• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

G. Uji Coba Instrumen Penelitian

1. Instrumen Tes

Uji validitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kevalidan dari soal yang dibuat. Artinya soal yang sudah dibuat sudah dapat tepat mengukur yang hendak diukur. Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji validitas item. Validitas item adalah sebuah item yang memiliki validitas yang tinggi jika skor pada item mempunyai kesejajaran dengan skor total. Oleh karena itu untuk mengetahui validitas item dapat digunakan korelasi, dalam penelitian ini menggunakan korelasi point biserial. Jika rpbis adalah koefisien korelasi point biserial, Mp adalah mean skor dari subjek yang menjawab betul bagi item yang dicari validitasnya, Mt adalah mean skor total, St adalah standar deviasi dari skor total, p adalah proporsi siswa yang menjawab benar ( p = banyaknya siswa yang menjawab benar/jumlah seluruh siswa ), dan q adalah proporsi siswa yang menjawab salah ( q = 1-p ). Maka rpbis dapat dinyatakan :

commit to user

rpbis = q p S M M t t p  (3.1) (Suharsimi Arikunto, 2006: 283-284) Kriteria nilai rpbis adalah sebagai berikut :

Item tersebut valid jika harga pbis rtabel

Item tersebut tidak valid jika harga pbis rtabel

Artinya dari hasil perhitungan validitas item tersebut kemudian dikonsultasikan dengan harga r. Jika γ Point Biserial lebih besar dari harga r tabel, maka korelasi tersebut signifikan, berarti item soal tersebut adalah valid. Apabila harga γ Point Biserial lebih kecil dari r tabel, berarti korelasi tersebut tidak signifikan maka item soal tersebut dikatakan tidak valid.

Hasil tes uji coba kemampuan kognitif, dari 40 soal yang diujicobakan, setelah dilakukan analisis untuk mengetahui kevalidan dari masing-masing soal diperoleh hasil pada tabel 3.3 berikut:

Tabel 3.3 Hasil Analisis Validitas Uji Coba Tes Kemampuan Kognitif

Variabel Jumlah No. Item

Valid 35

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 30, 31,

33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, dan 40

Invalid 5 10, 16, 18, 29, dan 32

Untuk soal yang invalid tidak digunakan dalam penelitian. Analisis selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 7.

Sedangkan hasil tes uji coba kemampuan penalaran analitis, dari 12 soal yang diujicobakan, setelah dilakukan analisis untuk mengetahui kevalidan dari masing-masing soal diperoleh hasil pada tabel 3.4 berikut:

Tabel 3.4 Hasil Analisis Validitas Uji Coba Tes Kemampuan Penalaran Analitis

Variabel Jumlah No. Item

Valid 10 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 9, 11, dan 12

commit to user

Untuk soal yang invalid tidak digunakan dalam penelitian. Analisis selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 16.

b Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui keajegan (reliabel) dari soal yang dibuat. Artinya soal itu dapat memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali atau tidak. Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 86 ) bahwa “suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan (reliabilitas) yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yag tetap”. Atau seandainya terjadi perubahan maka perubahannya sangat kecil, sehingga perubahan tersebut tidak berarti. Untuk mengetahui ketetapan ini dapat dilihat dari kesejajaran hasil, yaitu dengan menggunakan korelasi. Oleh karena itu untuk menghitung reliabilitas tes yang skornya 1 dan 0 digunakan rumus Kudher Richardson 20 ( KR-20 ). Jika r11 adalah reliabilitas tes secara keseluruhan, n adalah banyaknya item pertanyaan, p adalah proporsi subyek yang menjawab item dengan benar, q adalah proporsi subyek yang menjawab item dengan salah ( q = 1-p ), S adalah standar deviasi dari tes ( standar deviasi adalah akar varians ), dan Σpq adalah jumlah hasil perkalian antara p dan q. Maka r11 dapat dinyatakan:

r11 =                

2 2 S pq S 1 n n (3.2) (Suharsimi Arikunto, 2009: 100)

Kriteria reliabilitas : soal dikatakan reliabel jika r11rhitungrtabel

Setelah dilakukan analisis untuk mengetahui reliabilitas dari keseluruhan tes uji coba, diperoleh hasil bahwa untuk tes uji coba kemampuan kognitif r11 (reliabilitas instrumen) lebih besar dari r tabel (0,945 > 0,334), sehingga soal

commit to user

dikatakan reliabel dengan tingkat reliabilitas sangat tinggi. (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 7).

Sedangkan analisis untuk mengetahui reliabilitas dari tes uji coba kemampuan penalaran analitis, diperoleh hasil bahwa untuk tes uji coba kemampuan penalaran analitis r11 (reliabilitas instrumen) lebih besar dari rtabel (0,736 > 0,334), sehingga soal dikatakan reliabel dengan tingkat reliabilitas sangat tinggi. (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 16).

c Tingkat Kesukaran

Soal-soal yang dianggap baik yaitu soal-soal yang sedang, adalah soal-soal yang mempunyai indeks kesukaran 0,30 sampai dengan 0,70. Jika P adalah indeks kesukaran, B adalah jumlah siswa yang menjawab soal dengan benar, dan JS adalah jumlah seluruh siswa peserta tes. Maka rumus untuk mengetahui taraf kesukaran dari masing-masing item soal dapat dinyatakan:

P = s J B (3.3) (Suharsimi Arikunto, 2009: 208) Klasifikasi derajat kesukaran soal tes adalah sebagai berikut:

 Soal dengan P 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar

 Soal dengan P 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang

 Soal dengan P 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah

(Suharsimi Arikunto, 2009: 210) Hasil tes uji coba kemampuan kognitif, dari 40 soal yang diujicobakan, setelah dilakukan analisis untuk mengetahui tingkat kesukaran dari masing-masing soal diperoleh hasil sebagai berikut: 21 soal dikategorikan mudah, yaitu nomor 1, 2, 3, 5, 7, 13, 15, 20, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 34, 35, 36, 37, 38, dan 39; 13 soal

commit to user

12, 17, 19, 21, 30, 31, dan 33; 6 soal dikategorikan sukar, yaitu nomor 14, 16, 18, 29, 32, dan 40. (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 7).

Sedangkan hasil tes uji coba kemampuan penalaran analitis, dari 12 soal yang diujicobakan, setelah dilakukan analisis untuk mengetahui tingkat kesukaran dari masing-masing soal diperoleh hasil sebagai berikut: 4 soal dikategorikan mudah, yaitu nomor 1, 2, 3, dan 5; 6 soal dikategorikan mempunyai tingkat kesukaran sedang, yaitu nomor 4, 6, 8, 9, 11, dan 12; 2 soal dikategorikan sukar, yaitu nomor 7 dan 10. (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 16)

d Daya Pembeda

Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Jika D adalah daya pembeda, JA adalah banyaknya peserta kelompok atas, JB adalah banyaknya peserta kelompok bawah, BA adalah banyaknya peserta kelompok pandai yang menjawab soal dengan benar, BB banyaknya peserta kelompok kurang pandai yang menjawab soal itu dengan benar, PA adalah proporsi peserta atas yang menjawab benar (P sebagai indeks kesukaran), dan PB adalah proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar. Maka D dapat dinyatakan :

D = A B B B A A P P J B J B    (3.4) (Suharsimi Arikunto, 2009: 213-214) Klasifikasi daya pembeda :

D : 0,00 – 0,20 : jelek (poor)

D : 0,20 – 0,40 : cukup (satisfactory) D : 0,40 – 0,70 : baik (good)

commit to user

D : negatif, semuanya tidak baik, jadi semua butir soal yang mempunyai nilai D negatif sebaiknya dibuang saja.

(Suharsimi Arikunto, 2009: 218) Hasil tes uji coba kemampuan kognitif, dari 40 soal yang diujicobakan, setelah dilakukan analisis untuk mengetahui daya pembeda dari masing-masing item diperoleh hasil sebagai berikut: 7 soal mempunyai daya pembeda baik sekali yaitu nomor 8, 12, 17, 19, 21, 31, dan 36; 8 soal mempunyai daya pembeda baik yaitu nomor 3, 4, 5, 9, 14, 30, 33, dan 37; 21 soal mempunyai daya pembeda cukup, yaitu nomor 1, 2, 6, 7, 10, 11, 13, 15, 20, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 34, 35, 38, 39, dan 40; 4 soal mempunyai daya pembeda jelek, yaitu nomor 16, 18, 29, dan 32. (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 7).

Sedangkan hasil tes uji coba kemampuan penalaran analitis, dari 12 soal yang diujicobakan, setelah dilakukan analisis untuk mengetahui daya pembeda dari masing-masing item diperoleh hasil sebagai berikut: 3 soal mempunyai daya pembeda baik sekali yaitu nomor 9, 11, dan 12; 3 soal mempunyai daya pembeda baik yaitu nomor 3, 4, dan 5; 5 soal mempunyai daya pembeda cukup, yaitu nomor 1, 2, 6, 7, dan 8; 1 soal mempunyai daya pembeda jelek, yaitu nomor 10. (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 16).

Dokumen terkait