• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Ekonomi Makro Sumatera Barat

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL (Halaman 22-29)

cassiavera dari tahun ke tahun terus menurun sebagai akibat rendahnya harga ditingkat petani sejak tahun 1998 yang jauh lebih rendah dibandingkan harga ekspor yang diperoleh eksportir yang merupakan pedagang besar dan pengumpul. Kenyataan ini menyebabkan banyak petani yang kemudian mengalihkan sebagian lahannya untuk bertanam jenis tanaman lain yang lebih menguntungkan atau menunda memanen cassiavera sambail berharap harga lokal akan naik kembali. Kondisi ini berdampak dengan turunnya produksi komoditi ini baik di Sumatera Barat maupun Jambi yang merupakan sentra penghasil komoditi casiavera di Indonesia.

Tahun

Sumber : BPS Prop. Sumbar dan AECI

* Angka sementara

Tabel 1.7 Luas Lahan Produktif dan  Produksi

Ekspektasi perbankan terhadap produksi pertanian Sumbar tetap meningkat. Kredit sektor pertanian yang disalurkan bank, baik bank umum maupun BPR, terus mengalami pertumbuhan (grafik 1.13). Ekspansi kredit sektor pertanian oleh perbankan menunjukkan bahwa kegiatan usaha di sektor pertanian semakin dipersepsikan positif di masa mendatang oleh kalangan perbankan.

Produksi padi Sumatera Barat diperkirakan melampaui angka 2 juta ton pada tahun 2008. Angka Ramalan II-2008 (ARAM II-2008) yang diterbitkan BPS Sumbar menyatakan bahwa produksi padi diperkirakan mencapai 2.017.582 ton GKG atau meningkat 4,10% dibandingkan produksi tahun 2007 (ATAP’07).

Peningkatan produksi padi bersumber dari bertambahnya luas panen dan peningkatan produktivitas. Produksi jagung tahun 2008 juga diperkirakan meningkat cukup tinggi (25,25%).

(8.00)

Grafik 1.8. Pertumbuhan Nilai Tambah Sektor Pertanian Grafik 1.9. Produksi Padi Sawah (Aram I-2008)

Bank Indonesia Padang

16

Bab I : Perkembangan Ekonomi Makro Sumatera Barat

Des'05 Des'06 Feb'07 Mar'07 Apr'07 May'07 Jun'07 Jul'07 Aug'07 Sep'07 Oct'07 Nov'07 Dec'07 Jan'08 Feb'08 Mar'08 Apr'08 May'08

Rp Juta Produk Olahan Makanan dan Minuman

Sumber : DJBC, PPDI-BI, diolah Sumber : Sekda BI, diolah

Grafik 1.10. Volume Ekspor Hasil Pertanian Grafik 1.11. Penyaluran Kredit Sektor Pertanian

60

Aug‐07 Sep‐07 Oct‐07 Nov‐07 Dec‐07 Jan‐08 Feb‐08 Mar‐08 Apr‐08 Indeks TPR

Indeks Tabama

Sumber : BPS, diolah

Sumber : BPS, diolah

Grafik 1.12. Perkembangan Nilai Tukar Petani Grafik 1.13. Indeks Harga yang Diterima Petani

1.2.2 Sektor Industri Pengolahan

Pertumbuhan sektor industri pengolahan mengalami perlambatan cukup tajam dari 7,27% pada triwulan I-2008 menjadi 6,04% pada triwulan laporan. Penurunan kinerja industri pengolahan bersumber dari penurunan pertumbuhan nilai tambah pada industri makanan, minuman, dan tembakau. Hal ini diperkirakan disebabkan oleh tingginya inflasi pada kelompok bahan makanan, minyak goreng, dan minyak tanah. Selain itu, penurunan daya beli masyarakat juga mengurangi permintaan dan konsumsi rumah tangga.

Tingginya permintaan semen menopang melambatnya pertumbuhan ekonomi sektor industri pengolahan. Subsektor semen dan barang dari logam tetap tumbuh cukup tinggi sebesar 8,89% pada triwulan laporan. Penjualan PT Semen Padang terus meningkat dengan fokus penjualan di dalam negeri. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya investasi pada sektor bangunan di wilayah Sumatera baik investasi pemerintah maupun swasta.

17

Bank Indonesia Padang

Bab I: Perkembangan Ekonomi Makro Sumatera Barat

Jan-07 Feb-07 Mar-07 Apr-07 May-07 Jun-07 Jul-07 Aug-07 Sep-07 Oct-07 Nov-07 Dec-07 Jan-08 Feb-08 Mar-08 Apr-08 May-08 Jun-08

Ton

Produksi Penjualan

Sumber : PT Semen Padang

Grafik 1.14. Ekspor Barang Manufaktur Grafik 1.15. Penjualan Semen

0

01‐Jan‐08 01‐Feb‐08 01‐Mar‐08 01‐Apr‐08 01‐May‐08 01‐Jun‐08

Premium

Sumber : PT PLN Kanwil Sumbar

Grafik 1.16. Perkembangan Harga BBM Industri Grafik 1.17. Konsumsi Listrik Industri

Sektor industri pengolahan diperkirakan masih akan mengalami perlambatan seiring dengan terus meningkatnya harga BBM industri dan supply listrik yang terbatas. Pada grafik 1.16 terlihat bahwa harga BBM industri terus meningkat seiring dengan terus meningkatnya harga minyak dunia.

Kesulitan ini ditambah dengan defisit listrik yang terjadi akibat belum ditambahnya pembangkit listrik yang ada di Sumatera. Konsumsi listrik industri pada grafik 1.17 terus menunjukkan peningkatan yang mengindikasikan bahwa permintaan listrik terus tumbuh.

1.2.3 Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran

Pertumbuhan sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) pada triwulan II-2008 sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya.

Melambatnya sektor PHR terjadi bersumber dari perlambatan pada subsektor perdagangan besar dan eceran yang disebabkan oleh perlambatan pada sisi konsumsi rumah tangga (grafik 1.18). Di sisi lain, subsektor hotel dan subsektor restoran justru mengalami pertumbuhan yang meningkat. Hal ini disebabkan oleh

Bank Indonesia Padang

18

Bab I : Perkembangan Ekonomi Makro Sumatera Barat

masuknya musim liburan pada penghujung triwulan II-2008 serta maraknya kegiatan MICE di Kota Padang dan Bukittinggi. Grafik 1.19. menunjukkan bahwa pada bulan Mei 2008 terjadi peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Internasional Minangkabau, yang diikuti dengan tren meningkatnya tingkat penghunian kamar hotel berbintang (grafik 1.20).

3

Dec‐07 Jan‐08 Feb‐08 Mar‐08 Apr‐08 May‐08

Wisatawan 

Sumber : BPS, diolah

Grafik 1.18. Pertumbuhan Konsumsi dan Perdagangan (%) Grafik 1.19. Perlembangan Wisatawan Mancanegara

38

Nov‐07 Dec‐07 Jan‐08 Feb‐08 Mar‐08 Apr‐08

%

Des'03 Des'04 Des'05 Des'06 Feb'07 Mar'07 Apr'07 May'07 Jun'07 Jul'07 Aug'07 Sep'07 Oct'07 Nov'07 Dec'07 Jan'08 Feb'08 Mar'08 Apr'08 May'08

Sumber : BPS Sumber : SEKDA-BI

Grafik 1.20. Tingkat Penghunian Kamar Hotel Berbintang Grafik 1.21. Kredit Sektor Perdagangan Berdasarkan Lokasi Proyek (Rp Juta)

Meskipun melambat, kucuran kredit sektor perdagangan terus mengalami peningkatan. Pada akhir Mei 2008, kredit sektor perdagangan yang tersalur di wilayah Sumatera Barat mencapai Rp 3,36 triliun yang terdiri dari kredit modal kerja sebanyak Rp 2,95 triliun dan kredit investasi sebanyak Rp 410,68 juta.

Hal ini mengindikasikan bahwa perbankan masih melihat sektor perdagangan sebagai salah satu sektor unggulan di Sumatera Barat.

19

Bank Indonesia Padang

Bab I: Perkembangan Ekonomi Makro Sumatera Barat

1.2.4 Sektor Pengangkutan & Komunikasi

Tabel 1.8. Perkembangan Nilai Tambah Bruto Sektor Transportasi dan Komunikasi

Tw.I-07 Tw.II-07 Tw.III-07 Tw.IV-07 Tw.I-08 Tw.II-08 Sektor Transportasi dan Komunikasi 8.84 9.37 9.78 9.30 9.52 9.14 Sektor Transportasi dan Komunikasi

Pada triwulan II tahun 2008, sektor pengangkutan & komunikasi mengalami pertumbuhan positif sebesar 9,14% (y-o-y). Dilihat dari subsektornya, pertumbuhan pada triwulan laporan terutama disumbangkan subsektor komunikasi yang tumbuh sebesar 19,08% (y-o-y) sedangkan subsektor angkutan meningkat sebesar 6,01%. Pertumbuhan tertinggi subsektor angkutan terjadi pada angkutan udara sebesar 8,46% (tabel 1.7).

Pertumbuhan ekspansif subsektor komunikasi menarik operator telepon seluler untuk memperluas jaringannya di Sumatera Barat. Masuknya satu operator GSM pada akhir triwulan I-2008 kembali meningkatkan kapasitas telekomunikasi di Sumatera Barat. Pada triwulan III-2008 akan bertambah lagi satu operator CDMA yang akan beroperasi di Sumatera Barat. Setelah masuknya satu operator CDMA pada triwulan III-2008 mendatang, akan terdapat empat operator GSM dan empat operator CDMA.

0

Sumber : PT Angkasa Pura II

0

Sumber : PT Angkasa Pura II, diolah

Grafik 1.22. Perkembangan Keberangkatan Pesawat Terbang melalui Bandara Internasional Minangkabau

Grafik 1.23. Perkembangan Keberangkatan Penumpang melalui Bandara Internasional Minangkabau

Meskipun pertumbuhan subsektor angkutan udara masih cukup tinggi, namun belum dapat memenuhi permintaan konsumen di Sumatera Barat.

Bank Indonesia Padang

20

Bab I : Perkembangan Ekonomi Makro Sumatera Barat

Hal ini ditunjukkan dengan terus melambungnya harga tiket pesawat terbang pasca tidak beroperasinya Adam Air pada bulan Maret 2008. Pada grafik 1.22, terlihat bahwa keberangkatan pesawat melalui Bandara Minangkabau terus menurun. Padahal masa low season biasanya telah berakhir pada triwulan I. Di sisi lain, beberapa maskapai justru mengurangi jadwalnya disebabkan perubahan orientasi pasar dari domestik menjadi internasional (AirAsia) serta meningkatnya biaya operasional akibat kenaikan harga avtur.

1.2.5 Sektor Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

Sektor keuangan, persewaan & jasa perusahaan pada triwulan II-2008 tumbuh sebesar 6,89% (y-o-y) sedikit meningkat dibandingkan triwulan I-2008 sebesar 6,83% (y-o-y). Peningkatan pertumbuhan sektor ini ditopang oleh peningkatan pertumbuhan pada subsektor bank dan subsektor lembaga keuangan bukan bank dan jasa penunjang. Pada subsektor bank, peningkatan ini ditunjukkan dengan peningkatan aset bank serta meningkatnya rasio LDR (grafik 1.24 dan 1.25). Peningkatan kredit ini terutama merespon penurunan pendapatan riil rumah tangga yang dikompensasi dengan kenaikan kredit konsumsi.

Sementara itu, pada subsektor lembaga keuangan bukan bank dan jasa penunjang, pertumbuhan yang meningkat didorong oleh peningkatan penjualan kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor. Konsumen biasanya membeli sepeda motor dengan skema kredit yang dibiayai oleh multifinance yang terkait dengan dealer atau merek sepeda motor tertentu.

0

Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May

2003 2004 2005 2006 2007 2007 2008

Rp Juta mber : Sekda, diolah

Grafik 1.24. Perkembangan Aset Perbankan Sumbar Grafik 1.25. Perlembangan DPK, Kredit, LDR

21

Bank Indonesia Padang

Bab I: Perkembangan Ekonomi Makro Sumatera Barat

1.2.6 Sektor Jasa-jasa

Sektor jasa-jasa pada triwulan II-2008 tumbuh sebesar 5,68% (y-o-y), sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 6,01%.

Sektor yang merepresentasikan pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersier masyarakat ini mengalami perlambatan seiring dengan melambatnya konsumsi masyarakat akibat tingginya tekanan inflasi. Meskipun demikian, kalangan perbankan dan dunia usaha masih melihat sektor ini cukup prospektif dan penurunan ini bersifat sementara. Hal ini terlihat dari terus meningkatnya kredit yang disalurkan perbankan untuk subsektor jasa dunia usaha (grafik 1.24).

Sementara itu, jasa pemerintahan umum tumbuh relatif stabil dari 5,37%

(triwulan I-2008) menjadi 5,30% (triwulan II-2008). Indikator Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang merepresentasikan aktivitas jasa pemerintah menunjukkan peningkatan (grafik 1.25) antara lain dari pendapatan jasa maupun pendapatan pendidikan.

0 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May

2007 2008

Rp Juta

Jasa Dunia Usaha Jasa Sosial Masyarakat

Sumber : Sekda BI

5,000.00  10,000.00  15,000.00  20,000.00  25,000.00  30,000.00  35,000.00  40,000.00 

Pendapatan Jasa Pendapatan  Pendidikan

Rp Juta

s.d. Mei‐2007 s.d. mei 2008

Sumber : Kanwil III DJPBN Padang

Grafik 1.26. Perkembangan Kredit Jasa-Jasa menurut Lokasi Proyek

Grafik 1.27. Perkembangan Beberapa Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)Pemerintah Pusat

Bank Indonesia Padang

22

B O K S

R

RI IN NG GK KA AS SA AN N EK

E

KS SE EK KU UT TI IF F K

KA AJ JI IA AN N EK E KO ON NO OM MI I RE R EG GI IO O NA N AL L WI W IL LA AY YA AH H S S UM U MA AT TE ER RA A

**

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL (Halaman 22-29)

Dokumen terkait