KRITIK SUMBER
5.2 T injau an Data S ejarah
Tinj auan dat a s ej arah mengenai keraj aan Paŋj al u d apat dikat akan kurang lengkap karena mini mn ya sum ber-sum ber dat a berupa prasasti . Sedikitn ya ket erangan yang didapat m engaki bat kan kronologi mengenai kerajaan Kadi ri tidak dapat t erangkai m e njadi kis ah s ej arah ya ng ut uh.
Airl angga m erupakan put era m ahkot a kerajaan Bali yang meni kah dengan put eri dari Dharmawangsa Teguh. Setel ah mertuan ya meni nggal karena s erangan Haj i Wurawari, Airlangga m emperol eh hak taht a karena is terinya yang m erupakan put eri m ahkot a m eni nggal.
Sel anjut n ya Ai rl angga m em eri nt ah dan berhasil memperluas kerajaann ya yang m eliputi daerah ant ara Bengawan Solo dan Sungai Brant as ant ara Babat dan Ploso ke timur. S el anjutn ya, m uncul Sam arawija ya (saudara ipar Ai rl angga) yang m enu ntut hak at as t aht a kerajaan, sehingga Airl angga terpaksa mundur dari pemerint ahan bersama Śrī Śanggramawijaya. Mundurnya Airlangga disebabkan bahwa Sam arawija ya sebagai adik dari isteri Airl angga ( yang merupakan
Universitas Indonesia
put eri m ahkot a bergel ar i Hino115) lebi h berh ak m enduduki tahta daripada Ai rlangga yang pada s aat dinobatkan m enj adi raj a bergel ar Rake Hal u116 Śri Lokeswara Dharmmawangśa Airlangga Anantawi kramott unggadewa . Dal am prasasti Gandhakuti (966 Ś / 1042 M) disebutkan bahwa Airlangga menempatkan Śanggramawijaya yang awaln ya m erupakan put eri m ahkot a bergelar r akryan mahamantri i hino wuryyawīryya parakramā bhakta . Bila diperhatikan, gelar raja-raja yang m em erint ah pada m asa Kadi ri umumn ya mem iliki kemi ripan, diantara pem akai an ge l ar wur yyawīryya dan par ākrama . War yyawir yya mempun yai arti kekuatan, keberani an, keperkas aan, kepahlawanan;
kebangs awanan, deraj at ti nggi (Zoetm ulder,1995;1447). Gel ar i ni di gunakan o leh raj a-raj a Kadiri mungkin dengan m aks ud untuk menunjukkan bahwa raja yang m enggunakan gel ar i ni m empun yai keberani an be s ar dan tidak m engenal ras a takut . Raj a Kadiri yang men yandang gel ar w uryyaw īr yya pada naman ya ada empat orang, yai tu Bameśwara, Sarweśwwara, Aryyeśwara dan Kameśwara. Kemungkinan J itêndra adal ah raj a yang pert ama kali menggunakan gel ar ini dan
115 i hino merupakan gelar yang diberikan kepada putera raja atau seseorang yang karena sebab tertentu mendapat tempat pertama di dalam urutah hak waris atas tahta kerajaan.
116 i halu merupakan gelar yang diberikan kepada putera raja atau seseorang yang karena sebab tertentu mendapat tempat kedua di dalam urutan hak waris atas tahta kerajaan.
kem udi an di ikuti oleh raj a -raj a yang m em erint ah pada m asa sesudahn ya.
Parākrama berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kemajuan yang t egas/berani, serangan, serbuan, kepahl awanan, kekuasaan, kekuatan (Zoetm ulder,1995; 764) . R aj a yang m enggunakan gel ar ini ingin menunjukkan bahwa diri n ya m em pun yai kekuas aan yang bes ar dan senat iasa m embawa rak yatn ya ke arah kem ajuan dengan gagah berani. Gel ar ini pert am a kali diken al dan di gunakan pada masa pem erint ahan J itêndra dan hampi r semua raja -raj a Kadiri yang mem eri nt ah sesudah masa J itêndra, selain Kŗt ajaya (raja terakhi r Kadiri ), m enambahkan gelar i ni pada naman ya.
Bhakta dal am bahas a J awa Kuna berarti mem uja atau berbakti.
Nam a i ni m enandakan adan ya pengaruh agam a yang s angat kuat, karena kat a bhakta mungki n saj a m engacu kepada pemujaan kepada dewa.
Mungkin raja J itêndra m emakai ge l ar i ni untuk menunj ukkan ia adala h seorang raj a yang ti dak han ya memi ki rkan kepentingan duni awi (baca:
rak yatn ya) t et api juga berbakti kepada dewa.
Berbeda dengan nama raj a -raj a Kadiri yang pada um um n ya mengandung uns ur Wiṣṇu, nam a J itêndra m engandung unsur nama dewa Indra. Dalam keperca yaan Hindu, Indra di kenal s ebagai dewa pem beri hujan s ekal igus raj a dari para dewa. M enurut aj aran Hindu al am ini terdi ri at as suatu benua berbent uk li ngkaran yang dis ebut jambudwi pa dan di tengah -t engahn ya berdi ri gunung M eru s ebagai pus at alam s em est a t empat m at ahari, bul an, dan bint ang -bint ang bergerak m engit arinya. P ada bagi an puncakn y a ada kota dewa -dewa yang di kelilingi ol eh tem pat bersema ya mn ya del apan dewa penjaga mat a angin (lokapāl a) dan persema yam an dewa Indra s ebagai raj a para dewa (von Heine Geldern, 1996:2) . Menurut keperca yaan Hi ndu, dewa Indra di perca ya m em iliki kekuatan ya ng hebat sebagai raj a para dewa.
Universitas Indonesia
Berdasarkan aj aran aşţabrata dal am nas kah R ām ā yana Kakawin, dikatakan bahwa di dal am di ri seorang raj a hendakn ya ada perpaduan 8 sifat dewa -dewa. Sebagai Indra (dewa huj an), i a hendakn ya selal u menghuj ankan anugerah kepada rak yat n ya. S ebagai Yam a (dewa m aut ) ia harus m ampu m enghukum para pencuri dan penjahat. S ebagai S ur yya (dewa matahari ), ia hendakn ya m enarik pajak da ri rak yatnya s edikit demi s edi kit t anpa m emberatkan karena si fat m at ahari adal ah menghis ap ai r sedikit demi s edi kit. S ebagai Som a (dewa Bul an) i a harus m ampu mem buat sel uruh dunia bahagi a dengan s en yumn ya.
Sebagai W a yu (dewa angin) i a harus s enanti as a m eng etahui hal ikhwal rak yatn ya dan semua gej olak yang ada dal am s eti ap lapis an mas yarakat. Sebagai Kuwera (dewa kekayaan) ia hendakn ya meni kmati keka yaan duniawi. Sebagai W aruna (dewa l aut) ya ng s el alu bers enj at akan j erat , ia harus menjerat semua penj ahat . Da n sebagai Agni (dewa api) i a harus m embasmi s emua mus uhn ya dengan s egera (Soemadio, 1993: 193) .
Dari urai an di atas dapat dipahami bahwa dengan m enggunakan unsur nam a dewa In dra mungki n saja raj a J itêndra ingin m enunjukkan bahwa i a m emili ki kekuatan dan kekuasaan yang sangat bes ar men yerupai Indra sebagai raj a para dewa, nam un i a t et ap mengas ihi rak yatn ya dengan m enghuj ani m ereka dengan anugerah -anugerahn ya.
Sistem pem erint ahan pada masa Kadiri l ebi h terpusat s ehi ngga sistem birokras i di buat l ebi h m ende t il dan t eratur. S e perti haln ya pras asti -prasasti pada m as a sebelumn ya, pras ast i m as a Kadi ri j uga mn yebut kan beberapa nama pej abat dengan peranann ya m as ing. Yang membedakan sist em birokrasi masa Kadiri dengan m as a s ebelum n ya han yal ah juml ah pejabat yang se m aki n ban yak dan bervariasi untuk mempermudah pengawasan t erhadap pem erint ahan daerah. Nam a pej abat yang seringkali disebutkan dal am prasasti sī ma adal ah para Tandha Rakryan r i ng Paki rakiran Makabehan . Sebagaim ana t el ah diurai kan dal am bab sebel umn ya menge nai definisi dan fungs i kel ompok pej abat i ni, T andha Rakryan ring Pakirakiran mem egang
peranan penti ng dalam sist em birokrasi terut am a sekali mas alah ket at anegaraan.
Pada prasasti M āt aji , yang beras al dari mas a keraj aan P aŋj alu, dan m as a -m as a ses udahn ya m ulai dikenal is til ah makass opana at au sopana, yang defini s in ya mengacu kepada pej abat perantara. Pada m as a ini sist em bi rokrasi sudah sedemiki an mendeti l sehingga raj a tidak perlu l agi turut campur secara l angsung unt uk m enangani urusan ket at anegaraan. Ol eh karena itu , raj a membent uk l embaga s opana sebagai perantara rak yat bila m engingi nkan s es uat u dari raj an ya. Yang ditunj uk sebagai pej abat s opana bisa pej abat yang ada di dal am pel aksanaan perint ah raja at au dapat pul a pejabat khusus di luar birokras i keraj aan yang m em ang berperan s ebagai sopana s aj a. Dengan adan ya para sopana ini, rak yat dapat dengan lebih m u dah menembus birokras i keraj aan, sehi ngga permohonann ya bis a l angsung sampai kepada raj a. Adan ya s opana dikenal untuk pert am a kalinya dalam pras asti M āt aji pada mas a Paŋj al u dan yan g berperan s ebagai sopana raj a dal am m emberi kan anugerah sīma kepada rak yat M āt aji adalah seorang tokoh yang bergelar Saŋ Hadyan.
Dal am pras asti M āt aji di sebutkan seri ng terj adi pert empuran yang melibatkan desa Mātaji sehingga raja merasa perlu membalas jas a-jasa penduduk yang s el alu m embantu raj a dal am m engus i r dan menumpas musuh -m usuhn ya. Berdasarkan angka t ahun dan pen yebut an nama Paŋjalu dalam prasasti Mātaji, mungkin sekali peperangan itu adal ah perang ant ara keraj aan P aŋj alu dan J aŋgal a. Apabil a hal it u benar, berarti bisa jadi Jitêndra, Samarawijaya, dan Haji Paŋjalu merupakan orang ya ng sama. Akan t et api, untuk mem bukt ikan hal it u masi h perlu peneliti an l ebih lanjut .