• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.2. Profil Informan

4.1.2.2. Informan II

Nama : Syarli Melisa

TTL : Bangka, 1 Oktober 1988

Tempat Tinggal : Jl. PLTU No. 17 B Marelan

Usia : 27 tahun

Agama : Islam

Lama tinggal bersama mertua : 3 tahun sampai sekarang Usia Pernikahan : 3 tahun (sejak 2012)

Ibu Syarli adalah perempuan berdarah Melayu yang memiliki postur tubuh pendek dan kurus, memiliki warna kulit putih dengan rambut lurus dan pendek, serta memiliki sikap yang ramah dan gaya bicara apa adanya. Beliau yang sehari-harinya mengenakan jilbab ini bekerja di salah satu perusahaan listrik negara (PLN) di Kota Medan. Ibu Syarli mempunyai satu orang anak perempuan yang masih berusia satu tahun empat bulan. Ibu Syarli menuturkan bahwa ia sudah menikah dengan laki-laki berdarah melayu juga yang bernama Imam pada tahun 2012 sampai sekarang.

Sebelum Ibu Syarli menikah, ia sudah mengenal dan mengetahui bahwa ia harus tinggal bersama dengan mertua perempuan. Ia menuturkan bahwa sebelum ia menikah, ia bersama suaminya sepakat untuk tinggal bersama dengan ibu mertuanya karena ibu mertuanya yang tinggal sendiri. Beliau juga menuturkan bahwa ia merupakan menantu yang lumayan dekat dengan ibu mertuanya karena beliau yang sudah mengganggap ibu mertuanya seperti orang tuanya sendiri. Ibu Syarli sudah tinggal bersama dengan mertua perempuan selama tiga tahun sampai sekarang. Banyak suka dan duka yang ia rasakan selama tinggal bersama dengan mertua perempuan.

Selama melakukan proses wawancara dengan Ibu Syarli yang pada saat itu sedang mengenakan baju berwarna merah jambu dengan motif bunga-bunga hitam, peneliti merasakan sikap Ibu Syarli yang sangat ramah dan fokus kepada peneliti ketika peneliti mengajukan pertanyaan. Beliau menuturkan bahwa selama ia tinggal bersama dengan mertua perempuan, ia jarang mengalami konflik karena ia mempunyai sifat yang cuek dan tidak terlalu peduli terhadap mertua

perempuan. Alasan mengapa beliau masih bertahan dan belum mempunyai keinginan untuk tidak tinggal bersama dengan mertua perempuan karena ia sepakat bersama suaminya ingin merawat dan menjaga ibu mertuanya yang tinggal sendiri.

4.1.2.3. Informan III

Nama : Rita Esti

TTL : Palembang, 16 Januari 1985

Tempat Tinggal : Jl. Karya No. 16 D Medan

Usia : 30 tahun

Agama : Islam

Lama tinggal bersama mertua : 2 tahun sampai sekarang Usia Pernikahan : 3 tahun (sejak 2012)

Ibu Rita adalah seorang perempuan berdarah jawa yang mempunyai satu orang anak perempuan yang masih berusia dua tahun. Anak pertama dari empat bersaudara ini sedang mengandung anak keduanya. Beliau yang sehari-harinya mengenakan jilbab ini bekerja di salah satu perusahaan listrik negara (PLN) di Kota Medan. Ibu Rita adalah perempuan yang memiliki suara yang cenderung halus dan sedikit pelan, serta memiliki warna kulit putih dan postur tubuh yang gemuk. Ibu Rita menuturkan bahwa ia sudah menikah dengan laki-laki berdarah melayu yang bernama Hendra pada tahun 2012 sampai sekarang. Perempuan yang menyukai warna-warna cerah ini menuturkan bahwa ia tinggal bersama dengan mertua perempuan setelah mempunyai anak.

Ibu Rita sudah tinggal bersama dengan mertua perempuan selama dua tahun sampai sekarang. Sebelum ia tinggal bersama dengan mertua perempuan, ia menuturkan bahwa ia belum mengenal karakter dari ibu mertuanya itu yang membuat beliau memiliki rasa ketakutan untuk tinggal bersama dengan mertua perempuan. Beliau mengaku bahwa untuk sekarang ini, ia merupakan menantu yang lumayan dekat dengan ibu mertuanya karena beliau yang sudah mulai sayang dan mengganggap ibu mertuanya seperti orang tuanya sendiri. Banyak suka dan duka yang ia rasakan selama tinggal bersama dengan mertua perempuan.

Selama melakukan proses wawancara dengan Ibu Rita yang pada saat itu mengenakan jilbab berwarna cokelat dan baju berwarna putih dengan motif bunga-bunga dan celana panjang hitam, peneliti merasakan sikap Ibu Rita yang sangat ramah walaupun pada saat itu beliau tidak terlalu fokus dengan pertanyaan yang peneliti ajukan sehingga peneliti berulang-ulang kali mengajukan pertanyaan kepadanya.

Selama beliau tinggal bersama dengan mertua perempuan, ia mengaku bahwa ia pernah mengalami konflik dengan ibu mertuanya, namun konflik yang terjadi bukanlah konflik yang besar. Salah satu penyebab konflik antara Ibu Rita dengan mertua perempuan adalah karena permasalahan ibu mertuanya yang suka mengatur-atur beliau dalam mengasuh anaknya, namun karena ia sudah mengganggap ibu mertuanya seperti orang tuanya sendiri, konflik yang terjadi dapat diselesaikan. Ia menganggap bahwa konflik yang terjadi hanyalah seperti angin lalu atau tidak ada konflik. Ia juga menuturkan bahwa dalam menghadapi konflik dengan mertua perempuan, ia lebih memilih untuk diam. Alasan mengapa beliau belum mempunyai keinginan dan masih bertahan tinggal bersama dengan mertua perempuan karena ia membutuhkan bantuan ibu mertuanya untuk menjaga dan merawat anaknya yang masih kecil.

4.1.2.4. Informan IV

Nama : Betti Dameria

TTL : Banda Aceh, 7 Febuari 1973

Tempat Tinggal : Jl. Jala IV No. 41 Marelan

Usia : 42 tahun

Agama : Kristen Protestan

Lama tinggal bersama mertua : 3 tahun 8 bulan Usia Pernikahan : 20 tahun (sejak 1995)

Ibu Betti adalah perempuan berdarah batak toba yang merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Beliau yang sering mengikat rambutnya ini, sehari-harinya bekerja sebagai wirausaha. Ibu Betti mempunyai satu orang anak laki-laki yang masih menduduki bangku kuliah semester tiga di salah satu

perguruan tinggi swasta di Kota Medan. Ibu Betti memiliki postur tubuh yang sedikit gemuk dan tinggi, memiliki warna kulit hitam manis dengan rambut panjang dan keriting, serta memiliki suara yang lantang dan gaya bicara apa adanya. Ibu Betti menuturkan bahwa ia sudah menikah dengan laki-laki berdarah tionghua yang bernama Kawito Ang Lie pada tahun 1995 sampai sekarang.

Sebelum Ibu Betti menikah, ia sudah mengetahui bahwa ia harus tinggal bersama dengan mertua perempuan. Ia menuturkan bahwa sebenarnya ia tidak menginginkan untuk tinggal bersama dengan mertua perempuan, namun karena keadaan ekonomi yang membuat beliau mau tidak mau tinggal bersama dengan mertua perempuan. Ibu Betti sudah tinggal bersama dengan mertua perempuan selama tiga tahun delapan bulan, namun sekarang ia tidak lagi tinggal bersama dengan mertua perempuan karena terus-menerus berkonflik dengan ibu mertuanya. Beliau menuturkan bahwa penyebab ia tidak lagi tinggal bersama dengan mertua perempuan karena ibu mertuanya yang suka membanding-bandingkan dan pilih kasih terhadapnya. Ibu Betti bukanlah satu-satunya menantu perempuan yang tinggal bersama dengan ibu mertuanya, akan tetapi terdapat tiga orang menantu perempuan dalam satu rumah yang membuat Ibu Betti tidak lagi nyaman untuk tinggal bersama dengan mertua perempuan. Akhirnya, ia memilih untuk tidak tinggal bersama dengan mertua perempuan. Meskipun beliau tidak lagi tinggal bersama dengan mertua perempuan, ia tetap tinggal berdekatan dari tempat tinggal ibu mertuanya.

Selama melakukan proses wawancara dengan Ibu Betti yang pada saat itu mengenakan jaket hitam dengan baju berwarna kuning dan celana panjang hitam, peneliti merasakan sikap Ibu Betti yang sangat ramah dengan gaya bicara apa adanya ketika peneliti mengajukan pertanyaan. Ibu Betti menuturkan bahwa selama beliau tinggal bersama dengan mertua perempuan, ia pernah mengalami konflik dengan ibu mertuanya. Beliau menuturkan bahwa ia sempat menyewa rumah bersama suami dan anaknya ketika beliau berkonflik dengan mertua perempuan. Beliau juga menuturkan bahwa ia bukanlah menantu yang dekat dengan mertua perempuan. Bukan hanya berkonflik dengan ibu mertuanya, ia juga pernah mengalami konflik dengan ipar-iparnya. Ia juga menuturkan bahwa

selama ia tinggal bersama dengan mertua perempuan, banyak suka dan duka yang ia rasakan selama tinggal bersama dengan ibu mertuanya.

Dokumen terkait