BAB II KETERANGAN TENTANG MASING-MASING
5. INFORMASI TENTANG RENCANA PENGGABUNGAN
a. Transaksi Benturan Kepentingan
Rencana Penggabungan antara Bank Peserta Penggabungan ini merupakan transaksi benturan kepentingan sebagaimana didefinisikan dengan Peraturan BAPEPAM-LK No. IX.E.1. Namun berdasarkan surat-surat dari BAPEPAM-LK yang ditujukan kepada Bank Niaga No. S-2344/BL/2008 dan kepada LB No. S-2345/BL/2008, keduanya tertanggal 22 April 2008, rencana Penggabungan ini dikecualikan dari Peraturan BAPEPAM-LK No. IX.E.1, mengingat Penggabungan ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Kepemilikan unggal Bank. Oleh karenanya, pelaksanaan RUPS akan dilakukan dengan mengacu pada ketentuan UUP dan Anggaran Dasar masing-masing Bank Peserta Penggabungan.
b. Tanggal Efektifnya Penggabungan
Rencana Penggabungan ini akan menjadi efektif pada tanggal 1 Oktober 2008. Perkiraan tanggal-tanggal penting dalam proses Penggabungan ini adalah sebagaimana disebutkan dalam Bab VIII mengenai Perkiraan anggal-anggal Penting.
c. Perlakuan Segi Akuntansi
CIMB Group akan melakukan pembelian 51% saham LB yang dimiliki oleh Santubong seperti yang telah disebutkan pada bagian 3.1.(a).(i) Surat Edaran ini. Melalui rencana akuisisi 51% saham LB dan kepemilikan 63,39% saham Bank Niaga saat ini, CIMB Group akan menjadi pemegang saham pengendali Bank Niaga dan LB.
Dengan dimilikinya saham Bank Peserta Penggabungan (Bank Niaga dan LB) oleh pihak yang sama, yaitu CIMB Group, maka Bank Peserta Penggabungan secara efektif dikategorikan sebagai bank dibawah pemegang saham pengendali yang sama (“Entitas Sepengendali”).
Definisi Entitas Sepengendali ( under common control ) sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 38 tentang “Akuntansi Restrukturisasi Entitas Sepengendali” adalah pihak (perorangan, perusahaan, atau bentuk entitas lainnya) yang secara langsung atau tidak langsung (melalui satu atau lebih perantara), mengendalikan atau dikendalikan oleh atau berada di bawah pengendalian yang sama.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 38 ini hanya bisa diterapkan apabila langkah-langkah pendahuluan berupa pembelian saham LB milik Santubong tersebut diatas telah dilakukan oleh CIMB Group.
Sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 38, transaksi restrukturisasi antara Entitas Sepengendali tidak mengakibatkan perubahan substansi ekonomi pemilikan atas aset, saham, kewajiban atau instrumen kepemilikan lainnya yang dipertukarkan. Oleh karena itu, aset maupun kewajiban yang pemilikannya dialihkan (dalam bentuk hukumnya) harus dicatat sesuai dengan nilai buku seperti penggabungan usaha berdasarkan metode penyatuan kepemilikan ( pooling of interest ).
Sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 38, selisih antara harga pengalihan dengan nilai buku dari transaksi restrukturisasi antara entitas sepengendali dibukukan dalam akun Selisih Nilai ransaksi Restrukturisasi Entitas Sepengendali. Saldo akun tersebut selanjutnya disajikan sebagai unsur ekuitas.
d. Perlakuan Pajak atas Rencana Penggabungan (1). Pajak Penghasilan Badan
Pada tanggal 13 Maret 2008, Menteri Keuangan RI telah menerbitkan Per Men No. 43/PMK.03/2008 untuk menggantikan Keputusan Menteri Keuangan No. 422/KMK.04/1998 tanggal 9 September 1998 tentang penggunaan nilai buku atas pengalihan harta dalam rangka penggabungan, peleburan atau pemekaran usaha. Pasal 1 ayat 1 Per Men No. 43/PMK.03/2008 menyebutkan bahwa wajib pajak yang
melakukan penggabungan usaha dapat mempergunakan nilai buku atas pengalihan aktivanya (nilai buku disini berarti nilai buku fiskal).
Pasal 1 ayat 3 dari Per Men No. 43/PMK.03/2008 memberikan definisi “penggabungan usaha” sebagai penggabungan dari dua atau lebih Wajib Pajak Badan yang modalnya terbagi atas saham dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu perusahaan yang tidak mempunyai sisa kerugian fiskal atau mempunyai rugi fiskal yang lebih kecil nilainya.
Lebih lanjut, Pasal 2 dari Per Men No. 43/PMK.03/2008 menyatakan bahwa untuk dapat memperoleh persetujuan dari Dirjen Pajak untuk menggunakan nilai buku dalam pengalihan aktiva, wajib pajak harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: (a). Mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak dengan melampirkan
alasan dan tujuan dari penggabungan usaha dan pemekaran usaha, (b). Melunasi seluruh utang pajak dari tiap badan usaha yang terkait, dan (c). Memenuhi persyaratan tujuan bisnis ( business purpose test ).
Selanjutnya, Pasal 4 ayat 1 dan 2 dari Per Men No. 43/PMK.03/2008 menyatakan bahwa wajib pajak yang menerima pengalihan harta dalam rangka penggabungan usaha, mencatat nilai perolehan harta tersebut sesuai sisa nilai buku sebagaimana tercantum dalam pembukuan perusahaan yang melakukan pengalihan, dan penyusutan dari harta yang dialihkan tersebut dilakukan berdasarkan masa manfaat yang tersisa sebagaimana tercantum dalam pembukuan perusahaan yang melakukan pengalihan.
Kemudian, Pasal 5 ayat 1 dari Per Men No. 43/PMK.03/2008 menyatakan apabila penggabungan usaha atau pemekaran usaha dilakukan dalam tahun pajak berjalan, maka jumlah angsuran Pajak Penghasilan (“PPh”) Pasal 25 dari pihak atau pihak-pihak yang menerima pengalihan tidak boleh lebih kecil dari jumlah angsuran PPh Pasal 25 yang wajib dibayar oleh pihak atau pihak-pihak yang melakukan pengalihan.
Pasal 5 ayat 2 Per Men No. 43/PMK.03/2008 menyatakan bahwa pembayaran, pemungutan, dan pemotongan pajak penghasilan yang telah dilakukan oleh perusahaan yang melakukan pengalihan sebelum dilakukannya penggabungan usaha atau pemekaran usaha dapat dipindahbukukan menjadi pembayaran, pemungutan, atau pemotongan pajak penghasilan wajib pajak yang menerima pengalihan. Pasal 7 dari Per Men No. 43/PMK.03/2008 menyatakan bahwa ketentuan lebih
lanjut mengenai tata cara pemenuhan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 akan diatur dengan Peraturan Dirjen Pajak.
Berdasarkan ketentuan perpajakan diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
(a). Dengan digantikannya Kep Men No. 422/KMK.04/1998 tanggal 9 September 1998 oleh Per Men No. 43/PMK.03/2008, maka ketentuan Dirjen Pajak berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 422/PMK.04/1998 yaitu Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-21/PJ.42/1999 dinyatakan tidak berlaku lagi. Bank Niaga dan LB dapat mempergunakan nilai buku dalam melakukan
pengalihan harta dalam rangka penggabungan usaha sepanjang keduanya memenuhi persyaratan yang dinyatakan dalam Per Men No. 43/PMK.03/2008 dan Peraturan Perpajakan yang akan diterbitkan oleh Dirjen Pajak, serta memperoleh persetujuan dari Dirjen Pajak.
(b). Apabila permohonan untuk mempergunakan nilai buku dalam rangka penggabungan usaha telah dikabulkan oleh Dirjen Pajak, maka tidak ada implikasi perpajakan atas keuntungan (capital gain) yang timbul akibat pengalihan aktiva dari perusahaan yang dibubarkan kepada perusahaan yang tetap berdiri.
(2). Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (“BPHTB”)
Pasal 2 ayat 1 UU BPHB menyatakan bahwa yang menjadi obyek pajak adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan.
Pasal 2 ayat 2.a butir 10 dari UU BPHB menyatakan bahwa perolehan atas tanah dan bangunan yang dikenakan BPHB termasuk pemindahan hak karena penggabungan usaha.
Pasal 5 dari UU BPHB menyatakan bahwa tarif pajak BPHB adalah sebesar 5%.
Pasal 6 ayat 2 dari UU BPHB menyatakan bahwa nilai perolehan objek pajak dalam rangka penggabungan usaha adalah berdasarkan nilai pasar.
Lebih lanjut, pasal 6 ayat 3 dari UU BPHB menyatakan bahwa apabila nilai perolehan objek pajak tidak diketahui atau lebih rendah daripada Nilai Jual Objek Pajak (“NJOP”) yang digunakan dalam pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan, dasar pengenaan pajak yang dipakai adalah Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan (“NJOP PBB”).
Selanjutnya, Pasal 1 huruf b angka 5 dari Keputusan Menteri Keuangan No. 91/PMK.03/2006 tentang Pemberian Pengurangan BPHB menyatakan bahwa atas permohonan wajib pajak, pengurangan BPHB dapat diberikan kepada wajib pajak diantaranya wajib pajak badan yang melakukan penggabungan usaha (merger) dengan atau tanpa terlebih dahulu mengadakan likuidasi dengan kondisi bahwa wajib pajak tersebut (tergantung pemeriksaan) telah memperoleh keputusan persetujuan Dirjen Pajak untuk penggunaan nilai buku atas pengalihan harta dalam rangka penggabungan usaha.
Besarnya pengurangan BPHB ditetapkan sebesar 50% (lima puluh persen) dari pajak yang terhutang untuk wajib pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf b angka 5 dalam Kep Men tersebut.
Berdasarkan ketentuan perpajakan diatas, dapat disimpulkan bahwa bank yang menerima pengalihan aktiva dalam bentuk tanah dan atau bangunan dapat memperoleh pengurangan tarif BPHP sebesar 50% dengan kondisi bank tersebut telah memperoleh persetujuan dari Dirjen Pajak untuk penggunaan nilai buku atas pengalihan harta dalam rangka penggabungan usaha.
(3). Pajak Pertambahan Nilai (“PPN”)
Pasal 5 huruf d PP No. 144/2000 menyatakan bahwa jasa dibidang perbankan, asuransi, dan sewa guna usaha dikecualikan dari pengenaan PPN.
Meskipun demikian, jasa penyediaan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga (safe deposit box ), jasa penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak (perjanjian) tidak dikecualikan dari pengenaan PPN. Oleh karena itu, pengalihan aktiva terkait dengan jasa-jasa tersebut dari Bank Yang Menggabungkan Diri ke Bank Yang Menerima Penggabungan dikenakan PPN.
Lebih lanjut, Pasal 16D UU PPN menyatakan bahwa PPN dikenakan atas penyerahan aktiva oleh Pengusaha Kena Pajak (“PKP”) yang menurut tujuan semula aktiva tersebut tidak untuk diperjualbelikan, sepanjang PPN yang dibayar pada saat perolehannya dapat dikreditkan.
Selanjutnya, Pasal 4 huruf a dari UU PPN menyatakan bahwa PPN dikenakan atas penyerahan Barang Kena Pajak di dalam daerah pabean yang dilakukan oleh Pengusaha.
Penjelasan dari pasal tersebut menyebutkan bahwa seorang pengusaha yang menyerahkan Barang Kena Pajak meliputi pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3A ayat 1 maupun pengusaha yang seharusnya dikukuhkan sebagai PKP tetapi belum dikukuhkan. Penyerahan barang yang dikenakan pajak harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
(a). Barang berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak;
(b). Barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak tidak berwujud;
(c). Penyerahan dilakukan di dalam daerah pabean Indonesia; dan
(d). Penyerahan dilakukan dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaan pengusaha yang bersangkutan.
Pasal 2 huruf f dari Keputusan Menteri Keuangan No. 567/KMK.04/2000 tentang Nilai Lain sebagai Dasar Pengenaan Pajak yang telah diubah dengan Kep Men No. 251/KMK.03/2002 menyatakan bahwa untuk aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, sepanjang PPN atas perolehan aktiva tersebut menurut ketentuan dapat dikreditkan, maka dasar pengenaan pajaknya adalah harga pasar wajar.
Berdasarkan ketentuan perpajakan diatas, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
(a). Pengenaan PPN atas pengalihan aktiva yang digunakan untuk penyerahan Jasa Perbankan
Pasal 16D UU PPN mengecualikan PPN atas pengalihan aktiva dari bank yang melakukan pengalihan aktiva, karena bank yang melakukan pengalihan aktiva tidak dapat mengkreditkan pajak masukan atas perolehan aktiva tersebut mengingat bank yang melakukan pengalihan aktiva tidak wajib untuk mendaftarkan diri sebagai PKP untuk penyerahan jasa perbankan.
(b). Pengenaan PPN atas pengalihan aktiva yang akan digunakan jasa penyediaan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga, jasa penitipan dan anjak piutang
Pengalihan aktiva yang digunakan untuk jasa-jasa tersebut di atas dikenakan PPN dengan tarif sebesar 10% mengingat bank diwajibkan untuk mendaftarkan diri sebagai PKP atas penyerahan jasa-jasa tersebut.
(c). Pengenaan PPN atas AYDA
Pengalihan untuk AYDA bukan merupakan objek PPN yang disebabkan oleh hal-hal berikut ini:
(i). Bank yang mengalihkan AYDA tidak dapat mengkreditkan PPN Masukan pada saat perolehan agunan yang diambil alih tersebut.
(ii). Pengalihan AYDA oleh bank yang mengalihkan bukan dalam rangka kegiatan usaha utama bank yang mengalihkan, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 4 huruf a UU PPN.
Pengambilalihan AYDA dari pihak debitur termasuk dalam kegiatan usaha bank yaitu jasa perbankan. Pengambilalihan AYDA tersebut dilakukan untuk mengurangi kerugian bank dari piutang tak tertagih ke debitur bank dan sebagian besar AYDA tersebut belum dilakukan proses balik nama. Bank yang mengalihkan hanya menerima surat kuasa untuk menjual aktiva-aktiva yang diperoleh dari pihak debitur bank.
Untuk informasi lebih lanjut, perlu diketahui bahwa Kantor Pajak saat ini mengenakan PPN dengan tarif sebesar 10% atas pengalihan AYDA yang sudah dilakukan proses balik nama menjadi atas nama bank dengan dasar bahwa pengalihan tersebut tidak termasuk dalam kegiatan penyerahan jasa perbankan yang tidak dikenakan PPN. Hal ini sedang diajukan banding ke Pengadilan Pajak. Oleh karena itu, terdapat kemungkinan bahwa Dirjen Pajak akan mengenakan PPN dengan tarif sebesar 10% atas pengalihan AYDA yang telah dilakukan proses balik nama menjadi atas nama bank yang melakukan pengalihan AYDA kepada bank yang menerima pengalihan AYDA. Dasar pengenaan PPN atas pengalihan aktiva adalah nilai pasar wajar. Nilai
pasar wajar dapat ditentukan melalui penilaian yang dilakukan oleh Penilai Independen.