BAB III METODE PENELITIAN
4.3 Informan
4.3.2 Informan Biasa
• Suami Ibu Juliana
Suami Ibu Juliana bekerja sebagai pekerja serabutan.suami Ibu Juliana tidak merasa keberatan ketika istrinya memutuskan untuk ikut bekerja mencari nafkah bagi keluarganya dengan bekerja sebagai buruh/karyawan pabrik di PT. MT, Kabupaten Deli Serdang. Suami ibu juliana sendiri sedang sakit sehingga untuk beberapa waktu belakangan ini hingga ke depannya suami beliau lah yang mengurus anak di rumah, terutama anaknya yang masih bayi.
Suami Ibu Juliana mengakui bahwa dengan istrinya ikut bekerja di sektor publik, maka perekonomian keluarganya (rumah tangganya) menjadi lebih baik dari sebelumnya.
• Suami Ibu Floren
Suami Ibu Floren bekerja sebagai wiraswasta/pedagang. Suami Ibu Floren bekerja sendiri tidak melarang istrinya untuk bekerja. Suami Ibu Floren bekerja setiap hari dengan waktu kerja sepuluh (10) jam setiap harinya. Suami Ibu Floren mendapatkan penghasilan dalam perharinya yaitu ±Rp 100.000,-. Namun jumlah tersebut bisa lebih atau bisa kurang dari jumlah itu tergantung dari sedikit banyaknya jumlah barang yang habis terjual.Dengan penghasilan yang tidak tetap tersebut lah maka Ibu Floren ikut Membantu perekonomian keluarga.
Suami Ibu Floren tidak pernah merasa keberatan ketika istrinya memutuskan untuk tetap bekerja menjadi buruh/karyawan perkebunan (sektor publik) di PT. MT, Kabupaten Deli Serdang, meskipun mereka telah berumahtangga selama istrinya tidak melupakan tanggungjawabnya sebagai istri dan ibu rumah tangga didalam keluarganya (rumah
tangganya).Dan dirinya merasa yakin jika istrinya sanggup melakukan kedua pekerjaan itu sekaligus, yaitu sebagai istri dan ibu rumah tangga (peran domestik) dan bekerja sebagai buruh/karyawan perkebunan (peran publik) di PT.MT.
• Suami Mak Farel
Suami Mak Farel sendiri juga bekerja sebagai buruh.Suami Mak Farel juga bekerja bersama-sama dengan istrinya di PT.MT, Kabupaten Deli Serdang untuk mencari nafkah tiap bulannya bagi sekeluarga.Suami Mak Farel juga sekarang menjabat sebagai buruh pabrik.
Dimana, waktu kerja sama dengan Istrinya yang juga sesama buruh di PT.MT.
Suami Mak Farel tidak pernah merasa keberatan ketika istrinya memutuskan untuk tetap bekerja menjadi buruh/karyawan perkebunan (sektor publik) di PT. MT, Kabupaten Deli Serdang.Dan suami Mak Farel yakin jika istrinya sanggup melakukan kedua pekerjaan itu sekaligus, yaitu sebagai istri dan ibu rumah tangga (peran domestik) dan bekerja sebagai buruh/karyawan perkebunan (peran publik) di PT.MT.
• Suami Ibu Maya Citra
Suami Ibu Maya bekerja sebagai Wiraswasta. Suami Ibu Citra setiap bulannya mendapatkan penghasilan ±Rp 1.500.000,- untuk menafkahi keluarganya. Dengan gaji sebesar itu suami Ibu Citra merasa tidak cukup.Faktor ekonomi tersebut lah yang membuat suami Ibu Citra mengizinkan istrinya bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.
• Suami Ibu Sriwiyati
Suami Ibu Sriwiyati bekerja sebagai karyawan swasta. Penghasilan suami Ibu Sriwiyati dalam sebulan yaitu ±Rp 1.000.000,-. Suami Ibu Sriwiyati merasa dengan penghasilan ±Rp 1.500.000,- dalam satu bulannya dirasa belum cukup intuk menafkahi keluarganya. Faktor ekonomi tersebut lah yang membuat suami Ibu Citra mengizinkan istrinya bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Selain itu, dengan istri yang membantu bekerja mereka dapat menabung untuk masa depan anak-anaknya.
• Suami Ibu Nurul
Suami Ibu Nurul bekerja sebagai Satpam. Suami Ibu Nurul berpenghasilan ±Rp 1.800.000,- dalam perbulan. Dengan kebutuhan yang semakin mahal gaji yang didapat dirasa tidak cukup untuk menafkahi keluarganya.Hal inilah yang membuat suami Ibu Nurul mendukung istrinya dalam bekerja serta suami Ibu Nurul tidak pernah merasa keberatan ketika istrinya memutuskan untuk tetap bekerja menjadi buruh/karyawan perkebunan (sektor publik) di PT. MT, Kabupaten Deli Serdang.Dan suami Ibu Nurul yakin jika istrinya sanggup melakukan kedua pekerjaan itu sekaligus.
• Suami Ibu Desi
Suami Ibu Desi bekerja tidak menetap.Hal inilah yang membuat suami Ibu Desi memberikan izin serta memberikan dukungan kepada istrinya untuk bekerja sebagai buruh agar dapat membantu perekonomian keluarganya. Ketika Ibu Desi bekerja suaminya lah yang mengurus rumah dan menjaga anak-anaknya.
• Suami Ibu Maria
Suami Ibu Maria bekerja sebagau Montir. Penghasilan yang didapat Ibu Maria dalam perbulan yaitu ±Rp 1.200.000,-. Dengan penghasilan yang sebesar itu suami Ibu Maria merasa penghasilannya tidak cukup untuk menafkahi keluarganya.Hal inilah yang membuat suami Ibu Maria mendukung istrinya dalam bekerja serta suami Ibu Maria tidak pernah merasa keberatan ketika istrinya memutuskan untuk tetap bekerja menjadi buruh/karyawan perkebunan (sektor publik) di PT. MT, Kabupaten Deli Serdang.Dan suami Ibu Maria yakin jika istrinya sanggup melakukan kedua pekerjaan itu sekaligus.
4.3.2.2 Anak dari Informan Kunci
• Anak dari Ibu Juliana
Anak pertama dari Ibu Julianan yaitu berjenis kelamin perempuan.Ia sekarang berumur 12 tahun dan masih duduk di kelas VI Sekolah Dasar (SD) pada suatu sekolah yang juga masih berada didaerah Tanjung Morawa, Kabupaten Delin Serdang. Dirinya merasa sangat senang dan sangat bersedia ketika peneliti ingin memperoleh keternagan darinya sesuai dengan topik permasalahan yang ingin dikaji oleh peneliti dan memberikan jawaban – jawaban yang mudah dimengerti dan disertai dengan canda tawa.
• Anak dari Ibu Floren
Anak pertama dari Ibu Floren yaitu berjenis kelamin laki – laki.Ia sekarang berumur sekitar 19 tahun dan pendidikan terakhirnya adalah sudah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekarang ini sudah bekerja di bengkel kecil dari sekitar Tanjung Morawa.
Awalnya, dirinya merasa enggan dan kurang bersedia untuk dimintai keterangan, namun setelah diberikan penjelasan oleh ibunya (Ibu Floren) dan peneliti, akhirnya ia bersedia memberikan pendapatnya sesuai dengan pertanyaan – pertanyaan yang diajukan oleh peneliti sesuai dengan topik permasalahan yang ingin dikaji oleh peneliti.
• Anak dari Mak Farel
Anak pertamadari Mak Farel yaitu berjenis kelamin laki-laki.Ia sekarang berumur sekitar 9 tahun dan masih duduk di kelas III Sekolah Dasar (SD) pada suatu sekolah yang juga masih berada didaerah Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. Dirinya merasa sangat senang dan sangat bersedia ketika peneliti ingin memperoleh keternagan darinya sesuai dengan topik permasalahan yang ingin dikaji oleh peneliti dan memberikan jawaban – jawaban yang mudah dimengerti dan disertai dengan canda tawa.
• Anak dari Ibu Maya Citra
Anak pertama dari Ibu Maya yaitu berjenis kelamin perempuan.Ia sekarang berumur sekitar 9 tahun dan masih duduk di kelas III Sekolah Dasar (SD) pada suatu sekolah yang
juga masih berada didaerah Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. Dirinya merasa sangat senang dan sangat bersedia ketika peneliti ingin memperoleh keternagan darinya sesuai dengan topik permasalahan yang ingin dikaji oleh peneliti dan memberikan jawaban – jawaban yang mudah dimengerti dan disertai dengan canda tawa.
• Anak dari Ibu Sriwiyati
Anak pertama dari Ibu Maya yaitu berjenis kelamin perempuan.Ia sekarang berumur sekitar 17 tahun dan masih duduk di kelas XII Sekolah Menengah Atas (SMA) pada suatu sekolah yang juga masih berada didaerah Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang.
Iasangat bersedia ketika diwawancarai oleh peneliti dan memberikan jawaban – jawaban yang mudah dimengerti ketika peneliti memberikan pertanyaaan – pertanyaaan kepadanya sesuai dengan topik permasalahan yang sedang dikaji oleh peneliti.
• Anak dari Ibu Nurul
Anak pertama dari Ibu Nurul yaitu berjenis kelamin perempuan.Ia sekarang berumur sekitar 20 tahun dan pendidikan terakhirnya adalah sudah lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Sekarang ini sudah bekerja di Perusahaan Waralaba yang ada sekitar Tanjung Morawa. Dirinya merasa senang dan bersedia untuk dimintai keterangan, dan ia juga bersedia memberikan pendapatnya sesuai dengan pertanyaan – pertanyaan yang diajukan oleh peneliti sesuai dengan topik permasalahan yang ingin dikaji oleh peneliti.
• Anak dari Ibu Desi
Anak pertama dari Ibu Desi yaitu berjenis kelamin perempuan.Ia sekarang berumur sekitar 10 tahun dan masih duduk di kelas IV Sekolah Dasar (SD) pada suatu sekolah yang juga masih berada didaerah Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. Ia sangat bersedia ketika diwawancarai oleh peneliti dan memberikan jawaban – jawaban yang mudah dimengerti ketika peneliti memberikan pertanyaaan – pertanyaaan kepadanya sesuai dengan topik permasalahan yang sedang dikaji oleh peneliti.
• Anak dari Ibu Maria
Anak pertama dari Ibu Mariaadalah putri kemabar.Keduanya sekarang berumur sekitar 13 tahun dan masih duduk di kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada suatu sekolah yang juga masih berada didaerah Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang.Ia sangat bersedia ketika diwawancarai oleh peneliti dan memberikan jawaban – jawaban yang mudah dimengerti ketika peneliti memberikan pertanyaaan – pertanyaaan kepadanya sesuai dengan topik permasalahan yang sedang dikaji oleh peneliti.
4.4 Interpretasi Data 4.4.1 Peran Wanita
Secara normatif pria aktif dalam kegiatan mencari nafkah, wanita adalah pekerja rumah tangga.Peran wanita sebagai istri dalam rumah tangga (keluarga) adalah melaksanakan pekerjaaannya di sektor domestik, baik itu dalam mengurus suami, melahirkan dan merawat anak – anak, memberikan pendidikan tentang moral serta dalam pengelolaan rumah tangga baik itu dalam merawat kebersihan dan keindahan rumah tangga.
Namun fakta dilapangan, ternyata wanita disampingmelakukan pekerjaan rumah tangga juga aktif dalam mencari nafkah.Tentu hal ini disebabkan rendahnya pendapatan suami/pria maka wanita/isteri mau tidak mau harus ikut aktif dalam kegiatan nafkah sehingga kebutuhan keluarga dapat terpenuhi.
Meningkatnya tenaga kerja wanita dalam kegiatan nafkah karena tersedianya lapangan kerja yang mudah dimasuki oleh wanita seperti usaha dagang, buka warung, pembantu rumah tangga maupun pekerjaan dalam industri rumah tangga khususnya industri rumah tangga tergolong masih usaha sederhana dan tradisional, ditinjau dari modal yang
dikeluarkan tidak terlalu besar untuk memulai suatu usaha. Tetapi usaha industri kecil sebenarnya mempunyai potensi yang cukup besar dalam ikut membangun perekonomian dan membantu mengatasi pengangguran.Industri rumah tangga paling banyak merekrut tenaga kerja wanita dikarenakan wanita mempunyai spesifikasi tersendiri dalam pekerjaan di bidang industri, contohnya industri konveksi, kerajinan tangan, makanan olahan seperti industri kacang intip, dodol dan lain-lain.Hal ini disebabkan lapangan pekerjaan tersebut tidak membutuhkan persyaratan yang tinggi, modal yang besar dan lain-lain.
Secara konseptual ada beberapa macam pengelompokan kerja perempuan, seperti sistem produksi terdiri atas subsistem yaitu pekerjaan tanpa upah dalam produksi keluarga, dan sistem putting-up, seperti pekerjaan rumah (home worker), pembantu rumah tangga, buruh upahan, dan usaha mandiri (self employed).Semua itu menunjukkan bahwa hanya itulah ruang yang tersisa bagi perempuan marjinal (Chotim dan Ratih, 2004).
Konteks pembangunan segala sumber daya seharusnya dikembangkan dan didayagunakan, baik sumber daya fisik maupun sumber daya insani termasuk didalamnya wanita yaitu dengan usaha meningkatkan peran wanita, baik dalam lingkup rumah tangga maupun dalam lingkup masyarakat. Jadi wanita dalam statusnya sebagai ibu rumah tangga memiliki peranan untuk mengatur rumah tangga dengan kegiatannya yang terpusat sekitar rumah dan kegiatan pria diluar rumah (Sajogyo,1983).
Dalam keluarga, wanita juga memiliki peran penting dalam menjalani fungsi-fungsi keluarga yang telah selayaknya dilakukan bersama dengan suami. Berikut adalah fungsi-fungsi keluarga yang ada berserta contohnya :
1. Fungsi Edukatif – Sebagai suatu unsur dari tingkat pusat pendidikan, merupakan lingkungan pendidikan yang pertama bagi anak. Dalam kedudukan ini, adalah suatu kewajaran apabila kehidupan keluarga sehari-hari, pada saar-saat tertentu terjadi situasi pendidikan yang dihayati oleh anak dan diarahkan pada perbuatan-perbuatan
yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Contohnya ialah keluarga memberikan pengarahan tentang hal-hal yang baik dan buruk, agar anak-anak dapat membedakan mana yang harus mereka lakukan dan mana yang tidak.
2. Fungsi Sosialisasi – Melalui interaksi dalam keluarga anak mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita serta nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka pengembangan kepribadiannya. Dalam rangka melaksanakan fungsi sosialisasi ini, keluarga mempunyai kedudukan sebagai penghubung antara anak dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial yang meliputi penerangan, penyaringan dan penafsiran ke dalam bahasa yang dimengerti oleh anak. Contohnya ialah keluarga memberikan pengarahan agar anak-anak berhubungan baik dengan para tetangga yang di rumah dan bersikap santun terhadap orang-orang yang lebih tua.
3. Fungsi protektif – Fungsi ini lebih menekankan kepada rasa aman dan terlindungi apabila anak merasa aman dan terlindungi barulah anak dapat bebas melakukan penjajagan terhadap lingkungan. Contohnya ialah orang tua harus meyakinkan pada anak-anak bahwa mereka akan melindungi anak-anak dari segala bahaya dan agar tidak adanya kekhawatiran pada anak.
4. Fungsi Afeksional – Yang dimaksud dengan fungsi afeksi adalah adanya hubungan sosial yang penuh dengan kemesraan dan afeksi. Anak biasanya mempunyai kepekaan tersendiri akan iklim-iklim emosional yang terdapat dalam keluarga kehangatan yang terpenting bagi perkembangan keperibadian anak. Contohnya ialah orang tua harus selalu bisa memberikan waktu untuk mengobrol dengan anak-anak di rumah dan memberikan perhatian agar mereka merasa bahwa mereka memang mendapatkan kasih sayang dari orang tua.
5. Fungsi Religius – Keluarga berkewajiban mmperkenalkan dan mengajak anak serta keluarga pada kehidupan beragama. Sehingga melalui pengenalan ini diharapkan keluarga dapat mendidik anak serta anggotanya menjadi manusia yang beragama sesuai dengan keyakinan keluarga tersebut. Contohnya ialah orang tua harus memberikan pengajarang tentang agama kepada anak-anak, sehingga anak-anak tidak hanya mendapatkannya dari sekolah tapi juga dari rumah agar memiliki iman yang lebih teguh dan terhindari dari hal-hal yang seharusnya mereka lakukan.
6. Fungsi Ekonomis – Fungsi keluarga ini meliputi pencarian nafkah, perencanaan dan pembelanjaannya. Pelaksanaanya dilakukan oleh dan untuk semua anggota keluarga, sehingga akan menambah saling mengerti, solidaritas dan tanggung jawab bersama. Contohnya ialah orang tua harus bisa memenuhi semua kebutuhan anak agar anak-anak tidak merasa kekurangan. Termasuk juga memberikan beberapa mainan kepada anak yang masih kecil.
7. Fungsi Rekreatif – Suasana keluarga yang tentram dan damai diperlukan guna mengembalikan tenaga yang telah dikeluarkan dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya ialah keluarga mengajak liburan bersama sesekali agar anak-anak merasa bahagia.
4.4.2 Peran Istri Menurut Antonio Giddens
Menurut Giddens (2004), perkara sentral ilmu sosial ialah “prakik sosial yang berulang dan terpola dalam lintas ruan dan waku.” Dalam masyarakat, karena tidak ada paraktik sosial tanpa tindakan beberapa orang, maka tindakan pelaku (agency) tidak mungkin diabaikan oleh ilmu sosial.Keterulangan “tindakan sosial” itu menunjukkan bahwa ada pola tetap yang berlaku, bukan sekali saja, melainkan berulang kali dalam lintas ruang dan waktu.
Berdasarkan argumen tersebut, maka Giddens menekankan bahwa perkara sentral ilmu sosial adalah hubungan antara “struktur” (structure) dan “pelaku” (agency). Karena gagasannya
tentang hubungan antara struktur dan pelaku inilah, maka Giddens lebih dikenal dengan teori
“strukturasinya,” yang banyak diartikan sebagai proses terbentuknya sebuah struktur.
Menurut Giddens (2010), manusia selalu mempunyai ide tentang dunia sosial, tentang dirinya sendiri, tentang masa depannya, dan tentang kondisi kehidupannya. Melalui idenya itu manusia masuk kedalam dunia sambil mempunyai niat untuk memengaruhi dan mengubahnya.Dunia modern dicirikan oleh tumbuh dan berkembangnya refleksivitas.Hidup kita semakin hari semakin sedikit ditentukan oleh kepastian dan ketentuan tradisi.Kita mengambil keputusan karena refleksivitas.Risiko menjadi seuah keniscayaan.Jadi, yang terpenting bukan menghindari risiko, melainkan memanajemen risiko. Giddens mengajak kita untuk mengolah tantangan baru dengan cara yang baru pula. Cara untuk mengatasi masalah yang timbul karena peradaban masyarakat industri harus dengan cara meradikalkan dan mengembangkan modernitas secara lebih dinamis.
Dalam teori strukturasi, struktur diartikan sebagai peraturan dan sumber daya.
Struktur dipandang sebagai penstrukturan sifat-sifat yang memungkinkan pengikatan ruang waktu dalam sistem sosial, sifat yang memungkinkan praktik sosial sejenis ada pada berbagai ruang dan waktu, dan yang memberikan bentuk sistematis. Dalam teori strukturasi, Giddens pada dasarnya menolak dualisme subjek dan objek, agensi dan struktur, serta struktur dan proses, yang selama ini telah dipandang sebagai dualisme tersebut, oleh Giddens dikoreksi, yaitu dengan memuncukan istilah dualitas. Dengan koreksi yang dimaksudkan itu, Giddens mengidami berakhirnya “imperalisme” yang saling berlawanan antara kutub subjektivisme dan kutub objektivisme. Dualitas struktur pada dasarnya memandang struktur dan individu actor berinteraksi dalam proses produksi dan reproduksi institusi dan hubungan-hubungan sosial. Artinya, actor merupakan hasil (outcome) dan struktur, tetapi actor juga menjadi mediasi bagi pembentukan struktur baru. Struktur itu sendiri, oleh Giddens dipandang sebagai aturan-aturan (rules) dan sumber-sumber (resources). Aturan-aturan
dimaksud bisa bersifat konstitutif dan regulatif, guna meberikan kerangka pemaknaan dan norma.
Adapun sumber menunjuk pada distribusi sumber alokatif (ekonomi) dan sumber otoritatif (politik), yang terkait secara langsung dengan soal power. Struktur yang berisi peraturan dan sumber daya akan memberi kendala dan peluang bagi aktor untuk bertindak, dan berdasarkan peraturan dan sumber daya itu aktor akan menghasilkan kembali institusi dan hubungan-hubungan sosial (struktur) dalam masyarakat. Secara singkat dualitas struktur dapatlah dirumuskan sebagai struktur yang melahirkan kendala dan peluang, berinteraksi dengan individu yang bertindak berdasarkan pengetahuan dan motivasi.
Individu bertindak berdasarkan pengetahuan dan motivasi tertentu, sehingga dapat menggunakan peluang dan kemudahan yan tersedia, tetapi terkendala oleh struktur yang objektif pada satu pihak dan oleh ketidaksadarannya pada pihak lain.Dualisme subjek-objek menyangkut orientasi individu terhadap struktur.Orientasi individu terhadap struktur dapat dibedakan menjadi tiga.Pertama, orientasi rutin praktis, yaitu para aktor yangsecara psikologis hanya mencari rasa aman dan berusaha menghindari akibat-akibat tindakan yang tidak disadari atau belum terbayangkan.Mereka ini hanya berperan sebagai penanggung beban struktur dan medium reproduksi struktur belaka.Sama sekali tidak ada upaya mempersoalkan, apalagi mengubah struktur tersebut.Orientasi seperti ini menempatkan dirinya sebagai objek dan objek.Kedua, orientasi yang bersifat teoritis.
Para aktor memiliki kemampuan memelihara jarak antara dirinya dan struktur masyarakat, sehingga ia memiliki pemahaman yang jelas tentang struktur itu dan merespons apa yang dilahirkan dan ditimpakan struktur kepadanya. Ketiga, orientasi yang bersifat strategik-pemantauan. Para individu tidak hanya mampu memelihara jarak antara dirinya dan struktur, tetapi juga berkepentingan atas apa yang dilahirkan struktur (karena itu terus menerus memantau struktur), sehingga dengan sigap dapat menanggapi struktur tersebut.
Karena mampu memelihara jarak antara dirinya (subjek) dan struktur (objek), orientasi kedua dan ketiga cenderung melahirkan dualisme subjek-objek.
Teori Giddens menyatakan bahwa tindakan manusia disebabkan oleh dorongan
‘eksternal’ dengan mereka yang menganjurkan tentang tujuan dari tindakan manusia.
Menurut Giddens, struktur bukan bersifat eksternal bagi individu-individu melainkan dalam pengertian tertentu lebih bersifat ‘internal’. Hal ini dapat juga diartikan bahwa wanita dapat melakukan peran ganda sebagai seorang istri dan ibu sekaligus sebagai pekerja yang ditimbulkan oleh kondisi dan keadaan yang berbeda sehingga mendorong wanita menjadi seorang pekerja.Dalam hal ini wanita dapat mengambil suatu keputusan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
4.4.3 Peran Istri Sebagai Pekerja di Tempat Kerja
Para pekerja di PT.MT rata-rata ialah berjenis kelamin perempuan, walaupun demikian ada banyak juga laki-laki yang bekerja disana.Pabrik tersebut ialah pabrik penghasil sarung tangan.Para pekerja disana banyak yang merupakan warga yang memang tinggal di daerah dekat pabrik tersebut, yakni di jalan batang kuis, namun ada banyak juga pekerja yang merupakan pendatang.Para informan mengatakan bahwa tidak ada perbedaan yang diberikan kepada pekerja suku asli dan pendatang.
Hal ini sesuai yang dinyatakan Ibu Sriwiyati (41 tahun) berikut ini :
“Disini mah sama aja mau yang orang sini atau pendatang, gak ada dibeda-bedakan.
Orang sini juga gampang akrab satu sama lain, yang beda umur jauh juga bisa cepet akrab apalagi cuma karena beda asal, gak masalah itu mah”.
Para pekerja perempuan yang sudah berumah tangga rata-rata ialah pekerja yang sudah bekerja cukup lama, yakni lebih dari sepuluh tahun, seperti halnya para informan peneliti, semuanya adalah pekerja yang sudah bekerja lama di pabrik tersebut. Seperti yang telah dikutip dari pernyataan Ibu Sriwiyati, bahwa pekerja disini memiliki berbagai macam
usia. Ada yang masih sangat muda seperti usia 20, biasanya pekerja ini belum lama mulai bekerja di pabrik, paling lama masih dua tahun. Dan yang berusia paling tua ialah hampir berumur lima puluh, biasanya telah bekerja selama hampir dua puluh tahun.
Hal yang menyebabkan para pekerja tetap bekerja dalam jangka waktu yang cukup lama tentu saja faktor utamanya ialah karena kebutuhan ekonomi untuk keluarga, namun hal ini juga diiringi dengan kepuasan kerja dan hubungan yang baik yang dimiliki oleh antar pekerja dan atasan.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Ibu Maya (38 tahun) berikut ini :
“Kalo saya sih puas-puas aja kerja disana.Kerjanya walaupun lama tapi gak
“Kalo saya sih puas-puas aja kerja disana.Kerjanya walaupun lama tapi gak