2. APLIKASI TEORI KEPERAWATAN
2.3 Integrasi Teori dan Konsep Keperawatan dalam Proses Keperawatan
dan proses keperawatan dalam teori Comfort Kolcaba.
2.3.1. Gambaran Model Teori Comfort Kolcaba
Kolcaba menilai bahwa pelayanan kesehatan harus menciptakan rasa nyaman. Kolcaba (1992, dalam Alligood, 2014) mendefinisikan kenyamanan sebagai suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan ketentraman (suatu kepuasan yang meningkatkan perilaku terorganisir bayi), kelegaan (kebutuhan telah terpenuhi), dan transenden (keadaan telah mampu beradaptasi dengan nyeri). Perawat bertanggung jawab didalam menciptakan kenyamanan bagi pasien dari awal hingga akhir. Seorang perawat yang profesional dapat memberikan dan menghadirkan kenyamanan bagi pasien. Kemampuan perawat dalam memberikan kenyamanan pada pasien ditentukan oleh besarnya tingkat keterampilan dan karakter dari seorang perawat. Kolcaba dan Dimarco (2005) menyatakan bahwa kenyamanan baik dari segi fisik maupun mental adalah tanggung jawab perawat dan seorang perawat dalam memberikan tindakan kenyamanan tidak hanya berakhir dengan kenyamanan dari segi fisik saja. Kenyamanan diletakkan di garis depan pelayanan keperawatan. Kolcaba menganalisis konsep kenyamanan dengan menggambarkan komponen fisik, psikospiritual, lingkungan dan sosial budaya. Kemudian mengevaluasi
artinya dalam berbagai konteks di mana perawatan kesehatan terjadi, serta menjelaskan bagaimana hal itu dapat diukur. Pendekatan holistik ini dapat membantu dalam menentukan prioritas dan parameter untuk perawatan pasien. Tipe-tipe kenyamaman didefiniskan sebagai berikut (Kolcaba, 2003 dalam Tomey & Alligood, 2010): (1) Relief: kondisi bayi yang membutuhkan penanganan yang spesifik dan segera; (2) Ease: kondisi yang tenteram atau kepuasan hati; dan (3) Transcendence: kondisi dimana bayi mampu mengatasi masalahnya (nyeri). Selain itu, terdapat empat konteks kenyamanan, yaitu: (1) Fisik: berkaitan dengan sensasi jasmani; (2) Psikospiritual: berkaitan dengan status perilaku bayi, serta konsep diri, kepercayaan dan makna hidup orangtua; (3) Lingkungan: berkaitan dengan keadaan sekitarnya, kondisi-kondisi, dan pengaruhnya; dan (4) Sosiokultural: berkaitan dengan keluarga, hubungan sosial, dan budaya yang dianut oleh keluarga.
Kolcaba (2003, dalam Alligood & Tomey, 2010) menyebutkan bahwa untuk memberikan kenyamanan memerlukan tiga jenis intervensi kenyamanan, yaitu:
a. Teknik mengukur kenyamanan (technical comfort measures)
Intervensi ini didesain untuk mempertahankan homeostasis dan manajemen nyeri, seperti pemantauan tanda-tanda vital dan hasil kimia darah. Termasuk juga dalam pemberian obat anti nyeri. Pengukuran kenyamanan didesain untuk membantu bayi mempertahankan atau memulihkan fungsi fisik dan kenyamanan serta mencegah terjadinya komplikasi pada bayi prematur.
b. Pembinaan (coaching)
Intervensi ini didesain untuk membebaskan rasa nyeri dan menyediakan penenteraman hati dan informasi, membangkitkan harapan, mendengar, dan membantu perencanaan yang realistis untuk pemulihan, integrasi, atau meninggal sesuai budayanya. Pada pasien bayi prematur, pembinaan dilakukan pada orangtua bayi yang nantinya akan merawat bayi di rumah.
c. ”Comfort Food for The Soul”
Intervensi ini meliputi intervensi yang tidak dibutuhkan bayi dan orangtua saat ini tetapi sangat berguna untuk menentramkan jiwa. Intervensi kenyamanan ini membuat orangtua dan bayi merasa lebih kuat dalam kondisi yang sulit diukur secara personal. Target intervensi ini adalah transcendence meliputi hubungan yang mengesankan antara perawat-bayi dan perawat-keluarga. Sugesti kenyamanan ini dapat diberikan dalam bentuk pijatan, lingkungan yang adaptif yang menciptakan kedamaian dan ketenangan, terapi musik, ‘hadir-berbicara’, dan sentuhan terapeutik.
Teori Comfort Kolcaba menawarkan cara yang efisien untuk membangun pendekatan interdisipliner untuk mengikuti intervensi secara individual. Berikut merupakan asumsi Kolcaba yang diterapkan pada bayi: (1) Bayi/keluarga mempunyai respon holistik terhadap stimulus yang kompleks. Kenyamanan merupakan hasil holistik yang relevan dengan disiplin keperawatan dan pada tingkat dasar relevan dengan disiplin kesehatan lain. (2) Bayi/keluarga berusaha memenuhi kenyamanan dasar dengan bantuan perawat, (3) intervening variables diperhitungkan dalam merancang intervensi dan menentukan keberhasilan intervensi, (4) intervensi yang efektif dan dilakukan dengan caring hasilnya akan langsung terlihat sebagai peningkatan rasa nyaman, (5) Bila kenyamanan tercapai, bayi dan keluarga terikat oleh HSBs yang akan meningkatkan kenyamanan lebih lanjut. Bila bayi dan orangtua telah memiliki HSBs yang kuat sebagai hasil dari comfort care, perawat dan keluarga akan lebih puas dengan pelayanan kesehatan, dan (6) Kepuasan akan berdampak pada perkembangan institusi pelayanan kesehatan karena masyarakat yang merasa puas dengan pelayanan akan mengakui integritas dari institusi tersebut (Kolcaba, 2003; Sitzman dan Eichelberger, 2011; Herlina, 2012).
+ +
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Skema 2.1 Hubungan antar Konsep dari Teori Comfort Kolcaba Sumber: Kolcaba (2003)
Definisi dan keterangan dari masing–masing gambar secara rinci dijelaskan sebagai berikut :
(1) Kebutuhan Perawatan Kesehatan (Health Care Need)
Kolcaba mendefinisikan kebutuhan perawatan kesehatan sebagai kebutuhan untuk memperoleh kenyamanan dari situasi yang stressfull. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan fisik, psikospiritual, sosial dan lingkungan, yang semuanya membutuhkan pemantauan, laporan verbal maupun non verbal serta kebutuhan yang berhubungan dengan parameter patofisilogis, membutuhkan edukasi dan dukungan serta kebutuhan akan financial dan intervensi.
(2) Pengukuran Kenyamanan (Comforting Intervention)
Comfort bisa diartikan suatu keadaan yang dialami oleh penerima yang dapat didefinisikan sebagai suatu pengalaman immediate yang menjadi suatu kekuatan akan kebutuhan relief, ease, transedence yang dapat terpenuhi dalam empat konteks pengalaman yang meliputi aspek fisik, psikospiritual, sosial dan lingkungan. Beberapa tipe comfort yaitu: 1) relief, merupakan suatu keadaan dimana bayi dan orangtua memiliki pemenuhan kebutuhan spesifik, 2) ease, merupakan suatu keadaaan merasa tenang dan senang, 3) transedence, merupakan suatu keadaan dimana bayi mampu beradaptasi dengan ketidaknyamanan.
Kebu-tuhan pera-watan kese-hatan Pengu-kuran kenya-manan Varia-bel – varia-bel inter-vensi Kenya manan pasien Perila ku penca-ri kese-hatan Integrita s institusi Perilaku internal Meninggal dengan damai
Perilaku eksternal
Kebijakan terbaik Praktik terbaik
(3) Variabel – Variabel Intervensi (Intervening variables)
Intervening variables ini didefinisikan sebagai kekuatan yang berinteraksi sehingga mempengaruhi persepsi bayi dari comfort secara keseluruhan. Variabel ini meliputi pengalaman nyeri sebelumnya, usia gestasi, status perilaku, sistem pendukung, prognosis, financial dan keseluruhan elemen dalam pengalaman nyeri bayi.
(4) Kenyamanan (Enhance comfort)
Sebuah luaran yang langsung diharapkan pada pelayanan keperawatan, mengacu pada teori comfort ini.
(5) Perilaku Pencari Kesehatan (Health Seeking Behaviors)
Merupakan sebuah kategori yang luas dari luaran berikutnya yang berhubungan dengan pencari kesehatan yang diinginkan oleh orangtua saat konsultasi dengan perawat. HSBs ini dapat berasal dari eksternal (aktivitas yang terkait dengan kesehatan), internal (penyembuhan, fungsi imun, dan pertumbuhan perkembangan bayi prematur).
(6) Institusi yang Terintegrasi (Institusional Integrity)
Merupakan nilai, stabilitas keuangan, dan keseluruhan dari organisasi pelayanan kesehatan pada area lokal, regional, dan nasional. Pada sistem rumah sakit, definisi institusi diartikan sebagai pelayanan kesehatan umum, agensi home care.
2.3.2. Proses Keperawatan menurut Teori Comfort Kolcaba
Aplikasi teori kenyamanan di area keperawatan dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Kegiatan dimulai dengan langkah-langkah proses keperawatan mulai dari pengkajian, merumuskan diagnosis keperawatan, menyusun intervensi keperawatan, implementasi dan evaluasi yang diuraikan di bawah ini:
a. Pengkajian Keperawatan
Kolcaba dan Dimarco (2005) mengungkapkan bahwa dalam menentukan konteks kebutuhan kenyamanan yang terjadi pada bayi dan keluarga, merupakan hal yang penting untuk bisa mengaplikasikan teori secara benar pada empat konteks kebutuhan kenyamanan yang terdiri
1) Kebutuhan kenyamanan fisik
Kenyamanan fisik terdiri dari sensasi tubuh dan mekanisme homeostasis; risiko maupun gangguan dan mekanisme fisiologis akibat dari penyakit dan prosedur invasif; serta kebutuhan fisik yang tidak disadari seperti keseimbangan cairan dan elektrolit, oksigenasi, termoregulasi, nutrisi, imunitas, istirahat dan tidur.
2) Kebutuhan kenyamanan psikospiritual
Kebutuhan akan rasa nyaman agar lebih damai menghadapi prosedur yang menimbulkan trauma, serta ketidaknyamanan dan nyeri yang tidak segera sembuh. Kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan intervensi comfort food for the soul seperti kunjungan dari orangtua, sentuhan dan kata-kata lembut baik dari orangtua maupun tenaga kesehatan profesional.
3) Kebutuhan kenyamanan sosiokultural
Kebutuhan kenyamanan sosiokultural merupakan kebutuhan untuk jaminan kebudayaan yang sensitif, bahasa tubuh yang positif terutama pada orangtua bayi, serta caring baik pada bayi maupun orangtua.
4) Kebutuhan kenyamanan lingkungan
Kebutuhan kenyamanan lingkungan yang termasuk adalah ketenangan, minimal cahaya, ketertiban, keamanan, perhatian terhadap setting ruang perawatan, serta menjaga kenyamanan tidur. b. Diagnosis Keperawatan
Kolcaba mengambil kenyamanan sebagai fokus teorinya. Teori ini menerangkan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan sebagai suatu kebutuhan kenyamanan dari situasi pelayanan kesehatan yang stressfull. Saat ini Kolcaba hanya mengembangkan kuesioner pengkajian sebagai alat untuk menilai kenyamanan pasien, namun untuk diagnosis keperawatan secara khusus belum disebutkan. Akan tetapi Herdman dan Kamitsuru (2014) merumuskan diagnosis keperawatan yang saat ini digunakan yaitu NANDA 2015-2017, kenyamanan disebutkan dalam domain ke-12 yang terdiri dari beberapa kelas, antara lain:
Kelas 1. Kenyamanan fisik: Gangguan rasa nyaman, kesiapan meningkatkan rasa nyaman, mual, nyeri akut, nyeri kronik, nyeri persalinan, dan sindrom nyeri kronik
Kelas 2. Kenyamanan lingkungan: Gangguan rasa nyaman, kesiapan meningkatkan rasa nyaman
Kelas 3. Kenyamanan sosial: Gangguan rasa nyaman, kesiapan meningkatkan rasa nyaman, risiko menyendiri, isolasi sosial. c. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan bertujuan meningkatkan kenyamanan. Intervensi kenyamanan menurut Kolcaba dan Dimarco (2005) memiliki tiga kategori yaitu:
1) Intervensi kenyamanan standar/tehnik untuk mengukur kenyamanan dalam mempertahankan homeostasis dan mengontrol rasa sakit 2) Pelatihan/coaching untuk meredakan kecemasan, memberikan
jaminan dan informasi, menanamkan harapan, mendengarkan dan membantu merencanakan pemulihan
3) Tindakan yang menenangkan bagi jiwa (comforting) adalah hal-hal yang dilakukan perawat untuk membuat bayi mendapatkan ‘containment’ dan orangtua merasa diperhatikan serta dikuatkan. d. Implementasi Keperawatan
Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan diarahkan kembali untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan menurut standar sehingga homeostasis (Kolcaba & Dimarco, 2005; Hockenberry & Wilson, 2009). e. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi tidak hanya dilakukan pada saat pasien akan kembali ke rumah, namun juga dilaksanakan selama pemberian asuhan keperawatan (Hockenberry & Wilson, 2009). Beberapa instrumen untuk mengukur kenyamanan telah dikembangkan oleh Kolcaba, seperti behaviour, checklist and children’s comfort daisies sesuai dengan usia (Kolcaba & Dimarco, 2005).
+ +
Skema 2.2 Integrasi Teori Comfort Kolcaba dalam Asuhan Keperawatan pada Bayi Prematur yang Mengalami Nyeri Prosedural
Sumber: (Kolcaba & Dimarco, 2005); (Alligood & Tomey, 2010); (Hockenberry & Wilson, 2009)
impending eklampsi, kehamilan gemeli, ketuban pecah dini Kebutuhan pelayanan kesehatan Intervensi Keperawatan Variabel yang mempengaruhi Kenyamanan pasien Perilaku mencari
kesehatan Integritas institusi
Pengalaman: 1. Fisik 2. Psikospiritual 3. Sosiokultural 4. Lingkungan Intervensi Comfort: (Atraumatic care) 1. Standar comfort 2. Coaching 3. Comforting Variable intervening: 1. Pengalaman 2. Usia gestasi 3. Status perilaku 4. Sistem pendukung 5. Lama rawat inap 6. Prognosis
Outcome Comfort: 1. Rasa nyaman fisik 2. Rasa nyaman psikospiritual 3. Rasa nyaman sosiokultural 4. Rasa nyaman lingkungan 1. Tumbuh kembang optimal
2. Daya tahan tubuh kuat 3. Keluarga memahami
status perilaku dan isyarat bayi prematur
1. Kepuasan keluarga tercapai
2. Tindakan medis berkurang
3. Perawatan berfokus pada asuhan perkem-bangan
1. Perubahan pada HR dan RR, Skor nyeri > 12 2. Adanya stress dan
trauma akibat prosedural 3. Orangtua kurang terlibat
dalam perawatan 4. Lingkungan: kebisingan,
cahaya, suara alat
1. Observasi tanda-tanda vital minimal tiap 3 jam 2. Facilitated tucking saat
prosedur terapi 3. Pendidikan kesehatan 4. Lingkungan minimal
cahaya dan kebisingan
1. Catat riwayat kesehatan 2. Catat usia gestasi,
status perilaku, lama perawatan 3. Catat keterlibatan keluarga 1. Suhu 36,5oC-37,5oC; denyut jantung 100-180 x/menit; RR 40-60 x/menit; TD 38-61/23-40 mmHg; SaO2 95% 2. Status perilaku menunjukkan
kenyamanan 3. Skor nyeri < 12 4. Ada dukungan keluarga
1. LK, PB, BB sesuai fenton
2. Perkembang-an sesuai usia
3. Bayi tidak menunjukkan isyarat stress
4. Bebas infeksi
5. Tidak terjadi komplikasi penyakit
1. Lama rawat inap berkurang 2. Penggunaan antibiotik berkurang 3. Keluarga puas dengan pelayanan Rumah Sakit prematur belum matang