• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDONESIAN MACRO ECONOMIC CONDITION

Dalam dokumen Laporan Tahunan | Semen Indonesia (Halaman 149-151)

18

Laporan Tahunan 2008 Annual Report P T S e m e n G r e s i k ( P e r s e r o ) T b k

yang terjaga. Disamping itu, kecenderungan kenaikan harga komoditas membuat neraca perdagangan relatif baik, sehingga pendapatan masyarakat di daerah sentra produksi komoditas tersebut meningkat.

Seiring dengan terjadinya krisis keuangan global sejak pertengahan tahun 2008 perekonomian Indonesia mulai mendapat tantangan yang cukup berat. Penurunan permintaan komoditas primer yang membuat harga komoditas primer turun dan krisis keuangan global membuat neraca perdagangan tertekan. Penurunan nilai ekspor dan timbulnya krisis di Amerika Serikat membuat likuiditas mata uang asing tertekan, sehingga nilai tukar rupiah melemah cukup tajam. Bank Indonesia kemudian meningkatkan suku bunga acuannya untuk meredam gejolak nilai tukar dan tingkat inlasi yang masih tinggi. Selama tahun 2008 perekonomian Indonesia akhirnya mencatat pertumbuhan sebesar 6,1%, menurun dari peningkatan Gross Domestic Bruto (GDP) tahun 2007 yang tumbuh 6,32%. Nilai tukar Rupiah mengalami depresiasi di akhir tahun 2008 menjadi Rp 10.90/USD turun 19,8% dibandingkan akhir tahun 2007, sebesar Rp 9.10/USD. Indikator lain yang menunjukkan kondisi makro ekonomi Indonesia pada tahun 2008 adalah meningkatnya inlasi menjadi 11,10% dibandingkan dengan tahun 2007 sebesar 6,60%. Suku bunga SBI meningkat menjadi 9,2% di akhir tahun 2008 dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 8,00%. Keseluruhan kondisi makro ekonomi tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2009 ini, perekonomian nasional akan menghadapi tantangan yang lebih berat.

led to a relatively good balance of trade, ensuring people in the commodity production center areas to enjoy the raise in income.

In line with the occurrence of global inancial crisis since mid of 2008, the Indonesian economy started to encounter a severe challenge. Declining demand of primary commodities led to the drop off primary commodities price and global inancial crisis that forced down the balance of trade, and weakened the exchange value of Rupiah. Subsequently Bank Indonesia raised its reference interest rate to control the luctuation of exchange value and the high rate of inlation.

During the year 2008 Indonesian economy inally recorded a growth level of 6.1%, declining from the increased of Gross Domestic Performance (GDP) in 2007 that grew by 6,32%. By end of 2008, exchange value of Rupiah was depreciated into Rp10,950/US$, diminished by 19.8% compared to end of 2007 of Rp9,140/US$.

Other indicator to the Indonesian macro economic condition in 2008 was the increasing rate of inlation into 11.10% compared to the year 2007 of 6.60%. The SBI reference rate rose by 9.25% at end of 2008 compared to its preceding year of 8.00%. All of the macro economic condition signals that in 2009 the national economy will be facing a heavier challenge.

Di tengah kecenderungan perekonomian Indonesia di akhir tahun 2008 tersebut pendapatan semen nasional mampu tumbuh sebesar 11,5% dari 34,1 juta ton menjadi 38,0 juta ton. Hal ini dipicu oleh pertumbuhan permintaan semen pada semester pertama sebesar 22%. Sepanjang tahun 2008 wilayah Jawa yang mengkonsumsi semen sebesar 56% dari konsumsi domestik hanya tumbuh sebesar 8,1% atau menjadi 21,2 juta ton, sedangkan konsumsi semen wilayah luar Jawa mampu tumbuh sebesar 16,0% atau menjadi 16,8 juta ton. Kenaikan konsumsi semen di pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi yang masing-masing sebesar 11,1%, 22,9% dan 25,2% dipicu oleh perkembangan harga komoditas dan pelaksanaan Otonomi Daerah. Tiga pulau Indonesia tersebut merupakan wilayah yang cocok untuk areal perkebunan dan kaya akan bahan-bahan mineral dasar. Produk dari perkebunan, terutama Crude Palm Oil (CPO) dan bahan tambang terutama batubara, nikel dan timah sempat mengalami booming peningkatan harga dan permintaan dari pasar luar negeri maupun domestik hingga pertengahan tahun 2008, walau kemudian cenderung turun pada semester ke dua tahun 2008. Tingkat pertumbuhan yang tinggi di luar Jawa tersebut menguntungkan bagi pendapatan Perseroan secara keseluruhan, karena Perseroan memiliki fasilitas produksi yang berlokasi di Sumatera dan Sulawesi. Dengan kondisi demikian, maka volume pendapatan Perseroan di luar Jawa pada tahun 2008 meningkat dibandingkan dengan pendapatan tahun 2007. Pendapatan di Sumatera mengalami kenaikan sebesar 7,6%. Pendapatan di Sulawesi dan Kalimantan berturut-turut mengalami kenaikan sebesar 19,4% dan 7,8%. Pendapatan di pasar di Jawa juga mengalami peningkatan sebesar 9,4%.

In the midst of declining trend of the Indonesian economy at end of 2008, national sales of cement had shown an increase of 11.5% from 34.1% into 38.0 million tonnes. This is due to the increasing demand of cement on the irst semester of 22%. Throughout the year 2008 the Java areas, which consumed 56% of domestic cement market, only grew by 8.1% into an amount of 21.2 million tonnes, while cement consumption for outer Java increased by 16.0% into a sum of 16.8 million tonnes.

Cement consumption in Sumatera, Kalimantan and Sulawesi islands that increased concurrently by 11.1%, 22.9% and 25.2% was spurred by the growth of commodity price and the implementation of Regional Autonomy plan. Those three islands of Indonesia have become the most suitable island for agribusiness areas and possessing rich amount of basic mineral materials. Product from agribusiness, especially the Crude Palm Oil (CPO) and other mining materials such as coal, nickel and tin once enjoyed a booming increase of price and demand bothfrom overseas and domestic markets until mid of 2008, even though tended to decline at the second semester of 2008.

The high rate of increase in outer Java islands had beneited the entire sales of the Company, as the Company possesses production facilities, which are located in Sumatera and Sulawesi. This trend had caused to the increasing volume of sales of the Company outside Java islands in 2008 in comparison to the 2007 sales.

The sales in Sumatera also rose by 7.6%, in parallel with the increase in Sulawesi and Kalimantan each by 19.4% and 7.8%. The market trend also occurred in Java with an increasing sale of 9.4%.

PROSPEK DAN KONDISI

Dalam dokumen Laporan Tahunan | Semen Indonesia (Halaman 149-151)