BAB I PENDAHULUAN
1.2 Tinjauan Pustaka
1.2.4 Interaksi Sosial Masyarakat Desa
Menurut Soerjono Soekanto bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial, sedangkan bentuk khususnya adalah aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan
21 Peris Sulianto, Skripsi, “Arisan Desa untuk Biaya Pernikahan Perspektif ‘Urf”, (Malang: Fakultas Syari’ah UIN Maulana Malik Ibrahim, 2017), hal. 21-22.
antara orang perorang antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorang dengan kelompok manusia. Syarat terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak sosial dan adanya komunikasi.22
Menurut Gilin dan Gilin ada dua golongan proses sosial yang merupakan akibat interaksi sosial, yaitu:23
1. Proses Asosiatif
Adalah sebuah proses yang terjadi saling pengertian dan kerjasama timbal balik antara orang per orang atau kelompok satu dengan lainnya, dimana proses ini menghasilkan pencapaian tujuan bersama. Macam proses asosiatif yaitu: a) kerjasama adalah usaha bersama individu atau kelompok untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Bentuk kerjasama seperti:
gotong-royong (kerjasama di masyarakat perdesaan), Bargaining (perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa), Coalition (kerjasama individu dan kelompok dalam sebuah organisasi atau negara untuk menciptakan suatu stabilitas), joint-venture (kerjasama dua perusahaan atau lebih dalam suatu proyek tertentu); b) Akomodasi banyak digunakan dalam dua makna, pertama adalah proses yang menunjukkan pada keadaan seimbang dalam interaksi sosial antara individu dan antar kelompok dalam masyarakat terutama yang ada hubungannya dengan norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Kedua, adalah menuju pada proses untuk meredakan suatu pertentangan yang terjadi di masyarakat. Proses akomodasi ini menuju pada tujuan dengan mencapai suatu kestabilan. Bentuk-bentuk akomodasi adalah sebagai berikut: (1) Coersion, akomodasi dengan paksaan maupun kekerasan secara fisik atau psikologis; (2) Comprommise, bentuk akomodasi dimana masing-masing pihak berkonflik saling mengurangi tuntutan agar dapat tercapai penyelesaian oleh pihak ketiga; (3) Mediation, akomodasi dengan menggunakan pihak ketiga yang netral; (4) Conciliation, akomodasi melalui usaha mempertemukan keinginan dari pihak yang terlibat konflik; (5) Toleration, akomodasi yang tidak formal, dikarenakan ada pihak yang
22 Burhan Bungin, “Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursi Teknologi di Masyarakat”, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 55.
23 Ibid., hal. 58-63
mencoba menghindari diri dari pertikaian; (6) Stalemate, bentuk akomodasi dimana pihak yang berkonflik mempunyai kekuatan sama dan berhenti pada satu titik tertentu serta masing-masing pihak menahan diri: (7) Ajudication, usaha akomodasi dengan jalan pengadilan. c) Asimilasi, yaitu suatu proses pencampuran dua atau lebih budaya yang berbeda akibat dari proses sosial, kemudian menghasilkan budaya sendiri yang berbeda dengan budaya asalnya.
2. Proses Disosiatif
Proses disosiatif merupakan proses perlawanan yang dilakukan individu-individu dan kelompok dalam proses sosial di antara mereka pada suatu masyarakat. Bentuk-bentuk proses disosiatif adalah sebagai berikut: a) persaingan merupakan proses sosial, dimana individu atau kelompok berjuang dan bersaing untuk mencari keuntungan pada bidang-bidang kehidupan yang menjadi pusat perhatian umum dengan cara menarik perhatian publik atau mempertajam prasangka yang telah ada, namun tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan; (b) Kontravensi adalah proses sosial yang berada antara persaingan dan pertikaian atau konflik. Kontravensi terjadi dimana ada pertentangan pada tataran konsep dan wacana, serta berusaha menggagalkan tercapainya tujuan dari pihak lain; c) Konflik atau pertikaian adalah proses sosial dimana individu atau kelompok memiliki perbedaan-perbedaan dalam hal emosi, unsur kebudayaan, perilaku, prinsip, ideologi, maupun kepentingan dengan pihak lain. Perbedaan tersebut menjadi suatu pertikaian dimana pertikaian dapat menghasilkan ancaman atau kekerasan fisik.
Menurut Mead agar interaksi sosial bisa berjalan dengan tertib dan teratur dan agar anggota masyarakat bisa berfungsi secara normal, maka yang diperlukan bukan hanya kemampuan untuk bertindak sesuai dengan konteks sosialnya, tetapi juga memerlukan kemampuan untuk menilai secara obyektif perilaku kita sendiri dari sudut pandang orang lain.24
24 J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group 2007), hal. 20.
Selo Soerdmajan menjelaskan bahwa masyarakat merupakan orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.25 Menurut Bintaro desa merupakan hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu wujud atau kenampakan dimuka bumi yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografi, sosial, ekonomi, politik, dan kultural yang berinteraksi antara unsur dan juga dalam hubungannya dengan daerah-daerah yang lain.26
Masyarakat pedesaan dapat diartikan sebagai masyarakat yang memiliki hubungan yang lebih mendalam dan erat dan sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan. Sebagian besar warga masyarakat hidup dari pertanian. Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat dan sebagainya. Dengan kata lain masyarakat pedesaan identik dengan istilah gotong royong yang merupakan kerja sama untuk mencapai kepentingan mereka sebagai wujud dari solidaritas masyarakat desa. Adapun faktor yang mempengaruhi timbulnya solidaritas tersebut yaitu:
a. Faktor Lingkungan
Emil Salim mengemukakan bahwasanya, alam sekitar merupakan suatu hal pokok yang dapat muncul karena adanya respon dari orang lain. Alam sekitar adalah sumber kehidupan bagi setiap orang. Setiap orang mempunyai keahlian guna menambah secara kuantitatif serta cara berfikir dengan baik.
Selanjutnya dalam hal merespon akan muncul permasalahan-permasalahan.
Dalam hal permasalahan biologis maupun alam sekitar, ataupun ekosistem.27 b. Faktor Keluarga
Keluarga adalah awalan yang paling dibutuhkan dalam bersosialisasi nantinya. Yang pertama, keluarga adalah wadah yang menjadikan seseorang dalam menentukan sikap yang akan dibawa ke lingkungan sekitar. Yang kedua, peran kedua orang tua dalam memberikan didikan bagi anak-anaknya sangatlah penting. Hal ini bisa dikatakan diperlukan karena guru pertama bagi seorang anak yaitu kedua orang tuanya. Mereka bisa paham akan pentingnya
25 Ibid., hal. 24
26 R. Bintarto, Interaksi Desa dan Kota Beserta Permasalahnnya, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1989), hal. 11.
27 Abdulsyani, Sosiologi Skematika Teori dan Terapan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012), hal. 194.
sikap dan menahan rasa amarah dalam berinteraksi dengan orang lain dimanapun mereka berada. yang ketiga, terdapat ketentuan dalam bersosialisasi, oleh karena itu, diperlukan kesadaran kedua orang tua agar ikut serta ambil alih dalam mengajarkan bagaimana cara bersosialisasi yang baik.28
1.2.5 Perubahan Sosial pada Acara Pesta Khitanan dan Pernikahan
Menurut William Ogburn (1964), perubahan sosial adalah perubahan yang meliputi unsur-unsur kebudayaan, baik unsur material, maupun unsur material. Namun yang ditekankan adalah pengaruh unsur material terhadap non-material. Yang dimaksud unsur material kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan manusia. Yang dimaksud dengan unsur non-material adalah hasil kebudayaan yang bersifat lebih abstrak seperti ide, ideologi, dan kepercayaan.
Wiliam F. Ogburn menekankan pada kondisi teknologis yang mempengaruhi perubahan sosial.29 Adapun faktor penyebab perubahan sosial dapat terjadi di dalam masyarakat seperti bertambah atau berkurangnya penduduk, penemuan-penemuan baru (inovasi), konflik dalam masyarakat dan adanya revolusi, lingkungan fisik dan pengaruh kebudayaan lain.
Kecepatan perubahan sosial budaya setiap masyarakat berbeda-beda tergantung dari terbuka atau tidaknya suatu masyarakat. Masyarakat modern akan mengalami perubahan sosial budaya lebih cepat dibandingkan perubahan pada masyarakat agraris sebaliknya masyarakat tradisional akan mengalami perubahan sosial budaya lebih lambat dibandingkan dengan masyarakat modern.
Hal tersebut dikarenakan masyarakat modern lebih terbuka dan heterogen dibandingkan dengan masyarakat tradisional. Kingsley Davis dalam Soerjono Soekanto mengatakan bahwa perubahan sosial merupakan bagian dari kebudayaan. Perubahan dalam kebudayaan mencakup hal-hal seperti kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, dan filsafat. Menurutnya perubahan sosial sebagai
28 J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto, loc.cit.
29 Ibid., hal. 359.
perubahan pada sistem sosial, struktur, dan fungsi masyarakat.30 Salah satu contoh yang termasuk perubahan budaya di antaranya adalah perubahan pada acara khitanan dan pernikahan.
Menyelenggarakan acara khitanan dan pernikahan di Indonesia sudah menjadi sebuah tradisi yang wajib dilakukan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tradisi adalah melakukan sesuatu perbuatan yang tentunya menurut adat kebiasaan atau menurut agama.31 Ada pula yang menginformasikan, bahwa tradisi dari kata traditium, yaitu segala sesuatu yang transmisikan dan diwariskan oleh masa lalu ke masa sekarang. Berdasarkan dari sumber-sumber tersebut jelaslah bahwa tradisi, intinya adalah warisan masa lalu yang dilestarikan terus hingga sekarang. Warisan masa lalu itu dapat berupa nilai, norma sosial, pola kelakuan dan adat kebiasaan lain yang merupakan wujud dari berbagai aspek kehidupan.
Secara terminologi khitan adalah membuka atau memotong kulit (quluf) yang menutupi ujung kemaluan dengan tujuan agar bersih dari najis. Dalam pelaksanaan khitan biasanya digunakan untuk laki-laki atau istilah orang jawa disebut sunnatan, dalam ilmu kedokteran disebut circumcision, yaitu pemotongan kulit yang menutupi kepala penis (prapeutium glandis).32 Dalam praktiknya, khitan di Indonesia mayoritas dilakukan ketika anak masih berada dalam usia SD hingga SMP. Setelah itu biasanya orang tua akan mengadakan undangan khitanan yang sampai saat ini masih menjadi tradisi dan kebiasaan masyarakat Indonesia sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Acara khitanan umumnya dilakukan oleh masyarakat dalam dua bentuk yaitu secara sederhana dan mewah. Acara khitanan yang dilaksanakan secara sederhana biasanya hanya berupa kenduri saja sedangkan acara khitanan yang dilakukan secara mewah biasanya akan digelar sebuah pesta sesuai dengan prosesi adat dan diiringi dengan hiburan. Sehingga dalam hal ini, pastinya orang tua akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
30 Prof. Dr. Soerjono Soekanto, “Sosiologi Suatu Pengantar”, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2013), hal.
301.
31 W.J.S Poerwardarminta, op.cit., hal. 1132.
32 Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1992), hal. 555.
Pernikahan adalah salah satu momen penting dalam hidup manusia.
Manusia mengalami perubahan tingkat-tingkat hidup individual selama hidupnya yang disebut daur hidup, yaitu masa kanak-kanak, remaja, nikah, masa tua, dan mati.33 Ikatan pernikahan merupakan sesuatu yang dianggap sakral atau suci sehingga terkadang pernikahan diartikan juga sebuah perayaan cinta di mana dalam peristiwa tersebut terjadi pengukuhan hubungan antara dua insan baik secara agama maupun hukum. Menikah juga bukan hanya menyatukan dua pribadi saja, tetapi juga dua keluarga, sehingga dengan mengadakan pesta pernikahan dianggap sebagai ungkapan rasa syukur, kebahagiaan, dan kebanggaan tersendiri.34 Perkembangan fenomena atau tren pernikahan yang berkembang khususnya di Indonesia banyak terbentuk melalui segi sosiokultural masyarakat maupun tren gaya pernikahan yang menular dari dunia luar, yaitu gaya pernikahan internasional.35
Masyarakat Indonesia sebelum tahun 1990an biasanya melangsungkan pernikahan dengan mengikuti tata cara tradisional, namun seiring perkembangan zaman maka pilihan menikah dengan tata cara tradisional mulai tergantikan dengan pernikahan secara modern, dimana pernikahan secara modern tidak menuntut adanya prosesi upacara yang terlalu rumit. Namun tidak berarti pernikahan secara tradisional mulai ditinggalkan.36
Dengan tidak melupakan maknanya, saat ini kaidah pesta adat telah banyak dimodifikasi menjadi lebih sederhana, maraknya kompromi pernikahan campuran dua budaya (dua adat) yang tak terhindarkan, terutama di lingkungan yang majemuk. Akulturasi dua budaya menggeser aturan-aturan baku menuju batas toleransinya. Pergeseran ini akan terus terjadi di masa-masa mendatang.37
Berbeda dengan pernikahan secara tradisional, pernikahan modern tidak menuntut adanya profesi yang panjang. Pernikahan modern hanya menekankan pada prosesi upacara ijab kabul atau pemberkatan dan perayaan pernikahan
33 Koentjaraningrat, op. cit., hal. 89.
34 Nathasja Tiffany Aprimadhany, Skripsi: “Wedding Center di Yogyakarta” (Yogyakarta: Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya, 2010), hal. 1.
35 Ibid., hal. 2.
36 Ibid., hal. 3.
37 Ibid., hal. 9.
(resepsi). Dalam resepsi pun tidak ada susunan atau tata cara yang baku. Proses pernikahan tradisional yang panjang dan rumit dihilangkan, sehingga prosesi pernikahan menjadi lebih sederhana dan santai namun tetap tidak kehilangan makna dan kesakralan pernikahan. Pakaian yang digunakan dalam pernikahan modern adalah pakaian bergaya eropa yaitu pakaian internasional, untuk pria menggunakan jas sedangkan wanita menggunakan gaun.38
Konsep pernikahan yang diambil sebagai konsep pernikahan modern biasanya mengangkat tema-tema pernikahan klasik barat atau bisa juga aplikasi dongeng-dongeng impian masa kecil, sehingga pesta pernikahan dapat diibaratkan sebagai pesta kerajaan yang mewah dan megah. Untuk menunjang hal tersebut dibutuhkan dekorasi, lighting sampai musik yang mendukung tema pernikahan yang dipilih.39
Perkembangan modernisasi saat ini juga menyebabkan adanya pergeseran selera dalam pemilihan lokasi resepsi, tidak hanya sekedar pesta konvensional yang diadakan di sebuah gedung atau taman saja, pesta pernikahan kini mulai mengambil lokasi-lokasi yang tidak lazim digunakan sebagai tempat melangsungkan upacara pernikahan seperti gerbong kereta api, akuarium sea world, roller coaster, raft (rakit), dan lain sebagainya.40
Dari perubahan-perubahan yang dijelaskan di atas, dalam acara khitanan dan pernikahan akhir-akhir ini, telah banyak orang-orang melakukan kegiatan acara itu dibarengi dengan acara arisan. Kemudian menggelar acara khitanan dan acara pernikahan digabungkan dalam satu perayaan dengan tujuan menghemat biaya. Adapun biaya yang umumnya dibutuhkan dalam acara khitanan dan pernikahan tersebut dimulai dari biaya tempat, dekorasi, tata rias & baju, penunjang dokumentasi: foto & video, undangan tamu, konsumsi tamu hingga hiburan.
1.2.6 Struktural Fungsional Terhadap Fungsi Sosial
Teori struktural fungsional dikenal dengan teori fungsionalisme dan fungsionalisme struktural. Struktural fungsional mempunyai dalam teorinya keteraturan. Teori ini memandang masyarakat sebagai suatu sistem sosial (social system) yang terdiri dari bagian-bagian yang terkait dan menyatu dalam keseimbangan. Asumsi dasar teori ini adalah bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap yang lain. Sebaliknya kalau tidak fungsional maka struktur ini tidak akan ada atau akan hilang dengan sendirinya.41 Struktur dan tatanan adalah merupakan fungsional bagi masyarakat tertentu. Teori ini cenderung memusatkan kajiannya pada fungsi dari suatu fakta sosial (social fact) terhadap fakta sosial lain.
Struktural fungsional adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituenya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi.42 Teori ini juga merupakan bangunan yang bertujuan mencapai keteraturan sosial. Pemikiran struktural fungsional sangat terpengaruh dengan pemikiran biologis yaitu terdiri dari organ-organ yang mempunyai saling ketergantungan yang merupakan konsekuensi agar organisme tersebut tetap dapat bertahan hidup.
Menurut Kaplan dalam Kresna mengatakan bahwa fungsionalisme mempunyai kaidah yang bersifat mendasar bagi suatu antropologi yang berorientasi pada teori, yakni metodologi bahwa kita harus mengeksplorasi ciri sistematik budaya, hal ini dikandung maksud bahwa kita suatu masyarakat sehingga membentuk suatu sistem yang bulat, akan tetapi biasanya klaim para fungsionalisme adalah metodologi untuk mengeksplorasi saling ketergantungan,
41 George Ritzer, Dauglas J. Goodman, Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmoder, Terjemahan Nurhadi, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2010), hal. 21.
42 Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), hal. 24.
disamping itu para fungsionalis menyatakan pula bahwa fungsionalisme merupakan teori tentang proses kultural.43
Perspektif fungsionalisme ini menemukan dirinya sebagai fungsionalisme struktural yang fokus utamanya terhadap persyaratan fungsional atau kebutuhan dari suatu sistem sosial yang harus dipenuhi apabila sistem tersebut survive dan hubungannya dengan struktur. Sesuai dengan pandangan tersebut, suatu sistem sosial selalu cenderung menampilkan tugas-tugas tertentu yang diperlukan untuk mempertahankan hidupnya dan analisis sosiologi yang mencangkup usaha untuk menemukan struktur sosial yang dapat melaksanakan tugas-tugas tersebut atau yang dapat memenuhi kebutuhan sistem sosial tersebut.
Fungsi sosial mengacu pada cara-cara bertingkah laku atau melakukan tugas-tugas kehidupan dalam memenuhi kebutuhan hidup individu, orang seorang maupun sebagai keluarga, kolektif, masyarakat., organisasi dsb.
Pelaksanaan fungsi sosial dapat dievaluasi/dinilai apakah memenuhi kebutuhan dan membantu mencapai kesejahteraan bagi orang yang bersangkutan, dan bagi masyarakat, apakah normal dapat diterima masyarakat sesuai dengan norma sosial. Untuk dapat berfungsi sosial secara baik ada tiga faktor penting yang saling berkaitan untuk dilaksanakan yaitu kedudukan, peranan sosial dan peraturan sosial.44
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apa itu arisan pesta? Sejauh mana interaksi sosial antara anggota arisan pesta pada masyarakat Desa Tinggi Raja?
2. Apa fungsi arisan pesta pada acara khitanan dan pernikahan bagi anggota arisan pesta di Desa Tinggi Raja?
43 Krisna Rendra, Ringkasan Disertasi: “Tradisi Petekan di Masyarakat Tengger, Studi Etnografi di Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang”, (Malang: Universitas Merdeka, 2015), hal. 20.
44 Muchdar M. Husain, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), hal. 24.
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Dalam melakukan penelitian pasti memiliki sasaran agar tercapainya tujuan dan menghasilkan manfaat. Adapun yang menjadi tujuan dan manfaat dalam penelitian ini adalah :
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui dan memahami arisan pesta dan interaksi sosial antara anggota arisan pesta pada masyarakat Desa Tinggi Raja.
2. Untuk mengetahui dan memahami fungsi arisan pesta pada acara khitanan dan pernikahan bagi anggota arisan pesta di Desa Tinggi Raja.
Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis, diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengembangan ilmu sosial khususnya Antropologi dan dapat dijadikan acuan bagi peneliti lain yang berminat meneliti topik ini.
2. Manfaat praktis, penelitian ini juga diharapkan dapat bermanfaat kepada kalangan masyarakat yaitu memperkaya informasi mengenai arisan pesta pada acara khitanan dan pernikahan.
1.5 Metode Penelitian
Metode penelitian adalah cara-cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid, dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan dan dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode kualitatif menggunakan teknik observasi partisipatif dan wawancara mendalam untuk mendapatkan data yang akurat.
Dalam hal ini, penulis menggunakan penelitian yang bersifat deskriptif.
Deskriptif dalam arti mencoba menempatkan realitas sosial yang diteliti ke dalam konsep-konsep yang telah diajarkan dalam bidang antropologi, khusunya antropologi ekonomi serta menggambarkannya.
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan etnografi.
Etnografi merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan. Tujuan utama aktivitas ini adalah memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang
penduduk asli. Sebagaimana dikemukakan oleh Malinowski dalam Spradley tujuan etnografi adalah memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapat pandangan-pandangannya mengenai dunianya. Oleh karena itu penelitian etnografi melibatkan aktivitas belajar mengenai dunia orang dengan melihat, mendengar, berbicara, berfikir, dan bertindak dengan cara yang berbeda. Tidak hanya mempelajari masyarakat, lebih dari itu etnografi berarti belajar dari masyarakat.45
Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah mengumpulkan data-data sekunder, seperti data-data masyarakat Desa Tinggi Raja dan macam-macam arisan di Desa Tinggi Raja, dan pengumpulan data yang paling utama adalah mengumpulkan data-data primer berupa wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Sumber data primer yang bersumber dari informan yang mengetahui secara jelas dan rinci mengenai masalah yang diteliti.
1.5.1 Teknik Penelitian 1.5.1.1 Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan adalah segala usaha yang dilakukan peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan dengan masalah yang sedang diteliti.
Kegiatan studi kepustakaan dilakukan untuk menemukan literature atau sumber bacaan dalam melengkapi penulisan dan penyesuaian data dari hasil wawancara.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini diperoleh dari kepustakaan merupakan data pendukung, yaitu berupa buku, skripsi, dan ringkasan disertasi. Adapun hal pertama yang dilakukan penulis dalam penelitian ini yaitu mengumpulkan artikel, buku dan skripsi yang berhubungan dengan arisan. setelah semua terkumpul terlebih dahulu penulis membaca lalu mengklasifikasikan untuk dijadikan bahan referensi penelitian.
45 James P. Spardley, Metode Etnografi, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 1997), hal. 3.
1.5.1.2 Observasi Partisipatif
Penelitian dengan metode etnografi mengharuskan peneliti melakukan observasi partisipasi. Teknik ini melibatkan peneliti secara langsung dalam kegiatan pengamatan di lapangan. Jadi, peneliti bertindak sebagai observer, artinya peneliti merupakan bagian dari kelompok yang ditelitinya. Dengan teknik observasi partisipasi peneliti dapat memperoleh gambaran-gambaran tentang kehidupan sosial yang sukar untuk diketahui dengan metode lainnya.
Selain melakukan observasi partisipatif metode etnografi juga melakukan wawancara mendalam, membangun rapport dan juga penulisan field note selama di lapangan. Field note merupakan catatan yang dibuat peneliti selama penelitian di lapangan. Field note berisi data-data yang diperoleh peneliti dari hasil observasi dan wawancara dengan informan.
Seorang peneliti ketika ingin melakukan penelitian, tentu hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal atau cara yang harus ditempuh. Salah satunya adalah peneliti harus membangun rapport yang baik di depan subjek. Walaupun dalam penelitian ini penulis berasal dari Desa yang sama, bukan berarti penulis tidak perlu membangun rapport terhadap informan penulis, karena penulis juga tidak punya hubungan yang begitu dekat dengan keseluruhan masyarakat yang ada di Desa Tinggi Raja, dikarenakan penulis lama di daerah lain demi pendidikan yang penulis tempuh.
Rapport adalah hubungan baik yang tercipta antara peneliti dan subjek atau informannya. Sehingga akan memudahkan peneliti dalam melakukan
Rapport adalah hubungan baik yang tercipta antara peneliti dan subjek atau informannya. Sehingga akan memudahkan peneliti dalam melakukan