• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang & Jasa

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL (Halaman 42-51)

PERKEMBANGAN INFLASI REGIONAL PERKEMBANGAN INFLASI REGIONAL

2.4. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang & Jasa

Secara triwulanan (q-t-q), perkembangan inflasi berdasarkan kelompok barang & jasa terlihat bahwa kelompok transportasi, komunikasi & jasa keuangan pada triwulan laporan memberikan sumbangan inflasi tertinggi. Pada triwulan II-2008, kelompok transportasi, komunikasi & jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 11,89% (sumbangan inflasi 2,08%), disusul kemudian kelompok makanan jadi sebesar 5,96% (sumbangan inflasi 1,05%).

Selanjutnya secara berturut-turut pada kelompok bahan makanan sebesar 3,40%

(sumbangan inflasi 0,93%), kelompok perumahan sebesar 3,25% (sumbangan inflasi 0,63%), kelompok kesehatan sebesar 2,47% (sumbangan inflasi 0,08%), kelompok pendidikan sebesar 0,89% (sumbangan inflasi 0,05%). Sementara itu,

Bank Indonesia Padang

26

Bab II :Perkembangan Inflasi Regional

kelompok sandang justru mengalami deflasi sebesar 1,12% dengan sumbangan deflasi sebesar 0,08% (Tabel 2.2).

(QtQ, %)

Perubhn. Sumb. Perubhn. Sumb. Perubhn. Sumb. Perubhn. Sumb. Perubhn. Sumb.

UMUM / TOTAL -1,96 -1,96 2,06 2,06 3,05 3,05 4,35 4,35 4,74 4,74

Bahan Makanan -7,97 -2,68 3,30 1,04 5,12 1,63 9,58 3,12 3,40 0,93

Makanan Jadi 1,91 0,32 2,19 0,38 4,29 0,75 1,81 0,32 5,96 1,05

Perumahan 0,87 0,17 1,73 0,34 1,74 0,34 2,37 0,46 3,25 0,63

Sandang 0,22 0,02 2,50 0,18 2,03 0,14 3,84 0,27 -1,12 -0,08

Kesehatan 3,65 0,10 1,57 0,05 0,56 0,00 1,17 0,03 2,47 0,08

Pendidikan -0,26 -0,01 1,69 0,10 0,93 0,05 0,65 0,04 0,89 0,05

Transportasi & Komk 0,81 0,12 -0,08 -0,01 0,32 0,05 0,72 0,11 11,89 2,08

Sumber : BPS Sumbar, diolah

Kelompok Barang & Jasa Tw. II

2008

Perkembangan Inflasi Triwulanan Kota Padang Menurut Kel. Barang

Secara bulanan (m-t-m), pada bulan Juni 2008 kelompok transportasi, komunikasi & jasa keuangan mengalami lonjakan inflasi yang cukup signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Kelompok transportasi, komunikasi & jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 10,73% (sumbangan inflasi 1,92%), disusul kemudian kelompok makanan jadi sebesar 3,93% (sumbangan inflasi 0,71%). Selanjutnya secara berturut-turut pada kelompok bahan makanan sebesar 3,64% (sumbangan inflasi 1,00%), kelompok perumahan sebesar 1,96%

(sumbangan inflasi 0,39%), kelompok kesehatan sebesar 0,75% (sumbangan inflasi 0,03%), kelompok sandang sebesar 0,48% (sumbangan inflasi 0,03%), dan kelompok pendidikan sebesar 0,21% dengan sumbangan inflasi sebesar 0,01%

(Tabel 2.3).

(MtM, %)

Perubhn. Sumb. Perubhn. Sumb. Perubhn. Sumb. Perubhn. Sumb. Perubhn. Sumb.

UMUM / TOTAL 1,99 1,99 1,43 1,43 0,09 0,09 0,54 0,54 4,09 4,09

Bahan Makanan 5,32 1,74 2,63 0,89 -0,04 -0,02 -0,18 -0,06 3,64 1,00

Makanan Jadi 0,61 0,11 1,04 0,18 1,72 0,30 0,23 0,04 3,93 0,71

Perumahan 0,36 0,07 0,80 0,15 -0,05 -0,01 1,32 0,25 1,96 0,39

Sandang 0,24 0,02 2,09 0,14 -1,37 -0,09 -0,23 -0,02 0,48 0,03

Kesehatan 0,10 0,00 0,97 0,03 0,64 0,02 1,06 0,03 0,75 0,03

Pendidikan 0,33 0,02 0,21 0,01 0,13 0,01 0,54 0,03 0,21 0,01

Transportasi & Komk 0,21 0,03 0,14 0,02 -0,79 -0,11 1,86 0,27 10,73 1,92 Sumber : BPS Sumbar, diolah. * Bulan Juni 2008 menggunakan tahun dasar 2007

Tabel 2.3

Apr Mei

Feb

Kelompok Barang & Jasa Juni*

2008

Perkembangan Inflasi Bulanan Kota Padang Menurut Kel. Barang

Mar

27

Bank Indonesia Padang

Bab II : Perkembangan Inflasi Regional

Kelompok bahan makanan selama periode triwulan II-2008 mengalami deflasi berturut-turut pada bulan April dan Mei 2008 (-0,04% dan -0,18%), kemudian terjadi inflasi kembali pada bulan Juni 2008 (3,64%). Deflasi yang terjadi di bulan April dan Mei 2008 disebabkan dari sub kelompok padi-padian dan sub kelompok bumbu-bumbuan yang mengalami deflasi. Sementara di bulan Juni 2008 seluruh sub kelompok mengalami inflasi, dengan inflasi tertinggi terjadi pada sub kelompok buah-buahan sebesar 11,88% dan inflasi terendah pada sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 0,17%. Komoditi yang menyumbang inflasi tertinggi pada kelompok ini diantaranya beras, ikan tongkol, pisang, daging ayam ras, bayam, pepaya, dll (Tabel 2.4).

Tabel 2.4. Komoditi Pada Kelompok Bahan Makanan

No. Komoditi Sumbangan

Inflasi (%)

1 Beras 0.15

2 Ikan tongkol 0,14

3 Pisang 0,13

4 Daging ayam ras, bayam 0,07

5 Pepaya 0,06

6 Teri, bawang merah, tomat sayur, minyak goreng 0,03 7 Ikan nila, udang basah, tempe, tuna, telur ayam ras,

kangkung, buncis

0,02 8 Daun singkong, ikan asin belah, apel, kelapa, cabe

hijau, ketimun, kacang panjang, cumi-cumi, gula pasir, garam

0,01

9 Cabe merah -0,04

10 Terong panjang -0,003

Sumber : BPS Sumbar

Berakhirnya musim panen raya padi pada periode April-Mei 2008, berdampak terhadap pasokan beras yang relatif berkurang di pasaran memasuki bulan Juni 2008. Pada sub kelompok padi-padian, harga beras yang sempat menurun di bulan April dan Mei 2008, kembali mengalami peningkatan harga di bulan Juni 2008. Jenis beras kualitas premium, seperti IR 42C Solok dan Cisokan Solok, merupakan jenis beras yang mengalami kenaikan harga paling tinggi dibandingkan jenis beras kualitas menengah dan bawah. Relatif stabilnya beras kualitas menengah dan bawah dikarenakan adanya peran Perum Bulog dalam mencukupi kebutuhan beras tersebut di pasaran, diantaranya dalam

Bank Indonesia Padang

28

Bab II :Perkembangan Inflasi Regional

bentuk program beras untuk keluarga miskin (raskin), beras bagi PNS dan operasi stabilisasi harga.

Sementara itu, cuaca yang kurang kondusif sepanjang triwulan laporan menyebabkan gelombang air laut di pesisir Barat Sumatera mencapai 1-2 meter yang menyebabkan nelayan enggan melaut. Hal tersebut berdampak terhadap pasokan ikan segar yang kurang mencukupi kebutuhan konsumen, terutama jenis ikan perairan dalam, seperti tongkol, tuna, udang basah dan cumi-cumi. Selain itu, keterbatasan pasokan ikan segar juga menyebabkan harga ikan asin belah meningkat, seperti ikan asin teri dan ikan asin sepat. Faktor jenis kapal yang digunakan untuk melaut juga berpengaruh terhadap jarak tempuh/tangkap yang dapat dilakukan. Sayangnya, kapal laut yang banyak digunakan oleh nelayan Sumatera Barat adalah jenis kapal kecil, sementara untuk menangkap ikan di perairan dalam digunakan jenis kapal besar/tongkang.

Tingginya harga pakan ternak secara langsung berpengaruh terhadap kenaikan biaya produksi/pemeliharaan hewan ternak, seperti ayam dan ikan air tawar. Pada triwulan laporan, harga daging ayam ras dan telur ayam ras mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi. Pada bulan Juni 2008, daging ayam ras rata-rata dijual seharga Rp24.125/kg, sementara telur ayam ras rata-rata dijual seharga Rp7.450/10 butir. Padahal di bulan Maret 2008, daging ayam ras masih berada pada harga Rp19.875/kg dan telur ayam ras Rp6.550/10 butir.

Harga komoditi minyak goreng dan kelapa masih bertahan di level yang cukup tinggi. Operasi Pasar (OP) minyak goreng yang dilakukan pemerintah daerah Sumatera Barat, nampaknya belum secara efektif menurunkan harga minyak goreng di pasar kota Padang. Sementara itu, naiknya harga kelapa selain karena efek substitusi dari tingginya harga minyak goreng, juga karena tingginya permintaan ekspor minyak kelapa ke luar negeri.

Memasuki periode triwulan II-2008, inflasi pada kelompok makanan jadi mengalami inflasi yang terus menerus setiap bulannya dengan kecenderungan yang semakin meningkat (1,72%, 0,23% dan 3,93%). Pada bulan Juni 2008, semua sub kelompok pada kelompok makanan jadi mengalami inflasi. Sub kelompok makanan jadi mengalami inflasi sebesar 4,76%, sub kelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 1,58%, dan sub kelompok tembakau & minuman beralkohol sebesar 3,27%. Komoditi yang menyumbang inflasi tertinggi pada kelompok ini diantaranya nasi, mie, rokok kretek filter, Rokok kretek, Ketupat/lontong sayur, rendang, ayam goreng, dll (Tabel 2.5).

29

Bank Indonesia Padang

Bab II : Perkembangan Inflasi Regional

Tabel 2.5. Komoditi Pada Kelompok Makanan Jadi

No. Komoditi Sumbangan

Inflasi (%)

1 Nasi 0,23

2 Mie 0,08

3 Rokok kretek filter 0,07

4 Rokok kretek 0,05

5 Ketupat/lontong sayur, rendang, ayam goreng 0,04

6 Rokok putih 0,03

7 Dendeng, roti manis, teh 0,02

8 Bubur kacang hijau, kopi bubuk, gula pasir 0,01 Sumber : BPS Sumbar

Seperti halnya di triwulan I-2008, pada triwulan laporan jenis makanan berbahan baku tepung terigu dan beras masih mengalami kenaikan harga seiring dengan naiknya harga dua komoditi tersebut. Pada bulan Juni 2008 tercatat produk yang berbahan baku tepung terigu, seperti roti manis dan mie mengalami inflasi. Belum pulihnya pasokan gandum dunia dari negara penghasil utama gandum, seperti Australia, Amerika dan sebagian negara Eropa, sementara permintaannya relatif meningkat menyebabkan harga gandum dunia masih cukup tinggi. Tingginya harga gandum internasional saat ini membuat kalangan produsen tepung terigu berencana kembali menaikkan harga hingga 10 persen di kuartal kedua tahun ini. Akibatnya, produsen bakery ikut-ikutan menaikkan harga antara 10-15 persen. Penyesuaian harga tersebut memakai patokan kontrak harga gandum pada bulan Desember 2007 yang sebesar USD450 per ton, namun pada pertengahan Februari 2008 harga gandum kembali melonjak menjadi USD700 per ton.

Beberapa jenis rokok masih memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap pembentukan inflasi kelompok makanan jadi. Rokok kretek filter menyumbang inflasi sebesar 0,07% disusul kemudian rokok kretek dengan sumbangan inflasi sebesar 0,05%, dan rokok putih dengan sumbangan inflasi sebesar 0,03%. Kenaikan harga rokok disebabkan dampak lanjutan kebijakan kenaikan tarif cukai spesifik yang berlaku mulai Maret 2008. Produsen rata-rata menetapkan kenaikan harga jual sehingga perbedaan antara Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Transaksi Pasar (HTP) berada pada kisaran 15%. Tarif cukai spesifik dari sigaret kretek dan sigaret putih mesin akan dinaikkan Rp3 – Rp7 perbatang menjadi sebesar Rp30 – Rp35 per batang. Selain itu, harga rokok juga

Bank Indonesia Padang

30

Bab II :Perkembangan Inflasi Regional

dipengaruhi oleh naiknya harga cengkeh. Kenaikan harga cengkeh disebabkan oleh meningkatnya biaya produksi cengkeh, sehingga kenaikan harga cengkeh menjadi tidak normal. Selain itu kondisi alam yang tidak mendukung juga diperkirakan akan menyebabkan panen cengkeh gagal.

Kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar pada periode triwulan laporan sekali mengalami deflasi, yaitu di bulan April 2008 (-0,05%), selanjutnya inflasi di bulan Mei dan Juni 2008 (1,32% dan 1,96%).

Deflasi pada bulan April 2008 disumbangkan dari deflasi yang terjadi pada sub kelompok bahan bakar, penerangan & air (-0,39%). Pada bulan Juni 2008, walaupun sub kelompok bahan bakar, penerangan & air masih mengalami deflasi namun tidak sebesar April 2008, yaitu sebesar -0,01%. Sub kelompok lainnya, yaitu sub kelompok perlengkapan rumah tangga mengalami inflasi 4,69%, sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga sebesar 0,44%, dan sub kelompok biaya tempat tinggal sebesar 2,90%. Komoditi yang menyumbang inflasi tertinggi pada kelompok ini diantaranya tukang bukan mandor, semen, seng, meja kursi tamu, tempat tidur pasir, besi beton, sabun detergen bubuk, dll (Tabel 2.6).

Tabel 2.6. Komoditi Pada Kelompok Perumahan

No. Komoditi Sumbangan

Inflasi (%)

1 Tukang bukan mandor 0,16

2 Semen 0,07

3 Seng 0,06

4 Meja kursi tamu, tempat tidur 0,03

5 Pasir 0,02

6 Besi beton, sabun detergen bubuk 0,01 Sumber : BPS Sumbar

Naiknya harga BBM pada akhir Mei 2008 serta faktor harga internasional menaikkan tarif jasa tenaga bangunan dan harga beberapa jenis bahan bangunan. Tarif jasa tukang bukan mandor menyumbang inflasi sebesar 0,16%

di bulan Juni 2008, sementara beberapa jenis bahan bangunan seperti semen, seng, pasir dan besi beton turut menyumbang inflasi antara 0,01-0,07%. Selain itu, beberapa perabot rumah yang berbahan baku kayu, seperti meja kursi tamu dan tempat tidur juga mengalami inflasi di bulan laporan dengan sumbangan masing-masing sebesar 0,03%. Hal ini antara lain dipicu oleh masih terbatasnya

31

Bank Indonesia Padang

Bab II : Perkembangan Inflasi Regional

ketersediaan kayu akibat dari maraknya razia dan pemeriksaan kayu dalam rangka mengurangi illegal logging.

Pada periode triwulan II-2008, kelompok transportasi, komunikasi & jasa keuangan hanya sekali mengalami deflasi, yaitu di bulan April 2008 (-0,79%), selanjutnya mengalami inflasi di bulan Mei dan Juni 2008 (1,86%

dan 10,73%). Deflasi pada bulan April 2008 disumbangkan dari deflasi yang terjadi pada sub kelompok komunikasi & pengiriman (-6,89%). Pada bulan Juni 2008 sub kelompok transportasi mengalami inflasi tertinggi, yaitu sebesar 14,75%, disusul kemudian sub kelompok sarana & penunjang transportasi sebesar 0,16%

dan sub kelompok komunikasi & pengiriman sebesar 0,04%. Sementara sub kelompok jasa keuangan tidak mengalami perubahan. Komoditi penyumbang inflasi pada kelompok transportasi, komunikasi & jasa keuangan diantaranya adalah angkutan dalam kota, bensin, angkutan antar kota, bahan pelumas/oli, dll (Tabel 2.7).

Tabel 2.7. Komoditi Pada Kelompok Transportasi

No. Komoditi Sumbangan

Inflasi (%)

1 Angkutan dalam kota 0,97

2 Bensin 0,82

3 Angkutan antar kota 0,12

4 Bahan pelumas/oli, solar 0,01

Sumber : BPS Sumbar

Berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral no.12 tahun 2008, tertanggal 23 Mei 2008, harga bahan bakar minyak jenis premium, minyak tanah dan solar naik. Kenaikan harga BBM dinyatakan berlaku tanggal 24 Mei 2008 dengan ketetapan harga premium dari Rp4.500 menjadi Rp6.000 per liter, solar dari Rp4.300 menjadi Rp5.500 per liter, dan minyak tanah dari Rp2.000 menjadi Rp2.500 per liter.

Naiknya tarif jasa angkutan kendaraan, baik dalam kota maupun antar kota, merupakan konsekuensi logis dari naiknya harga BBM, terutama bensin dan solar. Beberapa hari setelah pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM, pemerintah daerah bersama dinas terkait telah menetapkan tarif baru angkutan dalam kota berdasarkan jarak tempuh, yang rata-rata naik sebesar 20-30% dari tarif lama. Di kota Sawahlunto, tarif angkutan kota untuk 17 lintasan

Bank Indonesia Padang

32

Bab II :Perkembangan Inflasi Regional

trayek naik berkisar 15%. Sementara di kota Padang kenaikan tarif angkutan kota didasarkan pada zona dan jenis penumpang (Tabel 2.8).

Kriteria Tarif Lama (Rp) Tarif Baru (Rp)

I < 5 Km Umum 1.300 1.500 Pelajar 700 750 II 5 - 10 Km Umum 1.550 2.000 Pelajar 800 1.000 III 10 - 15 Km Umum 1.800 2.300 Pelajar 900 1.150

IV > 15 Km Umum 110/km 130/km

Pelajar 55/km 65/km

Bus Kota Umum 1.300 1.700 Pelajar 700 850 Sumber : Pemko Padang

Zona

Tabel 2.8. Tarif Angkutan Dalam dan Luar Kota Padang

Memasuki periode triwulan II-2008 kelompok kesehatan mengalami inflasi setiap bulannya dengan tingkatan yang berbeda, yaitu berturut-turut sebesar 0,64%, 1,06% dan 0,75%. Pada bulan Juni 2008 sub kelompok obat-obatan mengalami inflasi tertinggi yaitu sebesar 2,83%, kemudian sub kelompok jasa kesehatan sebesar 0,61%. Sementara itu, sub kelompok perawatan jasmani & kosmetik dan sub kelompok jasa perawatan jasmani tidak mengalami perubahan harga. Obat dengan resep dokter merupakan penyumbang pada sub kelompok obat-obatan dengan sumbangan sebesar 0,015%.

Harga obat mulai terimbas dengan kenaikan harga BBM. Pasca kenaikan BBM harga obat paten naik 6% hingga 10%. Kenaikan harga diantaranya dipicu naiknya biaya pengiriman. PT Kimia Farma Tbk, sebagai salah satu produsen obat terkemuka, menaikkan harga obat bermerek (branded) rata-rata 10%--15% per 1 Juni 2008. Hal tersebut sebagai akibat kenaikan harga BBM rata-rata 28,7%, biaya angkut, tarif listrik dan rencana kenaikan anggaran gaji pegawai sebesar 30%. Selain itu, harga obat bermerek (branded) tahun 2007 belum ada kenaikan. Sementara obat generik telah mengalami kenaikan rata-rata 20% pada Februari 2008. Dari 300 poduk produksi obat Kimia Farma, 60% adalah produk generik, sementara sisanya branded.

Kelompok pendidikan, rekreasi & olahraga pada periode triwulan laporan selalu mengalami inflasi walaupun dengan angka yang relatif rendah diantara kelompok lainnya. Di bulan Juni 2008, sub kelompok perlengkapan/peralatan pendidikan mengalami inflasi sebesar 0,23%, disusul

33

Bank Indonesia Padang

Bab II : Perkembangan Inflasi Regional

kemudian sub kelompok rekreasi sebesar 1,07%. Sementara sub kelompok lainnya, seperti sub kelompok kursus pelatihan, sub kelompok olahraga dan sub kelompok jasa pendidikan tidak mengalami perubahan harga pada triwulan laporan.

Surat kabar harian merupakan jenis komoditi/barang yang memberikan sumbangan inflasi pada sub kelompok rekreasi, yaitu sebesar 0,01%.

Kenaikan tersebut sebagai bentuk dari penyesuaian biaya produksi yang terus meningkat, seperti harga kertas koran, alat cetak dan biaya energi. Harga kertas internasional sejak beberapa tahun terakhir terus mengalami kenaikan secara signifikan. Pada tahun 2005 harganya 750 euro per ton, dan di bulan Juni 2008 melonjak 10% menjadi 857 euro per ton. Biaya energi juga meningkat menyesuaikan tarif listrik dan BBM yang terus meningkat.

Kelompok sandang pada periode triwulan laporan mengalami dua kali deflasi, yaitu pada bulan April dan Mei 2008 (-1,37% dan -0,23%) namun kembali mengalami inflasi di bulan Juni 2008 (0,48%). Deflasi yang terjadi pada bulan April dan Mei 2008 berasal dari deflasi pada sub kelompok barang pribadi & sandang lainnya, dan sub kelompok sandang anak-anak. Pada bulan Juni 2008, inflasi tertinggi terjadi pada sub kelompok sandang anak-anak sebesar 0,82%, dan inflasi terendah terjadi pada sub kelompok sandang laki-laki sebesar 0,37%. Pakaian jenis daster memberikan sumbangan terhadap sub kelompok sandang wanita sebesar 0,006%.

Bank Indonesia Padang

34

B O K S

Perkembangan Inflasi

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL (Halaman 42-51)

Dokumen terkait