BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Temuan penelitian
Setelah data-data yang dibutuhkan telah dikumpulkan baik melalui proses observasi, wawancara maupun dokumentasi, maka selanjutnya adalah masuk pada tahap menganalisa hasil temuan yang telah didapatkan tentang
1 UP-AK (Avika) M 06:57, M 08:47
2 SH-AZ (Azka) M 07:50
3 EI-FA (Faud) M 08:05
4 ML-ZN (Zahdan) M 02:39
5 SJ-OZ (Ozil) M 13:25
6 SS-AA (Aufa) M 03:09
7 MY-RZ (Rizal) M 02:10, AD-M 02:09
8 H- E t 07:26
bagaimana kondisi psikologis anak usia 5-6 tahun di desa Sumberjaya-Sumur Pandeglang pasca tsunami Selat Sunda 2018.
Seperti yang telah dijelaskan pada proses analisis data, dimana metode yang digunakan adalah metode kualitatif, yang artinya berbagai hasil temuan yang telah dioleh kemudian di deskripsikan secara mendalam dan menyeluruh terkait dengan kondisi psikologis anak usia 5-6 tahun di desa Sumberjaya-Sumur Pandeglang pasca tsunami Selat Sunda 2018 melui berbagai pengumpulan data baik observasi, wawancara maupun dokumentasi, dimana beberapa temuan tersebut adalah sebagai berikut :
a. anak masih mengingat kejadian yang menakutkan mengenai peristiwa traumatis yang dialaminya
Saat peneliti melakukan proses observasi dan juga wawancara baik bersama orang tua maupun dari anak-anak di desa Sumberjaya yang menjadi korban benacan alam tsunami, peneliti menemukan terdapat 3 anak-anak sedang bermain bersama teman-temannya di sekitaran pantai sebelum akhirnya dipanggil oleh salah satu ibu yang menjadi respoden dalam penelitian.
Selain itu terdapat 1 anak yang sedang memancing didekat rumahnya yang dekat dengan muara (aliran air menuju laut), 2 orang anak sedang berada dirumahnya, dan satu anak sedang bermain diteras rumah bersama temannya.
b. Anak memimpikan hal yang buruk mengenai apa yang terjadi
Saat melakukan proses observasi dan juga wawancara, peneliti menemukan catatan lapangan dimana terdapat 3 anak yang masih bertahan untuk tinggal dirumahnya yang dekat dengan muara (aliran air menuju laut), dan 3 anak tetap memilih tinggal dirumahnya walaupun jaraknya lebih jauh dari muara dan juga pesisir pantai namun suara ombak maupun gemuruh masih tetap terdengar hal, dan 2 anak memilih pindah ke tempat yang lebih aman dari pesisir pantai, selain itu memang rumahnya jugasudah hancur
ketika tsunami terjadi, pilihan lain juga dikarenakan anak masih memiliki memori yang buruk mengenai tsunami yang pernah dialaminya
c. Terkadang anak bertindak atau merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kembali
Peneliti menemukan beberapa temuan dimana umunya anak-anak masih merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kembali seperti tsunami yang mereka alami pada 2018 lalu, tidak jarang juga anak akan melakukan tindakan antisipasi seperti dengan pergi ketempat yang mereka rasa lebih aman. Namun saat proses observasi berlangsung, anak-anak sedang berada dalam kegiatannya masing-masing dimana terdapat anak yang sedang bermain klereng bersama, memancing, main di teras rumah, dan juga terdapat anak yang sedang duduk santai bersama dengan keluarganya diteras rumah.
d. Anak merasa marah apabila diingatkan kembali mengenai hal buruk yang pernah dialaminya
Peneliti menemukan beberapa temuan ketika melakukan proses wawancara bersama orang tua maupun keluarga dimana saat mengamati anak-anak yang mendengarkan percakapan peneliti bersama orang tuanya, tidak ada respon atau ekspresi marah dari setiap anak-anak yang diteliti oleh peneliti.
e. Rekasi tubuh anak bila mengingat kembali kondisi buruk yang pernah dialaminya
Saat melakukan kegiatan observasi dilapangan, yang peneliti dapat temukan mengenai reaksi tubuh anak ketika mengigat kondisi buruk yang mereka alami melalui proses wawancara bersama ibu, keluarga maupun anak-anak yang menjadi objek penelitian, dimana semua anak-anak-anak-anak sudah mengetahui bahwa peneliti sedang melakukan wawancara mengenai tsunami ketika mereka menyaksikan ibu mereka diwawancarai oleh peneliti, dan mereka dengarkan juga bagaimana ibu mereka bercerita, dapat dilihat bahwa anak tidak menunjukkan reaksi selain diam sambil memperhatikan
bagaimana proses wawancara kami berlangsung. Tidak jarang juga anak mengobrol bersama teman-temannya yang bersama mereka.
f. Bagaimana siklus tidur anak saat ini dan pasca terjadinya tsunami Selama proses observasi lapangan, peneliti menemukan temuan dimana ketika proses observasi dilakukan anak-anak sedang dalam kondisi bermain, melakukan aktivitasnya dirumah, maupun disekitar rumahnya. Selain itu ketika malam hari sebagian anak mempunyai jadwal tetap yaitu mengaji, namun bila kondisi cuaca tidak mendukung seperti hujan, maka anak mapun orang tua lebih memilih dirumah dan juga terjaga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang mereka alami
g. Bagaimana konsentrasi ketika mengobrol
Melihat dan mendengar proses wawancara yang dilakukan bersama anak-anak yang merupakan korban selamat dalam tsunami yang terjadi pada 2 tahun lalu di desa Sumberjaya, peneliti menemukan beberapa temuan dimana dalam berkomunikasi banyak dari mereka cukup komunikatif ketika proses wawancara berlangsung meskipun terdapat beberapa anak yang juga perlu dibantu dan diarahkan oleh ibunya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti mengenai pernyataannya, selain itu peneliti juga menemukan satu anak yang merasa canggung ketika berbicara dengan orang baru seperti peneliti, bahkan peneliti harus menunda proses wawancara karena mendapati anak yang sedikit enggan dan malu berbicara dengan orang baru.
h. Apakah anak merasa was-was terhadap bahaya yang mungkin mengancamnya atau orang-orang terdekatnya
Saat melakukan kegiatan penelitian dilapangan, peneliti menemukan beberapa temuan dimana pasca terjadinya tsunami anak-anak bermain tidak jauh dari sekitar rumahnya, selain itu terdapat anak-anak yang memilih bermain didalam maupun didepan rumahnya saja bersama kakak, keluarga
dan juga teman-temannya, selain itu peneliti menemukan temuan dimana anak akan merasa was-was apabila cuaca disekitar rumahnya tidak mendukung seperti ketika hujan, suara angin kencang maupun ketika mati lampu.
i. Apakah anak mudah kaget atau terperanjat dengan sesuatu yang tidak diharapkan
Saat melakukan penelitian lapangan di desa Sumberjaya, peneliti tidak menemukan dimana anak-anak memperlihatkan reaksi kaget ataupun terperanjat karena sesuatu hal apapun, jadi peneliti tidak menemukan secara langsung apakah anak mudah terperanjat ataupun kaget. Namun jika dilihat dari keterangan orang tua biasanya anak akan merasa kaget jika terdapat beberapa kejadian yang mengingatkan mereka dengan kejadian mengerikan dulu yang pernah dialaminya seperti ketika mati lampu, gemuruh angin, suara gemuruh gunung anak krakatau, bahkan saat ini ketika turun hujan juga membuat anak kembali mengingat dan memikirkan hal buruk akan kembali terjadi.