• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DESKRIPSI PRASASTI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II DESKRIPSI PRASASTI"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

DESKRIPSI PRASASTI

2.1. Deskri psi Dat a 2.1.1 Inventari s

Prasasti yang m enj adi sumber peneli ti an i ni adal ah pras asti Mātaji . Prasasti Mātaji merupakan prasasti insitu tanpa angka tahun dan t ercat at pada inventaris BP3 Trowulan dengan nomor invent ari s 210/ NJ K/1995

1.1.2 Bahan

J eni s bahan prasasti dapat berpengaruh terhadap bent uk t ulis an, sem aki n l unak dan s em akin tipis bahan i tu akan semakin kurang j el as huruf yang dipahat kan atau di gores.

Prasasti Mātaji dibuat dari bahan batu gamping berwarna abu- abu kekuningan. J enis batu i ni ban yak ditem ukan di wil ayah J awa Timur bagian ut ara karena di daerah ini terdapat pegunungan Kenden g yang m erupakan pegunungan kapur (l i hat pet a 1). Batu gam ping merupakan j enis bat uan s edim en kering (Fadhlan S, Int an.2004: 39).

J enis batuan i ni memiliki kandungan kalsium karbonat (C aCO3) at au kals it yang cukup ti nggi s ehi ngga cukup sensiti f terhadap pel apukan aki bat karbondioksida yang dibawa ol eh air huj an, udara, at au agens a1 lainn ya (Fi eld.2002: 30 -32) Sifat batuan j enis ini sangat rent an terhadap kerus akan dan pel apukan, karena m emili ki skal a kekerasan ( hardness) yang kecil2 sehingga j enis batu ini te rkenal rapuh.

1 Agensa adalah media pembawa unsur pelapukan

2 Skala kekerasan batuan gamping adalah 3-4 skala Mohs, sehingga tergolong batuan lunak (Fadhlan, 2004:154)

(2)

Universitas Indonesia Tempat penemuan prasasti Mātaji

Gambar peta 1 lokasi desa Bangle (penemuan prasasti Mātaji ) (sumber: www.googleearth.com)

1.1.3 Tempat dit emukan dan di simpan

Tem pat pras asti di temukan dan dil et akkan dapat m embantu proses identi fikasi prasasti. Hal i ni di anggap penting karena masi h ada beberapa prasasti ya ng m enggunakan nama daerah (desa) sebagai nama sem ent ara prasasti sebel um di lakuka n proses pembacaan terhadapn ya .

(3)

Prasasti i ni dit emukan di dukuh Pul e, dus un Bangle, desa Bangl e, kecamat an Lengkong, kabupaten Nganj uk, J awa Timur. Tahun penem uan pras asti i ni tidak diket ahui . Prasasti ini s ekarang m asi h berada di t empat penemuann ya di areal hutan jati yang t erlet ak di sal ah satu kaki bukit yang oleh penduduk set em pat dis ebut Gunung Sili.

1.1.4 Bentuk Pras asti

Bent uk prasasti batu berm acam -m acam, sal ah sat un ya adal ah bentuk st el e. P erkembangan sel anjutn ya pras asti bentuk stel e i ni bervarias i terut am a pada bagi an puncakn ya, yaitu berpuncak rata, kurawal , l ancip, dan set engah li ngkaran. Prasasti M āt aji termasuk ke dal am prasasti berbentuk st el e dengan puncak lancip. Bent uk ini umumn ya ban yak ada di daerah J awa Timur. Pras asti M āt aji i ni berbent uk st el e berpuncak lanci p, s epert i bentuk umum pras asti yang tersebar di J awa Ti mur, s edangkan prasasti berbentuk oval merupakan bentuk umum di wi la yah J awa Tengah ( Dradj at, 1986 :475) Bentuk pras asti s angat t erkait dengan bahann ya. Prasasti yang dibuat dari batu bentukn ya bervari asi , seperti bentuk lingga, yupa, st el e, akul ade, blok, at au batu al am yang bentukn ya tidak berat uran. Pras ast i ya ng dibuat dari logam bi as an ya berbent uk l empeng, dan pras as ti yang dibuat dari tanah li at bi as an ya berbentuk tabl et. Dari bent uk pras asti dapat diketahui kapan pras asti itu dikel uarkan/ dipahatkan karena seorang raj a dari m as a tert ent u mengel uar kan prasasti dengan ci ri khusus yang berbeda dengan raja lainn ya.

(4)

Universitas Indonesia Fot o 1. Prasast i Māt aj i : bagi an depan ( Fot o: Shal i hah, 2 007 )

1.1.5 Ukuran Prasasti

Cara pengukuran prasasti umumn ya berm acam -macam. Untuk pras asti berbahan dasar batu pendataan ukuran meliput i tinggi , l ebar, dan tebal . Selai n pengukuran bahan dil akukan j uga pengukuran aks ara (panj ang dan lebar), pengukuran j arak ant ar aks ara dan ant ar bari s.

(5)

Sebagaim ana prasas ti bat u pada umumn ya, prasasti M ātaji mempun yai bagi an -bagian berupa bagi an kaki, badan dan puncak.

Secara kes eluruhan Prasasti Māt aji m empun yai tinggi 1 3 0 cm, lebar at as 10 5 cm dan l ebar bawah 9 2 cm, serta ket ebal an 44 cm. Lebar puncakn ya 67 cm dan keti nggian dari bahu hingga das ar 84 cm dengan lebar bahu 38 cm.

1.1.6 Aks ara

(6)

Universitas Indonesia

Penggunaan aks ara dal am prasasti dapat dilihat langsung dari bentuk aks aran ya : apakah m enggunak an aksara J awa kuna, P al awa, at au aks ara lainn ya. S edangkan untuk penggunaan bahasa dapat d ilihat dari kos a kat a dan ej aann ya : apakah m enggunakan bahas a J awa kuna, Bali kuna, S ansekert a, at au bahas a l ainn ya.

Berdasarkan pengamat an, diketahui bahwa a ks ara yang di gunakan dal am pras ast i M āt aj i adal ah aksara Jawa Kuna m as a Ai rl angga.

1.1.7 Bahasa

Bahas a yang di gunakan dal am pras asti Māt aji adal ah bahas a J awa Kuna.

1.1.8 Bidang Penuli san, Urutan Baca, dan Jumlah Bari s

Bidang penuli san pada prasast i um umn ya berm acam -m acam , ada yang dit ulis pada s al ah s at u bi dang at aupun kes eluruhan bi dang. Urut an baca pada prasasti bat u juga berm acam -macam, ada yang melingkar dari sis i depan -kanan -bel akang-ki ri at au sebal ikn ya dengan jum l ah baris yang bervari asi .

Bidang penuli san pras asti Mātaji meliputi s eluruh permukaan bidang dengan urut an baca dari si si depan (A) si si kanan (B) si si bel akang (C) s isi ki ri (D) kembali ke s isi depan (A), dan demi kian s et erusn ya. P ras asti Māt aji terdiri dari 35 baris dengan jarak ant ar baris dan ant ar huruf yang tidak t eratur.

1.1.9 Keadaan Pr asasti

Keadaan pras asti saat ditemukan dan s aat sekarang penting untuk dijel as kan s ecara m en yel uruh karena hal ini akan s angat membant u proses peneliti an sel anj utn ya.

Prasasti Mātaji merupakan satu dari empat prasasti yang

(7)

ditem ukan di dukuh Bangl e, dusun P ule, des a Bangl e kecam at an Lengkong, kabupaten Nganjuk, J awa Timur. Pras asti ini merupakan pras asti i nsit u3 yang terletak di tengah -t engah perkebunan tebu dan areal hut an j ati ya ng cukup l uas, persawahan sert a dekat dengan penam bangan batu onyx.

Kondisi fisi k pras ast i ini m asi h cukup bai k wal aupun keadaann ya sudah aus, namun aksaran ya masih dapat dibaca. Di beberapa bagi an pras asti ada ker us akan akibat aus (si si kiri bagi an bawah), j amur (si si bel akang dan depan bagian at as ) , s ert a retakan m em anj ang pada bagi an sisi m uka dari bagian puncak hi ngga badan pras ast i .

Sebagaim ana umumn ya prasasti batu , pras asti M āt aji han ya terdi ri at as s at u bat u, berbeda dengan prasasti yang dibuat dari em as, perak, atau tembaga yang t erdi ri at as beberapa l empeng s ehi ngga harus jel as j uml ah dan urutan l empengn ya. J enis bahan dapat berpengaruh terhadap bent uk tuli san, semakin lunak dan s em aki n tipis bahan i tu maka akan s em akin kurang j elas huruf yang dipahat kan at au di gores .

Prasasti M āt aji t erbagi m enjadi ti ga bagian, yaitu bahu (bagian puncak pras asti ), badan, dan kaki. P rasasti ini ti nggi n ya 1 30 cm , l ebar at as 10 5 cm dan l ebar bawah 9 2 cm, serta ket ebal an 44 cm. Lebar puncakn ya 67 cm dan keti nggian dari bahu hingga das ar 84 cm dengan lebar bahu 38 cm . Aks ara yang dipahat kan panjangn ya 1 -2.5 cm dan lebar 1-1.5 cm. J arak ant ar aks aran ya kurang l ebi h 0.5 -1 cm dan j arak ant ar barisn ya 2.5 cm. Pada prasasti ya ng berbent uk blok berpuncak, bidang penulis an m eliputi 4 bagian permukaan, yait u bagi an depan (recto), bagi an belakang (verso), serta dua si si s am ping kanan dan kiri .

Secara keseluruhan, pras asti Māt aji dalam kondi si yang m asih cukup bai k dengan 25% aks ara yang cukup dapat dibaca dengan j el as wal aupun di bagi an tert entu ada beberapa tul isan yang kurang j el as .

3

(8)

Universitas Indonesia

Tulis an yang s udah aus pada bagi an atas, sisi kiri , dan s isi kanan pras asti m en yulitkan pembacaan. Kondis i seperti itu dis ebabk an usia bat u yang sudah sangat tua dan keadaan cuaca yang m empun yai rata - rat a curah huj an ya ng tinggi sehingga men yebabkan t ulis an menj adi cepat rus ak. Let ak pen yi mpanan prasasti juga s angat m em pengaruhi intensitas kerusakan prasasti. Prasasti Mātaji dilet akkan di atas bukit yang jauh dari pem ukim an penduduk sehingga kurang terawat dengan bai k. Pras asti ini dil et akkan di dal am cungkup yang tidak t erlalu bes ar dengan atap s eng dan keem pat dinding cungkup yang han ya t erbuat dari jalinan kawat yang sudah berka rat , sehi ngga tidak han ya rent an terhadap kerus akan sinar mat ahari yang m eni mpa perm ukaann ya, bagian puncak (atap) prasasti Mātaji juga rusak akibat tetesan air hujan yang m erem bes m el alui atap seng cungkup.

Sel ain itu l okasi penyi m panan pras asti yang dekat dengan lokasi penggembal aan hewan t ernak mengaki batkan kondi si batu it u s emakin rus ak akibat ulah t angan -t angan iseng2 1

Bent uk degradasi (penurunan kualit as ) bahan s ecara t ekni s dapat dikelompokkan dal am 2 m acam, yai t u kerus akan dan pel apukan (Sadirin, 2007:8). Kerus akan adal ah pe rubahan yang t erj adi pada bahan tanpa diikuti oleh perubahan unsur -unsur bahan pen yu sun yang di gunakan, mis al n ya pecah dan retak, s edangkan yang dim aks ud den gan pel apukan adalah perubahan si fat -sifat fi sik bahan pen yusun (desintegrasi ) dan sifat -sifat kim iawi (dekomposisi ) ya ng diikuti dengan peni ngkat an kerapuhan, mis al n ya pel arut an uns u r-uns ur korosi, dan pembusukan.

Beberapa kerus akan yang ada pada pras asti M āt aji umumn ya disebabkan ol eh:

1. Kerusakan akibat jamur

21 Kesimpulan ini merupakan hasil wawancara dengan Bpk Suparji (Kamituwo / Kepala Dusun Pule desa Bangle) dan Bpk Tarminto (Kepala Desa Bangle) pada bulan Oktober 2008.

(9)

Kerusakan aki bat jamur ban yak ada pada bagi an atas, sisi samping, dan kaki prasasti . J amur i ni berwarna puti h kekuningan dan bersi fat dest ruktif karena pen yebaran j am ur i ni pada permukaan bahan men yebabkan batu menj adi cepat aus dan aks ara pada permukaan batu m enjadi s ulit dibaca (l ihat foto 2)

Fot o 2. K er usa kan a ki bat j amur ( Fot o: Shal i hah, 200 8 )

U mu mn ya j amur j enis i ni ber ke mban g de nga n bai k di ar ea yang me mi l i ki curah huj an ti nggi dan t i n gkat pol u si yan g rendah. J amur i ni dapat men ga ki bat kan bahan bat u mudah ker opos.

2. Kerusakan akibat aus

Bagi an at as prasast i Mātaji ban yak yang berlubang dan aus disebabkan ol eh faktor usi a bahan dan rem besan ai r pada atap

(10)

Universitas Indonesia

cungkup yang m enet es pada bagi an pras asti . Sel ain itu, pras asti Mātaji seringkali dijadikan sasaran pelemparan batu -batu kecil oleh para penggembal a iseng. Kerus akan ini ban yak ada pada bagian pras as ti yang m em uat aksara, s ehi ngga ban yak aks ara prasasti Mātaji yang sukar dibaca (lihat foto 3)

Fot o. 3 K erusa kan a ki bat aus ( Fot o: S hal i hah, 2008 )

3. Kerusakan kar ena patah

Kerusakan karena pat ah ada di bagian s iku pras asti (antara sisi depan dan s ampi ng). Kerus akan ini kemungki nan dis ebabkan oleh akt ivit as m anusia karena pat ahann ya terli hat rapi (lihat foto 4). Pat ahan ini m en yebabkan beberapa aksara hilang dan men yulit kan dal am pembacaan.

(11)

Fot o 4 K erusa kan a ki b at pat ah ( Fot o: Ed hi e Wur j ant oro , 2008)

4. Kerusakan kar ena r etak

Keretakan yang cukup dal am ada pada bagian bahu (antara sisi depan dan s ampi ng) pras asti Mātaj i dan mem anjang hingga sisi bawah pras asti yang tidak terpendam t anah dan m engaki bat kan pras asti s eol ah -olah terpotong m enj adi dua bagi an sehingga beberapa aks ar a hil ang dan hal i ni cukup men yuli tkan proses pem bacaan (lihat foto 6). R et akan i ni kemungki nan bukan disebabkan oleh akti vitas manusi a karena terlihat kas ar dan ti dak rapi (lihat foto 5)

(12)

Universitas Indonesia

Fot o. 5 K erusa kan kar ena ret ak ( Fot o: Sh al i hah, 200 8 )

Fot o. 6 Ret a kan pada pr asast i Māt aj i ( Fot o: Shal i hah, 2 007 )

(13)

2.3 B en tuk dan ukuran aksara 2.3.1 Bentuk Aks ara

Bidang penulis an pada pras asti Māt aji ada pada keempat sis i n ya dengan aksara4 dan bahas a J awa Kuna. M enurut jumlah kons onan dan vokaln ya, aksara J awa Kuna t erm asuk aks ara sil abis5. Aksara dari prasasti Mātaji berbentuk persegi dan tegak. Bentuk ini berkembang sej ak m as a Ai rlangga dan Kadi ri sam pai masa M aj apahit . M enurut J.G.

de C as paris di dal am Indonesi an Pal eography , ada beberapa hal yang menj adi ciri aks ara prasasti m as a Kadi ri, diantaran ya :

Perpanjangan secara vertikal pada huruf-huruf seperti pa, sa, ga, dan w a s ehingga perbandingan antara tinggi dan l ebar adal ah 5 : 4.

Virama (tanda paten), berbeda dari jaman sebelumnya yaitu jam an Airl angga, virama dimul ai dari at as s am pai batas lengkungan dibawah sampai dua kali panjangn ya huruf. Bentuk seperti i ni bert ahan sampai beberapa abad l aman ya (C asparis, 1975 : 4)

Aks ara dala m prasasti M āt aji kurang rapi penuli sann ya dan ukuran aks aran ya s emaki n mengecil pada bagi an si si bawah. Hal ini mungkin s aja m enandakan bahwa ci tral ekha yang menuli s pras asti ini kurang mem iliki ket erampil an dalam menulis prasasti at au bukan citr alekha k erajaan.

Pem akaian at au penggunaan aksara pada pras asti secara umum dibagi menjadi dua, yaitu konsonan6 dan vokal7. Aks ara konsonan

4 Aksara adalah sistem tulisan yang digunakan untuk menggambarkan unsur-unsur wicara secara tertulis, tetapi tidak ada aksara yang menggambarkannya secara sempurna (Hermina Sutami, 2004: 61) 5 Menurut jumlah konsonan dan vokal, bentuk-bentuk aksara dibagi menjadi 3, yaitu: (1) aksara Alfabetis yaitu satu huruf mewakili satu konsonan atau satu vokal, misalnya Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris; (2) aksara Silabis yaitu satu silabe atau suku kata terdiri dari 1 konsonan dan 1 vokal, misalnya bahasa Jepang dan bahasa Jawa; (3) aksara Morfemis yaitu satu morfem mewakili seperangkat bunyi, satu ton dan satu makna, misalnya bahasa Mandarin.(Hermina Sutami, 2004: 61)

6 Konsonan adalah bunyi ujaran yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru memperoleh

(14)

Universitas Indonesia

prasasti Mātaji diantaranya adalah aksara: ka ( ); ga ( ); ja ( )

; ta ( ); da ( ); pa ( ); ba ( ); ma ( ); ra( ) ; la ( ); wa ( ); ńa ( ); na ( ); na ( ); śa ( ); sa ( ); sa ( ); ha ( ). S edangkan aks ara vokal prasasti Māt aji han ya dij umpai 2 aksara yait u: a ( ); dan i ( ).

Dal am penulis an ada beberapa huruf ya ng menggunakan kunci r, misal n ya : ka ( ), ta ( ), wa ( ), dan s a ( ). Dalam pem akai an kuncir di at as huruf t idak dipakai secara konsi sten karena ada beberapa huruf yang seharusnya m em akai kunci r, just ru ti dak m em akai kunci r, misal n ya :

Mātaji : dengan satru :

Dari contoh di atas, s uku kat a t a pada kat a Mātaji tidak m enggunakan kuncir s eperti pada kat a satru .

2.3.2 Ukuran aks ara

Aks ara pras asti Māt aji m emili ki ukuran aksara dan j arak antar baris yang berbeda. Sem akin ke bawah ukuran hurufn ya semakin mengecil dan cenderung t umpang t indi h. Hal ini dis ebabkan karena bidang penulis an ya ng ters edia sangat t erbatas dan citral ekha kurang mampu m emperhitungkan perbandingan antara juml ah aks ara yang akan dituliskan dengan bi dang yang t ersedi a.

Di bagi an sisi depan, ukuran aks aran ya l ebi h bes ar bila dibandi ngkan dengan sisi lai nn ya, selain itu s em aki n ke bawah ukuran aks aran ya juga s em akin mengecil. P ada bagi an depan prasasti, bari s pert ama dan kedua ukuran aksaran ya 0,5 x 0,7 cm dengan j arak ant ar huruf m asing -m as ing aks ara 0,5 cm, j arak ant ara baris pertam a dan kedua 1 cm. Pada baris ket i ga, ukuran aks aran ya 1 x 1,5 cm dengan jarak ant ar hurufn ya 0,5 cm dan j arak antara bari s kedua dan ket i ga di

7 vokal adalah bunyi ujaran yang terjadi karena udara yang keluar tidak memperoleh halangan, atau bunyi hidup misalnya a, i, e, u dan o

(15)

bagian kiri 1,5 cm dan s emakin ke kanan jarakn ya m el ebar sampai 1,8 cm. P ada baris keempat ukuran aksaran ya 0,7 x 0,7 cm dengan jarak ant ar huruf 0,3 cm, dan jarak ant ara bari s ket i ga dan keempat 1,8 cm.

Begit u pula d engan baris kel ima s ampai baris t erakhi r si si depan ukuran aksaran ya 0,6 x 0,6 cm dan jarak ant ar baris n ya 0,8 cm. Pada bagian bel akang dan samping ukuran aks aran ya s em aki n m engecil yait u 0,5 x 0,5 cm dan j arak antar huruf dan bari sn ya masing m asi ng 0,3 c m dan 0,7-1 cm.

2.4 Penggunaan Bahasa

Bahasa yang di gunakan dalam prasasti Māt aji adal ah bahas a J awa Kuna. S eperti pras asti -pras asti l ain pada um umn ya, pras as ti Māt aji dibuat dal am bentuk pros a karena s usunann ya yang kurang t erat ur dan bahasa yang di g unakan tidak m engikat . Sel ain itu, kali mat yang di gunakan l ebi h panj ang dan lebih dapat dimengert i isi n ya, m isal n ya:

Pada si si depan, bari s ke 7:

“...sri maharajah rasa baryya kubaryya hilang ni satru wadwa...”

(“....setiap saat membantu menghilangkan musuh secara terus menerus...”)

2.5 Penggunaan Ejaan

Sel ain penggunaan ejaan bahasa Indones ia yang t el ah dis em purnakan, dijumpai pula ejaan dari b ahasa Jawa Kuna dan bahas a Sans kert a, aksara -aks ara itu di antaran ya adal ah :

¯ : tanda perpanj angan di atas h uruf vokal â : unt uk a panj ang aki bat hukum sandhi e : e tal ing

ĕ : e pĕpĕt

ê : e akibat hukum sandhi (a + i)

(16)

Universitas Indonesia

h : h (visar ga8) : ng (l aringal ) ñ : n y (pal at al ) n : n (domal ) ŋ : ng (anus vara9) ś : s (pal atal) s : s (dom al ) t : t (dom al )

º…..: tanda yang di gunakan untuk semua huruf vokal (a, i, u, e, o) yang berdi ri sendi ri

…..: aks ara -aks ara pras asti yang tidak t erbaca dan ti dak dik et ahui jumlah hurufn ya

2.5.1. Penggunaan Sandangan

Pada pras asti M āt aji ini dit em ukan beberapa bentuk s andangan untuk m embedakan vokalis asi ant ar bun yi , di ant aran ya:

Wulu (i),

Tanda wulu ini berbentuk bul at terl et ak di at as aks ara yang mem erl ukan ( ), jika bun yi n ya panj ang m aka di bagi an tengah bul atan di tam bah dengan t anda titik dua

( ), mis aln ya kat a:

hilaani : sīma : Suku (u),

Tanda s uku berupa gari s lurus di bagi an bawah terkadang membengkok ke ki ri

( )

Misal n ya kat a : kunian : paduka : Taling (o),

8 biasanya terletak diakhir kata dan memakai tanda yang menyerupai titik dua ( : )

9 ditandai dengan tanda titik diatas aksara yang bersangkutan

(17)

Bent uk tarung berupa garis t am bahan vertikal yang diletakkan di depan dan belakang aks ara yang m emerl ukan, mi sal n ya kat a :

kumonakĕn :

2.5.2. Penggunaan Vokal Panjang

Ada beberapa al as an dal am penggunaan vokal panj ang pada pras asti berbahasa J awa kuna, yai t u:

1. Apabila kata itu merupakan kata yang terjadi karena hukum sandhi dal am, yai tu apabil a vokal awal atau suatu kat a m endapat awal an at au akhi ran yang mem pun yai vokal sam a dengan vokal awal an atau akhir an itu, maka akan bers atu m embent uk vokal panjang, mis aln ya :

kar amân : ka + rama + an

2. Apabila kata itu bukan berasal dari bahasa Sansekerta dan juga bukan karena aturan sandhi tet api karena kat a itu m em ang mem akai vokal panj ang, m is aln ya:

ajñā : sīma :

2.5.3. Penggunaan Vokal Rangkap

Mengenai pemakai an vokal rangkap, bahasa J awa Kuno m engenal suat u perat uran sandhi yang mengatur pers en yawaan 2 vokal yang berl ainan, yaitu:

a + i = ê i + a = ya a + e = i u + i = wi a + u = o o + e = ö

a + o = u u + a = wa

(18)

Universitas Indonesia

1. Penggunaan vokal rangkap pada suatu kat a yang tidak berubah bun yi .

2. Penggunaan vokal rangkap yang berubah bunyinya sesuai dengan peraturan s andhi yang berl aku, mis aln ya :

jitêndr a : jit a + i ndr a

2.5.4. Penggunaan K onsonan Tanda Vi rama

Tanda vir ama (pat en/pangkon) dipakai untuk m em atikan bun yi pada akhi r kat a. Dal am P rasasti i ni bentuk t anda vir ama yait u ( ), cont oh pemakai ann ya pada kat a :

kunian : kar uhun : rakryan :

Tanda Anusw āra

Sel ain penggunaan virama di gunakan pul a penggunaan anus vara yait u t anda yang di pakai unt uk bun yi ( ŋ) yang ada di akhir kat a, misal n ya:

nikaŋ : saŋ :

Tanda Vi sar ga

Sel ain anus vara dan virama, di dal am pras asti dikenal j uga visarga ( : ), yaitu tanda untuk kons onan ( h ) di akhir kat a, Contoh pada kat a :

maharaj ah  :

(19)

Penggunaan P as anga n

Untuk penul is an konsonan tidak berbun yi di tengah kat a bi as an ya di gunakan aks ara biasa kem udi an aks ara s el anjutn ya berupa pas angan yang dil et akkan dibawah aksara yang dim ati kan.

Contoh penggunaan ya pada kata : ajña :

lbu :

Pas angan ra

Pas angan ra berbent uk set engah lingkaran dan di gunakan untuk menuliskan huruf ( r), diletakkan di kaki akhir aksara yang mem erl ukan. P ada prasasti M ātaj i , ada dua bentuk cakra yait u ( ) dan ( ). Contoh penggunaann ya pada kata :

śri :

parakr ama :

(20)

35

Universitas Indonesia

BAB III

ALIH AKSARA dan ALIH BAHASA

3.1. Alih A ksar a (Tr anskri psi ) 3.1.1. B agi an Depan (Sisi A)

1. ...27 2. ...28 3. ….w wāra kunian grahacara nai ritişţt ha purwaka rana

... ... ....

4. hapurusā29 rajabha30lā kayaralatwa31 ra j i têndrakara wuryya wiryya parakramā bhakta ... ... ....

5. ... ajña śrī māharaja kumonakĕn32=ī kanaŋ33 karaman=i34 m atāji35 ... ..

6. (rakrya)n36 ri ŋ pakirakiran mākabehan karuhun °i lbu paduka śrī māharaja makassopana37 saŋ38 had yan ... ...

7. ...n... na ka ... mamāhaywa … …...………...

8. śrī māharaja rasa baryya ku baryyā hilaani s at ru wadwi wadwa ... ... ....

9. ... maraka rake39 nikāa karam an =i40 māt aji ...

mariŋ ha sa pa sa a ni di ... ... ... ri kal a rama °i mātaji ... ... ...

27 Tidak ada aksara yang dapat dibaca karena sudah sangat aus

28 Tidak ada aksara yang dapat dibaca karena sudah sangat aus.

29 Aksara sa ditulis menyerupai ma; hapurusā berasal dari kata purusā yang memperolehkan awalan ha-

30 Aksara bha ( ) kelihatan mirip dengan ka ( )

31 Sukar dibedakan antara ka dengan ta karena aksaranya sudah aus

32 Kumonakĕn berasal dari kata kon yang memperoleh sisipan -um-,dan akhiran –aken. Kata ini menggunakan tanda pepet yang ditulis diatas aksara ka ( ) dan kemudian dimatikan dengan tanda virama ( ) pada bagian akhir katanya

33 Seharusnya tidak menggunakan i panjang

34 Dilakukan pemecahan aksara sesuai konteks katanya, kata karaman seharusnya karamān

35 Seharusnya ditulis mātaji ( )

36 Aksara sebelumnya tidak terbaca karena aus, namun sesuai konteks kata berikutnya, kemungkinan bahwa aksara sebelumnya adalah rakrya

37 Makassopana berasal dari kata sopana yang memperoleh awalan maka (maka + sopana)

38 Ada tanda anusvara yang tipis dan hampir tidak terbaca

39 Sesuai hukum sandhi penulisan aksara Jawa kuna, raka+i dapat berubah bunyi menjadi rake

40 Dilakukan pemecahan aksara sesuai konteks katanya. Kata karaman seharusnya ditulis karamān

35

(21)

10. ...kasāmani rakryanakşā ... ta rikaŋ kal a ... ... ...

11. marikangatani karamān ri... ... ...

Baris ke -12 sampai ke -15 tidak dapat di baca karena t ulis an sudah aus

16. ………... …… haj yan Paŋjal u kal a ………….

17. ……….

18. ………....

19. ……… ………

20. ……… paduka ………..…… pra…...………

21. ………rikalā saŋ juru hadyan ………..….

22. ………....

23. ... ...kin sīma gañj aran =i māt aji ... ...

24. ... kaki ... pa ...dataŋ ...

anugraha śrī māhara(ja) ... ... ...

25. ... taņha41 rakr yan sangāhalĕp mwaŋ taņha rakr yan śri jitê(ndrakara) ... ... ... .... ...

... ....

26. ...ma...ka42 rakr yan kaki kapas a saŋ rā...l43 riŋ44 ... ...

27. (ra)kryan45 ...l al ara46...

iŋ batarā47 s aŋ h yaŋ prasaśti ... ... ...

28. ……….

29. ……… saŋ hadyan buyut i matā(ji)48 salwir ni mahaprakram a …… ....……….

42 Hanya dapat dibaca dua aksara pada kata itu karena aksara sangat tipis

43 Aksara sebelumnya tidak terlihat dengan jelas, namun menyerupai aksara ja ( )

44 Ada tanda anusvara yang sangat tipis sehingga hampir menyerupai tanda i ( )

45 Aksara sebelumnya tidak dapat dibaca karena aus, namun berdasarkan konteksnya dapat diduga merupakan aksara ra

46 Belum diketahui terjemahannya dalam bahasa Indonesia

47 Kata batarā seharusnya ditulis bhatarā ( )

(22)

Universitas Indonesia

Baris ke -30 s am pai baris ke -35 t idak dapat dibaca karena tulis an sudah aus

3.1.2 B agi an Kanan (Sisi B)

1. ... ...

2. ...śamakana ratu... ...

3. ... °iŋl aal a... ... ....

(Baris ke-4 s am pai baris ke -20 ti dak dapat dibaca karena tulis an sudah aus)

21. ... paduka ...pra ...

22. ... ri kala saŋ juru hadyan ...

(Baris ke-23 dan ke -24 ti dak dapat dibaca l agi )

25. (raj a)49... ... ...

Baris ke -26 s ampai bari s ke -35 tidak dapat dibaca karena aus.

3.1.3 Bagian Bel akang (Si si C )

1. ... ...

2. ...śri māharaj yetêndrā50...

3. ...mā...51 ... ...

4. ...

5. ...

6. ... ...

7. ...ha bala ... piraŋ... ... ...ra52 śri

māharajyetêndra pal āde(wa)53 8. ....mara ...54 ... śri m āharaj a h ...

(Baris ke-9 s am pai ke-15 t idak dapat di baca l agi )

16. ... ... haj yan Paŋj alu kala ...

(Baris ke-17 sampai baris ke -35 ti dak dapat dibaca lagi)

49 Aksara pada bagian ini sudah sangat aus dan tidak dapat dibaca, namun berdasarkan pembacaan pada baris ke-25 bagian depan prasasti dapat diduga bahwa kata ini seharusnya berbunyi raja ( )

50 Nama raja yang diduga menurunkan perintah penulisan prasasti ini.

51 Ada beberapa aksara yang hilang karena aus

52 Ada beberapa aksara yang hilang karena aus

53 Ada beberapa aksara yang tidak dapat dibaca

54 Aksara sebelum dan sesudah mara tidak dapat dibaca karena hilang.

(23)

3.1.4 Bagian Kiri (S isi D)

1. _ _ 973 ... ... ...

2. ... linta... māgala śri... ...

3. ...śrī māharajyetêndrapal ade(wa) ...

4. ... ...

5. ... tarakiti ...

(Baris ke-6 dan ke -7 tidak dapat dibaca l agi )

8. ...ri kala tari satya ...

(Baris ke-9 s am pai bari s ke -35 tidak dapat dibaca l agi )

3.2. Alih Bahasa (T erjemahan ) 3.2.1. B agi an Depan (Sisi A)

1. ... ...

2. ...

3. ... ... ....wuku kuningan55, nairitistha gr ahacara56 ... rak yan .. ... ...r ti ... m eret as jal an yang pert ama kali ... ... ...

4. sebagai (s eorang) pahlawan57 pasukan/ tentara raja kayaralatwa58 raja jitêndra kara w uryya w ir yya parakramā bhakta59...

55 Kuningan adalah salah satu nama wuku. Berdasarkan siklus 7 hari atau saptawāra, setiap satu siklus 7 hari disebut satu wuku.Satu kali siklus wuku memerlukan waktu 30 X 7 hari = 210 hari, yang merupakan kombinasi antara sadwāra, pañcawāra, dan saptawāra.

1. Sinta 11. Dungulan 21. Mahatal

2. Landep 12. Kuningan 22. Wuyai

3. wukir 13. Langkir 23. Manahil

4. Kurantil 14. Madasiha 24. Prangbakat

5. Tolu 15. juluŋ Pujut 25. Bala

6. Gumbrĕg 16. Pahaŋ 26. wugu

7. Wariga niŋ wariga 17. Kuruwlut 27. wayang

8. Wariga 18. Marakih 28. Kulawu

9. Juluŋ wangi 19. Tambir 29. Dukut

10. Sungsang 20. Madangkungan 30. Watu gunung

(Damais, 1951:6 ; de Casparis, 1978: 18)

56 Dalam prasasti Jawa Kuna dikenal adanya grahacara (planet) yang menempati posisi tertentu sesuai dengan arah mata angina, diantaranya (Budiati,1985;48—9):

1. pascimastha (barat) 7. Anggarastha (selatan) 2. nairitistha (barat daya) 8. daksinastha (selatan) 3. sunyasthana (tengah) 9. agneyastha (tenggara) 4. uttarasthana (utara) 10. parwwasthana (timur) 5. adityasthana (timur) 11. aisanyastha (timur laut)

6. bayabyastha (barat laut)

57 Pada beberapa konteks dapat pula mengacu pada Yang Maha Kuasa serta dapat pula dipersamakan

(24)

Universitas Indonesia

5. ...Yang Mulia Śrī Māharaja memerintahkan (agar) para penduduk (kar aman )60 di M at āji itu ... ...

6. ...segenap taṇḍha rakyan riŋ pakirakiran (menyembah) di hadapan (debu al as kaki ) P aduka Ś rī M āharaj a denga n perant ara an61 Saŋ Hadyan62 ... ... ...

7. ...n... na ka... menjaga/memelihara ...

8. ...Śrī Māharaja setiap waktu (membantu) menghilangkan musuh s ecara t erus -menerus ... ...

9. ...maraka63 rakai kepada para penduduk desa di Matāji ... ke ha sa pa sa ńa ni di 64 ...

keti ka (para) penduduk des a di Mat āji ... .. ...

10. ... ... ... kedamaian/ketenangan oleh rakryan akşā65... s aat itu ... ... ...

11. marikangata66 ni 67 kepada (para) penduduk desa di (Matāji)... ...

(Baris ke-12 sampai ke -15 tidak dapat dibaca lagi karena s udah aus ) 16. ... ... haj yan P aŋj alu kala ...

(Baris ke-17 sampai baris ke -20 ti dak dapat dibaca lagi)

17. ... paduka ... para...

... ...

18. ... ketika saŋ juru hadyan ... ... ... ...

19. ...

58 Belum diketahui terjemahannya dalam Bahasa Indonesia

59 Kemungkinan besar merupakan gelar dari pejabat atau seseorang yang cukup berkuasa pada masa itu. Gelar -wuryya wiryya parakrama- umumnya digunakan oleh raja-raja masa Kadiri.

60 Karamān mempunyai dua pengertian , pertama adalah berarti penduduk desa dan yang kedua berarti pimpinan desa yang terdiri atas sejumlah pejabat.

61 Makassopana dimaksudkan sebagai perantara atau saluran yang dapat digunakan oleh rakyat untuk memohon perhatian raja dan sekaligus menembus birokrasi pemerintahannya. (Sedyawati.1994:309)

62 Gelar ini merupakan gelar kehormatan bagi pejabat atau orang yang mempunyai kekuasaan tertentu.

Sayang sekali lanjutan kalimat ini tidak jelas sehingga tidak dapat diketahui nama orang itu.

63 Belum diketahui terjemahannya dalam Bahasa Indonesia..

64 Tidak dapat dibaca dengan jelas karena sudah aus

65 Nama Rakryan Akşa kemungkinan merupakan nama salah satu pejabat pada masa Paŋjalu yang masih belum diketahui apa tugas dan peranannya.

66 Belum diketahui terjemahannya dalam bahasa Indonesia

67 Belum diketahui terjemahnnya dalam bahasa Indonesia.

(25)

20. ... sīma68 gañj aran 69 di d esa Mātaji ... ...

21. ... kakek ... ...

diberi anugerah (ol eh) Ś rī Māharaj a ... ... ...

22. ... tadha rakryan sangāhalĕp dan tadha rakryan śri jitê(ndr akara)...

23. ... rakryan kaki kapasa saŋ ra...l di ... ... ... ... ...

24. ...

25. Rakryan ... ... lalara ...

kepada dewa saŋ hyaŋ prasaśti

... ...

26. saŋ hadyan buyut di desa Mātaji masing-masingnya ni

mahaprakr ama70 ……….

(Baris ke-27 sampai baris ke -35 ti dak dapat dibaca lagi)

3.2.2 B agi an Kanan (Sisi B)

1. ... ...71 2. ... disanalah sang ratu72... ...

3. ...di laal a73...

(Baris ke-4 s am pai baris ke -20 ti dak dapat dibaca karena tulis an sudah aus)

21 ... paduka ... pra...

22 ... keti ka saŋ j uru hadyan ...

(Baris ke-23 sampai ke-24 tidak dapat dibaca lagi)

25 (raja).... ... ...

Baris ke -26 s ampai bari s ke -35 tidak dapat dibaca karena aus.

68 Lihat catatan kaki nomor 28

69 Sīma gańjaran adalah anugrah sīmayang diberikan atas jasa mereka yang telah melindungi raja (Sedyawati.1994:303)

70 Belum diketahui terjemahannya dalam bahasa Indonesia

71 Tidak ada aksara yang dapat dibaca karena aus

72 Masih belum diketahui apakah kata itu berarti raja ataukah istrinya (ratu)

73 Belum diketahui terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Kemungkinan merupakan nama tempat karena didahului oleh preposisi (kata depan). Akan tetapi, dalam bahasa Sansekerta kata itu dapat

(26)

Universitas Indonesia

3.1.3 Bagian B el akan g (Si si C)

1. ...

2. ...śri māharajyetêndrā74...

3. ...mā...75 ...

4. ...

5. ...

6. ... ...

7. ...ha bala ... piraŋ ... ... ...ra76

śri māharajyetêndra pal āde(wa)77 8. ....mara ...78 .. ... ... śri māharaj ah79 ... ...

(Baris ke-9 s am pai ke-15 t idak dapat di baca l agi )

16... haj yan P aŋj alu kala ... ...

(Baris ke-17 sampai baris ke -35 ti dak dapat dibaca lagi)

3.1.4 Bagian K iri (Sisi D)

1. _ _ 973 ... ... ...

2. ... linta... kebahagiaan / kemakmuran śri ... ... ... ... ...

3. ... śrī māharajyetêndrapal ade(wa) ... ... ... ....

4. ...

5. ... tarakiti ...

(Baris ke-6 dan ke -7 tidak dapat dibaca l agi )

8 ... ... ... ... keti ka it ul ah kes eti aan ... ..

(Baris ke-9 s am pai bari s ke -35 tidak dapat dibaca l agi )

74 Nama raja yang diduga menurunkan perintah penulisan prasasti ini.

75 Ada beberapa aksara yang hilang karena aus

76 Ada beberapa aksara yang hilang karena aus

77 Ada beberapa aksara yang tidak dapat dibaca

78 Aksara sebelum dan sesudah mara tidak dapat dibaca karena hilang.

79 Lihat catatan kaki nomor 88

(27)

BAB IV

KRITIK SUMBER

Prasasti sebagai sal ah satu dat a ut am a dalam rekonst ruksi s ej arah tidak han ya berperan s ebagai unsur penunj ang dat a kontekstual, mel ainkan juga menghubungkan benda dengan kis ah sejarah (Sed yawati , 1994: 4) . Ol eh karena it u , di perlukan t ahapan khusus untuk menget ahui apakah s uat u prasast i l a yak dijadikan dat a s ej arah dengan menggunakan t ahapan kritik sumber. Tahap kriti k s umber merupakan metode pengol ahan dat a yang dil akukan untuk m enguji ot enti sitas dat a prim er, yait u pras as ti Mātaj i . Tahapan ini penting unt uk dilakukan karena bertujuan untuk m enget ahui dan m enguji keasli an pras asti Mātaji sehingga bisa dianggap layak atau tidak untuk dijadikan sebagai dat a s ej arah. M etode kri tik teks yang di gunakan dibagi menj adi 2 macam, ya itu kriti k ekst ern dan kri tik i nt ern.

1.1 Kri tik Eks tern

Tahapan kritik ekst ern m eliputi pros es penguji an berdas arkan dat a fi sik prasasti berupa unsur m at eri (bentuk dan bahan), pal eografi (jenis aks ara dan bahas a), dan lokas i keberadaan pras asti (t ermasuk lokasi penemuan dan t empat pen yi m panan) yang nanti n ya akan membant u penentuan kronol ogi pras ast i dan m embuktikan bahwa dat a ini memang di buat pad a zam ann ya. Hal i ni perl u dil akukan mengingat kriti k eks tern dil akukan m en yangkut mas al ah keas lian ( otentisit as ) pras asti yang di lakukan unt uk menghindari ketidaks es uai an anakronis me data dengan jam ann ya. Dengan tahapan kriti k teks ini akan di ketahui apakah prasasti Māt aji la yak untuk dij adikan dat a sej arah Indonesi a Kuna.

(28)

Universitas Indonesia

4.1.1 Uns ur Mat eri

Prasasti M āt aji dit emukan di dukuh P ule, dusun Bangl e, des a Bangle, kecam at an Lengkong, kabupat en Nganj uk, J awa Ti mur.

Prasasti Mātaji dipahat di atas batu gamping berwarna keabu-abuan berbent uk blok berpuncak lanci p.

Prasasti -pras ast i di Indonesi a umumn ya men ggunakan bahan bat u andesi t80 karena teksturn ya yang kuat dan ti dak mudah hancur, s ehi ngga pras asti it u dapat bertahan l ama dan dapat di baca m eski pun ada juga beberapa pras asti ya ng aus atau rus ak. Ada berbagai m acam bahan yang di gunakan sebagai medi a penul i san prasasti , di antaran ya batu ( upal a pras asti ), t embaga ( tamr a prasasti ), lontar (ri pta pr asas ti ), dan em as (mas pras asti ). (Boechari, 1990: 1).

Bent uk prasasti s angat t erkait de ngan bahann ya. P rasasti yang dibuat dari bat u bent ukn ya bervari asi81, sedangkan pras asti yang dibuat dari logam bi as an ya berbent uk l empeng, dan pras as ti yang dibuat dari tanah li at bi as an ya berbentuk tabl et. Dari bent uk pras asti dapat diketahui kapan pras asti itu dikel uarkan/ dipahatkan karena seorang raj a mengel uarkan pras asti dengan ciri khusus yang berbeda dengan raj a lain .

Prasasti Mātaji berbentuk stele berpuncak lancip atau meruncing, seperti bent uk umum prasasti yang ters ebar di J awa Tim ur, sedangkan pras asti berbent uk oval m erupakan bentuk umum yang tersebar di wi l a yah J awa Tengah ( Suhadi & Kartakus uma , 1996: 49).

80 Batuan andesit merupakan batu-batuan keras yang berasal dari gunung berapi dan biasanya dipakai sebagai bahan bangunan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia 1989: 35)

81 Variasi bentuk prasasti batu, diantaranya : 1. bentuk tiang batu

2. bentuk batu alam tidak beraturan dengan variasi permukaan tidak rata dan rata 3. bentuk lingga

4. bentuk blok dengan variasi berpuncak rata, kurawal, setengah lingkaran, dan lancip 5. bentuk wadah

6. bentuk arca

(29)

Prasasti j enis s tel e berpuncak l anci p m erupakan pras asti yang berbent uk s egi empat yang merunci ng (l ancip) pada bagi an puncakn ya.

Berdasarkan hasil penelit ian awal Hari Untoro Dradjat m engenai ben tuk prasasti bat u, ti pe st el e dengan bagi an puncak berbent uk kurawal / akolade at aupun yang berpuncak l anci p / merunci ng beras al dari awal abad ke -10 hi ngga akhi r abad ke -15 (Dradj at,1986 :475).

Sel ain it u, pras asti -pras asti yang dibuat dari bat u berasal dari m as a Kadiri rata -rat a berbentuk st el e, baik berpuncak kurawal / akol ade maupun berpuncak meruncing. P erbandingan bent uk prasas ti Māt aji dengan pras asti lain yang s ej am an dapat dilihat pada t abel berikut:

Tabel 1

Perbandingan Bah an Prasasti

Nam a Prasasti

Nam a R aj a Tahun

Dikeluarkan

Bahan Ket .

Turunh yang B

Mātaji

Mal enga

Garaman

Mapañji Garas akan J itêndrakara

Mapañji Garas akan Mapañji Garas akan

966 Ś/1043M

973 Ś/1051 M

975 Ś/1053 M

974 Ś/1052 M

Batu

Batu

Tem baga

Tem baga

stel e

stel e

7 l empeng

7 l empeng

Berdasarkan urai an isi n ya, pras asti dapat dibagi m enj adi dua kat egori , yait u prasasti berbentuk panjang dan pras ast i berbent uk pendek (singkat ). Umumn ya pras asti berbentuk panjang mempun yai formul asi (st rukt ur penulisan) yang l engkap (mi sal n ya pencantum an unsur penanggalan, nam a raj a yang m engeluarkan prasasti serta deret an pej abat yang berkuasa pada masa itu, sebab -sebab penulis an prasasti,

(30)

Universitas Indonesia

proses upacara at au serah terim a prasasti dari raj a kepada daerah yang menerim a pras asti itu , dan s aksi -s aksi yang hadir s aat penet apan pras asti .). P anj ang pendekn ya penuli san suat u pras asti t ergantung pada kebutuhan yang berkait an dengan m asal ah yang akan di angk at dal am pras asti , sehi ngga s emaki n panjang urai an suat u pras asti , maka sem akin ban yak i nform asi ya ng dapat diperol eh.

Pada pras ast i Māt aji, bi dang penulis an m eliputi 4 bagian permukaan, yait u bagi an depan (recto), bagian bel akang (verso), s ert a dua s isi s ampi ng kanan dan kiri . Dari bidang penulis an j uga dapat diketahui kapan prasasti it u dibuat, karena umum n ya m asing -m asi ng jam an mempun yai ci ri -ci ri bidang penuli s an yang berbeda -beda. Bidang penulis an pada pras asti abad ke -7 hingga abad ke -8 umumn ya meli puti Aks ara yang di pahatkan berjuml ah 35 bari s dengan ukuran yang bervarias i dengan panjang 1 -2.5 cm, l ebar 1 -1.5 cm, j arak ant ar aks ara kurang l ebi h 0.5 -1 cm, sert a j arak ant ar baris kurang l ebi h 2.5 cm . Prasasti Mātaji menggunakan aksara Jawa Kuna yang merupakan kel anj ut an aks ara m asa Ai rlangga dengan ciri-ci ri bentuk das ar pers egi , tegak dan ti dak l agi condong ke arah kanan, s ert a masih m enggunakan kuncir pada bagi an s udut kanan / ki ri at as aksara t ertentu82.

4.1.2 Uns ur Pal eogr afis

Pal eografi83 adal ah penget ahuan mengenai tulisan -tulis an kuna (Kamus Is til ah Arkeologi . 1978:118) . Defini si l ain , pal eografi merupakan st udi ya ng mem pel aj ari jeni s, bentuk, dan perkembangan tulisan / aks ara kuna yang dituliskan , baik di atas bahan -bahan yang lunak / l entur -s epert i kai n, kulit ka yu, dan lont ar m aupun di at as bahan yang keras seperti batu, logam, ka yu, dan tanah li at (Pras odjo, 1992: 48)

82 Seringkali ada ketidakkonsistensi pada penulisan aksara yang sama, karena ditemukan ada yang menggunakan kuncir dan ada yang tidak.

83 Paleografi berasal dari bahasa latin, yaitu palaeo yang berarti tua, dan graphien yang berarti tulisan.

Jadi, palaeography berarti ilmu mengenai tulisan-tulisan kuno

(31)

Kaj ian pal eografis di gunakan mengingat ban yak pras ast i yang ditulis t anpa m en yert akan inform asi -inform asi lengkap yang dibut uhkan untuk merangkai suatu ki sah s ej arah, misal n ya ti dak dicant umkann ya uns ur penanggal an atau nama raj a yang m engeluarkan pras asti it u. M ungkin s aj a unsur -uns ur kronologi it u ti dak dapat dijel as kan karena ada bagi an-bagian prasasti ya ng rus ak, hil a ng, at au bahkan karena pras asti yang ditemukan han ya berupa fragmen84. Dal am studi epi grafi85, di gunakan s uatu m etode yang dis ebut s ebagai analisis at au kaji an pal eografi untuk m enangani pras ast i -pras ast i dengan kondi si demiki an . Caran ya dengan m enelit i bent uk, ga ya, dan j enis aks ara yang di gunakan pras asti itu, sehingga prasas ti itu nanti n ya dapat ditem patkan pada kronologi tertentu dal am sej arah. J adi , tinjauan paleografis prasasti Mātaji dimaksudkan untuk mengkaji bentuk dan ga ya penulis an aks ara yang di gunakan pada prasasti M ātaji , mengingat pras asti ini dal am kondis i aus dan ban yak aks aran ya yang s udah tidak dapat dibaca l agi

.

Pada pras asti Māt aji , aks ara yang di gunakan adal ah aksara J awa Kuna yang mem iliki tipe aks ara dan gaya penuli san yang merupakan kel anj ut an ga ya penulis an m as a Ai rlangga dan Kadi ri dengan bentukn ya yang khas .

Aksara prasasti Mātaji tidak ditulis dengan rapi / teratur dan memili ki ukuran ya ng tidak seragam antar baris n ya. Pada sisi depan (A) bagian at as aks ara ukuran n ya cukup b es ar dan s emakin kecil pada baris -baris berikutn ya. Aks ara pada baris -bari s awal keli hatan rapi dan terat ur , semakin ke ba wah aksara keli hat an s em aki n tidak rapi dan tulis an cenderung m iring s ehingga tidak membentuk sat u baris lurus . J arak ant ar aksara pada prasasti Māt aji sem aki n ke bawah sem akin men yem pit dan pada baris -baris akhir berhimpit an (tunpang ti ndih) sat u sam a l ain sehi ngga seringkal i sukar dibedakan antara aksara induk

84 Fragmen adalah bagian prasasti yang telah pecah menjadi bagian-bagian kecil akibat patah atau sebab-sebab lainnya.

85 Epigrafi adalah ilmu yang mempelajari mengenai pertulisan dan prasasti (Tim Penyusun Kamus

(32)

Universitas Indonesia

at aupun pas angan. Pada sisi A (bagi an depan) pras ast i, bari s pert am a dan kedua ukuran aksaran ya 0,5 x 0,7 cm dengan j arak antar huruf masi ng-masing aks ara 0,5 cm, jarak antara baris pert am a dan kedua 1 cm. P ada baris ket i ga, ukuran aks aran ya 1 x 1,5 cm dengan jarak ant ar hurufn ya 0,5 cm dan jarak ant ara baris kedua dan keti ga di bagi an ki ri 1,5 cm dan sem akin ke kanan jarakn ya mel ebar s ampai 1,8 cm. P ada baris keempat ukuran aks aran ya 0,7 x 0,7 cm dengan jarak antar huruf 0,3 cm, dan jarak antara baris ket i ga dan keempat 1,8 cm. Begit u pul a dengan baris kelim a sampai b aris t erakhi r sisi depan ukuran aks aran ya 0,6 x 0,6 cm dan jarak ant ar bari sn ya 0,8 cm. P ada bagian bel akang dan sam ping ukuran aks aran ya s em akin mengecil yait u 0,5 x 0,5 cm dan j arak ant ar huruf dan baris n ya masing masing 0,3 cm dan 0,7 -1 cm.

Perbedaan ukuran aksara m aupun jarak ant ar baris mungkin akibat kel al ai an citral ekha86 dal am m emperkirakan ukuran m edi a penulis an (dal am hal ini bat u) dengan jumlah aksara yang akan di pahat kan, sehi ngga mungkin s aj a ukuran aksara dan j arak ant ar baris sem akin mengecil akibat s isa medi a / ruang penuli san yang s emakin s empit . H al ini m enunjukkan ci tral ekha87 yang diberi m andat ol eh raj a un tuk menulis prasasti Mātaji tidak memiliki keterampilan yang cukup.

Aks ara yang di gunakan di prasasti Māt aji dapat dibeda kan dal am dua kel ompok bes ar secara umum, yaitu aks ara yang m emili ki kuncir88 dan aks ara yang tidak m emiliki kuncir89. Aks ara yang m emili ki kuncir dibagi l agi menj adi dua , yait u aks ara berkunci r s at u dan aksara berkuncir dua. Yan g termasuk dalam aksara berkuncir sat u adal ah ka ( ), w a ( ), n a ( ), ta ( ), dan da ( ), sedangkan yang termasuk dal am aks ara berkuncir dua ant ara l ain s a ( ), ma ( ), dan pa ( ).

Aks ara yang tidak m emili ki kunci r sama sekali adal ah ya ( ), ra ( ),

86 Lihat catatan kaki no. 16

87 Lihat keterangan pada catatan kaki nomor 16

88 Kuncir adalah guratan kecil yang ditorehkan pada bagian ujung atas aksara, baik bagian ujung kanan maupun ujung kiri. Contoh kuncir pada aksara ka ( )

89 Lihat keterangan pada catatan kaki nomor 98

(33)

ňa ( ), ńa ( ), ņa ( ), śa ( ), dha ( ), ha ( ), la ( ), ca ( ), ba ( ), bha ( ), dan j a ( ).

Pada tabel berikut dapat dili hat perbandingan aksara yang digunakan oleh prasasti Mātaji dan prasasti lain yang sejaman.

Tabel 2

Perbandingan Aksara aks ara Prasasti

Turunh yang B

Prasasti Mātaji

Prasasti Mal enga

Prasasti Garaman ka

ya r a wa ḍha ha t a da ma ca pa ba bha j a ṅa ña ṇa na t a śa ṣa sa

(34)

Universitas Indonesia

Seri ngkali , citral ekha melakukan kesalahan dal am pem berian kuncir pada aksara t ertentu. S atu aksara yang s am a seringkali ditulis kan berbeda: berkuncir pada sal ah sat u sisi prasasti dan ti dak diberi kan kunci r pada bagi an pras ast i yang lain. Dibawah ini, tabel contoh ketidakkons i s tens i citralekha dal am pemberi an kuncir:

Tabel 3

Contoh k etidakkonsistensi d alam p emb erian kun ci r

Aks ara Kal imat 1 Kal imat 2 1.

śa

śri

śri 2.

sa

saŋ

satru 3.

ma

māharaja

makabehan 4.

ka

kar aman

parakr ama 5.

da

hadyan

paduka

Sel ain inkonsist ens i dal am hal pemberi an kuncir pada aks ara tertentu, citralekha j uga s eringkal i m el akukan kes al ahan dal am menuli s kat a-kata tert ent u. Di bawah i ni m erupakan daft ar kes alahan citr alekha dal am m enulis kat a -kat a dal am prasasti Māt aji :

Tab el 4

Contoh k etidakkons istensi d alam p enuli san kata

1. Penul is an kat a rakr yan

rakyan

rakryan

2. Penul isan kat a kar aman

karamān

karaman

3. Penul isan kat a

(35)

Mātaji matāji Mātaji

Seringkali pada prasasti Mātaji d ijumpai ketidakkonsistensi citralekha dalam m enulis aks ara, mi sal nya pada aksara ra ( ), na ( ), śa ( ), sa ( ), ta ( ), ma ( ), dan j a ( ). Di bawah i ni merupakan tabel keti dakkonsist ens i citral ekha dalam m enul is aks ara :

Tabel 5

Ketid akkonsis ten si p enulisan aks ara

A ksara Bent u k 1 Bent u k 2 Bent u k 3

1.

ka 2.

ra 3.

na 4.

ma 5.

śa 6.

sa 7.

ta 8.

da 9.

ja

Inkonsi stensi dalam penulis an aks ara pada pras as ti M āt aji mungkin s aj a disebabkan karena pras as ti ini m erupakan sal i nan. P ada mas a dahulu, perint ah at au anugerah raja l ebih dahul u dituliskan di at as bahan lunak s eperti lontar90 untuk kemudian dis erah kan kepada para pej abat di daerah supa ya dibuat kan s alinan berupa pras asti

90 Awal katanya adalah ron tal atau dalam bahasa Indonesia berarti daun pohon tal. Lontar merupakan hasil dari perendaman daun pohon tal sehingga menjadi lunak dan lebih tahan lama. Pada masa dahulu fungsi lontar adalah seperti kertas pada masa sekarang, yaitu sebagai media penulisan.

Bentuknya seperti bilah tipis bambu yang dirangkai dengan semacam tali sehingga membentuk

(36)

Universitas Indonesia

berbah an keras (bat u at au logam) untuk kemudi an dis impan d i daerah yang bers angkut an .

Sebagaim ana t elah diuraikan sebel umn ya , perint ah at au anugerah raj a l ebih dahulu di tuliskan pad a bahan lunak s eperti l ontar sebelum dituliskan pada bahan keras seperti batu at au l ogam. P ada m asa dahulu, pras asti s eringkali dibuat s alinan ( copy) lebi h dari satu. P ras asti i nduk bias an ya dipahatkan pada batu dan dilet akkan di daerah yang bers angkut an s ert a berfungsi sebagai maklum at bagi rak yat daerah it u, sedangkan s alinannya dipahat kan pada bahan l ogam (mis aln ya tembaga). Boechari (1977a: 5) m engat akan bahwa l uas kekuasaan seorang raj a ant ara l ain dapat diket ahui berdasarkan letak pras asti yang diterbi tkann ya. Terutam a apabila pras asti itu masih i ns itu91 dan men yebut “wanua i tpi siring ”, m aka dapat diket ahui luas daerah kekuasaan raj a ya ng m enerbitkan pras asti itu. Pras ast i Māt aji dipahatkan pada batu yang beruku ran cukup bes ar, s ehi ngga bila pras asti ini tel ah bergeser, pasti tidak akan t erl al u j auh dari l okasi as aln ya.

Tipe aksara yang digunakan dalam prasasti Mātaji merupakan tipe aksara yang mirip dengan masa Airlangga. Pada prasasti Mātaji, aks ara dituli skan t egak dengan ga ya yang lebih s ederhana dari pada tipe aks ara Ai rl angga. Ti pe i ni kemudian banyak di gunakan dal am pras asti yang dikeluarkan s es udah m asa Jitêndra.

1.2 Kri tik In tern

Yang dim aks ud dengan kritik int ern adal ah t ahap an kerja yang dilakukan berdas arkan analisis dengan cara mengubah bahas a yang di gunakan pada prasasti ke dal am bahas a s as aran m el alui anali sa epi grafi dengan berbagai t erbit an yang ada baik sumber t ertuli s maupun analogi epi grafi (Kartakusum a,1991: 72)

91 Lihat catatan kaki nomor 27

(37)

Krit ik int ern memperm as alahkan kredi bilit as d at a dengan mel akukan analis a dan penguji an t erhadap bahas a dan isi pras asti , termasuk kelengkapan strukt ur pras ast i dan kesal ahan unsur penulis an, untuk mem peroleh detil yang kredibel untuk dicocokkan dal am suat u hipot es a (konteks ). Penguji an t erhadap baha s a yang di gunakan dal am prasasti Mātaji menyangkut kata, kalimat, dan wacana. Kritik ini bertuj uan unt uk membukti kan bahwa prasasti M ātaji ditulis ses uai dengan z amann ya.

Koreksi t erhadap i s i pras asti sangat penting dil akukan karena kes al ahan penulis a n oleh citral ekha akan m engaki batkan kes al ahan yang dapat m en yebabkan ketidaktepat an dal am m engurai kan peristi wa yang t erjadi .

4.2.1 Kata dan Kali mat

Pada urai an s ebelumn ya t el ah dis ebut kan bahwa penguji an terhadap bahasa dal am prasasti Māt aji antara l ain m encaku p kata, kalim at dan wacana.

Bahas a yang di gunakan dal am pras asti M ātaji adalah bahasa J awa Kuna. Beberapa dari kat a -kat a yang ada dal am pras as ti M āt aji bel um pernah dijumpai dal am prasasti m as a Airl angga, akan t etapi ban yak dipakai oleh pras ast i -prasasti pada mas a Kadi ri. Kemungki nan ga ya bahasa yang digunakan dalam prasasti Mātaji kemudian digunakan pula oleh pras asti pada m as a s el anj utn ya.

Berdasarkan hasil pembacaan, di ketahui bahwa pras asti Mātaji seti dakn ya m emiliki 10 -14 uns ur penanggal an. Apabil a di ruj uk kepada krit eria yang t el ah dibuat oleh J.G de C asparis m engenai karakt eristik prasasti pada abad X -XIII, adan ya un sur wuku kunian dan grahacara nairitiṣṭh a pada prasasti Māt aji dapat m engindikasikan bahwa prasasti

(38)

Universitas Indonesia

Pada sal ah s atu baris pada prasasti M āt aji disebutkan adan ya kat a

“karuhun” yang mendahului kalimat “ ..i lbu paduka śrī māharaja…”.

Kat a it u dal am bahas a Indonesia berarti “ yang pertam a atau yang terutama”. Kata “karuhun” baru dijumpai dan digunakan dalam pras asti -prasasti dari m as a pemerint ahan raj a -raj a s es udah raj a Airl angga , sedangkan kat a yang l azim di gunakan pada m as a sebelumn ya adal ah “ makādi ”. Hal i ni s ebagaim ana ditunjukkan dal am tabel beri kut:

TABEL 6

Perbandingan Pen ggunaan Kata

makadi kar uhun

Pr asast i Bar u masa Ai rl angga 956 Ś / 1034 M

“...mpungku saiwasogata makadi sa mgat p arbl y an... ”

Prasast i Hant an g masa J ayabha ya 1 057 Ś / 1135 M

“...tanha rakryan ri n g paki raki ran m akadi rakryan kanur uhan pu karnnakendra map añj i mandak a

karuhu n rakrya n m ap at i h pu karnnakeśwara ”

Perubahan penggunaan kat a s eperti cont oh di atas sam a s ekali tidak mengubah makna kalim at yang dituliskan, akan tet api han ya untuk menunjukkan pol a atau ga ya yang popul er di gunakan pada m as a - mas a t ertentu.

Raj a-raja yang m em eri nt ah pada m asa Kadi ri um umn ya m em iliki gel ar yang hampi r s am a wal aupun tidak semua gelarn ya s erupa Nam a raj a yang memerintahkan penul is an pras asti M āt aji m empun yai gelar yang beraneka ragam , mis aln ya Jitêndrakara wuryya w ir yya parakramā bhakta , śri māharajyetêndra palādewa, dan śri māharaj yetêndra. Nam a gelar “wuryyawīryya” dan “parākrama” hanya dijumpai pada gelar raj a-raj a yang m em eri nt ah sesudah m asa Ai rl angga. Gel ar itu unt uk pert ama kalin ya di gunakan ol eh raj a Bam eswāra ( Śrī Bāmeśw āra

(39)

Sakalabhuwanatuşţikāraņa Sarwwāniwāryyawīryya Parākrama Digjayottunggadewa ) dal am pras asti Padlĕgan I yang di kel uarkann ya pada tahun 1038 Śaka92 / 1117 M as ehi (Abbas , 2005: 85).

Dal am prasas ti M āt aji ada kata “ makassopana ”, yang berart i mewakilkan at au m em andatkan. Bi rokrasi peme ri ntahan m as a Kadi ri yang cukup kompl eks dan t eratur m enyebabkan munculn ya pej abat - pej abat at au tokoh yang m enj adi perantara sopana ant ara raj a dengan rak yatn ya. Ist ilah i ni tidak dikenal pada masa pem erint ahan raj a Airl angga, karena wal aupun bi rokrasi pad a masa Ai rl angga sudah cukup t eratur, raja seringkali m asih turun tangan untuk menangani mas al ah rak yat n ya.

Pen yebut an istil ah saŋ hadyan dan ist ilah juru hadyan j uga ditem ukan dal am pras asti Māt aji . Saŋ Hadyan m erupakan ge lar muli a yang dianugerahkan raj a kepada pej abat tert entu at au orang -orang dengan st atus t inggi. Pen yebutan gel ar ini mulai di gunakan pada akhi r abad ke-V III Masehi , yait u pada prasasti Waharu I yang berangka t ahun 795 Ś / 873 M. Berikut ini adalah daftar prasasti yang menyebutkan gel ar hadyan:

TABEL 7

Prasas ti yang menyebutk an gelar h adyan No Nam a P ras asti Angka Tahun Nam a Tokoh 1. Waharu I 795 Ś / 873 M Saŋ Hadyan Kulup Tiru 2. Juruŋan 798 Ś / 876 M Ni Hadyan si K awar a

3. Kuruŋan 807 Ś / 885 M Saŋ Hadyan Agasti Saŋ Wi dyadew a

4. Munggu Ant an 808 Ś / 886 M Saŋ Hadyan Palutungan bini haji Saŋ Dewata

5. Kasugi han 829 Ś / 907 M Saŋ Hadyan Wahuta Hyaŋ

92 Perhitungan tahun berdasarkan sistem pertanggalan India Kuna. Apabila dikonversikan ke dalam

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut “Ada hubungan yang signifikan antara

Swarnabhumi untuk ditempatkan di Dharmmasraya.. 5) Prasasti-prasasti yang menginformasikan adanya legitimasi hubungan kekeluargaan / dinasti antara Suwarnadwipa - Jawadwipa

a) Pihak yang kedistributorannya berakhir dapat menarik perjanjian pembelian kembali produk-produk FM WORLD dan Stater kit-nya serta semua materi informasi, pelatihan dan

Tujuan yang ingin di capai pada kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan peternak dalam memelihara ternak sapi potong secara baik dan

Pada perlakuan B secara visual tampak sampai hari ke-5 masih banyak tumbuh kapang Phanerochaete chrysosporium yang ditandai dengan substrat yang lebih dominan

Daftar Isian Peserta dilampiri dengan pas foto terbaru masing-masing 2 (dua) lembar ukuran 3 cm x4 cm (kecuali bagi anak usia balita), melampirkan Surat keterangan kesanggupan

Sementara itu Estaswara (2008) dalam bukunya Think IMC: Efektifitas Komunikasi untuk Meningkatkan Loyalitas Merek dan Laba Perusahaan, mendefinisikan komunikasi

Volume residu, kapasitas residu fungsional, dan kapasitas paru total kesemuanya merupakan volume udara paru yang tinggal di dalam paru, bahkan udara ini masih tetap tersisa