BAB II KONDISI SOSIAL BUDAYA DI DESA PANYUSUHAN
2.7 Ritual Keagamaan atau Upacara Tradisional
Masyarakat desa Panyusuhan masih sangat kuat menganut dan mempertahankan nilai-nilai budaya dan tradisi acara selamatan dan tahlilan yang bertujuan mendoakan arwah keluarga yang meninggal.Hal ini bertujuan agar di ampuni dosanya dan diterima amal ibadahnya, dengan latar belakang kepercayaan dan keyakinan tersebut. Tradisi tahlilan dan selamatan atau kirim doa masih terus dilakukan dan dijalankan sampai sekarang. Adapun tahlilan tersebut biasanya sesuai hari setelah meninggalnya anggota keluarga, misalnya ada tahlilan kirim doa 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari meninggalnya
atau Haul35 yang berarti 1 tahun kematian atau meninggalnya, dan sampai 1000 hari.
2.7.1
. Tahlilan 100 HariSalah satu ritual kematian yang masih dilakukan sampai sekarang adalah tahlilan 100 hari kematian, biasanya acara tersebut di pimpin oleh seorang ustadz/ ajengan yang memimpin pembacaan doa tahlil dan solawat, acara ini di hadiri oleh warga sekampung, baik laki-laki atau perempuan. Biasanya kaum laki-laki – laki-laki yang diundang untuk tahlilan, sedangkan kaum perempuan yang datang biasanya ada yang membantu memasak dan menyiapkan makanan untuk kelancaran acara dan ada yang membantu dengan uang secara sukarela dan dimasukkan ke dalam amplop dan diberikan kepada yang punya hajat, atau oleh warga desa panyusuhan biasa disebut dengan
Nyambungan36.Keluarga besar dari yang meninggal pun banyak yang
datang untuk memberikan dukungan moral dan financial kepada keluarga yang di tinggal mati.
Seperti yang sempat di ikuti oleh peneliti, adalah upacara tahlilan dan kirim doa 100 hari, dimana tidak ada perlengkapan khusus yang harus di persiapkan, mungkin hanya kayu bakar, tikar buat alas duduk pada saat acara, kue/ snack, air mineral, dan aneka makanan yang akan di sajikan kepada yang hadir mengikuti tahlilan tersebut. Pada saat peneliti menghadiri acara tersebut, kebetulan keluarga yang punya hajat tergolong ekonomi yang cukup, sehingga untuk makanan yang disajikan, mereka menyembelih seekor domba untuk di masak dan disajikan kepada warga yang ikut tahlilan tersebut.
Setelah berdoa dan bersolawat, kemudian para hadirin dipersilakan untuk mencicipi aneka kue dan jajanan tradisonal yang telah disedikan oleh keluarga yang punya acara, beberapa warga ada yang merokok dan minum air mineral yang ada, diluar juga banyak warga kampong yang datang, baik tua muda bahkan juga anak kecil banyak ikut meramaikan acara tahlilan 100 hari tersebut. Setelah di
35
Haul adalah tahun peringatan kematian yang diadakan doa dan tahlilan
36
Nyambungan adalah Istilah lokal untuk menyumbang kepada tetangga yang mengadakan hajatan
rasa cukup, ustadz yang memimpin acara akan menutup acara dengan bacaan solawat dan warga pun bubar dengan tertib dan kembali ke rumah masing-masing, namun sebelum pulang, di bagikan bungkusan makanan yang sudah disiapkan oleh yang punya hajat, berupa makanan olahan dari daging domba yang di bungkus sterofoam putih dan di bungkus dengan tas kresek hitam.
Gambar 2.12 Tahlilan 100 hari Sumber: Dokumentasi
Peneliti, Mei 2015
2.7.2. Mahimun
Ritual mahimun37 adalah sebuah ritual yang sudah menjadi tradisi warga desa Panyusuhan yang masih dilakukan sampai sekarang.Mahimun adalah ritual upacara untuk bayi yang baru lahir dan masih berumur 40 hari, bertujuan agar bayi yang dilahirkan sehat dan tercapai semua yang dicita-citakan dan juga agar senantiasa dalam lindungan Allah SWT, acara ini mirip dengan Aqiqah38 yang merupakan acara keagamaan yang juga ada di beberapa daerah lain di nusantara, karena apabila melaksanakan mahimun biasanya disertai dengan menyembelih domba atau kambing bagi yang mampu, kalau untuk bayi laki-laki 2 ekor, untuk bayi perempuan 1 ekor. Biasanya acaranya terdiri dari rangkaian doa dan solawat disertai dengan ritual mencukur rambut si bayi. Tidak ada perlengkapan khusus yang harus
37 Mahimun adalah acara upacara adat 40 hari kelahiran bayi dengan acara berupa doa dan sholawat yang bertujuan mendoakan agar anaknya soleh/solihah
38
Aqiqoh adalah acara peringatan kelahiran bayi oleh orang tua sebagai rasa syukur dengan menyembelih kambing
disediakan, mungkin hanya gunting, nampan dan kelapa muda semangkuk air putih saja yang di gunakan selama ritual cukur rambut si bayi, karena hampir sama dengan tahlilan, acara ritual ini di pimpin oleh ustadz sebagai pembaca doa. Peneliti berkesempatan mengikuti ritual mahimun yang diselenggarakan di kampong pasir hapa, di rumah haji YS.Tamu yang hadir sangat ramai dan banyak, di dominasi oleh laki-laki dari berbagai umur dan lapisan masyarakat di desa panyusuhan. Kami di ajak oleh bapak RT EK (45 tahun) untuk mengikuti ritual mahimun pada malam hari setelah Isya’ sekitar pukul 19.00 wib
Acara dimulai dengan membaca doa dan solawat yang di pimpin oleh seorang ustadz / ajengan, setelah itu di sertai ritual mencukur rambut bayi yang dilakukan oleh bapak si bayi, kemudian ustadz dan beberapa orang anggota keluarga dan tetangga yang hadir dalam ritual mahimun tersebut. Setelah selesai mencukur yang diiringi oleh bacaan doa secara berulang-ulang, acara dilanjutkan dengan ramah tamah untuk sekedar merokok dan menikmati hidangan aneka kue dan makanan yang telah disediakan oleh tuan rumah. Setelah dirasa cukup, acara di tutup dengan doa dan solawat untuk kemudian warga bergegas pulang ke rumah masing-masing, seperti tahlilan, ada juga warga yang datang untuk member Nyambungan kepada tuan rumah, dan sebelum pulang ke rumah, satu per satu tamu yang hadir diberi bungkusan makanan dalam wadah sterefoam putih dan dibungkus tas kresek hitam untuk di bawa pulang ke rumah.
Gambar 2.13 Suasana ritual Mahimun
Sumber: Dokumentasi Peneliti, Mei 2015
Gambar 2.14 Ritual Mahimun Sumber: Dokumentasi
Peneliti, Mei 2015
Hanya warga desa dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas saja yang mampu mengadakan ritual mahimun ini, karena membutuhkan biaya yang lumayan besar. Hal ini seperti yang dikatakan EK (45 tahun),
“… ya kalau warga desa biasa yang sehari-hari hanya bertani takkan mampu mengadakan mahimun pak, mungkin bisa tapi secara sederhana saja tanpa mengundang orang banyak dan juga tanpa menyembelih domba atau kambing, biasanya cukup menyembelih ayam saja, yang penting ritualnya telah dilaksanakan walaupun dengan acara yang sangat sederhana.“
2.8. Organisasi Sosial dan Sistem Kekerabatan