BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Indikator Perkembangan Industri Kecil
Kegiatan usaha pada sektor informal tergolong kegiatan usaha berskala kecil, sehingga dari permodalan yang dibutuhkan pun relatif
kecil. Peran permodalan pada sektor informal terlihat ketika dimulainya rencana untuk merealisasikan jenis usaha yang diperdagangkan. Bentuk permodalan terutama terletak pada modal untuk barang-barang yang dibutuhkan termasuk peralatan bantu lainnya. Besarnya alokasi modal yang dibutuhkan oleh pelaku usaha di sektor informal relatif bervariasi.
Untuk memperoleh modal yang dibutuhkan, biasanya menggunakan dana pribadi atau dana yang dipinjamkan dari anggota keluarga. Namun, ada sebagian pelaku usaha ini memperoleh modal melalui jasa kredit informal, seperti tengkulak yang dapat memberikan kredit tanpa melalui proses administrasi formal. Jasa kredit informal tersebut akan mengenakan bunga pinjaman yang relatif tinggi daripada lembaga keuangan formal.
Dalam jangka panjang, pihak pelaku usaha pada umumnya tidak memikirkan rencana pengembangan usaha berdasarkan kebutuhan modal. Pengembangan usaha lebih banyak dilakukan dalam bentuk menambah variasi produk yang diperdagangkan atau menambah kuantitas yang ditawarkan kepada pelanggan. Pengembangan tersebut biasanya dilakukan secara spekulatif dan menyesuaikan dari tambahan omset usaha. Kendala lain berasal dari faktor tekanan ekonomi terutama peningkatan biaya hidup yang relatif tidak seimbang dengan peningkatan laba usaha. Upaya untuk mencari tambahan modal sulit dilakukan karena tingkat resiko pengembalian akan relatif lebih tinggi.
2. Tenaga Kerja
Sektor informal juga memiliki kontribusi yang besar dalam perekonomian. Hal ini dapat dilihat dari peranan sektor informal dalam penyerapan tenaga kerja, sehingga keberadaan sektor informal pun merupakan wujud dari tersedianya lapangan kerja.
Menurut UU No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, pengertian dari tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan suatu barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Berdasarkan dari definisi tersebut berarti siapapun dan usia berapapun yang dapat bekerja untuk menghasilkan sesuatu baik barang maupun jasa dapat disebut tenaga kerja.
Tenaga kerja pada sektor informal adalah para pelaku yang menciptakan kesempatan kerja bagi diri sendiri yang biasanya tidak membutuhkan jumlah tenaga kerja yang banyak atau tidak berorientasi untuk merekrut tenaga kerja. Biasanya para tenaga kerja pada sektor ini tidak membutuhkan pendidikan dan ketrampilan yang khusus. Tenaga kerja tambahan yang dibutuhkan pada sektor informal, biasanya direkrut dari kalangan keluarga sendiri. Jika terdapat kesempatan untuk memperluas usahanya, maka alternatif untuk merekrut tenaga kerja selain dari kalangan keluarga biasanya tenaga kerja direkrut dari teman dekat atau berasal dari satu daerah asal.
Kualitas SDM merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi perekonomian suatu negara, sehingga peningkkatan kualitas SDM sangat diperlukan. Strategi dalam jangka panjang yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas SDM adalah dengan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, sedangkan jangka pendeknya dapat dilakukan dengan cara pelatihan ketrampilan. Pemerintah dapat meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui jalur formal dan informal. Melalui jalur formal antara lain dengan menyediakan pendidikan yang berkualitas dari jenjang SD sampai dengan jenjang Perguruan Tinggi. Sedangkan melalui jalur informal antara lain dengan adanya kursus-kursus murah, dan pelatihan lokakarya.
Dalam permasalahan peningkatan kualitas tenaga kerja tidak hanya merupakan tanggung jawab pemerintah melainkan juga merupakan tanggung jawab pihak perusahaan atau industri itu sendiri, hal ini berguna untuk meningkatkan kemajuan dan juga untuk perkembangan perusahaan.
Meskipun tenaga kerja telah memiliki kecakapan dan juga ketrampilan dasar yang dibutuhkan dalam bekerja namun pelatihan dan pengembangan tetap dibutuhkan untuk mengetahui bagaimana cara untuk mengoperasikan mesin, cara untuk mengatasi masalah kerja, serta hal yang menyangkut tekhnis. Selain itu pelatihan dan pengembangan juga dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas.
3. Omset dan Laba Usaha
Omset merupakan keseluruhan penerimaan dari berbagai kegiatan dalam sebuah usaha. Menurut ilmu ekonomi, omset adalah merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian tersebut menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluaran terhadap konsumsi selama satu periode. Dengan kata lain, omset adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama satu periode, bukan hanya yang dikonsumsi. Secara garis besar omset adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah perubahan penilaian yang bukan diakibatkan perubahan modal dan hutang.
Omset dalam arti luas menitikberatkan kepada keseluruhan kegiatan perusahaan yang menghasilkan kenaikan aktiva atau berkurangnya hutang dan dapat merubah modal pemiliknya. Pemfokusan kegiatan perusahaan terhadap kegiatan utama yang berakibat kepada kenaikan aktiva atau pengurangan hutang dan yang dapat merubah modal tersebut merupakan arti sempit dari omset.
Omset umumnya digolongkan atas omset yang berasal dari kegiatan normal perusahaan dan omset yang bukan berasal dari kegiatan normal perusahaan. Omset dari kegiatan normal perusahaan biasanya diperoleh dari hasil penjualan barang ataupun jasa yang berhubungan dengan kegiatan utama perusahaan. Omset yang bukan berasal dari
kegiatan normal perusahaan adalah hasil di luar kegiatan utama perusahaan yang sering disebut hasil nonoperasi.
Omset diakibatkan oleh kegiatan-kegiatan perusahaan dalam memanfaatkan faktor-faktor produksi untuk mempertahankan diri dan pertumbuhan. Seluruh kegiatan perusahaan yang menimbulkan omset secara keseluruhan menimbulkan pengaruh positif (omset) dan keuntungan juga pengaruh negatif (beban / kerugian). Selisih dari keduanya akhirnya menjadi laba atau rugi.
Pengertian laba secara umum adalah selisih dari pendapatan di atas biaya-biayanya dalam jangka waktu (perioda) tertentu. Laba sering digunakan sebagai suatu dasar untuk pengenaan pajak, kebijakan deviden, pedoman investasi serta pengambilan keputusan dan unsur prediksi (Harnanto, 2003: 444).
Dalam teori ekonomi dikenal adanya istilah laba, pengertian laba di dalam teori ekonomi berbeda dengan pengertian laba menurut akuntansi.
Dalam teori ekonomi, para ekonom mengartikan laba sebagai suatu kenaikan dalam kekayaan perusahaan, sedangkan dalam akuntansi, laba adalah perbedaan pendapatan yang direalisasi dari transaksi yang terjadi pada waktu dibandingkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan pada periode tertentu (Harahap, 1997).
Laba atau rugi sering dimanfaatkan sebagai ukuran untuk menilai prestasi perusahaan atau sebagai dasar ukuran penilaian yang lain, seperti laba per lembar saham. Unsur-unsur yang menjadi bagian pembentuk laba
adalah pendapatan dan biaya. Dengan mengelompokkan unsur-unsur pendapatan dan biaya, akan dapat diperoleh hasil pengukuran laba yang berbeda antara lain: laba kotor, laba operasional, laba sebelum pajak, dan laba bersih. Pengukuran laba bukan saja penting untuk menentukan prestasi perusahaan tetapi juga penting sebagai informasi bagi pembagian laba dan penentuan kebijakan investasi. Oleh karena itu, laba menjadi informasi yang dilihat oleh banyak seperti profesi akuntansi, pengusaha, analis keuangan, pemegang saham, ekonom, fiskus, dan sebagainya (Harahap, 2001: 259).