• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Industri Kreatif Berbasis Budaya

1. Kondisi Umum UMKM Kerajinan Tradisional di Indonesia

Sebagian besar industri kerajinan di Indonesia merupakan industri kerajinan tradisional. Industri kerajinan tradisional ini persentasenya jauh lebih besar daripada industri kerajinan modern, disebut tradisional karena bidang yang digeluti UMKM sudah menjadi tradisi keluarga secara turun temurun oleh beberapa generasi, cara kerja usaha cenderung menganut pola manajemen kekeluargaan dimana pekerja adalah anggota kelurga, sebagian besar UMKM masih menggunakan peralatan yang tradisional walaupun sebagian sudah menggunakan peralatan yang modern. Industri kerajinan tradisional populasinya lebih banyak tersebar di daerah pedesaan di mana lebih banyak mengandalkan keterampilan tangan sehingga cenderung bersifat padat karya, Hal ini memberikan gambaran

pentingnya dalam penyerapan tenaga kerja, utamanya pada saat krisis ekonomi.

UMKM mempunyai peranan besar dalam perekonomian, bahkan menjadi penyumbang terbesar kedua PDB industri kreatif, namun perlahan kerajinan tradisional banyak mengalami hambatan dan tantangan. Sebagai contoh, Hasil produksi kerajinan miniatur perahu tradisional di Mojokerto Jawa Timur merosot tajam karena terdesak oleh maraknya produk impor dari China. Penurunan tersebut rata-rata sudah mencapai lebih dari 30% dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi yang sama juga terjadi pada pasar ekspor. Para perajin kuwalahan dengan maraknya kerajinan miniatur perahu dari China, pasalnya dari segi harga tidak memungkinkan perajin Mojokerto bisa bersaing dengan produk bersangkutan. Selain dipasarkan di dalam negeri, produk miniatur perahu Mojokerto diekspor ke Korea, Australia dan Jepang. Bahkan sejumlah perajin juga sudah mulai menjajaki pasar Belanda, namun dengan banyaknya produk China yang juga masuk ke negara tersebut membuat produksi perajin Mojokerto tidak dapat bersaing. Kondisi itu diperparah dengan cuaca buruk yang mengakibatkan terhambatnya pengiriman barang ke luar negeri (Erwin. 2009)

2. Hambatan dan Tantangan UMKM Kerajinan Tradisional a. Faktor Internal

1) Sumber Daya Manusia

Pada dasarnya UMKM memiliki hambatan yang bersifat klasik, yakni hambatan yang berkaitan dengan rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM), lemahnya manajemen usaha, rendahnya akses terhadap sumber pembiayaan dan pasar, serta rendahnya informasi dan teknologi yang dimilikinya (Ensiklopedia Ekonomi, Bisnis dan Manajemen, 1997).

Kemampuan perajin tradisional sangat variatif, ada kelompok perajin yang mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi, halus, rapi dan bersih. Namun ada juga perajin yang menghasilkan produk yang kurang berkualitas, desain produk sudah bagus namun teknik pengerjaannya yang kurang maksimal menyebabkan kurang memiliki harga jual tinggi padahal dari konsumen biasanya menginginkan produk yang dibelinya adalah produk yang berkualitas. Banyak perajin yang memproduksi dengan kualitas yang rendah dan hanya mengutamakan kuantitas untuk memenuhi target penjualan, sehingga kualitas produk kurang dapat bersaing di pasaran.

2) Modal, Bahan Baku, dan Peralatan

Pada umumnya pengusaha industri kecil berasal dari golongan ekonomi lemah dengan latar belakang pendidikan terbatas.

Banyak diantara mereka yang memilih menjadi wirausahawan kecil karena sulit mencari pekerjaan di sektor formal dan karena memiliki sedikit ketrampilan yang diwarisi dari orang tuanya. Keterbatasan dana membuat usaha mereka sulit berkembang dan tidak mampu melayani permintaan pasar. Bahkan tidak sedikit pengusaha yang modalnya habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keterbatasan kemampuan teknis.

Keterbatasan kemampuan teknis yang meliputi pengadaan bahan baku dan peralatan standar, desain dan mutu produk. Kurangnya pengetahuan tentang bahan baku yang diperlukan, teknologi mutakhir serta pengembangan mode di pasar menyebabkan penampilan produk-produk industri kecil umumnya kurang menarik, kurang rapi dan kualitasnya tidak standar, sehingga kurang mampu bersaing dengan produk pabrik besar yang dihasilkan dengan peralatan otomatis dan bahan baku standar.

Banyak UMKM masih mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan baku yang memiliki kualitas yang bagus dan variatif, banyak perajin yang harus mencari bahan baku sendiri sampai daerah lain, hal ini menyebabkan tersita banyak waktu dan tenaga.

3) Pemasaran

Dalam era perdagangan bebas menuntut setiap pelaku bisnis memiliki akses yang cukup terhadap pasar untuk meningkatkan daya

saingnya.Akses terhadap pasar merupakan kunci keberhasilan namun justru hal inilah yang merupakan titik lemah yang dimiliki UMKM pada umumnya.

Pelaku bisnis dituntut untuk dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan selera konsumen atau permintaan pasar, yang memiliki kecenderungan cepat berubah, sehingga peredaran suatu produk di pasar memiliki siklus yang relatif pendek. Hal ini akan lebih memicu kreativitas dan inovasi untuk meningkatkan daya saing produk. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan UMKM mengalami hambatan dalam menghasilkan produk dan kreativitas untuk menghasilkan inovasi produk sesuai dengan selera konsumen. 

Peran ekspor UMKM relatif masih kecil, yang disebabkan UMKM menghadapi berbagai hambatan.Oleh karena itu, produk UMKM dalam kegiatan ekspor lebih banyak dilaksanakan oleh pengusaha-pengusaha besar atau eksportir yang mampu mengatasi hambatan-hambatan tersebut.

Keterbatasan Kemampuan Memasarkan. Keterbatasan kemampuan memasarkan menyebabkan banyak produk industri kecil yang meskipun mutunya tinggi tetapi tidak dikenal dan tidak mampu menerobos pasar. Akibat lain yang banyak diderita pengusaha kecil adalah dipermainkan para pedagang yang menguasai mata rantai distribusi, sehingga harga ditekan serendah mungkin dan seringkali

pembayaran tertunda (Ensiklopedia Ekonomi, Bisnis dan Manajemen, 1997).

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal yang menghambat perkembangan UMKM tradisional antara lain adalah tingginya tingkat persaingan dengan komoditi sejenis baik dari wilayah lain maupun dari negara lain, biaya produksi yang semakin meningkat yang diakibatkan adanya kenaikan bahan bakar dan juga biaya listrik, selain itu faktor alam seperti bencana alam sangat mempengaruhi kegiatan produksi UMKM.

D. Kerajinan Wayang Kulit

Dokumen terkait