• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

5.3 Komparasi Temuan Dengan Penelitian Terdahulu

Pada bagian komparasi temuan dengan penelitian terdahulu ini akan dibandingkan antara temuan peneliti dengan penelitian-penelitian terdahulu.

Tujuan dari pembandingan itu yakni untuk mengonfirmasi perasamaan dan perbedaan yang ada. Temuan pertama yang peneliti dapatkan dalam penelitian terkait pola asuh orang tua terhadap anak yang kecanduan gadget yakni ternyata salah satu cara yang hampir semua informan utama lakukan untuk mengontrol anaknya dalam bermain gadget adalah memberikan syarat pada anak untuk menyelesaikan PR dan tugas-tugasnya terlebih dahulu barulah diperbolehkan bermain gadget.

Selain itu ditemukan pula sebuah fakta bahwa pemakaian gadget oleh anak dengan waktu yang tak berlebihan tidak akan berpengaruh buruk terhadap pola interaksi sosial si anak kepada orang tua, guru maupun tetangganya. Namun sebaliknya, pemakaian gadget yang berlebihan bahkan bisa seharian atau dalam kata lain dikatakan candu dapat berakibat buruk bagi pola interaksi sosial si anak.

Membuat si anak jadi enggan bercerita atau bercengkrama dengan orang tuanya dan hanya terfokus pada gadgetnya saja.

94 Pertama, berdasarkan penelitian oleh Yunda Catrur Bintoro berjudul

“Upaya Orang Tua Dalam Mengatasi Kecanduan Penggunaan Gadget pada Anak Usia Dini di Desa Mandiraja, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara.” Temuan penelitian ini, ada sejumlah upaya yang dilakukan orang tua dalam mengatasi anak yang kecanduan bermain gadget. Pertama melakukan pendampingan, kedua membatasi penggunaan gadget oleh anak, ketiga memilih sesuai usia anak, dan keempat memberikan contoh yang baik.

Penelitian di atas memiliki sejumlah persamaan dan perbedaan dengan temuan penelitian peneliti. Persamaannya yaitu adanya upaya pembatasan penggunaan gadget yang dilakukan orang tua. Seperti halnya informan utama pertama dan ketiga yang secara jelas menyatakan pembatasan waktu bagi anaknya dalam bermain gadget. Selain itu juga menyatakan bahwa tak akan memberikan gadget jika anaknya belum menyelesaikan semua kewajiban dan tanggung jawabnya.

Informan utama kedua memiliki cara tersendiri. Yaitu dengan memadatkan jadwal harian anaknya dengan les dan mengaji setiap hari. Selain itu persamaannya yaitu dalam memberikan contoh yang baik. Informan utama keempat memberi contoh yang baik bagi anaknya untuk rajin bekerja dan tak hanya bermain gadget saja. Alhasil anaknya memang menjadi anak yang rajin bekerja dan berprestasi baik pula di sekolah.

Perbedaannya terletak pada pendampingan dan memilih sesuai usia anak.

Tidak ada orang tua yang secara jelas menyatakan bahwa salah satu cara mereka mengontrol anaknya dalam bermain gadget adalah dengan pendampiangan.

Begitu pula dengan memilih sesuai usia anak. Sebab beberapa anak-anak tersebut

95 juga sudah memiliki gadget sendiri sehingga lebih leluasa untuk membrowsing atau mengakses hal apapun yang ia inginkan.

Kedua, berdasarkan penelitian oleh Mufaro’ah yang berjudul “Pengaruh Gawai Dalam Pola Asuh Orang Tua Terhadap Anak Usia Dini (Studi Kasus Orang Tua Dari Anak Usia 5 Tahun di TKIT Ibu Harapan Kecamatan Bengkalis“

ditemukan bahwa pemakaian gadget memberikan pengaruh yang signifikan dalam pengasuhan orang tua terhadap anak usia 5 tahun. Selain itu ditemukan juga maraknya anak usia dini (2-6 tahun) yang sudah menggunakan gadget.

Penelitian di atas juga memiliki persamaan temuan dengan penelitian peneliti. Persamaanya yaitu maraknya anak usia dini yang sudah menggunakan gadget. Sebagaimana penuturan semua informan utama, mereka sudah memperbolehkan anaknya yang saat itu masih usia balita untuk menggunakan gadget. Saat itu gadget digunakan sebagai hiburan bagi anak-anak mereka. Yaitu dengan menontonkan konten-konten hiburan bagi anak-anak.

Persamaan lainnya yaitu pemakaian gadget memberikan pengaruh yang signifikan dalam pengasuhan orang tua terhadap anak usia 5 tahun. Meskipun peneliti tidak mengetahui pasti seperti apa bentuk pengasuhan yang para informan utama lakukan dulu, tapi setidaknya dengan penuturan bahwa mereka telah memberikan gadget pada anak-anaknya yang saat itu masih balita sebagai hiburan termasuk ketika anaknya menangis, mengindikasikan bahwa para orang tua tersebut memakai gadget salah satunya yakni sebagai hiburan. Sebab mereka memakainya sebagai hiburan, maka seperti itu pulalah mereka melakukan pengasuhan pada bayi mereka dulu. Menggunakan gadget sebagai alternatif hiburan bagi bayinya.

96 Ketiga, penelitian oleh Rizky Istiqowati yang berjudul “Upaya Orang Tua Dalam Mengatasi Problematika Penggunaan Gadget Pada Anak Usia Dini di Desa Sidamulya RT. 05 RW. 05 Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas.”

Penelitian ini menemukan sejumlah problematika pada anak yang diakibatkan oleh gadget berupa: gangguan pada fisik, gangguan pada sosio-emosional, gangguan pada bahasa, dan gangguan pada kognitif anak.

Seperti halnya dua penelitian sebelumnya, penelitian ini juga memiliki sejumlah persamaan dan perbedaan dengan temuan peneliti. Persamaannya yaitu dalam hal gangguan fisik yang terjadi pada anak akibat penggunaan gadget. Anak informan utama kedua mengalami hal tersebut. Yakni mata si anak yang berkedip-kedip sendiri akibat memakai gadget dalam waktu yang cukup panjang.

Akibatnya informan utama kedua tak memperbolehkan anaknya memakai gadget selama dua hari penuh dengan maksud pemulihan. Setelah 2 hari mata anak itu diistirahatkan, barulah dibolehkan lagi memakai gadget. Perbedaannya yaitu tidak ada satu pun informan yang mengatakan anaknya mengalami gangguan sosio-emosional, gangguan pada bahasa, dan gangguan pada kognitif akibat pemakaian gadget.

97 BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka dapat disimpulkan bahwasanya orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter dan pola asuh demokrasi membuat anak memiliki perilaku yang baik. Terlihat dari anak informan I, II dan IV yang dimana anak informan tersebut memiliki prestasi yang bagus di sekolahnya seperti mendapat juara kelas. Anak-anak informan memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas sekolahnya sebelum dapat bermain gadget, serta interaksi antara orang tua dan anak masih berjalan baik. Namun orang tua yang menerapkan pola asuh permisif anaknya akan manja dan kurang memiliki tanggung jawab atas tugas sekolahnya dan memiliki sifat lalai juga manja. Serta hubungan anak dan orang tua yang menerapkan pola asuh permisif tidak baik, karena anak akan sibuk dengan gadgetnya sendiri dan sibuk dengan dunianya sendiri serta kurang berinteraksi dengan orang tuanya seperti anak dari informan III. Kurangnya peran figure ayah dalam mengasuh anak dapat memiliki dampak terhadap tumbuh kembang sang anak.

6.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dirumuskan, maka saran yang peneliti berikan ialah sebagai berikut :

1. Peneliti berharap khususnya bagi prodi Departemen Kesejahteraan Sosial agar dapat tertarik serta ikut membantu menyempurnakan penelitian ini dengan melakukan penelitian lebih lanjutan sebagai pendalaman ilmu

98 mengenai pola asuh orang tua terhadap anak. Sehingga nanti temuan penelitian selanjutnya dapat digunakan sebagai solusi pemecahan masalah terkait. Dapat memberikan sosialisasi mengenai ilmu parenting kepada para orang tua maupun calon orang tua.

2. Bagi orang tua

Peneliti juga berharap para orang tua agar melakukan pendampingan dan pengawasan terhadap anak pada saat menggunakan gadget, karena hal ini sangatlah diperlukan. Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing dan memberikan batasan penggunaan gadget pada anak usia dini. Orang tua juga diharapkan lebih kreatif dalam hal mengajarkan permainan kepada sang anak. Selain itu penerapan pola asuh yang baik dalam hal ini yaitu penerapan pola asuh demokratis dan pola asuh otoriter.

Mengasuh anak bukan hanya tugas istri saja naum juga tugas suami.

Suami dan istri haruslah bekerja sama dan kompak dalam hal mengurus sang buah hati. Hendaknya suami juga ikut mengambil peran dalam hal pola asuh anak di rumah.

3. Bagi anak

Anak memerlukan bimbingan dan pengawasan dari orang tua pada saat menggunakan gadget dikarenakan anak belum sepenuhnya memahami akan dampak dari penggunaan gadget yang berlebihan. Hal yang mungkin dapat diterapkan yaitu bermain dengan teman sebaya dan keluarga dapat menjadi solusi untuk mengalihkan perhatian anak untuk tidak bermain gadget. Selain itu, anak dapat menggunakan gadget sebagai media edukasi dan meningkatkan kreatifitas pada anak melalui media youtube.

99 Daftar Pustaka

BUKU

Afrizal, 2017.Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers.

Fahrudin, Adi. 2012. Pengantar Kesejahteraan Sosial. Bandung: PT. Rafika Aditama.

Lestari, Sri. 2012. Psikologi Keluarga : Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga. Jakarta : Prenada Media Group.

Mutiah, Diana. 2010. Psikologi Bermain Anak Usia Dini. Jakarta: Prenada Media Group.

Pratisti, Wiwien Dinar. 2008. Psikologi Anak Usia Dini. Bogor: PT Macanan Jaya Cemerlang.

Septiari, Bety Bea. 2017. Mencetak Balita Cerdas Dan Pola Asuh Orang Tua.

Yogyakarta: Nuha Medika.

Shocib, Moh. 1998. Pola Asuh Orang Tua Untuk Membantu Anak Mengembangkan Disiplin Diri. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Siagian, Matias. 2011. Metode Penelitian Sosial Pedoman Praktis Penelitian Bidang Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Kesehatan. Medan: PT Grasindo Monoratma.

Usman, Husaini. 2009. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: PT Bumi Aksara.

JURNAL

Ayun, Qurrotu. 2013. Pola Asuh Orang Tua dan Metode Pengasuhan Dalam Membentuk Kepribadian Anak.

Mufaro’ah, Titin Sumarni dan Ika Kurnia Sofiani. 2019. Pengaruh Gawai Dalam Pola Asuh Orang Tua Terhadap Anak Usia Dini ( Studi Kasus Orang Tua dari Anak Usia 5 Tahun di TKIT Ibu Harapan Kecamatan Bengkalis). Jurnal Pendidikan, Vol 11, No 1.

SKRIPSI

Bintoro, Yunda Catur. 2019. Upaya Orang Tua Dalam Mengatasi Kecanduan Penggunaan Gadget Pada Anak Usia Dini di Desa Mandiraja Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara. Skripsi, Semarang : FIP - UNNES.

100 Istiqowaty, Rizki. 2020. Upaya Orang Tua Dalam Mengatasi Problematika Penggunaan Gadget Pada Anak Usia Dini. Skripsi : FD – IAIN Purwokerto.

Sofiani. 2018. Bimbingan Orang Tua Terhadap Anak Abnormal(Studi Kasus Keluarga Ibu Elly Harahap di Kelurahan Tegal Sari). Skripsi, Medan : FDK - UINSU.

Sumber Online

https://lifestyle.kompas.com/read/2017/09/13/114500420/usia-berapa-anak-boleh-memiliki-ponsel-sendiri-?page=all (diakses pada tanggal 7/7/2021 jam 11:03 WIB)

https://masoemuniversity.ac.id/berita/perilaku-normal-atau-abnormal.php (diakses pada tanggal 25/7/2021 jam 20:29 WIB)

https://tekno.kompas.com/read/2018/01/03/18460017/kecanduan-main-game-kini-masuk-kategori-gangguan-mental?page=all ( diakses pada tanggal 30/7/2021 jam 20:45 WIB)

https://www.yuksinau.id/pengertian-gadget/( diakses pada tanggal 5/8/2021 jam 7:20 WIB )

101 LAMPIRAN

Dokumentasi/foto

102

103

104

105 Surat izin penelitian

106 Surat Balasan Penelitan

107

108

109 Panduan Wawancara

1. Informan Kunci (Pemilik Warung Kopi) 1.1 Identitas informan kunci

a. Nama :

b. Agama :

c. Umur :

d. Status :

e. Alamat :

f. Pekerjaan :

g. Pendidikan :

1.2 Daftar pertanyaan

a. Sudah berapa lama warung kopi ini didirikan ?

b. Dari kalangan mana saja yang biasa menjadi pelanggan di warung kopi ini ?

c. Apakah ada akses internet (Wi-Fi) di warung kopi ini ?

d. Seberapa sering intensitas kedatangan pelanggan anak-anak yang masih tergolong anak usia dini di warung kopi ini ?

e. Apa yang biasa dibeli anak-anak yang tergolong usia dini tersebut

?

f. Berapa lama durasi anak usia dini tersebut bermain gadget di warung kopi ini ?

g. Apakah ada syarat untuk dapat mengakses internet di warung kopi ini ?

110 h. Biasanya pada pukul berapa anak-anak tersebut datang ke warung

kopi ini ?

i. Biasanya pada pukul berapa anak-anak tersebut pulang dari warung kopi ini ?

2. Informan Utama ( 4 orang tua yang bersangkutan) 2.1 Identitas informan utama

Ayah Ibu

Nama

Umur

Agama

Suku

Pendidikan terakhir

Pekerjaan

Alamat

111 2.2 Daftar pertanyaan

a. Apakah orang tua mengetahui bahwa anaknya pergi ke warung kopi membawa gadget untuk menggunakan akses internet (Wi-Fi) yang ada di warung kopi ?

b. Bagaimana cara orang tua mengintrol anak yang bermain gadget ? c. Apakah ada batasan waktu untuk anak bermain gadget ?

d. Apakah di rumah anak juga bermain dengan gadgetnya ?

e. Apakah ada kendala dalam mengasuh anak yang sering bermain gadget ?

f. Jika anak menangis atau marah ingin meminta bermain gadget.

apakah orang tua langsung memberikan gadget ? g. Apakah gadget tersebut milik anak itu sendiri ?

h. Pada usia berapa anak diperbolehkan menggunakan gadget ? i. Apakah teman anaknya menggunakan gadget juga?

j. Apakah penggunaan gadget berpengaruh terhadap prestasi akademik anak ?

k. Bagaimana hubungan interaksi sosial anak dengan orang tunya ? l. Pernahkah orang tua mencoba menghentikan penggunaan gadget

terhadap anak ?

m. Jika pernah, bagaimana caranya dan bagimana reaksi anak tersebut?

112 3. Informan tambahan (tetangga dan guru anak informan utama)

3.1 Identitas informan tambahan

a. Nama :

b. Agama :

c. Umur :

d. Status :

e. Alamat :

f. Pekerjaan :

g. Pendidikan :

3.2 Daftar pertanyaan

a. Apakah mengetahui bahwa anak-anak dari informan pergi ke warung kopi ?

b. Apakah mengetahui bagaimana cara informan utama dalam mengontrol anaknya bermain gadget ?

c. Bagaimana interaksi sosial anak informan kepada orang tua dan tetangga ?

d. Bagaimana tingkah laku anak informan utama selama masa pendidkan dan belajar di sekolah ?

Dokumen terkait