• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARISAN PESTA PADA ACARA KHITANAN DAN PERNIKAHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ARISAN PESTA PADA ACARA KHITANAN DAN PERNIKAHAN"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

(1)

ARISAN PESTA

PADA ACARA KHITANAN DAN PERNIKAHAN

(Studi Deskriptif di Desa Tinggi Raja, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan)

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial dalam Bidang Antropologi Sosial

Oleh :

DEVY OKTAVIANI SITORUS

160905026

PROGRAM STUDI ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(2)
(3)
(4)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PERNYATAAN ORIGINALITAS

ARISAN PESTA

PADA ACARA KHITANAN DAN PERNIKAHAN (Studi Deskriptif di Desa Tinggi Raja, Kecamatan Tinggi Raja,

Kabupaten Asahan) SKRIPSI

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Apabila dikemudian hari terbukti lain atau tidak seperti yang saya nyatakan disini, saya bersedia diproses secara hukum dan siap menanggalkan gelar kesarjanaan saya.

Medan, September 2020 Penulis

Devy Oktaviani Sitorus

(5)

ABSTRAK

Devy Oktaviani Sitorus, NIM 160905026. 2020. Skripsi ini berjudul Arisan Pesta pada Acara Khitanan dan Pernikahan (Studi Deskriptif di Desa Tinggi Raja, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan). Skripsi ini terdiri dari 5 bab, 107 halaman.

Skripsi ini mengkaji tentang Arisan Pesta pada Acara Khitanan dan Pernikahan (Studi Deskriptif di Desa Tinggi Raja, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui arisan pesta dan interaksi sosial antara anggota arisan pesta pada masyarakat Desa Tinggi Raja dan fungsi arisan pesta pada acara khitanan dan pernikahan bagi anggota arisan pesta di Desa Tinggi Raja. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode etnografi, menggunakan jenis penelitian deskriptif dan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi dan wawancara mendalam, dimana penulis terjun langsung ke lapangan penelitian yaitu di Desa Tinggi Raja, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan. Arisan pesta merupakan arisan uang yang dikumpulkan oleh pengurus arisan ketika anggota arisan menggelar sebuah acara hajatan dengan besaranya iuran uang yang telah ditetapkan bersama.Menggunakan metode arisan pesta yaitu sesuai dengan kriteria, di mana kriteria tersebut adalah anggota arisan yang paling membutuhkan yaitu untuk memenuhi kebutuhan secara materil. Interaksi antara anggota arisan pesta terjadi karena adanya kontak sosial dan komunikasi. Bentuk interaksi yang terjadi dalam arisan pesta yaitu bentuk interaksi positif dimana adanya kerjasama berupa gotong-royong dan tolong-menolong melalui iuran uang arisan kemudian adanya akomodasi yaitu kompromi dalam menyelesaikan sebuah permasalahan yang terjadi antara pengurus arisan dengan anggota arisan yang bersangkutan, seperti selip pada pencatatan di buku arisan, anggota arisan yang meninggal dunia dan anggota arisan yang melarikan diri. Adapun faktor-faktor yang terjadi antara anggota arisan pesta yaitu faktor lingkungan dan faktor keluarga, sehingga interaksi sosial antara anggota arisan pesta pada masyarakat Desa Tinggi Raja memiliki hubungan yang lebih mendalam dan erat atas dasar kekeluargaan. Fungsi arisan pesta pada acara khitanan dan pernikahan bagi anggota arisan pesta di Desa Tinggi Raja yaitu berjalan dengan seimbang. Dapat dilihat dari pelaksanaan arisan pesta di Desa Tinggi Raja yang berjalan dengan baik dan lancar. Dimana arisan pesta ini bersifat memberi, menerima dan mengembalikan kembali pemberian iuran uang arisan dengan nominal yang sama oleh anggota arisan pesta. Kemudian pertukaran dilihat sebagai gejala kebudayaan yang keberadaannya berdimensi luas, tidak sekedar berdimensi ekonomi, tetapi juga agama, ekologi, teknologi, politik, dan organisasi sosial seperti yang terlihat dari manfaat arisan pesta pada acara khitanan dan pernikahan di Desa Tinggi Raja.

Kata - Kata Kunci : Arisan Pesta, Desa Tinggi Raja, Acara Khitanan dan Pernikahan

(6)

UCAPAN TERIMA KASIH

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Arisan Pesta pada Acara Khitanan dan Pernikahan (Studi Deskriptif di Desa Tinggi Raja, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan).

Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar sarjana sosial dari Departemen Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

Terima kasih saya persembahkan kepada kedua orangtua yang terkasih, Ayahanda Ali Mamat Sitorus dan Ibunda Syahriani Butar-Butar yang tidak pernah lelah memberikan semangat, doa, perhatian dan kasih sayangnya kepada saya sejak lahir sampai saat ini. Terima kasih kepada Abang saya Dedi Nirwansyah Sitorus Pane, Deby Rezeki Saputra, Kakak saya Dewi Wulan Sari dan Adik saya Deny Topika Rahman Sitorus yang telah mendukung saya tanpa lelah sehingga saya dapat tetap terus melakukan yang terbaik. Pada kesempatan kali ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar atas motivasi dan dukungannya, terkhusus kepada Atok saya yaitu Alm. Syahbudin Butar-Butar terima kasih juga atas doa dan dukungan yang telah diberikan semasa hidupnya kepada saya. Dan tidak lupa pula saya ucapkan terima kasih buat kekasih hati yaitu Hanafi Manurung yang selalu mengingatkan saya tanpa lelah untuk menyelesaikan skripsi ini.

Terima kasih kepada Ibu Dra. Sabariah Bangun, M.Soc, Sc selaku dosen pembimbing sekaligus Dosen Penasehat Akademik saya yang telah memberikan banyak ilmu, waktu, dan perhatian kepada saya mulai dari awal pemilihan judul hingga penyelesaian skripsi ini. Dan kepada Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, Wakil Dekan I Bapak Husni Thamrin, S.Sos, M.S.P, Wakil Dekan II Bapak

(7)

Muhammad Arifin Nasution, S.Sos, M.S.P dan Wakil Dekan III Bapak Drs.

Hendra Harahap, M.Si, PhD.

Terima kasih saya ucapkan kepada Ketua Departemen Antropologi Sosial, Bapak Dr. Fikarwin Zuska, M.Ant, kepada Sekretaris Departemen Antropologi Sosial, Bapak Agustrisno, M.S.P, dan kepada seluruh Dosen Antropologi Sosial yang telah memberikan ilmu dan motivasi kepada saya.

Terima kasih juga saya ucapkan kepada Dosen Penguji yaitu Bapak Dr. Irfan M.Si yang telah banyak memberikan saran yang membangun agar skripsi saya menjadi lebih baik lagi. Tidak lupa pula kepada Kak Nurhayati dan Kak Sri, Staf Administrasi yang juga telah berbaik hati membantu saya dalam menyelesaikan urusan administrasi penyelesaian skripsi ini.

Terima kasih saya ucapkan kepada teman terbaik yaitu Restania Pardede dan grup anak sholeha yaitu Rosida Siregar, Alfiana Fadilah, Hanny Putri dan Desy Army Lestari yang telah menjadi teman curhat, menampung segala keluh kesah selama 4 tahun kita kenal. Terima kasih juga kepada seluruh anggota GGArt mulai dari ayahanda kami bapak Fikarwin Zuska dan ibunda kami Ibu Sisil Fikarwin, para alumni yaitu Irwansyah Sitorus, Lamria Hutapea, Rolan Purba, Rafita, Crist Barasa, Ratna Murtini dan Yuki Sembiring. Teman sejawat saya Sri Hayanti Manullang dan para junior yaitu M. Agung, Fery, Diana, Ara Farhaini, Danang, Adisti dan teman-teman GGArt lainnya atas dukungan dan kebersamaannya menjadi volunteer dalam membangun budaya bersih melalui kegiatan rutin yang dilakukan dalam komunitas Go Green and Art FISIP USU setiap minggunya, dan terus bertanya kapan saya tamat, hal ini membuat saya semakin pacu menyelesaikan skripsi ini. saya juga berharap semoga ke depannya tetap terjalin silaturahmi diantara semuanya dan membawa komunitas yang didirikan bapak Fikarwin Zuska bersama beberapa penggagas Mahasiswa Antropologi dalam membangun GGArt terus memiliki ambisi untuk menggalakkan komunitas tersebut.

Saya menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, karenanya saya menerima saran dan kritik yang membangun dari semua pihak

(8)

untuk menyempurnakan hasil tulisan ini. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang Antropologi Sosial.

Kiranya Allah SWT melimpahkan Rahmat dan KaruniaNya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan kepada saya, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Jasa-jasa baik semua pihak ini akan saya kenang selamanya.

Medan, September 2020 Penulis

Devy Oktaviani Sitorus

(9)

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Devy Oktaviani Sitorus, lahir di Tinggi Raja Kec. Tinggi Raja Kab. Asahan, Sumatera Utara pada tanggal 18 Oktober 1998 dari pasangan Ali Mamat Sitorus dan Syahriani Butar-Butar.

Penulis adalah anak keempat dari lima bersaudara. Riwayat Pendidikan dimulai dari Raudhatul Athfal Agustira Al Hasanah (2003- 2004), kemudian melanjutkan ke SD Negeri 010111 Tinggi Raja (2004-2010), kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Tinggi Raja (2010-2013), setelah itu melanjutkan ke MAN Kisaran (2013-2016). Setelah lulus dari MAN Kisaran kemudian penulis melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Universitas Sumatera Utara dengan mengambil jurusan Antropologi Sosial yang berada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Penulis dapat dihubungi di alamat email [email protected]. Selama di perkuliahan penulis mengikuti beberapa organisasi, seperti:

1. Anggota Temu Ramah FISIP USU tahun 2016

2. Bendahara Komunitas Go Green & Art FISIP USU tahun 2016-2018 dan Sekretaris Komunitas Go Green & Art FISIP USU tahun 2018-2020 3. Anggota Komunitas Relawan Gerakan Antikorupsi Medan tahun 2017-

2020

4. Anggota Lateral tahun 2018

5. Sekretaris Divisi Minat dan Bakat MASADEPANT tahun 2018-2019 Prestasi yang pernah diperoleh dan kegiatan yang pernah diikuti selama menjalankan pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri Universitas Sumatera Utara seperti :

(10)

1. Peserta dalam kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara tahun 2016

2. Peserta dalam kegiatan INISIASI yang diselenggarakan oleh Antropologi Sosial di FISIP USU tahun 2016

3. Mengikuti acara Temu Ramah FISIP USU di Berastagi tahun 2016

4. Juara 3 lomba menulis cerpen pada Pesta Akbar Mentoring Universitas Sumatera Utara tahun 2016

5. Peserta konsolidasi agen SPAK SUMUT dan pengenalan alat bantu TRATA (Transparan, Akuntabel & Tepat Guna) oleh Yuyuk Andriati dan Judhi Kristantini tahun 2017

6. Panitia inti (Bendahara) pada workshop GGArt I “Membangun Budaya Bersih, Rapi, Sehat, Alami tahun 2017

7. Mengikuti operasi sampah GGArt setiap minggu pagi di FISIP USU tahun 2017

8. Panitia inti (Bendahara) pada kegiatan “Revolusi Bersih” bersama komunitas GGArt ke I yang melibatkan Mahasiswa, Dekanat, Dosen dan Pegawai FISIP USU tahun 2017

9. Mengikuti kunjungan GGArt ke Depo Pelestarian Lingkungan Titi Kuning, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Cabang Medan tahun 2017 10. Mengikuti kunjungan GGArt FISIP USU ke Museum Kota Cina, di

Medan Marelan tahun 2017

11. Mengikuti kunjungan GGArt FISIP USU ke Taman Kunang-Kunang, di Medan Marelan tahun 2017

12. Mengikuti sosialisasi “Nilai-Nilai Anti Korupsi” bersama kepala sekolah SD, SMP, SMA Batari School Polonia (Ms. Angelita Fulgencio dan Mr.

Andi Yapto) tahun 2017

13. Mengikuti operasi sampah GGArt bersama dengan Komunitas Gowes Free Bike tahun 2017

14. Juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dalam rangka “USU Menulis”

oleh PEMA USU tahun 2017

(11)

15. Mengikuti Gerakan Aksi Pungut Sampah (APS) di Tomok, Samosir kerjasama GGArt FISIP USU dengan PT. Aquafarm Nusantara tahun 2018 16. Panitia inti (Bendahara) pada kegiatan “Gerakan Sosial Kampus Bersih” di

FISIP USU ke II yang dipelopori Komunitas GGArt dengan melibatkan para Dosen, Dekanat, Pegawai dan Mahasiswa FISIP USU tahun 2018 17. Panitia inti (Bendahara) pada Workshop GGArt pemilahan sampah untuk

sumberdaya dengan tema “Menuju Kampus Bersih Tanpa Sampah” tahun 2018

18. Mengikuti malam keakraban GGArt di rumah pembina GGArt dengan tujuan mempererat silaturahmi antar anggota GGArt tahun 2018.

19. Mengikuti kunjungan GGArt ke Loom Galery (Museum Ulos) dengan tujuan mempelajari jenis-jenis ulos dan upacara yang mengharuskan menggunakan ulos tahun 2018

20. Mengikuti acara pelantikan pengurus Himpunan Mahasiswa Antropologi Sosial (MASADEPANT) FISIP USU periode 2018/2019 tahun 2018 21. Salah satu dari 3 perwakilan mahasiswa Antropologi Sosial FISIP USU

mengikuti Lawatan Sejarah Daerah (LASEDA) yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara tahun 2018 22. Mengikuti kegiatan memperingati “World Clean Up Day” di USU

bersama Komunitas GGArt tahun 2018

23. Mengikuti liputan tentang GGArt oleh DAAI TV dan menyanyikan Mars GGArt dalam liputan tersebut tahun 2018

24. Panitia (operator) dalam melaksanakan Festival Antropologi dengan tema

“Sehari Budaya Karo” tahun 2018

25. Panitia (Ketua Koordinasi Acara) WARKOP Antropologi Sosial FISIP USU yang diselenggarakan oleh Departemen Antropologi Sosial dan Himpunan Mahasiswa Departemen Antropologi (MASADEPANT) dengan mengusung tema “Mengenal Budaya Melalui Etnofood” tahun 2018

(12)

26. Mengikuti acara Gebyar Kebangsaan SUMUT dalam rangka

“Memperingati Hari Pahlawan” di Museum Perkebunan Indonesia, Medan tahun 2018

27. Mengikuti kunjungan ke Stand Museum Uang Sumatera bersama Komunitas GGArt tahun 2018

28. Anggota “Program Bedah Rumah” di Bantaran Sungai Deli, Lingkungan IV, Kelurahan Hamdan, Kecamatan Medan Maimun yang diselenggarakan oleh Kagama Sumut tahun 2018

29. Anggota studi lapangan tinggal bersama masyarakat mata kuliah Antropologi Maritim di Sei Nagalawan, Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2019

30. Mengikuti kegiatan diskusi dalam rangka Follow-Up Workshop GGArt ke IV dengan tema “Meletakkan Sampah pada Tempatnya” tahun 2019 31. Mengikuti acara Hari Penanaman Pohon Indonesia (HPPI) di USU dalam

rangka Launching Program USU Green Campus 2019 serta Pelantikan Duta USU Green Campus bersama dengan Komunitas GGArt yang ikut berpartisipasi menanam pohon tabebuya tahun 2019

32. Panitia inti (Bendahara) dalam workshop yang diselenggarakan Komunitas GGArt FISIP USU dengan tema “Membonsai Tanaman” di Cafe Nusa Indah, Desa Marindal II tahun 2019

33. Panitia kegiatan Bakti Sosial dengan tema “Kegiatan Kolaboratif untuk Menciptakan Budaya Bersih dan Sehat” bersama GGArt, FK USU, dan Klinik Akupuntur Meridian tahun 2020

(13)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan penulis kesehatan dan kesempatan. Berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian yang ditulis dalam bentuk skripsi dengan judul “Arisan Pesta pada Acara Khitanan dan Pernikahan (Studi Deskriptif di Desa Tinggi Raja, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan)”.

Lokasi penelitian adalah Desa Tinggi Raja, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Strata-1 (S1) studi Departemen Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

Skripsi ini berisikan kajian analisis yang didasari pada observasi partisipan dan wawancara mendalam mengenai arisan pesta pada acara khitanan dan pernikahan yang dilakukan di Desa Tinggi Raja. Pada Bab I dalam skripsi ini berisikan latar belakang, tinjauan pustaka, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, dan pengalaman lapangan yang berisikan ketertarikan penulis dalam meneliti objek kajian tersebut.

Pada Bab II dalam skripsi ini berfokus kepada gambaran umum tentang Desa Tinggi Raja, masyarakat Desa Tinggi Raja, acara khitanan dan pernikahan di Desa Tinggi Raja, dan macam-macam arisan di Desa Tinggi Raja. Pada bab III dalam skripsi ini berfokus kepada apa arisan pesta dan sejauh mana interaksi sosial antara anggota arisan pesta pada masyarakat Desa Tinggi Raja. Kemudian pada bab IV penulis membahas apa fungsi arisan pesta pada acara khitanan dan pernikahan bagi anggota arisan pesta di Desa Tinggi Raja. Pada bab terakhir yaitu bab V dalam skripsi ini berisi kesimpulan dan saran penulis dari hasil penelitian dan analisis penulis.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih belum sempurna, oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis mengaharapkan kritik dan juga saran dari

(14)

pembaca untuk menyempurnakan skripsi ini. Penulis juga berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan juga khususnya bagi penulis sendiri.

Medan, September 2020 Penulis

Devy Oktaviani Sitorus

(15)

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ... i

HALAMAN PERSETUJUAN...ii

PERNYATAAN ORIGINALITAS ... iii

ABSTRAK ... iv

UCAPAN TERIMA KASIH... v

RIWAYAT HIDUP PENULIS ... viii

KATA PENGANTAR ...xii

DAFTAR ISI ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR TABEL...xvii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tinjauan Pustaka ... 4

1.2.1 Penelitian Terdahulu ... 4

1.2.2 Resiprositas ... 7

1.2.3 Arisan ... 10

1.2.4 Interaksi Sosial Masyarakat Desa ... 13

1.2.5 Perubahan pada Acara Khitanan dan Pernikahan ... 17

1.2.6 Struktural Fungsional terhadap Fungsi Sosial ... 21

1.3 Rumusan Masalah ... 22

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 23

1.5 Metode Penelitian ... 23

1.5.1 Teknik Penelitian ... 24

1.5.1.1 Studi Kepustakaan ... 24

1.5.1.2 Observasi Partisipatif ... 25

1.5.1.3 Wawancara Mendalam... 26

1.5.1.4 Analisis Data ... 27

1.6 Pengalaman Penelitian ... 28

BAB II GAMBARAN UMUM 2.1 Desa Tinggi Raja... 32

2.1.1 Kondisi Geografis ... 32

2.2 Masyarakat Desa Tinggi Raja ... 34

2.2.1 Demografi ... 34

2.2.2 Mata Pencaharian ... 38

2.2.3 Pendidikan... 40

2.2.4 Kegotongroyongan ... 42

2.3 Acara Khitanan dan Pernikahan di Desa Tinggi Raja ... 43

2.4 Macam-Macam Arisan di Desa Tinggi Raja ... 54

(16)

BAB III INTERAKSI SOSIAL ANTARA ANGGOTA ARISAN PESTA PADA MASYARAKAT DESA TINGGI RAJA

3.1 Arisan Pesta ... 56

3.1.1 Awal Terbentuknya Arisan Pesta... 57

3.1.2 Bentuk Iuran Arisan Pesta ... 58

3.1.3 Metode Arisan Pesta ... 58

3.2 Terjadinya Kontak Sosial dan Komunikasi Antara Anggota Arisan Pesta pada Masyarakat Desa Tinggi Raja ... 64

3.3 Bentuk Interaksi Sosial Antara Anggota Arisan Pesta pada Masyarakat Desa Tinggi Raja ... 65

3.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Antara Anggota Arisan Pesta pada Masyarakat Desa Tinggi Raja ... 71

BAB IV FUNGSI ARISAN PESTA PADA ACARA KHITANAN DAN PERNIKAHAAN BAGI ANGGOTA ARISAN PESTA DI DESA TINGGI RAJA 4.1 Pelaksanaan Arisan Pesta di Desa Tinggi Raja... 75

4.2 Manfaat Arisan Pesta di Desa Tinggi Raja ... 91

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 94

5.2 Saran ... 97

DAFTAR PUSTAKA ... 99

LAMPIRAN ... 102

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1: Kibot Duduk Milik Ibu Nurul, 08 Mei 2020 ... 55

Gambar 3.1: Buku Anggota Arisan Pesta Ibu Ani, 24 April 2020 ... 63

Gambar 4.1: Wawancara dengan Ibu Suparmi (55 tahun), 01 Mei 2020 ... 76

Gambar 4.2: Buku Besar Arisan Pesta, 01 Mei 2020 ... 80

Gambar 4.3: Wawancara dengan Ibu Ani (55 tahun), 24 April 2020 ... 81

Gambar 4.4: Wawancara dengan Ibu Nurul (28 tahun), 08 Mei 2020 ... 83

Gambar 4.5: Wawancara dengan Ibu Irma (34 tahun), 10 Mei 2020 ... 84

Gambar 4.6: Wawancara dengan Ibu Dewi (32 tahun), 13 Mei 2020 ... 85

Gambar 4.7: Wawancara dengan Ibu Ami (33 tahun), 15 Mei 2020 ... 86

Gambar 4.8: Wawancara dengan Ibu Tuminem (54 tahun), 16 Mei 2020 ... 88

(18)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1: Penelitian Terdahulu ... 4

Tabel 2.1: Batas Wilayah Desa Tinggi Raja ... 33

Tabel 2.2: Luas Wilayah Desa Tinggi Raja ... 34

Tabel 2.3: Jumlah Penduduk Desa Tinggi Raja ... 35

Tabel 2.4: Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama dan Suku, Serta Perubahan Penduduk Desa Tinggi Raja ... 37

Tabel 2.5: Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Tinggi Raja ... 40

Tabel 2.6: Jumlah Penduduk yang Sedang Menempuh Pendidikan di Desa Tinggi Raja ... 42

(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan zaman, arisan juga mengalami perkembangan dalam hal mekanisme yang diterapkan. Apalagi di Indonesia arisan memang menjadi budaya yang harus dilakukan. Sebab, arisan bukan hanya sekedar mengumpulkan uang saja. Tetapi juga sebagai mempererat tali silaturahmi antara manusia. Ada bermacam jenis arisan yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia, mulai dari arisan biasa, arisan tembak, hingga arisan online dimana dimainkan secara online dan media sosial menjadi wadah utamanya. 1 Namun, dari banyaknya macam-macam arisan tersebut tetap saja pada dasarnya adanya pemberian yang dilakukan antara anggota arisan.

Mauss (1992) mengemukakan bahwa, “pada dasarnya tidak ada pemberian yang cuma-cuma atau gratis. Segala bentuk pemberian selalu diikuti oleh sesuatu pemberian kembali atau imbalan”. Ia juga mengemukakan, kebiasaan saling tukar menukar pemberian itu adalah suatu proses sosial yang dinamik yang melibatkan keseluruhan anggota masyarakat, sebagai sistem yang menyeluruh.

Proses-proses dinamik tersebut terwujud melalui hakikat saling memberi yang mengharuskan si penerima untuk melebihi pengembalian pemberian, yang mencerminkan adanya persaingan kedudukan dan kehormatan dari pihak-pihak yang bersangkutan, sehingga saling tukar-menukar tersebut tidak ada habis- habisnya dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi.

Bentuk interaksi dalam masyarakat bisa berupa perbuatan saling tolong- menolong sebagai sebuah tuntutan hidup bermasyarakat. Dalam masyarakat kuno, bentuk interaksi dalam masyarakat bisa berupa saling bertukar pemberian yang melibatkan kelompok-kelompok dan masyarakat-masyarakat secara menyeluruh.

1 V ML. 2018. Diakses dalam http://www.google.com/amp/s/www.futuready.com/artikel/all-about- money/macam-macam-arisan-yang-menguntungkan/amp/pada 21 Agustus 2020, pukul 11:23 WIB.

(20)

Sistem saling tukar menukar ini menyangkut setiap unsur dari kedudukan atau harta milik terlibat di dalamnya dan berlaku bagi setiap anggota masyarakat yang bersangkutan.2

Pendapat dari Mauss (1992) ini juga didukung oleh Malinowski dalam Mauss (1992), yang berpendapat bahwa semua bentuk transaksi berada dalam suatu gabungan yang berkesinambungan yang di satu kutub pemberian ini bercorak murni, tanpa tuntutan imbalan, dan di kutub lainnya bercorak pemberian yang harus dikembalikan.

Pertukaran dilihat sebagai gejala kebudayaan yang keberadaannya berdimensi luas, tidak sekedar berdimensi ekonomi, tetapi juga agama, ekologi, teknologi, politik, dan organisasi sosial.3 Dewasa ini banyak ahli antrpologi ekonomi yang menaruh perhatian terhadap gejala pertukaran yang menggunakan uang. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa transformasi ekonomi tradisional menuju sistem ekonomi modern sedang melanda di berbagai tempat, sejak berkembangnya penjajahan hingga era globalisasi. Resiprositas berhadapan dengan sistem pertukaran komersial.

Kegiatan ekonomi yang dilakukan manusia selaku homo economicus, dapat dimaknai sebagai upaya atau ikhtiyar manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.4 Secara umum, dalam melakukan kegiatan manusia mempunyai kebebasan dalam memenuhi kebutuhannya. Namun kebebasan itu senantiasa dibatasi oleh kebebasan orang lain, karena manusia merupakan makhluk sosial.

Manusia memerlukan adanya orang lain yang bersama-sama hidup dalam masyarakat untuk mencakupi kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya.5 Diantara kebutuhan tersebut ketika seseorang akan menggelar acara khitanan dan pernikahan. Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan oleh mereka diantaranya yaitu kebutuhan material. Dan salah satu cara dalam memenuhi kebutuhan tersebut di antaranya yaitu dengan mengikuti kegiatan arisan.

2 Marcel Mauss, Pemberian: Bentuk dan Fungsi Pertukaran di Masyarakat Kuno, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1992), hal. xix.

3 Sjafri Sairin, Pujo Semedi, Bambang Hudayana, Pengantar Antropologi Ekonomi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hal. 39.

4 Syafiq Hanafi, Sistem Ekonomi Islam dan Kapitalisme, (Yogyakarta: Cakrawala, 2001), hal. 1.

5 Ahmad Asyhar Bashir, Asas-Asas Hukum Muamalat (Hukum Perdata Islam), (Yogyakarta: UII Press, 2000), hal. 11.

(21)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa arisan artinya pengumpulan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang, lalu diundi diantara mereka. Undian tersebut dilakukan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.6 Penentuan pemenang bisanya dilakukan dengan jalan pengundian, perjanjian diantara anggota arisan, dengan nomor urut anggota atau berdasarkan prioritas kebutuhan anggota arisan. Mungkin hampir setiap orang tidak hanya mengenal arisan, tapi pernah atau sedang menjadi peserta arisan. Di Indonesia, dalam budaya arisan, setiap kali salah satu peserta memenangkan uang pada pengundian, pemenang tersebut memiliki kewajiban untuk menggelar pertemuan pada periode berikutnya arisan akan diadakan. Arisan beroperasi di luar ekonomi formal sebagai sistem lain untuk menyimpan uang.

Namun kegiatan ini juga dimaksudkan untuk kegiatan pertemuan yang memiliki unsur “paksa” karena peserta diharuskan membayar dan datang setiap kali undian akan dilaksanakan. Kegiatan arisan berkembang dalam kehidupan masyarakat karena dapat menjadi sarana tabungan dan sumber pinjaman bagi semua orang, termasuk keluarga miskin. Menjadi peserta kelompok arisan berarti memaksa diri menabung, dan suatu saat dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, baik produktif maupun konsumtif.7

Sebuah arisan dibentuk karena kesamaan visi, misi, needs, sense of belonging, dan karakter. Itulah sebabnya mengapa arisan merupakan kumpulan orang-orang sejenis. Dalam arti orang-orang yang mempunyai persamaan.

Misalnya berdomisili di komplek yang sama, bekerja di tempat yang sama, mempunyai profesi yang sama, dan lain-lain.8 Hal seperti ini juga tidak luput dialami oleh masyarakat Desa Tinggi Raja. Sehingga dalam menyelenggarakan sebuah acara khitanan dan pernikahan di Desa Tinggi Raja akan dibarengi dengan kegiatan arisan yang disebut dengan istilah arisan pesta. Dimana arisan ini sangat diminati masyarakat Desa Tinggi Raja dan uniknya arisan tersebut dilakukan pada saat acara hajatan berlangsung.

6 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1976), hal. 57.

7 Syaikhu Usman, dkk., Keuangan Mikro untuk Masyarakat Miskin, (Jakarta: Semeru, 2004), hal. 39.

8 Joy Roesma & Nadya Mulya, KOCOK! The Untold Stories of Arisan Ladies and Socialites, (Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama, 2013), hal. 27.

(22)

1.2 Tinjauan Pustaka 1.2.1 Penelitian Terdahulu

Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu

No Nama Penulis/Tahun Arisan

1 Peris Sulinto/2017  Penelitian yang berjudul “Arisan Desa untuk Biaya Pernikahan Perspektif

‘Urf (Studi di Desa Purwokerto Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan)”.

 Penelitian arisan dari sudut pandang hukum islam tersebut membahas konsep arisan desa untuk biaya pernikahan berupa rancangan- rancangan yang berisi peraturan dan ketentuan yang telah disepakati oleh pengurus dan anggota arisan.

 Sistem pelaksanaan arisan desa untuk biaya pernikahan yaitu menabung dan mengembalikan kepada anggota arisan ketika hajat berlangsung, dan tinjauan ‘urf terhadap arisan desa untuk biaya pernikahan yang dikategorikan pada ‘urf shohih, yang mana tradisi arisan desa ini dapat diterima oleh masyarakat.

2 Rusli Agus/2011  Penelitian yang berjudul “Kontribusi

Arisan dalam Menambah

(23)

Kesejahteraan Keluarga Menurut Perspektif Ekonomi Islam (Studi di Kecamatan Bankinang Barat)”.

 Penelitian arisan dari sudut pandang ekonomi islam tersebut membahas kontribusi arisan dalam menambah kesejahteraan keluarga di Kecamatan Bangkinang Barat dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga. Hal ini karena dana yang diperoleh dari kegiatan arisan tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan, baik yang bersifat konsumtif maupun produktif.

 Kegiatan arisan sangat penting bagi kehidupan masyarakat di Kecamatan Bangkinang Barat. Melalui arisan ini mereka dapat memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya seperti membeli sesuatu barang yang mungkin sulit dibeli kalau hanya mengandalkan pendapatan keluarga.

 Kegiatan arisan di Kecamatan Bangkinang Barat merupakan salah satu kegiatan ekonomi rakyat yang melembaga dan merakyat. Di dalam sistem arisan yang berkembang di masyarakat, baik itu arisan uang maupun barang diperbolehkan dalam Islam. Sebab dalam arisan tidak ada

(24)

unsur penipuan karena dilakukan dengan adil, transparan, disaksikan oleh peserta dan tidak ada yang dirugikan.

3 Angga Putra Pratama/2018  Penelitian yang berjudul “Arisan Minangkabau (Studi Etnografi di Kota Medan)”.

 Penelitian arisan dari sudut pandang sosial tersebut membahas bagaimana masyarakat melakukan interaksi untuk menjadikan suatu hubungan sosial sebagai ajang untuk memperluas dan memperbanyak jaringan pertemanan sebagai masyarakat sesama perantauan.

 Karena dengan banyaknya pertemanan yang ada di perantauan bisa saling tolong-menolong supaya tidak menderita di kota perantauan, terjalinnya kebersamaan dalam hubungan sosial tidak meruntuhkan mental mereka di perantauan.

Dari beberapa penelitian di atas, perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang penulis teliti adalah bentuk arisan dan lokasi penelitiannya. Kemudian permasalahan dalam penelitian yang akan diteliti yaitu apa arisan pesta dan sejauh mana interaksi sosial antara anggota arisan pesta pada masyarakat Desa Tinggi Raja dan apa fungsi arisan pesta pada acara khitanan dan pernikahan bagi anggota arisan pesta di Desa Tinggi Raja.

(25)

1.2.2 Resiprositas

1. Pengertian Resiprositas

Resiprositas dalam kajian teori pertukaran merupakan pertukaran timbal balik antara individu atau antar kelompok.9 Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik jasmani maupun rohani, manusia selalu behubungan dengan manusia yang lain. Interaksi sosial yang rapat dalam kehidupan masyarakat terutama yang terbentuk atas dasar persamaan nasib yang memberikan suatu keterikatan yang mendalam bagi para anggotanya, hal ini yang akan mempengaruhi dan berperan penting dalam hubungan sosial lainnya.

Seringkali terjadi baik barang ataupun jasa yang dilakukan orang per orang, serta kelompok dengan kelompok dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam bidang studi antropologi ekonomi, pertukaran dilihat sebagai gejala kebudayaan yang keberadaannya berdimensi luas, tidak sekedar dimensi ekonomi, tetapi juga agama, ekologi, teknologi, politik, dan organisasi sosial.

Dalam masyarakat tradisional dikenal pertukaran dengan sistem barter.

Sedangkan ciri pertukaran dalam perekonomian tradisional yang sedang berubah dan berhadapan dengan sistem pertukaran komersil muncul istilah resiprositas. Dalton menjelaskan bahwa resiprositas merupakan pola pertukaran sosial ekonomi, yang dalam pertukaran tersebut, individu memberikan dan menerima pemberian barang atau jasa karena kewajiban sosial. Terdapat kewajiban orang untuk memberi, menerima dan mengembalikan kembali pemberian dalam bentuk yang sama atau berbeda.10 Polanyi menjelaskan bahwa resiprositas dan redistribusi merupakan pola pertukaran dalam sistem ekonomi sederhana, sedangkan pertukaran pasar merupakan pola dalam sistem ekonomi pasar.11

Teori resiprositas pertama kali dikemukakan oleh Bronislaw Malinowski mengenai suatu sistem perdagangan antara penduduk Kepulauan Trobriand atau Boyowa yang terletak disebelah tenggara Papua Nugini. Benda-benda yang diperdagangkan dengan jalan tukar menukar (barter) berupa berbagai

9 Sjafri Sairin, Pujo Semedi, Bambang Hudayana, op. cit., hal. 43.

10 Ibid., hal. 42-43.

11 Ibid.

(26)

macam bahan makanan, bahan kerajinan, dan alat-alat perikanan, perkebunan, dan rumah tangga, tetapi disamping itu pada setiap transaksi diadakan tukar menukar dua macam benda perhiasan yang dianggap mempunyai nilai yang sangat tinggi, yakni kalung-kalung kerang (sulava) yang beredar kesatu arah mengikuti arah jarum jam, dan gelang-gelang kerang (mwali) yang beredar kearah yang berlawanan. Sistem perdangan tersebut oleh masyarakat Kepulauan Trobriand disebut dengan sistem kula.12

Teori resiprositas dilandaskan pada prinsip transaksi ekonomi yang elementer, yakni orang menyediakan barang atau jasa dan sebagai imbalannya berharap memperoleh barang dan jasa yang diinginkan. Ahli teori resiprositas memiliki asumsi sederhana bahwa interaksi sosial itu mirip dengan transaksi ekonomi, tetapi tidak selalu berukuran dengan nilai uang. hal ini disebabkan dalam transaksi sosial dipertukarkan juga pada hal-hal nyata. Menurut Peter M.

Blau, resiprositas bertumpu pada asumsi dasar bahwa orang bersedia melakukan pertukaran sosial karena dalam persepsi mereka masing-masing akan ada kemungkinan untuk mendapat penghargaan (reward). Penghargaan dapat berbentuk uang, dukungan sosial, penghormatan, dan kerelaan.13

2. Jenis Resiprositas

Adapun 3 (tiga) jenis resiprositas menurut Sahlins yaitu resiprositas umum (generalized reciprocity), resiprositas sebanding (balanced reciprocity), dan resiprositas negative (negative reciprocity).14

a. Resiprositas umum (generalized reciprocity)

Individu atau kelompok yang memberikan barang atau jasa kepada individu atau kelompok lain tanpa menentukan batas waktu pengembalian.

Tidak ada hukum-hukum yang ketat untuk mengontrol seseorang untuk memberi atau mengembalikan, hanya moral saja yang mengontrol dan mendorong pribadi-pribadi untuk menerima resiprositas umum sebagai kebenaran dan tidak boleh dilanggar.

12 Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 2007), hal. 164.

13 Agus Salim, Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Sketsa Pemikiran Awal, (Semarang: Unnes Press, 2003, hal. 156.

14 Sjafri Sairin, Pujo Semedi, Bambang Hudayana, op. cit., hal. 48.

(27)

b. Resiprositas sebanding (balanced reciprocity)

Resiprositas ini menghendaki barang atau jasa yang dipertukarkan mempunyai nilai sebanding, disertai pula kapan pertukaran itu berlangsung kapan memberikan, kapan menerima, dan kapan mengembalikan. Dalam pertukaran ini masing-masing pihak membutuhkan barang atau jasa dari patnernya, namun tidak menghendaki untuk memberikan nilai lebih dibandingkan dengan yang akan diterima. Kondisi ini menunjukkan para pelaku sebagai unit-unit sosial yang otonom.

c. Resiprositas negatif (negative reciprocity)

Prinsip kekeluargaan dan ketidaksetiakawanan merupakan bukti bahwa resiprositas lebih manusiawi daripada pertukaran pasar. Wajah resiprositas yang manusiawi itu, dilain pihak sering dipakai para politisi untuk memobilisasi sumber daya dalam masyarakat. Ambil contoh pemikiran tentang koprasi, suatu usaha dan gotong-royong di Indonesia, diilhami dari prinsip-prinsip resiprositas yang menekankan kebersamaan daripada persaingan bebas dan individualisme.

3. Peranan Resiprositas

Pada dasarnya tidak ada pemberian yang cuma-cuma. Segala bentuk pemberian selalu disertai dengan suatu pemberian kembali atau imbalan.

Malinowski dalam Mauss (1992), yang berpendapat bahwa semua bentuk transaksi berada dalam suatu gabungan yang berkesinambungan yang di satu kutub pemberian ini bercorak murni, tanpa tuntutan imbalan, dan di kutub lainnya bercorak pemberian yang harus dikembalikan.

Resiprositas dari ide pemberian tanpa pamrih. Namun, seiring dengan berjalannya waktu menjadikannya sebuah tindakan pamrih dan demi kegunaan yang dinikmati secara individual. Dengan demikian resiprositas yang didasarkan pada perasaan individu mampu menciptakan kekuatan solidaritas dalam masyarakat. Oleh karena itu, nilai-nilai dan tradisi-tradisi yang ada didalamnya dapat tetap bertahan. Misalnya, sumbang menyumbang acara perkawinan, khitanan, kelahiran, dan kematian, yang mana ini dapat berupa gotong royong ataupun saling memberikan hadiah dalam perayaan.

(28)

Resiprositas memberikan beban moral kepada para pelakunya untuk mengembalikan apa yang sudah diterimanya baik barang atau jasa meskipun tidak ada perjanjian untuk itu dan tidak ditentukan waktu dan jenis pengembalian. Resiprositas memberikan ikatan kepada masyarakat melalui agama, organisasi sosial kemasyarakatan, rasa senasib sepenanggungan dan prestise untuk melanjutkan dan menjaga hubungan-hubungan sosial.

1.2.3 Arisan

1. Pengertian Arisan

Arisan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi diantara mereka untuk menentukan siapa yang memperolehnya, undian dilaksanakan dalam sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.15 Dalam bahasa Inggris arisan disebut dengan saving club atau company saving yang mempunyai arti tabungan bersama. Kata saving berasal dari kata save kata kerja yang mempunyai arti menabung atau menyelamatkan yang kemudian berubah menjadi saving kata benda yang berarti tabungan.16

Sebagaimana diketahui bahwa arisan merupakan salah satu bentuk kegiatan perekonomian rakyat yang telah banyak dilakukan dalam praktek kehidupan masyarakat Indonesia. Arisan merupakan salah satu dari tradisi yang berkembang di masyarakat dulu hingga sekarang. Namun sayangnya, tidak ada data yang pasti mengenai kapan asal mulanya kemunculan tradisi arisan di Indonesia. Tetapi, yang dapat dipastikan adalah bahwa arisan sebagai lembaga keuangan yang bersifat non-formal merupakan sarana yang menyediakan dana guna membantu masyarakat akan kebutuhan. Apabila ditinjau dari segi tujuannya, keberadaan arisan memang mempunyai tujuan yang relatif bervariasi, tetapi hal yang paling utama adalah sebagai rasa tolong-menolong sesama masyarakat yang ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.

15 W.J.S Poerwardarminta, op.cit., hal. 57.

16 Yan Pramadya Puspa, Kamus Hukum Belanda–Inggris-Indonesia, (Semarang: Aneka Ilmu, 2008), hal. 75.

(29)

Sebuah arisan dibentuk karena kesamaan visi, misi, needs, sense of belonging, dan karakter. Itulah sebabnya mengapa arisan merupakan kumpulan orang-orang sejenis. Dalam arti orang-orang yang mempunyai persamaan.

Misalnya, berdomisili di komplek yang sama, bekerja di tempat yang sama, mempunyai profesi yang sama, dan lain-lain.17

Kegiatan arisan berkembang dalam kehidupan masyarakat karena dapat menjadi sarana tabungan dan sumber pinjaman bagi anggota arisan. Menjadi anggota kelompok arisan berarti memaksa diri untuk menabung, yang berguna untuk memenuhi berbagai kebutuhan baik produktif maupun konsumtif.18 Produktif adalah sikap yang berkonsep pada hari esok harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari pada hari ini. Konsumtif adalah pemakaian atau pengonsumsian barang-barang yang sifatnya karena tuntutan gengsi semata dan bukan menurut tuntunan kebutuhan yang dipentingkan.

Sehingga dalam menggunakan kebutuhan produktif dan konsumtif dari hasil kegiatan arisan tersebut kembali kepada individunya masing-masing.

2. Macam-Macam Arisan

Dalam masyarakat ada tiga macam model arisan yakni: arisan uang, arisan barang dan arisan spiritual. Untuk arisan spiritual disebutkan perkembangan baru tentang arisan dalam komunitas umat Islam khususnya, misalnya arisan yasinan dan arisan hewan qurban.19

a. Arisan uang

Jenis arisan ini yang banyak dilakukan oleh masyarakat umum dengan besarnya tergantung kesepakatan dari para peserta. Sebelum uang terkumpul pada awal kegiatan arisan diadakan undian untuk menentukan nomor urut anggota yang berhak mendapatkan uang tersebut.

17 Joy Roesma & Nadya Mulya, loc. cit.

18 Syaikhu Usman, dkk., loc.cit.

19 Yupri Maryuni, Skripsi, “Pelaksanaan Arisan di Kelurahan Muara Lembu Kecamatan Singingi Kabupaten Kuantan Singingi Ditinjau Menurut Hukum Islam”, (Riau: Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sultan Syarif Kasim, 2015), hal. 20-21.

(30)

b. Arisan barang

Banyak jenis barang yang dijadikan arisan oleh masyarakat, misalnya gula, minyak goreng dan alat-alat rumah tangga. Kelompok arisan yang mengadakan arisan gula dan minyak goreng biasanya membuat jangka waktu arisan lebih kurang 11 bulan, dengan setoran arisan Rp10.000,00/minggu/

peserta.

c. Arisan spiritual

Maksud arisan spiritual adalah arisannya tetap dengan uang, hanya perolehan dari arisan bukan berupa uang melainkan berupa barang atau lainnya yang dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, misalnya mendapatkan hewan qurban atau untuk biaya menunaikan ibadah haji.

3. Metode Arisan

Metode Arisan merupakan cara atau prosedur yang teratur untuk melaksanakan kegiatan arisan. Untuk memulai sebuah arisan tentunya tidak mudah, perlu adanya kesepakatan para anggota arisan. Seperti kesepakatan waktu pengocokan arisan, apakah secara undian atau sesuai kriteria yang ditentukan. Kemudian juga disepakati nilai atau besarnya barang atau uang yang dijadikan sebagai alat pembayaran. Dengan hal itu diharapkan arisan bisa berjalan sesuai dengan pengocokan hingga peserta terakhir. Diantara metode arisan yaitu sebagai berikut:20

a. Undian

Undian secara istilah adalah suatu alat atau barang yang digunakan untuk menentukan pemenang atau penerima sesuai dengan ketentuan yang disepakati. Mengundi merupakan cara untuk menentukan pemenang yang akan mendapatkan arisan dengan cara keberuntungan. Dalam sistem undian ini tentunya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh peserta lain.

Karena jika salah satu anggota lain sedang membutuhkan uang dan tidak menerima undian, maka hanya berpulang dengan tangan kosong. Sehingga bisa dikatakan dalam metode ini jauh dari unsur tolong-menolong.

20 Peris Sulianto, Skripsi, “Arisan Desa untuk Biaya Pernikahan Perspektif ‘Urf”, (Malang: Fakultas Syari’ah UIN Maulana Malik Ibrahim, 2017), hal. 20.

(31)

b. Sesuai dengan Kriteria

Cara untuk menentukan pemenang atau penerima arisan sesuai kriteria ini berbeda dengan metode undian. Dalam metode ini lebih cenderung dengan sistem tolong-menolong dan unsur menabung. Karena dalam hal ini anggota arisan membayar barang atau uang kepada anggota yang membutuhkan dengan ketentuan yang telah disepakati. Baik itu jangka waktu arisan maupun ketika ada hajat tertentu seperti khitanan dan perkawinan. Dengan cara ini anggota arisan terlebih dahulu mengusulkan kepada pengurus arisan.

4. Manfaat Arisan

Arisan kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Mulai dari yang nilainya puluhan ribu hingga puluhan juta. Ada yang diadakan ditingkat RT, tak sedikit pula yang bertempat di hotel berbintang. Memang tak semua orang tertarik mengikuti kegiatan arisan, banyak yang berpendapat kegiatan ini tidak produktif dan membuang waktu. Padahal, selain sebagai ajang kumpul- kumpul, sebenarnya banyak manfaat yang bisa dipetik dari kegiatan arisan ini yaitu sebagai berikut:21

a. Sebagai upaya tolong menolong antar sesama yang berguna untuk memenuhi kebutuhan anggota arisan.

b. Mempererat tali silaturahmi dan ikatan kekerabatan antar para anggota arisan.

c. Salah satu cara belajar menabung dan menjadi sumber pinjaman sebagai wujud kebersamaan antar anggota arisan.

d. Memperluas jaringan sebagai ajang bertukar informasi maupun ajang promosi.

1.2.4 Interaksi Sosial Masyarakat Desa

Menurut Soerjono Soekanto bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial, sedangkan bentuk khususnya adalah aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan

21 Peris Sulianto, Skripsi, “Arisan Desa untuk Biaya Pernikahan Perspektif ‘Urf”, (Malang: Fakultas Syari’ah UIN Maulana Malik Ibrahim, 2017), hal. 21-22.

(32)

antara orang perorang antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorang dengan kelompok manusia. Syarat terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak sosial dan adanya komunikasi.22

Menurut Gilin dan Gilin ada dua golongan proses sosial yang merupakan akibat interaksi sosial, yaitu:23

1. Proses Asosiatif

Adalah sebuah proses yang terjadi saling pengertian dan kerjasama timbal balik antara orang per orang atau kelompok satu dengan lainnya, dimana proses ini menghasilkan pencapaian tujuan bersama. Macam proses asosiatif yaitu: a) kerjasama adalah usaha bersama individu atau kelompok untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Bentuk kerjasama seperti:

gotong-royong (kerjasama di masyarakat perdesaan), Bargaining (perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa), Coalition (kerjasama individu dan kelompok dalam sebuah organisasi atau negara untuk menciptakan suatu stabilitas), joint-venture (kerjasama dua perusahaan atau lebih dalam suatu proyek tertentu); b) Akomodasi banyak digunakan dalam dua makna, pertama adalah proses yang menunjukkan pada keadaan seimbang dalam interaksi sosial antara individu dan antar kelompok dalam masyarakat terutama yang ada hubungannya dengan norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Kedua, adalah menuju pada proses untuk meredakan suatu pertentangan yang terjadi di masyarakat. Proses akomodasi ini menuju pada tujuan dengan mencapai suatu kestabilan. Bentuk-bentuk akomodasi adalah sebagai berikut: (1) Coersion, akomodasi dengan paksaan maupun kekerasan secara fisik atau psikologis; (2) Comprommise, bentuk akomodasi dimana masing-masing pihak berkonflik saling mengurangi tuntutan agar dapat tercapai penyelesaian oleh pihak ketiga; (3) Mediation, akomodasi dengan menggunakan pihak ketiga yang netral; (4) Conciliation, akomodasi melalui usaha mempertemukan keinginan dari pihak yang terlibat konflik; (5) Toleration, akomodasi yang tidak formal, dikarenakan ada pihak yang

22 Burhan Bungin, “Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursi Teknologi di Masyarakat”, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 55.

23 Ibid., hal. 58-63

(33)

mencoba menghindari diri dari pertikaian; (6) Stalemate, bentuk akomodasi dimana pihak yang berkonflik mempunyai kekuatan sama dan berhenti pada satu titik tertentu serta masing-masing pihak menahan diri: (7) Ajudication, usaha akomodasi dengan jalan pengadilan. c) Asimilasi, yaitu suatu proses pencampuran dua atau lebih budaya yang berbeda akibat dari proses sosial, kemudian menghasilkan budaya sendiri yang berbeda dengan budaya asalnya.

2. Proses Disosiatif

Proses disosiatif merupakan proses perlawanan yang dilakukan individu- individu dan kelompok dalam proses sosial di antara mereka pada suatu masyarakat. Bentuk-bentuk proses disosiatif adalah sebagai berikut: a) persaingan merupakan proses sosial, dimana individu atau kelompok berjuang dan bersaing untuk mencari keuntungan pada bidang-bidang kehidupan yang menjadi pusat perhatian umum dengan cara menarik perhatian publik atau mempertajam prasangka yang telah ada, namun tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan; (b) Kontravensi adalah proses sosial yang berada antara persaingan dan pertikaian atau konflik. Kontravensi terjadi dimana ada pertentangan pada tataran konsep dan wacana, serta berusaha menggagalkan tercapainya tujuan dari pihak lain; c) Konflik atau pertikaian adalah proses sosial dimana individu atau kelompok memiliki perbedaan-perbedaan dalam hal emosi, unsur kebudayaan, perilaku, prinsip, ideologi, maupun kepentingan dengan pihak lain. Perbedaan tersebut menjadi suatu pertikaian dimana pertikaian dapat menghasilkan ancaman atau kekerasan fisik.

Menurut Mead agar interaksi sosial bisa berjalan dengan tertib dan teratur dan agar anggota masyarakat bisa berfungsi secara normal, maka yang diperlukan bukan hanya kemampuan untuk bertindak sesuai dengan konteks sosialnya, tetapi juga memerlukan kemampuan untuk menilai secara obyektif perilaku kita sendiri dari sudut pandang orang lain.24

24 J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group 2007), hal. 20.

(34)

Selo Soerdmajan menjelaskan bahwa masyarakat merupakan orang- orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.25 Menurut Bintaro desa merupakan hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu wujud atau kenampakan dimuka bumi yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografi, sosial, ekonomi, politik, dan kultural yang berinteraksi antara unsur dan juga dalam hubungannya dengan daerah-daerah yang lain.26

Masyarakat pedesaan dapat diartikan sebagai masyarakat yang memiliki hubungan yang lebih mendalam dan erat dan sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan. Sebagian besar warga masyarakat hidup dari pertanian. Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat dan sebagainya. Dengan kata lain masyarakat pedesaan identik dengan istilah gotong royong yang merupakan kerja sama untuk mencapai kepentingan mereka sebagai wujud dari solidaritas masyarakat desa. Adapun faktor yang mempengaruhi timbulnya solidaritas tersebut yaitu:

a. Faktor Lingkungan

Emil Salim mengemukakan bahwasanya, alam sekitar merupakan suatu hal pokok yang dapat muncul karena adanya respon dari orang lain. Alam sekitar adalah sumber kehidupan bagi setiap orang. Setiap orang mempunyai keahlian guna menambah secara kuantitatif serta cara berfikir dengan baik.

Selanjutnya dalam hal merespon akan muncul permasalahan-permasalahan.

Dalam hal permasalahan biologis maupun alam sekitar, ataupun ekosistem.27 b. Faktor Keluarga

Keluarga adalah awalan yang paling dibutuhkan dalam bersosialisasi nantinya. Yang pertama, keluarga adalah wadah yang menjadikan seseorang dalam menentukan sikap yang akan dibawa ke lingkungan sekitar. Yang kedua, peran kedua orang tua dalam memberikan didikan bagi anak-anaknya sangatlah penting. Hal ini bisa dikatakan diperlukan karena guru pertama bagi seorang anak yaitu kedua orang tuanya. Mereka bisa paham akan pentingnya

25 Ibid., hal. 24

26 R. Bintarto, Interaksi Desa dan Kota Beserta Permasalahnnya, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1989), hal. 11.

27 Abdulsyani, Sosiologi Skematika Teori dan Terapan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012), hal. 194.

(35)

sikap dan menahan rasa amarah dalam berinteraksi dengan orang lain dimanapun mereka berada. yang ketiga, terdapat ketentuan dalam bersosialisasi, oleh karena itu, diperlukan kesadaran kedua orang tua agar ikut serta ambil alih dalam mengajarkan bagaimana cara bersosialisasi yang baik.28

1.2.5 Perubahan Sosial pada Acara Pesta Khitanan dan Pernikahan

Menurut William Ogburn (1964), perubahan sosial adalah perubahan yang meliputi unsur-unsur kebudayaan, baik unsur material, maupun unsur non- material. Namun yang ditekankan adalah pengaruh unsur material terhadap non- material. Yang dimaksud unsur material kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan manusia. Yang dimaksud dengan unsur non-material adalah hasil kebudayaan yang bersifat lebih abstrak seperti ide, ideologi, dan kepercayaan.

Wiliam F. Ogburn menekankan pada kondisi teknologis yang mempengaruhi perubahan sosial.29 Adapun faktor penyebab perubahan sosial dapat terjadi di dalam masyarakat seperti bertambah atau berkurangnya penduduk, penemuan- penemuan baru (inovasi), konflik dalam masyarakat dan adanya revolusi, lingkungan fisik dan pengaruh kebudayaan lain.

Kecepatan perubahan sosial budaya setiap masyarakat berbeda-beda tergantung dari terbuka atau tidaknya suatu masyarakat. Masyarakat modern akan mengalami perubahan sosial budaya lebih cepat dibandingkan perubahan pada masyarakat agraris sebaliknya masyarakat tradisional akan mengalami perubahan sosial budaya lebih lambat dibandingkan dengan masyarakat modern.

Hal tersebut dikarenakan masyarakat modern lebih terbuka dan heterogen dibandingkan dengan masyarakat tradisional. Kingsley Davis dalam Soerjono Soekanto mengatakan bahwa perubahan sosial merupakan bagian dari kebudayaan. Perubahan dalam kebudayaan mencakup hal-hal seperti kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, dan filsafat. Menurutnya perubahan sosial sebagai

28 J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto, loc.cit.

29 Ibid., hal. 359.

(36)

perubahan pada sistem sosial, struktur, dan fungsi masyarakat.30 Salah satu contoh yang termasuk perubahan budaya di antaranya adalah perubahan pada acara khitanan dan pernikahan.

Menyelenggarakan acara khitanan dan pernikahan di Indonesia sudah menjadi sebuah tradisi yang wajib dilakukan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tradisi adalah melakukan sesuatu perbuatan yang tentunya menurut adat kebiasaan atau menurut agama.31 Ada pula yang menginformasikan, bahwa tradisi dari kata traditium, yaitu segala sesuatu yang transmisikan dan diwariskan oleh masa lalu ke masa sekarang. Berdasarkan dari sumber-sumber tersebut jelaslah bahwa tradisi, intinya adalah warisan masa lalu yang dilestarikan terus hingga sekarang. Warisan masa lalu itu dapat berupa nilai, norma sosial, pola kelakuan dan adat kebiasaan lain yang merupakan wujud dari berbagai aspek kehidupan.

Secara terminologi khitan adalah membuka atau memotong kulit (quluf) yang menutupi ujung kemaluan dengan tujuan agar bersih dari najis. Dalam pelaksanaan khitan biasanya digunakan untuk laki-laki atau istilah orang jawa disebut sunnatan, dalam ilmu kedokteran disebut circumcision, yaitu pemotongan kulit yang menutupi kepala penis (prapeutium glandis).32 Dalam praktiknya, khitan di Indonesia mayoritas dilakukan ketika anak masih berada dalam usia SD hingga SMP. Setelah itu biasanya orang tua akan mengadakan undangan khitanan yang sampai saat ini masih menjadi tradisi dan kebiasaan masyarakat Indonesia sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Acara khitanan umumnya dilakukan oleh masyarakat dalam dua bentuk yaitu secara sederhana dan mewah. Acara khitanan yang dilaksanakan secara sederhana biasanya hanya berupa kenduri saja sedangkan acara khitanan yang dilakukan secara mewah biasanya akan digelar sebuah pesta sesuai dengan prosesi adat dan diiringi dengan hiburan. Sehingga dalam hal ini, pastinya orang tua akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

30 Prof. Dr. Soerjono Soekanto, “Sosiologi Suatu Pengantar”, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2013), hal.

301.

31 W.J.S Poerwardarminta, op.cit., hal. 1132.

32 Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1992), hal. 555.

(37)

Pernikahan adalah salah satu momen penting dalam hidup manusia.

Manusia mengalami perubahan tingkat-tingkat hidup individual selama hidupnya yang disebut daur hidup, yaitu masa kanak-kanak, remaja, nikah, masa tua, dan mati.33 Ikatan pernikahan merupakan sesuatu yang dianggap sakral atau suci sehingga terkadang pernikahan diartikan juga sebuah perayaan cinta di mana dalam peristiwa tersebut terjadi pengukuhan hubungan antara dua insan baik secara agama maupun hukum. Menikah juga bukan hanya menyatukan dua pribadi saja, tetapi juga dua keluarga, sehingga dengan mengadakan pesta pernikahan dianggap sebagai ungkapan rasa syukur, kebahagiaan, dan kebanggaan tersendiri.34 Perkembangan fenomena atau tren pernikahan yang berkembang khususnya di Indonesia banyak terbentuk melalui segi sosiokultural masyarakat maupun tren gaya pernikahan yang menular dari dunia luar, yaitu gaya pernikahan internasional.35

Masyarakat Indonesia sebelum tahun 1990an biasanya melangsungkan pernikahan dengan mengikuti tata cara tradisional, namun seiring perkembangan zaman maka pilihan menikah dengan tata cara tradisional mulai tergantikan dengan pernikahan secara modern, dimana pernikahan secara modern tidak menuntut adanya prosesi upacara yang terlalu rumit. Namun tidak berarti pernikahan secara tradisional mulai ditinggalkan.36

Dengan tidak melupakan maknanya, saat ini kaidah pesta adat telah banyak dimodifikasi menjadi lebih sederhana, maraknya kompromi pernikahan campuran dua budaya (dua adat) yang tak terhindarkan, terutama di lingkungan yang majemuk. Akulturasi dua budaya menggeser aturan-aturan baku menuju batas toleransinya. Pergeseran ini akan terus terjadi di masa-masa mendatang.37

Berbeda dengan pernikahan secara tradisional, pernikahan modern tidak menuntut adanya profesi yang panjang. Pernikahan modern hanya menekankan pada prosesi upacara ijab kabul atau pemberkatan dan perayaan pernikahan

33 Koentjaraningrat, op. cit., hal. 89.

34 Nathasja Tiffany Aprimadhany, Skripsi: “Wedding Center di Yogyakarta” (Yogyakarta: Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya, 2010), hal. 1.

35 Ibid., hal. 2.

36 Ibid., hal. 3.

37 Ibid., hal. 9.

(38)

(resepsi). Dalam resepsi pun tidak ada susunan atau tata cara yang baku. Proses pernikahan tradisional yang panjang dan rumit dihilangkan, sehingga prosesi pernikahan menjadi lebih sederhana dan santai namun tetap tidak kehilangan makna dan kesakralan pernikahan. Pakaian yang digunakan dalam pernikahan modern adalah pakaian bergaya eropa yaitu pakaian internasional, untuk pria menggunakan jas sedangkan wanita menggunakan gaun.38

Konsep pernikahan yang diambil sebagai konsep pernikahan modern biasanya mengangkat tema-tema pernikahan klasik barat atau bisa juga aplikasi dongeng-dongeng impian masa kecil, sehingga pesta pernikahan dapat diibaratkan sebagai pesta kerajaan yang mewah dan megah. Untuk menunjang hal tersebut dibutuhkan dekorasi, lighting sampai musik yang mendukung tema pernikahan yang dipilih.39

Perkembangan modernisasi saat ini juga menyebabkan adanya pergeseran selera dalam pemilihan lokasi resepsi, tidak hanya sekedar pesta konvensional yang diadakan di sebuah gedung atau taman saja, pesta pernikahan kini mulai mengambil lokasi-lokasi yang tidak lazim digunakan sebagai tempat melangsungkan upacara pernikahan seperti gerbong kereta api, akuarium sea world, roller coaster, raft (rakit), dan lain sebagainya.40

Dari perubahan-perubahan yang dijelaskan di atas, dalam acara khitanan dan pernikahan akhir-akhir ini, telah banyak orang-orang melakukan kegiatan acara itu dibarengi dengan acara arisan. Kemudian menggelar acara khitanan dan acara pernikahan digabungkan dalam satu perayaan dengan tujuan menghemat biaya. Adapun biaya yang umumnya dibutuhkan dalam acara khitanan dan pernikahan tersebut dimulai dari biaya tempat, dekorasi, tata rias & baju, penunjang dokumentasi: foto & video, undangan tamu, konsumsi tamu hingga hiburan.

38 Ibid., hal. 10.

39 Ibid.

40 Ibid., hal. 11.

(39)

1.2.6 Struktural Fungsional Terhadap Fungsi Sosial

Teori struktural fungsional dikenal dengan teori fungsionalisme dan fungsionalisme struktural. Struktural fungsional mempunyai dalam teorinya keteraturan. Teori ini memandang masyarakat sebagai suatu sistem sosial (social system) yang terdiri dari bagian-bagian yang terkait dan menyatu dalam keseimbangan. Asumsi dasar teori ini adalah bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap yang lain. Sebaliknya kalau tidak fungsional maka struktur ini tidak akan ada atau akan hilang dengan sendirinya.41 Struktur dan tatanan adalah merupakan fungsional bagi masyarakat tertentu. Teori ini cenderung memusatkan kajiannya pada fungsi dari suatu fakta sosial (social fact) terhadap fakta sosial lain.

Struktural fungsional adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituenya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi.42 Teori ini juga merupakan bangunan yang bertujuan mencapai keteraturan sosial. Pemikiran struktural fungsional sangat terpengaruh dengan pemikiran biologis yaitu terdiri dari organ-organ yang mempunyai saling ketergantungan yang merupakan konsekuensi agar organisme tersebut tetap dapat bertahan hidup.

Menurut Kaplan dalam Kresna mengatakan bahwa fungsionalisme mempunyai kaidah yang bersifat mendasar bagi suatu antropologi yang berorientasi pada teori, yakni metodologi bahwa kita harus mengeksplorasi ciri sistematik budaya, hal ini dikandung maksud bahwa kita suatu masyarakat sehingga membentuk suatu sistem yang bulat, akan tetapi biasanya klaim para fungsionalisme adalah metodologi untuk mengeksplorasi saling ketergantungan,

41 George Ritzer, Dauglas J. Goodman, Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmoder, Terjemahan Nurhadi, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2010), hal. 21.

42 Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), hal. 24.

(40)

disamping itu para fungsionalis menyatakan pula bahwa fungsionalisme merupakan teori tentang proses kultural.43

Perspektif fungsionalisme ini menemukan dirinya sebagai fungsionalisme struktural yang fokus utamanya terhadap persyaratan fungsional atau kebutuhan dari suatu sistem sosial yang harus dipenuhi apabila sistem tersebut survive dan hubungannya dengan struktur. Sesuai dengan pandangan tersebut, suatu sistem sosial selalu cenderung menampilkan tugas-tugas tertentu yang diperlukan untuk mempertahankan hidupnya dan analisis sosiologi yang mencangkup usaha untuk menemukan struktur sosial yang dapat melaksanakan tugas-tugas tersebut atau yang dapat memenuhi kebutuhan sistem sosial tersebut.

Fungsi sosial mengacu pada cara-cara bertingkah laku atau melakukan tugas-tugas kehidupan dalam memenuhi kebutuhan hidup individu, orang seorang maupun sebagai keluarga, kolektif, masyarakat., organisasi dsb.

Pelaksanaan fungsi sosial dapat dievaluasi/dinilai apakah memenuhi kebutuhan dan membantu mencapai kesejahteraan bagi orang yang bersangkutan, dan bagi masyarakat, apakah normal dapat diterima masyarakat sesuai dengan norma sosial. Untuk dapat berfungsi sosial secara baik ada tiga faktor penting yang saling berkaitan untuk dilaksanakan yaitu kedudukan, peranan sosial dan peraturan sosial.44

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apa itu arisan pesta? Sejauh mana interaksi sosial antara anggota arisan pesta pada masyarakat Desa Tinggi Raja?

2. Apa fungsi arisan pesta pada acara khitanan dan pernikahan bagi anggota arisan pesta di Desa Tinggi Raja?

43 Krisna Rendra, Ringkasan Disertasi: “Tradisi Petekan di Masyarakat Tengger, Studi Etnografi di Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang”, (Malang: Universitas Merdeka, 2015), hal. 20.

44 Muchdar M. Husain, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), hal. 24.

Gambar

Tabel 1.1  Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1 Kibot Duduk Milik Ibu Nurul, 08 Mei 2020
Gambar 3.1 Buku Anggota Arisan Pesta Ibu Ani, 24 April 2020
Gambar 4.1 Ibu Suparmi (55 tahun), 01 Mei 2020
+7

Referensi

Dokumen terkait

Bank Kustodian akan menerbitkan dan menyampaikan Surat Konfirmasi Transaksi Unit Penyertaan yang menyatakan antara lain jumlah Unit Penyertaan yang dijual kembali dan dimiliki

Asas-asas pokok konsepsi nusantara yang terkandung dalam Undang-undang No.4/prp tahun 1960 adalah untuk kesatuan bangsa, integritas wilayah dan kesatuan

Saya akan menolong orang yang tidak sengaja saya tabrak Meskipun saya sedang sibuk, saya tetap mampu mengoordinir anggota kelompok saya Saya mempunyai target dalam belajar

sangat penting dalam kerjasama antar negara satu dengan negara lain walaupun oknum yang bekerja dalam melakukan hubungan perdagangan atau terjadinya blok

merujuk pada pola-pola interaksi sosial yang terjadi dalam sebuah kelompok sosial, yaitu kelompok atau kumpulan orang yang terbentuk atas dasar kesamaan kumpulan orang yang

Kultur in vitro tanaman kina (a) kecambah in vitro umur 3-4 minggu yang digunakan sebagai sumber eksplan, (b) multiplikasi tunas apikal umur delapan minggu,

mengikuti ekosistem kelautan. Gabungan antara nelayan pantai dengan petani tambak lazim dikenal dengan rumah tangga perikanan. Dalam konteks nelayan, nelayan tradisional

Dengan dukungan teori penerjemahan film (teori utama) dan teori lainnya, yaitu sintaksis serta semiotik melalui metode deskriptif kualitatif, penelitian ini