TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Pengertian Usaha Menegah
Anoraga dan Sudantoko (2002) dalam tulisannya mengatakan bahwa sektor usaha kecil dan menengah memiliki karakteristik sebagai berikut :
“Sistem pembukuan yang relatif sederhana dan cenderung tidak mengikuti kaidah administrasi pembukuan standard. Kadang kala pembukuan tida up to date sehingga sulit untuk menilai kinerja usahanya dengan ditandai :
1. Margin usaha yang cenderung tipis mengingat persaingan yang sangat tinggi;
2. Modal terbatas;
3. Pengalaman managerial dalam mengelola perusahaan masih sangat terbatas;
4. Skala ekonomi yang terlalu kecil, sehingga sulit mengharapkan untuk mampu menekan biaya mencapai titik efisiensi jangka panjang;
5. Kemampuan pemasaran dan negosiasi serta diversifikasi pasar sangat terbatas;
6. Kemampuan untuk memperoleh sumber dana dari pasar modal rendah, mengingat keterbatasan dalam sistem administrasinya. Untuk mendapatkan dana di pasar modal, sebuah perusahaan harus mengikuti sistem administrasi standard dan harus transparan.
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang pengertian usaha kecil dan menengah, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan usaha menengah adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala menengah dalam memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan seperti kepemilikan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. Usaha menengah meliputi usaha-usaha kecil yang sudah formal dan sudah memiliki manajerial secara sederhana. Skala usaha ini ditandai dengan penggunaan alat produksi yang masih sederhana dan bahkan telah digunakan secara turun temurun, dan masih sedikit menggunakan teknologi.
Usaha menengah adalah satu bentuk produksi yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat atau kalangan pengusaha menengah Indonesia. Sektor ini sebagai bentuk produksi yang berskala modal dan kegiatan usaha yang relatif sederhana. perkembangan sektor ini merupakan ciri dominan dalam keadaan
meneyrap tenaga-tenaga kerja yang “terlempar” dari sektor pertanian/perdesaan.
Daya serap yang lentur dari sektor ini merupakan karakteristik yang menonjol, terutama di negara-negara berkembang di Indonesia.
Perkembangan usaha menengah sering dianggap sebagai sektor ekonomi yang berada dalam proses transisi. Sektor ini dianggap sebagai fenomena yang menggambarkan suatu bentuk produksi yang sedang mengalami pergesaran dari produksi sistem agraris menunju ke sistem produksi industri.
Usaha menengah akan terus berkembang searah dengan perkembangan industri kaoitalis, pertambahan jumlah penduduk, jumlah tenaga kerja yang tidak tertampung pada perusahaan-perusahaan besar. Untuk melakukan kegiatan disini sedikit dibutuhkan keahlian, tingkat pendidikan yang menengah, modal dalam jumlah tertentu dan prosedur perizinan yang sudah formal. Pada dasarnya apabila mereka mempunyai kemampuan, memiliki pengetahuan dan keterampilan praktis serta peralatan yang sudah berteknologi, maka mereka akan dapat melaksanakan kegiatan atau usaha-usaha yang sudah berskala besar.
Wirosardjono (1985) menyatakan bahwa ciri-ciri usaha menengah adalah ditandai dengan pola kegiatan yang sudah teratur, baik dalam arti waktu, pemodalan maupun penerimaannya, sudah tersentuh oleh peraturan atau ketentuan yang ditetapkan pemerintah, modal, peralatan, perlengkapan dan omsetnya biasanya sudah lumayan besar, dan sudah mempunyai keterikatan (linkages) dengan usaha lain yang lebih besar, sudah mempunyai tempat usaha yang permanen dan terpisah dari tempat tinggalnya, membutuhkan keahlian dan keterampilan khusus sehingga secara luwes dapat menyerap bermacam-macam
tingkat pendidikan tenaga kerja, umumnya tiap-tiap satuan usaha mengerjakan tenaga yang sedikit dan dari hubungan keluarga, kenalan atau dari daerah yang sama, dan telah mengenal sistem perbankan, pembukuan, perkreditan dan lain sebagainya.
Terbitan Internasional Labour Organization (ILO) mengenai Word Employment Programe 1972 ILO, seperti yang dikutip Muin (1991) menyebutkan bahwa pengertian sektor menengah adalah sektor yang mudah dimasuki oleh para calon pengusaha pendatang baru, menggunakan sumber-sumber ekonomi yang ada di dalam negeri, dimiliki oleh keluarga, menggunakan teknologi pada karya dan tehnologi yang telah disesuaikan, keterampilan yang dibutuhkan diperoleh dari pengalaman dan bangku sekolah, telah diatur pemerintah dan bergerak dalam pasar yang penuh persaingan. Siapa saja boleh membentuk sektor usaha seperti ini dan sudah memerlukan adanya pertimbangan akan diperlukannya modal yang besar dan dengan manajemen yang juga sudah harus professional.
Hidayat (2001) menyatakan bahwa ada 11 ciri sektor usaha menengah berdasarkan hasil penelitiannya sebagai berikut :
1. Kegiatan usaha sudah terorganisasi secara baik, karena timbulnya unit usaha telah mempergunakan fasilitas kelembagaan yang tersedia disektor formal;
2. Pada umumnya unit usaha mempunyai izin usaha;
3. Pola kegiatan usaha telah teratur baik dalam arti lokasi maupun jam kerjanya;
4. Pada umumnya sudah adanya kebijaksanaan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi pada skala usah sektor ini;
5. Sudah memiliki tehnologi dalam proses produksinya;
6. Modal dan pemutaran usahanya sudah besar, sehingga skala operasinya juga sudah relatif luas;
7. Pendidikan yang diperlukan untuk menjalankan usaha sudah memerlukan pendidikan formal dan pendidikan yang diperoleh dan pengalaman sambil bekerja;
8. Pada umunya unit usaha termasuk golongan “one man interprise” dan mempekerjakan buruh sudah ada yang berasal dari kalangan yang professional;
9. Sumber dana modal usaha pada umumnya barasal dari persekutuan perorangan dan atau dari lembaga-lembaga keuangan yang resmi; dan
10. Hasil produksi atau jasa terutama sudah dikomsumsi oleh golongan masyarakat kota/desa.
Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/39/PBI/2015 tanggal 18 2005, secara rinci Gubernur Bank Indonesia (2005) menyatakan bahwa Usaha Menengah adalah usaha-usaha yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;
2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah);
3. Milik warga Negara Indonesia;
4. Berdiri sendiri dan buka merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau berafiliasi langsung maupun tidak langsung dengan usaha besar;
5. Berbentuk badan usah perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang sudah berbadan hukum.