BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
F. Pengecekan Keabsahan Data
Upaya untuk mendapatkan hasil penelitian yang teruji keabsahan datanya, maka peneliti harus melakukan teknik dalam melakukan pemeriksaan keabsahan data. Moloeng menjabarkan beberapa teknik-teknik dalam melakukan pengecekan keabsahan data, dijabarkan dalam tabel dibawah ini:78
Tabel 3.5
Kriteria Teknik penelitian
Kredibilitas
1) Perpanjangan keikutsertaan 2) Ketekunan pengamatan 3) Tringulasi
77 Ibid., h. 409.
78 Helaluddin., Hengki Wijaya. Analisis data kualitatif sebuah tinjauan teori dan praktik, (Sekolah tinggi theologia Jaffray: Makassar, 3019) , h. 133
4) Kecukupan referensial
Dari beberapa teknik-teknik yang telah disebutkan diatas untuk melakukan sebuah pengujian keabsahan data maka dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan teknik kredibilitas (credibility). Dalam penelitian kualitatif, kredibilitas merupakan instrumen yang dipergunakan dan hasil pengukuran yang dilakukan menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Teknik pengujian ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara sebagai berikut:
1. Perpanjangan keikutsertaan (proloned engagement)
Penelitian akan melakukan penelitian secara berkala dan menyeluruh, dimana penggalian data akan dilakukan secara mendalam hingga memperoleh data dan fakta yang dicari dari berbagai macam data maupun partisipan yang terlibat dalam penelitian.
Perpanjangan keikutsertaan ini memberikan waktu kepada peneliti untuk melakukan peninjauan ulang kelapangan dari data yang telah dianalisis dan dari beberapa kategori penelitian yang sudah dirumuskan, peninjauan atau penambahan waktu berada dilapangan ini dilakukan untuk mengecek apakah data yang sudah didapatkan peneliti benar-benar sesuai dengan kondisi anak-anak yang dalam penelitian ini merupakan korban bencana alam tsunami di desa Sumberjaya-Sumur Pandeglang.
2. Ketekunan pengamatan (persistent engagement atau observation)
Dalam melakukan penelitian, peneliti anak melakukan penelitian dengan sebaik mungkin untuk menghasilkan penelitian yang baik dan berkualitas. Oleh karena itu peneliti anak melakukan penelitian ini dengan gigih baik dalam mendapatkan data yang rinci dan mendalam dari dampak tsunami bagi perkembangan emosi yang dialami oleh anak-anak di desa Sumberjaya-sumur pandeglang.
Dengan demikian ketekunan dan kegigihan memiliki arti dimana peneliti melakukan pengamatan yang cermat dan berkesinambungan sehingga peneliti akan mengumpulkan dan mendapatkan data yang benar, aktual, akurat, dan lengkap (BAAL).79
3. Tringulasi
Pemeriksaan ulang data dapat dilakukan sebelum dan atau sesudah data dianalisis. pemeriksaan dilakukan untuk meningkatkan dan juga akurasi data. Dimana peneliti akan menggunakan metode tringulasi sumber. Selain melakukan pengematan pada anak yang menjadi korban tsunami di desa Sumberjaya-Sumur Pandeglang.
Peneliti juga akan melakukan penggalian informasi melalui partisipan yang lain yaitu orang tua dari anak yang merupakan korban dari bencana alam tsunami di desa Sumberjaya-Sumur Pandeglang untuk mendapatkan informasi secara lisan dari orang tua anak yang menjadi korban bencana alam tsunami di desa Sumberjaya-Sumur Pandeglang.
4. Kecukupan referensi
Dalam penelitian ini, kecukupan referensi dapat membantu dalam menggambarkan data, memperkuat data dan juga hasil penelitian, melalui alat bantu seperti kamera, untuk mendoumentasikan berbagai macam keadaan maupun kejadian-kejadian dalam penelitian yang memerlukan bukti berupa foto, rekaman maupun video dalam melakukan penelitian kepada partisipan, maupun data-data lainnya yang dapat menambah dan memperkuat referensi mengenai dampak tsunami bagi perkembangan emosi yang dialami oleh anak-anak di desa Sumberjaya-Sumur Pandeglang.
79 Helaluddin., Hengki Wijaya. Analisis data kualitatif sebuah tinjauan teori dan praktik.Sekolah tinggi theologia Jaffray (Makassar : 3019) h. 135
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
1. Karakteristik sumber penelitian a. Profil Desa
1) Sejarah
Pada awalnya desasumberjaya merupakan bagian dari Desa Cigorondong Kecamatan Cimanggu. Namun berjalannya waktu, tepatnya pada tahun 1980 Kecamatan Cimanggu melakukan pemekaran menjadi 2 kecamatan, yaitu : Kecamatan Cimanggu dan Kecamatan Sumur. Beriringan dengan terbentuknya kecamatan Sumur, maka terbentuk juga Desa Sumberjaya. Sampai saat ini Desa Sumberjaya telah mengalami pergantian kepala desa dalam beberapa periode sebagai berikut :
a) 1988 s/d 1996 : Didi Humaedi b) 1966 s/d 2004 : M. Sukri c) 2004 s/d 2010 : Amad d) 2015 s/d sekarang : Siti Wahyuni 2) Struktur Organisasi
Gambar 4.1 Gambar 4.2
b. Informasi partisipan
Dalam penelitian ini partisipan sebanyak 18 orang yang terdiri dari 8 anak dan 8 orang ibu dari anak yang menjadi partisipan. Informasi penelitian dan partisipan dijabarkan dalam bab ini agar pembaca dan penguji dapat memahami situasi, kondisi serta hasil dari penelitian ini.
Tabel 4.1
No Kode L/P Keterangan
1. ZN L ZN merupakan seorang pasrtisipan yang berusia 7 tahun, anak yang akrab di panggil Zahdan ini bersekolah di SDN Sumberjaya 1 kelas 2 SD. Ibunya zahdan yang juga partisipan ini diberi kode ML merupakan seorang ibu rumah tangga yang berusia 30, tahun tinggal di Desa Sumberjaya RT 01.
2. OZ L OZ merupakan partisipan yang berusia 7 tahun, anak yang akrab dipanggil Ozil ini sekolah di SDN Sumberjaya 1 kelas 2 SD. Ibunya Ozil yang merupakan partisipan di beri kode SJ, merupakan seorang ibu rumah tangga yang berusia 29 tahun, tinggal di Desa Sumberjaya RT 01.
3. AK P AK merupakan seorang partisipan yang berusia 8 tahun, anak yang akrab dipanggil Avika ini merupakan korban selamat pada saat bencana tsunami terjadi di tahun 2018 dimana saat itu avika berusia 6 tahun.
Sekarang Avika sekolah di SDN Sumberjaya 1 dan duduk di kelas 3. Ibunya yang merupakan partisipan diberi kode UP merupakan ibu rumah tangga yang berusia 30 tahun, tinggal di Desa Sumberjaya RT 02.
4. FA L FA merupakan seorang pasrisipan yang berusia 7 tahun, anak yang akrab dipanggil Paud ini merupakan
korban selamat pada saat bencana tsunami yang terjadi tahun 2018 dimana saat itu Paud berusia 5 tahun.
Sekarang FA sekolah di SDN Sumberjaya 1 kelas 2.
ibunya yang merupakan pasrtisipan diberi kode EI atau akrab di panggil ibu Eti merupakan ibu rumah tangga yang berusia 34 tahun, tinggal di desa Sumberjaya RT 02.
5. AA L AA merupakan partisipan yang berusia 7 tahun, anak yang akrab dipanggil Aufa ini merupakan korban selamat pada saat bencana tsunami terjadi di tahun 2018 dimana saai itu AA berusia 5 tahun. Sekarang AA sekolah di SDN Sumberjaya 1 kelas 2. Ibunya merupakan partisipan diberi kode SS atau akrab dipanggi ibu Amah yang merupakan ibu rumah tangga yang berusia 35 tahun, tinggal di RT 02.
6. AZ L AZ merupakan partisipan yang berusia 7 tahun, anak yang akrab dipanggil Azka ini merupakan korban selamat pada saat bencana tsunami terjadi di tahun 2018 dimana saat itu AZ berusia 5 tahun. Sekarang AZ sekolah di SDN Sumberjaya 1 kelas 2. Ibunya merupakan partisipan diberi kode SH atau akrab dipanggi ibu Suherti yang merupakan ibu rumah tangga yang berusia 30 tahun, tinggal di RT 02.
7. RZ L RZ merupakan partisipan yang berusia 7 tahun, anak yang akrab dipanggil Rizal ini merupakan korban selamat pada saat bencana tsunami terjadi di tahun 2018 dimana saat itu MR berusia 5 tahun. Sekarang MR sekolah di SDN Sumberjaya 1 kelas 2. Ibunya merupakan partisipan diberi kode A atau akrab dipanggi ibu Asti, kakeknya diberi kode MY,
neneknya diberi kode AD yang merupakan ibu rumah tangga yang berusia 32 tahun, tinggal di RT 09.
8. E P E merupakan partisipan yang berusia 7 setengah tahun, anak yang akrab dipanggil Elisa ini merupakan korban selamat pada saat bencana tsunami terjadi di tahun 2018 dimana saat itu E berusia 5 tahun. Sekarang E sekolah di SDN Sumberjaya 1 kelas 2. Ibunya merupakan partisipan diberi kode H atau akrab dipanggi ibu Heni yang merupakan ibu rumah tangga yang berusia 29 tahun, tinggal di RT 09.
B. Analisis Deskriptif Penelitian
Pada analisis deskripsi penelitian ini, peneliti akan memaparkan temuan-temuan berdasarkan hasil observasi yang dilakukan bersama dengan partisipan dan dilakukan melalui proses wawancara bersama dengan partisipan yang masing-masing sudah diberi kode untuk memudahkan peneliti dalam melakukan proses pengolahan data. Kegiatan wawancara ini dilakukan kepada 2 jenis partisipan, yang pertama adalah orang tua korban (ibu), dan yang kedua adalah proses wawancara dan juga pengamatan yang dilakukan dengan anak-anak berusia 5-6 tahun saat tsunami terjadi yang merupakan korban selamat dalam bencana tsunami di Selat Sunda pasca 2 tahun.
1. Kondisi psikologis anak pasca 2 tahun tsunami di desa Sumberjaya
Menurut corney dalam jurnal menjelaskan bahwa trauma berasal dari bahasa yunani yang berarti luka.80 Prawirohardjo juga mengungkapkan bahwa trauma merupakan sebuah pengalaman yang terjadi secara tiba-tiba, mengejutkan dan meninggalkan bekas atau kesan yang mendalam pada jiwa
80 Hayatul Khairul Rahmat, Desi Alawiyah. Konseling Trauma: Sebuah Strategi Guna Mereduksi Dampak Psikologis Korban Bencana Alam. Jurnal mimbar: media intelektual muslim dan bimbingan rohani, Vol. 6, No 1, 2020. h.39
seseorang yang mengalaminya.81 seseorang yang mengalami trauma biasanya dibayangi oleh peristiwa traumatis, berfikir negatif, merasa tidak berdaya, mengisolasi diri, merasa harapan masa depannya rendah.82
Ciri-ciri lain dari trauma yang diungkapkan oleh triantoro dan saputra adalah, disebabkan oleh kejadian dahsyat yang mengguncang diluar rencana dan kemauan kita, kejadiannya sudah berlalu, terjadi mekanisme psikofisis dimana artinya bila tidak melawan maka akan binasa, sensitif terhadap stimulus yang menyerupai kejadian asli.83
Trauma pada setiap anak juga memiliki rentan waktu pemulihan yang berbeda-beda, hal ini tergantung bagaimana lingkungan dapat berperan aktif dalam membantu anak-anak untuk memahami suatu peristiwa yang terjadi.84 Dalam hal ini peneliti menemukan hasil wawancara yang menggambarkan keadaan anak masih memiliki trauma pasca terjadinya tsunami 2 tahun lalu.
a. anak masih mengingat kejadian yang menakutkan mengenai peristiwa traumatis yang dialaminya
Ingatan merupakan sebuah memori yang tersimpan dalam otak anak, adapun ingatan dalam hal ini adalah ingatan-ingatan tsunami yang pernah dialami oleh anak yang kemudian terus tersimpan dalam memori otak anak mengenai kejadian tsunami yang pernah dialaminya pada 2 tahun silam.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh ibu dan keluarga anak-anak yang menjadi penyintas tsunami pada 2 tahun lalu, terdapat penjelasan bahwa anak masih mengingat kejadian tersebut.
81 Ibid., h.39
82 Ibid
83 Hayatul Khairul Rahmat, Desi Alawiyah. Konseling Trauma: Sebuah Strategi Guna Mereduksi Dampak Psikologis Korban Bencana Alam. Jurnal mimbar: media intelektual muslim dan bimbingan rohani, Vol. 6, No 1, 2020.h.37
84 Isabella Hasiana. Metode bercerita sebagai upaya pemulihan trauma pasca bencana pada anak usia dini. Vol.03 No. 02 2019. 40-85. h.73
Seperti anak yang diberi kode AK (Avika) yang berusia 8 tanum, ketika peneliti bertanya apa yang dirasakan ketika mengingat kejadian dulu AK (Avika) menjawab menit ke 06:38 “takuut”.
Sedangkan anak yang diberi kode AZ (Azka), ibunya yang diberi kode SH (Suheti) menjelaskan pada menit ke 04:27 “iya kalo cuaca mah ya kalo ada cuaca kaya gini suka lagi main di jauh juga suka pulang gitu ngga mau terlalu jauh sama rumah sama orang tua”, dan pada menit 04 :38 “itu kalo lagi mendung gitu mungkin ada sunami lagi nanti ceunah” hal ini memberikan jawaban bahwa AZ (Azka) masih memiliki ingatan mengenai kejadian tsunami pada 2 tahun lalu bila melihat gejala alam seperti mendung.
Hal serupa juga dialami oleh anak FA (Faud), dimana ibu EL (Eti) melalui wawancara mengungkapkan bahwa anaknya yang diberi pada menit ke 07:58 mengatakan “tapi kalo ada apa-apa mah selalu jadi kaya trauma gitu langsung lari-lari aja, kemarenkan ada angin beliung itu yaah lari ngungsi lagi, kalo ada gelap-gelap aja udah troma jadi udah was-was aja hehe”.
Kemudian anak OZ (Ozil) akan merasa kaget bila terjadi beberapa hal seperti mati lampu, seperti yang diungkapkan oleh ibu nya SJ pada menit ke 13:25 “tapi kalo lagi ngaji mati lampu udah hehehe pada lari hehe kalo mati lampu lagi ngaji maa heee udah kalo mati lampu diii sini didepan rumah ajah hehee”.
Hal lain juga diungkapkan oleh SH yang merupakan ibu AZ (Azka) yang mengatakan dimenit ke 07:49 “iya iya kalo heeh pas laa ada guluduk juga gitu ya (petir) langsung dia kaget, mah ceunah ada guludug gitu ya, ada petir gitu pas kalo kalo pas lagi dirumah ujan langsung diamah kedepan liat itu air takut banjir ceunah mah nanti kita ceunah kita tsunami lagi ceunah ngungsi hehee”.
Ungkapan yang sama juga dilontarkan oleh ML yang merupakan ibu dari ZN (Zahdan) pada menit ke 04:38 “cuma kalo ada mati lampu gitu tuh kalo ada gempa tuh baru takut diamah, kalo ada apa-apa langsung lari”, menit ke 04:50 “kalo ada apa-apa langsung lari tuh, kemaren aja ya pass orang-orang pada itu teriak-teriak ya, lari diamah sama neneknya. Saya mah disini diamah lagi nginep sama nenek lari kesana ngungsi pas kemaren itu” .
Anak masih mengingat kejadian tsunami pada dua tahun lalu, hal ini diungkapkan oleh kakek yang diberi kode MY merupakan kakek dari anak RZ (Rizal) pada menit ke 02:10 “kalo kumpul rame-rame gitu ya kaget aja kaget”, neneknya AD (Ade) juga menegaskan dimenit ke 02:09 “kaget kaget aja kaget gitu ada seperti itu ada bilang ada gempa udah langsung dianya muntah nangis”
Dari beberapa pernyataan keluarga anak-anak yang menjadi penyintas tsunami 2 tahun lalu, anak-anak masih memiliki ingatan mengenai tsunami yang terjadi pada 2 tahun lalu, adapun hal yang memicu anak terus mengingat kejadian tersebut adalah karena beberapa faktor alam dan buatan seperti mati lampu, suara gemuruh angin, hujan deras, mati lampu dan juga teriakan banyak orang. Hal tersebut menjadi pemicu sehingga anak-anak yang menjadi penyintas bencana alam akan melakukan antisipasi seperti lari sebagai bentuk pertahanan dirinya atau malah mengeluarkan respon ketakutan seperti menagis, muntah yang merupakan perasaan anak bahwa hal buruk akan kembali terjadi.
b. Anak memimpikan hal yang buruk mengenai apa yang terjadi
Hasil penelitian Brown, Mellman, Alfano & Weems, 2011 dalam jurnal (Ulfah 2020) ilmu keperawatan jiwa mengungkapakan bahwa anak korban bencana angin ribut Katrina juga mengalami gangguan tidur. Selain itu anak juga enggan untuk tidur sendirian karena masih mengingat dan bahkan
pernah menyaksikan langsung peristiwa traumatis dan sangat dahsyat tersebut.85
Hal tersebut masih dialami oleh anak-anak penyintas bencana alam di desa sumberjaya, seperti yang ungkapkan oleh SJ ibu dari anaknya OZ (Ozil) pada menit ke 08:35 “masih ada, itu mah masih ada apalagi si ozil mah sering ngimpi, maa ozil ngimpi tsunami gitu hee dia” dan pada menit ke 08:42 “iyaa masih masih ngerasa sering ngimpi kaya gitu, terus kalo ada ombak ngegulung kalo malam yaah udah diamah ma suara apa ini”.Selain itu ML yang merupakan ibu dari anaknya ZN (Zahdan) mengatakan dimenit 03.30 “pernah kebawa mimpi pernah cerita pernah cerita tsunami”.
Selain itu terdapat ungkapan yang menunjukkan bahwa anak kerap kali harus ditemani ketika tidur malam hari, seperti yang diungkapan oleh SS dimenit ke 06:35 “harus ditemenin aja ngga ngga berani, ngga terlalu berani sekarang mah, heeuh kalo tidur malem tuh kalo ada kita disamping langsung manggil-manggil kaya gitu”.
Dari beberapa pernyataan ibu dari anak-anak yang menjadi penyintas bencana tsunami pada 2 tahun lalu, terdapat anak-anak yang masih mengalami mimpi mengenai tsunmi yang pernah dialaminya, ada juga anak yang harus ditemani ibunya ketika akan tidur.
c. Terkadang anak bertindak atau merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kembali
Dalam hal ini anak-anak peneliti menemukan beberapa temuan dalam proses wawancara dimana anak masih bertindak atau merasa sesuatu yang buruk akan kembali terjadi seperti tsunami pada 2 tahun yang lalu.
85 Ulfah nur hanifah, arum pratiwi. Gambaran kecemasan anak dengan post traumatic stress disorder sebagai dampak bencana alam angin puting beliung. Vol. 3 N0. 02, hal 173-184.
mei 2020. h.180
Seperti yang diungkapkan H ibu dari anaknya E (Elisa) dimenit ke menit 07:02 “kalo sekarang sih emang kaya aga keganggu sih kalo ada angin dia, semalem juga ada anginkan kenceng dia peluk kaya kedenger kaya angin ngeguru itukan kaya sunami dulu itu mungkinkan kaya gitu, kaya kaya ada angin itu kaya ngegerung gitu”.
Selain itu ML yang merupakan ibu dari anaknya ZN (Zahdan) pada menit 03:17 mengatakan bahwa “kalo udah mati lampu tuh panik dianya pengen cepet pergi aja gitu”, lalu dimenit 04:42 juga mengatakan “kalo ada gempa itumah baru takut diamah”, menit 04:50 “kalo ada apa-apa langsung lari tuh, kemaren aja ya pass orang-orang pada itu teriak-teriak ya, lari diamah sama neneknya.
Saya mah disini diamah lagi nginep sama nenek lari kesana ngungsi pas kemaren itu” .
Hal tersebut menunjukkan bahwa E (Elisa) dan ZN (Zahdan) masih memiliki kekhawatiran bahwa sesuatu yang buruk akan kembali terjadi sama seperti tsunami yang terjadi pada 2 tahun lalu, dimana ketika mendengar sesuatu responden akan merasa panik dan melakukan tindakan antisipasi berlari dan mengungsi ketempat yang dirasa paling aman sebagai bentuk pertahanan dirinya.
Selain itu SJ yang merupakan ibu dari anaknya OZ (Ozil) pada menit ke 08:42 mengatakan “iyaa masih masih ngerasa sering ngimpi kaya gitu, terus kalo ada ombak ngegulung kalo malam yaah udah diamah ma suara apa ini”, dan di menit 08:46 SJ juga mengatakan
“atau kalo lagi ngaji mati lampu udah hehe pada lari”.
Dari beberapa hal seperti suara ombak, dan mati lampu, menimbulkan anak OZ (Ozil) merasa bahwa sesuatu yang buruk akan kembali terjadi, dan hal ini mengarah pada tsunami yang terjadi pada 2 tahun lalu.
Tindahakan lain ketika terjadi mati lampu, suara gemuruh, suara teriakan diungkapkan juga oleh UP ibu dari anaknya AK (Avika)
pada menit ke 06:57 “heeuh iyaa heeuh iyaa pasti pada ngejerit”. EL juga mengatakan bahwa anaknya FA (Faud) pada menit ke 07:58 “tapi kalo ada apa-apa mah selalu jadi kaya trauma gitu langsung lari-lari aja, kemarenkan ada angin beliung itu yaah lari ngungsi lagi, kalo ada gelap-gelap aja udah troma jadi udah was-was aja hehe”.
Hal tersebut dapat memberikan gambaran bahwa ketika anaknya mendengar suara angin beliung atau mati lampu, selain menimbulkan kekhawatiran bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, juga respon yang dilakukannya adalah dengan berlari sebagai bentuk tindakan untuk perlindungan dirinya.
Hal lain juga diungkapakn oleh SS yang merupakan ibu dari anaknya AA (Aufa), dimana pada dimenit ke 04:28 mengatakan “iya kalo de cuaca mah ya kalou ada cuaca kaya gini suka lagi main dijauh juga suka pulang gitu ngga mau terlalu jauh sama rumah”. SH ibu dari anaknya AZ (Azka) pada menit ke 07:49 mengatakan “iya iya kalo heeh pas laa ada guluduk juga gitu ya (petir) langsung dia kaget, mah ceunah ada guludug gitu ya, ada petir gitu pas kalo kalo pas lagi dirumah ujan langsung diamah kedepan liat itu air takut banjir ceunah mah nanti kita ceunah kita tsunami lagi ceunah ngungsi hehee”.
Responden anak AZ (Azka) juga mengungkapkan bahwa anakanya akan melakukan tindakan pengecekan ketika pemicu seperti hujan turun disekitar rumahnya karena masih memiliki kekhawatiran bahwa tsunami akan kembali terjadi apabila hujan turun.
Selain itu anak RZ (Rizal) merasa sesuatu yang buruk akan terjadi lagi seperti yang diungkapkan oleh kakek MY dimenit 06:24
“pokoknya kalo ada gemuruh gemuruh suara suara ribut ribut aja kalo tsunami dia masih iya” . A ibu dari RZ (Rizal) juga menungkapkan dimenit ke 06:32 “kemarin itukan ada ee angin itu bu
kaya disebutnya puting beliung gitu ya kalo malam hari muntah-muntah beneran pas itunya”
Dari wawancara yang dilakukan bersama keluarga dari anak-anak penyintas bencana alam tsunami 2 tahun lalu dapat memberikan gambaran bahwa anak-anak masih merasa sesuatu yang bruk akan kembali terjadi ketika mati lampu, suara gemuruh ombak bahkan meski tsunami 2 tahun lalu tidak terjadi hujan, maupun angin kencang, namun anak-anak akan merespon dan memiliki kekhawatiran bahwa tsunami akan terjadi juga ketika hujan dan juga angin kencang datang.
d. Anak merasa marah apabila diingatkan kembali mengenai hal buruk yang pernah dialaminya
Dari kegiatan wawancara yang dilakukan kepada semua responden (ibu), jawaban serupa diungkapkan bahwa bukan marah yang diungkapan anak-anaknya namun lebih ke mengarah pada perasaan takut bahwa hal serupa akan terjadi lagi seperti tsunami yang terjadi 2 tahun lalu.
Rasa takut merupakan sebuah sebuah bentuk emosi yang bisa diartikan adanya sebuah bahaya yang akan terjadi atau pernah terjadi. Stewart dalam buku metodelogi pengembangan sosial emosional mengungkapkan bahwa perasaan takut merupakan sinyal-sinyal kehadirannya bahaya yang menimbulkan respon dengan melakukan pergerakan dan tindakan antisipasi untuk menyelamatkan diri dari rasa bahaya tersebut.86
Anak-anak yang merasa takut biasanya menunjukkan beberapa reaksi seperti perubahan fisiologis seperti mata melebar, berhati-hati, berhenti bergerak, badan gemetar, menangis, bersembunyi, melarikan diri, atau berlindung dibelakang punggung orang lain.87
86 Ali Nugraha, Yeni Rachmawati. Metode Pengembangan Sosial Emosional. Jakarta : 2004 (Universitas Terbuka). h. 1.9
87 Ibid., h. 1.9-1.10
Seperti yang dijelaskan oleh ML ibu dari anaknya ZN (Zahdan) pada menit ke 04:29 “diamah perasaan kaya gitu mah ngga ada, heeeh ngga ada diamah ngga ngomong gitu biasa aja, cuman kalo ada
Seperti yang dijelaskan oleh ML ibu dari anaknya ZN (Zahdan) pada menit ke 04:29 “diamah perasaan kaya gitu mah ngga ada, heeeh ngga ada diamah ngga ngomong gitu biasa aja, cuman kalo ada