2. APLIKASI TEORI KEPERAWATAN
2.2 Tinjauan Teoritis
Pada subbab ini dibahas dasar-dasar teori mengenai nyeri pada bayi prematur, perkembangan reseptor nyeri, penyebab nyeri pada bayi baru lahir, alat pengkajian nyeri, dan penatalaksanaan nyeri pada bayi prematur, serta landasan konsep pencegahan trauma dalam keperawatan anak.
2.2.1. Nyeri pada Bayi Prematur
Fakta menyebutkan bahwa struktur anatomi, fisiologis dan neurokimia yang menyampaikan rasa sakit berkembang dengan baik pada neonatus. (Hockenberry & Wilson, 2009) mengatakan bahwa nyeri merupakan pengalaman tidak menyenangkan yang bersifat subjektif akibat rusaknya jaringan yang akan mempengaruhi pengalaman individu dalam mempersepsikan apa yang dirasakan. Definisi tersebut jelas menggambarkan bahwa nyeri merupakan mekanisme fisiologis alami untuk
memperingatkan tubuh akan kemungkinan terjadinya kerusakan jaringan. Nyeri yang tidak ditangani dan nyeri kronik pada neonatus dapat berefek jangka pendek maupun jangka panjang. Efek jangka pendek dapat menyebabkan keterlambatan penyembuhan, mobilitas dan pola tidur terganggu. Efek jangka panjang dapat menyebabkan perilaku dan kondisi yang abnormal, keterlambatan perkembangan serta kerusakan perkembangan sistem saraf untuk mempersepsikan rasa nyeri (Nimbalkar, Dongara, & Phatak, 2014).
Penelitian telah menunjukkan bahwa bayi prematur tidak hanya merasakan dan memahami rasa sakit, tetapi juga merespon lebih intensif dibandingkan dengan neonatus cukup bulan (Badr, 2013). Jumlah dan tipe nosiseptor perifer telah sama dengan dewasa pada usia gestasi 20 sampai 24 minggu, sehingga densitas nosiseptor bayi dan luas kulit lebih besar dibanding dewasa. Sistem saraf pusat janin berkembang dengan baik setelah usia kehamilan 24 minggu. Neonatus memiliki semua komponen nosiseptif walaupun tidak memiliki sistem saraf mielin yang lengkap (Mathew & Mathew, 2003).
Selama menjalani perawatan di ruang perawatan bayi baru lahir, bayi prematur memerlukan perawatan rutin dan prosedur yang lebih sering dibandingkan dengan neonatus cukup bulan (Lopez et al., 2015). Oleh karena itu, hipersensitivitas bayi memanjang dan ambang nyeri berkurang. Sebagai hasilnya, rangsangan yang tidak berbahaya seperti mengubah posisi dan melakukan perawatan rutin bisa menyakitkan bagi bayi prematur dan menyebabkan stress. Manajemen nyeri yang tidak memadai pada bayi dapat menyebabkan perubahan permanen dalam proses pengorganisasian otak dan muncul perilaku maladaptif. Nyeri juga dapat memiliki efek yang merugikan pada kemampuan masa depan anak untuk belajar dan mengingat informasi baru (Ranger & Grunau, 2014).
Badr (2013) mendokumentasikan sejumlah prosedur yang menimbulkan nyeri pada bayi prematur. Badr menyebutkan sejumlah 14-25 prosedur per bayi per hari atau sekitar 273 dalam 2 minggu, termasuk aktivitas rutin
seperti mengganti pampers dan penimbangan berat badan. Intervensi menyakitkan yang sering dilakukan adalah prosedur isap lendir, penusukan tumit, dan merubah posisi/mengganti diapers. Nyeri pada neonatus dimanifestasikan dalam perilakunya seperti ekspresi wajah, pergerakan tubuh, menangis, dan konsolabiliti. Selain itu tanda-tanda fisik seperti hipoksemia, hipertensi, takikardi, kenaikan variabilitas denyut jantung juga merupakan tanda bayi mengalami nyeri.
2.2.2. Perkembangan Reseptor Nyeri
Gomella, Cunningham, dan Eyal (2013) dalam bukunya menjelaskan perkembangan ujung saraf sensori yang telah dimulai sangat dini pada proses nosiseptif, sebagai berikut:
a. Usia gestasi 7,5-15 minggu: Reseptor sensori pada area kulit perifer berkembang pada perioral, wajah, palmar, area abdomen dan ekstremitas proksimal.
b. Usia gestasi 8-19 minggu: Reflek spinal mampu berespon pada stimulus yang mengganggu dan neuron diliputi oleh akar ganglion dorsal.
c. Usia gestasi 20 minggu: membran mukosa dan area kulit diliputi oleh ujung-ujung saraf sensori.
d. Usia gestasi 20-24 minggu: Thalamic afferents terjalin dengan persepsi sadar mencapai area ambang nyeri dan lapisan kortikal.
e. Usia gestasi 23-27 minggu: Thalamic afferents mencapai korteks visual. f. Usia gestasi 26-28 minggu: Thalamic afferents mencapai lapisan
kortikal auditori.
Hockenberry dan Wilson (2009) juga menjelaskan bahwa bayi baru lahir dapat menunjukkan nyeri secara non verbal. Respon perilaku bayi tersebut dapat dikatakan sebagai respon stress pada bayi prematur. Khasanah, Rustina, dan Syahreni (2015) tidak merekomendasikan terjadinya interaksi antara pengasuh dengan bayi pada saat bayi menunjukkan respon/perilaku stress tersebut. Oleh karena itu, tim tenaga kesehatan perlu mengetahui dengan tepat bagaimana merespon bayi ketika mengalami stress sehingga bayi tidak bertambah stress yang dapat berakibat meningkatnya rasa nyeri
bayi. Tim tenaga kesehatan perlu mempunyai instrumen pengkajian untuk dapat mengevaluasi nyeri bayi prematur sehingga dengan pengkajian yang akurat, tim kesehatan mampu menentukan penatalaksanaan yang tepat pada nyeri bayi prematur tersebut. Selanjutnya, perawat maupun tenaga kesehatan lain mampu meminimalkan skor nyeri bayi prematur terutama saat dilakukan tindakan invasif.
2.2.3. Penyebab Nyeri pada Bayi Baru Lahir
Gomella, Cunningham, dan Eyal (2013) mengklasifikasikan tipe nyeri pada bayi baru lahir berdasarkan penyebab terjadinya nyeri, antara lain:
a. Nyeri akibat trauma persalinan
Nyeri pada bayi baru lahir yang berkaitan dengan trauma persalinan biasanya merupakan hasil dari persalinan yang menggunakan vakum. Beberapa bayi dapat terlihat tanda memar pada wajah dan kepala yang merupakan trauma akibat melewati jalan lahir. Persalinan dengan forsep juga akan meninggalkan tanda temporari atau memar pada wajah dan kepala bayi. Cephalhematom merupakan tanda yang biasanya terlihat pada bayi dengan persalinan forsep atau ekstraksi vakum. Nyeri akibat fraktur saat proses persalinan juga dapat terjadi pada bayi baru lahir. b. Nyeri akut prosedural
Frekuensi prosedur menyakitkan di NICU dapat terjadi antara 5 – 15 prosedur dalam satu hari. Oleh karena itu, metode yang paling optimal untuk mengontrol nyeri adalah dengan membatasi sejumlah prosedur menyakitkan. Prosedur menyakitkan yang berada di ruang NICU antara lain pengisapan lendir melalui ETT, intubasi, ventilasi mekanik, pemasangan chest tube, pemeriksaan ROP, pemasangan akses sentral, pemasangan intra vena, penusukan tumit, lumbal pungsi, sirkumsisi, ligasi PDA dan pemasangan drain peritoneal.
c. Nyeri akut postoperatif
Protokol nyeri post operasi membantu praktik terstandar antara tim kesehatan profesional. Pengkajian nyeri secara rutin perlu dilakukan menggunakan skala yang khusus untuk post operasi atau nyeri.
Pengobatan dengan opioid dapat diberikan melalui bolus atau syringe pump.
d. Nyeri kronik
Beberapa nyeri kronik yang terjadi pada bayi merupakan akibat dari nyeri akut yang tidak terkontrol. Alat pengkajian nyeri seharusnya merupakan alat yang tervalidasi untuk nyeri kronik. Dibutuhkan penelitian untuk meneruskan perkembangan area nyeri kronik ini.
2.2.4. Pengkajian Nyeri pada Bayi Prematur
Terdapat banyak alat pengkajian nyeri pada bayi, diperlukan alat pengkajian yang reliabel untuk mengkaji nyeri bayi secara rutin. Berikut beberapa alat pengkajian nyeri yang sering digunakan pada bayi, yaitu:
a. Neonatal infant pain scale (NIPS)
Skala ini mengkaji intensitas nyeri pada bayi dengan rata-rata umur kehamilan 33,5 minggu. Skala terdiri dari 6 variabel penilaian dengan total skor 0 untuk tidak ada nyeri sedangkan 7 nilai nyeri hebat. Adapun variabel yang dinilai adalah ekspresi wajah (0-1), tangan (0-1), menangis (0-2), kaki (0-1), pola pernapasan (0-1), dan kepekaan terhadap rangsangan (0-1) (Lawrence et al., 1993 dalam Glasper & Richardson, 2006).
b. Pain assessment tool (PAT)
Skala digunakan untuk mengkaji intensitas nyeri pada bayi dengan umur kehamilan 27 minggu sampai matur. Skala ini terdiri dari 10 variabel penilaian dengan skor total 4 untuk tidak ada nyeri dan 20 untuk nyeri hebat. Adapun variabel penilaian tersebut adalah sikap/ suara (1-2), pernapasan (1-2), pola tidur (0-2), frekuensi jantung (1-2), ekspresi (1-2), saturasi (0-2), warna (0-2), tekanan darah (0-2), menangis (0-2), persepsi perawat (0-2) (Hodgkinson et al., 1994 dalam Hockenberry & Wilson, 2009).
c. Crying, Requiring increased oxygen, Increased vital signs, Expession, and Sleeplessness (CRIES)
Skala digunakan untuk mengkaji intensitas nyeri pada bayi dengan umur kehamilan 32 sampai 60 minggu. Skala ini terdiri dari 5 penilaian dengan
skor total 0 untuk tidak ada nyeri dan 10 untuk nyeri hebat. Adapun penilaian tersebut adalah menangis (0-2), peningkatan kebutuhan oksigen tambahan (0-2), peningkatan tanda vital (0-2), ekspresi (0-2), tidak bisa tidur (0-2) (Krechel & Bildner, 1995 dalam Glasper & Richardson, 2006).
d. Premature Infant Pain profile (PIPP)
Skala ini dipakai untuk mengkaji nyeri pada bayi dengan usia gestasi 28-40 minggu. Terdiri dari 7 penilaian dengan skor total 0 untuk tidak ada nyeri dan 3 untuk sangat nyeri. Adapun variabel yang dinilai adalah usia kehamilan, mata berkerut, status perilaku, bibir melipat ke dalam, denyut jantung, saturasi Oksigen, dan alis menonjol. Skala ini biasanya digunakan untuk mengkaji nyeri pada prosedur/tindakan perawatan. Pada skoring status perilaku, observasi dilakukan 15 detik segera sebelum prosedur, kemudian observasi berikutnya dilakukan 30 detik segera setelah prosedur (Walden & Gibbins, 2008).
2.2.5. Penatalaksanaan Nyeri pada Bayi Prematur
Penatalaksanaan nyeri secara farmakologis meliputi penggunaan opioid (narkotik), nonopioid/ NSAIDs (Nonsteroid Anti Inflamation Drugs) dan adjuvant, serta ko-analgesik. Namun obat ini tidak bisa digunakan sampai fungsi ginjal matur. Tata laksana nyeri yang lain dapat diberikan anestesi topikal seperti Eutetic Mixture of Local Anaesthetics (EMLA) yang merupakan krim dengan dosis pada bayi prematur > 1500 gram 1 cm2 atau 0.30 gram dan pada neonatus cukup bulan dapat diberikan 2 cm2 atau 0.50 gram. Selanjutnya anastesi regional, misalnya blok saraf perifer dan blok saraf sentral (spinal, epidural) dimana teknik ini harus dilakukan dengan hati-hati oleh tenaga kesehatan profesional terlatih serta memerlukan observasi yang ketat (Ranger & Grunau, 2014).
Penatalaksanaan nyeri non farmakologi pada bayi yang dapat dilakukan antara lain menyusui, pemberian dekstrosa, pemberian sukrosa, metode kanguru, pengaturan posisi, mengisap nonnutritif, pembedongan, pijat bayi, facilitated tucking, musik, multysensory stimulation yang dapat dilakukan
dengan menatap bayi, sentuhan lembut pada punggung dan wajah bayi, berbicara pada bayi dengan lembut tapi jelas dan intervensi lingkungan misalnya dengan mengendalikan kebisingan dan pencahayaan di lingkungan NICU (Gomella et al., 2013). Metode non-farmakologis yang telah diterapkan pada kelima kasus terpilih adalah facilitated tucking disertai “hadir-berbicara”. Menurut Yin et al. (2014), kombinasi dua intervensi non farmakologi dapat menjadikan intervensi tersebut lebih efektif untuk menurunkan skor nyeri pada bayi prematur yang mengalami nyeri akut prosedural.
a. Facilitated tucking
Prosedur invasif yang terjadi secara rutin pada neonatus di ruang perawatan bayi baru lahir menyebabkan rasa sakit dan perkembangan tidak terduga. Neonatus lebih sensitif untuk merasakan rasa sakit dari bayi yang lebih tua, anak-anak, bahkan orang dewasa, dan hipersensitivitas ini lebih diperparah pada neonatus prematur. Beberapa bukti menunjukkan bahwa paparan nyeri yang berulang dan berkepanjangan pada bayi dapat mengubah pengalaman rasa sakit berikutnya, perkembangan jangka panjang, dan perilaku bayi (Gitto et al., 2012). Terjadinya nyeri pada neonatus memiliki konsekuensi fisik dan psikologis, memprovokasi terjadinya hipoksemia, hipertensi, takikardia, kenaikan variabilitas denyut jantung, dan tekanan intrakranial. Nyeri/rasa sakit yang terjadi pada bayi prematur dapat menyebabkan kerusakan otak. Hal ini berkaitan dengan vasoregulasi yang belum matang dari sistem saraf pusat bayi prematur (Ranger & Grunau, 2014).
Analgesik farmakologi memiliki efek yang cepat namun dampaknya pada neonatus masih dipertanyakan (Cignacco et al., 2010). Oleh karena itu diperlukan intervensi non-farmakologis yang tepat untuk mengatasi nyeri akut bayi prematur pada saat prosedur diagnostik dan terapeutik. Dampak intervensi non-farmakologis biasanya terbatas pada efektifitas untuk mengurangi rasa sakit namun tidak memperhatikan dari segi waktu, biaya dan kemudahan pelaksanaan intervensi dalam setting klinik.
Intervensi non-farmakologi membutuhkan paradigma perawatan yang berorientasi pada bayi dan orangtua, didorong oleh empati dan fokus perhatian dari tim kesehatan profesional. Fokus ini memerlukan perubahan sikap dan nilai-nilai yang ada dalam sebuah tim kesehatan di NICU.
Facilitated tucking merupakan salah satu intervensi non-farmakologis untuk menurunkan persepsi nyeri bayi prematur yang terbukti efektif dalam menghilangkan nyeri akut pada neonatus (Cignacco & Sellam, 2012; Liaw et al., 2012; Lopez et al., 2015; Sundaram, Shrivastava, Pandian, & Singh, 2013; Yin et al., 2014). Facilitated tucking didefinisikan sebagai penahanan lengan dan kaki bayi dalam tertekuk, posisi garis tengah dekat dengan tenggorokan (posisi fleksi fisiologis/midline position). Teknik memegangnya dapat berbeda tergantung prosedur menyakitkan yang akan dilakukan pada bayi prematur (Kucukoglu et al., 2015). Sebagai contoh untuk prosedur isap lendir (suction) dianjurkan untuk memegang dekat lengan dan kaki bayi (lihat gambar 2.1). Prosedur facilitated tucking untuk penusukan tumit dilakukan dengan cara satu tangan memegang lembut kepala, sementara yang lain memegang tubuh bayi dan lengan dalam keadaan tertekuk (lihat Gambar 2.2).
Gambar 2.1. Posisi Facilitated Tucking untuk Prosedur Isap Lendir Sumber: Cignacco et al. (2010)
Gambar 2.2. Posisi Facilitated Tucking untuk Prosedur Penusukan Tumit
Sumber: Cignacco et al. (2010)
Pemanfaatan yang efektif dari intervensi ini membutuhkan sekitar 10 menit dari interaksi dengan bayi untuk memberikan dukungan emosional dan mendampingi bayi dalam melalui pengalaman yang tidak menyenangkan dari rasa sakit. Facilitated tucking harus dimulai sekitar 3 menit sebelum prosedur menyakitkan untuk membantu bayi beradaptasi dengan rangsangan taktil, dua tangan orang dewasa menahannya. Relaksasi bayi pada umumnya diamati setelah sekitar 3 menit dari facilitated tucking, sehingga prosedur yang menyakitkan itu sendiri seharusnya tidak dimulai sampai setelah bayi santai. Hal yang sama berlaku untuk periode setelah tindakan, dimana intervensi facilitated tucking perlu terus dilakukan selama setidaknya 3 menit untuk memberikan bayi kesempatan pemulihan dan kembali ke status dasar. b. “Hadir-berbicara” pada bayi prematur
Bidang kesehatan mental bayi yang berfokus pada penelitian, neurologi dan intervensi berbasis hubungan menekankan pentingnya hubungan yang selaras antara interaksi pengasuh dengan bayi, hal ini bertujuan untuk pengembangan emosional yang sehat dan kapasitas regulasi bayi (Zwimpfer & Elder, 2012). “Hadir-berbicara” pada bayi sebagai bagian dari perawatan neonatal telah diidentifikasi sebagai aspek penting dari manajemen nyeri meskipun belum banyak penelitian tentang hal ini. Namun Schore (1996, dalam Zwimpfer & Elder, 2012) membuktikan
bahwa hubungan dengan orang dewasa sangat penting untuk memfasilitasi pertumbuhan otak bayi agar mampu mengelola stres. Bayi yang dalam keadaan stres sangat membutuhkan dukungan dari pengasuh dewasa untuk membantu mengatur keadaan emosional mereka. Ketika bayi yang masih belajar dan ditenangkan oleh pengasuh/orang dewasa, kemampuan mereka untuk menenangkan diri mereka sendiri difasilitasi melalui pengembangan jalur saraf untuk pengaturan emosional. Ketika hal ini tidak terjadi bayi berisiko mengalami gejala sisa kesehatan mental di kemudian hari. Artinya perkembangan pengaturan emosional mereka tergantung dari kesediaan orang dewasa untuk bisa berempati dan berkomunikasi dengan bayi. Hal ini menjadi penting karena dalam perkembangannya saat ini NICU tidak hanya dilihat sebagai tempat untuk perawatan fisik saja, tetapi juga asuhan perkembangan termasuk perkembangan emosional bayi.
Intervensi “hadir-berbicara” sesuai dengan penelitian Bellieni et al. (2002) yang mengatakan bahwa intervensi ‘rasa’ dengan menggunakan glukosa oral menjadi lebih efektif dengan adanya intervensi sentuhan dan bicara pada bayi saat dilakukan prosedur yang menyakitkan. Psikoterapi melalui pendekatan orangtua-bayi umumnya ditujukan untuk mengenali dan menangkap ekspresi emosional bayi.
Kenyataannya perawat secara langsung lebih sering berinteraksi dengan bayi prematur tersebut dibandingkan orangtua bayi. Oleh karena itu, menurut Salomonsson (2010) terdapat tiga teknik yang dapat dilakukan petugas kesehatan, dalam hal ini perawat untuk “hadir” pada bayi prematur, yaitu:
1. Perawat berusaha membangun hubungan terapeutik dengan bayi Peran perawat sangat besar bagi bayi prematur. Hal ini harus disadari oleh seluruh perawat yang bekerja di ruang NICU. Bayi prematur dapat menghabiskan sampai tiga atau empat bulan di NICU. Hanya ada sedikit peluang untuk bayi dapat berinteraksi dengan orangtua.
Oleh karena itu, perawat yang mengambil peran sebagai orangtua bayi. Perawat bekerja secara langsung dengan bayi dan mengambil tanggung jawab keseluruhan untuk perawatan fisik maupun emosional bayi prematur.
2. Perawat meyakini bayi akan menggunakan intersubjektivitas (kapasitas bawaan untuk berhubungan dengan orang lain) untuk memperoleh “containment”
Bayi prematur mencari komunikasi dan kenyamanan dari pengasuh (seseorang yang menawarkan kepedulian terhadap mereka). Hal ini karena bayi prematur lahir dengan intersubjektivitas yang merupakan bawaan primer. Bayi siap untuk berhubungan dengan manusia lain dan mengharapkan respon terhadap keinginan bayi untuk berkomunikasi. Trevarthen (2001, dalam Zwimpfer & Elder, 2012) mengatakan bahwa tidak perlu harus menjadi ibu biologis yang memenuhi kebutuhan bayi, tapi setiap orang dewasa yang simpatik, bersedia dan mampu masuk dalam dunia emosional bayi dapat memenuhi kebutuhan mereka.
Teori dalam aliran pemikiran menekankan pentingnya pengasuh membantu bayi mengelola perasaannya, baik rasa menyenangkan maupun menyakitkan. Proses ini sering digambarkan sebagai ”containment”, yaitu ‘wadah’ untuk mengekspresikan perasaan bayi dan mendapatkan respon dari orang dewasa terkait apa yang dirasakannya. Bellieni, Tei, Coccina, dan Buonocore (2012) menyarankan pentingnya kehadiran pengasuh bersama bayi selama prosedur menyakitkan, terutama ‘kehadiran empati’ dari pengasuh/orang dewasa. Oleh karena itu, penting bagi tim kesehatan yang bekerja di NICU mengekspresikan empati dan cinta bagi pasien mereka dan meyakini bahwa hal ini penting untuk memaksimalkan perawatan, serta merupakan suatu intervensi untuk mengurangi stress.
3. Perawat mengasumsikan bahwa bayi memproses aspek interaksi non leksikal
Asumsi disini adalah bahwa meskipun bayi tidak memahami kata-kata yang sebenarnya diucapkan kepada mereka, namun bayi memahami maksud emosional dibalik kata-kata. Jika asumsi ini ada pada setiap perawat, maka akan ada nilai terapeutik dimana perawat menenangkan bayi yang sedang mengalami stress dengan ‘vokal’. Berbicara menenangkan pada bayi perlu jujur, misalnya dengan mengakui pengalaman nyeri yang dirasakan oleh bayi agar bermakna untuk bayi dan membantu bayi merasa dimengerti dan meyakinkan, sehingga terbentuk proses “containment”.
Sudut pandang psikoterapi adalah bahwa kehadiran manusia adalah tentang ‘menjadi dengan’ dan ‘berpikir tentang’ bayi secara emosional, tidak hanya secara fisik (Zwimpfer & Elder, 2012). Oleh karena itu, tim kesehatan yang bekerja di NICU perlu ditekankan untuk bersikap sensitif dan responsif terhadap kebutuhan bayi.
Model ‘vokal’ yang lembut dan menenangkan diperlukan untuk memberikan intervensi “hadir-berbicara” pada bayi prematur. Jika secara emosional perawat hadir untuk berkomunikasi dengan bayi dan menyampaikan pada bayi melalui sikap yang selaras, suara yang empatik, lembut dibawah 50 db, dan mirip dengan ‘ibu’ maka bayi akan mencapai proses “containment”. Melalui cara ini, perawat responsif untuk berkomunikasi dengan bayi, memahami perasaan nyeri/sakit yang dialami bayi, kemudian menenangkan.
Kata-kata yang digunakan oleh perawat merupakan komponen penting dari komunikasi ini. Kata-kata harus benar dan digunakan dalam konteks untuk membantu bayi merasa bahwa pengalaman nyeri mereka telah dipahami dengan baik. Salah satu cara untuk memastikannya adalah dengan mempertimbangkan langkah-langkah untuk manajemen nyeri prosedural berikut (Halimaa, 2003), yaitu: Menciptakan lingkungan yang
dengan aman untuk dilakukan prosedur, meminimalkan nyeri selama prosedur, dan mengembalikan rasa aman bayi setelah prosedur.
Langkah-langkah manajemen nyeri prosedural yang telah disebutkan dalam paragraf sebelumnya bertujuan untuk dapat menghasilkan ‘vokal’ yang menenangkan. Pertama memberikan peringatan tentang apa yang akan terjadi, maka perawat ‘berbicara’ pada bayi sebelum prosedur sehingga bayi memiliki waktu setelah peringatan itu. Tujuannya adalah untuk menemani bayi dari awal prosedur sampai akhir, untuk melihat dari sudut pandang bayi, untuk memberikan peringatan atau persiapan tentang apa yang akan dilakukan pemeriksa selanjutnya, untuk menyadari perasaan bayi selama prosedur, dan kemudian melakukan evaluasi apa yang telah terjadi sebelum pindah ke prosedur berikutnya.
Selama proses intervensi ini perawat harus selaras dengan pengalaman bayi (Zwimpfer & Elder, 2012). Perawat perlu merasa empati dan yakin bahwa bayi akan mentolerir prosedur dengan baik dan pulih dengan baik dari stress sementara yang mereka alami. Inti dari teori “containment” adalah bahwa ketika bayi merasa bahwa ada orang lain yang lebih kuat mengerti bagaimana perasaan mereka kemudian orang lain tersebut tetap tenang dan mendukung bayi, maka akan meyakinkan dan menenangkan untuk bayi.
2.2.6. Pencegahan Trauma
Keperawatan anak merupakan suatu cabang ilmu keperawatan yang berangkat dari sebuah filosofi bahwa keyakinan atau pandangan yang dimiliki perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan anak yang berfokus pada keluarga (family centered care), manajemen kasus, dan pencegahan trauma (atraumatic care) (Hockenberry & Wilson, 2009). Pencegahan trauma sendiri merupakan tindakan yang menjaga perawat untuk tidak menimbulkan trauma baik pada bayi maupun keluarga. Beberapa hal yang dapat menimbulkan trauma pada bayi, antara lain nyeri, kebisingan, pencahayaan dan sikap perawat yang tidak bersahabat. Oleh karena itu, perawat perlu mengidentifikasi hal-hal yang dapat menimbulkan
nyeri pada bayi untuk dapat dilakukan pencegahan trauma. Hal ini karena dengan melakukan pencegahan trauma dapat mengurangi dampak psikologis bagi perkembangan bayi prematur.
Wong et al. (2002) menjelaskan beberapa prinsip untuk mengurangi trauma pada bayi dapat dilakukan dengan cara: Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dengan orangtua, meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengenal isyarat bayi, mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri sebagai dampak psikologis, dan memodifikasi lingkungan.
2.3. Integrasi Teori dan Konsep Keperawatan dalam Proses Keperawatan