10. Ibu Gopal
4.2.2 Informan yang merupakan anak dari orangtua tunggal ibu di Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe Kabupaten Pakpak Bharat
1. Meri
Meri adalah anak dari ibu tunggal yang bekerja sebagai buruh tani yang sudah mengecam pendidikan S1, bagi Saudara Meri peran ibu sudah cukup untuk menggantikan ayah yang sudah lama memninggal. Meri merasa bangga karena ibunya sudah berjuang keras untuk memberikan kehidupan dan pendidikan yang baik kepadanya dan adik – adiknya. Meri bekerja sejak lulus serjana sekitar 3 tahun silam. Untuk membantu ekonomi keluarganya, ia rela bekerja sebagai buruh tani agar bisa membantu keluarganya terutama adik – adiknya yang masih mengecam pendidikan. Ia memilih bekerja sebagai buruh tani karena tidak ada lowongan pekerjaan yang sesuai dengan yang dia berharap, penghasilan saudara Meri dalam
perharinya Rp 50.000 rupiah, dan belum cukup untuk membantu keluarga dan kebutuhannya sendiri.
Seperti ungkapan Meri sebagai anak orangtua tunggal : mela ngo sebenarna aku we bekerja sebagai buruh apalagi ma aku nggo ma janah Serjana tetapi bakune mo we susah nai ngo bagendari pekerjaan. Padahal omakku nggo ngo memere aku pendidikan layak tapi bagi pe tong oda lot kerjaan, janah sebagai buruh pe oda ngo tetap pekerjaana mala lot ma ngo ki ajak diri krejo asa kejro diri, tapi lot ma ngo kerjaan tambahen ku buka ma kede ketek – ketek asa lot ma uang tambahku, tujuanku kesa asa boi membuat omakku bahagia deket nggeluh kami cukup bagi deket adek – adek diri kerna diri ma simbelgahnya jadi mencontohken mendahi adek – adek diri asa boi ma giam membanggaken keluargana. (Sebenarnya aku malu bekerja sebagai buruh tani apalagi aku sudah serjana tapi bagaimanalah sekarang susah sekali mencari pekerjaan. Padahal ibuku sudah memberikan pendidikan yang layak kepadaku tapi gimanalah tetap tidak ada pekerjaan, bakerja sebagai buruh tani tidaklah tetap pekerjaannya kalau ada orang mengajak kita untuk kerja baru kita kerja, tetapi aku juga punya kerja sambingan yaitu buka kede kecil – kecil agar dapat juga uang tambahan. Tujuanku hanya agar bisa mebuatku bahagia dan kehidupan kami cukup dan juga adek – adekku. Karena aku yang paling besar jadi mencontohkan kepada adik – adikku agar bisa membanggakan keluarganya). . .
Pendidikan adalah salah satu persyaratan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak terdahap kita, disisi lain banyak orang yang memiliki pendidikan tetapi tidak memiliki pekerjaan. Hal itu lah di rasakan Meri dia harus bekerja sebagai buruh tani karena sangat susah mencari pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya sendiri. Tapi dia tetap berusaha untuk mencari pekerjaan yang layak, dan dan tidak berhenti bekerja sebagai buruh sebelum mencari pekerjaan yang layak, karena sebenarnya meri tidak mau bekerja sebagai buruh tetapi di sisi lain ia harus membantu ekonomi keluarganya.
2.Miswan Berampu
Informan ini adalah anak dari orangtua tunggal ibu Bukhari, Miswan bekerja sebagai buruh tani sejak 9 tahun terakhir ia memilih bekerja sebagai buruh tani karena tidak memiliki pekerjaan lain untuk melanjutkan kehidupan. Penghasilan saudara Miswan perharinya adalah
Rp 60.000 rupiah dan itu belum cukup untuk dirinya sendiri dan membantu ibunya yang hanya bekerja sendiri untuk menafkahi mereka. Miswan mengecam pendidikan sampai tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas) saja dan menurutnya itu belum layak dan saat ini Miswan lebih memfokuskan dirinya untuk bekerja karena jika difikirkan juga tidak akan bisa terulang lagi untuk melanjutkan pendidikan.
Pendapat Saudara Miswan tentang orangtua tunggal yang tidak memberikan pendidikan anaknya itu harus dimaklumi, jika memang orangtuanya tidak mampu apalagi orangtuanya hanya bekerja sebaagai buruh tani. Saudara Miswan merasa bangga karena orangtua rela banting tulang untuk mereka. Ia sedih karena tidak dapat memberikan kehidupan yang layak terhadap orangtuanya dan berharap agar dia (miswan) medapatkan kerjaan yang layak. Agar dapat membantu ekonomi keluarga, dan harapan untuk adik – adiknya adalah sukses agar tidak sepertinya yang hanya bekerja sebagai buruh tani saja.
Seperti ungkapan saudara Miswan : belli pe aku tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) saja aku tong bangga kerna orang tuaku nggo boi kisekolaken aku pada zaman 2000an pendidiken isi oda pela penting bagi orangtua tua i kuta en menyekolahken aku sampai SMA (Sekolah menengah Atas) . Deket oda pernah aku menyesal karena aku sadarkin ngo bakune kedaan orang tuaku.(biarpun aku hanya tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) saja aku tetap merasa bangga karena oranggtuaku sudah menyekolahkan aku sampai pada zaman 2000an pendidikan isi oda pela penting bagi orangtua di desa inimenyekolah kan kau sampai (SMA) Sekolah Menengah Atas. Dan aku tidak pernsah menyesal karenac aku sadri bagaimana keadaan orangtuaku)...
3. Abdul
Abdul adalah anak dari orangtua tunggal Ibu Herti yang sudah bekerja sebagai buruh selama 5 tahun lalu sejak tamat SMA (sekolah Menengah Atas). Menurut Abdul bahwa ia sudah mendapatkan pendidikan yang cukup yang diberikan orangtuanya walaupun tidak sampai ke Perguruan Tinggi. Abdul memilih pekerjaan buruh tani dikarenakan susah mencari
pekerjaan. Sebelumnya dia juga pernah merantau selama 2 tahun tetapi pekerjaannya tidak membuahkan hasil karenan hanya bekerja sebagai buruh pabrik. Tujuannya yang pertama adalah agar tidak menyusahkan orangtuanya dan sedikit meringkan beban orangtuanya dengan bekerja dan mengurus adik - adiknya. Walaupun pekerjaan yang di lakoni sekarang belum cukup membantu orangtuanya dan adik – adiknya. Penghasilan yang di dapatkan abdul perharinya Rp 60.000 rupiah, selain bekerja sebagai buruh ia juga bekerja sebagai memanen sawit pemilik lahan yang ia lakukan setiap 2 minggu sekali.
Seperti ungkapan abdul : “aku bangga kerna omakku uwe gajin mi juma deba, oda pernah mela aku omakku gajin karena halal ngi, padahal sedih ngo aku menengen omakku gajin gara bagi ari i, aku pe oda pernah aku kecewa mala omakku oda kisekolaken aku ndates kerna omakku pe gaji – gajin ngo kessa, aku tong semangat krejo boi giam cituk – cituk kibantu omakkku deket adek - adekku. Cita –citaku kessa asa boi omakku medapetken kenggeluhen bagak, asa ndekah ia ngeluh. Medahi adek – adekku mudah – mudahen kalak i sukses oda bage abg nen”. (Aku bangga karena ibuku mau kerja sebagai buruh di lahan orang, aku tidak pernah malu aku kerna ibuku kerja buruh tani karena itu halal, padahal aku merasa sedih melihat ibuku kerja buruh diladang orang yang sangat panas, dan aku tidak pernah kecewa jika orangtuaku tidak memberikan pendidikan tinggi kepadaku karena ibuku pun hanya bekerja sebagai buruh, dan aku tetap semangat bekerja agar bisa sedikit membantu ibuku dan adik - adikku. Cita – citaku hanya agar ibuku bisa medapatkan kehidupan yang baik dan umur panjang, buat adik – adikku mudah – mudahan mereka sukses jangan seperti abangnya)...
4. Ani
Informan adalah anak dari orangtua tunggal ibu Ani yang sudah bekerja sebagai buruh sudah 6 tahun dan bekerja sejak tamat SMA (Sekolah Menengah Atas). Pekerjaan ini dilakoni karena susah mencari pekerjaan lain, dan ia sering ikut ibunya untuk kerja sebagai buruh. Walaupun Ani juga memiliki kerja sampingan yaitu pembersih jalan di kecamatan Sitellu Tali Urang jehe. penghasilan Ani setiap harinya sama dengan orangtuanya yaitu Rp 40.000
ibunya, membiayai adik – adiknya dan untuk dirinya sendiri. Kalau berbicara cukup aata tidaknya untuk kebutuhan pribadi dan keluarganya Ani mengatakan pasti belum cukup tapi harus cukup dan mendahulukan hal yang penting dalam keluarga.
Seperti ungkapan Ani :” nda pernah menyesal bekerja sebagai buruh asal mo giam boi ki bantu omakku, karena karina tujuan bage kita en tujuanna membanggaken orangtuana dan beda – beda carana aku bagen mo kibantu omakku. Padahal oda ngen pekerjaan ku harapken tapi bakune mo pendidiken diri tamat SMA (Sekolah Menengah Atas) ngo kessa, paling mo jadi pembantu deba mala diri laus miladang deba, lotin isen boi den kibantu omak barang cituk pe. mala maslah pendidikan iberre omakku menerutku lumayan cukup boi ma giam aku tamat SMA (Sekolah Menengah Atas). Mala kecewa pe diri bakune nola mo nibain bagen mo kessa boi ibain omakku gajin ngo kessa sedasa kessa ki peduliken kami bapakku peduli ne poda bana kami. Harapenku kessa karina kami sehat – sehat, khsus bana omakku aku bangga bana, karena ia daberru tanggung kade pe ilakuken demi kami dukak – dukakna”. ( Tidak pernah menyesal bekerja sebagai buruh, asal bisa membantu ibuku, karena kayak kita ini semua tujuannya adalah mebanggakan orangtuanya, Cuma caranya berbeda – beda kalau caraku adalah begini. Padahal bukan ini kerrjaan yang ku harapkan tetapi gmana lah aku pun hanya tamat SMA (Sekolah Menengah Atas) saja, paling lah jadi pembantu jika peri ke rantau orang, lebih baik di sini bisa membantu ibuku walaupun sedikit. Jika masalah pendidikan ibuku sudah lumayan cuku memberikan pendidikan sampai tamat SMA (Sekolah Menengah Atas) walaupun harus dikecawankan mau bagaimana lagi ibuku hanya bekerja sebagai buruh tani dan hanya sendiri yang oeduli kepada kami kalau bapakkunya sudah tidak peduli lagi kepada kami. Harapaenku hanya agar kami sehat – sehat aja dan aku bangga kepada ibu karena menjadi wanita yang tanggung apapun dilakukan demi kami semua anak - anaknya)...
5. Jefry
Informan ini adalah anak orangtua tunggal ibu Penah, ia bekerja sebagai buruh tani sejak lima tahun terakhir ia memilih pekerjaan tersebut untuk membantu ibunya dan tidak ada lowongan pekerjaan. Menerutnya pekerjaan tersebut adalah salah satu pekerjaan yang membantu keluarga dan dirinya sendiri. Penghasilan yang didapatkan jefri setiap harinya adalah Rp 60.000 rupiah dan dengan berpengasilan tersebut belum cukup tetapi harus di minimalisir. Selain bekerja sebagai buruh setiap hari rabu Jefry juga bekerja sebagai penarik
becak, pekerjaan itu dilakukan untuk menambah uang masuk karena setiap hari pekan mereka tidak bekerja sebagai buruh, penghasil dari menarik becak sendiri tidak menentu yang ia dapatkan upah berkisaran Rp. 70.000 - 80.000 rupiah tergantung banyak penumpang becaknya.
Menurut Jefry pendidikan yang diberikan orangtuanya belum cukup karena Jefry melihat teman – temannya yang sekarang sebagain sudah sukses dan mengecam pendidikan di Perguruan Tinggi. Terkadang Jefry merasa malu jika bertemu dengan teman – temannya karena ia hanya berprofesi sebagai buruh, ia merasa kecewa karena niatnya sangat besar untuk melanjutkan pendidikan seperti teman - temannya. Tetapi Jefry harus menerima dengan lapang dada karena tidak dapat melanjutkan pendidikanya dan sekarang pokus untuk kerja. Selain membutuhi kebutuhan dirinya sendiri Jefry juga membantu ibunya yang sudah tua dan harus bekerja sebagai buruh tani. Jefry hanya berharap agar adik – adiknya bisa mendapatkan pendidikan yang baik dan bisa sukses.