan, walaupun tidak secara khusus ditujukan untuk infrastruktur, hal ini dapat dilihat pada Lampiran 5. Kriteria teknologi sangat dominan dipertimbangkan dalam pembangunan semua jenis infrastruktur yang diteliti. Kriteria lingkungan hidup dan tata kelola pemerintahan sudah dipertimbangkan, tetapi lebih sedikit indikatornya dibanding dengan kriteria teknologi. Kriteria yang paling sedikit indikator yang dipertimbangkan adalah kriteria ekonomi dan sosial.

Program yang lebih rinci mempertimbangkan pembangunan infrastruktur berkelanjutan ada dalam rencana induk sektoral yang dapat dilihat pada Lampiran 6. Dalam dokumen perencanaan sektoral, pertimbangan teknologi adalah yang utama, sedangkan kriteria lingkungan, sosial dan tata kelola juga sudah mulai dipertimbangkan. Hanya indikator untuk kriteria ekonomi yang tidak ditemui.

Kajian ini juga akan melihat program kegiatan pada rencana jangka menengah yaitu RPJMD (2010-2015) dan RPIJM (2008-2013), yang dirinci menjadi program tahunan. Dalam RPIJM (karena RPI2JM khusus infrastruktur

belum ada), maka dikaji adalah RPIJM. Dalam RPIJM pada setiap jenis infrastruktur yang diteliti, kriteria pembangunan berkelanjutan didominasi lingkungan, teknologi dan tata kelola pemerintahan. Kriteria sosial dan ekonomi tidak terlihat pada RPIJM Kota Bandarlampung ( Lampiran 7).

RPJMD juga memuat program, tetapi belum mempertimbangkan 5 dimensi pembangunan berkelanjutan (ekonomi, ekologi, sosial, teknologi dan tata kelola pemerintahan) secara seimbang. Program pembangunan infrastruktur masih cenderung pada kriteria teknologi. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 49.

6.3.2.3Indikator berpengaruh dalam RPJMD Kota Bandarlampung

Pencapaian hasil pembangunan infrastruktur dapat diukur dari indikator kinerja. Dalam dokumen perencanaan yang dikaji tidak semua memuat tentang indikator kinerja atau yang relevan dengan penilaian kinerja. Rencana jangka panjang (20 tahunan) yang memuat indikator tersebut hanya Masterplan Air Limbah dan untuk rencana jangka menengah (5 tahunan) yang memuat indikator kinerja hanya RPJMD. Indikator kinerja yang disusun dalam rencana induk air limbah Kota Bandarlampung masih bersifat saran dan belum ada target kuantitatif. Indikator kinerja dilihat dari 4 aspek yaitu: perspektif masyarakat, perspektif keuangan, operasional dan personil (sumber daya manusia). Jika dikaji dalam kerangka pembangunan infrastruktur berkelanjutan, maka dari 5 kriteria yang diuji, hanya kriteria ekonomi yang belum ada. Untuk kriteria lingkungan ada dalam aspek operasional yaitu mutu air dan sungai. Untuk kriteria sosial ada pada aspek masyarakat yaitu: tingkat kesehatan dan perilaku masyarakat. Kriteria teknologi meliputi kapasitas pembuangan dam efisisensi pengolahan limbah. Kriteria tata kelola pemerintahan ada pada aspek anggaran dan personil. Secara keseluruhan, indikator untuk setiap kriteria masih belum lengkap.

Dalam RPJMD sudah ada indikator kinerja yang berkaitan dengan kriteria keberlanjutan pembangunan infrastruktur yaitu: indikator kinerja pembangunan infrastruktur, tata kelola pemerintahan, sosial (kesehatan, pendidikan, stabilitas, ketertiban dan kenyamanan kota) dan ekonomi, tetapi belum semua indikator bersifat kuantitatif. Secara lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 49.

Tabel 49 Penerapan kriteria dan indikator infrastruktur berkelanjutan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandarlampung

No. Aspek Indikator Hasil Kajian

Pustaka & FGD Pakar

RPJMD Kota Bandarlampung

1 Lingkungan 1. Daya Dukung Lahan Kota - 2. Kerusakan gunung dan

bukit di kota

Berkurangnya jumlah gunung dan bukit yang mengalami kerusakan

3. Perkembangan lahan terbangun di kota

- Meningkanya jumlah sarana dan prasarana (permukiman, perdadangan dan jasa, transportasi, pendidikan, kesehatan, pariwisata) atau penggunaan lahan terbangun - Berkurang jumlah bangunan yang

Tabel 49 (Lanjutan)

No. Aspek Indikator Hasil Kajian

Pustaka & FGD Pakar

RPJMD Kota Bandarlampung

4. Kawasan kumuh kota Tertatanya kawasan kumuh perkotaan 5. Kualitas udara kota Menurunnya polusi udara

6. Kualitas air kota - 7. Kualitas tanah kota - 8. Ketersediaan sumber air

baku untuk kota

Terjaganya daerah resapan air dan sumber-sumber air

9. Kemacetan di kota Berkurangnya titik kemacetan

2 Sosial 1. Pertumbuhan Penduduk -

2. Penduduk miskin kota - Menurunnya kemiskinan jadi 20%. - Berkurangnya jumlah penyandang

masalah kesejahteraan social/PMKS - Cakupan pelayanan bagi masyarakat

miskin 100 % 3. Tingkat pendidikan,

kesehatan, pendapatan

- Meningkatnya angka partisipasi pendidikan (APK dan APM) pada semua jenjang pendidikan (60 – 115 %)

- Kesehatan (pelayanan ibu hamil dan anak balita, penyakit menular, desa siaga, asuransi jiwa, peserta KB, masy. miskin, jml puskesmas, dll) 4. Sistem air limbah oleh

masyarakat

- 5. Pembuatan sumur resapan

oleh masyarakat

- 6. Pembuatan sumur

bor/dangkal oleh masy.

- 7. Pengolahan sampah oleh

masyarakat

Adanya pengolahan sampah oleh masyarakat;

8. Tingkat keamanan dan ketertiban

- Terjaganya stabiltas, kerukunan dan ketertiban masyarakat

- Terjaganya kerukunan hidup beragama dan bermasyarakat 9. Pengangguran kota Meningkatnya tingkat partisipasi

angkatan kerja sebesar 65%. 10. Tingkat pelanggaran -

3 Ekonomi 1.Pertumbuhan PAD kota Peningkatan PAD rata-rata 20% per tahun.

2.Pertumbuhan investasi - Kontribusi sektor jasa terhadap PDRB Kota sebesar 50-51% - Kontribusi sektor perdagangan ter-

hadap PDRB Kota sebesar 15-16% - Kontribusi Sektor Industri terhadap

PDRB Kota sebesar 20-23%

3.Pertumbuhan APBD -

4.Pendapatan perkapita -

5.Upah /UMK Upah minimum kota (UMK) sesuai dengan kebutuhan hidup layak (KHL) 6.Pertumbuhan ekonomi

lokal (UMKMK/informal)

Meningkatnya peran kelembagaan dan permodalan UMKM dlm pengemb. ekonomi lokal yang berdaya saing 7.Tarif pelayanan infrastruk. -

Tabel 49 (Lanjutan)

No. Aspek Indikator Hasil Kajian

Pustaka & FGD

RPJMD Kota Bandarlampung

4 Teknologi 1. Sistem drainase kota - Tertatanya daerah bantaran sungai; - Berkurangnya sedimentasi sungai

dan drainase;

- Berkurangnya titik banjir;

2. Sistem limbah kota - Tersedianya instalasi penanganan air limbah yang bersifat komunal; - Terpantaunya IPAL pada industri

dan fasilitas umum lainnya 3. Sistem pelayanan air

bersih

Meningkatnya cakupan pelayanan air bersih mencapai 45%;

4. Sistem pengelolaan sampah

Volume sampah tertangani 90 % 5. Ketersediaan Ruang

Terbuka Hijau

Meningkatnya keindahan dan kenyamanan kota

6. Ketersediaan jalan /panjang jalan

- Meningkatnya jumlah jalan yang kondsisinya mantap (baik);

- Bertambahnya panjang jalan kota dan jalan lingkungan;

7. Ketersedian jalur pejalan kaki atau pedestrian

- 8. Ketersediaan jalur sepeda/kendaraan non motor - 9. Ketersediaan angkutan umum

Bertambahnya fasilitas lalu lintas dan angkutan massal;

5 Tata Kelola Pemerintahan

1. Peraturan ttg infrastruktur

Meningkatkatnya jumlah Perda yang disahkan.

2. Perencanaan infrastruktur

- Tersedianya data dan informasi terkait perencanaan;

- Terlaksananya proses dan tahapan perencanaan sesuai ketentuan; 3. Institusi yang mewadahi

antar sektor

-

4. Kepemimpinan visioner -

5. Penegakan hukum dan penerapan sanksi

-

6. Kondisi sospol daerah -

7. Call center (pengaduan masyarakat)

Tersedianya media pengaduan masyarakat terkait pelayanan pemerintahan;

8. Anggaran infrastruktur - Tercapainya laporan keuangan wajar tanpa pengecualian;

- Tertib administrasi pengelolaan keuangan daerah;

9. Kapasitas SDM di pemerintahan

- Berkurangnya jumlah PNS yang melanggar disiplin;

- Meningkatnya jumlah PNS yang mengikuti pendidikan fungsional dan struktural;

Tabel 49 menunjukkan kriteria dan indikator pembangunan infrastruktur berkelanjutan yang berpengaruh dalam dokumen perencanaan pembangunan yaitu sebanyak 28 yang terdiri dari 6 untuk kriteria lingkungan, 5 untuk kriteria sosial, 5 untuk kriteria ekonomi, 7 untuk kriteria teknologi dan 5 untuk kriteria tata kelola pemerintahan. Kriteria lingkungan terdiri dari: berkurangnya laju kerusakan gunung dan bukit, tertatanya kawasan kumuh perkotaan, penggunaan lahan terbangun, berkurangnya polusi udara, terjaganya daerah resapan air dan sumber- sumber air, dan berkurang titik kemacetan. Kriteria sosial yang meliputi: meningkatnya angka IPM; berkurang jumlah masyarakat miskin; terjaga stabilitas, kerukunan dan ketertiban masyarakat; pengolahan sampah oleh masyarakat. Kriteria ekonomi terdiri dari: pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan PAD, Laju pertumbuhan PDRB, laju KUMKM, UMR sesuai KHL. Kriteria teknologi: meningkatnya jumlah jalan kota dan lingkungan; tertata kawasan bantaran sungai (RTH); berkurangnya sedimentasi sungai dan drainase; meningkat pelayanan air bersih; tersedia instalasi saluran limbah; tersedia fasilitas lalu lintas dan angkutan massal. Kriteria tata kelola pemerintahan yang meliputi: meningkatnya jumlah Perda yang disyahkan, peningkatan kapasitas PNS melalui disiplin dan pendidikan; tersedianya media pengaduan masyarakat; tersedia informasi perencanaan, terlaksana perencanaan sesuai ketentuan.

6.3.3 Indikator prioritas dalam pembangunan Infrastruktur berkelanjutan