• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

C. Model Cooperatif Learning Teknik Jigsaw

1. Model Cooperatif Learning

Dalam dunia pendidikan, paradigma lama mengenai proses belajar-mengajar bersumber pada teori. Menurut Locke (dalam Anita Lie, 2002:2) pikiran seorang anak seperti kertas kosong yang putih bersih dan siap menunggu coretan – coretan gurunya. Dengan kata lain, otak seorang anak ibarat botol kosong yang siap diisi dengan segala ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan sang mahaguru. Berdasarkan asumsi ini dan asumsi yang sejenisnya, banyak guru melaksanakan kegiatan - kegiatan belajar-mengajar sebagai berikut.

a. Memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa. Tugas seorang guru adalah memberi dan tugas seorang siswa adalah menerima. Guru memberikan informasi dan mengharapkan siswa untuk menghafal dan mengingatnya.

b. Mengisi botol kosong dengan pengetahuan. Siswa adalah penerima pengetahuan yang pasif. Guru memiliki pengetahuan yang nantinya akan dihafal oleh siswa.

c. Mengotak-ngotakkan siswa. Guru mengelompokkan siswa berdasarkan nilai dan memasukkan siswa dalam kategori, siapa yang berhak naik kelas, siapa yang tidak, siapa yang bisa lulus dan siapa yang tidak, siapa yang bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan siapa yang tidak. Kemampuan dinilai dengan ranking dan siswa pun direduksi menjadi angka – angka. d. Memacu siswa dalam kompetisi bagaikan ayam aduan. Siswa bekerja

menang. Orang tua pun saling bersaing menyombongkan anaknya masing – masing dan menonjolkan prestasi anaknya bagaikan memamerkan binatang aduan.

Tuntutan dalam dunia pendidikan sudah banyak berubah. Kita tidak bisa lagi mempertahankan paradigma lama tersebut. Teori, penelitian, dan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar membuktikan bahwa para guru sudah harus mengubah paradigma pengajaran, yaitu yang berpusat pada guru. Sehingga diharapkan siswa lebih aktif untuk membangun pengetahuan yang sedang dipelajarinya, dan guru hanya menjadi fasilitator dalam kegiatan belajar siswa.

Para guru perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar berdasarkan beberapa pokok pemikiran sebagai berikut :

a. Pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa. Guru menciptakan kondisi dan situasi yang memungkinkan siswa membentuk makna dari bahan – bahan pelajaran.

b. Siswa membangun pengetahuan secara aktif.

c. Pengajar perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa.

d. Pendidikan adalah interaksi pribadi diantara para siswa dan interaksi antara guru dan siswa.

Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar yang menuntut siswa aktif dalam membangun pengetahuan dan yang menuntut interaksi antar siswa dan interaksi antara guru dan siswa adalah dengan model cooperative learning.

Menurut Roger dan David Johnson (dalam Anita Lie, 2002:31) tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning. Karena dalam kerja kelompok guru biasanya membentuk kelompok lalu memberikan tugas kelompok tanpa rancangan tertentu yang dapat membuat setiap siswa menjadi aktif. Akibatnya, siswa ada yang bekerja aktif tetapi ada juga yang pasif, atau bahkan ada yang main-main atau ngobrol.

Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan. Lima unsur model pembelajaran gotong royong dalam cooperative learning, yaitu sebagai berikut.

a. Adanya saling ketergantungan positif antara anggota kelompok.

b. Adanya tanggung jawab perseorangan. Artinya, setiap anggota kelompok harus melaksanakan tugasnya dengan baik untuk keberhasilan tugas kelompok.

c. Adanya tatap muka, setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi.

d. Harus ada komunikasi antar anggota. Dalam hal ini siswa tentu harus dibekali dengan teknik berkomunikasi.

e. Adanya evaluasi proses kelompok, yang dijadwalkan dan dilaksanakan oleh guru.

Jika kita lihat cooperative learning sangat sesuai untuk mengubah paradigma lama mengenai proses belajar-mengajar yang bersumber pada teori. Apalagi kalau dikaitkan dengan berbagai life skill yang harus dikuasai siswa.

Umpamanya, dalam kecakapan berpikir rasional (thinking skill), siswa dituntut memiliki kecakapan menggali dan menemukan informasi, kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan serta kecakapan memecahkan masalah. Selain itu siswa pun dituntut untuk memiliki kecakapan sosial, termasuk kecakapan berkomunikasi dan bekerjasama. Di sinilah pentingnya peranan cooperative learning. 2. Model Cooperative Learning Teknik Jigsaw.

Teknik jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson dan diadaptasi oleh Slavin. Teknik jigsaw dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara. Teknik ini mengabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Teknik pembelajaran ini bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Matematika, Agama, dan bahasa. Teknik ini cocok untuk semua kelas/tingkatan.

Menurut Mel Silberman (2001:60) teknik jigsaw merupakan sebuah teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknik “ pertukaran dari kelompok ke kelompok ”(group- to-group exchange) dengan suatu perbedaan penting: setiap peserta didik mengajarkan sesuatu. Ini adalah alternatif menarik, ketika ada materi yang dipelajari dapat disingkat atau “dipotong” dan disaat tidak ada bagian yang harus diajarkan sebelum yang lain – lain. Setiap peserta didik mempelajari sesuatu yang dikombinasi dengan materi yang telah dipelajari oleh peserta didik lain, buatlah sebuah kumpulan pengetahuan yang bertalian atau keahlian

Dalam teknik jigsaw, guru memperhatikan latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan pengalaman agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan ketrampilan berkomunikasi.

Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompok yang lain. Dengan demikian, siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara cooperative untuk mempelajari materi yang ditugaskan.

Dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah tidaklah selalu berjalan dengan mulus meskipun rencana telah dirancang sedemikian rupa. Hal – hal yang dapat menghambat proses pembelajaran terutama dalam penerapan model Cooperative Learning Teknik Jigsaw diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Kurangnya pemahaman guru mengenai penerapan cooperative learning. b. Jumlah siswa yang terlalu banyak yang mengakibatkan perhatian guru

terhadap proses pembelajaran relatif sehingga hanya segelintir orang yang menguasai arena kelas, yang lain hanya sebagai penonton.

c. Kurangnya sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik cooperative learning.

e. Terbatasnya pengetahuan siswa akan sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.

Menurut Anita Lie (2002:69), agar pelaksanaan cooperative learning teknik jigsaw dapat berjalan dengan baik, maka diperlukan langkah – langkah sebagai berikut :

a. Guru membagi bahan pelajaran yang akan diberikan.

b. Sebelum bahan pelajaran diberikan, guru memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari itu. Guru bisa menuliskan topik di papan tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru.

c. Siswa dibagi dalam kelompok.

d. Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama, sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kedua. Demikian seterusnya. e. Kemudian, siswa disuruh membaca/mengerjakan bagian mereka masing –

masing.

f. Setelah selesai, siswa saling berbagi mengenai bagian yang dibaca/dikerjakan masing – masing. Dalam kegiatan ini, siswa bisa saling melengkapi dan berinteraksi antara satu dengan yang lainnya.

g. Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh kelas.

Jika tugas yang dikerjakan cukup sulit, siswa bisa membentuk kelompok para ahli. Siswa berkumpul dengan siswa lain yang mendapatkan begian yang sama dari kelompok lain. Mereka bekerja sama mempelajari/mengerjakan bagian tersebut. Kemudian, masing – masing siswa kembali ke kelompoknya sendiri dan membagikan apa yang telah dipelajarinya kepada rekan – rekan dalam kelompoknya.

3. Keunggulan dan kelemahan Model Cooperative Learning Teknik Jigsaw a. Keunggulan Model Cooperative Learning Teknik Jigsaw

Keunggulan Model Cooperative Learning Teknik Jigsaw diantaranya adalah:

1) Jigsaw secara tidak langsung membuat siswa berkomunikasi. Pada komunikasi tersebut tidak lepas dari proses tanya jawab. Dengan tanya jawab siswa menggali sesuatu dari ingatannya dan menyumbangkan pengetahuannya serta pengalamannya kepada orang lain. Pengetahuan baru yang diperoleh siswa sedikit demi sedikit membawa siswa mencapai pengetahuan maksimal.

2) Teknik Jigsaw akan memotivasi belajar siswa dan mengaktifkan siswa dalam mengikuti pelajaran.

3) Teknik Jigsaw akan membantu siswa lebih cepat mencerna isi dari materi pelajaran sehingga prestasi belajar siswa meningkat.

4) Teknik Jigsaw membentuk sikap siswa menjadi bijaksana, menghargai dan menerima pendapat orang lain, tidak mudah menyalahkan orang lain tanpa bukti atau data-data yang lengkap.

b. Kelemahan Model Cooperative Learning Teknik Jigsaw Kelemahan-kelemaham Teknik Jigsaw adalah sebagai berikut.

1) Apabila guru tidak merencanakan dengan baik, dimana setiap anggota kelompk aktif berpartisipasi dalam menyelesaikan tugas kelompok, kerjasama tidak akan berjalan baik.

2) Apabila bekerjasama dalam kelompok tidak sesuai dengan karakteristik pembelajaran dengan Teknik Jigsaw, maka Teknik Jigsaw ini akan menjadi penunggangan bebas. Hanya beberapa

anggota saja yang benar-benar memecahkan materi pelajaran untuk kelompoknya.

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan perencanaan sebagai berikut :

a. Permasalahan-permasalahan yang akan dipecahkan dalam kelompok merupakan tanggung jawab bersama dalam kelompok dan disamping itu juga guru sebaiknya memberikan tugas pada siswa secara individu.

b. Guru merencanakan tugas dengan baik yaitu dengan membuat lembar kegiatan siswa yang disusun untuk memperlancar dan mempermudah siswa memahami materi.

Dokumen terkait