• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Model Pemberdayaan 1. Modal

4.3.1.2. Instrument Pembiayaan

Instrumen pembiayaan yang dimiliki oleh PT. SSUV meliputi penyertaan saham, obligasi konversi, serta pembiayaan dengan pola bagi hasil.

Penyertaan Saham

PT. SSUV masuk ke dalam suatu entitas usaha melalui instrument pembiayaan saham dengan harapan memperoleh keuntungand ari dividen, benefit lain atas kepemilikan entitas tersebut dan capital gain pada saat melakukan exit untuk sebagian atau keseluruhan kepemilikan mlalui mekanisme Initial Public Offering yang dilanjutkan dengan pasar sekunder dan Private Selling ke investor potensial lainnya. Penetapan harga saham pada saat PT. SSUV masuk ke dalam suatu PPU tentunya lebih banyak menggunakan nilai nominal (par value) saham emngingat entitas usaha tersebut belum mempunyai harga pasar yang jelas untuk

saham-saham yang dikeluarkannya. Instrument saham ini hanya dapat dilaksanakan pada perusahaan yang berbentuk Perseoran Terbatas (PT). PT.

SSUV akan menyertakan sahamnya (membeli) saham PPU pada tingkat harga tertentu. Dalam system ini ditetapkan melalui perjanjian pembiayaan dan “share holder agreement” jangka waktu penyertaan yang disepakati bersama. Dalam perjanjian dicantumkan juga metode divestasi PT. SSUV. Divestasi dapat dengan cara pemilik awal membeli kembali saham-saham PT. SSUV dengan harga tertentu, dibeli oleh perusahaan itu sendiri, atau dibeli oleh pihak ketiga yang berminat membeli saham PT. SSUV.

Setiap tahun perusahaan yang mendapat pembiayaan membuat laporan keuangan PT. SSUV memiliki hak untuk melakukan audit atas laporan keuangan, baik audit oleh staf PT. SSUV ataupun oleh auditor independen yang ditunjuk PT.

SSUV. Pada saat Rapat Umum Pemegang Saham disepakati pembagian deviden yang akan merupakan pedapatan bagi PT. SSUV.

Obligasi Konversi

Instrument Obligasi Konversi atau biasa disebut OK juga hanya dapat diberikan kepada perusahaan yang berbentuk perseoran terbatas. Pada instrument ini PT. SSUV akan membeli suatu surat hutang (obligasi) yang dikeluarkan oelh perusahaan yang membutuhkan pembiayaan. Jangka waktu obgligasi serta besarnya kupon (bunga) yang harus dibayarkan kepada PT. SSUV juga disepakati.

Selama di dalam jangka waktu yang disepakati PT. SSUV memiliki hak (opsi) untuk meneruskan memegang OK-nya, atau mengambil opsinya dengan menukar OK tersebut menjadi saham.

Apabila PT. SSUV tidak mengambil opsinya (artinya tetap memegang OK) maka PT. SSUV tetap mendapatkan bunga dari OK-nya. Namun, bila PT.

SSUV mengambil opsinya dan menukar OK-nya dengan saham perusahaan sesuai nilai yang telah disepakati sebelumnya, maka pendapatan PT. SSUV berasal dari deviden yang disepakati dalam rapat umum pemegang saham.

PT. SSUV masuk ke dalam suatu entitas usaha melalui instrument pembiayaan OK dalam upaya untuk memberikan waktu yang lebih banyak sebelum benar-benar memiliki suatu entitas usaha dan untuk berjaga-jaga agar pembiayaannya masih mempunyai alternative mekanisme exit melalui pelunasan pinjaman. Harga konversi (jika akan dikonversi ke saham) atau harga pelunasan (jika dilunasi atas permintaan modal ventura Indonesia/entitas usaha tersebut ataupun waktu jatuh tempo pelunasan) ditetapkan secara spesifik melalui metode-metode perhitungan tertentu. Harga konversi ditetapkan biasanya dengan menggunakan price to book value ratio yang disesuaikan apabila terjadi hal-hal seperti pengeluaran saham bonus, pemecahan saham dan pengeluara saham baru (untuk private placement, right issue, surat warrant, obligasi konversi atau instrument lain) sebelum konversi obligasi tersebut ke saham dilakukan.

Adapun rumus-rumus yang digunakan secara umum untuk penyesuaian ini adalah:

HS = (Sa1/Sa1+Sb)) x HK a penyesuaian untuk saham bonus HS = (Sa/Sp) x HK a penyesuaian untuk pemecahan saham

HS = ((Sa2+(Bp/HK))/(Sa2+Sp1)) x HK a penyesuaian untuk pengeluaran saham terbatas.

Keterangan

HS : Harga saham konversi disesuaikan HK : Harga konversi

Sa : Jumlah saham sebelum pemecahan Sp : Jumlah saham setelah pemecahan

Sa1 : Jumlah saham sebelum pembagian saham bonus Sb : Jumlah saham bonus

Sa2 : Jumlah saham sebelum penawaran terbatasa Bp : Besarnya nilai penempatan

Sp1 : Jumlah saham penawaran terbatas

Harga pelunasan bisanya mengacu kepada awal pembiayaan yang dikalikan dengan suatu faktor bunga berbunga dengan acuan suatu tingkat pengembalian periodic yang diharapkan (Periodic Expected Rate of Return), dengan ilustrasi perhitungan sebagai berikut:

HP = NA x (1+ERR)p HP : Harga pelunasan NA : Nilai awal

ERR : Tingkat pengembalian periodic p : Periode

Pola Bagi Hasil

Perusahaan UKM di Sumatera Utara banyak yang tidak atau belum berbentuk perseoran terbatas (PT), sehingga tidak dapat menikmati fasilitas

pembiayaan melalui Penyertana Saham ataupun Obligasi Konversi. Untuk itu PT.

SSUV menggunakan instrumen pembiayaan dengan Pola Bagi Hasil. Pada pola ini disepakati persentase bagi hasil untuk kedua belah pihak. Bagi hasil dapat dihitung dari laba sebelum pajak, dari laba operasi, laba kotor, atau dihitung dari penjualan. Pemilihan dasar perhitungan diatas berdasarkan penawaan dari PT.

SSUV yang disetujui oleh CPPU.

PT. SSUV akan menghitung dan menawarkan kepada CPPU atau angka persentase bagi hasil. Persentase dihitung berdasarkan expected return yang ditetapkan oleh direksi PT. SSUV. Expected return (ER) rata-rata adalah pada IRR 20%. Dengan berpedoman pada ER tersebut, PT. SSUV akan membuat proyeksi dan simulasi sehingga didapatkan persentase bagi hasil tertentu yang akan ditawarkan kepada CPPU.

PT. SSUV melalui pembiayaan pola bagi hasil mengisyaratkan adanya jaminan sebelum dilakukan pencairan dana jaminan dimaksudkan sebagai upaya untuk mencegah PPU terhadap tindakan-tindakan penyelewengan dana pembiayaan serta mendidik PPU supaya lebih berkonsentrasi terhadap usahanya sehingga setiap tindakan PPU yang mengandung resiko bisnis dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini sebenarnya bertentangan dengan prinsip kerja modal ventura akan tetapi berdasarkan pengalaman yang terjadi di PT. SSUV, para PPU menjadi kurang bertanggungjawab dalam mematuhi kontrak kerjasama yang disepakati bahkan dapat terjadi kredit macet

Sebagaimana yang diutarakan oleh Yopie, mantan Direktur Utama PT.

SSUV yang kini menjadi Komisaris Utama:

“Pada beberapa tahun pertama PT. SSUV berdiri, para PPU tidak dipersyaratkan memiliki jaminan karena memang begitulah prinsip kerjanya. Tapi kenyataannya, terjadi beberapa kemacetan dalam pengembalian modal. Pada saat staf PT. SSUV menagih PPU berdalih dengan berbagai alas an misalnya rugi, tidak sanggup ataupun bangkrut sehingga membuat kredit macet. Kalau sudah begini, siapa yang menanggung segala kerugiannya? Makanya sejak saat itu kami memutuskan bahwa jaminan tetap diperlukan terutama apabila pinjaman dalam jumlah besar”

Sumber dana Pembiayaan PT. SSUV adalah dari pemegang saham dan penyaluran pinjaman dari Japan Banking International Corporation (JEBIC) yang harus dapat dikembalikan beserta keuntungannya sesuai dengan waktu yang ditentukan. Sejak tahun 2000 dana pinjaman JEBIC sudah tidak lagi disalurkan melalui modal ventura. Hal ini mengakibatkan PT. SSUV harus berupaya mencari pinjaman dana-dana murah yang dapat disalurkan dalam bentuk pembiayaan kepada PPU.

Realisasi penyaluran pembiayaan yang disalurkan oleh PT. SSUV dalam sejak tahun 2000 sampai dengan 2005 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.3.1.2.

Realisasi penyaluran pembiayaan yang disalurkan oleh PT. SSUV

Thn Realisasi Thn Berjalan (Rp) Total Penyaluran (Rp) Jumlah PPU 2000 Sumber : Data Olahan dari PT. SSUV (2006)

Pada tabel 4.3.1.2. dapat diketahui bahwa sampai pada tahun 2000

tersebut adalah batas waktu berakhir kontrak kerja sama PPU pada periode awal dan dimulainya penandatangan kontrak baru kerj sama dengan PPU yang tercatat telah berjumlah 125 perusahaan. Pada tahun selanjutnya terjadi penurunan diakibatkan bahwa dana pinjaman yang dapat disalurkan oleh PT. SSUV semakin terbatas dan oleh karena itu penyaluran pembiayaan tersebut lebih banyak diberikan kepada PPU sektor usaha kecil. Tercatat pada tahun 2001 sampai dengan 2003, PPU usaha kecil berjumlah 75 perusahaan. Pembiayaan dengan tingkat suku bunga yang cukup tinggi membuat sektor riel kurang berjalan serta realisasi pembiayaan tidak begitu tinggi. Namun pada tahun 2005 kembali terjadi peningkatan sebesar 13% dari tahun sebelumnnya akibat PT. SSUV sudah dapat kembali menyalurkan pada PPU usaha menengah.

Sektor usaha yang paling diminati oleh PT. SSUV adalah usaha menengah di sektor perdagangan dan jasa. PPU disektor ini memang mempunyai tingkat pengembalian modal yang cukup cepat. Kondisi ini di dukung dengan sifat pembiayaan PT. SSUV yang memerlukan pembagian hasil yang baik dalam jangka waktu yang tidak begitu lama. Prosek pembangunan usaha ini juga dapat diperkirakan berjalan lancar karena biasanya sektor ini sudah memiliki pasar tersendiri dan hanya membutuhkan dukungan modal untuk pengembangannya.

Namun dalam pencairan dana PT. SSUV menyalurkan secara bertahap disesuaikan dengan tahapan kebutuhan PPU. Hal ini disebabkan PT. SSUV ingin melihat sejauh mana kemampuan PPU untuk menepati keterikatan dan komitmen bersama yang telah dituangkan dalam kontrak kerja sama. PT. SSUV juga menetapkan biaya management fee sebesar 1% dalam proses pencairan dana

untuk kebutuhan administrasi dan biaya management fee tersebut dipotong dimuka pada saat pencairan dana tahap pertama.

Persentase pembiayaan sektor pertanian, industri, perdagangan dan jasa dari total dana yang disalurkan oleh PT. SSUV dapat dilihat pada tabel 4.3.1.3.

berikut :

Tabel 4.3.1.3.

Total Pembiayaan PT. SSUV berdasarkan Kategori Usaha

Thn Pertanian Industri Perdagangan

Jlh Sumber : Data Olahan dari PT. SSUV (2006)

4.3.2. Manajemen

Berbeda dari perusahaan jasa pembiayaan yang lain PT. SSUV secara aktif berusaha untuk dapat turut memajukan dan mengembangkan PPU nya. Program pengembangan manajemen yang dilakukan meliputi pengembangan volumeusaha

maupun peningkatan laba PPU. Selain mendukung pengembangan PPUnya, PT.

SSUV juga berusaha mencegah penurunan kinerja.

Program manajemen yang diberikan melalui dukungan manajemen pendampingan untuk PPU. Pendampingan tersebut dapat berupa pendampingan langsung maupun pendampingan tidak langsung. Pendampingan langsung dilakukan dengan cara menempatkan Outside Management pada PPU. Adanya Outside Management diharapkan akan dapat membantu merapikan administrasi dan menjadi konsultan tetap bagi PPU untuk pemecahan berbagai masalah.

Pendampingan tidak langsung diberikan dengan cara mengadakan pelatihan reguler di berbagai bidang keilmuan. PT. SSUV memiliki Divisi Pengembangan PPU yang akan berkunjung ke tempat usaha PPU, baik untuk membantu administrasi, memberikan on the job training, maupun membantu memecahkan berbagai permasalahan.

Secara umum pendampingan yang diberikan meliputi : Perancangan dan Implementasi Sistem Pembukuan

Pendampingan yang diberikan kepada PPU terutama pengetahuan dalam melakukan pencatatan pembukuan. Pencatatan yang dilakukan dengan jelas dan akurat bertujuan untuk mencapai keberhasilan sebagi berikut :

a. Mempermudah persiapan laporan keuangan

b. Mempermudah penilaian situasi keuangan dari sebuah usaha c. Pengawasan arus kas yang lebih baik

d. Kemampuan untuk mengukur prestasi usaha yang sebenarnya terhadap proyeksi serta tujuan yang ingin dicapai

e. Kemampuan untuk mengetahui dengan cepat masalah-masalah baru, tantangan serta kesempatan yang timbul

f. Membantu dalam menelusuri jalannya operasi usaha, termasuk prestasi yang dicapai oleh para pegawai

g. Memberikan informasi yang lebih akurat pada setiap keputusan usaha h. Memungkinkan untuk memperoleh akses yang cepat dalam informasi

yang penting

Perencanaan dan Pengembangan SDM

Pendampingan yang diberikan kepada PPU terutama dalam memberikan motivasi kepada karyawan/personil pelaku usaha yang dapat menambah wawasan dan manfaat bagi pengembangan usaha.

Konsultan Manajemen Umum

PPU dapat senantiasa berkonsultasi dengan staf pendamping dari PT.

SSUV yang bertugas mengawasi perkembangan setiap PPU. Dalam hal ini, secara umum staf yang bertindak sebagai konsultan akan memberikan pengarahan dan bimbingan berkaitan dengan kondisi yang dihadapi.

Pemilihan Strategi Pengembangan Usaha

Dalam mempersiapkan rencana pengembangan usaha, PT. SSUV selalu mengajak PPU untuk bersama-sama melakukan kajian analisa perusahaan.

Evaluasi biasanya dilakukan terhadap perusahaan sebelum disetujui untuk bekerja sama. Setelah itu evaluasi dilakukan secara triwulan dengan tetap memperhatikan perkembangan pasar. Analisa pasar merupakan pertimbangan tersendiri bagi PT.

SSUV mengingat bahwa produk yang dijual oleh PPU harus dapat diterima dan diserap pasar sehingga sedapat mungkin dapat terhindar dari kemacetan dalam pengembalian ataupun kerugian dalam bagi hasil.

Membantu Berbagai Pemecahan Persoalan

Kadang kala PPU menghadapi persoalan-persoalan yang muncul tanpa diperkirakan, misalnya perubahan pasar, pengaruhnya terjadi krisis dan lain sebagainya. PT. SSUV akan membantu menganalisa persoalan yang ada dan sedapat mungkin membantu PPU untuk keluar dari persoalan tersebut. Tetapi tidak ada jaminan bahwa semua persoalan dapat diselesaikan karena dampak pengaruh yang bersifat ekstern seperti menurunnya daya beli, melonjaknya harga bahan baku, terjadi inflasi dan sebagainya membuat PT. SSUV dan PPU harus mengkaji dan mengevaluasi lebih lanjut kerja sama yang telah disepakati sebelumnya. Bila mana persoalan tersebut membutuhkan tenaga ahli maka PT.

SSUV akan merekomendasikan tenaga ahli yang dibutuhkan dan turut membantu dalam pembiayaannya.

Membantu Negosiasi Bisnis dengan Pihak Lain

Pendampingan ini dirasakan besar manfaatnya bagi PPU karena PT. SSUV sangat selektif dalam melakukan negosiasi bisnis. PPU yang mengembangkan usahanya melalui sistem franchise (waralaba) telah berkembang luas dalam kurun

waktu lima tahun sejak mulai bekerja sama. Sebagaimana yang dituturkan oleh Puspo, PPU yang bergerak di bidang jasa rumah makan ini,

“Saya sebelumnya tidak pernah berpikir kalau bisnis rumah makan yang saya rintis sepuluh tahun yang lalu bisa berkembang begini pesatnya melalui sistem waralaba. PT. SSUV banyak memberikan dukungan dan informasi yang memperkenalkan bisnis saya ke daerah-daerah lain bahkan sampai ke Malaysia dan Brunnei Darussalam. Sekarang ini bisnis rumah makan saya sudah mempunyai hampir 40 cabang di dalam dan luar negeri”.

PT. SSUV juga bekerja sama dengan pihak lain yang berkompetejn dalam bidangnya, dalam upaya penyediaan fasilitas pendampingan PPU serta untuk pengembangan PT. SSUV sendiri.

Penelitian ini menemukan bahwa PT. SSUV sebelum memberikan pelatihan, melakukan kegiatan perencanaan survey kebutuhan pelatihan bagi PPU.

Adapun peranan PT. SSUV sebelum memberikan kebutuhan pelatihan antara lain dengan membuat rencana/jadwal survey kebutuhan pelatihan, daftar PPU yang menurut pengamatan PT. SSUV membutuhkan pelatihan, dan daftar pertanyaan yang digunakan dalam survey kebutuhan pelatihan. Dengan perencanaan survey kebutuan pelatihan PT. SSUV membuat surat pemberitahuan ke PPU yang akan dikunjungi.

Konfirmasi kesediaan dari calon peserta selanjutnya ditindaklanjuti pelaksana survey dengan mengunjungi PPU dan menerima contact person, serta menjelaskan tujuan survey dan melakukan wawancara. Melalui upaya ini PT.

SSUV dapat mengetahui mengenai permasalahan yang dihadapi oleh PPU yang dikunjungi. Permasalahan yang berkaitan dengan manajemen perusahaan, sumber

negeri akan dipecahkan melalui pelatihan dan seminar/workshop. Sebagai pendukung dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan, PT. SSUV mengumpulkan brosur, company profile dan sumber informasi lainnya sebagai data pendukung.

Program pelatihan dan kurikulum pelatihan disusun setelah pengumpulan data disempurnakan dan dianalisis berdasarkan masukan-masukan. Dari kegiatan pra pelatihan, diharapkan PPU telah memiliki pandangan terhadap pelatihan yang akan diberikan.

Pentingnya pelaksanaan survey ini tidak lain sebagai salah satu upaya untuk lebih mengembangkan minat PPU mengelola usahanya secara profesional.

Dari hasil wawancara dengan Suharyanto, salah satu staf pendamping PT. SSUV :

“Tidak semua program pelatihan ditawarkan oleh PT. SSUV kepada PPU.

Hal ini disebabkan karena PT. SSUV telah terlebih dahulu melakukan analisa usaha kepada calon PPU sehingga kita sudah mengetahui dimana kelemahan yang perlu ditutupi melalui peningkatan pelatihan-pelatihan.

Pada umumnya mereka setuju ikut pelatihan, apalagi tidak dipungut biaya”.

Penuturan staf pendampingan tersebut memperlihatkan bahwa PT. SSUV sangat berhati-hati dalam memberikan penilaian dan pelatihan kepada PPU.

Mengingat bahwa apabila PPU diwajibkan mengikuti pelatihan tanpa memperhatikan sesuai apa tidaknya dengan kebutuhannya akan membuat PPU akan menolak untuk diundang dalam kegiatan-kegiatan pelatihan berikutnya. Hal ini juga disebabkan oleh kombinasi dari sejumlah faktor, tidak hanya keterbatasan SDM, teknologi, modal dan informasim tetapi juga karena berahamnya model pelatihan yang disediakan pemerintah ataupun lembaga lainnya yang kurang memperhatikan kualitas dan manfaat pelatihan tersebut.

Globalisasi ekonomi dan sistem perdagangan bebas menjadikan dunia sebagai satu pasar yang terbuka. Pasar dalam negeri menjadi bagian dari pasar dunia yang terbuka tersebut. Dalam pasar yang demikian, negara-negara produsen atau perusahaan-perusahaan berlomba memasarkan produknya. Mereka menawarkan berbagai keunggulan dan kelebihan yang dimiliki.

Di masa lalu, produsen umumnya berorientasi produksi, dalam arti mereka memproduksi terlebih dahulu baru kemudian memasarkan. Hal terutama yang dipentingkan ialah kemudahan memproduksi, memasarkan apa yang mudah diproduksi. Sekarang, pendekatan tersebut praktis sudah ditingkatkan. Logikanya dibalik, justru memasarkan terlebih dahulu baru memproduksi. Artinya yang diproduksi ialah apa yang diminati, diminta, dibutuhkan, dan yang memuaskan pasar (konsumen). Dengan kata lain untuk memenangkan persaingan yang pertama-tama harus dilakukan adalah penguasaan pasar. Pendekatan ini disebut dengan “orientasi pasar” atau “orientasi konsumen”, dengan penekanan pada kepuasan pasar. Realitas ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Bakrie (2004 : 18).

“Kunci terpenting dalam upaya memenangkan persiangan adalah kepuasan konsumen. Mengapa demikian? Pertama, karena produk perusahaan A misalnya, juga dibuat (dipasarkan) perusahaan B, C, dan seterusnya.

Konsumen tinggal memilih, dengan altenatif pilihan (produk) yang sudah beragam. Produk yang relatif lebih memuaskan konsumen itulah yang berpeluang memenangkan persiangan. Kedua, konsumen membeli tidak lagi sekedar karena dorongan keutuhan, tetapi juga keingan, kenyamanan, dan pride. Karena itu setelah pembalikan logika tadi, yang harus dilakukan berikutnya adalah memahami faktor-faktor yang mempengaruji konsumen tersebut”.

Kualitas dan mutu produk memang mutlak terus ditingkatkan, disempurnakan. Umpamanya dengan memanfaatkan teknologi produksi atau teknologi prosessing, yang paling mendukung, berbagai penelitian menemukan kecenderungan berubah-ubahnya persepsi konsumen tentang nilai plus tersebut.

Selain kualitas, model dan rancangan produk juga menentukan. Begitu pula harga, kemasan, serta pelayanan produsen (marketer).

Produsen seharusnya tidak cukup hanya bekerja lebih keras, tapi juga lebih gigih dan lebih cerdas. Dalam konteks persaingan, kegigihan dan kecerdasan tersebut adalah optimisme dan dinamisme.

Perusahaan atau produk yang menempatkan keunggulan daya saingnya pada teknologi yang lebih maju, disertai SDM yang terampil, sudah terbukti paling berpelung memenangkan persaingan. Perusahaan demikian akan selalu menemukan metode produksi yang lebih efisien. Mereka tidak tanggung-tanggung berinvestasi untuk pendidikan dan pelatihan SDM-nya.

PPU tahu bahwa penguasaan, pemakain teknologi maju dan tepatlah yang menjanjikan efisiensi, produktivitas, dan nilai tambah yang lebih besar. Untuk itulah PPU menanamkan modal bagi pendidikan dan pelatihan SDM. Tujuannya tak lain agar SDM tersebut dapat mengikuti irama kemajuan dan inovasi teknologi. Teknologi maju tanpa diimbangi SDM terdidik dan berketerampilan tinggi justru merupakan sumber pemborosan.

Sebaliknya SDM yang ahli, terampil dan terlatih akan kontraproduktif jika perusahaan lalai menyiapkan sarana-sarana produksi yang relevan. Perusahaan yang melengkapi diri dengan teknologi maju dan SDM terampil, umumnya

mengalami peningkatan kinerja yang signifikan. Apalagi jika pengelolaan usahanya fleksibel atau terbuka bagi perubahan-perubahan.

Dapat disimpulkan bahwa untuk memenangkan persaingan harus dipicu oleh keinginan atau misi untuk memberikan yang terbaik bagi konsumen. Untuk itu peran PT. SSUV dalam menawarkan program-program pelatihan tidak hanya sebatas pemberian informasi tetapi juga membantu PPU dal melakukan kontrak bisnis bahkan negosiasi kepada mitra bisnisnya.

4.3.3. Pemasaran

Pemasaran merupakan salah satu upaya PT. SSUV untuk membantu PPU mengembangkan nilai produksinya. Untuk memperluas jaringan pemasaran PT.

SSUV membina PPU untuk rajin melakukan promosi. Promosi penjualan mempunyai dua sasaran yaitu memperbesar reaksi pembelian para konsumen akhir dan memperbesar upaya-upaya dan intensitas penjualan pada para pedagang antara dan para personil bidang penjualan. Secara menyeluruh dapat dikatakan bahwa penggunaan promosi penjualan adalah untuk menarik pembeli-pembeli baru, mempenetrasi pasar-pasar baru dan menimbulkan pembeli baru.

Promosi yang dilakukan PPU tidak saja untuk dapat menggait pasar lokal akan tetapi juga dalam upaya mengembangkan jaringan usaha secara global.

Kemajuan serta penyebarluasan teknologi ke seluruh dunia masih merupakan jurang bagi para PPU yang tidak dapat mengakses teknologi informasi. PPU berharap segala bentuk pelayanan informasi dan promosi yang disediakan PT. SSUV dapat menimbulkan perubahan yang besar bagi usaha

mereka, tetapi mereka belum menyadari masih banyak faktor yang sangat berpengaruh untuk melakukan suatu perubahan.

Beberapa faktor yang diidentifikasikan memberikan pengaruh terhadap kesenjangan digital antara lain jalan ke akses telekomunikasi, akses internet, pencapaian pendidikan dan bahasa yang hampir 90% isi internet dalam bahasa Inggris. Akses ke teknologi informasi merupakan kunci pembuka pintu untuk memasuki era ekonomi berbasis pengetahuan. Begitu pula dengan akses ke internet, masyarakat dapat memperoleh segala informasi ekspor yang mereka butuhkan, yang dapat menjadi peluang untuk meningkatkan perusahaan mereka.

Peranan PT. SSUV dalam pelaksanaan promosi dengan berpartisipasi langsung melalui kegiatan pameran, maupun tidak langsung dalam bentuk mengikutsertakan PPU pada pameran yang akan dikoordinasi atau diikuti oleh pemerintah atau lembaga lainnya.

PT. SSUV memiliki kriteria pemilihan pameran yang akan diikuti dengan persyaratan sebagai berikut :

1. Pameran berskala Nasional/Internasional dan memiliki reputasi yang baik

2. Pameran tersebut minimal telah berlangsung 5 (lima) tahun berturut-turut

3. Pameran tersebut diikuti oleh pemerintah tingkat propinsi dan

3. Pameran tersebut diikuti oleh pemerintah tingkat propinsi dan

Dokumen terkait