BAB V HASIL PENELITIAN
5.1 Deskripsi Hasil Penelitian
5.1.3 Informan Utama 2
Nama : Nova
Agama : Islam
Umur : 27 Tahun Status : Menikah
Alamat : Jalan Kolam Renang Pekerjaan : Pedagang
Pendidikan : Sekolah Menengah Kejuruan
Informan memiliki 2 orang anak yaitu Aqila dan Saka. Aqila berusia 7 tahun sementara adiknya, Saka berusia 2 tahun. Sebab Saka masih terlalu kecil, maka peneliti bertanya terkait penggunaan gadget oleh Aqila. Nama lengkap Aqila yaitu Khanza Aqila Syahputri yang kini tengah mengenyam kelas 1 SD. Suami informan bekerja sebagai tukang kuda di Pajak Buah Berastagi. Namun terkadang
70 suami informan jarang pulang ke rumah jika mendapat uang lebih dari hasil pekerjaannya sebagai tukang kuda tersebut. Suami informan tetap dekat dengan anak-anaknya terutama dengan anaknya yang kedua yaitu Saka Peneliti melakukan wawancara di tempat informan berjualan yaitu disela-sela waktu informan tengah berjualan
Pertanyaan pertama yang peneliti tanyakan pada informan yakni menanyakan apakah informan mengetahui bahwa setiap anaknya datang ke kedai kopi, maka akan membawa gadget dan bermain internet dengan wifi yang tersedia di warung kopi itu. Menjawab pertanyaan ini, informan mengatakan bahwa ia tahu anaknya datang ke warung kopi itu untuk bermain internet. Sebab terkadang ia juga ikut ke warung kopi itu dan kadang juga ia tak punya paket internet, sehingga harus pakai wifi. Demikian bentuk tuturan informan, “Ya saya tahu dia ke sana main HP. Karena itukan HP saya, jadi kadang saya ikut. Kadang juga tak ada paket internet kan. Jadi di sanalah pakai wifi.” Melalui jawaban ini, dapat diketahui bahwa tiap kali anaknya bermain gadget pasti orang tuanya tahu. Sebab itu adalah gadget orang tuanya. Akses wifi di warung kopi juga mereka manfaatkan terutama saat paket internet habis.
Pertanyaan kedua, peneliti menanyai informan, apakah tetap memberikan batasan waktu pada anaknya dalam menggunakan handphone atau tidak.
Menjawab pertanyaan ini, informan mengatakan bahwa dirinya memang memberi kontrol pada anaknya dalam bermain gadget dan tidak mungkin dibebaskan begitu saja. Demikian kiranya bentuk tuturan informan, “Ya saya kontrollah dia main HP itu. Tak mungkin saya lepaskan saja kan.”
71 Pertanyaan ktiga, peneliti menanyakan informan terkait cara yang dilakukannya dalam mengontrol anaknya bermain gadget. Menanggapi pertanyaan ini, informan mengatakan bahwa hal dilakukannya dalam mengontrol anak bermain gadget yakni dengan membatasi anaknya hanya boleh bermain gadget beberapa jam saja. Selain itu informan mengatakan bahwa jadwal anaknya padat. Pagi sudah berangkat sekolah walau hanya 3 hari seminggu saja. Kemudian anaknya juga punya jadwal les dan mengaji setiap hari. Sehingga anaknya juga tak punya banyak waktu untuk bermain gadget. Bahkan pada malam harinya pun biasanya anaknya sudah kelelahan.
Demikian penuturan informan, “Saya batasi dia cuma boleh main HP beberapa jam saja. Lagian pun kan jadwalnya padat. Pagi sekolah, siang les, sore ngaji. Malamnya pun biasanya sebentar saja dia main HP itu. Karena sudah capek kan seharian beraktivitas.” Melalui jawaban informan ini dapat diketahui bahwa padatnya aktivitas si anak sehari-hari membuatnya tak punya banyak waktu untuk bermain gadget. Cara tersebut terbukti cocok untuk mengurangi intensitas anaknya bermain gadget.
Selanjutnya peneliti menanyakan informan apakah merasakan kendala dalam mengasuh anak yang sering bermain gadget. Menjawab pertanyaan ini, informan mengatakan bahwa ia tak mengalami hambatan apapun dalam hal mengasuh anak. Anaknya pun juga tak begitu sering bermain gadget. Berikut bentuk penuturan informan, “Kalau hambatan tidak ada lah ya. Anak saya pun tak begitu sering main HP.”
Pertanyaan berikutnya, peneliti bertanya apakah ketika anak menangis atau marah, informan akan langsung memberikan gadget atau tidak. Menanggapi
72 pertanyaan ini, informan mengatakan bahwa anaknya sendiri tak pernah meminta gadget sampai menangis. Berikut bentuk tuturan informan, “Anak saya tak pernah pula minta HP sampai nangis. Karena dia bukan yang sering-sering kali main HP. Paling ya kalau minta HP, syaratnya saya bikin harus belajar dulu”.
Apabila coba dianalisa, maka dapat diketahui bahwa hal ini ada hubungannya dengan aktivitas si anak yang begitu padat setiap harinya. Waktu malam pun dipakai untuk beristirahat. Sehingga anak tak punya waktu untuk merengek meminta gadget.
Kemudian peneliti menanyakan informan apakah gadget yang selama ini dipakai memang sudah punya anaknya atau tidak. Menanggapi pertanyaan peneliti, informan mengatakan bahwa gadget yang dipakai anaknya adalah gadget milik orang tua dan hanya ada 1 gadget. Demikian bentuk penuturan informan,
“HP yang dipakainya itu HP saya. Kami cuma punya 1 HP.” Melalui jawaban ini dapat diketahui bahwa si anak juga tak bisa memiliki kebebasan untuk memakai gadget itu sebab gadgetnya adalah milik ibunya.
Pertanyaan berikutnya peneliti menanyakan informan sejak usia berapa si anak dipebolehkan menggunakan gadget. Menjawab pertanyaan ini, informan mengatakan bahwa anaknya sudah dibolehkan memakai gadget sejak berumur masih berusia 9 bulanan. Yaitu dinontonkan Youtube terutama saat ibunya sedang bekerja. Berikut bentuk penuturan informan, “Mulai dari usia 9 bulanan lah kalau tak salah. Sebelum satu tahunanlah. Itu dia dinontonkan Youtube kartun-kartun. Kan bisa mengalihkannya kalau saya kerja.” Melalui jawaban ini dapat diketahui bahwa sedari bayi anaknya sudah diperkenalkan gadget yakni sebagai hiburan pengalih selagi ibunya bekerja.
73 Selanjutnya peneliti menanyakan informan terkait pengaruh penggunaan gadget terhadap prestasi akademik anaknya. Menjawab pertanyaan peneliti, informan mengatakan pemakaian gadget tak ada pengaruhnya bagi pendidikan anaknya. Sebab si anak sudah disibukkan dengan aktivitas sekolah dan belajar sehingga semua jadi seimbang. Demikian bentuk penuturan informan,
“Pengaruhnya tidak ada. Karena dia kan juga sudah sibuk sekolah sama les. Jadi seimbanglah.” Melalui jawaban ini dapat diketahui bahwa memadatkan aktivitas belajar anak dapat menjaga keseimbangan prestasi belajar anak di sekolah, sekali pun anak itu bermain gadget.
Kemudian peneliti menanyakan juga apakah penggunaan gadget oleh anaknya mempengaruhi interaksi sosial anak dengannya. Menjawab pertanyaan mengenai pengaruh penggunaan gadget terhadap interaksi sosial anak dengannya, informan mengatakan tak ada yang berubah. Anaknya masih dekat dengannya.
Demikian tuturan informan, “Tak ada masalah lah dalam interaksi sosialnya sama saya. Kami tetap dekat.” Melalui jawaban informan ini dapat diketahui bahwa tidak ada perubahan interaksi sosial kepada ibunya. Masih dekat seperti dahulu.
Terakhir peneliti menanyakan, apakah informan pernah mencoba menghentikan anaknya menggunakan gadget. Serta menanyakan juga bila pernah, bagaimana caranya serta reaksi anaknya. Menjawab pertanyaan ini, informan mengatakan bahwa ia pernah tak memperbolehkan anaknya memakai HP selama 2 hari. Hal itu disebabkan ia melihat mata anaknya kedip-kedip sendiri. Demikian kiranya bentuk tuturan informan, “Pernah tak saya kasih dia pakai HP 2 hari. Itu karena saya lihat sambil main HP matanya kedip-kedip. Langsunglah 2 hari total
74 saya istirahatkan dari HP.” Melalui penyempaian ini dapat diketahui bahwa dampak medis terhadap mata anaknya membuat informan memberhentikan pemakaian gadget oleh anaknya.