BAB III POTRET DAN DINAMIKA BUDAYA KESEHATAN
3.9 Kesehatan Ibu dan Anak
3.9.3 Interaksi Sosial Remaja
Bagi masyarakat Etnik Sunda, terdapat beberapa aturan yang harus ditaati oleh kaum laki-laki remaja dan perempuan Sunda yang sudah mengalami menstruasi mengenai tata cara pergaulan dan interaksi sosialnya. Peraturan ini sampai saat ini masih diberlakukan
bahwa ketika ada sepasang remaja putri dan laki-laki terlihat ada hubungan dan berjalan berduaan mereka akan terkena sanksi khusus, bisa berbentuk subuah denda dan juga bisa berupa perbuatan yang harus dilakukan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh pak RW kampung Rawadage EK (45 tahun),
’’….Orang sini kalo punya anak gadis ketauan dideketi istilahnya pacaran gitu, dari pada nantinya kejadian hamil duluan sebelum nikah bikin malu keluarga, soalnya kan dulu ada yang pernah kejadian di kampung sebelah, kabar beritanya cepet nyebar kemana-mana, apalagi kan dosanya besarkan dilarang agama, sini kan termasuk daerah santri pak, ya biasanya dinikahkan saja, meskipun sekolahnya belum selesai, dari pada keluarga menanggung aib seumur hidup, ya mau bagaimana lagi kan nikah juga anjuran agama kan, kalo gak mau tanggung jawab laki-lakinya ya gimana caranya supaya mau tanggung jawab, ya minta tolong aja ama alim ulama kaya ustad sekitar sini yang disegani orang sini, suruh kasih tau laki-lakinya atau keluarganya suruh tanggung jawab.”
Dulu peraturan yang mengatur pergaulan antara wanita Sunda dengan laki-laki lebih ketat. Laki-laki dan perempaun yang tidak memiliki hubungan saudara tidak boleh terlihat berjalan berduaan karena akan dikenakan denda atau sanksi. Bahkan jika ada yang terlihat diketahui berduaan di dalam rumah, meskipun secara tidak sengaja dan masih berlaku sewajarnya, dari pihak orang tua perempuan akan menikahkan anak perempuannya dari pada nantinya menanggung malu. Berdasarkan hasil dari wawancara dengan beberapa informan, aturan adat ini masih cukup dilakukan hingga saat ini, dan ada juga yang tidak mau melakukan lagi.Aturan adat kini sedikit demi sedikit secara perlahan mulai ada perubahan karena dianggap tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman.Pada masa sekarang para remaja sedikit bebas bergaul dengan teman sebayanya, bahkan ada juga yang bebas memiliki pacar. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh seorang remaja laki-laki di kampung Rawadage EK (45 tahun),
“….Orang tua sini memang pola pikirnya terlalu jadul pak gak bisa mengikuti jaman sekarang, masak kita anak cowok deketin anak cewek aja dari orang tuanya suruh nikahin, padahal tujuan kita kan cuman sekedar iseng aj jadi temen bergaul, namanya anak muda ya pastinya pengen nikmatin masa-masamudanya kan pak, kalopun ntar deketin cewek merasa cocok ya bisa tu kita jadiin teman masa depan hehehehe……, tapi anak-anak muda sekarang pinter-pinter, kebanyakan diem-diem pak ntar ketemu dimana gitu gak di daerah sini, takut kalo keluarganya tau kan bisa berabe,,,,,suruh nikahin,kalo gak ya jadi omongan orang pak jadi malu kan kayak dianggap gak punya harga diri.”
Meskipun mereka ada yang memiliki kebebasan untuk memiliki pacar, namun diakui juga oleh para informan bahwa mereka biasanya tetap mendapatkan nasihat pergaulan dari orang tua mereka.Orang tua masih menasihati mereka untuk hati-hati dalam berpacaran dan melarang mereka untuk berpacaran di tempat yang sepi.Namun berdasarkan keterangan dari beberapa warga, hal ini tidak sepenuhnya dipatuhi oleh para remaja.Masih banyak remaja yang melakukan pergaulan bebas sehingga terjadi pernikahan dini dan hamil sebelum pernikahan terjadi. Berdasarkan dari hasil wawancara para orang tua, dengan para orang tua jika memiliki anak perempuan seusia sekitar 14 tahun keatas jika ada yang mendekati seorang laki-laki, para orang tua lebih cenderung berfikir untuk menikahkan anaknya supaya untuk menghindari sesuatu hal yang tidak diinginkan seperti hamil diluar nikah. Karena hal ini merupakan suatu hal yang akan merusak reputasi dan citra keluarga. Karena di daerah kampung ini juga termasuk penganut agama islam yang cukup kuat dan taat. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh pak IM (62 tahun),
“…Saya punya anak perempuan 3 pak, semuanya dulu saya nikahkan, usianya sekitar 14 atau 15 tahunanlah saya jodohkan saja pak, soalnya saya takut kalo ntar salah pergaulan, apalagi jaman sekarang ada hp,,,,,,bahaya pak,kita orang tua susah mantaunya entah anak kita bergaulnya bener atau nggak, malu atu pak kalo ampek kejadian harus nanggung aib keluarga seumur hidup, sudah dari dulu banyak yang nikah muda pak, saya dulu aja umur
17 tahun udah nikah, istri dulu umur sekitar 14 tahun saya nikahin.”
Selain hal yang disebutkan diatas, pernikahan usia dini masih terjadi di desa Panyusuhan. Hal ini bisa terjadi karena nilai dan norma adat yang mengatur tentang pernikahan itu justru membentuk perilaku pernikahan yang cenderung tidak baik di masyarakat itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari masih munculnya peristiwa kawin lari ataupun hamil diluar pernikahan bahkan ada juga perilaku laki-laki untuk berpoligami saatusia muda. Di satu sisi banyak juga perceraian terjadi di kalangan anak muda masyarakat Sunda.Hal ini memang di kalangan masyarakat Etnik Sunda peristiwa kawin cerai merupakan suatu hal yang wajar terjadi. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh salah satu pria EN (27 tahun) yang pernah mengalami perceraian di kampung Rawadage,
“….Memang orang sini dari dulu banyak yang ngalamin kawin cerai pak, laki-laki Sunda memang paling gampang ngomong talak ama istrinya, ada masalah dikit-dikit kata-kata talak mudah dikeluarin keluar, makanya dulu saya juga begitu pak, kakak perempuan saya kan juga pernah ngalamin cerai, tapi sekarang udah kawin lagi, eh kawinnya juga ama laki-laki duda, jadi ya senasib pak, memang sudah budayanya dari dulu gitu ya menurut orang sunda mah kawin cerai mah wajar pak udah banyak yang ngalamin, tapi ada juga yang langgeng hubungannya.”
Usia pernikahan bagi masyarakat Etnik Sunda Desa Panyusuhan berkisar antara 14-17 tahun untuk perempuan, sedangkan pada laki-laki sekitar usia 17-22 tahun. Banyak di antara mereka menikah hanya beberapa saat setelah menstruasi pertama. Namun perubahan sudah terjadi pada masa sekarang ini, meskipun masih ada beberapa remaja yang melakukan pernikahan usia dini, tetapi ada juga yang diantara mereka yang memilih untuk tidak melakukan pernikahan pada usia 14-17 tahun. Mereka biasanya memiliki alasan untuk pergi dari desa untuk bekerja di kota
menghindari tradisi nikah muda yang sampai saat ini masih dilakukan di Desa Panyusuhan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh kakak laki-laki dari ibu kader di kampung Gintung LL (38 tahun),
“….Saya punya anak gadis umur 15 tahun pak habis lulus SMP tahun lalu. Minggu kemarin udah 2 orang yang datang kerumah saya buat ngelamar anak saya, ya saya tanya sama anak saya mau gak dia dilamar, kata anak saya dia gak mau,katanya mau nyari kerja dulu di Bandung. Saya sebenernya juga suka kasihan sama anak saya mau saya sekolahin lagi, tapi nggak ada biaya. Makanya dia nggak nglanjutin sekolah penegen cari kerja aja dari pada ntar dilamar orang mulu takut dia pak.”
Berdasarkan dari pandangan masyarakat Etnik Sunda seorang anak perempuan yang sudah dilihat beranjak remaja yang sudah mengenal pergaulan diluar lingkungan keluarga maupun di bangku sekolah, para orang tua beranggapan merasa khawatir jika anak perempuannya akan terjerumus dalam pergaulan yang bebas.“takut kalo nanti hamil duluan, bikin aib keluarga”,ucap dari salah satu orang tua dari seorang gadis YY (45 tahun). Pandangan masyarakat dari pada anak perempuan sebelum mengalami kejadian seperti hamil diluar nikah, dan merasa membuat malu keluarga lebih baik dinikahkan meskipun terkadang masih berada di bangku sekolah tingkat SMP.
Selain hal yang sudah dipaparkan diatas, sebagian besar para orang tua Etnik Sunda beranggapan jika mempunyai anak perempuan usia remaja (13 tahun keatas) apabila anak tersebut tidak sekolah ataupun tidak bekerja, maka lebih baik dinikahkan saja. Karena dalam pandangan mereka, hal tersebut menjadikan aib atau malu terhadap para tetangga karena merasa anak perempuan mereka hanya menjadi pengangguran saja di rumah, dan lebih baik kalau mereka di nikahkan saja, walaupun kadang si anak merasa belum siap secara fisik dan mental untuk menjalankan kehidupan rumah tangga dengan segala permasalahan yang akan muncul kelak di kemudian hari. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh ibu kader di kampung Rawabedog SR (42 tahun),
“…Kalo orang sini ya pak ya, punya anak gadis udah lulus sekolah SMP kalo nggak kerja cuman nganggur aja dirumah ya anggapan para tetangga kan dia kayak gak laku pak, gak ada yang ngelamar. Jadi ya orang tuanya merasa malulah pak buat bahan omongan orang,kalo punya anak laki-laki kan beda pak, gak kerja gak apa-apa kan bisa bantuin orang tuanya disawah atau gak kerjanya keluar daerah kayak Bandung atau Sukabumi, soalnya kalo anak laki-laki pengen nikah kan harus punya kerjaan dulu pak, kalo perempuan kan gak harus punya kerjaan, kan kalo nikah paling kayak saya suruh bantuain suami kesawah atau gak beres-beres rumah.”
Si anak hanya menuruti saja kemauan orang tuanya untuk di nikahkan walaupun mereka sendiri banyak yang masih ingin menikmati masa-masa remaja mereka dengan banyak bergaul dan bermain dengan anak se usia dan sebaya mereka. Namun hal ini tidak berlaku bagi anak laki-laki di desa Panyusuhan seperti yang diungkapkan diatas oleh salah satu orang tua, karena walaupun anak lelaki usia remaja yang sudah tidak sekolah dan tidak bekerja, tidak mendapat tuntutan dari orang tua mereka untuk menikah, dan lebih di beri kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Dalam artian mereka di bebaskan untuk meneruskan sekolah lagi bagi yang mampu, atau untuk bekerja dan berkarir lagi di luar kota (merantau) atau tetap bekerja di Cianjur saja.