• Tidak ada hasil yang ditemukan

Angka Kesakitan/ Morbiditas

2. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA)

Tujuan program pemberantasan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah menurunkan angka kesakitan dan angka kematian terutama pada anak balita. Setiap anak balita diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya dan proporsi kematian yang disebabkan ISPA mencakup 20-30 %. Sebagai kelompok penyakit, ISPA juga merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien ke sarana kesehatan. Sebanyak 40%-60% kunjungan berobat di Puskesmas dan 15%-30% kunjungan berobat di bagian rawat jalan dan rawat inap rumah sakit disebabkan oleh ISPA. Penyebab ISPA paling berat disebabkan infeksi Streptococus pneumonia atau Haemophillus influenzae. Banyak kematian yang diakibatkan oleh pneumonia terjadi di rumah, diantaranya setelah mengalami sakit selama beberapa hari. Hampir seluruh kematian karena ISPA pada balita disebabkan karena Pneumonia.

Profil Kesehatan Kab. Tulang Bawang Barat Tahun 2015

19 Penemuan Pneumonia balita di Kabupaten Tulang Bawang Barat selama 5 tahun ini masih rendah, pada tahun 2011 ditemukan 16 kasus (0,5 %), tahun 2012 ditemukan sebanyak 38 kasus (1,6%), tahun 2013 ditemukan 78 kasus (2,7%), tahun 2014 ditemukan 102 kasus (3,3%), sedangkan Tahun 2015 ditemukan 121 kasus (17,4 %). Seperti terlihat pada grafik berikut :

Grafik 3.10

Persentase Pneumonia pada Balita

di Kabupaten Tulang Bawang Barat Tahun 2011-2015

Sumber : Seksi P2 Dinkes Kab. TBB Thn 2015

Berdasarkan grafik diatas diketahui bahwa penemuan Pneumonia di Kabupaten Tulang Bawang Barat masih jauh dari target, dimana target nasional adalah 10 % dari jumlah balita dalam satu tahunnya (2010-2014), sedangkan target pada Tahun 2015 turun menjadi 2,23 % dari jumlah balita.

Sedangkan penemuan Pneumonia tahun 2015 per wilayah puskesmas dapat dilihat pada grafik berikut ini :

Grafik 3.11

Penemuan Pneumonia pada Balita per Wilayah Puskesmas di Kabupaten Tulang Bawang Barat Tahun 2015

Profil Kesehatan Kab. Tulang Bawang Barat Tahun 2015

20

Sumber : Seksi P2 Dinkes Kab. TBB Thn 2015

Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa penemuan pneumonia balita terbanyak di wilayah puskesmas Mulya Asri, sementara masih ada puskesmas yang belum melaporkan kasus pneumonia balita. Pneumonia balita masih rendah ini dikarenakan belum optimalnya penegakan diagnosa pneumonia di puskesmas dan belum terlatihnya tenaga di balai pengobatan/kebidanan di puskesmas.

3. HIV (Human Imunodefeciency) /AIDS (Acquired Immunedefeciency Syndroma)

Penyakit HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit menular seksual yang belum ditemukan obatnya dan mempunyai dampak sosial yang luas. Pemberantasan penyakit seksual termasuk infeksi HIV/AIDS merupakan salah satu program yang menjadi prioritas yang dilaksanakan secara nasional.

Kegiatan dalam penanggulangan penyakit seksual ini dilaksanakan dengan penemuan dan pengobatan penderita baik secara pasif di puskesmas maupun secara aktif dengan melakukan survey dengan sasaran kelompok resiko tinggi seperti PSK, narapidana, karyawan tempat hiburan, panti pijat, diskotik dan lain sebagainya.

Penemuan penderita HIV/AIDS di Kabupaten Tulang Bawang Barat tahun 2011 sampai tahun 2015 dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

Profil Kesehatan Kab. Tulang Bawang Barat Tahun 2015

21 Grafik 3.12

Penemuan HIV/AIDS

di Kabupaten Tulang Bawang Barat Tahun 2011-2015

Sumber : Seksie P2 Dinkes Kab. TBB Thn 2015

4. P2 Diare

Penyakit diare masih menjadi masalah yang serius dan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kematian bayi dan balita di negara sedang berkembang termasuk di Indonesia, dan merupakan salah satu penyakit yang berpotensi menjadi KLB. Untuk itu perlu penanganan yang serius terutama penemuan kasus sedini mungkin, pengobatan penderita dan pemberian oralit untuk mengatasi dehidrasi ditingkat rumah tangga.

Penanganan tidak hanya dilakukan secara kuratif tetapi juga dengan preventif. Kematian akibat diare terbanyak disebabkan oleh kekurangan vitamin A, dehidrasi, disentri dan diare persisten. UKBM (Usaha Kesehatan Bersumber Masyarakat) merupakan salah satu bentuk upaya untuk penanggulangan diare di masyarakat.

Indikator yang mempengaruhi penanggulangan kasus diare yaitu cakupan rumah tangga ber-PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), persentase akses air bersih (keluarga yang diperiksa per KK seluruhnya) dan cakupan kepemilikan jamban.

Profil Kesehatan Kab. Tulang Bawang Barat Tahun 2015

22 Penyakit diare sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, walaupun secara umum angka kesakitan masih fluktuatif. Penemuan penderita diare di Kabupaten Tulang Bawang Barat tahun 2011 sebanyak 5.116 (47,7 % ), tahun 2012 sebanyak 4.628 (42,33 % ), tahun 2013 sebanyak 4.574 (82,3%), tahun 2014 penderita diare sebanyak 4.333 (77,1%), sedangkan tahun 2015 sebanyak 3.887 (68,6%) seperti terlihat pada grafik berikut :

Grafik 3.13

Trend Persentase Penyakit Diare

di Kabupaten Tulang Bawang Barat Tahun 2011-2015

Sumber : Seksi P2 Dinkes Kab. TBB Thn 2015

Pada grafik diatas terlihat capaian penderita diare tahun 2013 meningkat tajam sebesar 82,3% dan tahun 2014 sebesar 77,1 %, begitu juga di tahun 2015 sebesar 68,6 %. Ini terjadi karena adanya perubahan angka kesakitan diare/1.000 penduduk sebesar 214 pada tahun 2013 dan tahun 2014, sedangkan tahun 2011-2012 memakai angka kesakitan diare/1.000 sebesar 423.

Sedangkan distribusi penyakit diare tahun 2015 dapat dilihat pada grafik berikut :

Profil Kesehatan Kab. Tulang Bawang Barat Tahun 2015

23 Grafik 3.14

Distribusi Kasus Diare per Puskesmas Di Kabupaten Tulang Bawang Barat Tahun 2015

Sumber : Seksi P2 Dinkes Kab. TBB Thn 2015

Dari grafik di atas terlihat bahwa kasus diare terbanyak terjadi di wilayah Puskesmas Dayamurni yaitu sebanyak 965 kasus, sedangkan kasus terendah terjadi di wilayah Puskesmas Mercubuana dan Puskesmas Pagar Dewa, dimana diare sebanyak 127 kasus.

5. Kusta

Penyakit Kusta merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Tulang Bawang Barat, baik dari aspek medis maupun aspek sosial. Penyakit kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, dan biasanya menyerang saraf tepi kulit dan jaringan tubuh lainnya. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang sifatnya kronis, sumber penularan penyakit ini adalah penderita kusta Multi Basiler (MB) atau kusta basah dengan kontak yang cukup lama.

Indikator program penanggulangan kusta berdasarkan standar pelayanan minimal (SPM) adalah angka kesembuhan (RFT : Release From Treatment) dan angka kesakitan per 10.000 penduduk. Untuk tahun 2015 indikator yang ingin dicapai yaitu angka prevalensi < 1 per 10.000 penduduk.

Profil Kesehatan Kab. Tulang Bawang Barat Tahun 2015

24 Dari tahun 2011-2015 di Kabupaten Tulang Bawang Barat penemuan penyakit Kusta fluktuatif naik turun, penemuan terbanyak terjadi pada tahun 2015, seperti terlihat pada tabel berikut ini :

Grafik 3.15

Penderita Penyakit Kusta PB dan MB

Kabupaten Tulang Bawang Barat Tahun 2011-2015

Sumber : Seksi P2 Dinkes Kab. TBB Thn 2015

Tahun 2011 ditemukan 3 kusta PB dan 4 kusta MB dengan RFT pada tahun 2011 yaitu kusta PB sebanyak 1 orang (33,3%) dan RFT kusta MB sebanyak 7 orang (70 %), pada tahun 2012 ditemukan 1 kusta PB dan 6 kusta MB, dengan RFT pada tahun 2012 yaitu RFT kusta PB 4 orang (100%) dan RFT kusta MB 3 orang (33 %), tahun 2013 ditemukan kusta MB 6 orang dan RFT kusta MB 0, tahun 2014 ditemukan kusta 3 kusta PB dengan RFT 1 orang (33%) dan 7 Kusta tipe MB dengan RFT 6 orang (86%), sedangkan pada tahun 2015 ditemukan kusta PB sebanyak 2 orang dan kusta MB sebanyak 10 orang, dengan RFT kusta PB 2 orang (50%) dan RFT kusta MB sebanyak 4 orang (40%).

Distribusi penderita Kusta PB dan MB per wilayah puskesmas dapat dilihat pada grafik berikut :

Profil Kesehatan Kab. Tulang Bawang Barat Tahun 2015

25 Grafik 3.16

Distribusi Penderita Kusta PB dan MB per Puskesmas Kabupaten Tulang Bawang Barat Tahun 2015

Sumber : Seksi P2 Dinkes Kab. TBB Thn 2015

6. AFP (Acute Flaccid Paralysis)

Dalam upaya untuk membebaskan Indonesia dari Polio, pemerintah melaksanakan program Eradikasi Polio (ERAPO) yang terdiri dari pemberian imunisasi polio secara rutin, pemberian imunisasi massal pada anak balita melalui PIN (Pekan Imunisasi Nasional) dan Surveilans AFP (Acute Flaccid Paralysis). Surveilans AFP bertujuan untuk memantau adanya penyebaran virus polio liar di suatu wilayah, sehingga upaya-upaya pemberantasannya menjadi terfokus dan efisien.

Kasus Acute Flacccid Paralysis (AFP) adalah kejadian lumpuh layuh mendadak, bukan karena ruda paksa / kecelakaan yang terjadi pada anak usia < 15 tahun. Dengan target penemuan kasus 2/100.000 anak usia < 15 tahun.

Selama kurun waktu 5 tahun dari tahun 2010-2015 selalu ditemukan kasus AFP, tetapi dari seluruh kasus AFP yang ditemukan tidak ada yang positif Polio. Tahun 2010 ditemukan 3 kasus AFP, yaitu di kecamatan Tumijajar 1 kasus, kecamatan Gunung Terang 1 kasus dan Kecamatan Way Kenanga sebanyak 1 kasus. Tahun 2011 ditemukan 2 kasus AFP dengan Incident rate 2,57 per 100.000 anak < 15 tahun, ditemukan di kecamatan Tulang Bawang Tengah 1 kasus dan di Kecamatan Way Kenanga sebanyak 1 kasus, tahun 2012 ditemukan 3 kasus AFP

Profil Kesehatan Kab. Tulang Bawang Barat Tahun 2015

26 dengan Incident rate 4,13 per 100.000 anak < 15 tahun, semuanya ditemukan di kecamatan Tulang Bawang Tengah, tahun 2013 ditemukan 4 kasus AFP dengan Incident Rate 5,5 per 100.000 anak < 15 tahun tahun 2014 ditemukan 2 kasus, sedangkan tahun 2015 ditemukan 2 kasus AFP, 1 kasus di Puskesmas Panaragan Jaya dan 1 kasus di Puskesmas Candra Mukti.

Grafik 3.17

Kasus AFP Tahun 2010-2015 Kabupaten Tulang Bawang Barat

Sumber : Seksie Cegmat Dinkes Kab. TBB Thn 2015

Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa penemuan kasus AFP di Kabupaten Tulang Bawang Barat selama 4 tahun ini sudah melewati target program, namun di tahun 2014 dan tahun 2015 cakupan dan target sama jumlahnya, yakni 2 kasus.

Dokumen terkait