• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Industri Pengolahan Kakao

Industri pengolahan kakao menggunakan biji kakao sebagai bahan baku utama dalam proses produksinya. Biji kakao pada umumnya digunakan oleh industri pengolahan kakao Indonesia untuk dijadikan produk olahan setengah jadi atau makanan cokelat jadi yang kemudian dikonsumsi lansung oleh konsumen atau sebagai bahan baku bagi beberapa industri makanan dan minuman. Biji kakao yang baik untuk diolah adalah biji kakao yang telah melewati tahap fermentasi, karena pada tahap fermentasi bertujuan untuk membebaskan biji kakao dari pulp dan untuk memperbaiki dan membentuk citarasa cokelat yang enak dan menyenangkan serta mengurangi rasa sepat dan pahit pada biji (Widyotomo et al, 2004).

Pangsa produksi Indonesia pada tahun 2007 menempati posisi ketiga di dunia dengan nilai sebesar 15.68 persen. Suatu potensi untuk dapat mengembangkan industri pengolahan nasional. Akan tetapi kualitas biji kakao Indonesia pada umumnya masih rendah, karena biji kakao Indonesia tidak melewati tahap fermentasi terlebih dahulu, walaupun demikian biji kakao Indonesia tetap diminati di beberapa negara. Biji kakao Indonesia yang dijual dengan kualitas rendah (tanpa fermentasi) dikenakan potongan harga oleh negara pengimpor seperti kebijakan automatic detention yang diberlakukan USA terhadap komoditas biji kakao Indonesia.

2.3.2 Kondisi Industri Pengolahan Kakao Indonesia

Indonesia merupakan negara yang memiliki biji kakao yang besar, tetapi industri pengolahan kakao di Indonesia belum berkembang dengan baik. Produksi industry pengolahan kakao Indonesia disajikan pada Tabel 7. Perusahaan General Food Industries merupakan perusahaan yang memiliki kapasitas produksi terbesar yaitu 80 000 ton pada tahun 2010 dan meningkat menjadi 100 000 ton pada tahun 2011.

Tabel 7. Produksi Industri Pengolahan Kakao Indonesia Tahun 2010-2011

No Perusahaan (PT) 2010 2011

Kapasitas Produksi % Kapasitas Produksi %

1 General Food Industries 80 000 66 055 83 100 000 70 000 70

2

Bumi Tangerang

Mesindotama 48 000 37 000 77 96 000 85 000 89

3 Cocoa Ventures Indonesia 7 000 7 000

10

0 14 000 14 000 100

4 Asia Cocoa Indonesia 0 0 0 85 000 50 000 59

5 Teja Sekawan 15 000 8 000 53 24 500 8 000 33 6 Kakao Mas Gemilang 375 205 55 450 275 61 7 Mas Ganda 5 000 4 860 97 5 000 5 000 100 8 Tri Keeson Utama 7 800 6 300 81 7 800 7 200 92

9 Symbioscience Indonesia 17 000 15 000 88 17 000 15 000 88

10 Budidaya Kakao Lestari 15 000 0 0 15 000 5 000 33 11 Jaya Makmur Hasta 15 000 0 0 15 000 5 000 33 12 Unicom Kakao Makmur 10 000 3 000 30 10 000 7 000 70 13 Davomas Abadi 140 000 55 000 39 140 000 110 000 79 14

Maju Bersama Cocoa

Industries 20 000 6 500 33 20 000 15 000 75

15 Poleco Indonesia 4 000 3 000 75 4 000 4 000 100 16 Kopi Jaya Cocoa 24 000 0 0 24 000 3 000 13 17 Industri Kakao Utama 25 000 0 0 25 000 0 0 Total Industri Pengolahan Kakao 433 175 211 920 49 602 750 403 475 67 Sumber: Kementerian Perindustrian, 2011

Kapasitas produksi yang besar tersebut ternyata tidak termanfaatkan dengan maksimal, hanya berproduksi sebanyak 66 055 ton pada tahun 2010 atau berkisar 83 persen dan kinerja menurun pada tahun 2011 sebesar 70 persen, disebabkan oleh kurangnya pasokan biji kakao dalam proses produksi.

2.3.3 Kendala Industri Pengolahan Kakao

Industri pengolahan kakao di Indonesia sulit untuk berkembang, padahal Indonesia merupakan negara yang memiliki biji kakao yang besar. Disebabkan beberapa kendala yang menghambat proses produksi industri pengolahan kakao

Indonesia. Beberapa kendala tersebut adalah infrastruktur yang terbatas, ketersediaan dan kemudahan akses terhadap sumber permodalan, serta kualitas biji kakao yang masih rendah.

Di Indonesia pembangunan infrastruktur belum bisa sepenuhnya mendukung industri pengolahan kakao, seperti sarana dan prasarana penyimpanan, pengangkutan, transportasi, dan telekomunikasi. Akses permodalan yang sulit didapat oleh para pelaku agribisnis kakao membuat mereka sulit untuk mengembangkan usahanya sampai ke tahap industri. Selain itu, kualitas biji kakao sebagai bahan baku industri pengolahan kakao masih belum cukup baik karena biji kakao yang diproduksi di Indonesia belum melalui tahap fermentasi.

2.4 Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian yang dapat dijadikan referensi antara lain penelitian Lolowang (1999), Rahmanu (2009), Jamaludin (2005), Sukmananto (2007), Nurdiyani (2007), Hastuti (2012), Hidayat (2012), Arsyad, Sinaga dan Yusuf (2011). Hasil penelitian tersebut disajikan pada Tabel 8.

2.4.1 Penelitian mengenai Perdagangan Biji Kakao

Lolowang (1999) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Penawaran dan Permintaan Kakao Indonesia di Pasar Domestik dan Internasional, menyatakan bahwa ekspor kakao Indonesia ke Amerika Serikat, Singapura, dan Jerman dalam jangka pendek tidak responsif terhadap harga kakao dunia, harga ekspor cocoa butter, produksi kakao Indonesia, nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga. Dalam jangka panjang hanya ekspor ke Amerika Serikat yang responsif terhadap produksi kakao Indonesia sedangkan ke Singapura dan Jerman tidak responsif terhadap semua faktor penjelas (Tabel 8).

Rahmanu (2009) melakukan penelitian yang berjudul Analisis Daya Saing Industri Pengolahan dan Hasil Olahan Kakao Indonesia, menggunakan metode

Revealed Comparative Advantage (RCA, metode Porter’s Diamond dan metode

Tabel 8. Ringkasan Penelitian Terdahulu

No Peneliti dan Judul Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian 1 Muhammad Arsyad, B. M.

Sinaga, dan S. Yusuf (2011), Analisis Dampak Kebijakan Pajak Ekspor dan Subsidi Harga Pupuk terhadap Produksi dan Ekspor Kakao Indonesia Pasca Putaran Uruguay

1. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekpsor kakao Indonesia 2. Menganalisis dampak

rencana pemberlakuan pajak ekspor dan subsidi harga pupuk terhadap produksi dan ekspor kakao pasca putaran uruguay

Model persamaan simultan dengan metode pendugaan Two-Stages Least Square

Faktor-faktor yang secara potensial mempengaruhi ekspor kakao Indonesia adalah harga ekspor kakao Indonesia, pertumbuhan produksi kakao, nilai tukar rupiah, dan trend waktu. Rencana pemberlakuan pajak ekspor berdampak negatif terhadap produksi dan ekspor kakao Indonesia pasca Putaran Uruguay, sementara rencana kebijakan pemberian subsidi harga pupuk berdampak positif terhadap peningkatan produksi dan ekspor kakao Indonesia. Implikasinya adalah bahwa kebijakan subsidi harga pupuk masih dapat diharapkan sebagai strategi kunci untuk memacu produksi dan ekspor kakao Indonesia 2 Nia Kurniawati Hidayat

(2012), Dampak Perubahan Harga Beras Dunia terhadap Kesejahteraan Masyarakat Indonesia pada Berbagai Kondisi Transimi Harga dan Kebijakan Domestik

1. Menganalisis transmisi harga beras dan integrasi pasar dari pasar dunia ke pasar domestik

2. Menganalisis dampak perubahan harga beras dunia terhadap kesejahteraan produsen dan konsumen pada berbagai skenario derajat transmisi harga spasial 3. Menganalisis dampak

perubahan harga beras dunia dan kebijakan domestik (harga pokok pembelian, tarif impor, dan kuota impor beras)

Model persamaan simultan dengan metode

Two-Stages Least Squares.

Kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) efektif dalam menstabilkan harga beras domestik dan melindungi petani. Kenaikan HPP dapat meningkatkan kesejahteraan petani meskipun konsumen dirugikan dan penerimaan pemerintah berkurang. Begitu pula dengan kenaikan tarif impor 10 persen, namun kenaikan belum mampu melindungi petani dari penurunan harga dunia. Sedangkan kebijakan penetapan kuota impor 1.57 juta ton dapat menurunkan kesejahteraan petani, namun konsumen diuntungkan.

No Peneliti dan Judul Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian terhadap kesejahteraan

produsen dan konsumen. 3 Hastuti (2012), Dampak

Kebijakan Tarif dan Kuota Impor terhadap Penawaran dan Permintaan Gandum dan Tepung Terigu di Indonesia

1. Mengidentifikasi faktor faktor yang mempengaruhi penawaran dan permintaan gandum dan tepung terigu dipasar dunia dan domestik.

2. Mengevaluasi dampak kebijakan tarif dan kuota impor terhadap penawaran dan permintaan gandum dan tepung terigu di pasar dunia dan domestik.

3. Mengevaluasi kebijakan tarif dan kuota impor gandum dan tepung terigu terhadap kesejahteraan konsumen gandum, produsen dan konsumen tepung terigu, dan industri pengguna tepung terigu di Indonesia.

4. Merumuskan kebijakan tarif dan kuota impor gandum dan tepung terigu yang terbaik bagi kesejahteraan masyarakat di Indonesia.

Model persamaan simultan dengan metode pendugaan Two-Stages Least Square

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan tarif lebih efektif diterapkan daripada kebijakan kuota. karena kebijakan tarif menciptakan penerimaan pemerintah dari tarif impor, sehingga mendorong meningkatkan kesejahteraan bersih masyarakat. Kebijakan perdagangan (tarif dan kuota) impor gandum lebih responsif dibandingkan dengan tepung terigu. karena besarnya impor gandum di Indonesia dibandingkan dengan impor tepung terigu di Indonesia.

Berdasarkan hasil simulasi yang telah dilakukan, simulasi kebijakan pengenaan tarif impor gandum di Indonesia sebesar lima persen merupakan simulasi yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat terbesar. Meskipun kebijakan menurunkan surplus industri pengguna tepung terigu, dikarenakan tingginya harga tepung terigu, namun dapat dikompensasi dengan besarnya peningkatan surplus industri tepung terigu. Simulasi kebijakan yang meningkatkan surplus industri pengguna tepung terigu terbesar adalah simulasi peningkatan kuota impor gandum Indonesia sebesar 10 persen.

No Peneliti dan Judul Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian 4 Jamaludin (2005), Dampak

Kebijakan Perdagangan Gandum Tepung Terigu terhadap Keseimbangan Tepung Terigu di Indonesia

1. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi, permintaan dan harga tepung terigu Indonesia

2. Menganalisis dampak kebijakan perdagangan gandum tepung terigu terhadap keseimbangan tepung terigu di Indonesia

Model persamaan simultan dengan metode pendugaan Two-Stages Least Square

Produksi tepung terigu Indonesia secara nyata dipengaruhi oleh variabel harga tepung terigu domestik, jumlah impor gandum, upah tenaga kerja di sektor Industri, dan bedakala produksi tepung terigu Indonesia. Permintaan tepung terigu ditentukan dan responsif terhadap harga tepung terigu domestik, pendapatan nasional, jumlah penduduk dan dummy kebijakan perdagangan impor gandum-tepung terigu. Sedangkan untuk harga tepung terigu domestik secara nyata ditentukan oleh penawaran tepung terigu Indonesia dan tren waktu 5 Lolowang (1999), Analisis

Penawaran dan Permintaan Kakao Indonesia di Pasar Domestik dan Internasional

1. Menganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi perilaku areal tanam dan produktifitas kakao berdasarkan kawasan , penawaran ekspor Indonesia serta perdagagan internasional

2. Menganalisis dampak kebijakan pemerintah dan perubahan eksternal terhadap pasar domestik dan pasar internasional

Model persamaan simultan dengan metode pendugaan Three-Stages Least Square

Ekspor kakao Indonesia ke Amerika Serikat, Singapua, Jerman dalam jangka pendek tidak responsif terhadap harga kakao dunia, harga ekspor

cocoa butter, produksi kakao Indonesia, nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga. Dalam jangka panjang hanya ekspor ke Amerika Serikat yang responsif terhadap produksi kakao Indonesia sedangkan ke Singapura dan Jerman tidak responsif terhadap semua faktor penjelas.

6 Rahmanu (2009), Analisis Daya Saing Industri Pengolahan dan Hasil Olahan Kakao Indonesia

1. Menganalisa posisi daya saing hasil olahan kakao Indonesia 2. Menganalisa faktor-faktor yang menghambat perkembangan industri 1. metode Revealed Comparative Advantage (RCA) 2. Porter’s Diamond 3. metode Ordinary

Least Square (OLS)

Faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing hasil olahan kakao adalah harga ekspor kakao olahan, volume ekspor kakao olahan, dan krisis ekonomi, sedangkan faktor-faktor yang tidak berpengaruh terhadap daya saing hasil olahan kakao Indonesia adalah produktivitas industri pengolahan kakao.

No Peneliti dan Judul Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian pengolahan kakao nasional

3. Menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi posisi daya saing hasil olahan kakao Indonesia 7 Sukmananto (2007),

Dampak Kebijakan Perdagangan terhadap Kinerja Ekspor Produk Industri Pengolahan Kayu Primer Indonesia 1. Mengindentifikasi faktor- faktor yangmempengaruhi kinerja ekspo 2. Mengevaluasi dampak kebijakan perdagangan kayubulat terhadap kinerja ekspor periode tahun 1980- 2002

3. Meramalkan dampak kebijakan perdagangan kayu bulat terhadap kinerja ekspor produk industri pengolahan kayu primer periode tahun 2007-2010

Model persamaan simultan dengan metode pendugaan Two-Stages Least Square

Kombinasi kebijakan penghapusan larangan ekspor kayu bulat, kenaikan provisi sumberdaya hutan, kenaikan dana reboisasi,penurunan suku bunga, kenaikan upah tenaga kerja dan penawaran kayu bulat domestik, merupakan kebijakan yang paling sesuai dan terbaik untuk dilakukan.Selain

menghasilkan kenaikan devisa yang paling tinggi dari ekspor produk industri pengolahan kayu primer. Kebijakan larangan ekspor kayu bulat yang diganti dengan pengaturan kuota penawaran kayu bulat domestik akan lebih dapat diterima di perdagangan internasional karena terhindar dari isu lingkungan yang sering jadi penghambat perdagangan internasional.

Pada variabel produktivitas industri pengolahan kakao tidak berpengaruh terhadap daya saing hasil olahan kakao, karena daya saing hasil olahan kakao lebih dipengaruhi oleh mutu dan kualitas produk, sedangkan peningkatan produktivitas tidak menjamin peningkatan mutu hasil olahan kakao. 8 Nurdiyani (2007), Analisis

Dampak Rencana Penerapan Pungutan Ekspor Kakao terhadap Integrasi Pasar Kakao

1. Menganalisis integrasi pasar kakao dunia dan dalam negeri, termasuk di beberapa sentra kakao di Indonesia

Model integrasi pasar berupa model

Autoregressive Distributed Lag

Kebijakan pada akhirnya akan membuat kondisi pasar kakao di dalam negeri menjadi semakin tidak terintegrasi. selain itu, adanya kebijakan pungutan ekspor akan berimplikasi pada: (1) melemahnya posisi daya saing ekspor kakao indonesia di dunia,

No Peneliti dan Judul Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian Indonesia 2. Menganalisis dampak

kebijakan pungutan ekspor kakao terhadap integrasi pasar kakao Indonesia serta implikasinya terhadap para stakeholder agribisnis kakao

(2) menurunnya bagian pendapatan yang akan diterima oleh petani, (3) bagi pedagang (eksportir), pungutan ekspor mungkin tidak akan begitu berpengaruh meskipun akan memicu kegiatan penyelundupan, (4) bagi pihak industri, adanya pungutan ekspor akan menjamin ketersediaan input untuk proses pengolahan cokelat dan bagi pemerintah tentu saja kebijakan akan menjadi alternatif pendapatan bukan pajak.

2.4.2 Penelitian mengenai Kebijakan Perdagangan

Jamaludin (2005) melakukan penelitian dengan menggunakan metode Two - Stage Least Square (2SLS) untuk menganalisis dampak kebijakan perdagangan gandum tepung terigu terhadap keseimbangan tepung terigu di Indonesia (Tabel 8). Sukmananto (2007) melakukan penelitian yang berjudul dampak kebijakan perdagangan terhadap kinerja ekspor produk industri pengolahan kayu primer Indonesia (Tabel 8). Nurdiyani (2007) melakukan penelitian yang berjudul analisis dampak rencana penerapan pungutan ekspor kakao terhadap integrasi pasar kakao Indonesia. Alat analisis yang digunakan adalah model integrasi pasar berupa model autoregressive distributed lag (Tabel 8). Hastuti (2012) melakukan penelitian yang berjudul dampak kebijakan tarif dan kuota impor terhadap penawaran dan permintaan gandum dan tepung terigu di Indonesia (Tabel 8). Hidayat (2012) melakukan penelitian yang berjudul dampak perubahan harga beras dunia terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia pada berbagai kondisi transmisi harga dan kebutuhan domestik (Tabel 8).

Dokumen terkait