• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Istri Sebagai Pekerja di Tempat Kerja

BAB III METODE PENELITIAN

4.3 Informan

4.4.3 Peran Istri Sebagai Pekerja di Tempat Kerja

Para pekerja di PT.MT rata-rata ialah berjenis kelamin perempuan, walaupun demikian ada banyak juga laki-laki yang bekerja disana.Pabrik tersebut ialah pabrik penghasil sarung tangan.Para pekerja disana banyak yang merupakan warga yang memang tinggal di daerah dekat pabrik tersebut, yakni di jalan batang kuis, namun ada banyak juga pekerja yang merupakan pendatang.Para informan mengatakan bahwa tidak ada perbedaan yang diberikan kepada pekerja suku asli dan pendatang.

Hal ini sesuai yang dinyatakan Ibu Sriwiyati (41 tahun) berikut ini :

“Disini mah sama aja mau yang orang sini atau pendatang, gak ada dibeda-bedakan.

Orang sini juga gampang akrab satu sama lain, yang beda umur jauh juga bisa cepet akrab apalagi cuma karena beda asal, gak masalah itu mah”.

Para pekerja perempuan yang sudah berumah tangga rata-rata ialah pekerja yang sudah bekerja cukup lama, yakni lebih dari sepuluh tahun, seperti halnya para informan peneliti, semuanya adalah pekerja yang sudah bekerja lama di pabrik tersebut. Seperti yang telah dikutip dari pernyataan Ibu Sriwiyati, bahwa pekerja disini memiliki berbagai macam

usia. Ada yang masih sangat muda seperti usia 20, biasanya pekerja ini belum lama mulai bekerja di pabrik, paling lama masih dua tahun. Dan yang berusia paling tua ialah hampir berumur lima puluh, biasanya telah bekerja selama hampir dua puluh tahun.

Hal yang menyebabkan para pekerja tetap bekerja dalam jangka waktu yang cukup lama tentu saja faktor utamanya ialah karena kebutuhan ekonomi untuk keluarga, namun hal ini juga diiringi dengan kepuasan kerja dan hubungan yang baik yang dimiliki oleh antar pekerja dan atasan.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Ibu Maya (38 tahun) berikut ini :

“Kalo saya sih puas-puas aja kerja disana.Kerjanya walaupun lama tapi gak berat-berat amat kok, kalo soal cape sih namanya kerja pasti cape. Tapi saya betah kernya dan pekerja lain juga pada baik-baik. Kalo saya lagi gak ada duit nih minjemnya juga ke sesama pekerja kadang, walaupun gaji kita sama tapi kan kebutuhan orang beda-beda”.

Sama halnya dengan pernyataan Ibu Juliana (38 tahun) berikut ini :

“Disini mah enak kok kerjanya, nyantai aja gitu tapi tetap ada disiplin tinggi soal waktu dan kerjaan.Sama atasan juga bisa deket, apalagi sama leader dan supervisor, cerita-cerita masalah pribadi juga bisa.”

Atasan yang ada di pabrik PT.MT sendiri dibagi menjadi empat, yakni manajer, officer, supervisor, dan leader.Tiap pekerja di PT.MT dibagi menjadi beberapa team.Setiap team memiliki leader dan supervisor yang berbeda.Biasanya para pekerja tidak sungkan untuk menceritakan masalah kepada leader dan kemudian kepada supervisor. Dan atasan sendiri pun terkadang suka membantu para pekerja yang mempunyai masalah, kedekatan satu sama lain seperti inilah yang juga menjadi faktor kepuasan kerja sehingga para pekerja bisa bertahan lama bekerja di pabrik ini.

PT.MT memiliki tiga shift bekerja. Yang pertama ialah shift pagi, dengan jam kerja dari pukul 07.00 hingga pukul 15.00. Kemudian yang kedua ialah shift siang, dari pukul 15.00 hingga pukul 23.00. Dan yang terakhir ialah shift malam, dari pukul 23.00 hingga

pukul 07.00. Setiap minggunya setiap pekerja memiliki satu hari libur atau biasa disebut off.Dalam satu team semuanya memiliki shift yang sama namun memiliki off yang berbeda.

Setiap team biasanya memiliki anggota hingga sepuluh orang. Umur dari para anggota pun berbeda-beda, ada yang sudah berumur hingga 40 tahun lebih dan ada juga yang masih sangat muda dengan umur 20an. Para pekerja yang sudah berumur harus bisa mengayomi para pekerja yang masih muda

Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Ibu Juliana (38 tahun) berikut ini :

“Dalam satu team tuh banyak yang masih sangat muda-muda, dan kami yang sudah tua ini harus bisa memberikan contoh yang baik dan membimbing mereka.Kalo lagi ada masalah keluarga juga gak bisa ditunjukin karena kan gak enak sama mereka yang masih pada muda”.

Namun berbeda dengan Ibu Juliana yang merasa enggan jika menunjukkan masalah pribadi kepada pekerja yang masih muda, Ibu Maria justru senang berbagi cerita dengan kepada saja, termasuk kepada mereka para pekerja muda.

Berikut yang dikatakan oleh Ibu Maria (38 tahun) :

“Oh kalo saya deket sama siapa aja, mau tua mau muda mah sama aja. Kadang juga suka cerita-cerita soal keluarga atau suami, kalo cerita ke mereka yang masih muda kan sekalian ngasih pelajaran gitu kalo udah berumah tangga tuh gimana, sekalian ngajarin mereka nanti dalam mengambil sikap, gak malu-malu saya mah kalo cerita yang jelek-jelek juga”.

Setiap pekerja diberikan gaji pokok sebesar Rp. 2.500.000.Selain gaji pokok pekerja juga mendapatkan uang makan dan uang transportasi. Pekerja pada umumnya membawa makanan sendiri dari rumah dan makan bersama pada jam istirahat, hal ini tentu saja agar menghemat biaya makan karena tidak perlu makan di warung makan. Kebiasaan makan bersama ini juga dapat menambah kedekatan antar pekerja satu sama lain. Mengenai cukup atau tidaknya gaji yang diterima untuk kebutuhan hidup, pekerja memiliki pendapat yang berbeda.

Hal ini adalah pendapat dari Ibu Desi (35 tahun) :

“Gaji sih belum cukup buat kebutuhan sehari-hari, apalagi sekarang harga serba mahal. Ditambah lagi karena suami kan tidak tiap hari bekerja, jadi paling besar pendapatan dari gaji saya. Tapi gimana pun ya pasti hari dicukup-cukupi, kalo lagi kurang uang biasanya pinjem ke sodara deket”

Dan berikut adalah pernyataan berbeda dari Ibu Maya (38 tahun) :

“Cukup-cukup aja sih menurut saya, karena saya dan suami sama-sama bekerja makanya sangat terbantu untuk kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi.”

Para pekerja juga bergabung dalam serikat pekerja buruh.Sebagian besar pekerja bergabung dengan SPSI dan SBSI.Serikat ini sendiri berperan sebagai wadah buruh untuk bersatu dengan para buruh dari pabrik lainnya, dan juga tempat untuk memperjuangkan hak-hak buruh.Para pekerja mengikuti setiap pertemuan yang diadakan tiap serikat yang diikutinya.

Berdasarkan hasil wawancara diatas maka dapat disimpulkan bahwa para informan memiliki kepuasan kerja di tempat kerjanya, dan hal itu membuat pekerja memiliki hubungan baik dengan sesama pekerja dan juga atasan.Para pekerja memiliki keadaan rumah tangga yang berbeda-beda sehinggal hal ini mengakibatkan adanya perbedaan pendapat mengenai kecukupan gaji yang diperoleh untuk kebutuhan sehari-hari. Biasanya pekerja akan meminjam uang kepada sesama pekerja, atasan, atau sanak saudara ketika sedang kekurangan uang.