I II III IV I II
Sumatera 3.75 4.93 6.28 4.95 4.55 4.09
Zona Sumbagut 3.45 6.25 5.54 2.14 1.93 2.18
Sumut 8.37 8.55 6.68 4.18 4.46 5.40
NAD -8.27 -3.33 -5.18 -6.48
-2.18
0.53 2.61
Zona Sumbagteng 4.83 4.47 5.14 5.54 5.25 5.29
Sumbar 5.66 6.29 6.69 6.71 6.58 6.04
Riau 3.33 2.95 3.54 3.80 3.45 3.51
Jambi 8.15 6.69 6.41 6.46 4.89 6.37
Kepri 6.53 5.71 7.24 8.50 8.63 8.60
Zona Sumbagsel 2.43 3.98 9.10 7.82 6.94 4.64
Sumsel 5.17 5.67 5.46 7.01 8.17 4.97
Babel 3.48 4.80 3.85 7.06 7.58 6.14
Lampung 0.48 18.01 9.84 4.79 3.76
Bengkulu 3.69 7.15 8.21 6.46 6.92 4.20
Sumber : BPS
Tabel 1 Pertumbuhan Ekonomi Sumatera (y-o-y,%)
Komponen 2007** 2008**
Memasuki Triwulan II-2008, kinerja perekonomian wilayah Sumatera mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi wilayah Sumatera diperkirakan melambat dari 4,55% (Tw.I-2008) menjadi 4,09%
(Tw.II-2008). Melambatnya perekonomian bersumber dari cukup tajamnya penurunan pertumbuhan ekonomi di Zona Sumatera Bagian Selatan dari 6,94%
(Tw.I-2008) menjadi 4,64% (Tw.II-2008), khususnya di Provinsi Sumatera Selatan yang memiliki pangsa cukup besar dalam pembentukan PDRB Sumatera (13,60%). Menurunnya kinerja perekonomian Sumatera Selatan bersumber dari sektor pertanian khususnya tanaman bahan makanan, perkebunan, dan perikanan (grafik 1). Data produksi padi yang dirilis BPS (grafik 2) mengindikasikan terjadi penurunan produksi padi di Provinsi Sumsel dari 1,3 juta ton (catur wulan I-2007) menjadi 1,1 juta ton (catur wulan I-2008)
3.19 3.45 4.77 Produksi Padi Sumsel 1,318,365 672,390 825,149 1,147,738. 756,226.00 849,080.00
0
Sumber: BPS, berdasarkan ASEM I-07 dan ARAM I-08
Grafik 1 PDRB Sektor Pertanian Sumsel Grafik 2 Perkembangan Produksi Padi Sumsel
Pertumbuhan ekonomi yang rendah masih terjadi di Zona Sumatera Bagian Utara. Peningkatan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Utara dari 4,46% (Tw.I-2008) menjadi 5,40% (Tw.II-2008) tidak cukup mengangkat pertumbuhan ekonomi ke level yang moderat di Zona Sumatera Bagian Utara.
Hal ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi negatif terus terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang berasal dari sektor pertambangan dan penggalian. Data lifting gas alam PT Exxon di Arun terus menunjukkan penurunan sejak 2005. Pada tahun 2008, prognosa Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan penurunan produksi gas alam hampir 50%
dari 154.162 mmbtu menjadi 73.955 mmbtu.
I II III IV I II
2007** 2008***
Pertumbuhan PDRB (8.3) 0.5 2.6 (3.3) (5.2) (6.5) Pertumbuhan PDRB
Tanpa Migas 0.2 11.2 9.1 9.7 4.1 2.2
Pertumbuhan PDRB
Sektor Migas (23.8) (18.7) (10.3) (30.7) (27.6) (27.9) (35.0)
(30.0) (25.0) (20.0) (15.0) (10.0)10.0 15.0 (5.0)5.0 ‐
%
Sumber: BPS
209.770
187.626
154.162
73.935
2005 2006 2007 2008p
Lifting Gas Alam NAD
Sumber: Dep. ESDM
Grafik 3 Pertumbuhan PDRB NAD Grafik 4 Lifting Gas Alam NAD
Pertumbuhan negatif sektor pertambangan dan penggalian tidak hanya terjadi di Zona Sumbagut. Hal ini terlihat dari semakin mengecilnya pangsa sektor tersebut dalam pembentukan PDRB. Di Zona Sumbagteng pangsa sektor pertambangan dan penggalian menurun dari 31,6% (Tw.I-2006) menjadi 28,3%
(Tw.II-2008). Di Sumbagsel, pangsa sektor yang menghasilkan energi ini juga menurun sebesar 1,3% pada periode yang sama. Lebih kecilnya penurunan pangsa di Sumbagsel karena subsektor penggalian masih tumbuh cukup tinggi, khususnya timah (Prov. Babel) dan Batubara (Sumsel). Berbagai faktor menjadi penyebab terus menurunnya sumbangan sektor energi yang justru sedang mengalami kenaikan harga. Indonesia Petroleum Association melansir lima isu utama yaitu penyelesaian perbedaan antara aturan perpajakan, Undang-Undang Migas, dan isi kontrak kerja sama; koordinasi antarinstansi terkait untuk menyelesaikan masalah tumpang tindih lahan; kejelasan mengenai kebutuhan gas domestik dan alokasi ekspor; merampingkan birokrasi; dan koordinasi audit yang dilakukan oleh sejumlah instansi pemerintah (Kompas, 28 Mei 2008)
Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2
2006* 2007* 2008**
Sumbagut 8.47 8.63 7.85 7.18 6.36 6.70 7.10 4.78 4.37 4.59 Sumbagteng 31.6 31.3 31.0 30.8 30.2 29.9 29.4 29.1 28.7 28.3 Sumbagsel 16.0 15.8 16.0 16.5 15.6 15.3 14.6 15.4 14.9 14.7
‐
2003 2004 2005 2006 2007 2008 (April)
Kredit Investasi Pertambangan (Rp Juta)
Kredit Investasi Pertambangan
Sumber: Sekda-BI
Grafik 5 Pangsa PDRB Sektor Pertambangan dan Penggalian Sumatera
Grafik 6 Perkembangan Kredit Investasi Pertambangan
Melambatnya kegiatan ekonomi terjadi pada hampir semua komponen PDRB menurut permintaan (tabel 2). Pertumbuhan konsumsi melambat dari 7,38% (Tw.I-2008) menjadi 6,04%(Tw.II-2008), disebabkan penurunan pendapatan riil akibat tekanan inflasi yang meningkat terutama inflasi pada kelompok bahan makanan dan makanan jadi. Berbagai indikator menunjukkan menurunnya daya beli konsumen antara lain Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) yang terus menurun dan stagnasi pada pertumbuhan tabungan perorangan.
I II III IV I II
Total PDRB 3.75 4.93 6.28 4.95 4.55 4.09
Permintaan Domestik 5.22 10.39 5.33 9.62 5.56 3.85
Konsumsi 6.73 7.72 7.98 7.46 7.38 6.04
Rumah Tangga 7.26 8.06 8.26 6.92 7.89 6.56
Pemerintah 3.94 5.97 6.51 10.17 4.62 3.32
Investasi 0.83 19.03 -2.22 17.79 0.00 -2.57
PMTB 10.59 9.04 6.05 10.97 10.24 11.89
Perdagangan Internasional -2.58 -10.96 10.87 -9.07 -1.40 0.00
Ekspor 6.09 4.11 16.77 14.71 16.78 16.44
Impor 16.22 21.25 22.03 39.53 34.58 30.17
*** sangat sementara
** sementara Sumber: BPS
2007** (Y-O-Y,%) 2008*** (Y-O-Y,%)
Komponen PDRB
Tabel 2 Pertumbuhan PDRB Menurut Permintaan
0
Mei Juni Juli Agust Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun
2007 2008
Grafik 7 Perkembangan IKK Kota Besar Sumatera
Grafik 8 Perkembangan Tabungan Perorangan
Pertumbuhan investasi PMTB masih tumbuh cukup tinggi terutama di Zona Sumbagteng. Tingginya harga komoditas CPO mendorong peningkatan investasi di subsektor perkebunan. Prompt indikator (tabel 9 dan 10) menunjukkan bahwa impor pupuk serta kredit investasi pada sektor pertanian terus meningkat. Impor pupuk mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 2006, sementara kredit sektor pertanian mengalami akselerasi sejak awal tahun 2007.
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Impor Pupuk 95,61207 98,38122 117,8962 134,776 235,7938 229,3176 598,6362 775,5753
0
AprMayJun Jul AugSep OctNovDec Jan FebMarApr
2007 2007 2008
Grafik 9 Perkembangan Impor Pupuk Grafik 10 Perkembangan Kredit Investasi Sektoral
Belanja pemerintah pusat terlihat cukup ekspansif mendorong investasi. Berdasarkan data Laporan Arus Kas Pemerintah Pusat, terjadi pertumbuhan belanja investasi pemerintah pusat, khususnya di Zona Sumbagut dan Sumbagteng. Menjelang berakhirnya masa tugas Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Nias (BRR) pada April 2009 mendorong peningkatan belanja investasi di Provinsi NAD dari Rp 555,5 milyar (Jan-Mei 2007) menjadi Rp 1,59 triliun (Jan-Mei 2008). Di Zona Sumbagteng, belanja investasi pemerintah pusat banyak ditujukan kepada belanja investasi jalan dan jaringan.
s.d. Mei 2007 s.d. Mei 2008 Sumber: Depkeu, menurut Kanwil Ditjen Perbendaharaan
Perkembangan Belanja Investasi Pemerintah Pusat Belanja Investasi
Pertumbuhan (%) Wilayah/Zona
Meski belanja pemerintah pusat tumbuh ekspansif, realisasi belanja APBD masih relatif terbatas. Ketepatan waktu dalam penetapan APBD serta percepatan mekanisme transfer dana perimbangan ternyata tidak otomatis meningkatkan belanja APBD pemerintah daerah se Sumatera. Hal ini diindikasikan dengan terus meningkatnya simpanan pemerintah daerah yang disimpan di perbankan.
0
Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr
2007 2007 2008
s.d. Mei 2007 s.d. Mei 2008
Sumbagut 10,917.09 11,715.58 7.31 Sumber: Depkeu, menurut Kanwil Ditjen Perbendaharaan
Wilayah/Zona Dana Perimbangan
Pertumbuhan (%) Perkembangan Realisasi Transfer Dana Perimbangan
Sumber: Sekda-BI
Grafik 11 Perkembangan Impor Pupuk Tabel 4 Perkembangan Transfer Dana Perimbangan (dalam milyar Rp) Negara-negara Emerging Asia seperti China, India, dan Malaysia menjadi tujuan ekspor utama Sumatera. Nilai ekspor bulanan Sumatera ke China yang pada awal tahun 2006 baru mencapai USD 150 juta per bulan, pada awal triwulan II-2008 mencapai USD 420 juta per bulan. Sebaliknya, ekspor ke Singapura yang selama ini menjadi tujuan utama ekspor Sumatera relatif stagnan (grafik 13).
Tabel 3 Perkembangan Belanja Investasi Pemerintah (juta Rp)
0
Jan'06 Apr'06 Jul'06 Okt'06 Jan'07 Apr'07 Jul'07 Okt'07 Jan'08 Apr'08
USD Juta
Grafik 12 Perkembangan Ekspor Sumatera
Grafik 13 Tujuan Ekspor Sumatera
b. Assesmen Inflasi
Perkembangan inflasi IHK wilayah Sumatera sejak awal 2008 menunjukkan tren yang meningkat. Pada bulan Mei 2008, inflasi tahunan Sumatera tercatat sebesar 11,53% (y-o-y), lebih tinggi dibanding inflasi IHK nasional sebesar 10,38% (y-o-y). Berdasarkan zona di Sumatera, zona Sumbagsel merupakan zona yang mengalami inflasi tertinggi, yaitu sebesar 13,93% (y-o-y), diikuti oleh zona Sumbagut sebesar 11,03% (y-o-y) dan zona Sumbagteng sebesar 9,87% (y-o-y). Tingginya tekanan inflasi di zona Sumbagsel dibandingkan zona lainnya, merupakan sumbangan dari inflasi pada kota-kota di zona Sumbangsel yang semuanya berada diatas inflasi nasional.
Dari 14 kota sampel inflasi di Sumatera, 10 kota inflasinya berada di atas inflasi nasional. Inflasi tertinggi terjadi di kota Banda Aceh (15,29%) dan Palembang (15,18%). Sementara inflasi terendah terjadi di Batam (8,03%) dan Lhokseumawe (8,89%).
Laju inflasi tahun berjalan di wilayah Sumatera (s.d bulan Mei 2008) tercatat sebesar 5,24% (ytd). Angka tersebut jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan inflasi pada bulan Mei 2007 yang tercatat sebesar 0,83%
(ytd). Namun demikian, dibandingkan laju inflasi nasional, laju inflasi wilayah Sumatera masih berada dibawahnya.
Berdasarkan kotanya, laju inflasi tertinggi terjadi di kota Pangkal Pinang (10,19%) dan Bengkulu (6,60%). Sementara laju inflasi terendah terjadi di Medan (4,02%) dan Batam (4,09%). Secara umum, tingginya inflasi di kota-kota di Sumatera terutama didorong oleh tingginya inflasi pada kelompok bahan makanan (volatile food) dan kelompok sandang.
0 5 10 15 20 25 30
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5
2005 2006 2007 2008
(%, y-o-y) Nasional
Sumatera Zona Sumbagut Zona Sumbagteng Zona Sumbagsel
Di lihat dari kelompok barang/jasa, di bulan Mei 2008 kelompok bahan makanan (terutama subkelompok bumbu-bumbuan, lemak & minyak, ikan segar, padi-padian) mendominasi pembentukan inflasi wilayah Sumatera. Kelompok ini mengalami inflasi tertinggi di bulan Mei 2008 yaitu sebesar 21,57% (yoy) dengan sumbangan sebesar 6,17% dari inflasi Sumatera, disusul kemudian kelompok sandang sebesar 13,53% (yoy) dengan sumbangan sebesar 0,86% dan kelompok makanan jadi sebesar 9,52% (yoy) dengan sumbangan sebesar 1,54%.
Tingginya harga internasional terhadap komoditi bahan makanan seperti beras, kedelai, gandum, CPO dan jagung mulai triwulan IV-2007, berpengaruh terhadap tingkat harga komoditi tersebut dan komoditi turunannya di dalam negeri. Sementara itu, pengaruh kenaikan harga BBM terhadap harga barang/jasa relatif belum berdampak signifikan di bulan Mei 2008. Second round effect kenaikan harga barang/jasa kemungkinan baru terjadi di bulan Juni/Juli 2008 melalui kenaikan biaya transportasi/angkut barang.
Masalah distribusi akibat infrastruktur jalan yang terganggu/rusak dan cuaca yang kurang kondusif (tingginya curah hujan dan gelombang laut) telah mengganggu jalur pasokan komoditi cabe merah, bawang merah, tomat sayur, ikan tongkol dan ikan dencis. Beberapa kebijakan pemerintah dibidang harga/tarif juga telah meningkatkan inflasi beberapa komoditi di triwulan laporan, seperti bensin, minyak tanah, rokok, gas elpiji dan air minum/PDAM.
Grafik 14 Perkembangan Inflasi Sumatera dan Nasional
0
Tekanan inflasi yang meningkat sejak awal tahun berpengaruh kepada perkembangan simpanan masyarakat di perbankan. Selama tahun 2007, posisi simpanan meningkat cukup ekspansif sebesar 16,70%. Namun hingga 30 April 2008, pertumbuhan simpanan hanya 0,93%. Posisi simpanan masyarakat di perbankan Sumatera tercatat sebesar Rp 199,6 triliun. Stagnasi pertumbuhan simpanan terjadi pada semua jenis simpanan.
175 173
Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr
2007 2008
Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr
2007 2008
Rp Triliun
Komposisi Simpanan
Giro Tabungan Deposito
Sumber: Sekda-BI
Grafik 16 Perkembangan Simpanan Grafik 17 Komposisi Simpanan Kredit tumbuh moderat meski simpanan mengalami stagnasi. Posisi kredit yang disalurkan perbankan Sumatera berdasarkan lokasi proyek hingga akhir April 2008 tercatat sebesar Rp 166,72 triliun, atau meningkat 5,96%
selama tahun berjalan 2008. Berdasarkan jenis penggunaan, kredit konsumsi tumbuh cukup tinggi sebesar 12,87%, sementara kredit modal kerja tumbuh cukup moderat sebesar 4,11%. Berdasarkan sektor ekonomi, sektor
Grafik 15 Inflasi Menurut Kelompok Pengeluaran
perdagangan dan sektor jasa-jasa tumbuh paling tinggi sebesar 6,00% dan 6,16%. Pertumbuhan yang tinggi pada sektor non-tradeables mendorong permintaan kredit yang cukup tinggi pada sektor tersebut.
0 10,000,000 20,000,000 30,000,000 40,000,000 50,000,000 60,000,000 70,000,000 80,000,000 90,000,000
Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr
2007 2008
Rp Juta
Kredit Investasi Kredit Modal Kerja Kredit Konsumsi
Sumber: Sekda BI
0 5,000,000 10,000,000 15,000,000 20,000,000 25,000,000 30,000,000 35,000,000 40,000,000 45,000,000
Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr
2007 2008
Rp Juta
Pertanian Pertambangan Perindustrian
Perdagangan Jasa‐jasa
Sumber: Sekda-BI
Grafik 18 Perkembangan Kredit Menurut Jenis Penggunaan
Grafik 19 Perkembangan Kredit Menurut Sektor Ekonomi (selain konsumsi)
Bab 3 : Inflasi
Kebijakan pemerintah yang kembali mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada tanggal 24 Mei 2008, berdampak terhadap perkembangan harga secara umum di Provinsi Sumatera Barat, yang diwakili oleh kota Padang. Namun demikian, lonjakan inflasi yang terjadi relatif tidak setinggi saat pengurangan subsidi BBM tanggal 1 Oktober 2005.
Tekanan inflasi triwulan laporan berasal dari kelompok transportasi, komunikasi &
jasa keuangan dengan sumbangan terbesar berasal dari sub kelompok transportasi.
Kebijakan pemerintah yang kembali mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada tanggal 24 Mei 2008, berdampak terhadap perkembangan harga secara umum di Provinsi Sumatera Barat, yang diwakili oleh kota Padang. Namun demikian, lonjakan inflasi yang terjadi relatif tidak setinggi saat pengurangan subsidi BBM tanggal 1 Oktober 2005.
Tekanan inflasi triwulan laporan berasal dari kelompok transportasi, komunikasi &
jasa keuangan dengan sumbangan terbesar berasal dari sub kelompok transportasi.
Pada triwulan II-2008 angka inflasi kota Padang tercatat sebesar 4,74% (q-t-q) atau lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,35%1. Angka inflasi tersebut juga lebih tinggi bila dibandingkan inflasi nasional pada triwulan II-2008 yang tercatat sebesar 4,50%. Demikian pula bila dibandingkan dengan inflasi kota Padang pada triwulan yang sama tahun 2007, yang tercatat deflasi sebesar 1,96%, inflasi kota Padang triwulan laporan masih lebih tinggi (Grafik 2.1).
Pada triwulan II-2008 angka inflasi kota Padang tercatat sebesar 4,74% (q-t-q) atau lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,35%1. Angka inflasi tersebut juga lebih tinggi bila dibandingkan inflasi nasional pada triwulan II-2008 yang tercatat sebesar 4,50%. Demikian pula bila dibandingkan dengan inflasi kota Padang pada triwulan yang sama tahun 2007, yang tercatat deflasi sebesar 1,96%, inflasi kota Padang triwulan laporan masih lebih tinggi (Grafik 2.1).
Grafik 2.1 Perkembangan Inflasi Kota Padang dan Nasional (q-t-q)
-4
Nasional 0,91 2,35 0,49 2,51 3,19 1,05 2,03 10,08 1,98 0,87 1,16 2,44 1,91 0,17 2,28 2,09 3,41 4,50 Padang 1,50 2,53 -0,28 3,09 6,8 -1,32 2,75 11,25 1,17 0,71 0,93 5,07 3,68 -1,96 2,06 3,05 4,35 4,74
Tw I
Sumber : BPS, diolah
1 Mulai bulan Juni 2008 penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) menggunakan tahun dasar 2007 = 100 (sebelumnya 2002 = 100).