TINJAUAN PUSTAKA
2.6. Pemberdayaan Usaha Menengah
Usaha Menengah di Indonesia telah menunjukkan peran yang strategis dalam mempertahankan dan memulihkan perekonomian nasional. berkaitan dengan hal tersebut, bergabai pihak baik lembaga pemerintah maupun swasta, telah memberikan perhatian terhadap pengembangan dan pertumbuhan usaha menengah tersebut.
Pemerintah sendiri melalui Menteri Keuangan telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan serta peraturan-peraturan tentang Pendanaan Kredit Usaha Mikro dan Kecil melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12/PMK.06/2005 tanggal 14 Pebruari 2005, dan Undang-undang Nomor 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil dan Menengah dan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1999 tentang Pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia.
Dengan dikeluarkannya berbagai peraturan diatas, maka Bank Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia dan telah diubah dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 3 tahun 2004, tetap akan membantu pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah secara tidak langsung dengan meningkatkan intensitas dan efektifitas pemberian bantuan teksnis, dalam
rangka pemberdayaan usaha-usaha di sektor mikro, kecil dan menengah di Indonesia.
Konsep pemberdayaan menurut Rappaport yang dikutip Suharto (1997) adalah suatu cara dengan mana rakyat, organisasi dan komunitas diarahkan agar mampu menguasai dan juga berkuasa atas kehidupannya. Menurut Payne dalam Adi (2001) mengemukakan bahwa suatu proses pemberdayaan (empowerment) pada intinya ditujukan guna membantu klien memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan yang terkait dengan diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang ia miliki, antara lain melalui transfer daya dari lingkungannya.
Pemberdayaan usaha secara nasional bukan hanya meliputi penguatan individu-individu anggota masyarakat pengusaha, tetapi juga lembaga-lembaga usaha yang sudah ada. Menanamkan nilai-nilai modern, seperti disiplin dan kerja keras, penguatan dan pemanfaatan teknologi tepat guna, ketrampilan, manajemen keterbukaan dan sikap bertanggungjawab, adalah bagian pokok dari upaya pemberdayaan ini. Demikian pula halnya pembaruan lembaga-lembaga usaha dan pengintegrasiannya ke dalam kegiatan pembangunan perekonomian nasional serta peranan pelaku usaha di dalamnya.
Proses perencanaan dan pengambilan keputusan dalam pengembangan perusahaan kerapkali dilakukan dari atas ke bawah (top-down). Rencana program
pengembangan perusahaan biasanya dibuat di tingkat pimpinan dan dilaksanakan oleh para pekerja atau karyawan.
Program yang dilakukan dengan pendekatan dari atas ke bawah sering tidak berhasil dan kurang memberi manfaat kepada perusahaan, sehingga para karyawan merasa kurang bertanggung jawab terhadap program dan keberhasilannya perusahaan.
Dari kondisi ini, pendekatan dikembangkan dengan menempatkan karyawan sebagai pihak utama atau pusat pengembangan usaha. Pendakatan tersebut lebih bersifat memberdayakan perusahaan. Proses pemberdayaan perusahaan seperti ini bertitik tolak untuk memandirikan karyawan dan perusahaan agar dapat meningkatkan kinerjanya sendiri dengan menggunakan dan mengakses sumber daya sebaik mungkin. Sasaran utama pemberdayaan perusahaan adalah aspek permodalan dan manajemen perusahaan.
Konsep pemberdayaan dapat dikatakan merupakan jawaban atas realitas ketidakberdayaan (dis-empowerment). Mereka yang tidak berdaya jelas adalah pihak yang tidak memiliki daya (atau kehilangan daya) atau kekuatan. Dapat dikatakan bahwa yang tidak berdaya adalah mereka yang tidak atau kehilangan kekuatan. Disini kita melihat dua kemungkinan utama yaitu apa yang dilukiskan sebagai tidak punya (tidak memiliki) kekuatan dan apa yang disebut sebagai kehilangan kekuatan. Dua bentuk ini tentu sangat berbeda, yang pertama menunjuk pada situasi tidak punya atau dari awal berada dalam kondisi tidak punya sedangkan yang kedua menunjuk pada proses penghilangan atau kondisi
awal ada (punya) dan kemudian ada sebuah proses yang membuatnya tidak berdaya.
Secara umum suatu pemberdayaan dimaksudkan untuk:
1. Pemberdayaan bermakna kedalam, kepada masyarakat berarti suatu usaha untuk mentransformasikan kesadaran rakyat dan sekaligus mendekatkan masyarakat dengan akses untuk perbaikan kehidupan mereka. Suatu transformasi bermakna tindakan untuk mengembangkan pendidikan politik, guna mengembangkan wacana alternatif sehingga dominasi atau bahkan hagemoni Negara bisa diatasi. Selanjutnya upaya mendekatkan masyarakat dengan akses terhadap perbaikan kehidupan, sama artinya dengan desakan untuk sebuah proses redistribusi sumber-sumber ekonomi.
Upaya ini hanya efektif bila masyarakat sendiri yang melakukan desakan, oleh sebab itu langkah pemberdayaan mustahil dijalankan jika tidak memuat langkah pengorganisasian masyarakat yang merupakan tindakan dengan maksud dasar menjadikan masyarakat sebagai kelompok sadar dan terhimpun. Keterhimpunan masyarakat sendiri menjadi sangat penting sebab hanya itulah yang dapat menghindarkan dari berbagai upaya manipulai atau mungkin suatu tekanan baik yang tidak perlu. Langkah-langkah ini dilakukan dengan maksud untuk :
a. Memungkinkan rakyat secara mandiri (otonom) mengorganisasi diri, dan dengan demikian akan memudahkan rakyat menghadapi situasi-situasi sulit, serta mampu menolak berbagai kecenderungan yang merugikan.
b. Memungkinkan ekspresi aspirasi dan jalan memperjuangkan dan memberikan semacam garansi bagi tidak diabaikannya kepentingan rakyat.
c. Memungkinkan diatasinya persoalan-persoalan dalam dinamika pembangunan dan menjadi cermin adanya kepercayaan kepada rakyat, bahwa rakyat tidak perlu dimaknai sebagai sumber kebodohan, melainkan sebagai subjek pembangunan yang juga memiliki keampuan.
2. Pemberdayaan bermakna keluar, sebagai suatu upaya untuk menggerakkan perubahan kebijakan-kebijakan yang selama ini nyata-nyata merugikan masyarakat. Pemberdayaan dalam segi ini bermakna sebagai policy reform yang berbasis sebagai upaya memperlebar ruang partisipasi rakyat. Suatu upaya policy reform (merubah kebijakan) sudah tentu memiliki dua makna sekaligus. Makna kebelakang berarti suatu bentuk koreksi (mendasar) atas kebaikan lama sedangkan makna kedepan adalah mendorong suatu proses dan skema baru agar pengambilan kebijakan tidak lagi menggunakan skema lama, melainkan menunggu skema baru yang lebih memungkinkan keterlibatan masyarakat. Dalam kaitannya dengan konsep pemberdayaan banyak para ahli membahas hal ini. Salah satunya adalah Payne (1997) yang mengemukakan bahwa pemberdayaan (empowerment), pada intinya ditujukan guna membantu klien memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan yang terkait dengan diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan
sosial dalam melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang ia miliki, antara lain melalui transfer daya dari lingkungannya. Meskipun demikian, target dan tujuan pemberdayaan itu dapat berbeda sesuai dengan bidang pembangunan yang digarap. Tujuan pemberdayaan dibidang ekonomi belum tentu sama dengan tujuan pemberdayaan dibidang pendidikan ataupun di bidang sosial. Misalnya saja, tujuan pemberdayaan dibidang ekonomi adalah agar kelompok sasaran dapat mengelola usahanya, kemudian memasarkan dan membentuk siklus pemasaran yang relatif stabil, sedangkan pada bidang pendidikan adalah agar kelompok sasaran dapat menggali berbagai potensi yang ada dalam dirinya dan memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk mengatasi permasalahan yang dia hadapi, sedangkan tujuan pemberdayaan pada bidang sosial, misalnya agar kelompok sasaran dapat menjalankan fungsi sosialnya kembali sesuai dengan peran dan tugas sosialnya. Dari contohnya tersebut terlihat bahwa makna pemberdayaan bukan hanya satu interpretasi saja, tetapi bisa berinterpretasi yang jamak (multiple interpretation), dimana interpretasi yang satu dengan yang lainnya belum tentu sama dengan kata lain pemberdayaan ini bisa bervariasi berdasarkan tujuan-tujuan yang hendak dicapai.
Berdasarkan hal diatas, berbagai macam bentuk pemberdayaan dapat dipadukan dan saling melengkapi guna menciptakan kesejahteraan masyarakat.
Hal yang seringkali menjadi masalah adalah bagaimana mensinergiskan berbagai
macam upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukn berbagai bidang dengan melibatkan berbagai lembaga yang ada, baik itu lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah ataupun mensinergiskan pemberdayaan yang dilakukan berdasarkan bidang yang berbeda. Masalah mensinergiskan berbagai upaya pemberdayaan yang ada inilah salah satu hal yang paling sulit dalam pelaksanaan pembangunan sosial maupun pemberdayaan masyarakat. Misalnya saja, bagaimana pemberdayaan ekonomi harus memperhatikan pembedayaan lingkungan sehingga tidak terjadi eksploitasi terhadap sumber daya alam yang dapat mengancam kerusakan lingkungan, demikian juga dengan bidang-bidang lainnya.
Upaya mensinergiskan dalam kaitan dengan masalah-masalah seperti inilah kadangkala menjadi permasalahan tersendiri, belum lagi dengan upaya mengkoordinasikan dan mensinkronkan gerak internal lembaga-lembaga pemerintah dan sinergi eksternal dengan lembaga-lembaga non pemerintah merupakan suatu hal yang sulit dilaksanakan, meskipun dengan segala keterbatasan yang ada, upaya-upaya tersebut sudah dicoba untuk dilaksanakan.
Pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan ekonomi hanya dapat dimanfaatkan oleh wilayah, sektor atau golongan ekonomi yang lebih siap dan lebih maju. Perbedaan dalam hal pemanfaatan ini akan mendorong munculnya perbedaan tingkat produktivitas dan kemajuan. Dalam lingkup yang lebih luas, ketidaksamaan dalam pendapatan kesempatan akan menyebabkan timbulnya masalah kesenjangan. Dalam menghadapi masalah seperti inilah, pemerintah perlu memberi perhatian khusus kepada wilayah, sektor dan golongan ekonomi yang
kurang siap tadi. Penanggulangan masalah kesenjangan dan pemerataan pembangunan yang telah dilakukan melalui berbagai arah kebijakan pembangunan pada dasarnya merupakan suatu upaya pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan dapat dilihat dari bidangnya seperti diuraikan sebelumnya, pemberdayaan juga dapat dilihat dari sisi keberadaannya terdapat dua kelompok yaitu pemberdayaan sebagai suatu program dan pemberdayaan sebagai suatu proses.
Pemberdayaan sebagai suatu program, dimana pemberdayaan dilihat dari tahapan-tahapan kegiatan guna mencapai suatu tujuan yang biasanya sudah ditentukan jangka waktunya seperti program pemberdayaan misalnya dilakukan dalam suatu tahun anggaran. Hal seperti ini banyak dilaksanakan dengan sistem pembangunan berdasarkan proyek yang telah banyak dikembangkan oleh lembaga pemerintah dimana proyek yang satu dan yang lainnya kadang kala tidak berhubungan bahkan tidak saling mengetahui apa yang sedang dikerjakan oleh bagian yang lain, meskipun itu dalam suatu lembaga yang sama.
Pemberdayaan sebagai suatu proses, merupakan yang berkesinambungan sepanjang hidup seseorang (on going process). Pemberdayaan sebagai on going process dapat dilihat sebagaimana dikemukakan oleh Hogen, melihat proses pemberdayaan individu sebagai suatu proses yang relatif terus berjalan sepanjang usia yang diperoleh dari pengalaman individu tersebut dan bukannya suatu proses yang berhenti pada suatu masa saja. Hal ini juga berlaku pada suatu masyarakat dimana dalam suatu komunitas proses permberdayaan tidak akan berakhir dengan selesainya suatu program, baik program yang dilaksanakan oleh pemerintah
maupun lembaga non pemerintah. Proses pemberdayaan akan berlangsung selama komunitas itu tetap ada dan mau berusaha memberdayakan diri mereka sendiri.
Siklus pemberdayaan menurut Hogan yang dikutip Adi (2001) bahwa proses pemberdayaan yang berkesinambungan sebagai suatu siklus, terdiri dari lima tahapan, yaitu:
1. Menghadirkan kembali pengalaman yang memberdayakan dan tidak memberdayakan (recall depowering/empowering experience)
2. Mediskuikan alasan mengapa terjadi pemberdayaan dan ketidakberdayaan (dicuss reason for depowerment/enpowerment)
3. Mengidentifikasikan suatu masalah atau proyek (identity on problem or project)
4. Mengidentifikasikan basis daya yang bermakna (identity useful power bases).
5. Mengembangkan rencana-rencana aksi dan mengimplementasikan (develop and implecement action plans)
BAB III
METODE PENELITIAN