BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
E. Keterbatasan Penelitian
Penulis menyadari bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan dalam proses penelitiannya, namun peneliti telah berusaha memberikan hasil yang baik dalam penyusunan akhir penelitian ini. Dengan adanya berbagai keterbatasan dalam penelitian yang dsebabkan oleh berbagai hal seperti jarak, waktu, tenaga dan juga biaya maka hasil penelitian perlu disempurnakan, berikut keterbatasan penelitian yang di alami oleh penulis :
Penelitian ini dilakukan pada 2 tahun pasca terjadinya tsunami, jarak yang ditempuh dari rumah peneliti ke lokasi penelitian yaitu desa Sumberjaya sekitar 4-5 jam menggunakan kendaraan sepedah motor dan cukup memakan waktu dan tenaga, karena kendaraan pribadi khususnya motor merupakan alternatif tercepat menuju desa Sumberjaya, namun hal tersebut cukup
memakan waktu dan tenaga sehingga sesampainya disana peneliti yang ditemani oleh seorang teman harus beristirahat terlebih dahulu.
Cuaca ketika peneliti sedang melakukan penelitian rupanya cukup tidak bersahabat, karena selama proses penelitian seringkali hujan, khususnya dimalam hari, sehingga beberapa kesempatan peneliti tidak bisa melakukan penelitian dengan waktu yang cukup berkualitas, selain itu peneliti memiliki keterbatasan waktu dimana penelitian tidak bisa melebihi waktu yang sudah disiapkan.
Selama proses observasi peneliti masih kebingungan bagaimana menghadirkan kegiatan-kegiatan yang tidak lain adalah untuk menghadirkan kondisi-kondisi tertentu sesuai dengan keadaan setiap anak dilihat dari kaca mata panduan yang menjadi jawaban dari satiap poin-poin observasi dari setiap anak yang menjadi objek penelitian, karena menjadi korban bencana alam merupakan guncangan yang cukup berat bagi setiap anak, dan jika peneliti menghadirkan sesuatu yang kurang tepat, maka dapat memicu hal-hal yang bisa kembali membuat anak teringat akan hal-hal mengerikan yang pernah dialaminya dimana dalam hal ini adalah tsunami. Sehingga peneliti hanya bisa menghadirkan jawaban yang menjadi poin-poin dalam observasi melalui proses wawancara yang dilakukan bersama orang tua maupun keluarga dari anak-anak yang menjadi korban selamat dalam tsunami di desa Sumberjaya pada 2 tahun lalu.
BAB V PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan untuk mengetahui Kondisi Psikologis Anak Usia 5-6 Tahun di Desa Sumberjaya-Sumur Pandeglang Pasca Tsunami Selat Sunda 2018, maka dapat disimpulkan beberapa hal yang dapat memberikan gambaran kondisi psikologis anak :
1. Anak-anak di desa Sumberjaya masih memiliki ingatan mengenai peristiwa menakutkan dan traumatis yaitu tsunami yang tepat terjadi pada tanggal 22 Desember 2018 lalu.
2. Beberapa perilaku anak-anak menunjukkan gambaran kondisi psikologis anak-anak usia dini di desa Sumberjaya, dimana beberapa perilaku ini meupakan bentuk respon dan juga memori yang masih teringat. Anak-anak kerap kali merasa takut, was-was, kaget, menangis, muntah serta memiliki perasaan bahwa sesuatu yang buruk akan kembali terjadi seperti tsunami pada 2018 lalu umumnya dipicu oleh beberapa kejadian alam dan juga kejadian non alam.
3. Beberapa kejadian alam yang membangkitkan rasa khawatir anak-anak usia dini di desa Sumberjaya adalah mati lampu, suara gemuruh dari gunung, suara angin, dan juga ketika hujan deras. Selain itu terdapat juga faktor non alam seperti teriakan, dan kerumunan juga dapat memicu rasa takut karena memberikan ingatan terhadap tsunami yang penah dialami anak-anak di desa Sumberjaya pada 2 tahun lalu. Selain itu terdapat anak-anak yang mengalami gangguan tidur pada malam hari, serta mimpi buruk mengenai tsunami juga masih dialami oleh anak usia dini di desa Sumberjaya.
B. Implikasi
Berdasarkan simpulan diatas, terdapat beberapa hal yang harus dilakukan sebagai bentuk implikasi dalam memberikan dukungan secara
psikologis kepada anak-anak dan juga orang tua, dimana hal ini bertujuan agar kondisi mental anak-anak dan juga orang tua yang menjadi korban bencana alam tsunami di selat sunda dapat kembali pulih dan sehat secara fisik maupun mentalnya. Mengingat kesehatan mental dapat mempengaruhi kesehatan lain dalam diri setiap orang. Maka perlu dilakukan penanganan seperti trauma helaing serta pengawasan yang tepat dan juga berskala yang ditujukan kepada anak-anak dan juga kepada para orang tua dan keluarga yang juga menjadi korban dalam bencana tsunami di selat sunda pada 2018 lalu.
Mengingat penanganan seperti trauma healing di desa Sumberjaya masih sangat minim dilakukan secara mendalam, dan juga berskala maka hal tersebut perlu dilakukan untuk mengembalikan reseliensi setiap korbannya, terlebih anak-anak yang menjadi salah satu makhluk rentan dengan serangan seperti bencana alam, sehingga menyebabkan kondisi pskikologisnya menjadi terganggu, dimana hal tersebut juga dapat mempengaruhi perkembangan-perkembangan lain pada diri anak.
C. Saran
Berdasarkan penelitian mengenai “Kondisi Psikologis Anak Usia 5-6 Tahun Di Desa Sumberjaya-Sumur Pandeglang Pasca Tsunami Selat Sunda 2018”, maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
1. Bagi pemerintah setempat
a. Diharapkan bagi pemerintah setempat turut fokus dalam pemulihan fisik dan juga psikis korban bencana alam.
b. Mengadakan pemulihan psikis secara berskala dan menyeluruh bagi warganya yang menjadi korban, salah satunya adalah anak usia dini.
c. Mengadakan kegiatan trauma healing untuk meningkatkan resiliensi, baik untuk orang tua, masyarakat dan juga anak usia dini yang menjadi korban.
2. Bagi masyarakat/keluarga korban anak usia dini
Bagi masyarakat yang memiliki anak usia dini diharapkan lebih memperhatikan perkembangan psikologis anak pasca terjadinya bencana alam, jika terdapat hal-hal yang salah dan menyimpang dari perkembangannya pasca bencana alam, orang tua dan masyarakat diharapkan menerapkan kerjasama untuk melakukan kegiatan trauma helaing sebagai wujud dari proses resiliensi anak, agar tidak mengganggu perkembangan lain pada setiap anak usia dini yang menjadi korban bencana alam.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Untuk peneliti selanjutnya diharapkan agar melakukan strategi, cara dan literatur yang lebih mendalam guna mendapatkan hasil penelitian yang lebih lanjut mengenai gambaran kondisi psikologis anak usia 5-6 tahun pasca terjadinya bencana alam.
Daftar pustaka
Supriono, Primus. Seri Pendidikan Pengurangan Resiko Bencana Tsunami.
Yogyakarta: C.v Andi Offset, 2015.
Asiah, Nur. Besahabat dengan bencana Tsunami. Jakarta : PT Mediantara, 2014.
Mashar, Riana. Emosi Anak Usia Dini dan Strategi Pengembangannya. Jakarta:
Kencana, 2011.
Pusparini, Sari. Tsunami. Bandung: PT. Remaja Rosda karya, 2011.
Nugraha, Ali., dan Rachmawati, Yeni. Metode Pengembangan Sosial Emosional. Jakarta: Universitas Terbuka, 2004.
Anggito, Albi,. dan Setiawan, Johan. Metodologi penelitia kualitatif. Jawa barat : CV Jejak, 2018.
Fitrah,. Muh. dan Luthfiyah. Metodologi Penelitian Penelitian kualitatif.
tindakan kelas & studi kasus. Jawa barat: CV Jejak: , 2017.
Raco, J.R. Metode penelitian Kualitatif (jenis, karakteristik, dan keunggulan).
Jakarta: PT Grasindo, 2010.
Yusuf, Muri. Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan penelitian gabungan.
Jakarta: Kencana, 2014.
Helaluddin dan Wijaya, Hengki . Analisis data kualitatif sebuah tinjauan teori dan praktik. Makassar: Sekolah tinggi theologia Jaffray, 2019.
Ali Nugraha, Yeni Rachmawati. Metode Pengembangan Sosial Emosional.
Jakarta : 2004 (Universitas Terbuka).
Yudrik Jahja. Psikologi Pekembangan. (Kencana : 2011).
Kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak republik indonesia: Buku panduan dukungan psikososial bagi anak korban bencana alam, (www.kemenpppa.go.id) diakses pada 7 november 2019 Hasanudin dkk., Gambaran Resiliensi Anak Usia Sekolah Pasca Gunung
Kelud. Pediomaternal nursing journal. 5, 2019.
Peek, Lori. Children and Disasters: Understanding Vulnerability, Developing Capacities, and Promoting Reselience-An Introduction. Journal children, youth and environment. 18 (1), 2008
Norris et. al. “60.000 disaster victims speak: Part I. An Empirical review of the empirical literature, 1981-2001”. Psychiatry. 65 (3), 2002.
Elfi Rimayati. Konseling Traumatik Dengan CBT : Pendekatan Dalam Mereduksi Trauma Masyarakat Pasca Bencana Tsunami Di Selat Sunda.
Indonesian Journal Of Guidance and Counseling: Theory and Aplication. 8(1), 2019.
Zurriyatun Thoyibah, Gambaran dampak kecemasan dan gejala psikologis pada anak korban bencana gempa bumi di Lombok. Journal of holistic nursing and health science. 2(1), 2019.
Putri Taliningtyas, “Pemulihan Trauma Terhadap Perilaku Emosi Anak Usia Dini Pasca Bencana Tanah Longsor di Dusun Jemblung Desa Sampang Kecamatan Karangkobar Kabupaten Banjar Negara”, Skripsi UNNES : 2017.
Hayatul Khairul Rahmat, Desi Alawiyah. Konseling Trauma: Sebuah Strategi Guna Mereduksi Dampak Psikologis Korban Bencana Alam. Jurnal mimbar: media intelektual muslim dan bimbingan rohani. 6, 2020.
Isabella Hasiana. Metode bercerita sebagai upaya pemulihan trauma pasca bencana pada anak usia dini. Jurnal bikotetik. 03, 2019.
Ulfah Nur Hanifah, Arum Pratiwi. Gambaran kecemasan anak dengan post traumatic stress disorder sebagai dampak bencana alam angin puting beliung. Jurnal ilmu keperawatan jiwa. 3(02), 2020.
KEMENPPARI, buku panduan dukungan psikososial bagi anak korban bencana alam.
NS. Nurhalimah. Keperawatan Jiwa. Kementrian kesehatan republik indonesia.
Jakarta Selatan Desember 2016
Cicilia Tanti Utami. Avin Vadilla Helmi. Self-Efficacy dan resiliensi: sebuah tinjauan meta-analisis. Buletin Psikologi. 25, 2017.
Ifdil & Taufik. Urgensi peningkatan dan pengembangan resiliensi siswa di sumatera barat. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. XII, 2012.
Nurul Hartini, “Bencana Tsunami Dan Stres Pasca-Trauma Pada Anak”. Jurnal masyarakat, kebudayaan dan politik. 22 , 2009.
Katalog Tsunami Indonesia 2018. https://cdn.bmkg.go.id, 13 oktober 2019.
Fuad Nashori, “Refleksi psikologi terhadap bencana gempa dan tsunami aceh”.
https://media.neliti,com, 08 januari 2021
tsunami selat sunda 2018.
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tsunami_Selat_Sunda_2018/. 5 Oktober 2019
LAMPIRAN 1 SURAT KETERANGAN
PENELITIAN
LAMPIRAN 2 REDUKSI INSTRUMEN
PENELITIAN
Reduksi Instrumen Penelitian
Kondisi Psikologis Anak Usia 5-6 Tahun Di Desa Sumberjaya-Sumur Pandeglang Pasca Tsunami Selat Sunda 2018
Fokus Sub Fokus Indikator Kode
Kondisi
mengenai hal
siklus tidur anak saat ini dan
anak merasa ML-ZN(Zahdan) M 04:50
was-was
terhadap bahaya yang mungkin mengancamnya atau orang-orang
terdekatnya
SJ- OZ (Ozil) M 13:25 UP-AK (Avika) M 07:08 SH-AZ (Azka) M 11:34,
M 04:27 EI-FA (Faud) M 08:05 SH-AZ (Azka) M 07:50 MY-RZ (Rizal M 08:00
anak mudah kaget atau terperanjat dengan sesuatu yang tidak diharapkan
UP-AK (Avika) M 06:57, M 08:47 SH-AZ (Azka) M 07:50
EI-FA (Faud) M 08:05 ML-ZN (Zahdan) M
02:39 SJ-OZ (Ozil) M 13:25 SS-AA (Aufa) M 03:09 MY-RZ (Rizal) M 02:10,
AD-M 02:09 H- E t 07:26
LAMPIRAN 3 DOKUMENTASI
PENELITIAN
Foto saat wawancara (sumber pribadi peneliti)
CD4. 03 data perangkat desa CD4. 04 Peta lokasi
CD4. 05 Struktur organisasi desa CD4. 06 Perizinan kepada kepala desa
CD4. 07 Wawancara AK dan UP CD4. 08 Wawancara FA dan EI
CD4.08 Wawancara dengan AZ dan SH CD4. 09 Wawancara dengan E dan H
CD4. 10 Wawancara dengan AA dan SS CD4. 11 Wawancara dengan RZ dan MY
CD4. 12 Wawancara dengan OZ dan SJ CD4. 13 Rumah OZ
CD4. 14 Wawancara dengan ZN CD4. 15 Wawancara dengan ML
LAMPIRAN 4 HASIL WAWANCARA SUBJEK PENELITIAN
1. Zahdan
Pedoman Observasi Anak
Kondisi Psikologis Anak Pasca Terjadinya Tsunami
No Pengamatan Jawaban
1 Apakah anak masih mengingat kejadian yang menakutkan mengenai peristiwa traumatis yang dialaminya
Ya, hal ini diungkapkan oleh ibu dari ZN, dimana pada menit ke
Dimenit 03.30 “pernah kebawa mimpi pernah cerita pernah cerita tsunami”
3 Apakah terkadang anak bertindak atau merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kembali
Ya, hal ini ditegaskan oleh ibu ZN pada menit ke menit 04:50
“kalo ada apa-apa langsung lari tuh, kemaren aja ya pass orang-orang pada itu teriak-teriak ya, lari diamah sama neneknya.
Saya mah disini diamah lagi nginep sama nenek lari kesana ngungsi pas kemaren itu” . 4 Apakah anak merasa marah
apabila diingatkan kembali mengenai hal buruk yang pernah cuman kalo ada mati lampu gitu tuh kalo ada gempa itumah baru takut diamah”
5 Bagaimana rekasi tubuh anak bila mengingat kembali kondisi buruk yang pernah dialaminya
Reaksi tubuh anak bila mengingat kejadian tsunami dua tahun lalu biasanya disebabkan oleh beberapa hal seperti yang di katakan oleh ibu ZN pada menit ini dan pasca terjadinya tsunami
Menit 02:39 “sekarang tuh kalo ada yang teriak-teriak gitu waa waktu tidur juga banguun kaget, masih aja gitu “ dan pada menit ke 03.15 “pas kesini lagi itu kalo mati lampu tu panik dianya pergi aja gitu ngungsi ketakutan itu”
Dulu waktu dipengungsian pada menit 02:23 “waktu dulu mah kalo kaya ada suara gemuruuh gituu bangun, iyaa kaget kalo ada orang-orang yang teriak kageet gitu”
7 Bagaimana konsentrasi ketika mengobrol
Meurut hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti melalui proses wawancara, ketika mengobrol bersmana, ZN merupakan anak yang pemalu ketika bertemu dengan orang baru, oleh karenanya sesekali diarahkan oleh ML (ibu ZN)
Pedoman Wawancara dengan Orang Tua dalam Perkembangan Emosi Anak Pasca Terjadinya Tsunami
ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peneliti.
8 Apakah anak merasa was-was terhadap bahaya yang mungkin mengancamnya atau orang-orang terdekatnya
Ya, hal ini ditegaskan oleh ibu ZN pada menit ke menit 04:50
“kalo ada apa-apa langsung lari tuh, kemaren aja ya pass orang-orang pada itu teriak-teriak ya, lari diamah sama neneknya.
Saya mah disini diamah lagi nginep sama nenek lari kesana ngungsi pas kemaren itu” . 9 Apakah anak mudah kaget atau
terperanjat dengan sesuatu yang tidak diharapkan
Ya, diungkapkan oleh ibu ZN pada menit ke menit 02:39
“sekarang tuh kalo ada yang teriak-teriak gitu waa waktu tidur juga banguun kaget, masih cuma badannya aja gemeteran”
Psikologis Anak Pasca Tsunami 2018
Apakah anak merasa marah dengan terjadinya bencana ini?
Tidak, pada menit ke 04.27 “diamah perasaan kaya gitu mah ngga ada, tuhan, lalu berdo’a kepada tuhan agar bencana ini tidak terjadi lagi? atau kesedihan yang teramat dalam akibat tsunami yang menghilangkan kebahagiaan atau bahkan orang-rang terkasihnya?
Ketika bencana terjadi ZN mengalami ketakutan dengan mengeluarkan reaksi badan gemetaran, seperti yang diungkapkan oleh ML dimenit 02:52
“ketakutan juga diem aja diamah cuma badannya gemeteran”
Pedoman Wawancara dengan Anak dalam Kondisi Psikologis Pasca Terjadinya Tsunami
Apakah anak
akhirnya dapat menerima dan ikhlas atas bencana yang terjadi?
Dari hasil pengamatan yang dilakukan peneliti, anak sudah dapat
menerima dengan
bencana yang terjadi,
namun ZN masih
Kegiatan apa yang paling disukai?
6 hal tidak menyenagkan apa
yang pernah
dialami?
d. Kejadian apa?
e. Kapan?
f. Apa yang
dirasakan?
Tidak suka ketika tidak dikasih jajan
2. OZIL
Pedoman Observasi Anak
Kondisi Psikologis Anak Pasca Terjadinya Tsunami
No Pengamatan Jawaban
1 Apakah anak masih mengingat kejadian yang menakutkan mengenai peristiwa traumatis yang dialaminya
Masih, dijeskan oleh ibu OZ pada menit ke 08:35 “masih ada, itu mah masih ada apalagi si ozil mah sering ngimpi maa ozil ngimpi tsunami gitu hee dia” dan pada menit ke 08:42
“iyaa masih masih ngerasa sering ngimpi kaya gitu, terus kalo ada ombak ngegulung kalo malam yaah udah diamah ma suara apa ini”
2 Apakah anak memimpikan hal yang buruk mengenai apa yang terjadi
Masih, dijeskan oleh ibu OZ pada menit ke 08:35 “masih ada, itu mah masih ada apalagi si ozil mah sering ngimpi maa ozil ngimpi tsunami gitu hee dia” dan pada menit ke 08:42
“iyaa masih masih ngerasa sering ngimpi kaya gitu, terus kalo ada ombak ngegulung kalo malam yaah udah diamah ma suara apa ini”
3 Apakah terkadang anak bertindak atau merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kembali
Ya, ditegaskan pada menit ke 08:42 “iyaa masih masih ngerasa sering ngimpi kaya gitu, terus kalo ada ombak
ngegulung kalo malam yaah udah diamah ma suara apa ini”
4 Apakah anak merasa marah apabila diingatkan kembali mengenai hal buruk yang pernah dialaminya
Reaksi anak ketika mengingat hal yang pernah dialaminya bukan lah marah, namun lebih ke perasaan takut bahwa hal buruk akan terjadi kembali, seperti yang diungkapakan oleh ML ibu OZ pada menit ke 13:25 “tapi kalo lagi ngaji mati lampu udah hehehe pada lari hehe kalo mati lampu lagi ngaji maa heee udah kalo mati lampu diii sini didepan rumah ajah hehee”
5 Bagaimana reaksi tubuh anak bila mengingat kembali kondisi buruk yang pernah dialaminya
Ketika mengingat kembali kondisi buruk yang pernah dialami OZ, biasanya dipicu oleh beberapa kejadian seperti ketika mati lampu, hujan deras ataupun suara gemuruh ombak, biasanya OZ menampilkan reaksi ketakutan karena pernah mengalami kejadian tsunami yang ditandai oleh beberapa penyebab diatas.
6 Bagaimana siklus tidur anak saat ini dan pasca terjadinya tsunami
Siklus tidur saat ini dijeskan oleh ibu OZ pada menit ke 13:25 “k kalo mati lampu di sini didepan rumah ajah
hehee” gamau ditinggal malahan pas ada tsunami saya satu bulan ngga kesini-kesini soalnya ini masih troma gitu anak dicibaliung ngungsi”
7 Bagaimana konsentrasi ketika mengobrol
OZ merupakan anak yang cukup interaktif ketika diajak mengobrol bersama peneliti, hal ini dapat di dengar dari proses wawancara yang dilakukan bersama OZ, walaupun sesekali memang harus didahulukan oleh SJ ibu OZ.
8 Apakah anak merasa was-was terhadap bahaya yang mungkin mengancamnya
atau orang-orang
terdekatnya
Menit 13:25 “tapi kalo lagi ngaji mati lampu udah hehehe pada lari hehe kalo mati lampu lagi ngaji maa heee udah kalo mati lampu diii sini didepan rumah ajah hehee”
9 Apakah anak mudah kaget atau terperanjat dengan sesuatu yang tidak diharapkan
OZ akan merasa kaget bila terjadi beberapa hal seperti mati lampu, seperti yang diungkapkan oleh ibu OZ pada menit ke 13:25 “tapi kalo lagi ngaji mati lampu udah hehehe pada lari hehe kalo mati lampu lagi ngaji maa heee udah kalo mati lampu diii sini didepan rumah ajah hehee”
Pedoman Wawancara dengan Orang Tua dalam Perkembangan Emosi Anak Pasca Terjadinya Tsunami
No Fokus apa ini ada apa, terus saya bilang ada ombak gede
Menit 12:37 “tadinya tadinya ngga terima rumahnya ilang, nangis terus dia sehari dua hari mah, terus dinasehatin aja sama bapaknya bilang udang ngga apa-apa inimah musibah bukan
kita doang gitu bilangnya banyak gitu ada juga yang meninggal paling tuhan, lalu berdo’a kepada tuhan agar bencana ini tidak terjadi lagi?
Tidak, tindakan yang anak lakukan adalah berdoa kepada tuhan seperti yang diungkapakan oleh ibu OZ dimenit 09:31 “pernah ee yaa ozil yaa bilang gitu kalo lagi kalo lagi kalo dimenit 06:12 “takuuut terus ee mukanya pucet terus bapa-bapaan hee manggil bapa kan ngga ada bapanya kena ombak lagi dilaut”, dan hingga kini anak juga masih sering memiliki perasaan takut yang disebabkan oleh beberapa hal seperti mati lampu, angin kecang maupun ketika hujan
Pedoman Wawancara dengan Anak dalam Kondisi Psikologis Pasca Terjadinya Tsunami
deras, karena anak masih merasa bahwa hal mengerikan akan terjadi lagi.
Apakah anak
akhirnya dapat menerima dan ikhlas atas bencana yang terjadi?
Menit 13:00 “iyaa” SS sudah menerima bencana yang sudah terjadi, namun ingatannya masih kuat tentang bencana tsunami saat di picu oleh beberapa hal seperti mati lampu, angin kencang, maupun ketika hujan deras.
Kegiatan apa yang paling disukai?
4 Film atau cerita kesukaan?
Menit ke 18:58
“ultramen”
5 Hal menyenangkan
apa saja yang pernah dialami?
g. Kejadian apa?
h. Kapan?
i. Apa yang dirasakan?
Menit ke 19:16 “Main”
Menit ke 19:47 “resep (senang)
6 hal tidak
menyenagkan apa yang pernah dialami?
g. Kejadian apa?
h. Kapan?
i. Apa yang dirasakan?
Menit ke 19:58 “tsunami”
Menit ke 20:08 “inget”
20:42 “sien (takut)
3. Avika
Pedoman Observasi Anak
Kondisi Psikologis Anak Pasca Terjadinya Tsunami
No Pengamatan Jawaban
1 Apakah anak masih
mengingat kejadian yang menakutkan mengenai peristiwa traumatis yang dialaminya
Ketika ditanya apa yang dirasakan ketika mengingat kejadian dulu AK menjawab menit ke 06:38 “takuut”
2 Apakah anak memimpikan hal yang buruk mengenai apa yang terjadi
Menit ke 06:18 “ngga, mimpi hantu doang”
3 Apakah terkadang anak bertindak atau merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kembali
Ya, hal ini diungkapkan oleh ibu AK di menit ke 06:57 ibu AK menjelaskan bahwa ketika ada mati lampu, suara gemuruh, suara teriakan “heeuh iyaa heeuh iyaa pasti pada ngejerit”
4 Apakah anak merasa marah apabila diingatkan kembali mengenai hal buruk yang pernah dialaminya
Tidak, respon yang
diungkapkan AK ketika mengingat kembali kejadian dulu adalah takut, ditegaskan oleh AK pada menit ke 06:38
“takuut” yang dipicu oleh beberapa hal seperti mati lampu, suara ombak yang kekcang seperti diungkapkan oleh ibu AK di menit ke 06:57 ibu AK menjelaskan bahwa
ketika ada mati lampu, suara gemuruh, suara teriakan “heeuh iyaa heeuh iyaa pasti pada ngejerit”
5 Bagaimana rekasi tubuh anak bila mengingat kembali kondisi buruk yang pernah dialaminya
Respon yang diungkapkan AK ketika mengingat kembali kejadian dulu adalah takut, ditegaskan oleh AK pada menit ke 06:38 “takuut”
6 Bagaimana siklus tidur anak saat ini dan pasca terjadinya tsunami
Dulu menit 07:32 “banguun heeh gitu” saat ini di menit 07:37 “ngga sih tidur mah heeh”
7 Bagaimana konsentrasi ketika mengobrol
Dilihat dari proses wawancara dengan AK, ketika mengobrol AK sangat komunikatif walaupun adad beberapa yang harus dibantu oleh ibu AK yang kemudian ditegaskan lagi oleh AK dari pernyataan yang diungkapakn oleh ibu AK 8 Apakah anak merasa
was-was terhadap bahaya yang mungkin mengancamnya
was-was terhadap bahaya yang mungkin mengancamnya