• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITAN

D. Instrumen Pengumpulan data

1. Peubah

Prestasi belajar siswa. 2. Indikator

Nilai rata-rata hasil tes siswa. 3. Jenis data

Jenis data yang akan diolah pada penelitian ini adalah data kuantitatif, berupa hasil tes.

4. Cara pengumpulan data

Dalam penelitian ini cara pengumpulan data akan dilakukan dengan tes tertulis.

5. Instrumen a. Tes Objektif

Instrumen yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah soal tes, berupa tes obyektif yang berbentuk pilihan ganda.

Menurut Eko Putro Widyoko ( 2009:49) tes objektif dalam adalah bentuk tes yang mengandung kemungkinan jawaban atau respons yang harus dipilih oleh peserta tes. Jadi kemungkinan jawaban atau respons

telah disediakan oleh penyusun butir soal. Peserta hanya memilih alternatif jawaban yang telah disediakan. Dengan demikian pemeriksaan atau penskoran jawaban atau respons peserta tes sepenuhnya dapat dilakukan secara objektif oleh pemeriksa. Karena sifatnya yang objektif ini maka tidak perlu harus dilakukan oleh manusia. Pekerjaan tersebut dapat dilakukan oleh mesin, misalnya mesin scanner. Dengan demikian skor hasil tes dapat dilakukan secara objektif. tes obyektif memiliki keunggulan sebagai berikut:

1) Lebih representatif mewakili isi dan luas bahan.

2) Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci jawaban, bahkan dapat menggunakan alat – alat kemajuan teknologi misalnya scanner.

3) Pemeriksaanya dapat diserahkan orang lain.

4) Dalam pemeriksaan atau penskoran, tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi, baik dari segi guru maupun siswa.

b. Tipe Pilihan Ganda ( Multiple Choice Test )

Tes pilihan ganda adalah tes di mana setiap butir soalnya memiliki jumlah alternatif jawaban lebih dari satu. Pada umumnya jumlah alternatif jawaban berkisar antara 2 (dua) atau 5 ( lima). Tentu saja jumlah alternatif tersebut tidak boleh terlalu banyak. Bila alternatif lebih dari lima maka akan sangat membingungkan peserta tes, dan juga akan sangat menyulitkan penyusun butir soal. Tipe tes ini dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama multiple choice item (butir soal pilihan majemuk atau

ganda). Tipe tes ini adalah yang paling populaer dan paling banyak digunakan dalam kelompok tes objektif karena banyak sekali materi yang dapat dicakup.

Setiap tes pilihan ganda terdiri dari dua bagian, yaitu : (1) pernyataan atau disebut juga stem, dan (2) alternatif pilihan jawaban atau disebut juga option. Stem mungkin dalam bentuk pernyataan atau dapat juga dalam bentuk pertanyaan. Bila dalam bentuk pertanyaan, merupakan pertanyaan yang lengkap atau yang tidak lengkap.

Tipe Pilihan Ganda (Multiple Choice Test) memiliki kelebihan, kelebihan itu diantaranya:

1) Butir soal tes pilihan ganda dapat digunakan untuk mengukur segala level tujuan pembelajaran, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks, kecuali tujuan yang berupa kemampuan mendemonstrasikan, ketrampilan menyatakan sesuatu yang ekspresif. Misalnya, tujuan yang ingin diukur adalah memperlihatkan keindahan tulisan, kemampuan membuat gambar, atau kemampuan mendemonstrasikan keseimbangan tubuh. Hal – hal tersebut tidak dapat diukur dengan butir soal objektif mana pun, termasuk tipe pilihan ganda.

2) Karena karakteristik butir soal pilihan ganda hanya menuntut waktu mengerjakan sangat minim, maka setiap perangkat tes yang menggunakan butir soal pilihan ganda sebagai alat ukur dapat menggunakan jumlah butir soal yang relatif banyak dank arena itu

penarikan sample pokok bahasan yang akan diujikan dapat lebih luas. Jadi setiap perangkat tes dapat mencakup hampir seluruh cakupan mata pelajaran.

3) Penskoran hasil tes dapat dilakukan secara objektif . Dengan demikian maka tidak ada unsure subjektivitas pemeriksa masuk ke dalam skor hasil ujian. Bahkan, karena sifatnya maka penskoran dapat dilakukan oleh mesin. Karena itu, maka dapat dilakukan dengan waktu yang sangat singkat.

4) Tipe butir soal dapat disusun sdemikian rupa sehingga menuntut kemampuan peserta tes untuk membedakan berbagai tingkatan kebenaran sekaligus. Misalnya, dapat disusun butir soal dengan option (pilihan) yang seluruhnya benar, tetapi dalam tingkatan kebenaran yang berbeda. Peserta tes diminta untuk menyatakan butir jawaban yang paling benar diantara semua jawaban yang benar tersebut. Hal ini merupakan kelebihan yang sukar diperoleh butir soal tipe lain.

5) Jumlah pilihan jawaban yang disediakan lebih dari dua. Karena itu, akan dapat mengurangi keinginan peserta tes untuk menebak. Biasanya keinginan menjadi lebih besar bila probabilitas untuk benar makin besar. Jadi bila pilihan lebih dari dua, maka probabilitas untuk benar tebakannya akan kurang dari 50%. Tentu hal ini tidak berlaku bagi peserta tes yang ingin menebak.

6) Tipe butir soal pilihan ganda memungkinkan dilakukan analisis butir soal secara baik. Butir – butir dapat disusun dengan dilakukan uji coba

terlebih dahulu. Bila dalam uji coba butir soal tersebut ternyata ada kelemahan (setelah dianalisis) maka dapat dilakukan perbaikan.

7) Tingkat kesukaran butir soal dapat diatur, dengan hanya mengubah tingkat homogenitas alternatif jawaban. Makin homogen alternatef jawaban, maka makin tinggi tingkat kesukarannya, dan sebaliknya makin kurang homogenitas alternatif jawaban, maka akan semakin rendah tingkat kesukaran butir soal.

8) Informasi yang diberikan lebih kaya. Butir soal ini dapat memberikan informasi tentang peserta tes lebih banyak kepada guru, terutama bila butir soal itu memiliki homogenitas yang tinggi. Setiap pilihan peserta terhadap alternatif jawaban merupakan suatu informasi tersendiri tentang penguasaan kognitif peserta tes dalam bidang yang diujikan. 6. Teknik Pengujian Instrumen

Dalam penelitian ini menggunakan instrumen yang digunakan berupa tes pilihan ganda. Untuk soal tes yang digunakan adalah soal tes yang sudah diuji validitas dan reliabitasnya, sehingga dapat diketahui bahwa tiap item – item soal tersebut sahih dan andal. Soal yang sudah dibuat peneliti diujikan dahulu pada kelas yang tingkat kemampuan siswanya setara dengan kelas yang akan digunakan untuk penelitian, adapun untuk pengujian soal, peneliti menguji soal pada siswa kelas IV SD Kanisius Kota Baru Yogyakarta tahun pelajaran 2009/2010.

Berdasarkan indikator yang sudah ditentukan oleh peneliti, peneliti membuat 30 soal yang akan diujikan pada siswa. Dari 30 soal tersebut nantinya hanya digunakan 20 soal saja yang sudah memenuhi kriteria validitas.

a. Pengujian Validitas

Validitas adalah taraf sampai dimana suatu tes mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas item soal evaluasi diukur dengan menganalisis hubungan (uji korelasi) antara nomor soal dengan total skor yang didapat oleh masing-masing siswa.

Instrumen dikatakan valid apabila instrument tersebut dapat dengan tepat mengukur apa yang hendak diukur. Dengan kata lain validitas berkaitan dengan “ketepatan” dengan alat ukur. Dengan instrumen yang valid akan menghasilkan data yang valid pula. Atau dapat pula dikatakan bahwa jika data yang dihasilkan dari sebuah instrumen valid, maka instrumen itu juga valid.

Selain mencari validitas instrumen perlu juga dicari validitas butir instrumen. Jika validitas instrumen, rendah maka perlu diketahui butir – butir instrumen mana yang menyebabkan instrumen keseluruhan tersebut jelek. Untuk keperluan inilah perlunya mencari validitas butir instrumen.

Menurut Eko Putro Widoyoko (2009:140) suatu butir instrumen dikatakan valid apabila memiliki sumbangan yang besar terhadap skor total. Dengan kata lain dikatakan mempunyai validitas yang tinggi jika skor pada butir mempunyai kesejajaran dengan skor total. Kesejajaran ini

dapat diartikan dengan korelasi, sehingga untuk mengetahui validitas butir digunakan dengan rumus korelasi product moment.

( )( )

( )

(

)(

( )

)

− = 2 2 2 2 . x x N y y N y x xy N rxy

Penafsiran harga koefisien korelasi dilakukan dengan membandingkan harga dengan harga

r

xy kritik. Adapun harga kritik untuk

validitas butir instrumen pada penelitian ini adalah 0,349. Artinya apabila

r

xylebih besar atau sama dengan 0,349 (

r

xy≥ 0,349), nomor butir tersebut dapat dikatakan valid. Sebaliknya apabila

r

xy lebih kecil dari 0,349 (

r

xy

0,349), nomor butir tersebut dikatakan tidak valid. Perhitungan korelasi selain dilakukan dengan cara manual dapat juga dengan menggunakan komputer program SPSS for windows.

Dari 30 soal yang diujikan, masing – masing siklus diambil 20 soal yang memenuhi kriteria validitas, sedangkan yang 10 soal lainnya kurang memenuhi kriteria validitas. Soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal yang sudah memenuhi kriteria validitas.

b. Pengujian Reliabilitas

Reliabilitas adalah taraf sampai dimana suatu tes mampu menunjukkan konsistensi hasil pengukurannya yang diperhatikan dalam taraf ketetapan dan ketelitian (Masijo, 1995:209).

Metode penentuan yang digunakan untuk mengukur taraf reliabilitas pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode belah

dua (split-half method). Metode belah dua merupakan metode yang efisien, karena dalam penentuan taraf reliabilitas suatu tes hanya mempergunakan satu tes untuk satu kali pengukuran. Dengan metode belah dua ini satu tes dipakai dalam satu pengukuran pada sekelompok siswa. Hasil dari satu tes dibagi menjadi dua bagian, yakni bagian pertama berupa skor yang berasal dari item – item bernomor gasal, sedangkan bagian kedua berupa skor yang berasal dari item – iten bernomor genap.

Hasil dari dua belah tersebut yakni skor – skor yang berasal dari item – item bernomor gasal dan genap dikorelasikan dengan menggunakan teknik korelasi product-moment dari Pearson.

( )( )

( )

(

)(

( )

)

− = 2 2 2 2 . x x N y y N y x xy N rxy

Keterangan : x = nomor butir gasal

y = nomor butir genap

N = jumlah responden

Indeks korelasi yang diperoleh baru menunjukkan hubungan antara dua belah instrument, dan untuk memperoleh indeks reliabilitas instrument menggunakan rumus Spearman-Brown, yaitu:

rgg xrgg rtt + = 1 2

Keterangan: rtt = koefisien reliabilitas

rgg = koefisien gasal genap

Setelah diperoleh indeks angka reliabilitas, Langkah selanjutnya adalah mengkonsultasikan angka tersebut dengan table r product-moment dengan jumlah N yang sama pada taraf signifikan 1 % atau 5 %. Apabila r hitung lebih besar atau sama dengan r table (

r

h≥ rt) diartikan ada korelasi yang signifikan, instrument dianggap reliable. Sebaliknya apabila r hitung lebih kecil dari r table (

r

h≤ rt) diartikan tidak ada korelasi yang signifikan, kesimpilan instrument dianggap tidak reliable.

Dalam penelitian ini, baik siklus I maupun siklus II, harga kritik r product-moment diperoleh harga r untuk jumlah responden (N) =32 dengan taraf signifikan 1% diperoleh harga r tabel = 0,449.

Dokumen terkait