• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kri tik In tern

Dalam dokumen BAB II DESKRIPSI PRASASTI (Halaman 36-57)

KRITIK SUMBER

1.2 Kri tik In tern

1.2 Kri tik In tern

Yang dim aks ud dengan kritik int ern adal ah t ahap an kerja yang dilakukan berdas arkan analisis dengan cara mengubah bahas a yang di gunakan pada prasasti ke dal am bahas a s as aran m el alui anali sa epi grafi dengan berbagai t erbit an yang ada baik sumber t ertuli s maupun analogi epi grafi (Kartakusum a,1991: 72)

91 Lihat catatan kaki nomor 27

Krit ik int ern memperm as alahkan kredi bilit as d at a dengan mel akukan analis a dan penguji an t erhadap bahas a dan isi pras asti , termasuk kelengkapan strukt ur pras ast i dan kesal ahan unsur penulis an, untuk mem peroleh detil yang kredibel untuk dicocokkan dal am suat u hipot es a (konteks ). Penguji an t erhadap baha s a yang di gunakan dal am prasasti Mātaji menyangkut kata, kalimat, dan wacana. Kritik ini bertuj uan unt uk membukti kan bahwa prasasti M ātaji ditulis ses uai dengan z amann ya.

Koreksi t erhadap i s i pras asti sangat penting dil akukan karena kes al ahan penulis a n oleh citral ekha akan m engaki batkan kes al ahan yang dapat m en yebabkan ketidaktepat an dal am m engurai kan peristi wa yang t erjadi .

4.2.1 Kata dan Kali mat

Pada urai an s ebelumn ya t el ah dis ebut kan bahwa penguji an terhadap bahasa dal am prasasti Māt aji antara l ain m encaku p kata, kalim at dan wacana.

Bahas a yang di gunakan dal am pras asti M ātaji adalah bahasa J awa Kuna. Beberapa dari kat a -kat a yang ada dal am pras as ti M āt aji bel um pernah dijumpai dal am prasasti m as a Airl angga, akan t etapi ban yak dipakai oleh pras ast i -prasasti pada mas a Kadi ri. Kemungki nan ga ya bahasa yang digunakan dalam prasasti Mātaji kemudian digunakan pula oleh pras asti pada m as a s el anj utn ya.

Berdasarkan hasil pembacaan, di ketahui bahwa pras asti Mātaji seti dakn ya m emiliki 10 -14 uns ur penanggal an. Apabil a di ruj uk kepada krit eria yang t el ah dibuat oleh J.G de C asparis m engenai karakt eristik prasasti pada abad X -XIII, adan ya un sur wuku kunian dan grahacara nairitiṣṭh a pada prasasti Māt aji dapat m engindikasikan bahwa prasasti

Universitas Indonesia

Pada sal ah s atu baris pada prasasti M āt aji disebutkan adan ya kat a

“karuhun” yang mendahului kalimat “ ..i lbu paduka śrī māharaja…”.

Kat a it u dal am bahas a Indonesia berarti “ yang pertam a atau yang terutama”. Kata “karuhun” baru dijumpai dan digunakan dalam pras asti -prasasti dari m as a pemerint ahan raj a -raj a s es udah raj a gelar “wuryyawīryya” dan “parākrama” hanya dijumpai pada gelar raj a-raj a yang m em eri nt ah sesudah m asa Ai rl angga. Gel ar itu unt uk pert ama kalin ya di gunakan ol eh raj a Bam eswāra ( Śrī Bāmeśw āra

Sakalabhuwanatuşţikāraņa Sarwwāniwāryyawīryya Parākrama Digjayottunggadewa ) dal am pras asti Padlĕgan I yang di kel uarkann ya pada tahun 1038 Śaka92 / 1117 M as ehi (Abbas , 2005: 85).

Dal am prasas ti M āt aji ada kata “ makassopana ”, yang berart i mewakilkan at au m em andatkan. Bi rokrasi peme ri ntahan m as a Kadi ri yang cukup kompl eks dan t eratur m enyebabkan munculn ya pej abat -pej abat at au tokoh yang m enj adi perantara sopana ant ara raj a dengan rak yatn ya. Ist ilah i ni tidak dikenal pada masa pem erint ahan raj a Airl angga, karena wal aupun bi rokrasi pad a masa Ai rl angga sudah cukup t eratur, raja seringkali m asih turun tangan untuk menangani mas al ah rak yat n ya.

Pen yebut an istil ah saŋ hadyan dan ist ilah juru hadyan j uga ditem ukan dal am pras asti Māt aji . Saŋ Hadyan m erupakan ge lar muli a yang dianugerahkan raj a kepada pej abat tert entu at au orang -orang dengan st atus t inggi. Pen yebutan gel ar ini mulai di gunakan pada akhi r abad ke-V III Masehi , yait u pada prasasti Waharu I yang berangka t ahun 795 Ś / 873 M. Berikut ini adalah daftar prasasti yang menyebutkan gel ar hadyan:

TABEL 7

Prasas ti yang menyebutk an gelar h adyan No Nam a P ras asti Angka Tahun Nam a Tokoh 1. Waharu I 795 Ś / 873 M Saŋ Hadyan Kulup Tiru 2. Juruŋan 798 Ś / 876 M Ni Hadyan si K awar a

3. Kuruŋan 807 Ś / 885 M Saŋ Hadyan Agasti Saŋ Wi dyadew a

4. Munggu Ant an 808 Ś / 886 M Saŋ Hadyan Palutungan bini haji Saŋ Dewata

5. Kasugi han 829 Ś / 907 M Saŋ Hadyan Wahuta Hyaŋ

92 Perhitungan tahun berdasarkan sistem pertanggalan India Kuna. Apabila dikonversikan ke dalam

Universitas Indonesia

Di dal am prasasti Māt aji j uga dis ebut kan istil ah j uru, yaitu sem acam pejabat atau seseorang yang m enjadi pim pinan at au ket ua dari sekelompok orang -o rang yang berprofesi s ama93. Sedyaw ati (1994) mengem ukakan bahwa pada Kadiri t elah dikenal adan ya s aluran yang dapat di gunakan ol eh rak yat untuk m em ohon perhatian raja. Perant ara (sopana) dalam permohonan anugerah itu adalah berbagai macam pej abat at au tokoh yang berfungsi untuk m emperm udah rakyat dalam menembus birokrasi keraj aan. Pada m asa pemerintahan Kadiri sudah dikenal si st em bi rokrasi yang cukup kompleks dan m endeti l , s ehingga seringkali raja ti dak harus turun tangan sendiri unt uk m enangani urus an pem erint ahan dan cukup m em ant au dan m emberikan pengawas an saj a.

Berdasarkan urai an -urai an it u, dapat di asumsikan bahwa prasasti Mātaji ditulis dan diterbitkan masa pemerintahan Kadiri.

4.2.2 Wacana

Nini e Sus anti Yuli anto (1996) men yat akan bahwa “ pengam at an terhadap wacana m en yangkut bagi an yang lebih besar dari kal imat , mungkin alinea/bab atau mungkin seluruh isi prasasti”. Setiap masa pem erint ahan m empun yai pol a kata dan kalim at yang berbeda -beda, sehi ngga berdas arkan pengamatan terhadap pol a itu dapat diketahui apakah suatu prasast i sesuai dengan j am ann ya at au t idak.

Seti ap pras ast i m em pun yai form ul asi (st rukt ur) yang m empun yai kemi ripan pol a ant ara sat u prasasti dengan pras ast i lainn ya . Struktur pras asti pada um umnya di ant aran ya adalah:

1. Seruan kepada dewa (manggala) 2. Unsur penanggalan

3. Nama raja atau pejabat yang mengeluarkan prasasti

93 Zoetmulder.1995:431

4. Pejabat yang menerima perintah 5. Isi perintah

6. Keterangan hasil pajak sebelumnya

7. Tugas dan kewajiban penduduk yang menerima sīma

8. Latar belakang atau sebab dikeluarkannya suatu prasasti (sambandha )

9. Pemberian pasĕk-pasĕk 94kepada raj a, pej abat tinggi keraj aan, pej abat daerah yang menguasai daerah s īma itu s ebelumn ya, pej abat des a yang ditet apkan menj adi sīma dan pej abat -pej abat desa s ekelili ngn ya.

10.Saji -s ajian95

11.Upacara penetapan sīma (beri si acara m akan m akan, m inum -minum, dan berbagai macam pertunjukan)

12. Pengucapan sumpah

13. Penul is pras asti ( cit r alekha).

Formulas i di at as m erupakan garis besar st rukt ur pras ast i sīma pada umumn ya, namun t idak s elalu di jumpai dal am pras ast i yang sama karena bis a saja ti dak s emua unsurn ya di sebut kan dal am struktur pras asti itu at au dapat pul a s usunan unsurn ya t erbalik.

Pada umum n ya pras asti yang berisi urai an m engenai penet apan sīma didahului oleh penyebutan dewa -dewa (manggala) pada bagian awal at au pem bukaann ya. Berbeda dengan formul asi pada umumn ya, prasasti Mātaji tidak menyebutkan nama-nama dewa pada bagian pendahul uan prasast in ya. Hal itu m ungkin s aj a di aki batkan oleh dua sebab; pertam a, pras asti Mātaj i m em ang tidak mencantumkan seruan kepada dewa pada bagian awal n ya. Kedua, bagian manggala pada prasasti Mātaji mungkin saja telah hilang karena kondisi prasasti ini mem ang s udah aus dan bari s -baris awalnya tidak dapat di baca dengan jel as.

94 Pasak atau pasĕk-pasek berarti pemberian anugerah atau hadiah berupa upeti atau persembahan berupa uang atau pakaian yang diajukan kepada raja atau anggota kerajaan sehingga hak-hak istimewa yang diperoleh dihormati (Zoetmulder.1995:786)

Universitas Indonesia

Bagi an kedua formulasi pras asti sīma adalah mengenai pen yebut an nam a raj a bes ert a para pej abat keraj aann ya. Dal am pras asti Mātaji disebutkan nama Jitêndra kara w uryyaw īr yya parakr amā bhakta sebagai nam a raj a yang mem erint ah pada s aat it u, yang kem udi an diikuti ol eh nam a pejabat yang m eneri ma peri nt ah raj a dan isi peri nt ah berikut daerah yang menerim a perint ah it u.

Pada pras as ti Māt aj i tidak diket ahui adan ya urai an m engenai perpaj akan sert a tugas dan kewajiban mas yarakat yang menerim a anugerah raja. Urai an -uraian ini m ungkin s aj a berada pada bagian pras asti yang sudah aus, sehingga aksaran ya hil ang dan ti dak dapat dibaca l agi.

Di bawah ini adal ah formul asi prasasti M āt aji:

1. Unsur penanggalan

2. Penyebutan nama raja yang mengeluarkan prasasti 3. Nama pejabat kerajaan yang menerima perintah 4. Isi perintah

5. Latar belakang atau sebab dikeluarkannya prasasti ( sambandha) Dengan demiki an dapat di ket ahui bahwa pras asti M ātaji ti dak memili ki formul asi yang umum di gunakan pada pras asti lai n yang sej am an dengann ya. Hal ini kemungkinan di sebabkan ol eh beberapa hal , di ant aran ya:

1. Prasasti Mātaji memang tidak mencantumkan beberapa unsur pen yus un s truktur prasasti karena di anggap tidak penting. P ada masa ini kerajaan Paŋjalu mempunyai kedudukan politis yang bel um begitu stabi l set el ah peristi wa pembagian, s ehi ngga kem ungkinan prasasti -prasasti pada masa ini l ebih menit iberatkan pada pengukuhan legitim asi ke raj aan.

2. Kemungkinan lain adalah bahwa prasasti ini memiliki struktur yang sama dengan prasasti lain yang s ej am an, namun bagi an itu tidak dapat dibaca kembali karena kondisi bahan yang s udah aus.

Pokok l ai n yang diurai kan dal am prasasti M āt aji adalah mengenai s ebab -s ebab pem beri an st atus sīma kepada daerah M ātaj i.

Unsur l ain s eperti pros es upacara dan hal -hal yang berkait an dengan upacara penetapan s ī ma ti dak dit emukan dal am pras ast i M āt aj i .

Universitas Indonesia

BAB V

INTERPRETASI dan DATA KESEJARAHAN

5.1 Interpretasi

Int erpret asi adal ah tahapan yang dil akukan untuk menil ai dan mengurai m akna ya ng terkandung dal am prasasti M ātaji . Yuli anto (1996:179) m engem ukakan bahwa unt uk merangkai i si pras as ti menjadi sebuah kis ah sej arah setidakn ya di butuhkan empat uns ur pokok, yaitu tokoh (bi ografi ), waktu (kronol ogi ), t em pat (geografi), dan peristi wa (fungsional ). Keempat uns ur pokok itu na nti n ya akan m engungkapkan isi prasasti Mātaji sehingga dapat melengkapi data sejarah Indonesia Kuna.

5.1.1 Identif ikasi T okoh

Identi fikasi tokoh di lakukan untuk menget ahui tokoh -tokoh yang berperan dal am pembuatan sebuah prasasti . Dal am prasasti M āt aji disebut kan nam a raja besert a gel arn ya, yait u Ji têndra kar a wuryyawīryya parakramā bhakta . Gelar raja Jitêndra ini juga di gunakan oleh raja -raj a Kadi ri dan unt uk pertama kalin ya digunakan oleh raja Bameswāra dalam prasasti Padlĕgan I. Kemungkinan Jitêndra adal ah raja pert am a yang m enggunakan gel ar itu dan kem udi an di gunakan pula ol eh raj a -raj a l ai n yang m em eri nt ah s es udah m as an ya.

Beberapa pras ast i yang di kel uarkan s et elah m as a Ai rl angga menyebutkan bahwa kerajaan Paŋjalu pada masa itu bersaing kekuasaan dengan kerajaan Jaŋgala pasca pembagian kerajaan. Dalam prasasti -prasasti n ya, M apañji Garasakan menggunakan gelar Śrī Māhāraja Rake Hino M apañji Garas akan dan m enggunakan cap keraj aan

59

Garudamukha96 Pada kurun wakt u yang sam a J it êndra s ebagai raja Paŋjalu juga memakai gelar Śrī Māhārajyetêndrakara Wur yya Wir yya Parakram a Bhakta. Kem ungkinan besar kedua raj a ini menganggap diri n ya l ebih m empun yai hak atas t aht a Ai rlangga dan berniat untuk merebut keraj aan s audaran ya agar wila yah kekuas aa nn ya lebih bes ar.

Dalam prasasti Mātaji, Jitêndra menguraikan adanya peperangan yang sering terjadi di desa Mātaji. Dua tahun setelah Jitêndra mengeluarkan prasasti Mātaji, Garasakan mengeluarkan prasasti Garaman (975 Ś / 1053 M) yang menguraikan adanya perang antara Garasakan dengan Haji Paŋjalu. Mengingat kedua prasasti itu keluar pada rent ang waktu yang cukup dekat, mungkinkah J itêndra dan Haji Paŋjalu adalah orang yang sama?

Tokoh lain yang disebutkan dal am pras asti ini adal ah Sang Hadyan, yang dal am konteks bahasa J awa Kuna berart i sebut an at au gel ar bagi pejabat t ert entu at au orang yang m empun yai s tatus sosi al yang tinggi. S ang Had yan dal am prasasti i ni dis ebut -sebut sebagai sopana at au perant ara raja Jitêndra dal am memberikan anugerah sī ma kepada penduduk desa M āt aji . S a yang s ekali ti dak di ketahui siapakah tokoh yang bergel ar Saŋ Hadyan ini sehi ngga inform asi mengenai tokoh yang berperan sebagai sopana i ni tidak diket ahui. Sel ain it u disebut -s ebut pul a istilah Saŋ Juru Hadyan dan Saŋ H adyan Buyut i Mātaji. Dalam bahasa Jawa Kuna, istilah juru mengacu kepada seseorang yang m enjadi pemi mpin at au ket ua s uatu kelom pok profesi yang s am a. Kat a Saŋ Juru Hadyan berarti “ yang t erhorm at Sang Jur u”, sedangkan Saŋ Hadyan Buyut i Mātaji berarti “ yang muli a Buyut di Mātaji ” Sayang sekali tidak ada keterangan yang jelas mengenai kedua orang ini. Bel um dapat di ketahui apakah tokoh Jur u Hadyan ini memim pin (at au m ewaki li) s ekel ompok bangs awan yang menerim a anugerah raj a ataukah ini adal ah seorang toko h yang belum diketahui fungsi dan peranannya. P ada m asa sesudah m as a Airl angga, umumn ya

Universitas Indonesia

97 Tandha Rakryān ring Pakirakirān Makabehan adalah sekelompok pejabat tinggi kerajaan yang merupakan sebuah “Dewan Menteri” yang berfungsi sebagai badan pelaksana pemerintahan dan sudah dikenal sejak masa Mataram Kuna (abad VIII-X ) hingga masa Majapahit (runtuh pada abad XV). Pejabat ini antara lain beranggotakan : Rakryan Mapatih, Rakryan Tumenggung, Rakryan Demung, Rakryan Kanuruhan, serta Rakryan Rangga (struktur ini berubah-ubah tergantung pemerintahan raja tertentu). Dewan menteri seringkali disebut juga Rakryan Mantri ri Pakirakiran atau Sang Panca ring Wilwatikta (pada masa Majapahit) (Kamus Istilah Arkeologi, 1978: 146-147)

98 Wanua pada masa sekarang disetarakan dengan desa

99 Rāma pada masa sekarang mungkin dpat disetarakan dengan kepala desa atau lurah

5.1.1 Identif ikasi Waktu

Kronol ogi100 adalah upa ya m enem patkan peristi wa at au kejadian yang di anggap pent ing ke dalam urutan wak tu yang t epat. Upa ya menget ahui wakt u penulisan prasasti Mātaji adal ah untuk menempat kann ya pada kronologi sejarah yang t epat.

Pada umumn ya, pras asti yang berisi urai an m engenai penet apan suat u daerah m enj adi sī ma sel al u m emuat unsur penanggal an yang lengkap. Unsur penanggalan dianggap penti ng karena upacara penet apan sīma dan segala yang berkait an dengan m as al ah t anah merupakan s uat u hal yang dianggap sakral ol eh m as yarakat J awa pada mas a it u. Uns ur penanggal an dal am prasasti pada umumnya dituli s secara l engkap (det il ) dan t epat di bagi an awal (pendahuluan) pras ast i, kem udi an diikuti oleh pen yebut an nam a raj a dan gelarn ya s ert a deretan pej abat yang berwenang dan t erl ibat dalam penet apan pras as ti.

Berdasarkan keteran gan -ket erangan i tu dapat di ketahui masa pem erint ahan s es eorang raj a (Boechari, 1977 c; 5). St ruktur prasasti yang demi ki an sangat mem bantu pros es penempat an peri stiwa ke dalam kronologi s ej arah Indonesi a kuna dengan tepat .

J .G. de Caspari s membagi uns ur penanggalan pada pras asti -pras asti m asa J awa Kuna di bagi menj adi 4 kelompok berdas arkan periode wakt un ya. P embagi an itu sebagai berikut :

1. Prasasti -pras ast i ya ng di kel uarkan sebel um t ahun 900 M, memili ki 5 uns ur penanggal an, yaitu: warsa, māsa, tithi, paksa, dan wār a.

100 Kronologi membantu untuk mengetahui peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di dunia secara berurutan. Peristiwa-peristiwa sejarah apapun yang diketahui adalah berkat penemuan manusia yang disebut kalender (penanggalan) (Trigangga, 1995; 143).

Universitas Indonesia

1. Prasasti-prasasti yang dikeluarkan antara tahun 900 -1000 M memili ki 5 -10 uns ur penanggalan, yait u: wars a, mās a, ti thi, paksa, wāra, planet, naksatra, dewatā, yoga dan wuku.

2. Prasasti-prasasti yang dikeluarkan antara tahun 1000 -1250 M muhūrta ke dalam unsur-unsur penanggalan yang telah dikenal pada masa s ebelum nya ( de C aspari s, 1978; 56). dibaca unsur penanggalannya secara utuh, yaitu prasasti Padlěgan I,

101 Menurut Zoetmulder (2004:785), parweśa adalah nama dari suatu kelompok perbintanngan. Tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai kelompok bintang mana yang disebutkan di sini. Dalam tulisan-tulisan mengenai pertanggalan di India, unsur ini tidak pernah disinggung.

102 Rāśi adalah tanda zodiak, rumah astrologik (Zoetmulder, 2004:927) Rāśi merupakan pembagian langit secara geometris yang dapat diidentifikasi secara visual dengan bintang penanda. Pergerakan matahari secara 360° dibagi menjadi 12 bagian dan diberikan nama sesuai dengan kelompok bintang yang berdekatan dengannya. Jumlah zodiak yang digunakan dalam prasasti-prasasti Jawa Kuna sama dengan jumlah zodiak yang digunakan dan dikenal pada masa sekarang.

Panumbangan I, Candi Tuban, Hantaŋ, Talang, Padlěgan II, Angin, membant u dal am memperkuat perkiraan kronologi suat u pras asti.

Unsur penanggal an dal am pras ast i M āt aji ti dak dapat diket ahui grahacara105(nairiti stha)106, dan karana (pur wakarana )

Pada bagi an awal prasasti um umn ya didahului ol eh pen yebutan dikenal 30 wuku, sehingga dalam setahun ada 210 hari (Zoetmulder, 2004:1467) Unsur wuku tidak dikenal dalam sistem pertanggalan di India, sehingga diperkirakan unsur ini merupakan unsur penanggalan asli Indonesia.

104 Lihat catatan kaki nomor 128

105 Grahacara adalah perhitungan waktu berdasarkan perjalanan planet-planet (Zoetmulder, 2004: 307) Dalam sistem penanggalan Jawa Kuna ada 11 grahacara, antara lain nairitistha pada posisi barat daya, sunyasthana pada posisi tengah, agneyastha pada posisi tenggara, uttarasthana pada posisi utara, purwwasthana pada posisi timur, adityasthana pada posisi timur, anggarastha pada posisi selatan, daksinastha pada posisi selatan, aisanyastha pada posisi timur laut, pascimastha pada posisi barat, dan bayabyastha pada posisi barat laut (Budiati,1985;48—9)

Universitas Indonesia

menganggap waktu merupakan bagi an penti ng yang m empengaruhi hidup mereka, s ehi ngga tidak jarang dal am pras asti dan nas kah diungkapkan bahwa mas yarakat J awa Kuna sangat m empercayai adan ya hari baik dan hari buruk. M engadakan kegiat an at au pekerj aan pada hari bai k di an ggap akan m endat angkan kebaikan dan kesej aht eraan bagi mereka, dan sebalikn ya hari -hari buruk diperca ya akan mendat angkan na’as atau ketidakberuntungan dalam hidup mereka. Kepercayaan ini hingga s aat ini masih hidup dal am mas yarakat J awa m as a ki ni. julungwangi, sunsang, dungulan, kuniňan, langkir, mandasiya, julung pujut , Pahang, kuruwelut , marakih, t ambir, madangkungan, mahat al, wuyai, manahil, prang bakat, balamuki, wugu -wugu, w ayang-wayang,

107 wāra adalah satuan waktu yang digunakan oleh masyarakat Jawa Kuna untuk hari. Perhitungannya berdasarkan siklus yang digunakan, dan dalam hal ini dikenal adanya siklus 5 hari (panca wāra);

siklus 6 hari (sad wāra); dan siklus 7 hari (sapta wāra)

108 Lihat satatan kaki nomor 139

kul awu, dukut, dan watu gunung (Casparis,1978;57 dan Damais,1990;16—7).

Sinta s ebagai wuku pertam a jat uh pada hari T ungl ai109-Pahing110 -Radit ya111. Berdas arkan urut an wuku, kuni ňan m erupakan w uku ke-12 dari 30 w uku yang ada.

Sel ain w uku, ada pula uns ur grahacara pada prasasti M āt aji . Grahacara adal ah s istem perhi tungan waktu J awa Kuna berdasarkan peredaran benda -benda l angit, dal am hal ini planet. Dal am sist em penanggal an J awa Kuna ada 11 grahacara, ant ara lain nairit i stha pada posisi barat da ya , s unyasthana pada posisi t engah , agneyas tha pada posisi t enggara , utt arast hana pada posisi utara , purwwast hana pada posisi timur, adityas thana pada posi si ti mur , anggarast ha pada posi si

Sel ain w uku, ada pula uns ur grahacara pada prasasti M āt aji . Grahacara adal ah s istem perhi tungan waktu J awa Kuna berdasarkan peredaran benda -benda l angit, dal am hal ini planet. Dal am sist em penanggal an J awa Kuna ada 11 grahacara, ant ara lain nairit i stha pada posisi barat da ya , s unyasthana pada posisi t engah , agneyas tha pada posisi t enggara , utt arast hana pada posisi utara , purwwast hana pada posisi timur, adityas thana pada posi si ti mur , anggarast ha pada posi si

Dalam dokumen BAB II DESKRIPSI PRASASTI (Halaman 36-57)

Dokumen terkait